Rabu, 22 November 2023

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Seratus oleh Mohamad Hanif

 Seratus

Sebuah puisi oleh Mohamad Hanif

 

Di tengah kehidupan yang berliku

Terjalin tali silaturahmi yang kuat

Saat duka dan suka kita lalui

Saling bantu, jaga hati yang tetap terjaga

 

Terkadang, dalam lembaran kehidupan

Ada saatnya kita butuh pertolongan

Agar silaturahmi tidak terputus

Pinjam dulu seratus, sebagai tanda kepercayaan

 

Sejuta doa diiringi senyuman tulus

Dalam seratus ribu yang kita pinjamkan

Berharap, di balik pinjaman sederhana ini

Terukir kebersamaan dan kasih sayang tanpa batas

 

Jadi, di dalam setiap lembar seratus

Terpatri hubungan tulus dan erat

Agar silaturahmi tidak terputus

Pinjam dulu seratus, bersama kita melangkah

 

Mohamad Hanif, 7 November 2023 

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Ketenangan Hati oleh Salsabilah Amalia Putri

 Ketenangan Hati

Sebuah puisi oleh Salsabilah Amalia Putri

 

Langit tahu kapan dia akan mendatangkan matahari

Dan kapan dia akan mendatangkan hujan

Matahari dan hujan sama-sama indah

Matahari pergi dengan senja

Hujan datang dengan kerinduan

 

Sama seperti dirimu

Datang dengan penuh harapan

Harapan untuk terus bersama

Nyatanya, kamu datang hanya sesaat

Pergi tanpa sebab yang pasti

Meninggalkan rindu yang tak kunjung usai

 

Untuk ketenangan hati,

Aku berhenti memikirkan siapa pun itu

Termasuk dirimu

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Ingat, Jangan Sampai Tuhan Tahu! oleh Dzakirah Najyala

Ingat, Jangan Sampai Tuhan Tahu!

Sebuah puisi oleh Dzakirah Najyala

 

Kampret, Tuhan biarkan aku jatuh cinta lagi!

Bangsat bangsat bangsat!

Kenapa tidak gita puja dan gelang kaki saja yang dituliskan untukku?

Sama sekali tidak berkeberatan nadiku untuk berdenyut ‘hanya’ dalam arti keharusan

Aku cukup!

Untuk hidup, hidup dan hidup!

Persetan dengan janji-Mu soal ‘itu’

Tak sudi untuk kutulis, maaf saja

 

Kulitku

Yang kau rancang untukku itu

Cukup elok untuk kunikmati sendiri

Patut di cermin, tak kurang satu pun

Sudah sampai di situ aku berencana untuk membagi ‘Kasih’

Yaitu dengan-Ku sendiri!

 

Persetan!

Sial,

Jangan sampai Tuhan tahu

Daging ini pun tunduk pada gelenyar aneh

Aneh sekali!

Pokoknya, jangan sampai Tuhan tahu!

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Alam Sang Pengukir Senyuman oleh Gita Ayu Cahyani

 Alam Sang Pengukir Senyuman

Sebuah puisi oleh Gita Ayu Cahyani

 

Terlihat hamparan laut yang luas dalam cakrawala

Terdengar deburan ombak yang begitu bahagia

Pertemuan yang indah antara laut dan darat

Menciptakan seukir senyuman yang begitu hangat

 

Ukiran Tuhan yang begitu nyata

Pahatan alam yang begitu memesona

Senyuman hadir di kala deburan angin yang menyapa

Kulepaskan semua pikiran yang menjadi beban dengan menatap awan

 

Menikmati ciptaanmu sungguh mengukir senyuman dan ketenangan 

Kulangitkan semua harapan dengan menadahkan tangan

Dengan berharap semua harapan menjadi kenyataan

Sungguh indah lukisanmu, Ya Tuhan

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Waktu, Uang dan Usia oleh Azlina Alif

 Waktu, Uang dan Usia

Sebuah puisi oleh Azlina Alif

 

Usia dan masa

Keterlibatan yang setara

Wujud ambisi manusia

Tertulis beberapa kata dalam agenda

Ikut serta dalam usaha dan doa

 

Tak ada kegagalan yang diharapkan

Di mana tujuan yang berakhir kekecewaan

Bukan perkara mudah menggapai impian

 

Andai setiap jalan tak ada batasan

Setiap kesempatan tak ada ujung kematian

Semua orang akan memulai tanpa keraguan

Meski berkali-kali jatuh dalam kegagalan

 

Remaja akan tua

Impian banyak tertunda

Bahagia belum dirasa

Masa telah tersita

 

