Selasa, 07 September 2021

Sisa Harapan di Tengah Senja | Ratri Septia Vidiana Diari


 Sisa Harapan di Tengah Senja

Ratri Septia Vidia Diari

 

“Ah panas sekali!”

“Masih belum ada yang laku.”

Sambil mengusap wajahnya, Pak Jono membuka ciloknya yang masih belum terjual sama sekali. Hari mulai terik, matahari seperti di atas kepala. Pak Jono berkeliling dari perumahan satu ke yang lainnya. Tapi banyak pintu masuk yang ditutup. Kali ini perumahan ke empat, yang dilalui Pak Jono. Dengan mengayuh sepedanya Pak Jono percaya diri bahwa kali ini dia dibiarkan masuk ke perumahan untuk menjajakan ciloknya.

“Maaf Pak pedagang dilarang masuk!”

“Lho kenapa mas?” tanya Pak Jono.

“Lingkungan di sini sedang melakukan pembatasan Pak, jadi hanya warga sini yang boleh memasuki kawasan perumahan”.

“Saya hanya ingin berjualan mas, sedari tadi pagi cilok saya belum laku”. Kata Pak Jono menjelaskan.

“Saya minta maaf Pak, ini sudah peraturan.”

Begitulah penolakan yang diterima Pak Jono. Ia mulai putus asa, sedangkan hari sudah mulai beranjak sore. Kini hanya di jalan raya ia menjajakan dagangannya. Jalanan tak ramai seperti biasa, tampak lengang. Hanya beberapa toko di pinggir jalan yang buka. Lelah berkeliling Pak Jono berhenti di sebuah pos kosong. Ia mengelap keringatnya dan minum air yang dibawanya dari rumah. Sambil mengelap keringatnya, Pak Jono terbayang wajah anak dan istrinya di rumah. Betapa ia merasa bersalah kepada keluarganya, karena sampai sore hari ini ciloknya belum laku. Di tengah lamunannya, tiba-tiba ada seorang lewat. Sontak Pak Jono dengan senyum ramahnya menawarkan dagangannya.

“Cilok mas”

“Kelihatannya mas lapar, silahkan bisa buat ganjal perut”

“Terimakasih pak tidak, saya tidak lapar”

Sambil menghela nafas orang itu berhenti dan duduk di pos kosong. Pak Jono yang melihatnya seperti merasa khawatir karena orang itu terlihat lemas dan cemas.

“Mas tidak apa-apa?” tanya Pak Jono.

“Saya baik-baik saja Pak.”

Tanpa ragu Pak Jono memberikan sebungkus cilok dagangannya kepada orang itu.

“Ini Pak”. Sambil menyerahkan cilok

“Eh saya enggak lapar kok Pak”

“Tidak apa-apa mas, saya ikhlas.”

“Anggap saja penglaris karena jualan saya belum laku dari pagi.”

“Wah terimakasih banyak Pak”.

Orang itu langsung saja memakan cilok Pak Jono dengan lahap. Pak Jono sudah menduga bahwa orang itu benar-benar lapar.

“Terimakasih banyak Pak”.

“Sama-sama mas”.

“Ngomong-ngomong nama Bapak siapa? Saya Firman Pak.”

“Saya Jono mas”.

“Maaf Pak saya tidak bisa membeli cilok bapak, dan saya benar-benar terimakasih karena saya sekarang menjadi bersemangat”.

“Wah Alhamdulillah mas”. Ucap Pak Jono lega.

Setelah berkenalan, orang yang bernama Firman itu pergi. Orangnya terlihat masih muda, tapi terlihat dewasa dan gagah itu yang ada dalam pikiran Pak Jono. Tapi siapa sangka, sebenarnya dalam perjalanan Firman hendak melakukan sesuatu yang besar. Yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Pak Jono yang melihatnya dan berkenalan dengannya di pos.

 

“Permisi mbak!”

“Iya, ada yang bisa saya bantu mas?”

“Mau cari hp smartphone mbak.”

“Mau yang merk apa mas?”

“Apa saja mbak, yang bagus.”

