Kamis, 30 Juli 2026

SEKAR Edisi Juli 2026 | Jujur yang Mana? Karya Naomy Qurrota A'yun Andrianti

Jujur yang Mana? 
Karya Naomy Qurrota A'yun Andrianti

Kertas ini menunggu jujur, tapi jujur yang mana?


Semburat tawa yang kian kali merekah jingga,

menghipnotis duka agar tak tampak pada setiap deret mata.

Entah apa yang harus dikumandangkan pada kesucian lembaran kertas,

goresan takdir Tuhan yang ambigu, atau kami yang tak pernah mampu?


Pst, pst, jujur yang ini.

Jujur tentang kertas yang tak pernah benar-benar putih,

ia hanya menyimpan apa yang enggan kami suarakan.

Barangkali bukan kami yang bisu,

tapi dunia yang memilih tuli.


Oh. Yang di luar sana. . . 

Yang kepura-puraan punya suaranya sendiri. . .


Petinggi neraka bersuara,

abu dari mulut sompral berbicara.

Bau mayat hidup menggantikan melati,

dari pucuk kulon ke timur tetap ada.

Namun, bohong! Semua mati!

Mungkin tak semua? Namun, hampir.

Koran-koran pun sudah ikut berteriak, namun apa?

Cengar-cengir saja.


Kondisi penghuni sudah sekarat!

Makanan apa-apa melonjak,

yang selalu duduk rapat pun clingak-clinguk dan mengangguk.

Kita semua, sarjana realita, ingin tahu,

cita-cita ini membangun, atau...


Teruskan sendiri.

Penulis takut ada yang sakit hati.


SEKAR Edisi Juli 2026 | BIMANTARA Karya Muhammad Reza Fahrezy

BIMANTARA 
Karya Muhammad Reza Fahrezy

Malam itu, sepulang kerja aku merebahkan diriku sejenak di atas sofa, kupejamkan mata sejenak, mengistirahatkan badan yang kupaksakan untuk terus ikut berjuang bersamaku. Setiap hari, setiap pagi aku harus bisa melawan rasa kantuk, atau bahkan kadang harus melawan rasa tidak enak badan hanya untuk seupah gaji yang biasanya ku terima di awal bulan. 

Di depan rumah ramai suara motor dan mobil lalu-lalang. Ada teman dari kampungku yang harus berangkat bekerja shift malam, ada pedagang sayur yang harus pergi ke pasar, dan ada juga pedagang gerobakan yang masih menjual dagangan mereka meskipun sudah larut malam. Kata orang, malam itu sunyi dan tenang.

Mungkin orang yang berkata seperti itu sebaiknya lebih sering pergi keluar untuk membuka mata, melihat kenyataan yang sebenarnya dan keluar dari zona nyaman agar pemikirannya berkembang. Kenyataannya, malam tidak selalu tentang suara jangkrik, tentang tiupan angin malam yang sejuk, ada juga yang harus berjuang untuk memastikan kehidupan di negeri yang sedang sakit ini. 

Saking lelahnya, aku bahkan sampai tertidur di sofa. Tidak peduli lagi apakah aku sudah mandi atau belum. Aku lebih memilih untuk mengistirahatkan diri untuk kembali bertempur di esok hari. 

Esok hari di tempat kerja, aku melihat orang-orang berkerumun. Ketika aku mendekat, ternyata mereka sedang melihat cuplikan video yang sedang viral di media sosial baru baru ini.

“Lihat tuh, kok tega banget, ya, padahal dia kan nggak salah apa-apa.” Seorang wanita yang berdiri di depanku. 

Awalnya aku tidak paham dengan cuplikan video itu, namun ketika video itu kembali diputar ulang, barulah aku memahami apa isi dari video yang sedang viral itu. Isi dari video itu adalah seorang driver ojol yang ditabrak dan dilindas dengan mobil rantis oleh para oknum yang senang mengincar mahasiswi Kedokteran dan Keperawatan itu. Geram rasanya melihat video itu, terlebih situasi dan kondisi di negara ini semakin jauh dari kata makmur. 

Pada saat jam makan siang, kami kembali memperbincangkan tentang video yang sedang viral itu.