Lantas harus bagaimana

Apakah semua sia-sia

Buat apa mencoba

Jika tak ada hasil nyata

 

Sendi berfungsi sempurna

Mata menjadi jendela dunia

Akal dan hati  bekerja sama

Berjuang meski menahan beban lara

Muda memang sekali

Kesempatan datang berkali-kali

Kemauan ada dari diri sendiri

Motivasi akan banyak dijumpai

 

Hidup suatu pilihan

Coba dan lakukan

Sekali dua kali dalam kegagalan

Atau bertahan dalam ketidakpastian

Jumat, 27 Oktober 2023

SEKAR Edisi Bulan Oktober 2023 | Untuk Saudaraku Jauh di Sana (Palestina) oleh Zalfa Islamey H

 Untuk Saudaraku Jauh di Sana (Palestina) 

Sebuah puisi oleh Zalfa Islamey H


Di setiap embusan nafas

Nasib malammu yang selalu tak tenang

Di setiap jantung yang berdetak 

Selalu ada pertumpahan nyawa dan darah 


Aku saudaramu

Beda tempat, beda nasib tetapi satu keyakinan.          

Putih kulitmu tak seputih nasibmu. 

Kita asyik makan tetapi mereka kelaparan. 


Palestina 

Aku dengar semua jeritan dan tangismu.

Suara tembak yang setiap hari kalian dengar membuat kalian ketakutan.


Palestina 

Saudaraku yang jauh di sana terima kasih sudah mempertahankan dan memperjuangkan tanah kelahiran agama kita. 

Kita semua berhutang budi padamu 


Saudaraku

Tuhan selalu ada bersama kita doa-doa yang setiap kali dipanjatkan selalu di dengar.

Yang kuharapkan semoga Tuhan memberikan kemerdekaan dan keselamatan bagi rakyatmu.


Save Palestine

Indonesia

SEKAR Edisi Bulan Oktober 2023 | Cemas oleh Tiara Pratjna Paramitha


CEMAS

Sebuah puisi oleh Tiara Pratjna Paramitha

Menjalani hari tanpa gairah

Tiada semangat selain pasrah

Entah mengapa hati gundah

Seakan air mata ingin tumpah

 

Hari demi hari berganti

Mimpi buruk masih senantiasa menghampiri

Menumbuhkan cemas dalam sanubari

Meninggalkan perih seakan abadi

 

Ingin kuseka air mata

Menghapus ingatan segala lara

Bukan saatnya untuk putus asa

Melainkan berdiri dengan perkasa

SEKAR Edisi Bulan Oktober 2023 | Melangkah Penuh Semangat oleh Naziroh Faiqohtul Herlia

 

Melangkah Penuh Semangat

Sebuah puisi oleh Naziroh Faiqohtul Herlia

 

Langkah kita, semangat yang terpatri,

Tak ‘kan goyah meski badai yang datang berlari.

Percayalah pada dirimu, sukses terhampiri,

Dalam tekad yang tulus, kita kan terangkai berseri.


Jangan takut, jangan ragu, kejar cita-cita,

Semangat tak terpadam, jadi pilar setia.

Biru langit harapan, kita terbang bersama,

Menuju puncak kemenangan, tak ‘kan ada drama.

 

Berpikir besar, terus bergerak maju,

Tak perlu henti, tak perlu tergugu.

Dengan semangat, kita bisa meraih bintang,

Mimpi-mimpi kita, akan selalu menggema jangkauan.

SEKAR Edisi Bulan Oktober 2023 | Closure oleh Nadila Ibrahim

 

Closure 

Sebuah cerpen oleh Nadila Ibrahim

Panas matahari di siang hari terasa terik hingga membuat anak remaja merasa panas dan kehausan. Nadia namanya, anak usia 20 tahun yang sedang menempuh masa pendidikannya di salah satu universitas terkenal di Indonesia. Waktu itu, Nadia sedang berada di perjalanan menuju rumah setelah menyelesaikan kelas yang cukup menguras tenaganya di siang hari. Jarak antara rumah dan tempat Nadia menempuh pendidikan cukup jauh kurang lebih satu jam. Sesampainya di rumah, Nadia langsung beristirahat karena Nadia merasa kelelahan setelah melewati perjalanan yang cukup macet. Saat beristirahat, Nadia tidak sengaja menjatuhkan sebuah album foto di meja. Nadia membuka kembali album foto tersebut, lalu Nadia kembali teringat tentang perjalanan Nadia dari awal menjadi mahasiswa baru hingga sampai sekarang. Tahun depan Nadia akan meninggalkan universitas yang setiap hari telah menjadi rumah keduanya. 