Sementara mbak-mbak pegawai konter hp itu menjelaskan tipe-tipe smartphone yang trend saat ini, Firman mengamati keadaan sekitar. Toko konter itu tampak lengang, hanya 3 pegawai yang ada di konter. Pengunjungnya hanya ada dirinya, sedangkan dua pegawai lainnya sibuk memencet layar sambil tertawa lepas tanpa beban. Satu persatu smartphone dikeluarkan oleh pegawai itu sambil menjelaskan keunggulannya. Tanpa disadari oleh pegawai, tangan Firman dengan cepat mengambil salah satu hp dan memasukkannya ke dalam saku. Dengan alasan belum ada yang tertarik, Firman dengan mulus keluar dari toko.

“Huh tanya-tanya aja nggak beli”. Keluh si pegawai

Sambil merapikan kembali smartphone di etalase, pegawai itu merasa aneh  Ya baru saja ia sadar ada smartphone yang dicuri. Sontak ia menjerit sejadi-jadinya.

“Maling!”

“Maling!”

Dua pegawai yang tadi asyik tertawa langsung kaget, dan mengejar Firman yang belum jauh dari toko. Beberapa warga yang ada di pinggir jalan juga turut mengejar. Firman berlari dengan nafas tersengal-sengal. Senja terus beranjak, pikirannya sekarang kalut. Merasa bersalah dan merasa harus membawa curiannya dengan berhasil.

“Cepat malingnya lari kesana” seru salah satu warga.

“Mentang-mentang sepi, beraninya maling.” Keluh salah satu warga.

 

Firman benar-benar merasa lelah, tapi ia tetap terus berusaha berlari. Di tengah gaduhnya warga mengejar maling, Pak Jono masih duduk di pos kosong sambil menunggu pembeli. Pak Jono pada mulanya bingung, melihat Firman yang baru dikenalnya tadi dikejar-kejar oleh warga. Pak Jono baru tahu setelah warga berteriak “maling”. Ia tidak menyangka bahwa tadi dirinya membantu maling itu. Pak Jono ingat kalau Firman mengatakan bahawa ia merasa semangat setelah makan ciloknya.

“Woi jangan lari kau!”

“Dasar maling nggak tau malu”. Umpat salah satu warga.

Firman benar-benar merasa lelah, kakinya mulai terasa berat untuk berlari.

“Nah akhirnya tertangkap kau bangsat!”

“Ampun pak, ampun.” Kata Firman memelas

“Sudah hajar saja!”

“Hajar!”

Dalam hitungan detik kemarahan warga berubah menjadi kekerasan, Firman dihakimi massa. Tubuhnya meringkuk kesakitan, bukan hanya tubuhnya yang kini ia rasakan sakit namun hatinya. Namun hatinya begitu sakit, karena tidak bisa membawa pulang hp baru untuk anaknya sekolah. Pikirannya cemas, memikirkan anaknya yang sedang berharap di rumah menunggu kedatangannya membawa hp baru yang telah ia janjikan. Ya tadi pagi, Firman pamit pergi membeli hp baru untuk anaknya, menjanjikan bahwa ia akan segera pulang dan membawa hp baru. Anaknya yang mendengarnya sontak bahagia, meski sebenarnya Firman berbohong. Bukan membelinya, melainkan mencuri. Ia tak bisa membayangkan pulang dengan muka babak belur, dan membayangkan muka kecewa anaknya. Kini tidak ada lagi harapan yang tersisa, tubuhnya hanya meringkuk kesakitan di tendang sana-sini oleh warga yang marah. Dan akhirnya ada warga yang datang untuk menengahi.

“Sudah-sudah lebih baik kita cari jalan damai.”

 

“Wah tidak bisa dia haru masuk penjara biar kapok!”

“Tidak kita harus bicarakan baik-baik, kasihan pasti keluarga di rumah menunggunya.”

Setelah perdebatan yang panjang oleh warga, akhirnya Firman dimaafkan. Hp smartphone itu dikembalikan, dan ia berjanji tidak akan mengulanginya.

Sementara warga tadi berunding, ternyata cilok Pak Jono akhirnya laku. Beberapa warga yang lelah, duduk berhenti di pos. Dan mungkin merasa iba, warga akhirnya membeli cilok Pak Jono

Firman berjalan terseok-seok ia merasa lemas dan tak bertenaga. Air matanya mulai mengalir. Sambil menahan sakit, ia kembali duduk di pos kosong tempat Pak Jono tadi. Pak Jono lalu menghampirinya.

“Saya tidak tahu alasan kenapa kamu mencuri, mungkin keadaan sulit seperti ini memaksamu mas.”

“Maafkan saya Pak.”

“Eh kenapa minta maaf ke saya?”

