Jumat, 31 Desember 2021

Bunga dari Tuan | Salsabila

 Bunga dari Tuan

Salsabila

Ketika aku mencoba menggapai Tuan 
Itu seperti mimpi yang telah lama hilang 
Kemanapun Tuan pergi diantara sinar bintang yang memudar 
Puan tidak bisa menyembunyikan bunga yang tumbuh 
Puan akan mendekat dan tidak ingin menyembunyikannya lagi 
Tidak masalah jika bunga itu berakhir gugur dan tidak mekar 

Setidaknya pernah ada bunga yang tumbuh karena Tuan 
Dan setiap kali Puan bersua tentang puisi untuk Tuan 
Puan ingin mematri dalam dalam 
Agar meski memudar, masih tersisa untuk Puan kenang 
Ketahuilah Puan pernah membiarkan kupu kupu untuk hidup 
Di dalam taman bunga yang Tuan hadirkan 

Kini, Tuan telah membawa pergi bunga beserta kupu kupu itu 
Berlayar jauh dibalik awan yang berdesakan 
Puan tak dapat menjangkaunya lagi, itu terlalu sesak
Tetapi puan tetap mengenang Tuan, meski Tuan tak begitu 
Selalu, selalu, selalu, selalu 
Meski itu menyakitkan 

Teduh | Putri Nadilla

Teduh

Putri Nadilla

 Malam

Ketika angin berhembus ringan

Tepukan punggung yang pelan

Menyanyi lirih, manis tatapan


Dipundaknya

Terdapat makhluk mungil nan lucu

Merengek sendu 

Ia tak suka berada didalam

Kata nenek ia ingin angin yang segar


Ibu

Ratapan jiwa yang menembus angan

Menggendong si buah hati dipelukan

Siang malam is tak paham

Atau bahkan tidak peduli?


Satu orang penuh kasih sayang

Harapanya setinggi bulan

Untuk sang buah hati tersayang

Meski lelah ia hiraukan


Nyanyian nya meneduhkan

Tangisanya mengiris relung dadamu

Memang terkadang ia tak pandai menunjukkan

Dalam dirinya, banyak kata yang tak tersampaikan


Ibu

Kau belahan jiwa

Kau air dalam hausnya

Kau pelampung dalam tenggelamnya


Ibu

Kau yang tersayang


Opini Masyarakat Konsumsi, Tanda dan Makna Sebagai Bagian dari Eksistensi Diri | Muhyi Aditya Supratman

 Opini Masyarakat Konsumsi, Tanda dan Makna Sebagai Bagian dari Eksistensi Diri

Muhyi Aditya Supratman

    Globalisasi dan pergerakan teknologi yang cepat telah menempatkan budaya sebagai salah satu cara dalam memodifikasi dan menampilkan wajah baru dalam kerangka inovasi yang diciptakan guna memperbesar keuntungan semata. Salah satunya adalah budaya konsumsi. Konsep budaya konsumsi merupakan konsep yang diciptakan untuk menjelaskan bagaimana tanda dan makna menjadi hidup ketika realitas tersebut dihadapkan pada kenyataan di masyarakat. Mengutip website berita di liputan6.com mengenai tren belanja online dengan menggunakan E – Comerse dunia sentuh Rp.60. 900 Triliun di 2021. Data penelitian terbaru yang di publikasi oleh Adobe Digital Economy Index mencatat transaksi E- comerse ditahun 2021 akan mencapai SD 4,2 triliun atau sekitar Rp 60.900 triliun. Budaya konsumsi telah menjadi realitas untuk membantu manusia dalam kegiatan sekecil apapun. Termasuk membeli suatu produk tanpa didasarirasionalisasi kegunaan produk yang dibeli tersebut.

    (Wolny, 2017) Kelebihan tanda dan makna akan berakibat terhadap penipisan realitas. Di dunia utopis dan dunia marxisme kita di pertemukan oleh sebuah realitas yang membantu kita dalam kegiatan sekecil apapun. Dunia beroperasi pada tatanan makna dan petanda sehingga semakin buta terhadap tindakan simbolis. Simulacra merupakan istilah yang di gunakan Jean Baudrillard untuk menunjukkan kemiripan atau kesamaan. Simulacrum mengacu terhadap film, gambar, fotografi,dan media lainnya dimana kenyataan yang nyata tidak lagi bisa di tandai sedangkan simulacrum dapat di tandai. Kapitalisme hadir untuk menunjukkan eksistensinya sebagai ruang inovasi yang menciptakan keberagaman benda dan kemudahan di kehidupan manusia guna memperbesar keuntungan yang diperoleh. Termasuk dengan menggunakan komodifikasi produk sebagai salah satu cara mendapatkan hasil yang lebih besar. Disamping itu, kapitalisme yang semakin sempurna menciptakan disparitas dan kesenjangan akses bagi sebagian masyarakat. Mereka yang tidak memiliki akses materi hanya menjadi bagian kecil dari penikmat produk melalui konsumsi tanda demi kepuasan batin.

