Sabtu, 28 Juni 2025

SEKAR Edisi Juni 2025 | Angan atau Akan? karya Kholifatun Nisa'

 Angan atau Akan?

Karya Kholifatun Nisa'


Terkadang dalam sunyi banyak angin menerka

Semua orang berhak mempunyai angan bukan?

Hela nafas bahkan pikiran diselimuti oleh angan

 

Namun di sudut hati, ada bisikan merayu

Suara cemas bergaung, tak ada hentinya

"Bagaimana jika?", "Andai tak mampu?"

 

Pikiran berkelindan, mengunci diri

Tangan terbuka, menyambut peluang

Mata awas menatap, tiap rintangan

 

Bukan takut jatuh, bukan pula bimbang

Tapi bangkit lagi, dengan semangat juang

Angan itu, ada di genggaman

 

Bukan takdir semata, tapi sebuah pilihan

Bangunlah kini, raihlah angan

Dengan tekad membaja, dan keyakinan

SEKAR Edisi Juni 2025 | Kelopak Yang Tak Sempat Mekar karya Navira Monica Sari

 Kelopak Yang Tak Sempat Mekar

Karya Navira Monica Sari


Sinopsis

Allice diam-diam mengidap Hanahaki, penyakit yang membuatnya memuntahkan kelopak bunga karena cinta tak terbalas pada sahabatnya, Arka. Meski tahu cintanya takkan pernah dibalas, ia memilih menyimpannya dalam diam, meski tubuhnya semakin lemah. Ketika akhirnya ia mengungkapkan segalanya, Arka tak bisa menjanjikan apa pun selain simpati. Allice pun pergi selamanya, meninggalkan dunia dengan ladang Camellia di dadanya dan cinta yang tak sempat mekar.

Karya Lengkap

Musim semi datang dengan pelan, seolah enggan menyentuh terlalu cepat luka-luka yang belum sembuh dari musim sebelumnya. Di sudut bangku ketiga, tepat di bawah jendela yang menghadap taman belakang sekolah, Allice duduk diam, memeluk udara yang semakin lembut tapi tak cukup hangat untuk menghapus getir di dadanya.

Hening bukan hal baru baginya, tapi sejak sebulan terakhir, hening menjadi satu-satunya ruang di mana ia merasa aman. Suara teman-teman yang riuh di kelas, denting lonceng masuk, bahkan suara Arka yang khas saat menyebut namanya, semuanya mulai terdengar seperti gema di dalam lorong panjang yang semakin menjauh.

Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia merasakan gatal halus di tenggorokan. Ia tahu tanda-tandanya. Rasa perih yang tak seperti flu, bukan alergi, dan bukan sekadar kelelahan. Ia buru-buru meraih sapu tangan putih dari tasnya, menutup mulutnya ketika batuk kecil mulai keluar.

Dan saat ia melihat ke dalam kain itu, di sanalah kelopaknya.

Merah muda. Lembut. Lembab oleh darah yang tipis tapi jelas.

Ia menahan napas, seperti biasa. Seolah jika ia menolak mengakui kehadiran kelopak itu, penyakitnya bisa disangkal. Tapi tidak kali ini. Tidak setelah dua minggu berturut-turut ia memuntahkan bunga setiap malam dan bangun dengan dada sesak, seolah ada taman yang tumbuh di antara tulang rusuknya, tapi tak diberi cukup ruang untuk bernapas.

---

Hanahaki.

Penyakit fiktif, katanya. Penyakit dalam cerita, dongeng, fiksi Jepang dan Korea, tentang orang-orang yang terlalu lama mencintai dalam diam. Tapi bagi Allice, ini nyata. Terlalu nyata. Ia hidup dalam tubuhnya, dalam paru-parunya, dalam setiap kata yang tak pernah ia ucapkan pada Arka.

Arka.

Ia bukan bintang yang bersinar mencolok, bukan ketua OSIS, bukan atlet, bukan pusat perhatian. Tapi ia adalah matahari bagi Allice hangat, konstan, dan tak sadar bahwa dirinya menyinari semesta seseorang dengan cara paling sunyi. Cara Arka menyentuh dunia dengan kameranya, menangkap hal-hal kecil yang orang lain anggap sepele seperti bayangan daun di dinding, atau embun di tepi jendela membuat Allice percaya bahwa cinta bisa tumbuh dalam senyap, dan tetap bermakna.

Mereka berteman. Cukup dekat untuk saling sapa, tertawa bersama saat kerja kelompok, bahkan kadang pulang bareng jika jalan searah. Tapi tidak pernah lebih dari itu. Karena Arka sudah menyukai orang lain Reva. Dan Reva sempurna dalam cara yang Allice tahu tak mungkin bisa ia gantikan.

Sejak kelopak pertama muncul, dunia Allice mulai mengecil.

Ia berhenti mengikuti kegiatan sekolah. Menolak ajakan teman-teman. Lebih banyak tidur, atau duduk memandangi Camellia dari jendela, menghitung berapa kelopak yang akan ia muntahkan malam ini. Kadang, saat tubuhnya terlalu lemah, ibunya yang membantu membersihkan lantai menyapu kelopak dan darah, seperti menyapu sisa mimpi yang gagal.

“Allice, ini tidak bisa dibiarkan,” kata ibunya suatu malam, suara nyaris pecah. “Tolong jalani operasi. Kita bisa ke Jakarta. Ada rumah sakit yang paham tentang ini.”

Allice hanya memejam. Tangannya yang kurus menggenggam selimut.

“Kalau aku dioperasi, aku akan kehilangan semuanya, Bu. Bahkan… namanya. Aku nggak mau bangun tanpa tahu siapa yang dulu membuat aku merasa hidup.”

“Tapi kamu bisa mati, Allice!”

“Aku sudah setengah mati, Bu. Sejak dia nggak pernah lihat aku seperti aku melihat dia.”

Tangis ibunya pecah malam itu, seperti langit yang akhirnya menyerah pada hujan.

---

Puncaknya datang saat Arka datang ke rumah. Ia berdiri di depan pintu dengan canggung, membawa setangkai Camellia yang dibungkus kertas cokelat.

Ibunya membuka pintu dengan tatapan penuh ragu, tapi memanggil Allice juga. Dan saat Allice muncul, tubuhnya hampir tak dikenali. Pucat, mata cekung, langkah pelan seolah setiap gerak bisa mematahkan sesuatu di dalam dirinya.

