Rabu, 26 Maret 2025

SEKAR Edisi Maret 2025 | Us karya Nasya Falasarika

 Us

karya Nasya Falasarika


    “Ngapain?” aku menatap tangannya yang dengan sengaja menyentuh tanganku. Ia masih saja cengengesan tanpa rasa sungkan, jadi kuhempas saja lengannya dengan keras. “Jangan begitu, bikin malas saja!” dia masih tampak tenang-tenang saja tanpa mengurangi senyumannya. Aku pergi dari hadapannya dan menuju bangku yang lain, menagih uang iuran dari teman-teman sekelasku. Ya, aku seorang bendahara, sejak SMP jabatanku menetap di sini, dan aku menjadi lumayan muak. Teman-teman biasa memanggilku Rin, dan yang barusan aku marahi itu adalah Adam, seorang siswa paling menjengkelkan dan paling nakal yang aku tahu. Aku membencinya, kalian harus tahu itu. Dan itulah yang seharusnya benar-benar aku yakini, hingga kemudian sesuatu berubah dan aku menyesal pernah mengenalnya.

            Hari itu seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan menaiki sepeda ontelku, dan sampai di sekolah pukul 06.40, 20 menit lagi sebelum bel tanda pelajaran pertama dimulai. Aku bergegas menuju kantin dan membeli roti, ibuku tak sempat memasak dan aku belum sarapan. Di sana aku bertemu dengan teman-temanku yang datang lebih awal, aku menyapa mereka dan kami mengobrol santai. Beberapa saat berlalu dan kami memutuskan untuk segera kembali ke kelas sebelum bel berbunyi. Di kelas, seperti biasa sudah banyak teman-teman yang duduk di bangku masing-masing dan bergosip. Mataku memindai seisi kelas, dan tak kulihat batang hidung Adam, kemana dia? 2 menit lagi bel akan berbunyi dan bahkan tasnya belum berada di bangkunya. Ia memang siswa yang nakal dan tidak disiplin, lagipun kenapa aku sibuk memikirkannya.

            Tanpa kuduga, bel segera berbunyi dan guru Bahasa Indonesia kami sudah beranjak masuk ditandai dengan suara derap langkah kakinya. Saat sang guru muncul, ada seseorang dibelakangnya, itu Adam. Kalian tak perlu heran karena itu hal yang biasa. Biasanya juga guru-guru yang mengajar di kelas kami akan terlebih dahulu menuju kantin di pojok dan menarik paksa Adam dan kawan-kawannya dari sana. Seperti itu pribadi Adam, makanya aku tidak menyukainya, sangat berkebalikan denganku yang sangat menghargai waktu dan pembelajaran. Tampaknya karena orang tuanya kaya ia tak berminat untuk belajar dan sukses. 

            Kelas hari itu berakhir dengan seru, pasalnya pelajaran terakhir diisi oleh salah satu guru muda yang tentunya sangat asyik dan penuh semangat. Saat bel tanda pembelajaran telah berakhir, kudengar seruan rendah dari teman-teman, menyayangkan bahwa waktu belajar dengan guru itu terasa sangat sebentar. Aku dan teman-teman segera menuju parkiran dan mengeluarkan sepeda kami, pada zaman itu hampir semua siswa sekolah ini menaiki sepeda, beberapa lagi diantar orang tua, dan sisanya naik angkutan umum. Tampak sangat menyenangkan.