“Gini amat jadi WNI, udah hidup mah susah, hasil kerja masih dikena pajak, barang-barang pokok yang ada makin mahal,” ucap rekan kerjaku yang namanya Riko dengan logat khas ngapaknya.

Tidak lama kemudian, Fendy rekan kerjaku membalas, “Nyesel banget gua pilih dia, gua pikir dia lebih baik daripada sebelumnya. Eh, ternyata sama aja.” 

Aku pun turut menyahut perbincangan mereka. “Ya gitu lah pemerintah, pas kampanye aja rakyat dielus-elus. Giliran udah jadi, rakyatnya pada dilindes semua, kapok dah.”

Memang saat ini, di negara kami situasi di semua lini baik itu di sektor ekonomi, sosial-politik, apalagi pendidikan sudah tidak lagi menjadi fokus utama pemerintah, semenjak si gendut berkuasa. Begitulah kami menyebut nama pemimpin yang tamak dan sedang menabung suara untuk tahun 2029.

Melihat video demonstrasi di media sosial, rasanya campur aduk. Seperti ada rasa emosi yang membara di dalam dada apabila ada aparat yang gila mahasiswi kedokteran itu memukuli mahasiswa, dan ada rasa puas ketika melihat ada oknum aparat itu dihajar hingga babak belur oleh demonstran. Seperti itu sederhana, tapi cukup untuk menghibur diri sebagai WNI di tengah menggilanya situasi.

Sepulang kerja, kusempatkan untuk datang ke rumah sakit. Mengunjungi tunanganku yang berprofesi sebagai seorang perawat. Ku belikan makanan kesukaannya yaitu, Martabak manis. Sengaja aku datang ke rumah sakit pada saat larut malam supaya aku bisa berbincang dan melepas rasa rindu dengannya.

Kebetulan, saat itu dia sedang tidak bertugas jadi dia ikut denganku untuk sekadar duduk di Cafetaria milik rumah sakit. Bagiku, sekadar melihat parasnya sudah membuat rasa jenuh dan lelahku menjadi lebih baik, apalagi ketika aku melihat senyum bibirnya yang dibalut oleh lipstik merah itu.

Kami menghabiskan waktu sejenak, melepas rasa rindu satu sama lain, saling bertukar cerita, dan bersenda gurau untuk melepas rasa kantuk dan menggantikannya dengan rasa bahagia. Aku tidak pernah menyangka, orang sepertiku bisa menjalin hubungan dengan seorang perawat, padahal aku bukan polisi ataupun tentara.

Di sela-sela senda gurau, aku mengucapkan kata-kata yang bisa dibilang sedikit nyeleneh.

“Sayang, jika semisal nanti kamu dapat tugas menyuntik pasien, bisakah kamu menyuntikkan sedikit zat doktrin kepada mereka?” Mendengarku berbicara seperti itu, dia terlihat terkejut. seakan menggambarkan kebigungan.

“Maksudnya gimana?” Dia bertanya dengan nada rendah dengan suaranya yang menggemaskan. 

“Bisakah kamu membuat mereka sadar, kalau negara kita sedang dipimpin oleh seorang bajingan? Supaya mereka sadar kalau setan juga bisa berwujud manusia melalui buzzer yang menyebar di masyarakat kita,” ucapku sekali lagi sembari meraih tangan kanannya.

Mendengar seperti itu, raut wajahnya berubah, senyumannya hilang dan alisnya saling berhadapan, seolah mengatakan bahwa dia sangat tidak suka mendengar suara itu.

“Kalau aku menyuntikkan zat doktrin kepada mereka, apakah hal itu bisa membuat situasi dan kondisi saat ini menjadi lebih baik?” ucapnya.

Lalu dia meraih wajahku sambil berkata, “Sudah, ya, Sayang, kamu fokus kerja aja, ya. Nggak usah mikirin rezim yang sekarang, setidaknya kamu memberi ruang kepada pemerintah untuk mengevaluasi kinerjanya.”

Waktu pun berlalu, tanpa sadar kami menghabiskan waktu 1 jam di Cafetaria itu, akhirnya kami harus berpisah. 