“Al...” Arka maju beberapa langkah. “Kamu... sakit, ya?”

Allice tak langsung menjawab. Ia hanya menyodorkan saputangan putih. Arka mengambilnya, dan ketika kelopak merah muda itu jatuh ke lantai, ia menahan napas.

“Aku pernah baca tentang ini,” bisiknya. “Aku kira... cuma cerita.”

“Aku juga.”

“Kenapa nggak bilang?”

“Karena kamu bahagia sama dia. Dan aku nggak ingin kebahagiaanmu berubah jadi beban.”

Arka terdiam. Wajahnya menegang, seperti sedang bertarung antara rasa bersalah dan kebingungan.

“Aku nggak bisa balas, Al. Aku... mencintai Reva. Tapi aku peduli sama kamu. Kamu temanku.”

Allice tersenyum. Lelah, tapi damai.

“Teman yang diam-diam menanam taman di dadanya. Tapi tak pernah bisa kau lihat, ya?”

Air mata mengalir di pipinya. Bukan karena Arka menolaknya. Tapi karena semua akhirnya terucap.

---

Tiga hari berlalu, dunia kehilangan satu cahaya kecil yang tak banyak bersuara, tapi selalu menatap penuh makna.

Allice ditemukan terlelap di ranjangnya, tubuhnya hangat terakhir kalinya. Di sekelilingnya, kelopak-kelopak merah muda memenuhi tempat tidur, seolah ia telah tidur di ladang yang tumbuh dari hatinya sendiri.

Ibunya memeluk tubuh itu erat-erat, seakan bisa memanggilnya kembali. Tapi tidak ada jawaban, kecuali surat yang terlipat rapi di bawah bantal.

“Cinta tak pernah salah. Yang salah adalah memaksa cinta untuk selalu berakhir indah. Terima kasih sudah jadi bagian dari hidupku. Aku pergi, tapi tidak hilang. Aku tinggal di kelopak yang gugur, dalam hujan yang turun di pagi hari. Jika kelak kau menemukan Camellia di taman yang tak pernah kau sadari tumbuh… itu aku. Aku di sana, menunggu gugur, demi pernah mencintaimu.”

---

Musim semi berikutnya, taman belakang sekolah itu memiliki satu pohon Camellia yang baru. Arka yang menanamnya sendiri. Di bawahnya, tertera plakat kecil:

Untuk Allice.
Yang mencintai dalam diam, dan tetap mekar meski tak pernah dipetik.


SEKAR Edisi Juni 2025 | Katanya Katanya karya Rabithah Ainur Rohima

Katanya Katanya

Karya Rabithah Ainur Rohima


katanya, malas bekerja anak mudanya,

dijanjikannya banyak lapangan kerja,

tapi nyatanya, tak ditepati olehnya

 

katanya, akan membantu pendidikan indonesia,

pendidikan gratis jadi janjinya,

nyatanya? omong kosong itu semuanya

 

katanya, katanya,

akan dibuktikan kelayakannya,

tapi, lagi lagi omong kosong belaka

 

kini semuanya sudah sirna,

kepercayaan kami sudah musnah segalanya

semuanya sudah tidak bersisa

 

tolonglah!

buktikan buktikan segala janji manis yang engkau punya,

jangan sampai ibu pertiwi porak poranda!

SEKAR Edisi Juni 2025 | Di Balik Lembar karya Septiana Dwi Nurrohmah

Di Balik Lembar

Karya Septiana Dwi Nurrohmah


Dibalik lembar, ada aku

Yang nggak pernah puas jadi "cukup"

Yang bangun pagi bukan cuma karena alarm

Tapi karena mimpi yang belum rampung

 

Dibalik lembar, ada tekad

Yang ditulis dengan mata lelah dan kopi dingin

Tapi tetap utuh

Tetap jalan meski pelan, asal jangan berhenti

 

Ini bukan soal siapa cepat, siapa duluan

Tapi soal siapa yang tahan

Yang tahu jatuh itu wajar

Tapi bangkit itu harga mati


Dibalik lembar, kutaruh semua

Keringat, tangis yang diam-diam,

dan semangat yang kadang orang remehkan

Tapi aku tahu, ini jalan yang kupilih

Dan aku bakal terus maju,

Bukan untuk dilihat, tapi untuk jadi versi terbaik dari diri sendiri

 

Lembar ini bukan akhir

Tapi bukti:

Bahwa aku nggak pernah main-main

Kalau soal mimpi.

SEKAR Edisi Juni 2025 | Kamu Cukup, Selalu karya Aura Alfisyahrani

Kamu Cukup, Selalu

Karya Aura Alfisyahrani


Sinopsis

Ketika Bulan terbangun dalam tubuh Luna, ia menyadari satu kebenaran mengerikan. Kematiannya bukanlah akhir. Justru, itu adalah awal dari sebuah permainan takdir yang jauh lebih kejam— di mana pria yang ia kira mengkhianatinya ternyata mencintainya lebih dalam dari yang ia sangka. Tapi sekarang, dalam tubuh orang lain, bisakah ia menyelamatkan hubungan mereka... atau justru menghancurkannya  selamanya?.

Karya Lengkap

Kain tenun berwarna orange keemasan berlabuh indah di matanya. Warna yang selalu dirindukan, warna yang selalu menempati posisi teratas di hatinya. Digenggamnya salah satu sudut kaos oblong miliknya, kedua matanya terpejam hebat, sekian lama menggertakkan giginya membuat suara yang memekikkan telinga. Jantungnya berdentang keras, pembuluh darahnya hampir saja mencuat keluar dari pangkal lehernya. Hingga sedetik kemudian, angin menghembus dan menerbangkan topi baseballnya. Kegaduhannya terputus, dengan refleks mengulurkan tangan meraih topi yang hampir saja dicuri angin entah kemana. Barulah ia sadar, lantai 2 bangunan kosnya yang mangkrak disitulah ia berada.

5 Bulan berlalu sejak dua tokoh utama kita mengakhiri segala janji-janji manis kepada pasangannya, licik namun cerdik. Umumnya para pria hanya mampu mengucapkan janji-janji manis yang nantinya juga akan habis tertelan waktu. Namun berbeda dengannya, dengan lihai ia mengatakan, “Kita hapus semua janji-janji yang pernah ada di cerita kita. Kamu boleh mengingat cerita dan semua baik buruknya namun tidak dengan janji yang sudah diucapkan. Anggap semuanya hanya angin lalu”. Kejam, tetapi benar lebih baik begini.

