Selasa, 18 Juli 2023

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Amenable oleh Zakya Annisa Rahma

Amenable

Sebuah cerpen karya Zakya Annisa Rahma 

Hari Sabtu sore. Weekend. Sudah sewajarnya kampus sepi. Terutama ruang kelas, banyak yang sudah kosong. Dosen dan mahasiswa sudah banyak yang pulang dari sesi pertemuan tambahan atau jadwal pengganti. Di satu ruangan ada dua orang yang sedang sibuk dengan buku mereka. Membaca beberapa materi sekaligus berdiskusi sedikit mengenai mata kuliah yang tiga jam lalu disampaikan oleh profesor.

“Hei,” salah satu dari mereka membuka percakapan kembali. Setelah dua puluh menit sebelumnya penuh keheningan.

Lawan bicaranya menjawab dengan deheman.

“Akhir-akhir ini, kamu ngerasa ada yang aneh enggak?” tanyanya.

“Apa?” Dibalas pertanyaan. Tidak ada lanjutan percakapan. Membuat yang terakhir berucap mengangkat pandangannya, menatap temannya penasaran.

“Angga, sayangku, cintaku, kurang-kuranginlah nanya tanpa konteks terus bikin orang penasaran,” kata perempuan dengan rambut diikat.

“Dih, ngomong gitu sama cewek aja, aku yang cowok jijik dengernya,” ledek laki-laki dengan rambut berombak. “Kamu, kurusan enggak sih, Ta?”

Perempuan yang dipanggil Tata menaikkan alisnya, raut wajahnya berubah sedikit. “Eh, iya kah? Kelihatan ya? Cakepan enggak?”

Cibiran terdengar keras. “Pipimu itu lho, makin tirus kayak enggak dikasih makan setahun.”

“Makin mirip artis Korea kan? Mirip Han So Hee.”

“Makin enggak jelasss!” Angga menyeret kata terakhirnya.

Percakapan tersebut berlanjut hingga lembaran catatan terlupakan.

***

“Habis ini mau ngebakso di tempat yang kemarin enggak?” tanya Angga memasang helmnya. Mereka sedang berada di tempat parkir.

“Enggak deh, aku mau langsung balik ke kosan,” jawab Tata ringan.

“Makan dulu. Sudah malam, nanti malah enggak makan apa-apa.”

“Gampang, bisa pesan online.”

“Eh, mahal. Mending ngebakso. Itung-itung nemenin aku.” Angga masih berusaha.

“Dih, malam minggu gini mending ngajak pacarmu itu,” sindir Tata dengan tatapan sinisnya.

“Mana ada.”

“Bukannya cabangnya setiap fakultas ya?”

“Ngawur. Sudah, nemenin aja. Nanti aku traktir.” Angga menstarter motornya, memberi kode untuk Tata naik ke motornya.

“Enggak deh, aku mager mau makan,” tolak Tata, tetapi tetap naik ke motor Angga. “Aku nemenin aja.”

“Makan aja mager, mau disuapin?” tawar Angga.

“Najis. Cepetan jalan!”

***

Angga dengan luwes memesan dua porsi bakso, sebelum Tata sempat menolak. Wajah perempuan itu langsung masam. Sementara temannya hanya tertawa puas.

“Sama-sama,” kata Angga.

“Enggak mau bilang makasih,” sanggah Tata. “Kebiasaan, suka maksa.”

“Kalau enggak dipaksa, enggak makan. Nanti aku bilang apa ke tante?” Angga memberi alasan disertai pertanyaan.

“Kamu enggak ada kewajiban buat ngabarin ke mamaku ya…” Tata melotot. 

“Makan aja, apa susahnya sih. Kalo enggak habis nanti aku yang ngabisin.” Angga memilih memainkan sendok sambal di depannya. Menunjukkan dia tidak mau berdebat lebih lanjut.

Sebagai orang yang sudah berkawan lebih dari satu periode kepresidenan, Tata tahu gelagat laki-laki di depannya. Ia memilih melengos dan mengeluarkan gawainya.

Tidak sampai sepuluh menit, dua mangkuk bakso terhidang di depan keduanya. Tata menatap mangkuk miliknya. Lima bakso polos dengan mi bihun dan dua tahu putih tanpa seledri dan bawang goreng. Persis yang biasa dia pesan. Tapi kali ini sepertinya…

“Kebanyakan,” ucap Tata pelan, tetapi masih tertangkap oleh telinga Angga.

Angga mendorong botol kecap ke depan mangkuk Tata. “Segitu doang, sekali suap habis. Lihat nih, punyaku.” 

