Tampilkan postingan dengan label Kontributor. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kontributor. Tampilkan semua postingan

Rabu, 20 April 2022

Pada Akhirnya Menjadi Kembali Semula I Muhyi Aditya Supratman

Pada Akhirnya Menjadi Kembali Semula

Muhyi Aditya Supratman


2 Maret 2020, ia hadir dalam kejutan yang mengejutkan. Menebar ketakutan. Menghasilkan keraguan. Menampilkan kegelisahan dan kecemasan. Hingga, pada hari ini Ia menjelma sebagai orientasi paling membingungkan. 

Kontestasi yang menghadirkan pertarungan dunia. Dalam perang – perang Argumentasi yang tersebar di sosial media. Memberikan riuh – riuh keributan atas asal usulnya. Saling berprasangka. Corona namanya. Asal dari negara Cina.

Sebagian orang menganggap kehadirannya adalah ilusi. Berpegang teguh dari banyaknya kontradiksi yang merepresentasikan diri. Diri yang berupa virus yang menghantui. Merenggangkan kehidupan selama ini. Tersekak – sekak oleh banyaknya kepentingan yang mendasari.

Disisi yang lain .... Dalam harap yang telah meruntuhkan logika. Terdapat kisah yang hadir untuk menatap sisa – sisa cerita. Sebelum negara api hadir sebagai bagian dari skenario sang pencipta. Ada manusia yang menyela tangis dalam duka. Di iringi tangis yang tak kunjung usai dan terus menumbuhkan lara. 

Raga – raga yang tak berdosa. Tahapan yang melelahkan raga dan jiwa. Memberikan kicauan yang saling bertentangan. Terdapat cerita – cerita heroik serta melelahkan. Ujung cerita yang menebarkan kebaikan terhadap dunia. Agama dalam proses paling bahagia bagi seorang hamba. Memberikan kabar gembira. Menentukan langkah dari setiap untaian doa yang dipanjatkan kepadanya. Pandemi yang harus segera diusahakan dalam cara – cara bersama. Menghadirkan ruang negoisasi, merepresentasi ruang demokrasi. 

Cahaya datang dan pencegahan di hadirkan untuk menghilangkan luka dalam dada. Selepas hati yang di porak – porandakan oleh semesta. Ada keajaiban yang di tayangkan oleh sang ilahi sebagai bagian dari banyaknya hati yang meminta. Menginginkan keadaan seperti sedia kala. Kembali menjadi semula. Memupuk harap yang kembali pada pertemuan secara tatap muka. Kita semua telah berusaha untuk menghindarinya. 

Terpaut banyak yang telah diserangnya. Menyeka luka yang menghadirkan duka yang sempat di bicarakan dalam hati melalui doa – doa. Upaya yang berakhir menjadi sisa – sisa ceria dan menyayat hati ketika ketidaktepatan tindakan yang di hadirkan para petugas yang bekerja dalam institusi negara. Merelakan mata pencaharian yang tersekat oleh aturan yang mengada dan berada. Bantuan yang dibinasakan demi kepercayaan diri yang tiada tara dan menyeruak ke permukaan setelah terdapat rasa ketidakadilan yang dirasa. Menggiring skenario cerita di semesta yang telah runtuh dan terbuang menjadi sisa – sisa harapan untuk terus di upayakan dalam usaha bersama. 

Pernah terbesit untuk mendapatkan kisah – kisah yang maha sempurna. Kembali pada tatanan semula. Menghiasi sang surya dengan tertawa seperti biasa. Bertatap muka dan saling bergandengan tangan tanpa ada sekak – sekak diantara kita. Harap yang berujung pada penantian dan kepastian yang menuju titik keabadian yang telah dan ingin di usahakan dengan segala cara. 

