Rabu, 27 Agustus 2025

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Doa yang Tak Senada karya Ibran Purba

 Doa yang Tak Senada

Karya Ibran Purba


Kita berdiri di tanah yang sama,

namun bayangan jatuh ke arah berbeda.

Lonceng tua berdenting lirih,

adzan merdu menjawab di langit tinggi.

 

Di jalan sunyi kita melangkah,

bergandeng tangan, percaya tanpa suara.

Mampukah cinta ini bertahan,

atau runtuh dihantam ribuan pandangan?

 

Setiap langkah ditemani bisik cemooh,

namun tak ada jemari yang terlepas.

Meski benang merah tak tampak mata,

cinta terpatri jauh di dada.

 

Kau bersujud dalam lima waktu,

aku berbisik di bawah salib kayu.

Kita memohon pada langit yang sama,

meski suara tak pernah menyatu.

 

Namun, langit tak selalu biru;

awan kerap enggan berlalu.

Di balik senyum, tersimpan pilu;

takdir menulis garis yang tak berpadu.

 

Di antara doa yang tak senada,

ku langitkan ukiran kata—

tak sekedar kiasan semata.

 

Jika jalan ini berakhir di simpang berbeda,

biarlah cinta tetap tinggal—meski tak bersama.


SEKAR Edisi Agustus 2025 | Pena Hijau karya Khairunnisa Apriliyanti

 Pena Hijau

Karya Khairunnisa Apriliyanti


Kepada pena berwarna hijau yang sempat digenggam

Pena penuh gambar bunga yang sempat diharapkan

Kau pernah meyakinkan dengan menggoreskan garis yang tegas

Menjanjikan warna dan menggambar teduh di langit kertas


Tintamu seolah dijanjikan untuk tidak luntur dan bertahan lama

Namun, kini entah kenapa

Tintamu tiba-tiba melangkah, merubah arah

Hilang dan muncul secepat burung di langit senja

 

Terkadang, pena hijau menggambar di lembaran kertas putihku

Akan tetapi, gambaranmu tak pernah benar-benar selesai

Pena hijau, gambaranmu menggantung

Meninggalkan ruang kosong yang tak pernah terisi

 

Hingga pada setiap coretan di sudut lembaran, aku selalu bertanya

Apakah pena hijau ini memang diciptakan untuk memiliki tinta permanen

Ataukah hanya singgah, mencoret sesuka hati

Lalu membiarkan aku menebak-nebak arti?

 

Sebab pena hijau yang dulu kupeluk penuh harap

Kini hanya tinggal kenangan pada halaman bercak-bercak

Dan aku yang pernah menunggu coretanmu menyelesaikan gambaranmu kembali

Kini telah menemukan cara untuk menggambar kisah sendiri

 

Meski garisnya tak rapi

Meski warnanya tak seindah pena hijaumu

Namun setidaknya, aku tahu

Guratan yang kuhasilkan sendiri tidak akan menghilang sesuka hati

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Tersesat di Persimpangan karya Fajar Wahyudi

 Tersesat di Persimpangan

Karya Fajar Wahyudi


Aku berdiri di ujung jalan, 

tak tahu harus ke kiri atau kanan.

Langit seperti air keruh,

diam, tak memberi petunjuk.

 

Setiap hari aku melangkah,

tapi kaki ini seperti berputar.

Aku tanya pada bayang di tanah,

“Ke mana aku harus pergi?”

 

Waktu berjalan terlalu cepat,

seperti air yang lari dari genggaman.

Hatiku penuh tanya,

tapi tak ada jawaban.

 

Di dalam hati, ada bisik kecil,

yang menyuruhku untuk terus berjalan.

Mungkin nanti,

jalan itu akan menunjukkan tujuannya.

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Retak karya Aulia Nur Azizah

 Retak

Karya Aulia Nur Azizah


Sejak kecil

Ada satu cahaya yang kupercaya

Tempatku belajar arti cinta

Dari genggaman yang terasa paling nyata

 

Namun, cahaya itu meredup

Sinarnya melukai mata kecilku

Hangat yang dulu kuanggap rumah

Berubah menjadi dingin yang tak kupahami

 

Cahaya yang seharusnya menjadi pelindung

Justru menjelma menjadi jeruji

Membuat langkahku sempit

Membuat hatiku sesak

 

Aku tumbuh dengan luka yang tak bisa kuceritakan

Sebab cahaya pertama itu merenggut tawaku

Menyisakan retak yang tak terlihat mata

Seperti berjalan di lorong tanpa cahaya

 

Malam-malam terasa panjang

Rindu menjelma duri yang tak bisa kucabut

Di dasar hatiku masih ada jejak kecil yang merintih 

Berbisik lirih “Aku ingin pulang, tapi ke mana?”