Saat aku hendak kembali ke area parkir, dia kembali memanggilku dan berkata, “Hati-hati di jalan, ya.” Sambil memelukku dengan sangat erat seakan bahasa tubuhnya berkata, biarkanlah aku memelukmu sepuas yang aku mau.

Di perjalanan pulang, aku kembali memikirkan perkataan yang diucapkan oleh tunanganku. Tentang memberi waktu dan ruang kepada rezim untuk mengevaluasi kinerjanya. 

Lalu aku dihadang oleh segerombolan begal yang mencoba merampas tasku tepat di depan ruko. Aku pun bersih keras untuk mempertahankan tas dan mencoba untuk melawan. Aku pun terlibat pergulatan dengan para begal, di mana salah satu di antara mereka membawa senjata tajam.

Walaupun dilanda rasa takut, aku memilih untuk tidak menyerahkan harta bendaku kepada para preman malam yang beraninya memberhentikan orang di tempat sepi dan gelap. Namun  kali ini mereka salah, karena aku bukanlah orang yang mudah takut sekalipun diancam dengan senjata tajam.

Tidak mau kalah, aku pun mengambil batu bata dan melemparkannya ke arah begal itu, alhasil batu bata itu berhasil mengenai salah satu mata begal itu. Melihat senjata tajam yang dipegangnya jatuh, segera kurebut untuk mengancam balik para pelaku begal itu. Namun, pemilik seorang warga kemudian melintas, melihat itu para begal pun melarikan diri kecuali begal yang terluka matanya akibat benturan keras dari batu baya yang kulemparkan padanya.

Namun, warga itu mengira akulah pelaku begal yang sebenarnya. Karena aku sempat memegang senjata tajam yang tanpa ku sadari terdapat noda darah di bilahnya. Mereka pun menelepon polisi dan menganggap aku lah pelaku begal yang sebenarnya. Mereka menghajarku habis-habisan, sampai hidung dan mulutku berdarah. 

Dan ketika polisi tiba, mereka langsung memborgol kedua tanganku dan membawaku ke kantor polisi. Mungkin ini adalah pengalaman pahitku, ketika aku mencoba membela diri namun akulah yang tetap disalahkan atas tindakanku.

Sesampainya di kantor polisi, para polisi itu mengintrogasiku. Aku diikat di sebuah kursi dan bahkan sesekali mereka memukuliku. Aku ibarat sosok pelanggar HAM karena melawan kepada para pelaku begal. Mengapa mereka begitu kasar kepada rakyat kecil.

Keesokan harinya, satu per satu orang terdekatku datang ke kantor polisi, mereka tidak percaya jika aku melakukan tindakan kriminal yang bahkan aku sendiri tidak akan pernah berani untuk melakukannya. Bahkan, orang tuaku hampir menyerahkan uang kepada polisi supaya mereka bisa segera membebaskanku. 

Namun, aku meminta mereka untuk tidak melakukan hal itu. Aku tidak ingin harta yang mereka kumpulkan susah payah diserahkan kepada preman berseragam dan berpangkat yang kerjaannya hanya menindas rakyat dan mengincar mahasiswi Kedokteran.

Tunanganku pun datang ke kantor polisi, masih mengenakan seragam dinas perawat. Ia ternyata baru selesai shift malam dan segera menuju kantor polisi ketika mendengar diriku ditangkap polisi.

Ketika ia melihat wajahku yang babak belur setelah dihajar oleh warga, dia langsung menangis dan berkata, “Aku tahu kamu nggak mungkin ngelakuin itu.” Bagaimana tidak sedih? Sedangkan waktu pernikahan kami sudah tinggal 2 bulan lagi, bagaimana kami akan menikah jika aku mendekam di balik jeruji besi hanya karena sebuah kesalahpahaman.

Lalu dia berkata sambil tersedu-sedu, “Padahal tadi malem kita masih barengan loh, Mas. Kenapa hal gini bisa nimpa kamu?”

“Sabar, ya, Sayang, aku pasti dibebasin kok. Cepat atau lambat semuanya akan segera terbukti siapa yang salah dan siapa yang benar.” Aku mengucapkan demikian untuk menenangkan dirinya melalui jarak sebuah cermin kaca karena mustahil bagiku untuk merangkul dan menenangkan dirinya.