    (Bakti et al., 2019) mengutip pendapat Baudrillard bahwa konsumsi memiliki hubungan dengan sistem tanda dan semiotika. Pada proses belanja online, individu tidak menyadari bahwa dirinya telah mengkonsumsi tanda dan makna yang hendak dihadirkan dalam kerangka budaya konsumsi. Oleh karena itu, setiap individu menampilkan eksistensi dirinya melalui komoditas – komoditas yang telah menampilkan tanda dan makna. Slogan merupakan kode untuk menunjukkan keberadaan dirinya kepada orang lain. Termasuk slogan Saya berbelanja maka saya ada . Budaya konsumerisme menciptakan tanda sebagai strategi untuk menarik para konsumennya dalam memaknai barang yang dihasilkan. Dengan kata lain, kode menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan budaya konsumerisme di masyarakat. Sebagai bagian dari pengembangan kapitalisme yang berlanjut, proses penerimaan budaya menjadi salah satu peluang untuk memberikan jalan dalam proses memperbesar keuntungan secara berkelanjutan. Budaya konsumsi menjadi salah satu faktor dalam menyokong kapitalisme dalam kerangka kebudayaan yang dikomodifikasi. Setiap individu mencari eksistensinya masing – masing melalui konsumsi tanda yang dihadapkan. Disamping itu, disparitas dan ruang keberjarakan antara pemilik kuasa produksi dan para penikmat produksi terlihat jelas ketika para aktor yang tidak memiliki relasi dan kekuasaan produksi hanya bisa menikmati benda dan sesuatu yang diproduksi demi keberuntungan proses kapitalisme. 

    Sistematika yang lebih rinci dapat dilihat melalui kerangka aplikasi belanja online ketika tanda yang berupa foto yang menarik menciptakan keingininan individu dalam melakukan konsep konsumerisme. Individu tidak menyadari bahwa ia telah mengkonsumsi tanda dalam aplikasi digital di smartphone nya sehingga dalam konteks inilah budaya konsumerisme dan kapitalisme menciptakan ruang gerak yang dapat dikatakan menjadi satu dimensi karena kapitalisme dengan jiwa inovaasinya telah menghadirkan difusi inovasi yang menciptakan penerimaan ideologi baru di masyarakat. Menarik untuk dikaji karena berhadapan dengan konteks dunia simulasi yang memiliki keterkaitan dengan bagaimana tanda dan makna memiliki fungsi dan tujuan dengan jalan inovasi menuju kapitalisme modern yang semakin bergerak melaju, namun disisi lain meninggalkan segudang permasalahan mengwnai konsep konsumerisme dan kemiskinan batin ketika individu dan masyarakat hanya bisa mengkonsumsi barang tanpa ia mengetahui bagaimana barang tersebut di produksi dan didistribusikan melalui proses internalisasi dan hegemoni.




DAFTAR PUSTAKA

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4544527/belanja-online-jadi-tren-transaksi-ecommerce-dunia-sentuh-rp-60900-triliun-di-2021

Bakti, I. S., Nirzalin, N., & Alwi, A. (2019). Konsumerisme dalam Perspektif Jean Baudrillard. Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi), 13(2), 147– 166. https://doi.org/10.24815/jsu.v13i2.15925

Wolny, R. W. (2017). Hiperrealitas dan Simulacrum : Jean Baudrillard dan Postmodernisme Eropa. 4138, 75–83.

Menuju Keabadian | Ridka Khairunnisa

 Menuju Keabadian

Ridka Khairunnisa


    Saftya adalah gadis yang jarang tersenyum. Ia terlihat sangat sedih setiap hari. Karimah, teman sekelasnya, sangat mengkhawatirkan keadaannya. Pada suatu hari, Saftya tidak pergi ke sekolah. Dan keesokan harinya, ia terlambat.

    Ia tidak mengatakan apa-apa kepada guru atau teman-temannya. Ia diam sepanjang hari. Setelah kelas, Ia kembali ke rumahnya dengan tergesa-gesa. Karimah memutuskan untuk mengikutinya sehingga Ia tahu apa masalahnya.

Setelah menemukan Saftya, Karimah terkejut. Ia melihat Saftya duduk tak berdaya di kuburan. Lalu Karimah mendekati Saftya. Ia melihat Saftya menangis di samping makam kakaknya.

    Karimah duduk disamping Saftya dan memeluknya. Ia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karimah meminta Saftya untuk menceritakan masalahnya dan tidak pernah menyembunyikannya. Setelah hari itu, mereka menjadi sahabat sejati.