Mangkuk pesanan Angga terlihat dua kali lebih penuh dari milik Tata. Komplit dengan bakso urat, siomay, mi kuning, dan pangsit goreng. Bawang goreng bertaburan di atasnya. Angga memang selalu meminta bawang goreng yang banyak, tapi kali ini mungkin bapak pedagang bakso sedang berbaik hati menumpahkan satu stoples ke mangkuknya.

Tata tidak membalas perkataan Angga, memilih mengaduk kuah baksonya tanpa minat. Gerungan tidak nyaman keluar dari mulutnya.

“Kamu makan pakai mata?” sindir Angga gemas. “Lima menit enggak makan, aku suapin beneran.”

“Iya, iya, bawel,” jawab Tata menunjukkan kekesalan.

Pelan, Tata menyuapkan bakso ke mulutnya.

Duh, suwine rek, koyok Putri Solo (Duh, lamanya, seperti Putri Solo).” logat Jawa Timur Angga keluar mengomentari tingkah Tata. “Selak kabur bakule, nunggoni kamu (Keburu lari yang jual, nungguin kamu).”

Tata hanya melotot membalas komentar Angga.

Sudah tentu mangkuk Angga tandas lebih dulu dibandingkan Tata. Perempuan itu menatap Angga sekian detik sebelum akhirnya mendorong mangkuknya yang masih berisi tiga bakso. “Kenyang,” katanya singkat.

Angga yang sudah terbiasa dengan kelakuan sahabatnya hanya mengerutkan alis, tapi tidak banyak bicara mentransfer isi mangkuk ke dalam perutnya.

“Mau ke toilet, sebentar.” Tata berpamitan singkat. “Jangan ditinggal,” tambahnya mengingat tragedi sebelumnya, di mana Angga meninggalkannya di kafe saat ia pergi ke toilet.

Sahabatnya itu hanya mengibaskan tangannya, memberikan kode tanpa ucapan.

***

Tata menatap horor ke kloset di toilet. Bukan karena kondisinya yang kotor. Warung bakso langganan Angga dan Tata tempatnya cukup bersih, termasuk toiletnya. Mungkin karena warung ini juga menjadi satu bagian dengan rumah pedagangnya.

Tangan Tata menekan perutnya. 

“Enggak …”

Dengan cepat, tangannya naik. Memasukkan dua jari ke mulutnya, mencoba mencapai kerongkongan. 

“Uhk.” tersedak. “Belum …”

Jarinya mencoba lagi. Mengeluarkan apa yang sudah masuk sebelumnya. Pikiran Tata kalut.

Kumohon jangan,’ batinnya. ‘Jangan sampai menjadi lemak. Ayo keluar.

Tata jangan menyerah!’ Dalam otak Tata menyemangati dirinya sendiri. ‘Ingat Tata, enggak ada cowok yang mau sama cewek gendut. Makanya kamu enggak punya pacar sampai sekarang. Kalau Angga punya pacar, enggak ada yang bareng kamu lagi. Kamu bakal dibuang. Ayo Tata!

“Haahhh …” Tata mencoba bernafas, beberapa isi perutnya keluar. Tapi masih belum cukup.

Harusnya tadi aku enggak makan,’ batin Tata. 

Tapi nanti Angga bakal ngejauh. Tata, kamu harusnya sadar diri. Angga mau jadi teman karena kasihan. Kalau kamu tambah gendut nanti Angga bakal ngejauhin kamu! Sudah jelek, gendut lagi!

Tata menekan kepalanya ke dinding. Suara-suara di dalam kepalanya menyakitkan dan menyebabkan pening. Setelah mencoba mengeluarkan semuanya, Tata membasuh tangannya.

Kamu harus sempurna Tata. Harusnya kamu berhenti makan setelah melihat dirimu itu. Apa bedanya kamu dengan ikan buntal? Bahkan ikan buntal lebih indah darimu.

Tidak apa-apa. Kamu bisa terus makan. Bukannya kamu ingin Angga membencimu? Kamu ingin begitu kan? Kamu ingin semua orang menjauhimu karena kamu menjadi makluk buruk rupa? Setelahnya kamu bermimpi bertemu pangeran seperti beauty and the beast? Naif.

Tata mencoba menyeimbangkan dirinya, setelahnya ia keluar dari toilet. Terlihat istri pedagang bakso memandangnya khawatir.

Sial.

“Mbak, enggak papa? Ibu dengar tadi kayak muntah-muntah,” kata ibu tersebut khawatir.