Disinilah, korban dari janji yang hilang tersebut berada. Sudut kost bernuansa kuning cerah, menjadi saksi bahwa ada hati biru yang sedih mengangkat kedua kepalanya berat. Pukul 4 sore, dan kerongkongannya belum menyerap energi satupun setetes air pun tidak. Tubuhnya lemah, kepalanya berat. Banyak sekali memori-memori yang terputar tanpa henti di otaknya. Enggan pergi, dan enggan berhenti. Digigitnya sudut kiri bibir tebalnya, hentakan kaki juga beberapa kali melayang keras membuat sprei kasur berwarna merah itu hancur berantakan. Berjam-jam kondisinya hanya seperti itu, bak kapal tua yang enggan tenggelam karena lapuk diombang-ambing samudra.

-”atau mungkin kamu yang tak lagi cinta..”- Terdengar satu bait lagu milik penyanyi Indonesia diputar ratusan kali sejak ia bangun dari tidurnya.

Bulan, namanya. Perempuan dengan semangat juang tinggi, dan juga memiliki banyak hal konyol di otaknya. Namun babak cerita berujung beda. Siapa sangka sore ini ia menjadi perempuan yang merasa paling tersakiti. Hidup luntang-lantung di atas kasur merahnya, rambut acak-acakan, mata merah sembab, dan bibir plumpy akibat beberapa kali digigitnya dengan keras. Sejak satu minggu yang lalu, kondisinya begitu, tidak punya semangat hidup dan merasa menjadi manusia yang tidak pernah dicintai.

Waktupun berlalu, dengan sedikit usaha ia mencoba bangun dan menuju kamar di sebelahnya. Diketuknya pelan, yang kemudian langsung ia buka tanpa basa-basi. Tubuhnya segera merebah di kasur kamar itu, dihiraukannya pemilik kamar yang mengernyit kaget sekaligus heran.

“Gopud yuk, aku lapar banget”. Celetuknya seketika. Pemilik kamar yang sudah terbiasa dengan seluruh tingkah anehnya hanya menggeleng pelan sudah makan.

“Plis temenin aku sarapan..”, Mata penuh harapan diarahkannya ke pemilik kamar tersebut. Alhasil helaan maklum keluar dari mulut gadis dihadapannya. Mungkin, Bulan kembali ke rutinitas awalnya makan sehari sekali. Sekali lagi tolakan tegas diterima dengan paksa. Namun ternyata gadis ini menawarkan hal yang paling diinginkannya.

“Aku aduin dia ya, kalo kamu belum makan dari pagi!”. Ancamnya, gadis ini ternyata pintar dan cukup peka terhadap keinginan temannya. Bulan melonjak kaget, dan sedetik kemudian ia terduduk lemas, menggeleng penuh tekanan. Ego dan gengsinya cukup tinggi.

“Jangan ah, enggak bakal dijawab juga”, kepalanya tertunduk lesu. Gadis dihadapannya tersenyum tipis dan berusaha menyalurkan kata-kata semangat, tentu saja bukan hanya kata semangat yang ingin didengarnya. 

“Beneran kamu nggak mau nemenin aku makan? Balik aja aku mah kalo gitu”. Kakinya tertatih-tatih keluar dari kamar tersebut, ia beralih kembali ke istana miliknya kasur berwarna merah. Dilihatnya jam saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Dan tentu saja tidak mungkin ia memesan makanan di malam hari seperti ini. Menurutnya lebih baik menghangatkan diri dengan selimut dan mendekap erat bantal di kepalanya, menghilangkan semua suara memori berisik yang tak pernah berhenti berputar.

Beberapa menit setelahnya, ia merasa tubuhnya berat dan mengambang. Jari jemari dan lengannya juga seperti diremas oleh banyak orang. Apa yang terjadi?

Ia membuka mata dan gemerlap cahaya memaksa masuk ke retinanya, sayup-sayup terdengar suara bersahut-sahutan mengatakan “Syukurlah..”. Dihadapannya banyak orang asing yang menunjukkan wajah sembab dan khawatir.

Komedi apa lagi yang sedang dihadapinya kali ini? Pikirnya kesal. Belum ada satu jam ia tertidur, dan saat ini banyak orang aneh yang khawatir seakan dia bagian dari sanak keturunannya. Bulan mengernyit heran, kepalanya masih terasa berat dan seluruh tubuhnya terasa sangat aneh. Salah satu dokter disana menyuruh semua orang aneh tadi keluar dari ruangan. Sekejap terdengar lebih banyak ocehan tidak terima dari orang-orang itu. Untungnya para perawat mampu mengkondisikan hal tersebut dengan baik. Tersisalah Bulan dan dokter sekitar kepala 3 di hadapannya.

“Permisi kak Luna, bagaimana kondisinya? Coba keluarkan suara terlebih dahulu”. Perintahnya. Bulan dengan hati-hati membuka mulutnya merasakan  bahwa kondisinya sangat mengkhawatirkan melihat dari ekspresi sang dokter. “Hai, salam kenal pak dokter?”, Ia terkejut dan heran dengan nada suaranya. Namun ekspresi dokter yang tersenyum puas, membuatnya lebih lega.

“Baik, bisa ceritakan apa yang saat ini kak Luna rasakan?”. Bulan termangu heran, Luna siapa yang dokter ini maksud? Namanya memang Bulan, tapi jika dipanggil Luna, bukankah terlalu keren? Wajah sang dokter masih tersenyum menunggu jawaban. Ia mulai goyah, tempat ini, kulit pada lengan, dan suara yang terdengar asing. Awalnya ia mengira mungkin ia sedang bermimpi, tapi entah mengapa semua terasa lebih jelas saat ini. Bukan suara cempreng yang biasa ia dengar keluar dari pita suaranya. Dan tubuh ini… bukanlah miliknya.

Dokter kepala tiga itu masih menunggu jawaban dengan setia, senyumnya tak luntur sedikitpun seperti berhadapan dengan anak kecil yang mengkhawatirkan. Bulan mencoba mencerna semuanya. Kemudian ia membuka suara, menjawab dengan kalimat yang tidak pernah dipikirkannya. “Aku baik-baik saja, pak dokter. Mungkin hanya pusing?”.