Para ahli di bidangnya masing – masing terus berusaha. Dengan segala upaya dan terobosan yang menghantarkan cerita yang baik di hari depan. Menemukan cara untuk cerita kisah pahlawan yang telah menyelamatkan ribuan manusia dengan nyawanya. Percobaan demi percobaan di kombinasikan dalam cara – cara kebenaran yang menorehkan pencapaian. Berujung pada penemuan – penemuan yang menjadi keajaiban dunia. Kemudian, menjadi penyelamat dari populasi manusia yang telah di serang oleh wabah yang ada. Itulah yang disebut sebagai vaksin AstraZeneca. Pencapaian dari seorang wanita.

Kita, manusia diminta untuk berusaha sembari berdoa untuk menghapus lara yang telah menorehkan kesedihan. Mengukir dan melukis harap harap kepastian dari vaksin yang disediakan. Mengajak dan diajak untuk mencapai kekebalan komunal yang nantinya akan memiliki keterkaitan dengan pelepasan situasi dan keadaan. Kepastian untuk di hilangkan dari kesedihan yang mendera. Memperoleh cara untuk terbebas dan membebaskan masing – masing dari kita. 

Segala realita yang saling menimbun dalam ingatan di ruang – ruang bersama. Menduga – duga untuk mencari celah dalam setiap tindakan yang di hantarkan pada sang semesta. Aturan – aturan yang telah dihaturkan oleh otoritas setempat. Memberikan pedoman baru untuk melakukan segala hal tentang hidup. Hingga, kita di tunjukkan atas keajaiban yang tak pernah terfikirkan sebelumnya.

Skenario tuhan akan datangnya wabah dan penyakit tidak pernah di ketahui. Manusia sering mengabaikan dan terus berusaha untuk mendambakan ilmu pengetahuan dan kebenaran yang ilahi. Melupakan bahwa itu semua adalah hal – hal yang diciptakan oleh sang maha agung. Sang maha pengubah dengan skenario yang sedang berlangsung. Memberikan pemahaman akan sosok keabadian. 

Meninggalkan tindakan – tindakan yang dijumpai sebagai perilaku yang telah mengingkari. Bulan dan tahun dengan serangkaian garis waktu yang menorehkan pilu. Memberi pada manusia untuk berfikir akan hebatnya hal itu. Menjadikan bumi sedang tidak baik – baik saja akan kisah sedih yang membuat gaduh seisinya. Segala ritual dan kepercayaan di upayakan untuk meningkatkan ketakwaan pada masa – masa tertentu. Bahkan, kini situasi semakin membaik ketika perilaku bertemu dengan hasil paling dinanti oleh masanya. 

Masalah silih berganti menjadi baru. Semerbak dengan segala upaya yang hendak diselesaikan. Mengharumkan kisah – kisah yang berakhir dalam setiap detik waktu. Menghasilkan titik kesepakatan untuk kebaikan bersama. Segala rasa yang ada telah menimba pengalaman yang cukup pelik. Mendambakan hal – hal baik. Meruntuhkan ego – ego yang sedang membawa manusia kepada rasa terburuk. Menumbuhkan segala sesuatu yang dijaga dalam sanubari tubuh. Diiringi sang maha pengubah dengan kebesaran yang tak pernah terduga. Pada sosok paling yang tak pernah kita lihat. Ada rasa yang membuat kita percaya akan kebesarannya pada dunia dan ujung cerita.  

Senin, 11 April 2022

Resensi Garis Waktu

 

Identitas Buku

Judul               : Garis Waktu, Sebuah Perjalanan Menghapus Luka

Penulis             : Fiersa Besari

Tebal               : iv +212 hlm

Penerbit           : Mediakita

Tahun Terbit    : 2017

Cetakan           : ke- 11

ISBN               : 978-979-794-525-1

 

Biografi Pengarang

Fiersa Besari atau yang akrab disapa ‘Bung’ ini, lahir di Bandung 03 Maret 1984 adalah penulis dan pemusik Indonesia. Berkat karya-karyanya, nama Fiersa saat ini sangat populer di kalangan anak muda.Ia merupakan lulusan dari STBA Yapari-ABA Bandung, dengan gelar Sarjana Bahasa Inggris yang di akhir semesternya mulai mencintai Sastra Indonesia. Sebelum mengawali kariernya di dunia hiburan, Fiersa sempat bekerja di sebuah kantor. Namun, bertahan beberapa bulan saja. Hal ini disebabkan karena ia merasa tidak nyaman dengan pekerjaan yang dilakukan dan akhirnya beralih ke dunia musik dan Sastra Indonesia.