“Sudah mas, lebih baik kamu renungi kesalahanmu.”

“Sesusah-susahnya kita, jangan sampai mencuri mas.”

“Kasihan anak istri di rumah.” Kata Pak Jono memghibur

“Iya Bapak benar.”

“Ini.” Sambil menyodorkan sebungkus cilok.

“Mungkin masnya lapar lagi setelah berlarian tadi, hehe” sambil tersenyum.

Langit sudah mulai jelas menampakkan senja, langit oranye dan debu tiupan angin menemani Pak Jono dan Firman menyantap cilok. Dengan pikiran kalut dan hanya sisa harapan yang tersisa, di tengah senja yang kelu.

Oerip Soemohardjo | Belkis Irbat


 Oerip Soemohardjo

Belkis Irbat

 

Muhammad Sidik merupakan nama kecil dari Oerip Soemohardjo yang lahir pada tanggal 22 Februari 1893 di Kelurahan Sindurejan, Kecamatan  Purworejo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Beliau anak sulung dari pasangan  Soemohardjo dan putri Raden Tumenggung Wijoyokusumo. Oerip Soemohardjo sendiri berasal dari keluarga bangsawan. Kakek dari ibunya merupakan bupati Trenggalek, sedangkan ayahnya seorang mantri guru yang mempunyai pekarangan luas.

Sejak kecil, ia sudah mempunyai bakat menjadi pemimpin. Terbukti ia selalu melindungi teman-temannya ketika sedang bermain. Kedua orang tuanya menginginkan ia menjadi seorang pegawai negeri sipil atau bupati sama seperti kakeknya. Oleh sebab itu, ia di sekolahkan di Sekolah Dasar Belanda.

Dalam menempuh pendidikannya, ia termasuk murid yang kurang pandai. Angka-angka pada rapornya banyak yang merah. Namun demikian, Oerip dapat menyelesaikan pendidikannya di OSVIA. Setelah lulus dari Sekolah Dasar Belanda, ia bersiap memasuki sekolah bagi pegawai bumi putera atau Opleidingschool Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Seperti juga di Sekolah Dasar Belanda nilai rapor Oerip pun merah.

Benih-benih menjadi tentara sudah ada sejak Oerip masih duduk di Sekolah Dasar Belanda dan menjadi sangat kuat ketika ia sekolah di OSVIA. Akhirnya, setelah lulus dari OSVIA, ia akan mendaftarkan diri di sekolah militer yang ada di Jakarta. Di sekolah itu Oerip diajarkan berbagai macam ilmu dalam bidang militer.

Tahun 1914 Oerip lulus dari ujian penghabisan. Kemudian, lulus pula ujian tambahan. Sesudah itu, barulah Oerip dilantik sebagai letnan dua. Sejak saat itu, Oerip ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia. Ketika ia bertugas, ia sering dideskriminasi oleh kawannya orang Belanda yang akhirnya membuat Oerip mengundurkan diri dari KNIL.

Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, pemerintahan mulai disusun, departemen mulai dibentuk, dan gubernur-gubernur mulai diangkat. Dengan begitu, pemerintahan mulai berjalan.

Indonesia yang pada saat itu belum mempunyai tentara lantas mengajak tokoh-tokoh dari mantan KNIL, Peta, dll. untuk membicarakan mengenai Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Oerip Soemohardjo yang merupakan pensiunan Mayor KNIL memperoleh mandat dari pemerintah menjadi kepala staf umum dengan tugas menyusun organisasi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan membentuk markas tinggi TKR (MTKR).

Perintah dari pusat menghimbau para mantan KNIL, Peta, Heiho, laskar rakyat, dan lain sebagainya untuk segera mendaftarkan diri menjadi anggota TKR. Oerip Soemohardjo mulai membentuk tatanan organisasi tentara Indonesia dari nol karena sebelumnya Indonesia belum mempunyai tentara.

Langkah awal dalam rangka penyempurnaan organisasi adalah mengganti nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dengan singkatan tetap (TKR). Pergantian nama tersebut terjadi pada tanggal 1 Januari 1946. Pada tanggal 26 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan maklumat Penetapan Pemerintahan No.4/SD Tahun 1946 yang mengubah nama Tentara Keselamatan Rakyat diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) (Riyanto, 2015). Nama tersebut dianggap lebih cocok untuk nama tentara dari sebuah negara yang merdeka.

