Jumat, 26 Juni 2026

SEKAR Edisi Juni 2026 | 404 Karya Sonya Esplanadeas Hadi

404

Karya Sonya Esplanadeas Hadi

 

Aku melangkahkan kaki dengan santai menuju sekolah. Hari ini adalah hari pertama masuk setelah libur kenaikan kelas selama dua minggu. Tidak ada yang terasa berbeda pagi itu. Sebuah lengan tiba-tiba melingkar di leherku.

"Jey! Pagi banget berangkatnya. Nggak sabar banget, ya, buat sekolah?"

Aku menepis lengan Arjun dari leherku, lalu memutar bola mata malas. "Nggak, sih. Biar bisa bebas pilih tempat duduk aja. Kan kelasnya diacak lagi."

"Lah, iya, ya, diacak. Yah, berarti aku nggak sekelas sama kamu lagi dong." Arjun memasang wajah sedih yang dibuat-buat. Aku menatapnya datar.

"Bagus, deh. Biar kamu nggak gangguin aku terus pas pelajaran," kataku sambil mempercepat langkah.

"Eh, jahat banget kamu, Jeyan! Heh, tungguin aku! Jangan cepet-cepet jalannya!" Aku hanya terkekeh pelan mendengar protesnya.

Sesampainya di sekolah, benar saja, suasana sudah ramai. Sebagian besar murid berkerumun di depan mading untuk melihat pembagian kelas baru. Aku ikut mendekat, meski harus sedikit berdesakan dengan murid lain. Mataku menyusuri daftar nama yang tertempel hingga akhirnya menemukan milikku. 11-C.

"Eh, Jey! Kita sekelas lagi!" Arjun menunjuk daftar nama dengan antusias.

Aku mengikuti arah telunjuknya. Nama Arjuna tertera jelas di nomor lima. Lalu pandanganku turun ke nomor urut paling bawah. Jayden. Nama itu terasa asing.

”Jayden itu siapa, ya, Jun? Aku baru denger,” tanyaku pada Arjun setelah keluar dari kerumunan di depan mading.

”Nggak kenal juga aku. Kenapa tiba-tiba nanyain?” Arjun balik bertanya dengan heran.

“Lah, tadi ada namanya di nomor urut 41. Makannya aku heran soalnya kelas lain jumlahnya cuma 40.”

Kami menaiki tangga di sebelah kelas 10-A untuk menuju ke kelas 11-C.

”Masa iya? Atau anak baru mungkin? Aku nggak lihat, sih, tadi. Fokus ke namaku sendiri taunya sekelas lagi sama kamu, hehe.”

Aku mendengus pelan sambil membuka pintu kelas. Kelas sudah cukup ramai saat kami masuk. Seperti biasa, aku dan Arjun memilih bangku paling belakang.

“Kamu depanku deh, Jun. Nggak mau aku kalau kamu yang belakang. Entar colek-colek mulu,” kataku pada Arjun.

Arjun hanya menyeringai lalu menurut. Aku duduk di bangku paling belakang sambil memperhatikan suasana kelas. Dari posisi ini, seluruh isi ruangan terlihat jelas. Saat itulah aku melihat seorang murid yang tidak kukenal duduk sendirian di bangku pojok belakang. Kepalanya terbenam di antara lipatan tangan yang bertumpu di meja. Aku memperhatikan dadanya yang naik turun perlahan. Dia tertidur.

Aku tidak berniat mengganggunya. Namun, seorang guru—yang kuyakini sebagai wali kelas—tiba-tiba masuk ke dalam ruangan. Aku melirik jam dinding. Pukul tujuh lewat lima menit. Seluruh murid yang tadi masih sibuk sendiri langsung berhamburan menuju bangku masing-masing.

Aku sedikit mencondongkan badan ke kiri lalu menepuk bahunya pelan. “Bangun, gurunya udah dateng,” ucapku.

Anak itu mengangkat wajahnya. Kulitnya pucat. Garis rahangnya tegas. Rambut hitamnya sedikit berantakan karena tidur. Aku sempat terkesima sebelum akhirnya dia membuka suara.

“Eh, aku ketiduran, ya?” katanya sambil tersenyum tipis. “Makasih udah dibangunin.”

Aku sempat hendak mengulurkan tangan untuk memperkenalkan diri, tetapi urung kulakukan.

“Jeyan,” kataku akhirnya. “Aku baru lihat kamu, by the way. Murid pindahan?”

“Jayden. Jay for short. Dan iya, aku murid pindahan.”

Aku mengangguk pelan. Jadi dia murid nomor 41 itu. Pantas namanya tidak diurutkan secara alfabet.

"Eh, tapi kok kamu nggak dikenalin dulu sama wali kelas?" tanyaku penasaran. "Biasanya murid baru disuruh perkenalan dulu, kan?”

Jay hanya menyunggingkan senyum miring. “Nggak apa-apa. Ribet banget kudu perkenalan dulu. Aku lebih suka kalau nggak terlalu banyak yang memperhatikan keberadaanku.”

Aku menatapnya dengan bingung. Ya sudah, terserahnya.

Aku kembali duduk tegak dan memusatkan perhatian pada wali kelas di depan. Waktu berjalan cukup lambat dan monoton untukku. Bel istirahat berbunyi tak lama kemudian. Aku mengembuskan napas lega. Segera kukeluarkan kotak bekal buatan ibu untuk kumakan.

"Kamu mau nitip makanan atau minuman di kantin, nggak?" tanya Arjun.

"Nggak deh, Jun. Aku udah dibawain bekal sama Ibu, kayak biasa."

Arjun mengangguk lalu pergi bersama anak-anak lain menuju kantin.

