Minggu, 15 Desember 2024

SEKAR Edisi September 2024 | Gunung, Sang Penjaga Langit Karya Efendi Sulistiyo Utomo

Gunung, Sang Penjaga Langit

Efendi Sulistiyo Utomo


Di ufuk Timur kau berdiri megah, 

Berselimut kabut di pagi yang ramah. 

Puncakmu menusuk birunya langit, 

Seakan menyapa awan yang melintas ringkih.


Hijau rindang membalut tubuhmu, 

Hutan dan lembah menyimpan rahasiamu. 

Suara gemericik sungai nan jernih, 

Melodi alam yang damai dan lirih.


Kau saksi bisu jejak langkah manusia, 

Yang datang mencari makna dan cita. 

Di setiap jalur yang curam berliku, 

Ada harapan yang hidup kembali di situ.


Namun kau juga pemarah yang garang, 

Murka datang dengan lahar membentang. 

Tapi itu caramu menjaga keseimbangan, 

Pelajaran sunyi untuk peradaban.


Gunung, engkau pelipur hati yang terluka, 

Penjaga bumi di hamparan semesta. 

Dalam keheninganmu aku temukan, 

Keabadian hidup dan harapan tak terbandingkan.

SEKAR Edisi September 2024 | “Di Balik Bayang Kursi Pemimpin” Karya Tera

 “Di Balik Bayang Kursi Pemimpin”

karya Tera


Di balik kursi tinggi, tak selalu tampak

Beban berat yang terdiam tanpa cakap

Sebuah kesalahan kecil, bagai awan gelap

Hujan kritik jatuh, tak henti menyergap


Namun saat keberhasilan singgah sebentar

Hening, sepi, bagai malam tanpa bintang berpendar

Jarang ada pujian, kata manis tersirat

Padahal di dalam, hati meradang hangat


Apakah kursi ini kutuk atau anugerah?

Ketika kerja keras terpendam dalam bara amarah

Di mana rasa terima kasih tersembunyi?

Ditelan sunyi, terlupakan dalam jejak hari


Atasan, mereka bilang, tak boleh salah

Namun siapa yang tahu pedih di balik senyumnya yang pasrah?

Dalam setiap prestasi yang jarang dipuji

Ada hati yang menunggu, berharap dihargai.

SEKAR Edisi September 2024 | Nyala di Jalan Kelam Karya Anggi Indriyani

Nyala di Jalan Kelam

karya Anggi Indriyani



Dalam kabut pagi yang menyimpan gelisah,

Ia melangkah—tanpa bayang, tanpa kisah.

Angin menghempas, mengejek sinarnya,

Tapi ia tegar, merajut asa di atas luka.


“Takkan mampu,” kata dunia dengan tawa,

Namun langkahnya bagai hujan yang tak reda.

Cacian jadi debu, terbang entah ke mana,

Hanya jadi saksi bisu, tergerus oleh nyata.


Setiap duri di jalan, ia susun jadi tangga,

Air mata jatuh, menyirami mimpi yang meronta.

Kuatkan diri dari tiap sengatan nista,

Menjadikan luka karang tempat harapan bertahta.


Kini ia berdiri, fajar tersenyum padanya,

Menghancurkan bayang kelam yang dulu mengepung jiwa.

Setiap jejak menantang, tak pernah goyah,

Ia, pemecah badai, menaklukkan gelap yang pudar

Selasa, 19 November 2024

LITERAFILM: HOME SWEET LOAN (2024)


 LITERAFILM: HOME SWEET LOAN (2024)

    LITERAFILM (Literasi Terdepan, Rasakan Asyiknya Film) sebagai bagian dari program kerja RUAS (Ruang Ulas) divisi KPL baru saja terlaksana tepatnya pada hari Minggu, 29 September 2024 kemarin. Kegiatan ini dilakukan dengan berkolaborasi bersama BLT yang merupakan proker dari divisi HRD. Kali ini,  LITERAFILM membahas film yang berjudul Home Sweet Loan, film terbaru yang tayang di bioskop seluruh Indonesia pada 26 September 2024 lalu.

Home Sweet Loan sendiri merupakan film adaptasi novel best-seller karya Almira Bastari berjudul sama yang terbit pada tahun 2022 lalu. Novel ini kemudian diangkat ke layar lebar yang digarap oleh sutradara Sabrina Rochelle. 

TENTANG FILM

Sutradara           : Sabrina Rochelle
Rumah Produksi: Visinema Pictures
Durasi                : 112 menit
Genre                 : Drama Keluarga
Pemain            : Yunita Siregar, Derby Romero, Risty Tagor, Fita Anggriani Ilham, Ayushita, Ariyo Wahab, Wafda Saifan

SINOPSIS

    Home Sweet Loan berpusat pada Kaluna, bungsu dari tiga bersaudara yang tinggal bersama kedua orang tua dan kakak-kakaknya yang sudah berkeluarga. Hidup dengan keluarga besar dan kondisi rumah yang tidak ideal membuat kehidupan Kaluna seakan-akan terasa sempit, sesak, dan tidak memiliki tempat yang disebutnya rumah. Kaluna bercita-cita memiliki rumahnya sendiri dan ia pun bekerja keras untuk itu; menabung, membuat perencanaan keuangan serinci mungkin, dan hidup sesederhana mungkin agar tabungannya cepat terkumpul untuk membeli rumah impiannya tersebut. Disaat hati sudah yakin akan rumah yang ingin dimilikinya, realita kehidupan menamparnya dengan kondisi keluarganya yang menghadapi krisis ekonomi; membuat Kaluna berdiri di tengah-tengah pilihan antara impian atau keluarga. 

