Sabtu, 24 September 2022

Malaikat Tak Bersayap I Latifa Nur Natasyabila

 IDENTITAS PENULIS

Nama : Latifa Nur Natasyabila

Divisi : Kominfo

Jenis   : Puisi

 

MALAIKAT TAK BERSAYAP

 

Engkaulah pelita dalam hidupku

Menemaniku di kala aku kecil hingga dewasa

Mencurahkan kasihmu yang tak lekang oleh waktu

Membawaku ke dalam peliknya dunia

 

Tak jarang ku lukis guratan sedih di wajahmu

Tak jarang engkau terluka karena sikapku

Juga karena ucapanku

Beribu kata maaf tak kan bisa menghapus sedihmu

 

Memilikimu adalah suatu anugerah

Dikasihi olehmu adalah impian setiap manusia

Kehilanganmu adalah bencana

Aku tak kan sanggup membayangkannya

 

Engkau adalah satu-satunya yang bertahan

Ketika aku ditinggalkan

Ketika aku tak dihiraukan

Ketika aku diasingkan oleh manusia

 

Pintaku pada Tuhan

Aku ingin selalu bersamamu

Aku ingin mengukir senyuman di bibirmu

Aku ingin tertawa bersamamu selalu ibu

Kenangan yang Menjadi Lara I Muhyi Aditya Supratman

IDENTITAS PENULIS

Nama : Muhyi Aditya Supratman

Divisi : Literasi

Jenis   : Puisi

 

KENANGAN YANG MENJADI LARA

Pada setiap langkah yang menorehkan perasaan yang telah mati. Terdapat kamu yang menorehkan duka dalam sela – sela air mata yang bermula dari hati – hati. Titik pertemuan yang tidak pernah aku nanti. Setelahnya perasaan ini dimulai dengan hubungan yang telah kita sepakati. Perasaan yang sama menghantarkan kita pada hal – hal yang tidak pernah kita ratapi. Menjelma dalam sepi. Berbuah temu yang saling kita nanti. Dan, ada kamu disini.

 

Perjalanan hubungan ini adalah tentang kita dan cinta. Pada sejauh mana kita pernah bersama, aku pernah menjadi deru nafas yang saling memantapkan mata. Lalu menorehkan perasaan yang sama. Sebelum akhirnya memberikan luka. Kamu yang kujaga sekuat tenaga, ternyata memberikan lara paling duka. Masing – masing dari kita saling membunuh air mata. Tanpa kita sadari, kamu meruntuhkan logika.

 

Aku yang mengangkatmu ketika berhadapan dengan masa lalu mu yang pelik. Merindukanmu dengan baik. menjauhkan hal – hal buruk. Kepedihan telah menghantarkan kita pada reruntuhan bangunan yang aku ratapi. Kenanganmu tidak benar – benar menjadi baik bagi diriku. Lara yang menimpa, aku tetap dengan tetes air mata yang sempat menjadi teman perjalanan selama kamu pergi dan menginggali.

 

Kenangan kita indah. Begitu menawan melihatmu melalui instanstory. Ada hati yang sempat aku ingin tetap kuberi racun dalam meruntuhkan logika tentang wanita dan cinta. Karena, seutuhnya tidak ada yang benar – benar yang mencintaimu selain dirimu sendiri. melihatmu sekarang adalah mimpi tentang jarak yang menanti. Ujung cerita yang berupa perasaan yang kubiarkan untuk selamanya mati.

 

Di ujung penantian paling luka, ada kamu yang membuatku mati rasa akan sosok cinta. Tapi, aku tidak ingin meyerah. Karena sejatinya, wanita diciptakan untuk saling melengkapi kehidupan di dunia.


 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...