“Sabar, ya, Mas, semoga Allah segera membalas apa pun yang sudah ditimpakan kepadamu,” ucapnya lagi. Mendengar ucapan itu, hatiku tak kuasa menahan rasa tangis. Air mata itu tumpah seperti banjir karena tanggulnya sudah tidak bisa menahan air yang volumenya sudah melebihi kadar batasnya.

Lalu, aku pun memintanya untuk segera pulang karena dia baru saja pulang dari rumah sakit yang langsung bergegas ke kantor polisi ketika mendengarku ditangkap polisi. Semoga tidak ada satu pun personil yang akan menganggunya hanya karena dia memakai seragam perawat.

Belakangan, sebuah rekaman CCTV ruko itu beredar luas ke publik. Rekaman itu kemudian terus menyebar dengan cepat, menuai kecaman publik mengingat sistem hukum di Indonesia tajam ke bawah, tumpul ke atas. 

Barulah saat itu, pihak kepolisian kemudian menyelidiki rekaman tersebut dan menyatakan kalau aku tidak bersalah. Anehnya, mereka sangat merasa gengsi untuk mengatakan permohonan maaf secara langsung kepadaku, mereka justru mengadakan konferensi pers.

Yaa, seperti biasalah, pimpinan mereka menyampaikan permohonan maaf di depan wartawan. Dari sini terlihat kalau mereka sebenarnya hendak cuci tangan dari perbuatan mereka. Begitulah gambaran para oknum preman berseragam di negaraku yang sebenarnya sangat aku cintai. 

Sebuah kasus baru bisa diselesaikan setelah viral atau diviralkan, sehingga meninggalkan sebuah pertanyaan dalam diriku, “Apakah penegakan hukum di negara yang aku cintai ini harus bisa diributkan melalui aplikasi digital?” 

Sesampainya di rumah, banyak tetangga, dan teman-teman sekampung yang datang ke rumah. Entah apa yang mereka lakukan, antara mereka datang untuk menjenguk, atau sekadar mewawancarai diriku karena baru saja viral dan dibebaskan polisi. Entahlah, orang Indonesia memang seperti itu, mereka sering kepo kalau ada apa-apa.

Di antara orang-orang yang datang ke rumah, ada teman lamaku dari SMA bernama Sofyan. Dia datang ke rumah untuk bertanya kronologi kejadian bagaimana aku dibegal lalu ditangkap polisi. Aku pun menceritakan semuanya secara runtut, dan kulihat dia tampak begitu memperhatikan setiap kata yang kuucapkan tanpa memotong pembicaraan sekalipun.

Setelah aku selesai, barulah dia menggerutu. “Ah! Sistem hukum di negara kita ini memang sudah tidak benar, tajam ke atas, tapi tumpul ke bawah. Sial banget jadi WNI!” katanya. Sofyan memang seorang penggerutu, dia juga seorang pengangguran yang tidak lekas mendapat pekerjaan.

Dalam pandanganku, Sofyan bukanlah sosok yang pemalas dan bodoh. Dia hanya merasa kurang percaya diri dengan realita yang akan ia jalani. Sejak masa SMA, Sofyan dikenal sebagai sosok yang aktif di Organisasi Siswa atau OSIS dan juga aktif di ekstrakurikuler pramuka. Di kelasnya, Sofyan selalu mendapat ranking 2. Dan lebih mengejutkannya lagi, Sofyan bahkan diterima di Universitas Airlangga.

Memang di negara kami, untuk mendapatkan pekerjaan sangatlah sulit. Apalagi kalau tidak punya orang dalam. Hal itulah yang menyebabkan angka pengangguran meningkat beberapa tahun terakhir. Sedangkan pemerintah hanya berjanji kepada rakyat, yaitu tentang wacana pembukaan sembilan belas juta lapangan pekerjaan. 

Memang seperti itu pemerintah, ketika sedang berkampanye mereka seakan mengelus-elus rakyat, setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, barulah mereka melupakan rakyat. Dan ketika rakyat menagih janji pemerintah, mereka justru menyiapkan ribuan peleton BRIMOB dan sejumlah kebijakan yang tidak logis dan tidak ada manfaatnya bagi masyarakat luas.