ULASAN-ULASAN DARI ANGGOTA SAHABAT PERPUSTAKAAN

    Home Sweet Loan berhasil menyajikan cerita yang akhirnya mengundang berbagai sudut pandang dari anggota Sahabat Perpustakaan yang telah menontonnya. Dalam diskusi usai pemutaran film, muncul berbagai opini yang menyoroti hal-hal sebagai berikut: 

Kesiapan Finansial Sebelum Menikah

    “Untukku film ini memberikan insight kalau pernikahan itu benar-benar butuh mentally and financially siap.” Ucap Kak Shefa dari divisi HRD. Anggota lain pun sepakat bahwa kondisi keluarga yang ditunjukkan oleh kakak-kakak Kaluna memperlihatkan bahwa kesiapan pasangan dalam membangun rumah tangga sangatlah dibutuhkan agar kemudian tidak berdampak pada keluarga lainnya, terutama orangtua.

Keluarga atau Diri Sendiri?

    Konflik utama film ini menyajikan dilema menarik—keluarga atau diri sendiri—yang mengundang dua pendapat berbeda dari para anggota SP. Banyak yang menyayangkan ketidakegoisan Kaluna untuk akhirnya mengalah demi kepentingan keluarganya. Mereka berpendapat bahwa sesekali mengatakan “tidak” sekalipun kepada keluarga demi kebahagiaan diri adalah hal yang sangat bisa dimaklumi. Namun, tidak sedikit juga yang mengatakan bahwa bagaimanapun keluarga adalah prioritas, terutama saat mereka membutuhkan kita. 

Literasi Keuangan dari Kaluna

    Adapun yang berpendapat bahwa cara Kaluna disiplin dengan pencatatan keuangannya adalah hal menarik untuk disoroti. Kaluna dengan cermat selalu memantau pengeluaran dan pemasukannya, menatanya dengan rapi di aplikasi Excel sehingga dia mengetahui progress atau sejauh mana yang sudah dikumpulkannya.  Hal ini merupakan kebiasaan positif dan bagian dari literasi keuangan yang bagus untuk diterapkan. 

Say no to pinjol

    Film ini cukup memberikan gambaran bahwa pinjaman online pada akhirnya tidak hanya membawa dampak buruk bagi yang melakukannya, tapi juga orang-orang disekitarnya. Kak Putri dari divisi Kominfo menekankan pesan moral ini “Jangan pinjol semelarat apapun hidup kalian.” 

Persahabatan 

    Rasanya akan sangat salah jika persahabatan tidak menjadi salah satu sorotan dalam film ini. Home Sweet Loan berhasil memperlihatkan persahabatan antara Kaluna dengan ketiga temannya: Danan, Tanish, dan Miya. Teman-teman Kaluna senantiasa menamaninya, terutama ketika Kaluna dalam misi mencari rumah impiannya. Setiap sahabat pun digambarkan memiliki "warnanya" sendiri, dengan keunikan masing-masing yang justru memperkaya hubungan dan menciptakan harmoni dalam persahabatan mereka. 

Romansa Kaluna dan Danan

    Meski bukan menjadi fokus utama dalam film, Kaluna dan Danan cukup membuat hati anggota SP yang menontonnya berbunga-bunga. Danan, yang muncul sebagai salah satu sahabat kaluna, seiring berjalannya film berhasil menjadi sosok yang benar-benar bisa diandalkan dan dijadikan sandaran. Rasa kagum dan respect pun terpancar dari wajah Danan melihat kerja keras Kaluna dan hasil yang telah diperolehnya dengan segala kesederhanaannya. 

Kelebihan & Kekurangan

    Poin-poin di atas dapat menjadi permulaan ketika membicarakan tentang kelebihan film ini—bagaimana Home Sweet Loan berhasil menyajikan berbagai pesan moral yang sangat relevan dengan kehidupan sekarang ini. Di samping itu, soundtrack yang mengiringi adegan-adegan tertentu juga menjadi nilai plus karena dirasa sangat mendukung suasana. Ada juga yang menyoroti tentang kemiripan secara fisik antara tokoh orangtua dan anak, sehingga casting yang pas menjadi salah satu kelebihan juga. Terakhir, tidak terbatas pada hal yang sentimental, Home Sweet Loan juga menghibur karena memberikan unsur komedi yang berhasil membuat penonton tertawa, membuat film tidak monoton. 

“Dari aku 7.5/10. Pembawaan pemeran berhasil mempermainkan emosi penonton, terutama marah dan sedih,” ucap Afifah dari divisi KPL.

Adapun ketika membahas kekurangan film, banyak yang sepakat bahwa ending cerita dirasa kurang pas, ada bagian yang belum terjawab dan tidak terlalu mendalam dalam penyelesaian konfliknya. Selain itu, terdapat unsur iklan yang sangat terasa dan dianggap mengganggu. 