Dalam usaha menciptakan suatu tentara yang bermutu, Oerip Soemohardjo memerlukan sumber daya manusia yang bermutu pula. Oleh karena itu, perlu dibentuk pendidikan militer untuk melatih para TNI. Maka, atas perintah dari Oerip Soemohardjo berdirilah sebuah Militer Akademi (MA) di Yogyakarta.

Senin, 06 September 2021

Covid dan Curhatan Semasa Pandemi | Adinda Salsabila Risanti


 Covid dan Curhatan Semasa Pandemi

Adinda Salsabila Risanti

 

Pandemi, covid-19, protokol kesehatan, lockdown, dan berbagai istilah lainnya yang sering bertebaran di televisi maupun di semua jejaring media sosial yang kumiliki. Satu tahun ini rasanya bagaikan surga dan neraka semenjak virus corona masuk ke Indonesia bulan Maret tahun lalu. Bagaimana tidak? Secara langsung, aku, sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Jember juga harus merasakan dampak dari virus itu.

Mulai dari kuliah daring, cabut kos, hingga menjadi mahasiswa pengangguran di rumah. Siapa yang tidak merindukan kegiatan di kampus berjalan normal seperti biasa? Surat Kebijakan Rektor yang awalnya hanya memberlakukan kuliah daring selama dua minggu, lama-kelamaan diperpanjang menjadi sebulan hingga berbulan-bulan. Dan sampai sekarang, kami, mahasiswa, masih menunggu kapan keadaan kembali seperti semula.

Secara pribadi, aku sendiri cukup kesulitan dengan efek pandemi, terutama pembelajaran daring. Selain harus berdaptasi lagi, tekanan yang ada di rumah membuatku frustasi. Ekonomi turun, beban mental, dan terkunci di dalam rumah seperti terpenjara. Belum lagi protokol kesehatan yang ketat setiap kali keluar rumah. Namun, memang tiada pilihan lain. Aku pun tidak ingin terjangkit covid. Tidak banyak yang harus dilakukan selain mematuhi protokol kesehatan Pemerintah. (Walau di sisi lain bisa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan quality time bersama keluarga).

Jumlah kasus yang meningkat seiring berjalannya waktu, entah itu di televisi maupun media sosial, sempat membuatku stress. Ditambah orang-orang di rumah sama-sama melimpahkan rasa tertekan mereka satu sama lain. Rasanya ingin lari saja ke planet lain dan memulai hidup baru meskipun aku tahu itu merupakan hal yang mustahil. Dan yang paling parah, perasaan tak berguna karena tidak bisa melakukan apapun selama menjadi mahasiswa. Setiap hari hanya rebahan, kuliah, mengerjakan tugas, membersihkan rumah, dan tidak ada yang spesial dari rutinitas selama pandemi (saat itu jiwa ambisiusku masih mendominasi sih).

Hingga dua-tiga bulan kemudian, ada informasi mengenai open recruitment pengurus Panwaslu dan anggota Sahabat Perpustakaan 2020. Aku pun mencoba peruntunganku di sana. Dan ternyata setelah melalui proses yang cukup panjang, kedua lembaga itu sama-sama menerimaku.

Aku merasa senang, awalnya. Setidaknya aku memiliki kesibukan untuk pengalihan rasa tertekanku. Namun bagaimanapun juga, berorganisasi secara langsung dan daring sensasinya sangat berbeda. Selama daring, yang kulakukan hanyalah duduk di depan laptop, microsoft word yang sudah menjadi teman setiaku sejak lama semakin setia saja menemaniku siang dan malam. Zoom, google meet. Rapat, rapat, dan rapat online terus. Hingga pada suatu titik, karena saking seringnya rapat, tugas sekretaris umum Panwaslu, dan kebodohanku yang tidak pandai mengatur waktu maupun menjaga kesehatan, aku pun jatuh sakit.

Setelah sekian lama, aku kembali terserang tipus. Bila dulu hanya gejalanya, waktu itu aku sudah benar-benar tidak sanggup bahkan untuk melihat ponsel. Kepala pusing seharian, lidah hambar, dan perut terasa tidak nyaman. Semua jadwalku pun berantakan, termasuk jadwal kuliah. Tugas-tugasku banyak yang tidak tersentuh, dan mungkin stress adalah salah satu penyebab diriku sakit.