Aku mencintai negeri ini, baik dari sisi sejarahnya, keaneka ragamannya, lambang negaranya dan keindahan alamnya. Namun, hanya satu yang tidak ku cintai di negeri ini. yaitu Pemerintah yang hanya berjanji ketika berkampanye, lalu melupakan rakyat ketika sudah mencapai keinginan. Bagi mereka, rakyat adalah bungkus makanan yang dibuang, setelah dimakan isinya.

Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan hidup di negara yang sakit ini, entah 10, 20, atau 50 tahun kedepan, tapi aku selalu berharap semoga semakin kedepan Indonesia, tanah air yang ku cinta akan menjadi lebih baik dibandingkan hari ini yang kelak akan menjadi sejarah di masa depan.

---------------------------------------------------------------------

SINOPSIS

BIMANTARA mengisahkan keresahan rakyat kecil karena rusaknya sistem hukum dan tata negara akibat bobroknya rezim pemerintahan. Tokoh utama yang peduli oada isu sosial, justru menjadi korban salah tangkap aparat setelah berjuang melawan begal. Ketidakadilan hukum, intimidasi, dan kebijakan pemerintah yang tidak logis merefleksikan kepahitan hidup sebagai warga negara.


SEKAR Edisi Juli 2026 | Di Balik Sunyi Karya Mayla Suci Tri Lestari

Di Balik Sunyi 
Karya Mayla Suci Tri Lestari

Masa lalu membawa banyak luka

Menyimpan cerita yang tak mudah dilupa

Rahasia lama mulai terbuka

Mengubah hidup dan arah langkah kita


Di balik kuasa ada banyak masalah

Suara kebenaran tetap harus dijaga

Meski harapan mulai terasa lemah

Keberanian tetap ada di dalam jiwa


Cinta, kehilangan, dan pengorbanan

Menjadi bagian dari perjalanan

Dari setiap hal yang pernah dirasakan

Kita belajar tentang arti perjuangan


Walau jalan tidak selalu mudah

Tetap melangkah meski sempat lelah

Karena dari setiap masalah yang sudah dilewati

Ada pelajaran yang akan selalu berarti


SEKAR Edisi Juli 2026 | MILESTONE (Tonggak Pencapaian) Karya Mauliana Dewi Maulida

MILESTONE (Tonggak Pencapaian) 
Karya Mauliana Dewi Maulida

Gemuruh hatinya tak pernah benar-benar reda.

Ia bergema di rongga dada.

Luka memang pandai menua, 

namun tak pernah benar-benar lupa, 

kepada siapa ia pernah bermula. 


Terima kasih…

atas makian yang engkau tanamkan dalam diriku.

Mereka mengira kata-kata adalah akhir, 

padahal ia hanyalah benih,

yang akan tumbuh menjadi hutan keteguhan.


Mereka memanggiku “Si Gagal”

seolah masa depanku telah selesai dituliskan. 

Tatapan mereka lebih tajam daripada kenyataan, 

dan suaranya terus berputar di kepalaku, 

berusaha meyakinkanku bahwa aku tak pantas menang. 


Aku ingin melawan, 

tetapi lawanku tak memiliki rupa.

Ia bernama waktu, 

dan garis ‘start’ yang tak pernah berpihak.

Aku mencoba berlari, 

sementara dunia sibuk menghitung,

berapa kali aku tersungkur. 


Ratusan kali aku bertahan untuk tidak hancur

Ratusan kali pula aku waspada

agar tak jatuh pada lubang yang sama. 

Kutata kembali harapan

yang pecah di lantai kenyataan. 


Hari ini aku berdiri

Di waktu yang tepat, 

bukan waktu yang cepat.

Luka di dadaku tak lagi mencuat, 

ia telah menjelma sebagai penunjuk arah.

Dan setiap goresan yang tertinggal di sepanjang perjalanan

ku sebut Milestone, tonggak pencapaian 

yang memapahku dalam menggapai Impian.


SEKAR Edisi Juli 2026 | Menjadi Baik, Bukan Lebih Karya Halimatuz Zahro

Menjadi Baik, Bukan Lebih 
Karya Halimatuz Zahro

Kita hidup berkali-kali
Dalam setiap surya yang menyapa perlahan
Dalam setiap mimpi yang patah
Dalam setiap harapan yang tumbuh kembali

Sedang kematian tak mengenal kata "lagi"

Lalu apa yang dikejar
Hingga lupa menikmati perjalanan?