            Dan seperti itulah hari-hariku dan teman-temanku berjalan, kami sibuk belajar dan menikmati kehidupan hingga tidak terasa ujian kenaikan kelas sebentar lagi akan berlangsung. Setelah pulang sekolah banyak siswa sibuk menanyai teman-temannya yang lebih pintar untuk mengajak mereka belajar bersama. Dan aku salah satu korbannya, namun sejujurnya aku tak mampu jika belajar bersama mereka. Karena nyatanya beberapa dari mereka tak benar-benar mau belajar, hanya menumpang bersantai dan meyakinkan orang tua mereka bahwa mereka benar-benar memprioritaskan ujian kenaikan kelas ini. Sudah beberapa siswa yang aku berikan alasan dan menolak belajar bersama mereka. Dan akhirnya aku bisa pulang dengan damai untuk mempersiapkan ujianku dengan lebih nyaman. Ujian kenaikan kelas tinggal sepekan lagi dan aku sudah merasa mantap akan persiapanku. Tetapi ternyata kehidupanku tak akan berjalan semulus itu, di parkiran sekolah kutemui Adam berdiri tepat di samping sepedaku sambil memegang setirnya seakan-akan ia pembalap. “Ngapain?” tanyaku dengan nada sedikit tinggi, ia terkejut dan menoleh kepadaku sambil nyengir. “Eh kamu sudah keluar Rin, jadi gini...” aku diam saja, menunggu ia menyelesaikan ucapannya tapi ia hanya diam saja. “Cepat, ada apa?” ucapku jengkel. Dia beranjak mendekatiku dan dengan cepat menjatuhkan tubuhnya dan memohon kepadaku dengan kedua tangan di depan dada, “Aku mau kita belajar bareng, mau ya?” aku tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. Ini jam kepulangan sekolah dan seluruh siswa tengah berada di parkiran ini, lalu adegan apa yang sedang kami pertontonkan ini? Mulai banyak yang memperhatikan kami dan menyerukan sesuatu yang tak kumengerti, aku yakin mereka salah paham terhadap kejadian ini jadi lekas kutarik lengan Adam dan membuatnya berdiri. “Apa-apaan sih, Dam? Kamu ngapain?” tanyaku, ia hanya tampak tersenyum tipis dan kemudian mengatakan hal yang (lagi-lagi) tak kumengerti. Aku capek meladeninya jadi ku-iya-kan saja apa yang ia tawarkan.

            “Oh ini Rina ya? Sini masuk, sebentar, Tante panggilkan Adamnya dulu ya”, wanita paruh baya itu tampak cantik sekali, mungkin kecantikannya yang membuat Adam juga tampan. Ah apa-apaan pikiranku ini. Selagi menunggu Adam keluar, aku duduk di sofa dan melihat-lihat sekeliling ruangan, banyak foto keluarga Adam, tapi aku tak menemukan satupun foto Adam yang menggantung di dinding. Sedikit membuatku bertanya-tanya tapi aku lekas berhenti memikirkannya saat melihat Adam keluar dan menyapaku. Aku sedikit kaget melihat tampilannya yang mengenakan baju rumahan, pasalnya aku hanya bertemu Adam di sekolah. Kami tidak dekat. Setelah cukup basa-basi, kami langsung belajar selama tiga jam, disela-sela itu Tante Windi, ibu Adam datang sesekali untuk menyuguhkan beberapa camilan dan minuman. Tepat pukul empat sore aku berpamitan dan berjanji untuk datang setiap hari selama lima hari ini. Ya, bukannya aku yang memutuskan untuk datang setiap hari, tapi ibu Adam yang memintaku membantu anaknya ini agar nilai ujiannya tidak terlalu buruk. Aku paham apa yang ibunya pikirkan.

            Jadi selama lima hari berikutnya kami belajar bersama di rumah Adam, dari pertemuan-pertemuan itu aku mengenal Adam yang berbeda. Ia tampak sangat kalem saat berada di rumah, apalagi saat Tante Windi menemani kami di akhir belajar. Adam yang ini jauh lebih baik. Sementara di sekolah ia masih menjadi pengganggu yang suka menjahiliku, namanya sering kudengar di pengeras suara karena panggilan dari guru BK. 