Lagi-lagi, suara yang keluar sangat lembut dan feminim, jauh berbeda dengan suaranya yang memekikkan telinga. Bulan panik. Apa yang terjadi? Kenapa aku di tubuh orang lain? Pikirnya. Tak sempat ia mengeluh, sang dokter langsung mengangguk puas dan mengambil langkah menjauhinya. Meninggalkan dirinya sendirian, kebingungan. Di sebelahnya terdapat tiang infus yang terbuat dari aluminium. dilihatnya pantulan bayangan perempuan dengan mata sayu, rambut hitam panjang, dengan kulit pucat.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk dengan mata berkaca-kaca. “Luna, nak… Mama nggak mau kamu kaya gini lagi. Kamu harus hidup!”

Bulan hanya bisa terdiam. Luna nama itu sedari tadi selalu diucapkan kepadanya. Kenapa pula wanita ini menangis memohon dihadapannya?

Tidak berselang lama, kepalanya berdengung keras. Banyak ingatan yang mengalir deras layaknya air terjun yang menghujam batuan di bawahnya, sakit. Namun satu hal yang berhasil membuat Bulan terkejut. Luna, perempuan pemilik tubuh ini sedang mencoba mengakhiri hidupnya. Dan gilanya, keputusan itu diambil setelah seorang lelaki menolak cintanya. Lelaki yang sangat Bulan kenal sebelumnya, lelaki yang memutuskan mengakhiri dan menghapus semua janji-janji yang pernah diucapkannya.

Semuanya berakar saat komunikasi diantara Bulan dan Bintang mulai meredup. Bintang yang lebih mementingkan karir dan kerja kerasnya, memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Tentu saja momen itu menjadi titik balik kebiasaan buruk Bulan mulai kembali. Ia tak terima, namun suaranya tercekat untuk menahan kepergian Bintang. Ketika ditanya mengapa akhirnya mereka menyerah? Mungkin karena salah satu dari mereka merasa tidak pantas, merasa kurang, dan merasa dapat tergantikan suatu waktu.

“Kamu itu cukup. Bahkan saat kamu tidak menjadi penyelamat atau pahlawan siapa-siapa. Bahkan saat kamu hanya duduk, sedih, tidak kuat, tidak lucu, tidak pintar- kamu tetap cukup, dari dulu selalu begitu”. Suara Bulan lemah dan gemetar. Ia tak sanggup untuk menahan sedih, gengsinya tinggi untuk meminta Bintang bertahan.

Lain hal dengan Luna, yang merupakan partner kerja dari Bintang. Luna kagum dengan seluruh kerja keras dan kejujurannya. Sejak mulai mengenalnya, Luna berkali-kali merasakan jatuh dan degupan jantung bertumbuk satu sama lain. Luna tahu, Bintang tidak sehebat itu. Ia tahu, lelaki yang kuat dengan mencoba segala hal sendirian itu tidaklah hebat. Berkali kali kemudian Luna meminta Bintang untuk menceritakan keluh kesah perjalanan hidupnya. Tentu saja gelengan tegas dan senyum tipis yang ia terima.

Merasa tak cukup dan sedikit kesal, suatu saat luna memaksanya dengan beberapa kalimat desakan. Dengan terpaksa, Bintang hanya mengatakan beberapa kalimat kecil.

“Aku bukan orang hebat, dan kamu tahu itu. Aku hanya laki-laki yang mencoba bertahan. Dan setiap kali aku hampir menyerah, aku teringat ada seseorang yang pernah mengatakan… ‘Kamu pantas disayang, bukan karena apa yang kamu berikan kepada orang lain, namun karena kamu ada.’ itulah yang menjadi pedomanku. Aku baik-baik saja, semoga kamu paham”. Keduanya terdiam. Bagi Luna, kalimat itu menjadi pisau yang mencincang habis ekspektasinya.

Namun, Luna bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Jika seratus kali ia ditolak, maka ia harus berusaha setidaknya seratus satu kali lagi. Hingga usaha yang keseratus duanya adalah, menelan obat nyamuk diam-diam di dalam kamarnya. Ia sadar, seberapa berusahanya dia untuk mendapatkan hati Bintang, ia takkan pernah menjadi seseorang yang mengatakan bahwa Bintang itu cukup, pertama kalinya.

 Hingga disinilah, takdir membuat candaan paling menyakitkan. Dua bulan setelah Bulan hidup sebagai Luna, Seorang pria yang sangat ingin ditemuinya, berdiri di depan pintu rumah Luna dengan wajah yang gugup. Dia terlihat lebih kurus, matanya lelah, tapi masih memancarkan keteguhan. Bulan dalam tubuh Luna melonjak kegirangan, dihampirinya ragu-ragu pria itu.

“Maaf Luna, aku hanya bisa melukaimu”, ujarnya pelan. Sesaat, Bulan ingin sekali berteriak mengatakan bahwa yang di hadapannya adalah perempuan yang pernah dibuatnya kecewa.

Ia masih memandang Bintang dengan sedikit rasa kesal, kecewa, dan gundah. Banyak hal yang ingin dikatakannya, namun yang terucap hanyalah satu bait kekhawatiran, “Kamu… masih mencintainya, ya?”

 yang pernah mengatakan aku cukup. Tapi aku tak pantas untuknya waktu itu. Sekarang… aku hanya bisa berharap dia bahagia di sana”. Sontak Bulan menangis, ia tahu bahwa orang yang selama ini ditunggunya sedang menatapnya dalam tubuh yang salah.

Sejak saat itu, Bulan di tubuh Luna, menggantikan kesehariannya. Bekerja dan menghabiskan waktu tertawa dengan partner kerja yang tidak pernah terpikirkannya. Selain itu, Bulan menjadi tahu bahwa Bintang mencarinya dan berusaha menghubunginya. Namun seperti dikhianati oleh waktu, kabar yang beredar mengenai Bulan sangat menyakitkan. Diduga Bulan mengalami serangan jantung saat dalam tidur. Hal itu pula yang membuat Bintang merasa kehilangan separuh jiwanya.

“Terkadang, aku merasa bahwa sikapmu mirip sepertinya”, tukas Bintang suatu saat. Rasanya ia tidak keberatan untuk bertukar cerita dan mengeluhkan banyak hal kepada Luna. Dalam konteks lain Luna adalah orang luar yang mungkin saja bisa mengkhianati kepercayaannya. Kembali pada Bulan dengan tubuh Luna, ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk kaku. Sudah beberapa kali Bintang mengatakan hal tersebut.