Kesimpulan

    Diskusi tentang film Home Sweet Loan mengundang pandangan yang sangat beragam dan mendalam dari para anggota SP. Tidak hanya menyoroti Kaluna sebagai “sandwich generation,” tetapi isu-isu lain seperti kesiapan finansial dalam berumah tangga hingga bahaya pinjaman online juga mendapat perhatian.

Secara keseluruhan, film ini berhasil menghadirkan cerita yang realistis dan relevan dengan tantangan hidup masa kini, membuat anggota SP berpikir lebih jauh tentang keputusan-keputusan penting dalam hidup kedepannya. Terlepas dari kekurangan dari film, sebagian besar setuju bahwa kelebihan film ini menawarkan banyak pelajaran berharga yang bisa diaplikasikan dalam kehidupan nyata. Dari rating yang diberikan oleh setiap anggota SP yang menonton, Home Sweet Loan mendapat rating rata-rata 8/10.

Jumat, 13 September 2024

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Teknologi: Penggerak Revolusi Zaman Karya Nadinda Jelita Salsabilah

 

Teknologi: Penggerak Revolusi Zaman

Karya Nadinda Jelita Salsabilah

 

Dalam beberapa dekade terakhir, teknologi telah menjadi salah satu pilar utama yang mengubah cara manusia hidup, bekerja, dan berinteraksi. Dari internet yang menghubungkan dunia hingga kecerdasan buatan yang merevolusi industri, kecanggihan teknologi telah membuka peluang yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Namun, seiring dengan manfaat yang diberikan, kecanggihan teknologi juga menimbulkan tantangan dan pertanyaan etis yang harus kita jawab bersama.

Teknologi telah membawa perubahan signifikan dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Di bidang komunikasi, misalnya, perkembangan teknologi internet dan perangkat pintar telah menghilangkan batasan geografis. Informasi dapat diakses secara real-time, dan interaksi sosial tidak lagi terikat oleh jarak. Media sosial memungkinkan orang untuk berbagi pikiran, pengalaman, dan berita secara instan. Teknologi juga telah mengubah cara kita bekerja; konsep bekerja dari jarak jauh (remote working) menjadi mungkin berkat alat kolaborasi digital, memungkinkan efisiensi dan fleksibilitas yang lebih besar.

Di sektor industri, kecanggihan teknologi telah mendorong revolusi industri 4.0 yang ditandai dengan otomatisasi, data besar, dan kecerdasan buatan (AI). Robot dan mesin pintar kini dapat melakukan tugas yang sebelumnya membutuhkan keterampilan manusia, mulai dari produksi massal hingga analisis data kompleks. AI khususnya, telah memberikan kemampuan pada mesin untuk belajar dan beradaptasi, membuka jalan bagi inovasi di bidang kesehatan, keuangan, transportasi, dan banyak lagi. Teknologi medis, seperti pencitraan medis canggih dan telemedis, telah meningkatkan kemampuan diagnosis dan perawatan, memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup banyak orang.

Namun di balik segala manfaatnya, kecanggihan teknologi juga memunculkan tantangan yang harus dihadapi dengan bijak. Salah satunya adalah masalah privasi dan keamanan data. Di era digital ini, data pribadi menjadi komoditas yang sangat berharga dan ancaman terhadap privasi semakin meningkat. Serangan siber, pencurian identitas, dan penyalahgunaan data menjadi risiko yang harus dihadapi dan penting bagi perusahaan serta individu untuk mengembangkan sistem keamanan yang andal.

Selain itu, kemajuan teknologi juga menimbulkan pertanyaan etis yang kompleks. Penggunaan AI misalnya, menimbulkan kekhawatiran tentang pengangguran massal akibat otomatisasi, serta potensi bias dalam algoritma yang dapat memperparah ketidakadilan sosial. Ada juga perdebatan tentang penggunaan teknologi dalam pengawasan massal yang dapat mengancam kebebasan individu. Di bidang bioteknologi, pengembangan teknologi rekayasa genetika juga menghadirkan dilema etis terkait dengan manipulasi kehidupan. Kecanggihan teknologi juga membawa perubahan dalam pola pikir dan budaya masyarakat. Di satu sisi, teknologi telah menciptakan masyarakat yang lebih terhubung dan berpengetahuan luas, tetapi di sisi lain terdapat kekhawatiran tentang dampaknya terhadap kesehatan mental, seperti ketergantungan pada perangkat digital dan penyebaran informasi yang tidak akurat.

Di tengah segala dinamika ini, penting bagi kita untuk memandang teknologi sebagai alat yang harus digunakan dengan bijak dan bertanggung jawab. Pendidikan dan literasi digital menjadi kunci dalam mempersiapkan masyarakat untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang yang ditawarkan oleh teknologi. Pemerintah, akademisi, dan sektor swasta harus bekerja sama untuk merumuskan kebijakan yang memastikan bahwa teknologi digunakan untuk kebaikan bersama, tanpa mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan etika.

Pada akhirnya, kecanggihan teknologi adalah pisau bermata dua. Di satu sisi, ia memiliki potensi untuk mendorong kemajuan dan kesejahteraan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Di sisi lain, ia juga dapat menjadi sumber masalah baru jika tidak dikelola dengan benar. Oleh karena itu, kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan bahwa teknologi digunakan sebagai kekuatan positif yang mendukung perkembangan manusia dan lingkungan, bukan sebaliknya. Dengan cara ini, kita dapat mengarungi era kecanggihan teknologi dengan penuh optimisme dan kehati-hatian.