Mungkin itulah cerita mengenai pengalamanku selama pandemi. Aku yakin banyak orang—mahasiswa—yang mengalami pengalaman yang sama denganku. Harapan kami pun sama; semoga keadaan lekas pulih dan kami dapat beraktivitas seperti sedia kala

Korona | Erika Ananda Lestari


 Korona

Erika Ananda Lestari

 

"SIALAN!"

Korona? Haha, aku tidak yakin itu ada. Bukannya apa, rekayasa ini terlihat sangat jelas. Memang benar rekayasa, rekayasa dari Tuhan pencipta alam semesta tepatnya. Bagaimana aku bisa percaya? Jika semua nya seolah mengada-ngada. Segala kegiatan mendadak dilakukan dari rumah. Namun, disatu sisi tempat liburan perlahan membuka. Para turis lokal pun dengan senang hati berlibur, bukannya sekolah libur? Itu yang dikatakan orang-orang, jika ada yang menyuruh mereka dirumah aja.

Awalnya, aku mengira dirumah saja adalah sebuah jalan ninja. Terobosan menyenangkan dalam hidup. Setelah beberapa waktu lalu, selalu dikenai demam rumah, rindu rumah dan apalah itu. Rasanya, baru saja kemarin aku menangis di dalam kamar pondok pesantren. Dan sekarang, aku sudah bisa 24/7 berada dikamarku, melihat keluargaku. Aku bisa menyendiri di kamar dengan damai, tanpa perlu mendengar para rekan rekan menggibah di pelataran kamar, tanpa perlu lagi cari makan mengantri di kantin pondok. Yah, sangat menyenangkan memang dirumah. Sungguh, sebenarnya pandemi ini menyenangkan. Itulah pendapatku dulu.

Waktu kian berlalu, bahkan usiaku juga bertambah. Tanpa terasa, aku mengawali dua puluh tahun ku ini dengan tetap dirumah saja. Masa dewasa awal ku, kukira akan mudah dengan dirumah. Namun, ternyata itu tidak mudah.

"Buk, samian tau? Aku itu punya sifat bisa aja ngebuat aku bunuh diri lo." Ujar ku.

Aku meletakkan bulpoin biruku, menjeda mengerjakan laporanku dan duduk disamping ibu.

Ibu hanya menatap kearahku. Mungkin dia mengira, aku hanya bercanda.

"Makanya, jadi anak jangan gampang stress. Dipikir dengan kepala dingin apa-apa tuh." Petuah ibu.

Aku hanya tersenyum, tanpa aku sadari awal 20 tahun ini sangat berat. Aku kembali ke kamarku. Waktu sangat celat berlalu seolah mata memejamkan mata. Tiba-tiba saja sudah esok hari. Tiba-tiba saja tugas ku selesai, dan tumbuh tugas baru. Hal itu terus menerus berulang.

Tertekan, sangat. Aku sadar, bahwa aku tertekan. Aku menatap jendela, melihat orang lewat dengan penuh tanya.

"Mereka melihatku seperti apa?"

Hanya itu yang terlintas.

"YA ALLAH, NDUK! Kok makin jerawatan to." ujar seseorang yang teringat jelas di ingatan.

Aku mendekat ke arah kaca, memandangi wajah yang sempat terlupakan bagaimana bentuknya.  Semakin hari, aku kian merasa sakit. Untuk bicara aja sakit. Rasanya seperti tiba-tiba saja wajahku penuh dengan rahmat Tuhan yang kecil imut, yang ingin sekali aku musnahkan.

"Ihh, kakak berdarah." Ujar Adikku.

Dia mengambilkan tisu untukku,

Rupanya, jerawatku meletus haha.

"Akh, sakit." rintihku.

Semakin hari, semakin seperti neraka. Kuhabiskan waktu dirumah, semakin membuat muak. Wajahku penuh kasih sayang Tuhan, tubuhku lelah mengerjakan tugas.

 

Aku muak.

 

Menjadi dewasa sangat sulit, seolah olah aku mengerti semua isi hati orang. Dari matanya, bahkan aku seperti mengerti apa isi pikiran mereka. Semakin sensitif, aku bahkan berpikir dunia tidak adil. Aku sudah cukup patuh, kenapa aku masih mendapat ketidak adilan. Aku menangis setiap malam. Orang-orang melihatku dengan tatapan prihatin. Menyarankan ini itu, dan berakhir catu. Sangat sakit, jerawatku makin parah. Aku merasa dunia sudah berakhir. Semua kukait-kaitkan. Apapun itu.

"Pake ini."