Bintang terdiam cukup lama, lalu menghela nafas. “Aku mencintai seseorang  yang pernah mengatakan aku cukup. Tapi aku tak pantas untuknya waktu itu. Sekarang… aku hanya bisa berharap dia bahagia di sana”. Sontak Bulan menangis, ia tahu bahwa orang yang selama ini ditunggunya sedang menatapnya dalam tubuh yang salah.

Sejak saat itu, Bulan di tubuh Luna, menggantikan kesehariannya. Bekerja dan menghabiskan waktu tertawa dengan partner kerja yang tidak pernah terpikirkannya. Selain itu, Bulan menjadi tahu bahwa Bintang mencarinya dan berusaha menghubunginya. Namun seperti dikhianati oleh waktu, kabar yang beredar mengenai Bulan sangat menyakitkan. Diduga Bulan mengalami serangan jantung saat dalam tidur. Hal itu pula yang membuat Bintang merasa kehilangan separuh jiwanya.

“Terkadang, aku merasa bahwa sikapmu mirip sepertinya”, tukas Bintang suatu saat. Rasanya ia tidak keberatan untuk bertukar cerita dan mengeluhkan banyak hal kepada Luna. Dalam konteks lain Luna adalah orang luar yang mungkin saja bisa mengkhianati kepercayaannya. Kembali pada Bulan dengan tubuh Luna, ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk kaku. Sudah beberapa kali Bintang mengatakan hal tersebut.

“Tapi entah mengapa, aku kurang senang jika kamu selalu memujiku kuat. Seakan-akan kamu hanya menginginkan kekuatanku, dan jujur saja Bulan juga begitu- aku muak”. Ludah Bulan tercekat. Ia terkejut mendengar penuturan yang tidak pernah ada dalam kamusnya. Giginya gemeretak marah, dan satu hal yang dia katakan sebagai respon benar-benar membuatnya menyesal.

“Manusia itu makhluk sosial, kita saling membutuhkan. Jadi jika kamu bilang aku memanfaatkanmu karena selalu bergantung dan memujimu kuat, kamu salah besar. Ungkapan itu aku tunjukkan untuk kamu yang benar-benar kuat. Namun menjadi kuat juga bisa berakhir buruk. Karena itulah aku harap kamu bisa sedikit memberikan bebanmu dan menceritakan seluruh keluh kesahmu padaku.”

Keduanya sekali lagi terdiam. Mata Bintang membelalak tidak percaya.

“Bulan…”, satu kata yang muncul dari suara Bintang membuyarkan amarah Bulan. Ia melonjak kaget, dan tanpa sadar langsung pergi meninggalkan ruang kerja mereka berdua. Bintang pun begitu, ia segera mengejar perempuan yang kabur dari hadapannya.

Hingga di balik kantin kantor, Bulan tak sanggup lagi berlari Bintang berhasil menyusulnya. Dengan helaan nafas panjang, Bintang meraih kedua lengan Luna dan menatapnya lekat-lekat.

“Aku… aku tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun. Entah Bulan yang merasa aku sudah tidak mencintainya, maupun Luna yang merasa bahwa aku tidak akan pernah mencintainya”, suaranya parau. Matanya bergetar, hampir menangis.

“Aku masih mencintai Bulan, namun aku tidak cukup untuknya. Karena itu aku tidak berani menerima Luna”. Perkataan itu menusuk hati Bulan, rasanya bangga namun kecewa juga mendorong perlahan. Dengan paksaan ia tersenyum sebagai penenang.

“Kamu cukup. Bahkan disaat seperti ini. Selalu begitu dari dulu”. Suara Bulan tercekat. Nafasnya menggulung lemah, rasanya seluruh oksigen berhenti beredar di sekitarnya. Matanya melemah, yang dapat ia lihat hanyalah wajah gelisah Bintang. Hidungnya seperti mengeluarkan air kental yang deras. Kepalanya berdengung dan terasa berat. Tidak ada suara yang mampu masuk ke dalam gendang telinganya. Sakit dan hangat, campur aduk tak dapat digambarkan.

Hanya satu hal yang saat itu sempat dikatakannya.

“Paham? Kamu cukup. Selalu”.

Takdir bak mempermainkan kisah mereka bertiga. Jiwa Bulan yang tersesat dan penasaran Merasuki tubuh Luna yang kosong. Mengukir cerita yang seharusnya rampung dari dulu. Penghakiman perasaan membuat satu diantara mereka akan tersiksa di sisa hidupnya, teringat dengan dua jiwa yang pergi meninggalkannya. Namun ia takkan pernah menyerah, karena baginya saat ini Ia cukup dengan hanya hadir di dunia ini. Selalu.

SEKAR Edisi Juni 2025 | Ayla dan Dunia Mimpi karya Siti Aprilia Mudmainah

Ayla dan Dunia Mimpi

Karya Siti Aprilia Mudmainah


Sinopsis

Apa jadinya jika mimpi bukan sekadar bunga tidur, tapi pintu menuju dunia yang perlahan-lahan menghilang?

Ayla, seorang gadis berusia tujuh belas tahun dengan mata seperti sisa mimpi panjang, selalu bangun dengan jejak mimpi yang nyata, seperti pasir di kaki, bulu emas di tangan, dan langit ungu di ingatannya. Dunia menyebutnya aneh. Tapi sang nenek, Lyra, menyebutnya “penjaga pintu jiwa.”

Suatu malam, Ayla terhisap ke dalam Somnaria, negeri tempat semua mimpi bermuara. Namun, negeri indah itu sedang sekarat. Bayang Tidur telah bangkit, mengubah mimpi menjadi mimpi buruk dan menyerap harapan dari dunia nyata. Ditemani Lumo, makhluk cahaya yang bicara seperti lonceng angin, Ayla harus menyeberangi Hutan Lupa yang memakan kenangan, bernyanyi di atas Sungai Terbalik, dan menjawab teka-teki di Gerbang Mimpi Buruk. Ia bertemu Kuda Bayangan yang lupa cara tidur, Ratu yang menyimpan waktu dalam botol, dan penjaga mimpi yang bicara dalam teka-teki patah.

Tapi waktu terus menipis. Pasir di botol terus jatuh. Dan satu pertanyaan tetap menggantung di udara,

Bagaimana jika ketakutan bukan musuh... tapi kunci?”