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Di Balik Gelombang: Pesan dari Dewi Laut Karya Farah Nabila Aina

 

Di Balik Gelombang: Pesan dari Dewi Laut

Karya Farah Nabila Aina

 

Di sebuah kota yang terletak di tepi lautan biru, di mana angin laut berhembus lembut dan riak ombak menari dengan lembut, terdapat sebuah kuil megah yang didedikasikan untuk Furina, dewi laut. Furina dikenal sebagai Focalors, dewi yang memerintah atas kekuatan dan keindahan lautan.

Furina adalah sosok yang anggun dan misterius. Dalam wujud dewi, dia memiliki kulit berwarna biru kehijauan, dengan mata yang bersinar seperti mutiara yang tersimpan dalam kedalaman laut. Rambutnya panjang dan berombak, seperti gelombang yang bergerak dengan lembut di permukaan air.

Legenda mengisahkan bahwa pada zaman dahulu, manusia seringkali melupakan kekuatan dan keagungan laut, dan mereka kerap mencemari perairan yang memberi kehidupan. Untuk melindungi lautan dan segala makhluk hidup di dalamnya, Furina turun dari kediamannya di bawah laut yang dalam. Dia datang dengan kehadiran yang menenangkan namun tegas, melawan para perusak dengan kekuatan air yang tidak bisa dilawan.

Suatu hari, sebuah kapal besar melintasi perairan suci yang dianggap sebagai batas kekuasaan Furina. Kapal tersebut terbuat dari kayu terbaik dan dipenuhi dengan barang-barang mahal yang ingin diperdagangkan ke negeri jauh. Namun, tanpa sepengetahuan awak kapal, mereka telah melintasi zona yang dilindungi oleh Furina. 

Saat kapal itu melanjutkan perjalanan, badai besar tiba-tiba muncul di tengah laut. Gelombang yang tinggi dan angin yang kencang mengguncang kapal, seakan-akan lautan marah. Di tengah-tengah kekacauan itu, Furina muncul dari kedalaman laut, menjulang tinggi dengan aura yang menakutkan namun juga megah. 

Melihat kapal dalam bahaya, seorang awak kapal bernama Lian, yang dikenal sebagai seorang pelaut bijaksana dan penyayang laut, berdoa dengan sungguh-sungguh. Dia memohon ampun dan meminta agar mereka diberikan kesempatan untuk memperbaiki kesalahan mereka. Lian menggenggam sebuah amulet laut yang diwariskan oleh leluhurnya, yang diyakini dapat memohon kepada dewi laut.

Furina merasa tergerak oleh doa tulus Lian dan melihat ketulusan hatinya, akhirnya ia memutuskan untuk meredakan badai. Gelombang yang dahsyat mulai mereda, angin yang menderu mulai tenang, dan kapal perlahan-lahan kembali ke jalur yang aman. Furina, sebelum menghilang kembali ke kedalaman lautan, menyisakan pesan bagi awak kapal, mengingatkan mereka untuk selalu menghormati laut dan menjaga kebersihan perairan.

Lian dan para awak kapal, dengan penuh rasa syukur, berjanji untuk tidak hanya menghormati laut tetapi juga membagikan kisah tentang kebaikan dan kekuatan Furina kepada seluruh dunia. Mereka kembali ke daratan dengan penuh rasa hormat terhadap dewi laut dan pengetahuan baru tentang pentingnya menjaga ekosistem laut.

Furina kembali ke kedalaman laut, menjaga dan melindungi lautan dengan penuh kebijaksanaan. Dia menjadi simbol kekuatan dan keindahan laut, serta pengingat bagi semua orang bahwa kekuatan alam harus dihormati dan dilindungi.

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Negeri Kecil Yang Berapi Karya Zaskia Dwi Arefa

 

Negeri Kecil Yang Berapi

Karya Zaskia Dwi Arefa

 

Hari itu matahari sudah hampir terbenam saat Laras mendatangi istana, ini bukan yang pertama kali. Kemarin raja baru naik tahta, Laras berharap raja baru itu bisa menolongnya.

Di depan pintu megah istana yang tertutup dan dijaga prajurit Laras bercerita "Yang Mulia, anak saya masih hilang, belum kembali sudah 10 bulan lamanya. Mungkin dia sudah dibunuh, tapi tak apa saya sudah rela hanya saja saya ingin pembunuhnya ditemukan dan dihukum. Yang mulia, saya meminta pertolongan."

Sudah lama rasanya Laras meminta bantuan pada semesta, pada yang maha kuasa, dan pada yang mulia raja. Laras tak ingin putus asa walau belum ada yang mendengarnya. Anak yang dicintainya tak kunjung pulang, pun tak kunjung mendapat keadilan. Para prajurit yang menjaga pintu istana mentertawakan Laras untuk kesekian kalinya, mungkin sudah bosan melihat seorang Ibu yang perlahan rapuh itu masih penuh dengan semangat untuk mencari keadilan. 