Sebuah senyum berusaha dipamerkan Tata di wajahnya. “Enggak papa, Bu. Saya cuma masuk angin.”

“Mau minyak kayu putih? Ibu punya di rumah.” Ibu baik hati itu menawarkan.

“Enggak usah, Bu. Enggak papa,” tolak Tata. 

Lihat Tata, kamu payah. Bahkan kamu membuat orang asing repot karena dirimu.

Dari cermin yang dipasang di dinding berhadapan dengan toilet, Tata dapat melihat refleksi dirinya. Mata dan hidungnya merah. Karet rambutnya turun, menyebabkan rambutnya terlihat berantakan.

“Astaga.” lidah Tata kelu. Penampilannya benar-benar berantakan. 

“Saya cuci muka saja, Bu,” kata Tata pada ibu yang setia menatapnya.

“Oh, iya mbak. Kalau butuh minyak kayu putih atau minyak telon bilang ya, Ibu punya,” kata Ibu itu, lalu meninggalkan Tata.

Tata, kamu pembawa sial.

Perempuan itu mencuci mukanya di wastafel depan cermin. Menatap wajahnya sekali lagi. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan orang lain dan Angga. Ikatan rambutnya diperbaiki.

Oke, Tata. Kamu cuma harus tersenyum. Iya. Kamu harus tetap senyum, jangan sampai orang lain tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja. Tidak baik merepotkan orang lain dengan masalahmu. Itu egois.’

‘Dan kamu tahu? Semua orang benci orang yang egois.’ 

TAMAT


SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Pikiran yang Mengganggu oleh Tanaya

 Pikiran yang Mengganggu

Sebuah puisi oleh Tanaya

 

Nuraga

Mentari belum menyingsing ufuk

Dua bintang jatuh nampak padaku

Satu saja harapku

Semoga aku selalu bersamamu 

 

Asmaraloka

Bersamamu sejuta kenangan tercipta

Pelukan dan tangan yang hangat

Mencengkeram erat kuat

Mencipta suasana penuh cinta 

 

Klandestin

Dalam diam kita memadu kasih 

Dalam keheningan kita saling bermanja

Dalam sepi kita berbagi rasa 

Dalam bayangan cinta kiarunikas

 

Arunika

Ketika fajar menyingsing

Dunia mulai bangun

Fana yang mulai bekerja 

Kita menjadi manusia yang terlihat tanpa cinta

Cinta yang disembunyikan karena arunika

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | JEJAK KOTA USANG oleh Intan Suci Novita Sari

 JEJAK KOTA USANG

Sebuah puisi oleh Intan Suci Novita Sari

 

Jejak kakiku tersimpan di sini

Bersamanya sang penakluk hati

Ditembak tajamnya tatapan mata pengojek sepeda

Diburu lenguh mobil kuning dan bus kota

Jalan kota kecil yang sesak kenangan

Dibelah arus satlantas yang kian sekarat

Dikepung gedung setengah megah dan tiang besi

Jalan PB Sudirman selalu saja rindu menyapaku

Didera gemuruh pedagang asongan

Dirimbun niaga dalam gelombang lalu lalang

Kursi putih mengukir masa laluku

Dibelai tawa pasangan muda yang sedang beradu rasa

Dan berujung rasa yang membekas luka

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | IBU oleh Nara

 IBU

Sebuah puisi oleh Nara


Anak terluka, Ibu mengobati

Anak buta, Ibu mengajari

Anak nakal, Ibu tetap mengasihi

Anak bahagia, Ibu tak minta berbagi

Anak kaya, Ibu tak menuntut diberi

Lalu, sudahkah anak menghormati?

Bisakah anak membanggakan hati?

Jaga dan sayangi sebelum semesta mengadili!

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Jejak Langkah oleh Niken Nila Dewi

Jejak Langkah

Sebuah cerpen oleh Niken Nila Dewi

 

Di sebuah desa kecil yang terletak di lereng pegunungan, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Aji. Aji adalah seorang anak yang cerdas dan penuh semangat. Ia selalu penasaran dengan dunia di sekitarnya dan sering berpetualang ke hutan yang berada dekat desanya. Suatu hari, Aji mendengar cerita dari neneknya tentang sebuah gua misterius yang tersembunyi di dalam hutan. Katanya, gua itu dipercaya memiliki kekuatan ajaib yang bisa memberikan kebahagiaan kepada siapa pun yang menemukannya. Aji tidak bisa menahan rasa penasaran dan memutuskan untuk mencari gua tersebut. Dengan membawa bekal dan peta yang digambar oleh neneknya, Aji memulai petualangannya ke dalam hutan. Ia melewati sungai yang deras, melewati jembatan bambu yang rapuh, dan berjalan melalui jalan setapak yang jarang dilalui. Aji tidak menyerah, meskipun perjalanan terasa berat dan melelahkan. Setelah berhari-hari berjalan, Aji akhirnya menemukan gua tersebut. Tapi, pintu gua itu terkunci dengan batu besar yang berat. Aji tidak kehilangan harapan. Ia mulai mencari cara untuk membuka pintu gua tersebut. Setelah beberapa saat mencoba, Aji menemukan kunci yang tersembunyi di balik semak-semak.