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Ruang Masa Lalu karya Alanisya Octania Ramadhani

 Ruang Masa Lalu

Karya Alanisya Octania Ramadhani


Kita pernah begitu dekat

Hingga senyummu terasa seperti rumah,

Dan langkah kecilmu selalu kutunggu

Seperti senja menanti cahaya terakhirnya


Namun kini ada jeda,

Diam yang tak bisa kita terjemahkan,

Jarak tipis yang perlahan tumbuh

Di antara tawa dan cerita kita

 

Aku masih melihatmu,

Dengan perasaan kosong

Meski hatiku diam-diam bertanya

Apa ini adalah akhir segalanya

 

Mungkin cinta juga butuh ruang,

Agar rindu tahu caranya pulang

Dan meski ada kecewa yang tertinggal

Kisah itu masih tersimpan dalam ingatan

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Dunia Kotak-Kotak karya Ainun Mardiyah

Dunia Kotak-Kotak

Karya Ainun Mardiyah


Andi baru pertama kali main Roblox. Begitu melihat karakternya, dia langsung protes.

“Lah, ini aku kok kayak kotak kardus berjalan?!”

Raka ngakak. “Ya emang gitu. Anggap aja kita lagi belajar bangun ruang. Semua orang di sini bentuknya balok.”

Andi mencoba menggerakkan karakternya. Baru lompat sekali… BRUK! jatuh ke jurang. Karakternya pecah jadi potongan kecil.

“Woi! Aku mati!” teriak Andi panik.

Raka santai. “Tenang, di Roblox mati itu bukan akhir. Itu Cuma… kayak hukum kekekalan energi. Hancur, tapi muncul lagi.”

Dan benar, tiga detik kemudian Andi hidup lagi. Tapi baru melangkah sebentar, tiba-tiba karakternya disambar mobil dan tubuhnya hancur lagi.

“Ya ampun! Aku jadi bahan percobaan fisika nih, ditabrak benda bergerak!”

Raka ngakak. “Iya, itu namanya gaya dorong. Energi pindah, badanmu pecah. Santai aja, itu ilmu IPA terapan versi Roblox.”

Andi makin frustasi. Dia coba lari kencang, eh malah nyangkut di dinding dan muter-muter kayak kipas angin rusak.

“Ini hukum apa lagi?!” keluhnya.

Raka nyengir, “Itu sih gesekan. Cuma di Roblox, gesekannya bikin kamu jadi blender hidup.”

Andi akhirnya duduk pasrah. Ia menatap karakternya yang respawn entah untuk keberapa kali, lalu bergumam.

“Coba aja hidup nyata kayak Roblox… Besok ada ulangan, tinggal nyemplung jurang, terus respawn pas udah lulus.”

Raka langsung ketawa sampai hampir jatuh dari kursinya.

Dan sejak hari itu, Andi pun sadar: kalau IPA segampang di Roblox tinggal jatuh, respawn, terus lulus semua orang pasti happy, bukan pusing.

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Singgah karya Octafia Rahmadani

 Singgah

Karya Octafia Rahmadani

Sinopsis

“Singgah” adalah kisah seorang anak bernama Irma yang menuturkan perjalanan hidup bersama Ibunya, Isma, yang ia panggil Inang. Sejak usia enam tahun, Irma hidup tanpa kehadiran ayah setelah perceraian orang tuanya. Inang harus menjalani hidup sebagai seorang ibu tunggal, bekerja keras dari pagi hingga malam untuk membesarkan anak-anaknya, meski dirinya terus dihantui luka dari masa lalu yang penuh kekerasan, pengkhianatan, dan kesepian. Irma tumbuh dalam bayang-bayang kesedihan, merasakan dunia seperti lembah gelap yang sulit dijangkau cahaya. Namun di balik semua penderitaan, ia menyadari bahwa cinta Inang adalah rumah sejati, lebih dari sekadar tempat berteduh. Meski tubuh dan hati Inang rapuh, ia tetap menjadi sandaran kokoh bagi anak-anaknya.