            Ujian kenaikan kelas pun tiba, aku dan seluruh siswa lainnya sibuk dengan urusan kami masing-masing, tapi tak lupa setiap habis ujian kami pasti saling menanyakan jawaban untuk ujian tadi. Hal itu tak berhenti sampai ujian kenaikan kelas akhirnya selesai. Masa tenang alias liburan dimulai, dan kami semua bersiap pindah ke kelas 11. 

            Perlu kalian tahu bahwa di sekolah kami tidak ada aturan rolling siswa, artinya siswa yang sekelas dari kelas 10 akan terus bersama sampai kelas 12. Dan itu sejujurnya cukup membosankan. Bayangan aku harus selalu bertemu tatap dengan Adam sudah membuat bulu kuduk merinding.

            Di kelas 11 aku mulai lebih serius lagi dalam memahami pelajaran, karena aku sudah memiliki rencana untuk kuliah di jurusan pendidikan Bahasa Indonesia. Aku suka mengajari teman-teman sekelasku, maka dari itu aku sangat bersemangat untuk menjadi seorang guru. Kejahilan Adam masih terus berlanjut, tampaknya ia benar-benar bodo amat dengan pelajaran sehari-hari tapi sangat mementingkan nilai ujian. Aku tak mampu mendalami pikirannya, aku tak mampu memahami bagaimana ia bisa bersikap dan bertingkah seperti itu. 

            “Dasar pendek haha”, kali ini tingkah jahilnya sudah membuatku sangat lelah batin dan raga, jadi aku memutuskan kembali ke bangkuku. Biarlah buku yang ditangannya itu ia kembalikan sendiri padaku. Harusnya ia malu jika bersemangat sendirian. Tapi aku salah, ia malah menghampiriku  dan berdiri disampingku sambil tetap mengangkat bukuku tinggi-tinggi, menyuruhku menggapainya. Ya, dia memang lumayan tinggi, tapi aku juga tak terlalu pendek, 160 cm itu sudah tinggi bagi perempuan. Ia saja yang tingginya keterlaluan. Hari-hariku selama di kelas 11 selain belajar adalah meladeni kejahilan Adam yang anehnya selalu ia lakukan padaku.

            Hari-hari kulalui dengan bersemangat, Adam juga tampak lebih bersemangat dalam menjalani kenakalan dan kejahilannya. Namanya semakin sering terdengar dari pengeras suara. Kejahilannya kepadaku juga semakin beragam, kali ini ia lebih sering menggodaku karena teman-teman sekelas mulai menjodoh-jodohkan kami. Buktinya hari ini, saat istirahat ia sibuk memandangiku yang tengah menulis -melengkapi catatanku. Posisinya tepat di depanku seraya memangku dagunya. Aku yang merasa risih tentu saja berusaha membuatnya pergi, namun itu tak mempan, tak pernah mempan. Ia akan pergi jika ia memang mau. Dan tentu saja, teman-teman yang masih berada di kelas mulai meneriaki kami, hingga salah satu teman Adam mulai mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. “Adam itu suka sama kamu, Rin. Pacaran gih,” ucapnya sambil terkekeh. Aku tidak menggubrisnya, sudah sering kudengar teman-teman sekelas mengatakan hal serupa. Aku hanya menatapnya dengan kesal. Adam masih membeku dengan posisinya yang menatapku, aku yang mulai merasa jengah, akhirnya memilih untuk menutup buku catatanku dan beranjak keluar kelas, bel pertanda pembelajaran dimulai akan terdengar sekitar enam menit lagi, masih sempat untuk membeli roti di kantin. Tapi, Adam dengan santainya masih mengikuti hingga ke kantin bahkan sampai aku kembali ke kelas. Aku sudah tak sanggup lagi, kubiarkan ia berlaku sesukanya.