    Selain menulis buku, ia juga merupakan seorang musisi. Fiersa telah merilis 3 album yaitu 11:11, Tempat Aku Pulang, dan Konspirasi Alam Semesta. Ketiga album yang telah ia rilis juga kerap dijadikan playlist wajib yang harus ada di beberapa radio hingga acara musik.

Kegemarannya dalam menulis serta menciptakan lagu dengan gaya sastra yang indah, tak banyak orang tahu bahwa bung fiersa ini adalah seorang pendiri komunitas pencinta buku. Komunitas yang ia dirikan diberi nama ‘Pecandu Buku’. Bergerak di bidang literasi yang nantinya bertujuan untuk menyebarkan virus membaca kepada para anggotanya. Hal positif yang didapatkan oleh anggota komunitas ini selain kegemaran dalam membaca, mereka juga sering membuat ulasan buku yang telah mereka baca dan mengunggahnya ke dalam media sosial.

Hal unik lain yang melekat pada penulis ini adalah seseorang yang menggemari sesuatu berbau petualangan yang telah membawanya ke titik penemuan dalam dirinya dan dengan berpetualang ia mendapatkan banyak inspirasi untuk menulis karya-karyanya.

 

Isi Resensi

a)      Sinopsis

    Novel “GARIS WAKTU” karya Fiersa Besari ini menceritakan curahan hati tentang perjumpaan, kasmaran, patah hati, serta keikhlasan dalam melepaskan, kemudian berakhir dengan kenangan. Tokoh ‘Aku’ menguraikan perasaan-perasaannya pada ‘Kau’ dalam bentuk surat dari April tahun pertama hingga Maret tahun kelima. Dari awal berjumpa dan saling tatap hingga tak lagi saling menetap.

    Selain berkisah tentang ‘Aku’, ‘Kamu’, dan ‘Dia’, pada buku ini juga terselip kisah tentang keluarga, cita-cita, dan harapan hingga perenungan akan kematian. Pesan yang disampaikan dapat menyentuh hati pembaca. Terlebih pada bab Akar (Oktober, tahun kedua) mengisahkan tentang kerinduan tokoh ‘Aku’ kepada orang tuanya, terutama sosok Ibunya.

b)      Unsur Intrinsik

-       Tema

    Novel ini mengusung tema tentang “perjalanan menghapus luka”.

-       Latar

    Dalam novel ‘Garis Waktu’ ini memiliki latar tempat di Malang. Sedangkan latar waktunya pada tahun 1485.

-       Tokoh dan Penokohan

a. Aku, tokoh utama dalam novel yang memiliki sifat egois, jujur, munafik, tangguh, angkuh, gengsi, dan ikhlas.

b. Kau, merupakan tokoh tambahan. Sosok wanita yang dicintai oleh ‘Aku’, yang sudah merubah dunia ‘Aku’, kemudian memberi harapan lalu pergi meninggalkannya dan memilih untuk menikah dengan orang lain. Memiliki sifat gengsi, munafik, dan egois.

c. Ibu, tokoh tambahan yang selalu mendoakan yang terbaik untuk anak-anaknya. Memiliki sifat penyayang dan rela berkorban.

d. Bapak, tokoh yang selalu berjuang sekuat tenaga agar mampu menyekolahkan tinggi anak-anaknya. Sifatnya rela berkorban dan pekerja keras.

e. Sahabat, tokoh yang selalu memberi motivasi kepada ‘Aku’, yang selalu ada dalam keadaan senang maupun susah. Memiliki sifat yang setia kawan.