"Somnaria" bukan hanya kisah petualangan dalam mimpi ini adalah perjalanan menemukan jati diri, menghadapi ketakutan, dan belajar bahwa terkadang, dunia yang paling nyata adalah dunia yang tersembunyi saat mata terpejam.

Karya Lengkap

Di sebuah kota kecil yang nyaris terlupakan peta, hiduplah seorang gadis berusia 17 tahun bernama Ayla, dengan mata yang selalu tampak seperti baru saja terbangun dari mimpi panjang. Ia bukan gadis biasa. Sejak masih kecil, Ayla membawa sesuatu dari dunia lain ke dalam dunia nyata.

Setiap pagi, ia bangun dengan sisa-sisa mimpi yang tak sempat larut, seperti butiran pasir di sela jari kakinya, tetes air yang asin tapi tak asin di helaian rambutnya, atau bulu emas lembut yang menempel di telapak tangannya semacam salam dari makhluk bersayap yang hanya ada di dongeng, dan hal yang paling aneh, ia mengingat semuanya. Setiap mimpi, setiap bisikan angin di langit ungu, setiap langkah di jalanan yang terbuat dari bintang jatuh. Tidak pernah terlupa.

Orang-orang menganggapnya aneh. Mereka berkata itu hanya bunga tidur, khayalan remaja yang terlalu banyak membaca cerita. Tapi neneknya, Lyra merupakan seorang perempuan tua dengan rambut seputih kabut pagi selalu mempercayai mimpi – mimpi yang diceritakan oleh cucunya itu.

“Mimpi bukan hanya tempat kita bersembunyi,” kata Lyra. “Itu dunia lain yang bisa kita datangi saat tidur.” Lyra juga selalu menasihati Ayla agar tidak merasa takut dengan mimpi-mimpinya, “Ketakutan adalah pintu. Buka, dan kau temukan kekuatanmu.”

Suatu malam saat bulan menggantung rendah, Ayla bermimpi aneh. Ia berdiri di depan sebuah gerbang besar dari kaca bening, berhiaskan bintang-bintang yang berputar perlahan. Di atas gerbang kaca tersebut tertulis “Somnaria Negeri Tidur”. Pintu itu terbuka dengan sendirinya saat ayla mendekat, mengisapnya masuk dalam pusaran cahaya.

Ia mendarat di taman yang penuh bunga bercahaya dan jalanan terapung. Langitnya ungu, dan angin berbau manis seperti vanila. Di kejauhan, istana dari awan menggantung, dijaga oleh makhluk bersayap kupu-kupu sebesar kuda.

“Selamat datang, penjelajah jiwa,” suara melengking menyambutnya. Seekor makhluk mungil setinggi lutut, bertubuh kaca dan bersinar dari dalam, terbang mengitari Ayla.

“Aku sedang bermimpi... tapi terasa nyata.”

“Kau memang bermimpi, tapi di Somnaria, mimpi adalah dunia sejati.”

Makhluk itu memperkenalkan diri sebagai Lumo, penjaga pintu mimpi. Lumo menjelaskan bahwa Somnaria adalah dunia tempat semua mimpi bertemu, tempat dimana anak-anak berlari di langit, tempat puisi menetes dari awan, dan ketakutan disegel di bawah tanah oleh Penjaga Cahaya.

Namun, dunia itu sedang dalam bahaya. “Bayang Tidur telah bangkit,” kata Lumo. “Ia menyerap mimpi menjadi mimpi buruk. Jika tidak dihentikan, Somnaria akan runtuh… dan dunia nyata akan kehilangan harapannya.”

Ayla menatap ke langit. Kini, sebagian awan menjadi kelabu. Di cakrawala, sebuah celah hitam merayap lambat, mengisap warna dari sekitar.

“Kenapa aku dibawa ke sini?”

“Kau memiliki kunci jiwa, roh yang dapat menyeberang tanpa terputus. Kau bisa melawan bayang tidur... jika kau berani masuk ke wilayahnya.”

Ayla, yang sepanjang hidupnya merasa aneh karena mimpi-mimpinya, kini tahu bahwa ia berbeda karena sebuah alasan. Ia menerima tantangan itu.

Perjalanannya dimulai dengan Lumo di sisinya, melalui Hutan Lupa, tempat dimana pepohonan berbisik dan mencoba menghapus ingatannya dan Sungai Terbalik, di mana arus mengalir ke langit, dan Ayla harus menyeberangi jembatan pelangi yang terbuat dari lagu masa kecilnya.

Ia bertemu banyak makhluk, salah satunya Kuda bayangan yang tak bisa tidur, ratu dari suku tidur siang yang menyimpan waktu dalam botol, dan kembar tiga penjaga gerbang mimpi buruk yang bicara dalam teka-teki.

Perjalanan Ayla dimulai dengan Lumo di sisinya, makhluk mungil bersinar itu kini jadi penuntunnya dalam dunia mimpi yang membentang luas dan penuh misteri. Langkah pertama membawa mereka ke Hutan Lupa, tempat pohon-pohonnya berbisik dalam suara-suara kenangan yang terlupakan. Ranting-ranting menjulur pelan, menyentuh pelipis Ayla dan mencoba mencuri memorinya, yang berisi suara Lyra, tawa masa kecil, bahkan nama dirinya sendiri.

Lumo yang mengetahui hal itu, segera menggenggam tangan Ayla. Cahaya tubuhnya menahan gelap yang merambat. "Ingat siapa dirimu, Ayla," bisiknya, dan gadis itu mulai menutup mata. Kemudian, ia menyenandungkan lagu masa kecil yang biasa dinyanyikan Lyra sebelum tidur. Lagu itu bukan hanya menenangkan, tapi juga menyelamatkan.

Suaranya ternyata berhasil memanggil jembatan pelangi yang terbentuk dari nada-nada dan cahaya, membentang di atas Sungai Terbalik. Sungai yang unik dengan arus yang meluncur ke langit, membawa dedaunan dan kilatan bintang ke angkasa.

Melintasi jembatan itu, mereka tiba di hamparan langit tidur, tempat bintang-bintang digantung dengan benang perak. Di sanalah Ayla bertemu Kuda Bayangan, seekor makhluk megah berwarna malam, dengan mata terang yang tak pernah terpejam. Ia telah lupa cara tidur, karena setiap kali menutup mata, ia bermimpi tentang dunia yang runtuh.