Lalu apa yang dikejar
Hingga lupa pulang pada diri sendiri?

Semua bermuara pada akhir yang sama

Tak ada gelar yang ikut memeluk liang
Tak ada harta yang sanggup menemani sunyi
Yang tinggal hanyalah jejak
Apakah kita pernah menjadi baik Atau hanya sibuk menjadi lebih

 

SEKAR Edisi Juli 2026 | Begin Again? Karya Dila Dwi Septiana

Begin Again? 
Karya Dila Dwi Septiana

Hujan perlahan turun membasahi jalan-jalan yang ada di sekitar kafe, kendaraan yang melewati hujan melaju dengan cepat. Seorang gadis cantik duduk sendirian sambil menatap ke arah luar kafe dan memandangi hujan seolah-olah semesta tahu bahwa suasana hatinya sedang buruk. Kei duduk diam sendiri di dalam kafe sambil menggenggam secangkir coklat panas yang sudah ia pesan dari tadi tanpa mau menyentuhnya. Jemarinya memegang ponsel sambil terus menatapnya menunggu apakah ada balasan dari seseorang. Dua bulan yang lalu, ia baru saja putus dari hubungan yang menghancurkannya. Empat tahun bersama seseorang yang selalu menjadi rumah ia pulang, berkeluh kesah, dan menjadi bagian dari dirinya. Kini hubungan mereka harus berakhir karena masalah sepele yang membuatnya kandas yaitu LDR.

“Kita masing-masing aja, ya, aku capek sama hubungan ini, Kei.” 

Hanya itu, pesan yang disampaikan oleh mantannya. Empat tahun yang penuh kenangan berakhir dalam hitungan detik.

Sejak saat itu, akhirnya Kei menjadi orang yang sangat berbeda, ia berhenti terlalu berharap pada janji, berharap pada omongan orang dan berhenti untuk membuka hati lagi.

Sampai akhirnya ia bertemu Ethan. Mereka bertemu tanpa sengaja saat di parkiran kampus. Awalnya tidak sengaja saat Ethan membantu Kei mengeluarkan motornya yang terjebak. Mereka sama-sama satu fakultas namun beda prodi. Sejak saat itu mereka saling mengenal. Awalnya tidak ada yang istimewa, namun di balik awal pertemuan dan sering interaksi semua berbeda.

Iya, Ethan yang ia kenal secara tidak sengaja selalu berada di sekitar Kei.

Ia berbeda. 

Ia selalu ada.

Ia selalu berusaha untuk membuat Keii bahagia. 

Saat Kei mengeluh tugasnya yang banyak, Ethan selalu membantunya dan mendengarkan Kei. Ethan juga yang selalu menemani Kei begadang untuk menyelesaikan tugasnya. Saat Kei sedih karena sesuatu, Ethan langsung menghampiri Kei depan kost dan menghiburnya. Perlakuan Ethan inilah yang membuat Kei takut untuk membuka hati lagi.

Namun, untuk pertama kalinya setelah sekian lama ia merasa aman di dekat Ethan karena Ethan selalu ada, berbeda dengan masa lalu Kei. Dan itu menakutkan. Karena semakin nyaman seseorang, semakin besar kemungkinan ia kehilangan seseorang lagi. 

 

Hari-hari berlalu, tanpa sadar Ethan telah menjadi rutinitas di kehidupan Kei.

Pesan selamat pagi.

Telepon sebelum tidur.

Berangkat ngampus bareng. 

Video-video lucu yang dikirim oleh Ethan melalui tiktok, membuat Kei bahagia dan menjalani harinya dengan semangat. Bahkan, mereka sudah membuat streak.

Pesan singkat yang dikirim Ethan seperti “ capek, ya, ada cerita apa aja hari ini? “ atau “ udah makan belum?”

Perhatian kecil yang ditunjukkan Ethan membuat Kei berharap lagi. Apakah Ethan menginginkannya atau tidak? Namun, Kei tidak terlalu memikirkannya untuk sekarang, yang penting jalani aja dulu. 