Aku membuka kotak bekalku dan berniat langsung makan karena perutku sudah keroncongan sejak tadi. Namun, pandanganku tanpa sadar beralih ke arah Jay. Alih-alih beristirahat seperti murid lain, dia justru membuka buku Biologi.

"Rajin banget," komentarku. "Nggak mau istirahat dulu?"

Jay mengalihkan pandangannya dari buku. "Nggak lapar. Nggak capek juga."

"Oh."

Hanya itu responsku.

Aneh.

Tapi mungkin aku terlalu cepat menilai. Kami baru saling kenal beberapa jam, dan aku sudah mulai menganggapnya aneh. Aku meliriknya sekali lagi. Dia masih fokus membaca, sementara aku kembali memusatkan perhatian pada bekal makan siangku.

Tak ada hal yang menarik lagi sampai bel pulang sekolah. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas. Ah, di luar sedang turun hujan, padahal aku ingin cepat pulang.

“Jey, aku bawa payung. Ayo pulang sekarang,” ajak Arjun.

Saat hendak keluar kelas, aku teringat sesuatu. Aku menoleh ke arah bangku pojok belakang sebelah kiri.

Kosong.

Jay sudah tidak ada di sana.

Aku sedikit mengernyit karena tidak menyadari kalau dia sudah keluar kelas duluan.

“Jeyan! Ayo, keburu makin deres!” Arjun memanggilku dari pintu kelas.

Aku berusaha tidak memikirkannya lagi. Yang kuinginkan sekarang hanya sampai rumah, mandi air hangat, lalu minum teh buatan ibu. Namun, tepat sebelum melangkah keluar gerbang sekolah, mataku menangkap sosok yang terasa familiar.

Jay. Dia sedang berjalan sendirian ke arah belakang sekolah.


Keesokan paginya, seperti biasa, aku berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Begitu membuka pintu kelas, aku langsung menemukan Jay. Persis seperti kemarin. Kepalanya tertelungkup di atas meja. Tertidur. Aku sempat berpikir mungkin dia bekerja paruh waktu sehingga kurang tidur. Dan seperti kemarin pula, akulah yang membangunkannya saat guru masuk ke kelas.

"Kamu kerja part-time?" tanyaku pelan setelah dia membuka mata.

Jay menggeleng.

"Nggak."

"Lah, terus kenapa tidur terus?"

"Daripada gabut nunggu guru, mending tidur."

Aku terkekeh kecil. "Lalu kenapa nggak ngobrol sama anak-anak yang lain?"

"Males."

Jawaban singkat itu langsung mengakhiri percakapan.

Bel istirahat kembali berbunyi. Dan lagi-lagi, Jay tidak pergi ke kantin. Dia bahkan tidak mengeluarkan makanan sedikit pun. Sebaliknya, dia kembali membuka buku Biologinya. Aku sebenarnya ingin bertanya soal itu, tetapi niatku terpotong saat ketua kelas menghampiri.

"Jeyan, dipanggil Bu Elis ke ruang guru."

Aku mengangguk lalu segera pergi.

Ternyata Bu Elis memintaku mencari satu anggota untuk lomba karya tulis ilmiah. Mustahil mengajak Arjun. Dia memang pintar, tetapi menulis bukan bidangnya. Aku masih memikirkan siapa yang cocok saat kembali ke kelas.

Begitu membuka pintu, aku mendapati ruangan sudah kosong. Semua murid masih berada di kantin. Semua kecuali satu orang. Jay. Dia masih duduk di tempatnya, tenggelam dalam buku yang sama. Aku menarik kursi dan menggesernya mendekat.

"Makan bareng, yuk."

Aku menyodorkan kotak bekalku yang berisi beberapa potong roti.

Jay tersenyum kecil. "Aku ennak lapar."

"Lagi?"

"Bukan nolak, ya," lanjutnya. "Aku memang nggak bisa makan kalau nggak lapar."

Aku mengangguk pelan. "Kamu ternyata bisa banyak bicara juga."

Jay tertawa kecil. "Memangnya aku kelihatan pendiem banget?"

"Banget." Aku menjawab tanpa ragu.

"Kamu juga jarang berbaur sama anak-anak lain."

"Ya?"

"Iya. Kalau mau, besok ikut ke kantin bareng aku dan Arjun."

Jay menggeleng. "Nggak usah. Aku lebih suka di kelas."

Aku mengangguk. Lalu teringat sesuatu.

"Oh iya. Waktu pulang kemarin aku lihat kamu jalan ke belakang sekolah."

Ekspresinya nyaris tidak berubah.

"Oh."

"Ngapain?"

"Kamar mandi."

Aku mengernyit.

"Kenapa nggak pakai kamar mandi lobi?"

Jay menutup bukunya perlahan. "Entahlah. Aku lebih suka yang di belakang."

Jawaban itu sama sekali tidak membantu rasa penasaranku. Tak ada obrolan lagi setelah itu. Aku kembali menghabiskan bekalku, sementara Jay sibuk dengan buku biologinya. Lalu aku teringat sesuatu.

"Oh iya, Jay. Tadi Bu Elis minta aku cari satu anggota buat lomba karya tulis ilmiah. Kalau aku ajak kamu, kamu mau?"

Aku akui keputusan itu cukup impulsif. Namun melihat kebiasaannya yang selalu belajar saat istirahat, aku merasa dia mungkin cocok.

"Boleh," jawabnya singkat. "Kapan mulainya?"

"Bulan depan. Masih tahap nyusun ide sama abstrak."

Jay mengangguk pelan.

"Oke."

Bel masuk berbunyi tak lama kemudian. Aku kembali ke bangkuku, sementara Jay menutup bukunya dan mulai memperhatikan pelajaran.