-       Alur

    Novel ini memiliki alur maju.

-       Gaya bahasa

    Gaya bahasa yang digunakan pada novel ini sangat sempurna. Cara penulisannya yang menarik dalam penyajian gaya sastra yang terkadang harus dibaca 1-2 kali, namun tetap mudah dimengerti dan memiliki arti yang sangat mendalam bagi para pembacanya.

-       Sudut pandang

    Sudut pandang novel ini yaitu “orang pertama (aku)” dimana tokoh Aku dalam novel tersebut memposisikan dirinya.

-       Amanat

    Novel ini tak hanya memberikan pesan-pesan tentang percintaan, tetapi juga pesan untuk menjadi diri sendiri, untuk mampu menikmati hidup dan meluangkan waktu melakukan hal yang kita suka karena hidup hanya sekali, tidak tenggelam dalam kepopuleran, tidak membalas kebencian dan tidak larut dalam dendam.

c)      Unsur Ekstrinsik

-       Nilai moral

    Mengajarkan untuk lebih mencintai diri sendiri, serta tidak boleh dendam terhadap orang yang telah menyakiti perasaan kita.

-       Nilai sosial

    Dibuktikan dari rasa setia kawan yang begitu tinggi antara Sahabatnya kepada sosok ‘Aku’ disaat ia sedang merasakan susah maupun senang.

 

 

Seperti judulnya buku ini menceritakan sebuah garis waktu proses bagaimana menghapus sebuah luka yang mendalam. Buku ini merupakan sebuah rangkuman tulisan sang penulis yang selama 2012-2016 aktif menulis di beberapa sosial media. Buku ini merupakan representasi peristiwa penting penulis yang mengajarkan kita tentang mencintai dan keikhlasan.

Jika melihat covernya buku ini cukup menarik, kalau menurutku covernya elegan. Buku ini menceritakan kisah asmara dari perkenalan, jatuh cinta, hingga perpisahan. Disini kita akan tahu  sudut pandang sesorang yang mencintai perempuan yang telah memiliki kekasih. Bagaimana mencoba tersenyum dengan keadaan sampai akhirnya situasi berpihak. Perjuangan untuk mencintai dan meyakinkan walaupun pada akhirnya harus diakhiri dengan perpisahan. Buku ini mengajarkan bahwa cinta tak harus memiliki.

Yang saya suka dari buku ini adalah bahasanya yang sangat mudah dimengerti walau kadang menggunakan majas-majas tertentu, dan juga pembahasan yang tidak semua tentang kisah asmaranya. Buku ini berbeda dari yang lainnya, karena tidak ada dialog dalam buku ini semuanya berbentuk narasi, walaupun demikian aku tak merasa bosan ketika membacanya. Ada satu bagian yang sangat aku suka dari buku ini yaitu pada bagian “Tak perlu meminta mereka untuk mengerti”, kata-kata yang membekas banget yaitu tak perlu kekinian karena yang kekinian akan alay pada waktunya. Buku ini layak untuk dibaca bagi mereka yang sedang menyimpan rasa bagi seseorang begitu juga bagi mereka yang sedang berusaha move on

 

Kelebihan dan Kekurangan

a)     Kelebihan

Novel ini membuat para pembacanya jatuh cinta dengan kata-katanya yang sangat menarik. Bung Fiersa amat pandai mengaduk-aduk perasaan pembaca lewat kalimat-kalimat yang diuntainya. Kalimat-kalimat yang ditulisnya terasa hidup dan sangat mewakili seseorang baik yang sedang jatuh cinta, galau, patah hati, merasa tersakiti karena dikhianati, serta mampu bangkit dari hal-hal pahit yang menimpanya. Selain itu, novel ini tak hanya memberikan pesan-pesan tentang percintaan, tetapi juga pesan untuk menjadi diri sendiri, untuk mampu menikmati hidup dan meluangkan waktu melakukan hal yang kita suka karena hidup hanya sekali, tidak tenggelam dalam kepopuleran, tidak membalas kebencian dan tidak larut dalam dendam.

b)    Kekurangan

Kekurangan yang ada pada novel ini terletak pada alur yang diambilnya,yakni alur maju.Sehingga tak jarang pembaca yang bosan saat membacanya. Serta terdapat beberapa kata yang butuh pemahaman tinggi.