Malam mulai datang pintu istana tak kunjung terbuka. Laras akhirnya pulang dengan luka lama yang belum berhasil disembuhkan, pulang tanpa mendapat keadilan. Di jalan pulang Laras mendengar omongan warga lainnya "Tanah ini telah rusak, terkutuk. Lihatlah ibu Laras, bertahun-tahun mencari keadilan tapi tidak didengarkan. Raja lama telah mati, raja baru jadi pengganti, tapi tanah subur ini seperti telah gagal menjadi negeri yang berempati." Suara seorang warga terdengar oleh Laras, senyum simpul muncul di wajahnya, miris, Laras bertanya pada dirinya sendiri: di sini apa hanya rakyat biasa yang punya hati?

"Benar itu, Pak. Di negeri ini, rakyat kecil harus mengemis untuk keadilan."

Malam sepenuhnya menyelimuti negeri kecil itu saat Laras sampai di rumah. Dengan wajah lemas dia duduk di kursi reyot di pojok ruang tamu. Tetes demi tetes air mata membasahi pipi Laras, hari ini dia gagal lagi "Oh Tuhan, aku hanyalah seorang Ibu. Tolonglah aku." Sebuah doa yang sama terlontar berulang kali.

Malam itu, Laras tidak tidur. Ia duduk di kursinya, menatap ke luar jendela kecil yang menghadap ke arah istana, yang meskipun jauh, bisa dilihat bayangannya dari kejauhan. Laras berpikir kira-kira apa yang sedang di lakukan Yang Mulia di istana, mungkinkah besok Yang Mulia bersedia menemuinya? 10 bulan terakhir tidak ada malam yang Laras lewati dengan tenang.

Di hari berikutnya, pagi-pagi sekali rumah Laras didatangi banyak warga. Setelah pintu rumahnya terbuka seorang Ibu-Ibu sebaya memeluk Laras, "Bu Laras, hari ini kami ingin membantu dan menemani Ibu pergi ke Istana. Mungkin saja kalau banyak warga yang datang Yang Mulia mau membuka pintunya." Tuturnya pada Laras. Laras tidak punya hati untuk menolak mereka, mereka pun berbondong-bondong pergi ke Istana.

Di depan gerbang Istana para warga memanggil sang raja, "Yang Mulia, Yang Mulia. Keluarlah untuk bicara pada rakyat yang telah lama engkau hiraukan keberadaannya." 

"Yang Mulia, jangan hanya duduk di singgasana."

"Yang Mulia, tolonglah seorang Ibu yang hampir putus asa." Para prajurit penjaga gerbang istana terlihat lebih kesal dari hari-hari sebelumnya. 

"Yang Mulia,—" Panggilan untuk sang raja tidak ada hentinya. Seiring waktu berjalan, banyak kalimat yang telah terlontar di depan gerbang istana sebelum akhirnya ada kereta kuda datang menyita perhatian semua orang termasuk para prajurit yang berjaga. 

Dua orang pria yang terlihat seperti ayah dan anak turun dari kereta maju mendekati pintu istana, "Saya dan anak saya ingin menemui Yang Mulia, kemarin uang anak saya dicuri oleh temannya, saya mau anak itu dihukum oleh istana!" Ucap sang ayah disana. Para prajurit dengan sigap membuka gerbang yang telah lama tertutup untuk Laras. 

Hati Laras seperti ingin meledak melihatnya, 10 bulan tanpa henti dia selalu datang tapi gerbang itu tidak sedikitpun terbuka untuknya. Sekarang gerbang itu terbuka lebar dengan mudahnya. 

"Siapa mereka?" Laras dengan ragu bertanya pada warga di sampingnya.

"Itu saudara dan keponakan Yang Mulia Raja, pantas saja pintunya langsung terbuka." Jawab seorang warga disampingnya. Hati Laras terasa semakin panas mendengarnya, hal itu sama saja seperti dia bilang "Mereka orang penting Laras, kalau orang kecil seperti kita masalahnya tidak akan didengar"

Tangan Laras yang kurus mulai gemetar, bukan karena ketakutan, tetapi karena kemarahan yang telah lama ia pendam. Hari ini Laras lihaf dengan mudahnya, gerbang itu terbuka lebar hanya karena yang datang adalah saudara dan keponakan raja. 

Laras memandang ke sekelilingnya. Wajah-wajah warga yang penuh dengan harapan kini berubah menjadi cermin dari kemarahan dan kekecewaan yang dirasakannya. Mereka semua menyadari satu hal yang sama—bahwa di negeri ini, hanya mereka yang punya kekuasaan yang akan didengar, sementara mereka, rakyat kecil, hanyalah bayangan yang tak pernah dipedulikan. 

Walau marah hari itu Laras dan para warga pulang tanpa mendapatkan apa-apa. Tapi satu hal yang pasti, ada tekad yang akan diwujudkan Laras di kemudian hari.

Keesokan hari, Laras dan warga tidak lagi datang ke istana. Hal tersebut meninggalkanperasaan heran di hati para prajurit. Laras dan warga baru datang di hari ketiga setelah hari itu. Kali ini ada lebih banyak lagi warga, Laras dan para warga membawa sesuatu di tangan mereka, sebuah obor. Obor yang sama panasnya seperti hati Laras. Obor yang sama membaranya seperti semangat para warga. Para prajurit mulai takut, mereka tidak mengira akan ada hal seperti ini, mereka tidak sempat menyiapkan apapun untuk melawan.