Semua ini berawal dari bulan Mei, saat itu Nadia sedang berada di posisi yang cukup membuatnya bingung. Hingga Nadia merasa bulan Mei merupakan bulan yang jahat. Bagaimana Nadia tidak bingung, Nadia harus memutuskan hal apa yang akan Nadia lakukan setelah lulus SMA nanti, kuliah, kerja, atau nikah. Dengan tuntutan orang tua yang mengharuskan Nadia untuk berkuliah, Nadia merasa terbebani. Hal ini dikarenakan Nadia merasa bahwa dia tidak akan mampu untuk berkuliah. Bukan karena biaya, tapi ini berkaitan dengan kemampuan berpikir Nadia. Ya, Nadia hanya siswi SMA yang tidak pintar tetapi tidak bodoh juga. Nadia di sini selalu bertanya-tanya, aku nanti kuliah di mana, ya? Kira-kira nanti aku lolos ujian enggak, ya?  Aku nanti pilih jurusan apa, ya? Setelah lulus kuliah nanti aku jadi apa, ya? Ada banyak hal di pikiran Nadia yang cukup membuatnya stres. 

Pada bulan Mei tersebut bertepatan dengan berakhirnya hubungan Nadia dengan kekasihnya. Bisa dibilang mereka telah lama saling mengenal dan menjalin hubungan. Hubungan Nadia dengan sang kekasih berakhir begitu saja tanpa adanya closure yang baik. Kejadian tersebut tentu membuat Nadia semakin merasa terbebani. Nadia merasa mengapa hubungannya dengan sang kekasih harus berakhir di saat dia membutuhkan semangat dan dukungan. Setelah berakhirnya hubungan Nadia dengan sang kekasih, Nadia merasa stres dan sempat mengalami demam yang cukup tinggi. Saat itu Nadia merasa putus asa dan tidak memiliki semangat untuk beraktivitas. Teman, kekasih, keluarga, tidak ada yang bisa memahami perasaan yang sedang dialami Nadia. Namun, sesaat kemudian Nadia berpikir bahwa dia harus bangkit dan membalas dendam dengan membuktikan bahwa Nadia bisa menyelesaikan semua masalahnya. 

"Aku harus bisa menyelesaikan masalah ini. Aku akan belajar dengan giat untuk bisa lolos ujian masuk perguruan tinggi. Aku harus semangat dan membuktikan ke semua orang bahwa aku bisa.” ucap Nadia.

Setelah membuat keputusan bahwa Nadia akan berkuliah, Nadia langsung giat belajar dan memutuskan untuk mengambil kelas tambahan di salah satu tempat bimbel. Karena tekadnya yang kuat, Nadia memutuskan untuk mengurangi jam bermainnya. Keseharian Nadia saat itu, hanya diisi dengan sekolah, belajar, pergi bimbel. Bahkan Nadia bisa pergi jalan-jalan hanya di akhir pekan saja, itu pun Nadia gunakan untuk membeli buku-buku untuk persiapan mengikuti ujian. Dari kesibukan Nadia yang setiap hari belajar, belajar, dan belajar membuat Nadia lupa akan kesedihannya. Nadia melewati keseharian tanpa adanya penyemangat dari teman atau sang kekasih, hanya dukungan dan harapan orang tua yang selalu menemani keseharian Nadia.

Mei, Juni, Juli Nadia lewati dengan penuh perjuangan. Sampailah di bulan Agustus, hari itu merupakan hari pertama Nadia kuliah. Di hari pertama kuliah, Nadia sedikit merasa resah dikarenakan Nadia tidak memiliki kenalan atau teman satu pun. Sehingga saat itu, Nadia selalu merasa ingin cepat-cepat mengakhiri perkuliahannya. Beberapa hari kemudian, tepat di tanggal 16 Agustus 2021, Nadia bertemu dan berkenalan dengan seorang mahasiswa baru, Baskara namanya. 

"Hai, aku baskara boleh minta tolong bantuin tugas ini, enggak?” ucap Baskara.

"Halo, aku Nadia. Boleh, sini aku bantu," jawab Nadia.