Namun ketika melihat Ayla, ia melihat sesuatu yang telah lama hilang dari dirinya, cahaya harapan. Gadis itu membawa aroma langit yang belum rusak dan keberanian yang belum dikikis waktu. "Aku pernah bermimpi tentangmu," kata Kuda Bayangan dengan suara berat seperti petang. "Dalam mimpiku yang tergelap, kau berjalan membawa cahaya yang tak bisa padam. Mungkin... kaulah jawabannya."

Karena itu, meski lelah dan penuh bayang, Kuda Bayangan memilih untuk mempercayainya. Ia bersedia mengantar Ayla melintasi Dataran Menguap, tanah datar yang bergelombang seperti napas orang tertidur, menuju Istana Siang Abadi, kediaman Ratu dari Suku Tidur Siang. "Jika kau mampu melewati tempat itu dan bertemu sang Ratu," katanya, "Maka mungkin mimpiku tak harus menjadi kenyataan."

Mereka pun telah sampai di depan gerbang istana Ratu dari Suku Tidur Siang. Mereka berjalan dengan melihat kemewahan yang ada pada halaman istana, tak terasa mereka ternyata sudah didepan pintu istana. pintu istana itu dijaga oleh dua prajurit.

Kemudian, Dua prajurit itu melihat ke arah Ayla dan Lumo dan bertanya, “Ada maksud apa kalian kemari?”. Dengan nada lembut Ayla menjawab, “Kami disini bermaksud untuk bertemu Ratu dari Suku Tidur Siang”. “Baiklah tunggu sebentar, saya akan meminta izin kepada Ratu”, gumam salah satu prajurit.

Prajurit itu bergegas masuk kedalam istana dan meminta persetujuan ratu. “Ada apa prajurit?” kata ratu. Prajurit berkata, “Ada satu anak dan temannya yang ingin bertemu dengan ratu”. “Persilahkan saja,” katanya. Prajurit itu segera kembali menemui Ayla dan Lumo yang masih menunggu didepan pintu istana dan prajurit mempersilahkan mereka masuk.

Ayla dan Lumo segera masuk, mereka melihat Ratu dari Suku Tidur Siang duduk di tahta yang indah dengan awan-awan yang menghiasi. Ratu itu terlihat sangat anggun dan nada bicaranya lembut.

 “Ada apa kalian ingin menemuiku,” ratu berkata.

“Kami disini ingin menyelamatkan dunia Somnaria dan melawan bayangan tidur,” Ayla menjawab tegas.

Kemudian, ratu mengambil sebuah botol kaca berisi pasir yang melayang. "Kau hanya punya waktu selama mimpi ini bertahan, bila pasir ini habis dan kalian masih belum bisa mengalahkan Bayangan Tidur, kalian akan hancur " katanya sambil menyodorkan botol waktu yang isinya mulai berjalan menipis, detik-detiknya jatuh pelan bagai embun.

Perjalanan pun berlanjut, membawa Ayla ke Gerbang Mimpi Buruk, dijaga oleh tiga bersaudara kembar, satu selalu tertawa tanpa alasan, satu menangis terus-menerus, dan satu membisu dengan mata tertutup. Mereka bicara dalam teka-teki, kalimat-kalimat yang terdengar seperti puisi yang patah.

Untuk masuk, Ayla harus menjawab pertanyaan yang bukan sekadar soal logika, tapi keberanian hati, "Apa yang datang saat kau berhenti mencari, tapi pergi saat kau genggam terlalu erat?" Sambil menatap cahaya Lumo yang mulai meredup, Ayla menyadari jawabannya bukan pengetahuan, ia berpikir keras. “KEYAKINAN…,” jawaban yang keluar dari mulutnya dengan nada yang tegas. Gerbang terbuka, dan bayangan mimpi menanti di baliknya.

Akhirnya, Ayla sampai di Lembah Kosong, sarang bayang tidur. Langitnya hitam pekat, dan tanahnya retak seperti kaca pecah. Di tengah lembah berdiri menara hitam menjulang, berputar perlahan dalam diam. Bayang Tidur muncul sebagai sosok tinggi tanpa wajah, hanya kabut dan mata menyala merah. “Kau datang membawa terang,” gumamnya, suaranya seperti ribuan bisikan. “Tapi terangmu akan padam.”

Ayla merasa takut, tetapi ia ingat kata Lyra, “Ketakutan adalah pintu. Buka, dan kau temukan kekuatanmu.” Ia mengangkat tangannya, dan Kunci Jiwa menyala dari dalam dadanya. Cahaya menyebar, membentuk perisai mimpi yang berisi potongan kenangan manisnya suara Lyra, hujan pertama yang ia nikmati, senyuman anak-anak saat ia mendongeng.

Bayang Tidur menerjangnya, menebar ilusi, memperlihatkan masa depan yang suram dan masa lalu yang penuh kegagalan. Namun Ayla tetap berdiri. Ia menyadari bahwa kekuatan Somnaria berasal dari harapan yang dibentuk oleh para pemimpi.

Dengan satu teriakan, Ayla melepaskan cahaya dari jiwanya. Bayang Tidur pecah menjadi debu kelam, dan langit mulai berubah kembali menjadi ungu.

“SOMNARIA SELAMAATT….”

Lumo dan makhluk lain bersorak. Ayla berdiri di tengah taman cahaya yang kembali bermekaran, dan langit menurunkan serpihan mimpi sebagai hujan.

“Sudah saatnya kau kembali,” kata Lumo. “Tapi pintu ini tak tertutup. Kau bisa kembali kapan saja... bila dunia nyata lupa cara bermimpi.”

Ayla terbangun di ranjangnya. Tangannya menggenggam sebutir kristal kecil yang bersinar lembut sisa dari Somnaria. Ia tahu, dunia mimpi bukan hanya ilusi. Itu tempat di mana harapan dilahirkan.

Dan sejak hari itu, Ayla menceritakan mimpinya kepada siapa pun yang mau mendengar. Ia mengajar anak-anak menggambar bintang, menulis mimpi, dan percaya bahwa saat tidur, kita semua adalah pejuang cahaya di dunia yang tersembunyi di negeri bernama Somnaria.