Laras memimpin mendekati gerbang yang masih tertutup. Ia tidak lagi peduli pada prajurit yang menatapnya dengan penuh ancaman, tidak peduli pada apa yang mungkin terjadi padanya. Di dalam hatinya hanya ada satu tujuan—mencari keadilan yang selama ini diabaikan.

Tanpa menunggu waktu lama, warga mulai bergerak. Mereka merobohkan gerbang istana dengan kekuatan massa. Prajurit yang bertugas berusaha menahan mereka, tapi jumlah warga terlalu banyak. Kemarahan yang telah lama terkumpul kini meledak menjadi aksi yang tak terhindarkan.

Laras berjalan di antara warga, matanya tajam menatap ke arah istana. Di tangannya, ia menggenggam obor itu masih menyala. Tanpa ragu, ia mendekati pintu utama istana yang megah, yang selama ini tertutup rapat baginya. Dengan tangan yang penuh dengan dendam dan luka, Laras melemparkan obor itu ke pintu kayu besar, membiarkan api mulai menjilat bangunan yang selama ini menjadi lambang ketidakadilan bagi dirinya dan rakyat.

“Ini untuk anak ku!” seru Laras dengan air mata yang mengalir deras di pipinya, dia bisa melihat penghuni istana lari ketakutan “Ini untuk semua anak yang hilang tanpa keadilan, untuk semua ibu yang menangis dalam kesepian!”

Api mulai menyebar dengan cepat, membakar kayu-kayu yang sudah lama kering. Warga lain mengikuti langkah Laras, melemparkan obor dan benda-benda yang bisa terbakar ke arah istana. Malam itu, api membesar, menjulang tinggi ke langit, seakan-akan seluruh negeri merespon panggilan terakhir dari mereka yang selama ini tak didengar.

Prajurit yang tersisa berlarian, mencoba menyelamatkan diri, sementara istana yang megah itu mulai runtuh sedikit demi sedikit, diiringi teriakan kemarahan dan tangisan yang telah lama tertahan. Figur yang telah lama didambakan akhirnya keluar menemui warga, yang mulia raja yang sudah hilang mulianya. Dia kini hanya bisa berlari mencoba menyelamatkan diri.

Wahai rakyat kecil tak berdaya. Yang Mulia telah mati rasa. Namun kini kita telah menghukumnya.

Di tengah api yang berkobar, Laras merasakan seberkas kedamaian yang selama ini hilang. Iatahu bahwa mungkin tidak ada yang bisa mengembalikan Raka padanya, tetapi setidaknya malam ini, ia berhasil mengirim pesan yang jelas—keadilan tidak akan selamanya dibungkam. Bagaimana membangun negeri ini lagi akan dipikirkan nanti karena negeri kecil ini sudah lama mendambakan revolusi.

 

17 Agustus, 2024

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Gladiola Agustus Karya Aura Virginia

 

Gladiola Agustus

Karya Aura Virginia 

 

Bakung pedang, malam yang kelam,

dan bulan yang bersinar.

 

Dengan akar yang subur dan 

bercahaya di senja hari. 

 

Umbi yang bersinar dan memancarkan 

keindahan ruas-ruasnya seperti bintang. 

 

Bakung pedang, malam yang kelam,

dan bulan yang bersinar.

 

Tidak ada lagi suara-suara melengking yang

meneriakkan kata “aku ingin pedang sesungguhnya!”

 

Sekarang belalang lah yang mengatakan “hidupkan yang layu di bulan Agustus!”

 

Air menetes menelan manisnya tunasnya.. 

 

Bakung pedang, malam yang kelam,

dan bulan yang bersinar.

 

Kelopaknya meledak dengan suara seperti 

sirup kental yang terendam. 

 

Udara malam itu masih hangat, dengan segera kelopaknya bersemi. 

 

Gladiola yang merekah.

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Payah Tak Hidup Karya Desy Aulia Faricha

 

Payah Tak Hidup

Karya Desy Aulia Faricha

 

Ingin sempurna selamanya 

Menjadi bidadari dalam setiap pandang manusia

Lalu adakah tujuan lain di dunia?

Bukankah ini hanya persinggahan sementara?

Untuk jalan yang abadi nantinya

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Membaca Sebagai Jendela Dunia Karya Diajeng Aditya Putri

 

Membaca Sebagai Jendela Dunia

Karya: Diajeng Aditya Putri

 

Dunia terhampar luas, 

laut membentang tak berujung. 

 

Bintang bertaburan di angkasa, 

hutan belantara tak tembus mata.

 

Semua terlihat sempit bak jendela tertutup

 

Namun denganmu, ku buka imajinasi bebas, 

mengembara melewati batas.

 

Engkaulah buku, kunci menuju keajaiban

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Teman Singkat Karya Halimatuz Zahro

 Teman Singkat

Karya Halimatuz Zahro

 

Perbedaan yang kita bawa

Tampak tak padu saat awal berjumpa

Aku tak menduga waktu begitu lekas

Dikala aku berbaring dengan foto di nakas

Cerita kita menggaung tanpa batas

Aku bisa apa?

Perpisahan ini tak mau menunda

Ketika amarah, tawa, dan tangis kita

Berkelebat dengan tidak sopannya

Aku hanya bisa berucap dalam angan

Mari bertemu nanti, Kawan.