Sepulang sekolah, Arjun kembali mengajakku pulang bersama. Kami memang selalu pulang bersama sejak SMP, meskipun rumah kami berbeda arah. Saat hendak meninggalkan kelas, aku sempat melirik ke arah bangku Jay.

Kosong.

Lagi.

Aku bahkan tidak melihat kapan dia pergi.

"Nungguin siapa sih?" tanya Arjun.

Aku menggeleng.

"Nggak ada."

Kami berjalan keluar sekolah. Namun, sebelum melewati gerbang, aku kembali melihat sosok yang sudah mulai terasa familiar. Jay. Dia berjalan sendirian menuju area belakang sekolah. Lagi. Aku mengerutkan dahi. Kalau memang hanya ke kamar mandi, kenapa harus setiap hari?


Hari-hari berikutnya berjalan hampir sama. Jay selalu datang paling pagi. Tidur sebelum pelajaran dimulai. Tidak pernah makan saat istirahat. Dan selalu menghilang lebih dulu ketika sekolah usai. Anehnya, aku mulai terbiasa dengan semua itu. Bahkan saat istirahat, aku lebih sering mengobrol dengannya daripada pergi ke kantin. Meski sebenarnya sebagian besar percakapan kami hanya diisi jawabannya yang singkat-singkat.

Suatu hari, aku mengajaknya ke rooftop sekolah saat jam istirahat.

"Di sini lebih enak daripada di kelas," kataku sambil duduk di salah satu bangku. "Kalau lagi penat, aku biasanya ke sini."

Kami duduk dalam diam di sana selama beberapa menit.

"Kamu nggak makan?" tanyanya tiba-tiba.

Aku menggeleng. "Lagi nggak lapar."

Untuk pertama kalinya, aku melihat senyum tipis muncul di wajahnya.

"Sekarang nggak cuma aku yang nggak makan."

Aku mendengus pelan. Mungkin itu lelucon versinya.

Bel pulang berbunyi lebih cepat dari yang kukira. Aku membereskan buku-bukuku lalu menoleh ke arah bangku Jay.

Kosong.

Lagi.

Aku bahkan mulai bertanya-tanya apakah dia memang sengaja menghindari pulang bersama murid lain. Saat berjalan menuju gerbang bersama Arjun, tiba-tiba dia membuka suara.

"Kamu akhir-akhir ini aneh, Jey. Beberapa kali aku lihat kamu ngobrol sendiri di kelas."

Aku mengernyit.

"Maksudnya?"

"Ya ngobrol sendiri. Kayak lagi ngomong sama seseorang."

Aku langsung memutar bola mata.

"Ya emang lagi ngobrol sama seseorang. Sama Jay."

Arjun diam.

Aku menunjuk ke arah belakang sekolah.

"Itu tuh orangnya. Lagi jalan ke belakang lagi."

Arjun mengikuti arah yang kutunjuk. Lalu menatapku dengan ekspresi bingung.

"Jey."

"Hm?"

"Nggak ada siapa-siapa."


Aku mulai menganggap semua keanehan itu sebagai hal yang biasa. Setidaknya sampai Bu Elis memanggilku saat jam istirahat.

"Kamu bilang anggota timmu namanya siapa?"

"Jayden, Bu." Bu Elis mengernyit.

"Ibu sudah cek daftar murid berkali-kali. Nggak ada yang bernama Jayden."

Aku ikut mengernyit. "Ibu juga sudah cek data murid pindahan semester ini."

Beliau menggeleng pelan. "Tetap nggak ada."

Aku menatap layar komputer di depanku. Benar. Kolom pencarian hanya menampilkan tulisan: Data tidak ditemukan.

"Mungkin saya salah dengar namanya, Bu."

"Kalau begitu coba tanyakan lagi. Ibu butuh data lengkapnya untuk pendaftaran lomba."

Aku mengangguk pelan. Namun saat keluar dari ruang guru, perasaanku mulai tidak nyaman. Alih-alih kembali ke kelas, aku justru berjalan ke rooftop. Begitu membuka pintunya, aku sedikit terkejut melihat Jay duduk di salah satu bangku kosong.

"Kamu di sini, Jay?"

Berbeda denganku, dia tampak tidak terlalu terkejut dengan kedatanganku.

"Benar katamu, Jey. Di sini lebih enak daripada di kelas."

Seketika perkataan Arjun dan Bu Elis terlintas di benakku.

"Jay, aku mau tanya sesuatu. Kalau menurutmu ini terlalu personal, nggak perlu dijawab."

Jay hanya menatapku diam.

"Kamu pindahan dari mana?"

"SMA Nararya." Aku mengangguk pelan. Nama itu terasa asing, tapi juga familiar.

"Kalau nama lengkapmu?"

"Kamu dulu. Kamu juga belum pernah bilang nama lengkapmu."

Aku tersenyum kecil.

"Jeyan Ardikara."

Kini giliranku menunggu jawaban.

"Kalau kamu?"

Jay mengalihkan pandangan ke langit. "Jayden. Cuma Jayden."

Bel masuk berbunyi sebelum aku sempat bertanya lagi. Aku langsung berdiri.

"Ayo balik."

Belum sempat tanganku menyentuh kenop pintu, bahuku sudah ditepuk lebih dulu oleh Jay. Aku sedikit terkejut. Baru kali ini kami bersentuhan secara langsung.

"Kamu kenapa, Jey?" tanyanya.

Aku menggeleng cepat lalu menyingkirkan tangannya. "Nggak apa-apa."

Namun saat itu juga aku merinding. Tangannya dingin. Terlalu dingin untuk ukuran siang yang panas. 