"Aku mah ga pernah skincare an, makanya jangan pake macem macem."

"aku pake ini cocok."

“ Skincare ku air wudhu doing kok.”

“HALAH JA**OK”

Sudah kuturuti semua perkataan orang. Tapi apa? Seolah dunia tidak puas.

Dan lagi lagi, aku bersyukur saat ini pandemi. Aku bisa terus mengurung diri dikamarku.

 

"Nduk, ibuk mau ke rumah tante."

"Gaikut buk." tolak ku.

 

Penolakan terus didapatkan keluargaku, disaat mereka membujukku keluar rumah.

"Aku tidak kuat menghadapi tatapan orang orang bu." Lirih ku. Aku ingin meneriaki ibukku.

"APAKAH KAU TIDAK LIAT? WAJAH ANAKMU INI BURUK RUPA BUK! APA KAU TAK MALU?"

 

Inginku berteriak seperti itu. Aku menangis, dalam diam. Dan akhirnya aku sendiri lagi.

 

Waktu berlalu begitu cepat lagi, liburan hanya kuhabiskan dirumah seperti biasa. Satu semester full aku tidak meninggalkan rumah. Meratabi nasib, sangat konyol dipikir. Hanya gegara jerawat, aku membesar besarkan jadi seperti itu. Haha.

But, you wrong!

Bagi kalian ini sepele, ini lucu. Tapi bagi kami? Sungguh, aku baru sadar mental orang dewasa sangat rapuh. Aku sudah melewati masa berjerawat selama masa puberku, dan aku bahagia saja. Tapi ini apa? Melewati masa jerawat di masa dewasaku kenapa sulit? Bukannya sama saja? Terlihat sama, karena masalahnya hanya jerawat. Yang berbeda, dulu aku menutup telinga dan mata, dan sekarang tanpa aku inginkan telinga dan mataku terbuka lebar.

 

"Umik," Aku mendekati nenekku yang tertidur di kamarnya. Seperti biasa, aku hanya keluar rumah untuk pergi kerumah nenek membereskan rumahnya.

"Mim, umik liat wajahku? Jerawatnya banyak pol, sakit. Aku di kata katain orang terus."

"Umie gak liat nduk, gak keliatan." Jawab nenek.

 

Aku mendekat, dan ternyata umikku masih tidak bisa melihatnya. Ngeblur, wajahku terlihat seperti sudah diberi filter penghalus dimata umikku.

 

"Potong kan kuku ku aja." Ujar umikku. Aku mendekat, memotong kuku umikku menjadi keseharian dikala aku kesana. Setidakknya, aku mau keluar rumah.

 

Aku tidak menyangka, hari itu hari terakhir aku menggunting kuku nenekku. 10 taun wanita itu berjuang melawan penyakit diabetnya. Bahkan kurasa dia sudah sehat, dia bahkan selalu tersenyum. Aku pingsan. Iya, aku pingsan, aku menangis karena tidak bisa ada disampingnya kala itu.

Wanita panutanku sudah pergi. Wanita terkuat, yang sangat kuat. Yang bisa mandiri, menghidupi dirinya sendiri. Wanita yang sangat kuat, bahkan saat lelakinya sudah menghianati. Wanita yang kuat, bahkan saat anak tersayang nya mencurangi.

 

"SIALAN!"

Lagi-lagi, aku menyalahkan dunia ini. Ini tidak adil, dia bilang akan memilihkan calon suami yang tampan untukku. Tapi ini apa? Dia meninggalkanku.

 Lagi lagi aku bersyukur akan Korona, setidaknya aku bisa menemani sisa waktu nenek sebelum dia pergi. Melihatnya mandi, mengganti popoknya. Bahkan berburu popok diskon di penjuru minimarket. Setidaknya aku tidak sedang berada jauh di kampus. Aku bersyukur bisa dirumah aja.

 

Awalnya, aku tidak percaya mental illnes. Dan sekarang aku percaya. Aku percaya ketika aku mengalami itu.

 

"Gausah peduliin omongan orang, kata ayah kamu cantik." Ujar ayahku.

Dia tau, aku tengah deoresi berat. Jerawat yang tak kunjung sembuh, nenek yang meninggalkanku. Aku kian bangkit, aku tidak malu untuk keluar dengan teman. Aku juga tidak malu harus menyapu halamn depan. Karena, penantian ku berhasil. Wajahku kian membaik, walau memang masih terlihat buruk. Tapi, hanya aku yang tau kondisiku sendiri. Ibu ayah bahkan adikku tersenyum senang melihat keberhasilanku.