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Semau Dalam Pelukan Karya P. M. Pratami

 

Semau Dalam Pelukan

Karya: P.M. Pratami

 

Aku seorang pengelana

Berbalut pasir dalam tiap langkah terinjak

Membekas di seluruh jalan menapak

Berlari kencang tinggalkan jejak

Kulihat dimana Semau terletak

 

Aku seorang penjelajah

Dicium cerah binar baskara 

Berlayar hingga segara terbelah

Bercumbu mesra sebab terpikat samirana

Dari kejauhan tampak Semau merekah

 

Aku seorang pengembara

Terpesona nyanyian tanpa suara

Terpana pada tarian pengiring sukma

Candu oleh gemerlap atap dunia

Takjub akan kilau sambekala

 

Semau dalam pelukan

Bersandar dibawah teduh pepohonan

Membawa diri pada luas hamparan

Dalam sukma asa tak berkesudahan

Manakala diri berpijak angan ku tanam

 

Dan kusesap manis memori

Agar tak lagi aku sangsi

Pun kan terus kucari

Pada Semau aku berjanji

Harap esok dapat kembali

 

Batuinan, 20 Agustus 2024

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Kata Mereka Karya Putri Wulan Jatiningrum

 

Kata Mereka

Karya Putri Wulan Jatiningrum

 

Riuh lirih selalu membisiki telingaku

Nada yang selalu berusaha menembus jalan pikiranku 

Kata mereka tentangmu menanamkan ragu dibenakku

 

Berbagai goresan makna memenuhi memoriku 

Jalan penuh liku mencari tau siapa dirimu Anganku bertanya dalam setiap ucapanmu Dimana letak kebenaran itu ?

 

Suara yang sangat riuh sangat mengganggu

Sempat goyah untuk memilih berhenti atau tetap dalam langkah ini 

Pada akhirnya aku memilih untuk tetap pada pelabuhanku

 

RESENSI BUKU BULAN JULI 2024 AYAHKU [BUKAN] PEMBOHONG – Tere Liye

 RESENSI BUKU BULAN JULI 2024

AYAHKU [BUKAN] PEMBOHONG – Tere Liye

COVER







Identitas buku

Judul: Ayahku [Bukan] Pembohong

Penulis: Tere Liye

Tebal: 304 lembar

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2016

ISBN: 978-602-03-3158-4

Biografi penulis

  Novel ini merupakan karya salah satu sosok penulis yang terkenal karena produktivitasnya dalam menghasilkan karya sastra, yaitu Darwis atau yang lebih dikenal dengan nama pena Tere Liye. Ia lahir di sebuah kota kecil bernama Kota Lahat di provinsi Sumatera Selatan pada 21 Mei 1979. Meskipun seorang penulis, latar belakang pendidikan Tere Liye adalah seorang akuntan yang pernah berkuliah di Universitas Indonesia pada jurusan akuntansi. Menjadi seorang penulis hingga menghasilkan puluhan novel berawal dari hobi dan kecintaan seorang Tere Liye pada menulis dan dunia sastra. Selain itu, melalui karyanya Tere Liye menunjukkan kemampuannya yang serba bisa dalam menulis berbagai genre cerita. Hingga kini, Tere Liye telah menghasilkan banyak karya best seller dan dicintai oleh para penggemarnya, sebut saja Hafalan Shalat Delisa, series petualangan Bumi, novel Hujan, dan Ayahku Bukan Pembohong yang akan dibahas dalam resensi ini.

a) Sinopsis novel

  Novel ini mengisahkan Dam, seorang anak laki-laki yang tumbuh dengan cerita-cerita fantastis dari ayahnya, Papi. Papi sering menceritakan kisah-kisah luar biasa yang tampaknya tidak mungkin terjadi, membuat Dam bertanya-tanya tentang kebenaran cerita-cerita tersebut. Saat Dam beranjak dewasa, keraguannya semakin mendalam, dan ia memutuskan untuk menyelidiki kebenaran di balik kisah-kisah Papi. Dalam pencariannya, Dam melakukan perjalanan untuk mengunjungi orang-orang yang pernah muncul dalam cerita Papi dan menemukan bahwa setiap kisah mengandung pelajaran berharga dan kebenaran tersendiri. Pada akhirnya, Dam menyadari bahwa meskipun cerita-cerita tersebut tampak fantastis, Papi tidak berbohong; ia menggunakan cerita sebagai alat untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

b) Alur Cerita

  Novel "Ayahku [Bukan] Pembohong" menggunakan alur campuran, di mana cerita bergerak maju mengikuti perjalanan hidup Dam dari masa kecil hingga dewasa, sembari diselingi kilas balik yang menggambarkan kisah-kisah fantastis yang sering diceritakan oleh ayahnya, Papi. Alur maju memperlihatkan bagaimana Dam tumbuh dan mulai meragukan kebenaran dari cerita-cerita tersebut, sedangkan kilas balik memberikan konteks pada kisah-kisah yang disampaikan Papi dan bagaimana mereka mempengaruhi pandangan Dam tentang kehidupan. Alur campuran ini memungkinkan pembaca untuk melihat perkembangan karakter Dam dan hubungan emosionalnya dengan Papi, serta mengungkap kebenaran di balik cerita-cerita yang tampaknya tidak masuk akal.

c) Unsur Intrinsik

- Tokoh dan penokohan

• Dam. Seorang anak yang tumbuh dengan kasih sayang, sehingga memiliki sifat yang baik. Sifat yang dipelajarinya dari berbagai kisah yang diceritakan ayahnya. Namun beranjak dewasa, ia menyadari kesederhanaan kisah tidak sesuai dengan dunia yang dihadapinya, sehingga ia mulai berubah, menjadi anak pembangkang, bahkan berani menuduh ayahnya pembohong.