Setelah pertemuan Nadia dan Baskara saat itu, mereka semakin hari semakin dekat. Nadia dan Baskara menjadi teman yang selalu membantu satu sama lain, hal ini dikarenakan Nadia hanya memiliki satu teman yaitu Baskara. Sama halnya dengan Nadia, Baskara juga tidak memiliki teman selain Nadia. Maka dari itu Nadia dan baskara saling melengkapi. Singkat cerita, satu semester, dua semester, hingga tiga semester Nadia dan Baskara lewati bersama. Berbagi cerita keseharian, saling membantu dan berkeluh kesan Nadia dan Baskara lakukan selama tiga semester. Hingga sampai di titik Nadia merasa nyaman dan tertarik terhadap Baskara. Entah hal apa yang membuat Nadia tertarik terhadap Baskara. Namun di satu sisi, Nadia saat itu tidak memiliki niat untuk memulai hubungan serius dengan lelaki mana saja. Iya benar, hal ini dikarenakan Nadia cukup trauma dengan hubungan terakhir yang Nadia alami sehingga membuat Nadia enggan untuk membuka hatinya kembali. Nadia merasa semua lelaki akan meninggalkan dirinya. Namun, seiring berjalannya waktu siapa sangka Nadia ternyata jatuh hati terhadap teman pertamanya di perkuliahan yaitu Baskara. Menurut Nadia, Baskara sosok lelaki yang berbeda. Nadia merasa cocok dengan Baskara, dari percakapan mereka hingga selera humor mereka. Sikap Baskara yang manis dan penuh perhatianlah yang membuat Nadia jatuh hati pada Baskara. 

Setiap hari, Nadia selalu merasa ingin bertemu langsung dan melakukan aktivitas keseharian bersama baskara. Setelah mengenal Baskara, Nadia hampir tidak pernah merasa sedih atau ada masalah yang mengganggunya. Nadia selalu merasa senang dan penuh semangat untuk berangkat kuliah. Hal ini dikarenakan Nadia selalu berharap untuk bisa bertemu dan bertegur sapa dengan Baskara. Namun, setelah beberapa hari Nadia lewati hingga semester 3 berakhir Tuhan berkehendak lain. Harapan Nadia untuk dapat bertemu dengan baskara tidak pernah tercapai. Sejak saat itu Nadia mulai merasa sedih, resah dan mulai bertanya-tanya. 

"Tuhan, mengapa Engkau tidak memberikan kesempatan untuk aku bertemu dengan Baskara sekali saja," ucap Nadia.

Setelah menyadari bahwa Nadia tidak bisa bertemu Baskara,  Nadia sering kali merasa sedih dan kecewa. Hal ini tentunya berpengaruh dengan keseharian Nadia. Nadia yang awal mulanya selalu ceria dan penuh semangat, kini sering terdiam dan melamun. Nadia merasa bingung akan perasaan yang dia alami. Karena, tidak ingin berlarut-larut dengan kesedihan, Nadia mencoba mencari kesibukan dengan mengikuti seminar, volunteer, kepanitiaan, dan bergabung di sebuah organisasi. Hal ini Nadia lakukan agar Nadia memiliki kesibukan di luar kuliah sehingga tidak ada waktu kosong untuk bersedih. Dengan mengikuti beberapa kegiatan, Nadia berharap untuk bisa belajar hal baru dan memiliki relasi atau pertemanan yang luas. Setiap hari Nadia jalani dengan baik dan berusaha untuk berbagi waktu antara kuliah, organisasi dan, bermain. Nadia sering kali kewalahan dengan kesibukannya hingga tak heran jika Nadia suka tiba tiba demam dan jatuh sakit. Kesibukan yang Nadia alami memberikan dampak yang cukup akan kesedihan yang Nadia alami sebelumnya. Perlahan Nadia mulai bisa berdamai dengan kesedihan dan harapan yang tidak bisa Nadia capai. 

Sebulan, dua bulan, tiga bulan Nadia lewati sampai berada di titik Nadia berkata, "oh ternyata, Tuhan punya rencana lain untuk mempertemukanku dengan Baskara,”

Ya benar sekali, harapan Nadia bertemu dengan Baskara terkabul. Nadia sempat merasa bingung dan bertanya-tanya, hal ini dikarenakan tidak pernah terlintas di pikiran bahwa nantinya Nadia dan Baskara dapat bertemu. 

"Ini beneran aku bisa bertemu dengan Baskara?" 

"Ini enggak lagi mimpi kan?"

"Tuhan terima kasih telah memberikan kesempatan untuk bertemu dengan Baskara," ucap Nadia.