 

Kesimpulan

Novel ini lebih di utamakan untuk kalangan remaja. Penulis dapat dikatakan memiliki kemampuan mengolah kata sehingga memesona yang membacanya.

Senin, 03 Januari 2022

Manyura Krishna | Lintang Safitri


 "Manyura Krishna"

Cat Poster di atas Triplek

Lintang Safitri

Tak Sepantasnya Perbedaan itu Membuat Kita Runtuh | Lintang Safitri

 Tak Sepantasnya Perbedaan Itu Membuat Kita Runtuh

Muhyi Aditya Supratman

Aku yang telah menghadirkan ruang indah itu didadamu. Menanamkan kisah yang terukir dalam arti perjanjian yang telah kita sepakati bersama. Selama ini kita telah seksama untuk mengukir hubungan. Pada akhirnya kamu tetap pergi namun tak ingin melukai. Semestinya aku tahu itu ketika kamu menyadari bukan aku yang kamu inginkan. Bukan aku yang ingin kamu temani. Hingga aku lelah dengan sikapmu yang menankam kata yang penuh harapan dan menenggelamkan.

Aku tak pernah tahu apa yang sedang kamu rencanakan saat kita bersama. Kita telah melalui harapan yang benar – benar pasti. Sedemikian percayanya aku kepadamu akan menuju titik abadi. Sayangnya kamu telah mengakhiri. Kita sama – sama memiliki pemahaman dan fikiran yang mandiri. Mengapa kita berhenti sejak perbedaan hadir dalam hidup ini ?. kita tidak dapat menjalin hubungan jika perbedaan menjadi halang dan rintang. Kamu menemukan jalanmu. Dan aku bersama yang lain. ketika salah satu menggenggam dengan erat. Genggaman itu akan terlepas ketika perbedaan menjadi permasalahan sepanjang hari.

Akan ada orang – orang yang berusaha untuk memulihkan itu, namun belum tentu akan seperti sedia kala. Kita tidak bisa benar – benar menghilangkan ingatan manis itu di dada. Ia akan tetap ada walau kamu berusaha menghilangkan itu. karena memang selayaknya ia hadir dalam hidup bukan hanya menjadi kenangan, melainkan menjadikan ia sebagai pelajaran berharga. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi, sebab aku tak lagi diingi. Memberikan hal yang semacam itu mungkin lebih baik.

Jika memang benar kita tidak bisa ditakdirkan untuk bersama, maka izinkan aku untuk menemanimu sebagai seseorang yang hadir sebelum orang baru itu datang. Seketika orang itu telah datang, aku akan menghilang. Walau luka – luka itu menyesakkan dada. Bagaimana pun juga aku pernah hadir dalam hidup ini. Hadir untuk bersedia denganmu. Dan memilihmu sebagai pasangan. Perbedaan telah memberikan jalan – jalan yang tak lagi sama. Dan pada akhirnya kita memilih untuk berhenti.

Berawal dari jalan yang begitu manis telah membuatku hadir dalam kenangan yang tak kunjung usai. Rasa sesal itu menjelma bagaikan hari – hari penuh penantian. Aku menggenggamu secara erat, dan kamu memandangku secara cepat. Aku tidak menghiraukanmu sebagai salah seorang yang hadir dalam pelukan. Hingga aku tak lagi menyadari kisah ini yang telah berakhir. Didalam fikiran ku hanya satu. Aku hanya ingin kamu.