Sekarang, Kei mulai percaya diri lagi. Mulai tertawa lagi. Mulai bahagia lagi karena ada Ethan yang menemaninya. 

 

Di sore hari yang cerah ini, Ethan dan Kei duduk di pinggir jalan sambil menikmati segelas es dan memandangi jalan. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman, Ethan melirik kei sekilas sebelum akhirnya memberanikan diri membuka percakapan 

“Kei ....” 

“Hm?” sahut kei sambil menoleh.

“Malam ini kamu ada acara nggak?” 

“Belum, sih, kenapa?”

Ethan tersenyum kecil. “Aku kebetulan ada satu tiket konser tulus yang nggak kepakai. Kalau kamu mau, temenin aku nonton, ya?”

“Serius? Oke, boleh,” jawab Kei sambil antusias dan tersenyum lebar.

 

 

Malam itu area konser dipenuhi lautan manusia, beberapa lampu mulai dipadamkan saat Tulus naik ke atas panggung. Musik mulai dimainkan dan Kei ikut bernyanyi dengan ribuan orang lainnya. Sesekali ia melirik Ethan yang terlihat menikmati setiap lagu yang dibawakan, dan entah mengapa malam itu terasa lebih tenang

Saat lagu jatuh suka mulai dimainkan, suasana mendadak menjadi lebih sunyi. Tanpa sadar, kei terdiam sambil memandang Ethan. Lagu itu mengingatkannya padanya. Ia mulai berpikir, bagaimana kalau Ethan meninggalkannya secara tiba-tiba? Meski tidak pernah ada status yang jelas di antara keduanya. 

Teman?

Lebih dari teman?

Atau hanya dua orang yang menemani saat sedang sepi? Kei juga tidak tahu. Yang ia tahu saat di dekat Ethan jantungnya selalu berdetak lebih cepat dan itu membuatnya semakin takut. Setelah selesai, saat mereka berjalan pulang setelah menonton konser, Ethan tiba-tiba berhenti. 

“Aku boleh jujur nggak?” tanyanya.

Kei menoleh. “Boleh.”

Ethan  tersenyum kecil. “Aku nyaman sama kamu.”

Jantung Kei seakan berhenti berdetak. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.

“Aku juga nyaman sama kamu,” jawab Kei pelan.

Ethan  menatapnya beberapa detik.

Lalu tersenyum.

Dan malam itu, untuk pertama kalinya Kei membiarkan dirinya berharap.

Mungkin kali ini berbeda.

Mungkin kali ini tidak akan berakhir seperti sebelumnya.

Mungkin kali ini ia tidak akan patah hati lagi.

 

Seiring berjalannya waktu, sikap Ethan kepada Kei mulai berubah. Telepon malam yang sudah jarang, balasan yang dulu panjang sekarang hanya dibalas singkat saja. Kei dibuat bingung dengan perubahan sikap Ethan yang semakin hari semakin berubah. Ia berusaha untuk berpikir positif, mungkin Ethan sedang sibuk sehingga tidak bisa diganggu. Namun, semakin hari jarak itu semakin terasa. Dan yang paling menyakitkan bukanlah kepergian seseorang, melainkan saat mereka masih ada, tetapi tidak lagi benar-benar hadir.

Saat ia ingin menanyakan kepada Ethan apa yang sebenarnya terjadi. 

“Nggak usah overthinking."

Kalimat itu menjadi jawaban kesukaan Ethan setiap kali Kei mencoba bertanya. Padahal bukan itu yang Kei butuhkan. Ia hanya ingin kejelasan. Hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, setiap pertanyaan selalu berakhir menggantung.

Tanpa jawaban.

Tanpa penjelasan.

Tanpa kepastian.

 

Suatu malam untuk pertama kalinya Kei memberanikan diri dan menegaskan pada Ethan sebenarnya mereka ini apa. Ia memberanikan untuk mengirimkan pesan kepada Ethan. Entah apa yang dijawab Ethan, yang penting dia sudah mengeluarkan semua uneg-unegnya. 

“Kenapa tiba-tiba menjauh? Setelah kita sudah menjalani hari bersama-sama dan kalau kamu udah bosen, bilang aja. Aku lebih baik menerima kejujuran dari pada terus nebak-nebak kayak gini.”