            Hari-hari dengan kejahilan Adam sudah menjadi makanan wajibku, aku juga menjadi lumayan lebih dekat dengannya. Beberapa kali aku diantarnya sepulang sekolah karena sepedaku sedang diperbaiki. Aku juga jadi lebih lunak kepadanya, ia aslinya anak yang baik asal tidak jahil saja. Suatu hari, saat kami hendak keluar dari gerbang sekolah, Adam tiba-tiba bertanya, “Mau nemenin aku dulu ga, Rin?” aku menoleh dan menjawab, “Kemana?”, “Latihan basket di Lapangan Kota. Bentar doang kok,” aku berpikir sebentar dan memutuskan untuk mengiyakan ajakannya. Besok hari libur jadi aku tak perlu mengkhawatirkan pelajaran. Jadi, selama di perjalanan kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari alasan sekolah di SMA itu hingga masalah pribadi. Pembicaraan kami akhirnya sampai pada topik yang membuatku penasaran, “Dam, pas kita belajar bareng, aku ga liat ada fotomu di ruang tamu. Kenapa?” tanyaku dengan agak keras. Adam terdiam sebentar dan kemudian mulai menjawab, “Aku anak angkat, Rin. Mereka bukan keluarga biologisku. Itu menjawab pertanyaanmu kan?” aku terhenyak, tak menyangka jawaban itu yang akan kuterima dari mulutnya. Setelah mengucapkan kata maaf, aku berhenti bertanya dan membiarkan sisa perjalanan kami menjadi sunyi. Sesampainya di tempat latihan, Adam menyuruhku duduk di kursi penonton dan ia menitipkan tasnya padaku. Selama kurang lebih satu jam, aku melihatnya sangat serius bermain basket, ia tampak sangat berbeda dengan Adam yang biasanya kulihat. Mungkin Adam memang tidak jago di bidang akademik, tapi aku perlu mengakui bahwa di bidang olahraga ia tidak dapat dipandang sebelah mata. Aku sangat fokus memperhatikan permainannya dan baru menyadari bahwa latihan basketnya sudah selesai, beberapa teman Adam tampak menunjuk ke arahku dengan isyarat, dan Adam juga ikut menoleh lalu mengucapkan sesuatu sambil tersenyum. Setelah itu, Adam beranjak mendekatiku dan mengulurkan tangannya, aku paham apa yang ia minta dan segera kuserahkan air mineral botol yang kami beli di perjalanan tadi. “Kamu jago banget ya mainnya,” ucapku dengan spontan, sontak aku mengutuk diriku sendiri yang dengan entengnya mengucapkan pujian itu. Adam dengan senyumannya yang lebar memandangku dan kemudian merebahkan tubuhnya di kursi di samping tasnya. “Kenapa? Suka ya?” jawabnya tengil. Aku hanya mendengus pelan dan kami beristirahat sebentar sebelum akhirnya pulang.

            “Tadi temanku ngira kamu pacarku, haha,” ucap Adam setelah kami sudah berada di jalan. “Kenapa gitu?” tanyaku kemudian. “Ya lagian siapa yang nemenin orang lagi main basket kalau bukan pacar?” jawabnya santai. Aku hanya mengangguk-angguk dan memilih untuk menyudahi percakapan ini. Aku merasa sesuatu berubah dari kami, dan aku takut ini hanya perasaanku.

         Setelah sampai di depan rumahku, aku mengucapkan terima kasih kepada Adam dan menunggunya menghilang dari hadapanku, tetapi ia sepertinya masih mau membicarakan sesuatu, “Kalau kita berangkat bareng tiap hari, mau ga?” ucapnya, “Gak ah, kamu sering telat. Ntar aku ikutan telat,” jawabku dengan ketus. Ia tampak memikirkan sesuatu, “Janji ga telat deh, mau ya?”. “Sepedaku besok sudah bisa dipake, gak perlu kamu jemput. Sudah ya, ini sudah sore banget. Gih cepet pulang,” tanpa menunggu jawabannya aku melengos dan memasuki rumah. Kudengar beberapa saat kemudian motor Adam menjauh dari depan rumahku. Aku berlari kecil ke luar rumah, memandangi punggungnya yang menjauh. ‘Jangan ya, Rin. Kita itu ga mungkin’. Gumamku sambil berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.