• Ayah Dam. Seorang yang sederhana dan jujur, ia sangat menyayangi anaknya dan gemar menceritakan kisah dongeng inspiratif kepada Dam. Kepribadiannya yang hangat membuatnya dikenal dan disenangi seluruh masyarakat kota.

• Ibu Dam. Seorang wanita penyayang, sabar dan sederhana. Ia merupakan selebriti terkenal sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti dan menikah.

d) Unsur Ekstrinsik

- Nilai moral

  Nilai moral yang diangkat seperti kejujuran dan kebenaran, menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu sederhana dan sering kali terletak dalam pelajaran yang lebih dalam. Melalui hubungan antara Dam dan Papi, novel ini menyoroti pentingnya kepercayaan dan pemahaman dalam keluarga, serta keberanian dalam menghadapi kenyataan.

- Nilai sosial

  Nilai sosial yang diangkat mencakup pentingnya komunikasi dan cerita sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai budaya dan pengalaman antar generasi. Novel ini menekankan kepercayaan dan dukungan sosial, yang terlihat dalam hubungan Dam dan Papi serta interaksi mereka dengan orang lain, juga mencerminkan nilai kebersamaan dan solidaritas, menunjukkan bagaimana hubungan sosial yang kuat dapat membantu mengatasi tantangan dan membangun komunitas yang lebih erat.

e) Kelebihan dan Kekurangan

- Kelebihan

  Dalam menulis novel ini, Tere Liye menggunakan bahasa deskriptif yang jelas sehingga pembaca bisa dengan mudah ikut merasakan apa yang terjadi dengan tokoh dalam cerita. Penggunaan bahasa yang ringan membuat pembaca mudah menyerap pesan moral yang ingin disampaikan oleh novel ini. Adapun pesan moral yang bisa didapat diantaranya tentang keluarga, tentang kebahagiaan sejati, dan tentang betapa pentingnya sebuah kejujuran dalam hidup. Selain itu, seperti karya-karya beliau yang lain, novel ini juga terdapat banyak kalimat-kalimat motivasi dan dirangkai sedemikiannya masuk akal sehingga pada akhirnya, novel ini dapat meningkatkan rasa kasih kita kepada sosok ‘Ayah’.

- Kekurangan novel

  Meski penulis sangat pandai dalam mendeskripsikan suasana, namun tetap saja ada beberapa latar yang sulit untuk ditangkap nalar pembaca. Misalnya pada latar tempat Negeri Penguasa Angin, pembaca sulit menggunakan logika dan harus berusaha lebih mengandalkan imajinasi untuk mampu masuk dan menikmati kisahnya..


SEKAR Edisi Juli 2024 | Riuh Dalam Hening Karya Sasa Bela Firdianti

 Riuh Dalam Hening

Karya ; Sasa Bela Firdianti


Malam yang sunyi dengan kedinginan

Menyorak ramai dalam keheningan 

Kini ku tahu kereta berjalan

Sampai tujuan dengan harapan


Membisik tanah dengan sebutan

Berharap jadi angan impian 

Merangkai doa diramalkan

Berharap tuhan berpihak dengan keinginan


Mencoba berlari dihutan yang lebat

Mencoba bertahan untuk kembali kuat

Meski diri sudah merasa sekarat

Ditengah keputusan yang semakin lambat


Puisi tentang diri yang ragu ditengah keputusan yang mencekik diri


SEKAR Edisi Juli 2024 | Perpisahan Karya Lim

 Perpisahan

Inspired by : PMM 4

Karya : Lim

Saat kita berdiri di persimpangan jalan,

Dengan mata berkaca, hati terasa rawan,

Kenangan berlari di antara bayangan,

Menggoreskan kisah dalam ingatan.


Waktu kita bersama, kini harus berlalu,

Seperti daun gugur, diterbangkan angin pilu,

Setiap senyuman dan canda tawa,

Kini tersimpan dalam hati yang sendu.


Kita pernah berbagi mimpi dan asa,

Menjalani hari dengan penuh makna,

Namun takdir menulis kisah berbeda,

Membawa kita pada perpisahan yang tak terduga.


Langkah-langkah kecil yang pernah seirama,

Kini harus berjalan di jalan yang berbeda,

Meski jarak memisahkan kita,

Hati ini takkan pernah lupa.


Dalam hening malam yang sepi,

Aku mengenang setiap detik yang berarti,

Doa ku panjatkan untuk kebahagiaanmu,

Semoga langkahmu selalu dalam ridha-Nya.


Air mata mungkin mengalir perlahan,

Namun senyum ini kan tetap bertahan,

Karena perpisahan hanyalah sementara,

Selama kenangan kita tetap ada.


Selamat tinggal, wahai sahabat tercinta,

Kita kan bertemu lagi di waktu yang tak terduga,

Di bawah langit biru yang sama,

Merajut kembali cerita yang tertunda.


PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...