Sepulang sekolah, aku menceritakan semuanya kepada Arjun. Mulai dari Bu Elis yang tidak menemukan nama Jay hingga jawaban-jawaban aneh yang diberikan Jay. Arjun mendengarkan tanpa menyela. Baru setelah aku selesai, dia mengembuskan napas panjang.

"Jey. Kalau aku ngomong sesuatu, kamu jangan marah."

Aku mulai tidak suka arah pembicaraan ini.

"Apa?"

"Menurutku nggak ada Jayden."

Aku tertawa hambar. "Lucu."

"Aku serius."

"Ya terus yang tiap hari duduk di sebelahku siapa?"

Arjun terdiam beberapa saat. Lalu menjawab pelan.

"Itu masalahnya."

Aku tidak langsung menjawab. Karena untuk pertama kalinya, aku mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Arjun memang tidak sedang bercanda. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada yang ingin kuakui.


Keesokan harinya, aku berangkat sekolah dengan perasaan tidak nyaman. Begitu membuka pintu kelas, seperti biasa, Jay sudah ada di sana. Kepalanya terbenam di antara lipatan tangan. Tertidur. Aku memutuskan tidak membangunkannya. Arjun bilang guru pertama hari ini berhalangan hadir. Aku baru saja hendak merebahkan kepala di atas meja ketika Jay tiba-tiba mengangkat wajahnya.

"Nggak dibangunin?"

Aku sedikit terkejut.

"Mapel pertama kosong."

Jay mengangguk lalu kembali membuka buku biologinya. Aku ikut merebahkan kepala di atas meja. Tak lama kemudian, sesuatu menyentuh pipiku. Selembar kertas. Aku menoleh ke arah Jay. Dia hanya menunjuk kertas itu dengan ujung pulpennya. Dengan penasaran, aku membukanya.

Ada dua stickman yang sedang bergandengan tangan. Di samping masing-masing stickman tertulis dua nama: Jay dan Jey.

Aku tertawa kecil. Ya ampun, kenapa banyak orang menganggap Jay aneh, sih? Padahal dia baik. Dia juga ramah padaku. Harusnya orang lain melihat hal yang sama. Harusnya. Namun sebelum sempat mengatakan apa pun, suara Arjun tiba-tiba terdengar dari depan bangkuku.

"Jey!"

Aku menoleh.

"Kamu kenapa sih?"

"Hah?"

"Beberapa hari lalu ngomong sendiri. Sekarang ketawa sendiri."

Senyumku perlahan memudar.

"Aku nggak ketawa sendiri."

Arjun mengernyit. "Lah, terus?"

Aku langsung menunjuk ke arah Jay.

"Ini. Aku lagi ngobrol sama Jay."

Hening. Aku menoleh ke samping.

Kosong. Bangku di sebelahku kosong.

Tidak ada Jay.

Tidak ada tasnya.

Tidak ada apa pun.

Jantungku mendadak berdegup lebih cepat.

Tanganku gemetar saat kembali melihat kertas yang masih kupegang.

Napas seolah tertahan di tenggorokan.

Di atas kertas itu hanya ada satu stickman.

Dan satu nama.

Jey.

Aku merasakan bulu kudukku berdiri.

"Jey?" Suara Arjun terdengar pelan.

Aku mengangkat kepala. "Jay bilang dia pindahan dari SMA Nararya."

Arjun tampak bingung.

"SMA Nararya?" Aku mengangguk.

"Itu nama sekolah kita puluhan tahun yang lalu."

Darahku seperti berhenti mengalir sesaat.

Aku kembali menoleh ke arah bangku kosong di sebelahku. Lalu baru menyadari sesuatu.

Ada sebuah buku biologi di kolong meja. Buku yang selama ini selalu dibaca Jay saat jam istirahat. Aku buru-buru mengambilnya.

"Jey, mau ke mana?" tanya Arjun.

Aku tidak menjawab. Kubuka buku itu dengan tangan gemetar.

Tak ada nama pemilik.

Tak ada catatan.

Tak ada apa pun.

Hanya ada sebuah tulisan di halaman paling terakhir yang sebelumnya tidak pernah kulihat.

Ruang arsip.

Aku tidak menuju rooftop.

Aku menuju ruang arsip sekolah.

Ruangan itu jarang dibuka. Bahkan aku tidak yakin masih ada yang menggunakannya. Di sana aku menemukan buku tahunan tahun 1998, saat sekolah ini masih bernama SMA Nararya. Tanganku gemetar saat membalik halaman demi halaman. Lalu aku menemukannya. Foto kelas.

Di barisan paling belakang. Seorang siswa yang wajahnya terasa sangat familiar.

Di bawah foto itu tertulis:

Jayden.

Tanpa nama belakang. Hanya Jayden.

Aku buru-buru membalik ke halaman berikutnya. Ada sebuah artikel kecil. Tentang seorang siswa yang dinyatakan hilang dan tidak pernah ditemukan. Namanya disamarkan karena permintaan keluarga. Namun foto yang digunakan adalah foto yang sama. Foto Jay. Aku menatap halaman itu lama. Lalu sesuatu terjatuh dari sela-sela buku. Selembar kertas tua. Di atasnya hanya ada dua kata.

Not Found.

 

SINOPSIS:

404 Not Found.

Pesan sederhana yang menandakan bahwa sesuatu tidak dapat ditemukan.

Kita terbiasa menganggap yang hilang sebagai sesuatu yang telah pergi. Padahal, mungkin sebagian darinya masih ada. Terselip di sudut ingatan, tertinggal dalam jejak yang terlupakan, atau tersembunyi di tempat yang tidak lagi dicari. 

Karena yang tidak dapat ditemukan bukan berarti tidak pernah ada.