Pelajar Bertopeng | Luluk Lailatul Zahiroh

 Pelajar Bertopeng

Luluk Lailatul Zahiroh

Wahai mentari yang bersinar
Di ufuk timur, tiada banding
Kaulah sang pelajar,
Yang berlindung dibalik dinding.

Tegakah kau seperti itu?
Membohongi diri, guru, serta ayah dan ibumu.
Mampukah kau keluar dari perbuatan itu?
Menghapus segala dosa dalam diri, dan kalbu mu.

Wahai sang pelajar..
Janganlah engkau merasa pintar,
Janganlah engkau merasa benar,
Sesungguhnya engkau masih lapar,
Sesungguhnya engkau masih perlu diajar.
Oleh guru sang pengajar.

Indonesia dan Pemuda-Pemudinya | Dina Dwi

 Indonesia dan Pemuda-Pemudinya

Dina Dwi

Lebih dari 76 tahun yang lalu,
Penjelajah asing datang untuk bertamu,
Bercengkerama riang tanpa ada maksud tertentu
Hanya berdagang guna mendapat kepingan logam berkilau

Namun, semuanya hanya berjalan dalam beberapa waktu,
Penjelajah pun kian berubah menjadi penjajah
Menjarah harta benda hingga nyawa dengan buas
Tanpa peduli jeritan mereka yang tertindas

Para pahlawan dengan sigap bertarung tanpa ampun
Demi membawa secercah harapan kebebasan tanpa beban
Hingga kini, bendera kebangsaan dapat berkibar setiap ruang apa pun
Tanda pertempuran telah membuahkan hasil berwujud kemenangan

Namun sayang,
Perjuangan itu pun belumlah usai
Para generasi muda perlu ambil peran
Demi wujudkan kemerdekaan untuk tetap bisa dirasa

Mari para pemuda harapan negeri
Singsingkan lengan untuk mengabdi
Sikap nasionalis mulai tanamkan dalam hati
Untuk membawa Indonesia jaya abadi

                                                                                                Dina Dwi Septya Ningrum

Serpihan Harapan | Yuliana

 Serpihan Harapan

Yuliana

Hari demi hari telah berlalu sudah

Kemana kehidupan ini akan melangkah

Lika- liku kehidupan yang penuh dengan sejarah

Harapan harus kian membarah

Kini saatnya sudah berproses diri

Berbenah untuk menggapai mimpi

Harapan yang selalu ku bawa sampai hayat ini

Bukti kerasnya kehidupan di jaman ini

Oh Tuhan...

Akankah harapan dalam sebuah kehidupan ini bukan mimpi

Begitu kerasnya hidup

Apalah daya harapan di dalam kehidupan haruslah selalu ada

Meskipun itu hanya sebagian serpihan dari sebuah harapan

Kehidupan ini sangatlah kesah

Apalah daya diri ini hanya orang susah

Harapan... harapan yang selalu digengam

Meski itu semua serpihan dari sebuah harapan

Kamis, 30 Desember 2021

[Review] Laut Bercerita | Nur Fitriana Tyas Ika Sari

 

REVIEW BUKU

Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori

Nur Fitriana Tyas Ika Sari

    Ingin tau cerita tentang kondisi zaman dulu dimana buku/bahan bacaan yang mengkritik pemerintah dilarang? Yuk telusuri cerita ini... 
  1. Judul Buku : Laut Bercerita 
  2. Pengarang : Leila S Chudori 
  3. Kategori : buku fiksi 
  4. ISBN : 978-602-424-694-5 
  5. Ukuran : 13,5 cm x 20 cm 
  6. Halaman : 379 
  7. Tahun Terbit : 2017 
  8. Harga : 80.000 
    Di halaman daftar isi, bagian novel ini terbagi menjadi tiga sudut pandang yaitu sudut pandang dari biru laut sebagai tokoh utama yang mengalami peristiwa tersebut, adiknya biru laut yang bernama Asmara Jati dan di akhir bagian prolog dan epilog terdapat sudut pandang dari penulisnya. 

    Di bagian prolog, saya sudah dibawa tegang dengan alur yang langsung menuju ending. Rangkaian kata-kata tersebut membuat saya terhenyak bahwa peristiwa menuju kematian seorang diri ditambah mengalami penyiksaan fisik dan batin membuat penggambaran dari tokoh utama (biru laut) yang sungguh menyedihkan. Penggambaran dari kata-kata terkait kesedihan tokoh membayangi saya dengan kejadian sebenarnya. 