Tidak ada balasan setelah menunggu beberapa menit. 

Dua jam, tak kunjung dapat balasan. Padahal Ethan sedang online. Kei tahu bahwa dia dan Ethan tidak memiliki hubungan apa pun, namun ia ingin memastikan lebih dalam, sebenarnya apa yang Ethan mau.

 

Keesokan harinya, balasan itu datang.

“Maaf kalau bikin kamu mikir macem-macem. Aku bingung sama perasaanku sendiri “

Hanya itu yang Ethan sampaikan, tidak ada penjelasan, tidak ada kepastian.  Kei yang membaca pesan itu berulang kali memastikan apakah akan berakhir seperti masa lalu. Matanya memanas, bukan karena marah tapi lebih kecewa. 

Ia berusaha membuka hati lagi. Berusaha memulai lagi dengan yang baru. Namun, ternyata ia kembali di posisi yang sama, menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihnya.

Malam itu, Kei menangis bukan karena kehilangan Ethan. Ia menangis karena kehilangan harapan. Harapan yang selama ini ia bangun perlahan. Harapan yang membuatnya percaya bahwa mungkin kali ini akan berbeda. Ternyata tidak, dan kenyataan itu jauh lebih menyakitkan daripada perpisahan.

 

Dua bulan berlalu, Ethan semakin jarang menghubunginya. Hingga akhirnya hampir tidak pernah sama sekali, bahkan rutinitas yang biasanya Kei lakukan bersama Ethan hilang dalam sekejap.

Tanpa kata perpisahan.

Tanpa penutup cerita.

Hanya menghilang perlahan.

Seolah hubungan mereka tidak pernah berarti apa-apa.

Kei akhirnya mengerti, tidak semua orang datang untuk tinggal. Beberapa hanya datang untuk mengajarkan pelajaran. Meski terkadang pelajarannya terasa terlalu menyakitkan.

Seiring berjalannya waktu, Kei akhirnya sadar bahwa ia tidak lagi mengharapkan kehadiran Ethan Ia hanya ingin menikmati dirinya sendiri. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi pertanyaan yang tidak terjawab. Tidak ada lagi penantian yang melelahkan. Karena terkadang, cara terbaik untuk melanjutkan hidup bukanlah mendapatkan semua jawaban.

Mungkin Ethan bukan akhir dari ceritanya, mungkin juga bukan awal yang selama ini ia cari. Namun satu hal yang pasti, kali ini Kei tidak sedang memulai hubungan baru. Ia sedang memulai dirinya yang baru dengan versi yang tidak bergantung kepada orang lain

Kei juga berharap di kehidupan selanjutnya ia berharap Ethan tidak menjadi cowok bingung. Jadilah cowok yang bertanggung jawab atas rasa yang kamu tumbuhkan di perempuan. Dan jangan bawa orang lain sejauh mungkin kalau kamu masih belum tahu apa yang kamu mau. 

Kei akhirnya memahami arti sebenarnya dari dua kata yang selama ini terdengar sederhana.

Begin Again.

Bukan tentang menemukan orang baru, melainkan tentang menemukan dirinya dengan versi terbaiknya setelah hancur dan terlalu bergantung pada orang lain 

Sinopsis : 

Setelah hubungan empat tahunnya berakhir, kei  memilih menutup hati dan berhenti berharap pada cinta. Sampai ethan  datang dan perlahan mengubah semuanya. Dengan perhatian sederhana dan kehadirannya yang selalu ada, ethan  membuat kei percaya bahwa mungkin ia bisa memulai kembali. Ketika harapan mulai tumbuh dan hati perlahan kembali terbuka, semuanya terasa baik-baik saja. 

Hingga suatu hari, perhatian yang dulu selalu ada berubah menjadi jarak tanpa penjelasan. Yang tersisa hanyalah pertanyaan, penantian, dan perasaan yang tak pernah mendapat kepastian.Begin Again ? adalah kisah tentang harapan yang tumbuh di waktu yang salah, kehilangan yang datang tanpa perpisahan, dan keberanian untuk memulai kembali setelah pernah hancur

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...