Dengan penuh kegembiraan, Aji membuka pintu gua dan memasukinya. Di dalam gua itu, terdapat cahaya yang terang benderang dan suasana yang damai. Aji melihat lantai gua dipenuhi dengan batu-batu berkilauan yang indah dan langit-langit gua dihiasi dengan stalaktit dan stalagmit yang spektakuler. Tapi yang paling mengejutkan adalah apa yang ada di tengah gua. Di situ terdapat sebuah patung malaikat kecil yang terbuat dari kristal. Aji merasa bahwa patung itu adalah hadiah dari gua tersebut sebagai simbol keberhasilannya menemukannya. Ia merasa begitu bahagia dan bersyukur. Aji membawa pulang patung malaikat kecil tersebut. Membagikan kisah petualangannya kepada keluarga dan teman-temannya di desa. Semua orang terinspirasi oleh keberanian dan ketekunan Aji. Desa tersebut menjadi terkenal karena gua misterius dan patung malaikat kecil yang ditemukan oleh Aji. Dari saat itu, Aji menjadi tokoh inspiratif di desa. Ia menjadi sumber motivasi bagi anak-anak lain untuk menjelajahi dunia di sekitar mereka. Aji belajar bahwa petualangan bukan hanya tentang menemukan sesuatu yang berharga, tetapi juga tentang proses dan jejak langkah yang ditinggalkan.

 

TAMAT


SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Pulang Yang Tertunda oleh Mariati

 Pulang Yang Tertunda

Sebuah puisi oleh Mariati     

 

Terkadang malam mengingatkanku pada rumah

orang-orang yang membuat hati rindu untuk pulang

sebenarnya aku sangat ingin,

hanya saja keadaan membuatku tidak bisa pulang

 

Mesin waktu Doraemon hanyalah sebuah rekayasa,

hanya hitungan waktu

tiket pesawat yang melonjak mahal 

menjadikan peraturan yang membuat pulangku tertunda

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Setangkai Mawar di Kue Pernikahanmu oleh Just Ancii

Setangkai Mawar di Kue Pernikahanmu

Sebuah puisi oleh Just Ancii

 

Setangkai mawar di puncak kue itu
Rangkaian Alba yang dulu kau janjikan akan ada di pucuk gaun impianku
Kini bahkan khayalan soal itu merapuh dan pecah
Menjadi butiran hiasan tabur di atas kue pernikahanmu

Malam ini menatap bulan terasa begitu jauh

Namun sejauhnya rembulan,
Dirimu yang berdiri di gerbang kehidupan baru itu
Terasa jauh lebih mustahil untuk kurengkuh

Perbincangan di hadapan ampas kopi
Candaan mengenai dunia yang gila atau kita
Sebelum sebulan kemudian
Layang putih bertorehkan namamu dan puteri surgawi mendarat di pintu rumahku
Lalu kusadari, rupanya kini aku yang gila

Lantas untuk apa tawa itu?
Untuk apa puja-pujimu atas diriku?
Kemudian untuk apa pandanganmu soal masa depan kita?
Jika kini,
Di masa depan itu
Hanya tinggal aku sendiri mengabadikanmu
Ditemani Alba putih yang layu
Serupa untaian bait-bait ini yang akan segera usai ditelan waktu

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Melepas oleh Halimatuz Zahro

 Melepas

Sebuah puisi oleh Halimatuz Zahro


Ketakutan ini berdentum keras di kepalaku

Seakan berusaha menyapu tekadku

Tetapi genggaman hampa membatu

Ledakan di dada menjadi pemacu

Hitungan mundur terucap

Dengan angin aku bersua

Bayangan kaca gedung, langit, serta pohon melewatiku secepat kilat

Tetapi ingatanku terasa lambat

Hal yang rutin seketika menjadi penting

Berputar mengikis sisa pedih yang kumiliki

Di saat euforia sibuk memanjakanku

Kusadari muka aspal telah di depan mataku

 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...