 


SEKAR Edisi Juni 2026 | Sajak yang Terlupa Karya Siti Sholekah

 Sajak yang Terlupa

Karya Siti Sholekah

 

Di bawah langit yang mulanya biru, 

Bumi pernah bernapas dalam diam yang syahdu. 

Hutan-hutan bertasbih lewat gesekan daun, 

Mengalirkan kehidupan dari tahun ke tahun. 

 

Dulu, kita memanggilnya alam dengan takzim, 

Tempat riak air menari tanpa sedih di urat nadi yang jernih.

Namun kini, di sudut jalan, pohon tua itu mulai bicara, 

Bukan dengan kata, tapi debu yang menempel pada daun yang lelah. 

Napas bumi mulai memburu, 

Terganti asap hitam yang mengepul kelabu. 

 

Sekarang, kita memanggilnya sumber daya yang siap diperas, 

Pohon-pohon tumbang bersandarkan serakah yang tak bertepi. 

Plastik-plastik itu menari bebas di sela akar, 

Menjadi prasasti bisu dari kebiasaan kita yang terlalu terburu-buru. 

Kita memetik tanpa pernah menanam, 

Membiarkan masa depan perlahan temaram di atas tanah yang merekah.

 

Bumi tidak minta disembah, 

Dia hanya ingin sedikit napas yang tak tercekat asap. 

Dia hanya ingin kita berhenti sejenak, 

Menaruh telepon genggam, melihat ke langit yang kian abu, 

Dan sadar bahwa tanah yang kita pijak, 

Masih punya memori tentang hari-hari ketika ia belum merasa terluka.

 

Tidak perlu pidato besar untuk menyelamatkannya, 

Belum terlambat untuk menyeka air mata di wajahnya. 

Mungkin cukup dengan satu langkah kecil hari ini: 

Membiarkan sisa makanan kembali menjadi tanah, 

Atau berhenti membuang harapan ke dalam botol-botol sekali pakai.

Mari jadikan tangan kita pelindung, 

bukan perusak yang angkuh. 

Sebab pada akhirnya, 

Kita bukan sedang menjaga alam yang jauh di sana, 

Kita sedang menjaga rumah, 

agar tidak runtuh di atas kepala kita sendiri. 

 

SEKAR Edisi Juni 2026 | Janji Mentari Karya Saffanah Salsabila

 Janji Mentari

Karya Saffanah Salsabila

Huh... huh... huh...

   Nafasnya mulai menderu bersamaan dengan redupnya sinar mentari. Tangisannya meluap memenuhi seluruh wajahnya. Hari sudah mulai gelap, begitu juga hatinya. Ia berlari tak tentu arah dengan langkah lunglai akibat luka di lututnya. Namun, luka ini tak sebanding dengan luka di hatinya. Sedari dulu cara kerja dunia tak pernah berubah terhadapnya, cemoohan dan cacian menemani hari-harinya. 

   Namanya Eva. Gadis remaja berusia 18 tahun yang hidup dengan semua ketidakberuntungan yang ada di dunia ini. Soal penampilan? Siapa yang tertarik dengan gadis dekil rambut keriting. Soal gaya hidup? Siapa yang tertarik dengan gadis yang satu baju dipakai untuk satu minggu. Soal orang tua? Siapa yang tertarik dengan orang tua yang hanya mampu memberi nafkah sepuluh ribu untuk tiga hari. Soal otak? Siapa yang tertarik dengan gadis yang sedari dulu hanya hafal perkalian 5 dikali 5 sama dengan 25. Tidak ada yang menarik dalam hidupnya, hanya soal hidup ia menang dari manusia yang sudah meninggal dengan cepat.

   Eva menyadari bahwa yang ia punya hanyalah kesempatan untuk membuka mata tanpa diberikan izin untuk berteman dengan dunia. Maka dari itu untuk apa ia hidup jika hidup saja tidak memberikan makna untuknya. Seekor kucing yang nampak kelaparan mendekati Eva yang tengah kelelahan berlari, Eva berhenti sejenak untuk memberikan kucing tersebut roti. 

   Setelah itu, Eva berlari kembali, berteriak dan menangis tanpa arah. Disinilah dia sekarang, di sebuah tebing yang curam dengan latar belakang senja dan pemandangan kota yang membuatnya semakin yakin untuk meninggalkan dunia ini.

“Selamat tinggal.” Dengan pasrah Eva menjatuhkan tubuh mungilnya ke dasar tebing. Lama sekali ia menutup mata, tapi yang ia rasakan hanya angin berhembus kencang di sekitar tubuhnya. Tak lama kemudian angin berhenti berhembus menyisakan dirinya dan senja namun, anehnya ia terbaring di atas tebing yang sama tanpa luka sedikitpun bahkan luka karena goresan pisau di lututnya tadi sudah hilang. Berkali-kali ia mencoba untuk meninggalkan dunia namun, ia tetap berakhir hanya terbaring di atas tebing.

“Kalau kamu ingin aku tetap hidup tolong beri tahu aku cara bahagia!” teriaknya lantang kepada sang senja. Eva memeluk lututnya sembari menangis tersedu-sedu.

“Dunia memiliki cara tersendiri untuk membuatmu bahagia dan kamu harus melihatnya, Eva,” ucap seseorang di depannya. Eva sangat terkejut, ia merasa seperti tidak memiliki jantung. 

“Si-siapa kamu?” tanya Eva. 

“Aku? Hmmmm, aku tau cara kamu bahagia, Eva.”

“Pergi kamu dari sini! Aku ngga butuh kamu!” Eva berlari dengan sigap meninggalkan pria misterius yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Eva berlari dengan cepat hingga ia merasa berada di jarak yang cukup jauh dari tebing tadi. 