Namun.....

"Hih, wajahmu sama ibukmu aja bersihan wajah ibukmu!"

Satu ucapan, hanya satu ucapan dari mulut seseorang. Bisa menghancurkan diriku lagi.

 

Aku menangis, menangis lagi. Kapan penderitaan ku berlalu.

Tak hanya itu, aku kembali menahan pilu. Omongan orang terus menerus menyesakkan.

Aku tau aku gemuk....

Aku tau aku hitam...

Aku tau aku jerawatan....

Aku tau aku jelek....

 

Aku sudah tau, tak perlu kalian memberitahu.

 

Aku tidak normal, iya aku tau.

 

"SIALAN!"

Kata itu terucap lagi. Sudah setaun berlalu. Dan aku tetap dirumah saja. Aku memunggu begitu lama di puskesmas. Dan apa? Tidak ada apa apa! Aku malah disuruh membeli obat lagi dan lagi.

"Kalau gak haid haid, nanti mandul."

"Harus priksa, kamu ga takut diperutmu ada apa apa?"

 

Lagi lagi, omongan orang menghantui tidurku. Mimpi buruk sudah jadi rutinitas harian ku.

Stress nggak? Iyalah, masa enggak!

Disaat orang lainberlomba ingin glow up. Jujur, aku juga ingin. Tapi untuk kali ini, aku hanya ingin mengalamisiklus haid teratur dihidupku. Aku lelah, meminum obat, aku lelah meminum berbagai macam jamu.

Lagi-lagi, dewasa ini sangat menggangu. Hormonal ku semakin kacau. Kukira, oenderitaan akan berakhir sebentar lagi. Ternyata bertambah. Aku menjadi semakin khawatir sendiri. Haha, overthinking lagi, dan lagi.

"Hahaha, katanya diet. Mana! Tetep gemuk tu."

"Lumayan apanya, tetep aja jerawatan tuh."

 

Ucapan membekas, sungguh. Bukan aku tidak bersyukur, aku bersyukur. Namun aku tidak mengerti mengapa hatiku sesakit ini.

 

"SIALAN!"

Pandemi ini menyiksa. Lelah hati, pikiran, raga rasanya. Padahal hanya dirumahaja. Aku tidak mengerti, nasibku bagaimana jika pandemi ini tidak ada.

Lagi-lagi, semua gara gara korona. Membayangkan aku menikah dengan siapa, disaat umurku sudah cukup nanti bahkan ga ada pikiran sama sekali. Ya gimana, aku hanya sibuk overthinking dirumah. Teman-teman kian berangsur sudah menikah. Hal itu bahkan tidak terpikir olehku, yang bahkan masih menunggu dilancarkan siklus haidnya.

 

Kadang berpikir, bagaimana aku bertemu jodohku? Apa ada orang yang tak melihat betapa buruknya fisikku? Jika umik masih ada, mungkin dia akan semangat mencarikan ku calon. Melihat pada circel nenekku yang luas, mungkin saja aku bisa mendapat pria tampan yang menerima buruk rupa seperti ku.

Aku jadi rindu umikku, dia wanita yang sangat tegas. Wanita yang aku idolakan selain ibuku. Ibuku juga patut diidolakan juga si. Biasanya, ada umik yang akan menengahi masalahku. Membelaku dan mencari jalan keluar. Aku sudah terlalu dihina belakangan ini. Pepatah tentang mulutmu harimau mu itu benar. Satu ucapan orang sangat memengaruhi. Well, jika aku dalam keadaan baik, aku pasti tidak akan apa-apa mendapat perkataan buruk dari orang. Tinggal gausah dipercaya, beres. Tapi, disini, kali ini aku sedang tidak baik-baik saja. Mentalku terguncang, hati ku melemah, dan beban menjadi dewasa menjadi berat.

Mental seseorang tidak sebercanda itu. Fiersa Besari pernah berkata, pada lirik lagunya yang berjudul Pelukku untuk Pelikmu.

Kadang kala tak mengapa……

Untuk tak baik-baik saja…….

Kita hanyalah manusia……

Wajar bila tak sempurna……

Saat kau erasa gundah………

Lihat hatimu percayalah……

Segala sesuatu yang pelik……

Bisa diringankan dengan peluk…..