SEKAR Edisi Juni 2025 | Rumah Kosong di Ujung Jalan karya Anggun Diva Fitrah

Rumah Kosong di Ujung Jalan

Karya Anggun Diva Fitrah


Sinopsis

Ketika Raya mewarisi rumah tua di kota kecil yang tak pernah kering dari hujan, ia hanya ingin satu hal: tenang. Tapi rumah itu punya ingatan. Dan kesunyian yang tinggal di dalamnya bukan kesunyian biasa. Suara-suara mulai terdengar dari arah cermin. Bisikan lirih yang seolah tahu namanya. Malam demi malam, bayangan pria asing muncul dalam pantulan mata seteduh kabut, senyum serupa kenangan. Ia menyebut dirinya Elaric.

Namun semakin sering mereka berbicara, semakin kabur batas antara kenyataan dan sesuatu yang lain. Dan ketika satu kalimat terlarang terucap dari bibir Raya, rumah itu membuka dirinya perlahan, gelap, dan tak bisa ditutup kembali. Terjebak di dunia pantulan, Raya harus menghadapi teka-teki yang lebih tua dari sejarah rumah itu sendiri. Cermin-cermin yang berbisik. Dan jejak ibunya yang pernah hilang, kini muncul kembali dengan cara yang tak bisa dijelaskan. Tapi setiap jawaban punya harga. Dan tidak semua yang memahami kita… benar-benar ingin kita selamat.

“Yang terlihat bukan selalu yang nyata. Dan yang nyata… mungkin sedang menunggu kamu di balik pantulan.”

Karya Lengkap

Hujan turun deras sejak pagi. Raya tiba di rumah warisan kakeknya, sebuah bangunan tua berlumut di ujung jalan yang selalu terselimuti kabut dan nyaris tak pernah dijamah matahari. Kota kecil itu tampak membungkam semua suara selain derai hujan, dan bagi Raya, gadis pendiam yang kehilangan kedua orang tuanya, keheningan itu terasa seperti panggilan. Namun sejak malam pertama, ketukan samar terdengar dari dalam kamar.

Suara-suara bisik lirih menyelinap dari arah cermin tua berbingkai emas, seolah menyambut pulangnya seseorang yang sudah lama dinanti. "Kamu kembali, ya... akhirnya," ucap suara laki-laki dari dalam cermin yang pertama kali membuat darah Raya membeku. Ia mengira hanya berhalusinasi karena kesepian dan kelelahan, tetapi bayangan seorang pria muda mulai muncul jelas setiap malam: pucat, bermata teduh, berpakaian klasik seperti bangsawan zaman kolonial. Ia memperkenalkan diri sebagai Elaric, arwah penghuni rumah itu yang terperangkap karena janji yang dikhianati.

Raya mulai berbicara dengannya setiap malam, merasa nyaman, merasa dipahami, bahkan merasa... hidup kembali. Namun suatu malam, Elaric memperingatkannya: “Jangan pernah bilang kau ingin tinggal di sini selamanya. Rumah ini mendengar. Dan ia menelan yang mengucap.” Namun manusia yang terlalu lama sendiri mudah salah langkah. Saat badai datang, dengan air mata dan rasa rindu, Raya mengucapkannya: “Andai aku bisa tinggal di sini selamanya.”

Saat itu juga, cermin retak. Dunia terbalik. Raya terbangun di ruang yang sama, tapi sunyi, membeku, dan sepi seperti dimensi yang kehilangan waktu. Rumah itu tampak mati, tak berpenghuni, dan semua benda terlihat lebih tua dan usang. Di sana, Elaric menatapnya, tak lagi teduh, melainkan dengan mata merah menyala dan wajah yang perlahan berubah bentuk.

"Aku bukan korban kutukan,” katanya, “akulah kutukan itu.”

Ia bukan arwah baik, melainkan entitas kuno, sistem yang memanipulasi trauma manusia dan menggunakan pantulan sebagai perangkap. Rumah itu, katanya, adalah arsitektur jiwa diciptakan untuk menghisap energi manusia yang kehilangan arah. Raya bukan yang pertama. Ia hanya subjek ke-87. Nama-nama sebelumnya terukir di balik dinding kamar, termasuk seseorang bernama Sula, yang ternyata adalah ibu kandung Raya sendiri  yang hilang tanpa jejak dua puluh tahun lalu.

Namun inilah sejatinya: Elaric tidak menyadari bahwa Raya bukan seperti korban sebelumnya. Raya mewarisi darah dari ibunya, yang dahulu juga hampir memutus siklus rumah ini namun gagal karena memilih melindungi anaknya. Di dalam dunia pantulan, Raya tak hanya menemukan mantra kuno, tapi juga fragmen-fragmen ingatan ibunya yang tersimpan dalam pantulan kaca. Ia mulai menyusun siasat. Dengan mengorbankan cermin utama pusat koneksi antar pantulan dan menulis ulang namanya dalam bahasa kuno yang dibaca mundur dari darah dan air hujan, Raya membuka “pintu keluar” yang selama ini hanya mitos.

Pertarungan batin terjadi. Elaric mencoba menghancurkan kesadaran Raya dengan menunjukkan setiap trauma hidupnya, namun Raya melawan dengan satu hal yang belum pernah dilawan oleh korban sebelumnya:

pengakuan dirinya. “Aku memang kesepian, tapi aku bukan hampa. Aku patah, tapi tidak hancur,” 

katanya sambil memegang pecahan cermin, mengarahkan pantulan dirinya sendiri ke arah Elaric. Sosok Elaric terbakar oleh cahaya refleksi jujur dari kesadaran penuh Raya. Rumah itu gemetar, bayangan memekik, dan pintu-pintu terbuka. Cermin-cermin pecah, namun bukan menghancurkan melainkan melepaskan.

Raya terbangun di dunia nyata, pagi yang cerah tanpa hujan, di tempat tidur lamanya, napasnya tersengal. Rumah itu sepi dan hangat. Saat ia menatap cermin, tak ada suara, tak ada bayangan. Tapi di balik bingkai kayu, terukir sebuah tulisan samar: “Terima kasih, Putriku.” Raya pun tahu: ibunya telah tenang, dan rumah itu… telah sembuh.

Bertahun-tahun kemudian, rumah tua itu menjadi taman baca dan perpustakaan. Raya membuka ruangan refleksi sebuah ruang kaca tempat orang bisa menulis surat kepada diri mereka sendiri. Ia tak pernah menceritakan apa yang terjadi malam itu. Tapi setiap kali hujan turun, dan anak-anak belajar menulis puisi di dekat jendela, mereka berkata: “Tempat ini terasa seperti ada yang melindungi.”


PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...