Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2025

SEKAR Edisi Mei 2025 | Di Ujung Harap karya Istahsanah Zulfa Kamilah

Di Ujung Harap  Karya Istahsanah Zulfa Kamilah Tak ada pelangi tanpa hujan, Tak ada kemenangan tanpa perjuangan Langkahku berat, kadang gemetar, Namun mimpiku selalu berpendar Jalanan sunyi, kadang gelap Terjatuh, terluka, hati pun remuk Namun aku tahu, dalam tiap sakit Ada kekuatan yang diam-diam bangkit Aku berjalan bukan karena mudah Tapi karena tak ingin menyerah Meski badai datang bertubi Aku percaya, mimpi ini berarti Dan suatu hari nanti… Saat mentari bersinar lebih pasti Aku akan berdiri, menatap langit tinggi Bersyukur karena tak pernah berhenti

SEKAR Edisi Mei 2025 | What I Learned From My Broken Shoes karya Hosnil Khotimah

What I Learned From My Broken Shoes  Karya Hosnil Khotimah The high-school me was the competitive one but then my shoe betrayed me. When I was a junior high school student, competitions were a big part of my life. Although I am not a ‘gifted’ student, I joined a lot of competitions, from mathematics, sciences, and even social sciences olympiads. There’s something exhilarating about pushing myself to the limits and seeing how far I can go. But as much as I prepared for every competition or olympiads, nothing could have prepared me for the unexpected moment. It was the final round of the social sciences olympiad called KOMETS held by an Islamic university in 2019. While I put so much effort into the initial round, I had not expected to advance to the final round. When my teacher told me that my name is on the finalist list, I was thrilled and slightly panicked because unlike the earlier written test (paper-based test), the final round would be a presentation. I had not prepared for t...

SEKAR Edisi Mei 2025 | Badai Telah Berlalu karya Marcellia Baiti Dwi Aqueilla

Badai Telah Berlalu  Karya Marcellia Baiti Dwi Aqueilla Di hamparan luas samudra kehidupan Aku berdiri, menjadi nahkodanya Awalnya, gelombang badai hanya cerita Kisah menakutkan yang jauh dari asa Angin berbisik tentang awan kelam Namun aku yakin, badai takkan singgah Hari demi hari berlayar perahu harapan Menyusuri tenang lautan mimpi dan nyata Tiba saat badai menggeram kejam Gelombang menggulung, hati berguncang Namun nahkoda tak pernah gentar Meski kapal ini naik turun dalam gelora Peluh dan doa menjadi jangkar jiwa Menepis gelisah yang mencoba meronta Satu per satu badai kujadikan pelajaran Menguatkan tekad di setiap guncangan Kini mentari terbit di ufuk senja Membasuh lelah yang pernah tercipta Aku bersyukur, badai bukan musibah Melainkan guru yang menuntun jiwa

SEKAR Edisi Mei 2025 | Caya karya Khoirunnisa

Caya  Karya Khoirunnisa Cahaya terang terbang tinggi Mengudara bebas tanpa lara Arungi luasnya angkasa Tanpa kata tinggalkan duka Kini gelap perlahan menyapa Kian mendekat membawa nestapa Namun langit derukan luka Memecah sepi dengan air mata Kini langit kian mendamba Mendamba cahaya datang menyapa Menggapai jiwa menghapus lara Tenggelamkan jiwa dalam sinarnya

SEKAR Edisi Mei 2025 | Saat Kau Tak Lagi Ada karya Ayu Diana Seviya

Saat Kau Tak Lagi Ada Karya Ayu Diana Seviya Aku baru mengerti caramu mencinta. Saat langkahmu tlah tiada, saat suaramu tak lagi kudengar. Kau tak pernah memaksa, hanya hadir penuh tanya. Menjadi bahu yang selalu ada, meski tak pernah kuminta. Dan aku… Hanyalah perempuan yang tak tahu cara mencinta. Terlambat menyadari, Bahwa pelindungku berdiri tepat di depan mata. Kini aku menatap ruang kosong yang dulu selalu kau isi dengan kehangatan. Memanggil namamu dalam tangis yang tak dapat kuhentikan. Beribu maaf… aku terlambat menyadari, bahwa hatimu adalah rumah yang seharusnya ku pertahankan. Bahwa cintamu tak layak ku abaikan. Namun kini semua tinggal kenangan. dan aku perempuan yang menyesal dalam diam. Menggenggam penyesalan di tangan yang pernah kau genggam. Menelan kenyataan bahwa kembalimu adalah sebuah ketidakmungkinan.