Namun sayangnya kamu bukan lagi yang pernah kukenal dulu. Kita hanya dipertemukan oleh sekejapnya waktu. Usaha yang telah dilalui itu tidak benar – benar kamu usahakan. Hingga kita tidak dapat lagi dipersatukan. Kamu yang menginginkan hal ini sekedar hadir lalu pergi menemui ia yang kamu anggap sebagai seseorang yang dapat merubah semua yang telah kamu jalani bersamaku. Lalu ketika hal itu tidak dapat kamu harapkan, kamu kembali untuk merangkai cerita lama. Sedangkan aku telah benar – benar menghilangkan kamu untuk selamanya. Sebab setelahnya pelangi tak akan pernah hadir ketika hujan itu tak pernah hadir dalam suatu keadaan.

Perbedaan bukan menjadi halangan dalam sebuah hubungan. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi didepan. Yang kita ketahui hanya satu. Kita yang telah berakhir menyatu.

09 – 10 November 2021

Muhyi Aditya

[Poster] Tarik Ulur Uang Rakyat | Lintang Safitri

\

"Tarik Ulur Uang Rakyat" 

Picsart

- Lintang Safitri -


 

Sebuah Perjalanan Panjang dengan Kepastian yang Tertunda | Muhyi Aditya Supratman

 Sebuah Perjalanan Panjang dengan Kepastian yang  Tertunda

Muhyi Aditya Supratman

        Mencobalah mendengarkan dalam peliknya kenyataan agar kamu dapat memahaminya. Bukan hanya untuk melihat hal – hal yang membuatmu berbahagia. Bukan hanya mendapatkan hasil yang dapat kamu terapkan begitu saja. Ketika kamu tidak dapat melakukan hal yang sama, biarkan orang lain untuk mengungkapkan segala cerita dalam dada. Bukannya semestinya setiap orang diharuskan untuk mendengarkan jika ingin memiliki pemahaman ?. Lantas ketika perkataan itu tidak dapat lagi kamu dengarkan. Apa yang harus dilakukan ?. Termasuk ketika kenyataan yang menyulitkan itu kamu ungkapkan kepada dia untuk selalu menunggu sebagai pasangan.

        Suatu hubungan memang harus bertujuan dalam keseriusan. Namun, menciptakan keseriusan tersebut membutuhkan usaha dalam kenyataan. Jika kedatangan mu bersamanya dalam sebutan pasangan, artinya kamu dan dia memilih jalan yang berkaitan. Jika salah satu telah menumbangkan, tak seharusnya kamu harus berkorban dan mengusahakan. Hidupmu adalah pilihan atas tindakan. Bukan aturan yang harus kamu paksakan dalam proses pendewasaan.

    Dalam kehidupan kadang kala terdapat orang – orang yang menumbuhkan rasa lalu menghilang. Kamu mengutuk diri atas penyesalan. kehidupan yang tak tersampaikan. Merelakan memang tak cukup dari sebuah perkataan. Kamu tahu hal itu adalah rasa terberat dalam ruang kehampaan. Aku tak ingin berkubang dalam kegelapannya malam – malam yang gemintang. Senja – senja yang membenamkan harapan. Tanpa kamu tahu hati yang telah di luluhlantakkan. Ketika dia jatuh, kamu mengangkatnya dengan sebuah kehormatan, lantas kenapa kehidupan membalikkan ?. ketika kamu mengutarakan keseriusan kenapa dia memberi ruang untuk meninggalkan ?.

        Kesepakatan yang telah lama terjalin meninggalkan lara – lara yang begitu dalam. Kamu yang berusaha semaksimal tenaga, tergantikan oleh orang lain yang berkuasa. Dia yang meninggalkan atas ungkapan yang dikatakan ketika itu, mengharapkan orang lain untuk memberikan ruang kegembiraan dalam gelapnya kehidupan.