   Pria itu berdehem, “Besok ada ujian matematika, buku ini bisa membantu kamu untuk mendapatkan nilai plus, Eva,” ucap pria itu sembari menyodorkan buku kepada Eva. Sekali lagi Eva dibuat terkejut oleh pria tersebut, ia berlari dan terus lari menuju rumahnya. Sesampainya di rumah, dengan segera ia membanting pintu kamarnya dan membaringkan tubuhnya ke atas kasur.

            “Siapa cowok itu?” Pertanyaan itu terus memenuhi kepala Eva hingga malam tiba. Alhasil, ia memutuskan untuk membuat dirinya segar kembali dengan guyuran air dingin. Setelah itu, ia memeriksa jadwal sekolah untuk besok dan benar sekali bahwa besok pada pukul tujuh pagi matematika akan melahapnya. Ia merasa sangat putus asa karena berapa kali pun ia belajar berkali-kali pula rasanya ia ingin meninggal tanpa terjun ke bawah tebing. 

   Terdengar pintu kamar Eva diketuk, “Nak, di luar ada teman kamu,” ucap ibunya. Bukan main, Eva semakin terkejut, lebih terkejut daripada saat ia bertemu dengan pria tidak dikenal. Karena sedari kecil hingga detik ini tercatat nol persen jumlah pertemanan Eva yang terekam pada data Dinas Pertemanan. 

“Tapi, Bu. Aku ngga punya temen deket, kenapa ibu biarin masuk? Keknya mereka cuma mau macem-macem sama aku.”

“Sepertinya dia orang baik, Nak. Dia mau belajar katanya, sampe bawa buku sekoper lho.” Eva semakin terkejut dan sepertinya dia tahu siapa ‘teman‘ itu.

” Ibu… tolong bilang Eva sudah tidur yaa… Eva takut.”

“Permisi, Ibu… maaf saya langsung masuk tanpa izin, saya ingin memberitahu bahwa suami Ibu terjatuh dari tangga-” ucap pria misterius yang Eva temui di atas tebing.

“YA TUHAN,” seru ibu Eva.

“AYAH-” teriak Eva. Pria itu menahan tangannya.

“Kamu jangan khawatir, ayah kamu sudah aku obati, Eva. Sekarang yang perlu kamu lakukan adalah belajar.” Eva tidak menghiraukan pria itu dan langsung berlari menuju ke depan rumahnya. Disana ia melihat ayahnya telah duduk tenang dengan perban di kakinya sembari tersenyum ke arahnya. 

“Ayah tidak apa-apa, Sayang, bersyukur sekali ada teman kamu tadi jadi Ayah langsung diberi penanganan.” Hati Eva sangat tenang dan damai saat melihat senyum ayahnya. Orang tua Eva membalas budi pria itu dengan sepiring singkong goreng untuk menemani  waktu belajarnya bersama Eva.

“Siapa kamu?” tanya Eva sekali lagi.

“Itu tidak penting, kerjakan soal selanjutnya maka besok kamu akan disukai oleh temanmu, Eva.”

“Aku tidak membutuhkan teman,” ucap Eva.

“Kamu berbohong, Eva,” balas pria itu.

“AKU TIDAK MAU.” 

   Cetas! Pria itu menjentikkan jarinya kemudian semuanya tampak gelap.

            “Kamu ingin semua cuplikan mimpi buruk ini terus terjadi dalam hidupmu, Eva?” Sekujur tubuh Eva bergetar hebat, ia merasa sangat ketakutan melihat semua memori itu. Mulai dari dirinya yang dicemooh, dilempari kotoran, hingga mendapatkan perlakuan yang tidak pantas sebagai seorang wanita. 

“Kalau kamu tidak mau merubah hidupmu sekarang maka jangan berharap kamu bahagia, Eva,” ucapnya, “Aku disini bukan untuk membuatmu sengsara, kamu sendiri yang ingin mengetahui bagaimana cara untuk bahagia, ya kan, Eva?”

“Kamu jangan khawatir ya, sekarang kamu aman, Eva,” ucap pria itu sembari memeluk tubuh Eva yang bergetar. Malam itu, Eva sedikit bahagia meskipun masih sedikit tidak percaya pada sosok pria tidak dikenal ini. Pria ini sangat misterius, perawakannya yang gagah, tegap dan memiliki wajah yang tegas membuat Eva terkadang takut berada di dekatnya. Namun, sikapnya yang lembut membuat Eva tenang berada di sampingnya. 

“Ini makanan apa, Eva?” tanya pria itu sembari menggoyang-goyangkan singkong goreng.

“Itu enak, makan saja.”

“Apa makanan ini membuatmu bahagia?” Eva mengangguk sambil tersenyum. Dasar pria aneh, pikirnya. 

   Malam itu, pria itu mengajarkan banyak hal kepada Eva mulai dari hal serius seperti prediksi galaksi andromeda dan bima sakti yang akan bertabrakan sekitar 4 miliar tahun lagi hingga hal konyol seperti kucing menatap tembok seperti melihat hantu. 

   Esok hari telah tiba, mentari seakan memberikan sinar yang berbeda kepada Eva. Sinar harapan. Pagi itu ia sangat optimis dan bersemangat untuk menghadapi ujian, ia berjalan kaki dengan senyuman. Di persimpangan jalan tepat dimana ia biasa melihat matahari terbit, pria itu muncul secara tiba-tiba disampingnya.

“Apakah kamu tidak lelah berjalan kaki, Eva?”

            Eva terkejut, “Bisa ngga ya kamu jangan muncul tiba-tiba, aku kaget.”