    Di bagian ke dua, dari sudut pandang biru laut menceritakan kilas balik peristiwa tersebut, cerita dari kehidupannya sendiri, bagaimana dia bisa mendirikan perkumpulan pembaca dan tukang pengkritik dengan rezim orde baru pemerintah. Saya suka bagaimana penggambaran tentang kehidupan biru laut yang kaya akan pengetahuan khususnya mengenai sastra. Di sini penulis tidak hanya menampilkan atau menuliskan beberapa bait dari puisi/artikel saja tetapi ia juga menjelaskan maknanya yang membuat saya sebagai pembaca awam kurang lebih mengerti, karena jujur bagi saya bahasan di novel ini cukup berat. Juga saya suka dari tokoh-tokoh pembantu temannya biru laut yang tidak hanya berbahasa Indonesia saja tetapi bahasa Jawa dan Sunda juga ada. 

    Diceritakan bahwa otoritas Bapak Soeharto di Rezim Orde Baru selebihnya menyiksa masyarakat. Hal itu di dapat dari cerita masyarakat dalam bentuk puisi dan artikel. Sejujurnya saya sangat setuju bahwa rezim orde baru saat itu benar-benar terbilang kejam. Di sini penulis menyebutkan tokoh penulis yang saya juga baru tau. Tidak lupa penulis menggambarkan dengan detail bagaimana kisah perjalanan mereka saat di nilai memberontak terhadap pemerintah, tetapi saya berpendapat bahwa alurnya terlalu cepat. 

    Di bagian sudut pandang, asmara jati dijelaskan bahwa sosok biru laut merupakan sosok yang membentuk mereka. Penulis menggambarkan peran biru laut di keluarga mereka dengan menyentuh. Di bagian ini juga dijelaskan bagaimana kehidupan dari mereka yang telah hilang entah kemana. Honestly, saya kurang puas dengan endingnya tetapi setelah saya pikir untuk keadilan di zaman dahulu hal itu sudah cukup sebanding. 

    Cerita ini saya saranin dibaca bukan untuk kejar target ya, karena harus banyak fokus dengan rentetan alur yang cepat dan cukup untuk membuat kepikiran setelah membacanya...

Buku Cetak vs E-Book | Rofi Atin Khanifah

 Buku  Cetak VS E-Book


Rofi Atin Khanifah


        Menurut Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 Pengertian buku teks adalah sumber pembelajaran utama untuk mencapai kompetensi dasar dan kompetensi inti dan dinyatakan layak oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk digunakan pada satuan pendidikan. Sedangkan E-book adalah sebuah versi elektronik dari sebuah buku tercetak yang dapat dibaca pada sebuah personal komputer atau alat lain yang didesain khusus untuk membaca e-book (Danang, 2009).

    Seiring berkembangnya teknologi masyarakat mulai banyak yang membandingbandingkan keefektifan buku cetak dan ebook. Beberapa orang menganggap bahwa membaca buku cetak lebih nyaman, dan sebagian orang lainnya menganggap bahwa atau ebook lebih mudah dibawa kemana-mana atau praktis. Namun, menurut saya sebenarnya buku cetak dan ebook sama saja, masing-masing ada porsi kelebihan dan kekurangan sendiri. Bagi saya yang paling penting adalah isi dari buku yang kita baca.

    Memang terkadang, dalam kasus tertentu buku cetak tidak dapat tergantikan oleh ebook. Salah satunya, yaitu sensasi dalam membaca buku cetak yang tidak dapat tergantikan oleh ebook, yaitu aroma buku yang katanya dapat menyegarkan, selain itu bagi saya dengan membeli buku cetak kita lebih bisa mengapresiasi karya penulis, dan sangat sayang jika harus kehilangan buku yang bagus bila ternyata ebook di laptop kita tidak sengaja terhapus. Sedangkan ebook sendiri juga memiliki kelebihan yang tidak kalah dengan buku cetak, yaitu:

  1.  Praktis dan dapat dibawa kemana saja
  2. Mudah menerjemahkan apabila ketika membaca kita menemukan kosa kata baru, yaitu hanya dengan memblok tulisan atau frasa tersebut dan secara ajaib akan muncul pop up terjemahan. 
  3. Mempermudah kita membuat catatan highlight frasa yang penting dengan aesthetic. Sedangkan jika di buku cetak saya biasa menggunakan stabilo atau bolpoin, yang tentunya lebih merepotkan. 
  4. Tersingkronisasi dengan berbagai macam perangkat.
  5. Melalui aplikasi ebook, kita dengan mudah dapat berpindah perangkat sesuai kebutuhan kita. 
    Sebagai gambaran, biasanya saya mencari referensi tugas kuliah dengan membaca menggunakan HP, saat saya sedang bersantai, namun saat akan mengutip beberapa kalimat saya beralih membaca ebook di perangkat laptop atau komputer. 

Tangisan Sampah | Rahmat Hidayat


Tangisan Sampah

Rahmat Hidayat


 


 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...