Singkat cerita, Nadia dan Baskara bertemu untuk pertama kalinya. Saat itu, perasaan Nadia campur aduk senang, malu, dan bingung. Nadia dan Baskara menghabiskan waktu yang cukup lama, mereka asyik bercerita dan saling mengenal satu sama lain hingga tak sadar matahari mulai tenggelam, menandakan bahwa Nadia harus segera pulang. Karena, ingin mengabadikan momen pertama kali bertemu, Nadia dan Baskara berfoto bersama. Lalu sesampainya di rumah, Nadia selalu memandang foto tersebut dengan sedikit senyuman kecil. Nadia masih tidak menyangka bahwa dia akan bisa bertemu dan berfoto dengan baskara. Setelah pertemuan itu, Nadia dan Baskara semakin dekat mereka sering menghabiskan waktu bersama di akhir pekan. Jalan-jalan keliling kota, menonton film, pergi ke kebun binatang, pergi ke pantai dan masih banyak lagi kegiatan yang Nadia dan Baskara lakukan secara rutin di akhir pekan. Hal ini tentu membuat Nadia semakin jatuh hati terhadap Baskara. Kemeja hitam, cokelat, nasi goreng, tas ransel abu-abu, dan semua hal yang berkaitan dengan Baskara, Nadia menyukainya. Walaupun di satu sisi Nadia sering kali mendapatkan informasi bahwasanya Baskara memiliki banyak wanita. 

“Nadia, aku hari ini melihat Baskara dengan wanita lain ,ucap teman Nadia sambil menunjukkan foto Baskara dengan wanita lain.

Walaupun kalimat tersebut menyedihkan, Nadia tetap berusaha bersikap tenang. Hal ini dikarenakan Nadia saat itu hanya ingin menjaga hubungan agar tetap baik dan menikmati momen kebersamaan dengan Baskara.

“Aku menyukai dan jatuh hati terhadap baskara, tapi apakah Baskara merasakan hal yang sama?” gumam Nadia

“Seharusnya dia tidak melakukan apa pun jika pada akhirnya dia tidak akan bertanggung jawab atas segala hal yang dilakukan sehingga membuatku jatuh hati padanya. Karena sikap yang dia berikan sangatlah berbeda dengan teman pada umumnya.”

Kedekatan Nadia dan Baskara tidak berlangsung lama, hanya bertahan kurang lebih empat bulan. Tentu saja hal ini membuat Nadia sedih dan bingung. Nadia menyadari bahwa seseorang akan datang dan pergi, Namun mengapa perubahannya harus secepat ini. Entah hal apa yang membuat Nadia dan Baskara tidak sedekat dulu hingga saat ini menjadi asing tanpa saling memberi kabar. Pada posisi ini tidak banyak yang bisa Nadia lakukan. Nadia hanya bisa memendam perasaan yang dia rasakan hingga sampai di titik rasa tersebut hilang dengan sendirinya. Namun, Nadia berharap bisa bertemu sekali lagi dengan Baskara untuk membicarakan semua hal terkait perasaan yang selama ini Nadia dan Baskara rasakan. 

“Baskara, bisakah kita bertemu sekali lagi? Aku ingin memelukmu untuk terakhir kalinya dan menjadi closure untuk kita bisa melanjutkan hidup masing-masing.” ucap Nadia.

Selama 30 menit Nadia lewati dengan mengingat perjalanan Nadia sejak awal perkuliahan hingga saat ini. Nadia menyadari bahwa semua permasalahan akan terselesaikan apabila kita bisa berusaha lebih keras lagi dan kesedihan menjadi evaluasi serta motivasi untuk kita bisa lebih baik ke depannya. Semua hal akan memiliki closure masing-masing, bahkan tidak ada closure itu juga merupakan closure.

Jam menunjukkan pukul 15:00 WIB, Nadia memutuskan untuk membuka laptop dan mengerjakan tugas kuliahnya. Setelah menyelesaikan tugas kuliahnya, Nadia kembali bersantai di kasur sambil memainkan sosial media yang kemudian Nadia melihat kembali foto-foto kebersamaan Nadia dengan Baskara. Foto-foto tersebut terlihat lucu dan menyenangkan. Tak lama kemudian Nadia merasa sedih dan sedikit meneteskan air mata. Hal ini dikarenakan Nadia menyadari bahwa kebersamaan tersebut tidak akan bisa terulang kembali. Awal mulanya Nadia pikir bahwa jatuh hati dengan Baskara akan menyenangkan. Ya menyenangkan sih, tapi itu ketika baskara juga jatuh hati pada Nadia. Ya namanya juga jatuh pasti akan sedikit menyakitkan. Pada kenyataannya Nadia masih menyimpan banyak harapan terhadap Baskara, walaupun Nadia dan Baskara telah berjarak dan menjadi asing. Namun, jarak dan tidak ada kabar tidak membuat Nadia berhenti untuk jatuh hati terhadap Baskara. Nadia akan tetap memilih Baskara dalam kondisi apa pun. 

“Baskara, jikalau chapter terakhirku adalah mengikhlaskanmu. Aku harap kamu tidak lupa bahwa kita pernah tertawa dan melewati beberapa hal bersama.”

                                                                    TAMAT          

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...