            “Maaf, akan aku coba untuk membuatmu tidak kaget lain kali, Eva. Omong-omong apa kamu tidak berniat untuk membeli sepeda seperti teman kamu itu?” ucapnya sembari menunjuk teman sekolah Eva di seberang.

            “Beli sepeda ya? Hm… mungkin aku bisa membelinya saat galaksi andromeda dan bima sakti bertabrakan.” Eva tertawa, berlari dan berkata, “Terima kasih sudah membantuku, siapapun kamu semoga kamu bahagia selalu, doakan aku berhasil.” Eva berlari dengan penuh semangat, pria itu tersenyum lebar melihat kepergian Eva, bagian kecil lengannya mulai pudar tertiup angin.

   Bel berdering menandakan kelas hendak dimulai, jantung Eva berdegup kencang. Meski ia bersikap optimis, tapi ia tetap takut membuat kesalahan. Ujian berjalan dengan lancar, Eva sudah melakukan yang terbaik dan ia percaya bahwa semua soal telah dijawabnya dengan benar karena semua yang ia pelajari bersama pria itu muncul dalam soal ujian. 

   Seharian Eva diam di dalam kelas karena takut akan hasil ujiannya. Mentari semakin terik dan pikiran Eva pun semakin kacau. 

            “Hai, Eva. Tenang saja, kamu sudah melakukan yang terbaik,” ucap pria itu tiba-tiba di depan kursi Eva. 

            “Bagaimana kamu bisa sampai disini?”

            “Aku punya singkong goreng, berbahagia ya,” ucapnya sembari menyodorkan sebungkus singkong goreng kepada Eva. Menurut Eva hal itu sangat lucu hingga membuatnya tertawa terbahak-bahak. 

            “BAGAIMANA BISA? SINGKONG?” Eva masih tertawa terbahak-bahak.

            “Eh, aku meminta kepada ibumu tadi pagi.”

            “Ya tuhan… kamu lucu sekali,“ ucap Eva. 

   Bel masuk berbunyi, pada jam inilah penentuan takdir Eva. 

            “Setelah pulang sekolah, mari kita cari cara untuk bahagia lagi ya, Eva,” ucap pria itu yang kemudian dibalas dengan anggukan oleh Eva. 

   Semua doa telah Eva panjatkan, semua harapan telah Eva rapalkan. Akhirnya, namanya dipanggil diikuti oleh nilai sempurnanya, 80. Di mata orang mungkin tidak sempurna, tapi Eva senang sekali karena ia memiliki kesempatan untuk bahagia. 

   Senja menjemputnya, di depan gerbang sekolah ia melihat pria itu sedang tersenyum ke arahnya. 

            “Bagaimana hasilnya, Eva?” tanya pria itu.

            “Aku… DAPAT NILAI 80!” Eva senang sembari melompat kegirangan, bagian kecil lengan pria itu mulai pudar tertiup angin.

            “Terima kasih,” Eva tersenyum, sepertinya ini adalah senyum terindahnya sepanjang hidup. 

            “Ayo kita merayakan keberhasilanmu dengan pergi ke suatu tempat,” ucap pria itu. Eva mengangguk dengan malu sembari mengikuti langkah pria itu. Tak lama kemudian, sampailah mereka di toko yang menjual segala macam kue cantik dan enak. 

            “Apa kue bikin kamu bahagia?”

   Eva terkekeh, “Iyaaa, sangat. Terima kasih.” Mereka berdua menghabiskan waktu sore bersama di sebuah taman bermain sembari menikmati kue dan es krim. 

            “Apa aku boleh memanggilmu Jingga?”

            “Wow, jingga itu nama warna ya, Eva? Kenapa?”

   Eva tersipu, “Karena kamu itu suka bangkitin semangat orang.” Pria itu tersenyum dan menyetujui permintaan Eva. 

   Tak lama kemudian sebuah kertas tertiup angin hingga menutup seluruh wajah Eva, Jingga tertawa melihatnya. 

            “Oh, jadi kamu juga bisa jahat ya?” ucap Eva. 

            “Lihat sisi positifnya, Eva. Itu selebaran lowongan kerja supir, mungkin itu cocok untuk ayah kamu, daripada ayah kamu terusan bekerja sebagai kuli bangunan, beresiko sekali.”

            “Terima kasihh, akan aku sampaikan ke Ayah!”

   Eva berlari sembari menunjukkan kepada dunia bahwa harapan kini memenuhi hidupnya. Sejak saat itu, Eva memiliki cara untuk bahagia. Ini semua terjadi semenjak ia dipertemukan oleh pria misterius yang Eva panggil Jingga. 

   Jingga benar-benar memberikan Eva dunia baru, ia berhasil membangkitkan semangat bersekolah Eva, ia juga berhasil membuat Eva mau bersosialisasi dengan teman-temannya meskipun pada bagian ini sangat susah dan berkali-kali mereka beradu mulut seperti ini:

            “AKU TIDAK PEDULI DENGAN TEMAN! AKU TIDAK PERLU MEREKA DALAM HIDUPKU! Aku bisa jadi apapun tanpa mereka!”

            “Oh ya? Hebat banget kamu? Siapa yang kemaren nolong kamu jatuh?”

            “Karina...,” jawabnya.

   Hidup Eva berubah total, bukan hanya hidupnya yang indah tapi penampilannya juga semakin indah karena ia saat ini bisa menghidupi dirinya sendiri dengan uang hasil jerih payahnya bekerja paruh waktu di toko kue tempat dimana ia dan Jingga biasa menghabiskan waktu. 

   Hari kelulusan pun tiba, Eva berhasil meraih peringkat pertama di sekolahnya. Foto kelulusannya mengakhiri kisah putih abu-abunya. Ia menggenggam erat foto yang berisi dia, kedua orang tuanya, dan Jingga. 