Jika suatu hari nanti kamu membutuhkanku lagi untuk menaungi harimu, simpanlah hal itu dalam – dalam. Tidak semua kenyataan akan membalikkan keadaan. Tidak semua penundaan akan berakhir menyisakan duka dalam setiap tangisan

27 Oktober 2021

Ketika Dia telah Mengakhiri, Kamu Harus Pergi | Muhyi Aditya Supratman

 Ketika Dia telah Mengakhiri, Kamu Harus Pergi

Muhyi Aditya Supratman

Bagaimana mungkin kita akan memiliki tujuan jika kita tidak saling paham. Bukankah semestinya pemahaman adalah sebuah jalan menuju keabadian dalam titik nadi kehidupan ?. Bagaimana kita akan mencapai sebuah impian ketika jalan kita mengalami perbedaan. Kadang, kita tidak membutuhkan orang yang memiliki kegiatan yang sama dengan kita, kita hanya butuh orang yang memahami dunia kita. Dunia yang tak sama dengan apa yang ia jalani, dan semestinya perbedaan bukan menjadi halang dan rintang. Sebuah pelangi membutuhkan ketujuh warna untuk terlihat indah. Lantas mengapa perbedaan itu telah membuat kita menjadi runtuh.

Hujan – hujan yang mengindahkan jalan yang dirangkai dalam perbedaan bukanlah sebuah permasalahan ketika satu diantaranya memilih membicarakan secara perlahan. Langkah – langkah yang telah memberikan perjalanan panjang perlu ditinjau ulang ketika ketidakpercayaan mulai timbul dalam dada seseorang. Keadaan yang membuat itu telah mendorong dalam rentangan perbincangan yang menyesakkan. Kamu tau ketika seseorang tidak lagi ingin kamu temani. Maka biarkan dia pergi untuk menemui pengganti, sebab adanya kamu dalam dirinya bukanlah perasaan yang sungguh – sungguh dia yakini.

Aku paham itu. rela tak semudah kata. Keadaan yang telah membuatnya enggan untuk kamu temui. Walau dia ingin menemui dalam sekejapnya keadaan yang ingin menjumpai. Ketika kamu telah memilih sendiri, dia datang kembali. Kamu meresponnya dengan biasa saja, dia mengharapkanmu luar biasa. Lantas ketika suatu hubungan telah berhenti dan tersudahi, kamu kembali untuk menemui cerita yang telah usai. Kamu memohon untuk merangkai kembali. Salahkah diriku untuk mengakhiri ?. sebab aku telah berusaha untuk berkali – kali namun kamu tidak menghiraukan sekali lagi. Bagaimana kita memulai kembali suatu hubungan yang telah retak, jika kamu saja tidak pernah mengungkap.

 

Rasa itu kini telah berakhir dalam rentetan cerita yang usai. Kenangan yang menghadirkanmu dalam kesunyian. Menyelesaikannya dalam sebuah hubungan. Akankah rasa itu tetap ada walau kamu memilih pergi dan tiada ?. aku sedikitpun tidak pernah menyesali itu sebagai keadaan yang telah memberikan luka. kamu datang ketika aku tidak lagi  mendapatkan seseorang itu. kamu hadir mengisi ruang kehampaan itu. ketika ruang itu telah kamu isi. Kamu meninggalkan dan pergi begitu saja. Setelah sekian lama kamu pergi, kamu ingin menemui kehidupan ku yang telah terisi. Walau ada rasa risih. Aku tetap dengan manisnya muka menampilkan itu kepadamu. Agar seolah kamu meyakini aku tetap yang yang kamu pahami.

Ketika seseorang telah meninggalkan, kamu tak boleh menerimanya kembali, walau dia berjanji mengasihi, namun itu hanya ilusi.

Sebuah catatan dari seorang perempuan yang bercerita mengenai seorang pasangan yang telah pergi meninggalkan dan menemui kembali untuk menjalin sebuah hubungan 

Duka yang Mendera | Muhyi Aditya Supratman

 

Duka  yang Mendera

Muhyi Aditya Supratman


KAMU DENGAN EGOMU, AKU DENGAN PEMIKIRANKU. BAGAIMANA PERASAAN INI AKAN BERSATU JIKA KAMU DAN AKU TIDAK DAPAT

DIPADUKAN ?