SEKAR Edisi Mei 2025 | Di Ujung Sunyi, Ada Nama-Mu karya Nur Cahyono

Di Ujung Sunyi, Ada Nama-Mu Karya Nur Cahyono Di ujung sunyi yang tak lagi berkata, kulihat cahaya menjelma aksara tak bersuara, namun menggema dalam dada yang hampa akan makna. Engkau, wahai Kekasih tanpa rupa, menyentuh jiwaku tanpa jeda. Lewat desir angin yang menyapa, lewat senyap yang justru bersuara. Langit pun tunduk dalam biru membaca ayat-ayat waktu, sementara aku pecahan debu mengemis arti di bawah restu-Mu. Tak pernah aku tahu bentuk-Mu, namun di detak nadi, Kau selalu ada. Kau yang diam, namun Maha Mendengar, Kau yang jauh, namun lebih dekat dari doa. Apakah doa adalah jalan pulang? Atau tangis yang diam-diam Kau rangkul? Tiap luka yang kusembunyikan ternyata Engkau sudah lebih dulu peluk. Di balik gelap yang kuragukan, Engkau tetap berdiri dalam terang. Tak butuh bukti, tak perlu alasan hanya hati yang ingin pulang.

SEKAR Edisi Mei 2025 | Yang Hilang Itu Wajar karya Dini Puspa Wardani

Yang Hilang Itu Wajar  Karya Dini Puspa Wardani Embun yang sudah tidak menyapa pagi Matahari yang tidak memunculkan sinar mentari Senja yang kelam… Bintang yang telah sirna dari gelapnya malam Tetes embun di dedaunan menari perlahan Di bawah rembulan ia kesepian Hingga tersadar semua yang hilang itu kenangan Kenangan hadir sebagai dendam Ia rapuh… Jangan genggam erat sebuah bayang Biarkan ia terbang bersama angin malam Seperti musim berganti, tak ada yang kekal abadi tumbuh ingatan yang rebah di pematang

SEKAR Edisi Mei 2025 | Di Antara Kata, Pikiran, dan Diri karya Sasa Bela Firdianti

Di Antara Kata, Pikiran, dan Diri  Karya Sasa Bela Firdianti Di ruang itu bukan sekadar ruang berdinding bata, Di sanalah suara sunyi mulai berbicara, tugas bukan sekadar beban di atas meja, namun cermin tentang siapa kita sebenarnya. Pikiran ditantang di ruang itu berada, skill diuji di lorong-lorong dunia, di situlah harmoni dicari: antara logika yang teguh dan hati yang empati. Namun, semua ini tak akan utuh, tanpa pola pikir yang jujur dan sehat, sebab di tengah gelombang nilai dan ambisi, akal sering tergoda, nurani bisa mati. Inilah tempat—jalan sunyi yang ramai, tempat setiap individu menempa arti, di antara tugas, pikiran, dan komunikasi, ia menemukan dirinya sendiri.

SEKAR Edisi Mei 2025 | Takdir karya Nanggala Rey Rakha Kusuma

Takdir Karya Nanggala Rey Rakha Kusuma Apakah ini takdir? Kekacauan, keributan, kegelapan telah mengganggu hidupku. Dentuman yang entah dari mana asalnya tiba-tiba menghantam jantungku Angin yang lamban membuat diriku semakin larut. Aku hanya bisa terdiam melihat senyumnya yang sangat manis itu. Tangan refleksi dari bidadari tersebut memeluk erat diriku ibarat aku kembali ke dalam rahim. Siapakah dia? Apakah dia bidadari yang jatuh dari bumi? Aku tidak tau siapa dia, yang aku tau dia adalah kekasih hatiku yang tiada duanya.

RUANG ULAS EDISI BULAI MEI – BUKU FANTASI

Novel A Place Called Perfect karya Helena Duggan Oleh Saffanah Salsabila Syaikhani      Saffanah, mahasiswa Universitas Jember sekaligus anggota Sahbat Perpustakaan 2025 menuliskan ulasan mengenai novel A Place Called Perfect karya Helena Duggan. Novel bertema adventure yang terbit tahun 2020 ini, seluruh aspeknya menarik untuk diulas, termasuk pimilihan judul, tokoh dalam cerita, konflik, latar, amanat—seluruhnya menarik.      Novel ini menceritakan tentang seorang gadis bernama Violet, sebagai pemeran utamanya. Diceritakan bahwa ia baru saja datang dan tinggal ke kota Pefect. Persis seperti namanya, kondisi kota tersebut nampak sempurna. Sayangnya, kesempurnaan itu hanya dapat dilihat melalui kacamata istimewa. Diselidiki, ternyata seluruh masyarakat mengalami kebutaan setelah pindah ke kota tersebut. Keanehan tersebut menyebabkan perasaan ganjil bagi Violet, hingga ia merasa tidak suka dengan kota Perfect. HIngga suatu hari, ibunya bertingkah aneh da...