            “Terima kasih, Jingga.”

            “Aku tidak melakukan apapun, Eva. Ini semua berkat usaha kamu,” Jingga tersenyum.

            “Ngga, ini semua karena kamu, terima kasih,” ucap Eva sembari memeluk erat tubuh tegap Jingga. 

            “Hei, kamu tidak boleh menangis, Eva. Nanti pelanggan kuemu lari.” Eva mencubit lengan Jingga. 

   Hari setelah kelulusan bukanlah akhir, melainkan titik awal langkah Eva dimulai. Maka dari itu, ia lebih giat belajar demi berhasil meraih gelar di universitas impiannya. Eva juga giat bekerja demi membantu perekonomian keluarganya. Berhari-hari berlalu Eva tidak melihat kehadiran Jingga, ia mulai merindukannya. Biasanya Jingga muncul secara tiba-tiba melalui angin dan matahari, namun saat ini sama sekali tidak ada tanda akan kemunculannya. 

   Kini pertanyaan, “Jingga kemana?” merupakan pertanyaan yang selalu menghantuinya setiap malam. Ia mencari keberadaannya ditemani oleh seekor kucing dengan lonceng emas di lehernya, Eva tidak tahu mengapa kucing ini mau menemaninya, mungkin ia ingin membalas budi pada Eva atas sepiring makanan setiap paginya. 

   Eva terus mencari keberadaan Jingga, biasanya ia muncul di saat matahari terbit, matahari terik dan matahari terbenam namun, ia belum juga memperlihatkan kehadirannya. Eva semakin khawatir.

   Tiga bulan berlalu Eva hidup tanpa kehadiran Jingga dan itu membuatnya hampir menyerah. Akhirnya, ia memutuskan untuk menikmati senja di atas tebing sembari melihat pemandangan kota di bawahnya.

   Ia berpikir, “Dulu, aku ingin mati disini, tapi ternyata disinilah hidupku dimulai.” Eva berdiri selama berjam-jam hingga suara adzan maghrib berkumandang, jauh di dalam lubuk hatinya ia berharap Jingga muncul secara tiba-tiba di hadapannya namun, dunia tidak mengizinkannya. Eva melangkahkan kaki hendak pulang kerumah dengan langkah lesu.

            “Kamu belum melihat bagian ini, jangan pergi dulu, Eva,” ucap seseorang di belakangnya. Dengan sigap, Eva membalikkan badan dan memeluk erat tubuh Jingga seakan-akan tidak ingin melepaskannya.

            “Kamu darimana saja, Jingga…?” tanya Eva.

            “Aku ngga kemana-mana, Eva. Aku selalu menemani langkahmu. Bagaimana kabar kamu?”

            “JAHAT! Tolong jangan tinggalin aku.”

            “Kamu keren dan kamu bisa mengandalkan diri kamu sendiri, Eva.”

            “Apa maksud kamu, Jingga?!”

   Jingga mengajak Eva untuk duduk di tepi tebing. 

            “Kamu bahagia sekarang?” tanya Jingga.

            “Tidak kalau tidak dengan kamu.”

            “Itu bukan jawaban, Eva. Buktinya kamu bisa meraih nilai sempurna untuk perkuliahan kamu tanpa aku. Kamu yang sekarang sudah sangat keren, dan itu berarti tugasku sudah selesai.”

            “MAKSUD KAMU APA?!”

            “Kamu selalu bertanya-tanya tentang siapa aku, bukan? Aku juga sebenarnya tidak tahu kenapa aku ada, mungkin aku diciptakan oleh hati kamu yang lembut dan rapuh sehingga muncul keinginan untuk membuat kamu bahagia di dunia ini, Eva. Karena kamu berhak bahagia. Saat kamu mengatakan bahwa dunia tidak memberitahu kamu tentang bagaimana cara merasakan kebahagiaan, disitulah aku mulai tercipta.”

   Eva hendak bergegas pergi meninggalkan Jingga, “Eva, tolong jangan marah padaku.” Jingga menahan tangan Eva. Eva terkejut ketika melihat kini kaki Jingga telah pudar terbawa angin. 

            “Jingga, apa yang terjadi padamu?!” 

            “Sepertinya kamu sudah bahagia, Eva. Angin ingin membawaku pergi.”

            “INI BENERAN NGGA ADIL.”

            “Hei, jangan berpikir seperti itu. Dunia ini ada karena kamu ada. Maka berbahagialah selalu, Eva. Terima kasih karena tetap menjadi diri kamu dan bertahan hingga sejauh ini, aku bangga sekali padamu, dan terima kasih atas namanya, Jingga. Aku sangat menyukainya.” Itulah kalimat terakhir Jingga setelah tubuhnya hilang tersapu oleh angin meninggalkan lonceng kecil berwarna emas. 

   Eva diam terpaku sembari memeluk tubuh Jingga yang kini hilang tertiup angin. 

            “Terima kasih….” Eva menangis. 

 

SINOPSIS 

Hari buruk selalu menghantui Eva. Dunia tidak berpihak padanya. Apalagi setelah kehilangan seseorang yang membuat dunianya lebih baik bahkan sangat baik, Jingga. Setelah ia mendapatkan dunianya, ia menghabiskan hari untuk mencari Jingga ditemani seekor kucing dengan lonceng emas di lehernya. 

“Kamu darimana saja, Jingga…?” tanya Eva.

            “Aku ngga kemana-mana, Eva. Aku selalu menemani langkahmu. Bagaimana kabar kamu?“ 

Eva ingin mengetahui cara dunia memberinya kebahagiaan, maka jawabannya ada pada Jingga. 

 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...