Karya Lengkap

Riuh ricuh suara insan berbisik mengalun sampai telinga Inang. Dunia fana yang gelap selalu diiringi oleh suara tawa munafik para insan adam maupun hawa. Cerita manis selalu disisipi oleh kata-kata pahit yang melukai hati Inang. Aku duduk manis di samping bunga yang sering aku sebut sebagai inang para lebah, yang kini mulai mati seiring campur tangan insan yang andil dalam dunia. Sama seperti kehidupan yang aku rasakan seiring umur ini bertambah. Terjerat berbagai masalah, derita, dan juga luka. Aku insan yang selalu dikasihi oleh Inang. Ibuku, sang inang para anaknya. Inang singgah di rumah, tetapi rumah yang disinggahi tak kunjung jadi tempat berteduh seperti yang dibayangkan. 

Mungkin sebagian orang menilai inang yang baik layak diberi rumah yang baik pula. Tapi apakah itu maksud dari dunia fana? Jujur saja melihat Inang yang tak punya rumah untuk sekadar bersandar adalah hal yang menyakitkan hati kecil insan. Rumah sejati bukan hanya untuk berteduh, melainkan memberi tempat perlindungan. Insan dan inang tetap di dalam, tapi rumah perlahan pergi meninggalkan fana. Rumah selalu memberikan fana, tetapi melupakan dunia kecil di dalam dirinya.

Halo namaku Irma, putri kecil Inang bernama Isma. Ibuku yang sering aku panggil Inang adalah seorang single parent. Beliau bercerai dengan sang rumah yang sering aku panggil Ayah, saat aku berusia 6 tahun. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Saudaraku, mereka sudah merantau 

tak tahu arah. Pergi ke pulau satu balik ke pulau lainnya. Bisa dibilang aku tidak akrab dengan keduanya. Sejauh ini hidupku seperti lembah gelap yang tak bisa dijangkau oleh mentari terang. Aku selalu berjalan sendiri. Inang selalu bekerja dari pagi hingga malam, sedangkan Ayah entah pergi kemana setelah bercerai dengan Inang 14 tahun silam. 

Inang senantiasa kesepian di sepanjang umurnya. 14 tahun berlalu, tak ada perubahan yang tampak mengesankan di dalam hidupnya. Berputar-putar seperti komedi putar yang sering Inang lihat di pasar malam. Ada rasa iri dan dengki yang bersarang di hatinya. Ingin rasanya ia murka. Tak ada bahagia yang Inang temukan di dalamnya. Dipukul, ditampar, dicekik, dan diselingkuhi adalah makanan sehari-hari. Kelamnya percintaan Inang selalu membuat Insan takut tak beraturan. 

Sedih rasanya melihat orang terkasih yang selalu berkorban di sepanjang hidupnya dilukai dengan cara tak manusiawi. Cerita manis dan indah yang orang-orang rasakan tak berlaku untuk Inang.

“Sakitt…rasanya sakittt,” lirih Inang

Hatinya terlalu sakit untuk mengingat semua cerita yang telah terjadi. Inang sadar, semua luka yang singgah di hatinya hanyalah tamu sementara. Meski jejaknya tak pernah benar-benar hilang, Inang tetap berdiri dengan sisa tenaga yang ia punya. Dunia fana memang kejam, selalu memberikan derita dan darah tanpa jeda, tetapi Inang memilih tetap hidup, demi insan kecil yang lahir dari rahimnya. Irma, hanya bisa menatap punggung renta itu dari jauh. Punggung yang tak pernah benar-benar mendapat sandaran, namun tetap kokoh menjadi sandaran bagi anak-anaknya.

Kini insan mengerti, rumah sejati bukanlah bangunan tinggi yang megah, bukan pula atap yang melindungi dari hujan dan panas. Rumah sejati adalah hati yang tak pernah menyerah, hati yang meski retak tetap memeluk, hati seorang Inang yang tak pernah berhenti mencinta meski dunia menolak keberadaannya.

Insan sang putri kecil yang lahir dari luka dan derita, akan terus singgah di pelukan Inang sampai fana ini menutup cerita. Karena di balik gemerlap dunia yang penuh dusta, hanya ada satu kebenaran yang tak bisa digoyahkan, cinta seorang Inang adalah rumah paling abadi di dunia.

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Yang Pergi karya Farhan Anshori Putra

 Yang Pergi

Karya Farhan Anshori Putra


Kepadamu..

yang telah lama pergi

Kau tahu. berapa musim kulewatkan

berduka? hingga mata enggan

menatap. memilih buta

kehilangan cahaya

Yang kuyakini tak pernah kembali. kau

tahu. berapa lara kurayakan sengaja

hingga kenanganmu disemogakan

terlupa

Kepadamu

yang kini berdiri sendiri. di ruang lain

tak tahu seberapa besar ingatanku

tentangmu. atau memilih kenangan

hilang dengan waktu

Entah kamu

Atau kenanganmu

Aku tak tahu.


PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...