 

kamu mengukir hubungan yang telah terjalin begitu lama dengan dia. Terbang tinggi dalam setiap tetes air mata yang tak dapat disangkal. Namun apakah kenyataan akan membaik jika kamu menangis ?. Mungkin sedikit lebih melegakan diantara sakit yang dirasakan. Kamu hanya membekas diantara kenangan yang menyesakkan dada. Mendera luka yang masih belum sepenuhnya terucap. Yang pada kenyataannya kamu harus tetap hidup dan memendamkan lara.

Semestinya kamu tahu jika suatu hubungan harus saling mempercayakan satu diantara yang lain. kebebasan tak seharusnya dikekang dalam setiap ucapan. Mengapa kamu tetap memilih ketika dia tidak lagi memilihmu ?. suatu hubungan yang terjadi adalah saling. Bukan yang paling. Ketika kamu tidak dapat menyaksikan dia berbahagia dengan mu, seharusnya kamu memilih untuk pergi dalam segala kenyataan yang menyesakkan. Ketika kamu tahu dia tidak membebaskanmu dalam setiap hari, kamu harus faham bahwa suatu hubungan adalah tentang kedewasaaan. Bukan saling mencurigakan satu sama lainnya.

Lantas ketika hubungan itu telah begitu dalam, apakah salah satu harus menghancurkan itu ?. Lantas apakah satu diantaranya harus mengalah ?. Lantas ketika salah satu diantara dua orang tersebut telah mengalah, akankah dia dengan egonya dapat berubah ?. Tidak ada yang tahu hal itu, ketika dia dengan egonya tidak dapat kamu ubah, akan ada saatnya dia untuk menyadarinya, ada saatnya dia akan perlahan untuk mengubah sikap dan sifatnya. Seorang wanita memiliki rasa untuk sayang kepada pasangannya, namun ketika perasaan sayang itu telah melebihi batas kewajaran dalam pemikiran. Apakah kamu tetap menahan dan bersedia berbahagia ?. Beberapa kenyataan mungkin sebaliknya. Atau mungkin akan berbalik sangka.


Aku mengerti hal itu, suatu pasangan memang kadang begitu, rasa sayang kadang menjelma bagaikan kecurigaan tanpa logika. Rasa sayang kadang menjelma bagaikan duri duri yang menusuk dada. Tidak akan menusukmu secara langsung, namun mematahkan pemikiran positifmu tentang dia. Hal itu wajar jika dalam batasan yang dapat kamu tangani, namun ketika dia dengan egonya telah menginginkan untuk selalu ada saat kamu berkegiatan, akankah kamu tahan dengan sikapnya yang menginkanmu dalam setiap waktu ?. Bukankah setiap pasangan memiliki caranya masing – masing untuk memilih jalan bersama. Lantas ketika dia dengan sikapnya untuk memintamu untuk bersamanya setiap waktu, apakah kamu tidak berfikir untuk melakukan kegiatan dengan segala rutinitas harianmu ?.

Semua yang telah dilakukan ketika bersamanya hancur bagaikan deburan ombak yang melenyapkan harapan diantara masa – masa yang telah di jalani. Diantara malam malam yang gemintang. Diantara jalan yang mengindahkan harapan. Namun semua itu tak ada artinya lagi untuk mu. Kamu tetap dengan memilih ragu kemudian hancur dan melebur. Pada kenyataannya hubungan yang telah dijalani yang entah kapan akan memilih titik perpaduannya kembali pada titik senyatanya. Mungkin, ini adalah jalan kebaikan diantara insan yang tak ingin kembali memupuk asih. Tak ingin kembali untuk memadu kasih. Dan, setelah nya berakhir belas kasih.

Apakah perasaan ini akan tetap sama walau kamu tidak lagi bersedia ?.

Aku tidak pernah ingin tahu itu, yang kuingini adalah lembaran baru tanpa kamu.

Perasaan Yang Menjadi Lara

 

19 20 Oktober 2021

 

Muhyi Aditya

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...