Aku tidak buruk rupa. Jerawat bukan akhir segalanya. Hormonal akan sembuh dengan usaha. Aku sadar, tapi rasa depresi ku tetap menang. Dan akhirnya pun, aku hanya akan menangisi takdir.

 

Dititik paling depresi terus berlanjut. Wah, ingin sekali kubungkam candaan gila orang-orang. Gausah basa basi, jika akhirnya basi sekali.

 

Sayatan sayatan terus membekas dihati. Manusia memang yang paling menakutkan didunia. Hanya perkataan guyonan mereka saja sudah berpengaruh mengacak ngacak diri ini. Tak terasa, sayatan itu semakin sakit. Tanpa sadar, sayatan itu ternyata membasahi seluruh seluruh tangan. Penglihatanku merah, aku tidak sadar.

Yang sakit hatiku, kenapa ini terasa sangat nyata?

Kenapa bisa ini terasa cair.

Kenapa penggaris besi bisa menancap di tanganku? Sakit, sangat sakit sekali ternyata.

"SIALAN."

*******

"Apa ini?"

Gadis itu menutup buku diari dinakas. Dia bertanya-tanya, siapa tokoh aku dicerita itu.

"bunda bunda, ini buku siapa? Korona itu apa?" Tanya gadis kecil itu menginjak remaja itu.

"Dari mana kau dapat ini?" jawab wanita diusia akhir 30an.

"Di balik lemari." Ujar gadis itu.

 

Sang ibu melihat, membuka halaman demi halaman buku yang tak asing.

"Kamu jemput Aji aja sana, adikmu kalau udah main di rumah om Lukas suka lupa waktu."

"Aku kan tanya ini bunda, jawab dulu." ujar remaja itu.

“iya, nanti. Udah sana, keburu sore,”

“Hmm, iya deh bun.”

 

Wanita yang dipanggil bunda itu tersenyum. Tersenyum sendu. Ia menatap buku kusam itu.

"Terimakasih korona, sudah ada menghiasi hidupku. Aku bisa mempunyai pengalaman menarikpada masamu." Wanita itu tersenyum.

Ia mengelus, pergelangan tangannya.

"Sakit ternyata." Wanita itu tertawa.

 

Dia teringat masa lalu. Katanya,

"Tuliskan penderitaanmu, dan bacalah lagi nanti jika kamu sudah berhasil bahagia."

 

"Yang, Aji mana?" Tanya pria dengan wajah bantal baru bangun tidur. Lamunanku buyar, mendengar sapaan suara itu.

"Di rumah bang Lukas, kok bangun?"

"Eh buku mu dulu?" pria itu menunjuk buku kusam kuno itu.

Wanita itu mengangguk, seraya tersenyum.

"Aku merindukan korona." Ujar Wanita itu.

"Kau merindukan korona, atau laki laki tampan yang kau temui diakhir korona?" Tanyanya.

"Aku sudah bosan melihat laki-laki itu." Jawab nya.

"Tapi aku tau, kau sangat mencintai nya bukan?"

"Pede amat si Pak."

"Iya lah. Jika aku gak percaya diri. Mungkin aku nggak akan bisa punya dua anak dengan mu seperti sekarang."  Pria itu merangkul bahu istrinya, seraya merampas buku dari genggaman sang istri.

 

Wanita itu menatap suaminya. Benar, pria itu suaminya. Laki-laki yang ia temui di akhir korona.

Pria itu mangambil alih buku usang itu.

"Jangan Jen!"

"Liat!"

Pria itu menatap istrinya.

"Darah apa ini maksudanya?" Tanya nya, saat membaca akhir cerita

"Gapapa kalik Jen, itu dulu biatnya biar mendramatisir gitu ilah." Jawab Sang Istri.

"Oh, sudrun! Dasar! Kebanyakan nonton drama gini nih."

"Apaan sih Jeno! Lagian ya, kalau aku ga liat drama, ga liat oppa oppa! Ga kira aku nikah ama kamu sekarang. Palingan udah tertekan bunuh diri dulu aku. Untung aja ada oppa oppa." Balas wanita itu sombong.

"HEH?"

Tamat

 

Apapun masalahmu, kamu tidak sendiri. Masih banyak orang yang menyayangimu, dan melihatmu dengan cara berbeda. Apapun masalah mu, itu akan segera berlalu, jangan pernah berpikir untuk putus asa mengakhiri hidup.

Semoga pandemi segera berlalu ^o^

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...