            Setelah kejadian itu, kami masih dekat, Adam masih menjahiliku tapi aku lebih sering tidak menggubrisnya dan biasanya ia akan lelah sendiri. Saat kelas 12, kami menjadi lumayan canggung, Adam sudah tak pernah lagi menjahiliku. Dan teman-teman sekelas tampak sudah mengetahui jarak yang ada di antara kami dan mereka berhenti menggoda kami.

            Hari itu adalah hari yang paling ditunggu oleh seluruh siswa kelas 12, hari wisuda. Acara wisuda kami berjalan sangat baik dan kami juga merasa cukup puas atas pencapaian yang diperoleh sekolah kami. Hari itu juga menjadi hari terakhir aku bisa bertemu dengan teman-temanku, termasuk Adam. Kami melanjutkan kuliah di kampus yang berbeda. Dan aku sangat berharap di hari itu, aku dan Adam akan mencoba kembali dekat, tapi nyatanya kami tetap tak berbicara satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang salah diantara kami, apa karena ucapanku saat itu atau hal lain, aku tak mampu memahaminya. Yang kurasakan hanya sakit hati karena beberapa waktu terakhir aku menyadari bahwa aku benar-benar telah menyukai Adam. Beberapa kali kucoba menjangkaunya melalui chat, tetapi keberanianku hilang timbul, dan akhirnya tak ada yang terjadi, tak ada yang berubah, kami menjadi asing dalam satu hari.

            Aku berhenti memikirkan Adam saat perkuliahan dimulai, menjadi mahasiswa ternyata tidak semudah dan semenyenagkan bayanganku. Minggu pertama kami sudah diminta untuk mempersiapkan bahan untuk melakukan presentasi. Dan tidak ada waktu tersisa untuk memikirkan hal lain. Sampai tak terasa, kini aku sudah menginjak semester 4 dan aku belum pernah pulang ke kota asalku selain di hari lebaran, sudah hampir dua tahun aku menetap di kota ini. Masih ada waktu-waktu di mana aku teringat akan Adam, aku menyesali mengapa perpisahan kami setidak-menyenangkan itu. Rasa itu masih menetap di sana, sudah kucoba untuk memasukkan nama lain, tapi tak pernah mampu menyingkirkan nama Adam. Aku sudah pernah berusaha untuk menghubungi Adam kembali, namun saat ku kunjungi akun salah satu media sosialnya, kulihat ia mengunggah satu foto bersama seorang perempuan, sepertinya seumuran. Dan sepertinya itu pertanda bahwa sudah tak ada lagi yang bisa diharapkan. Maka aku mencoba berhenti memikirkannya dan menjalani hari-hariku sebagai mahasiswa.

            Tanpa terduga, suatu hari, ada yang memulai percakapan di grup angkatan SMA ku, sang ketua kelas. Ia menawarkan untuk mengadakan reuni karena kami sudah lama tak bertemu, dulu sempat diadakan reuni pertama, namun karena aku merasa tak mampu meluangkan waktu, aku tak ikut. Tapi kali ini aku sangat ingin hadir dan melihat wajahnya, wajah Adam. Setidaknya aku harus mengobati kerinduanku padanya, walaupun ia sudah punya seseorang disampingnya. Diskusi terkait waktu dan tempat dengan cepat menemukan keputusan final. Akhirnya kami semua bersedia untuk melaksanakan reuni di hari libur.

            Reuni SMA-ku akhirnya tiba, aku merasa sangat khawatir sekaligus deg-deg an, karena aku belum begitu siap untuk bertemu langsung dengan Adam setelah sekian lama. Tapi aku harus menguatkan diri. Aku berangkat menuju tempat reuni 30 menit sebelum waktu yang ditentukan. Saat sampai di sana, aku disambut oleh beberapa teman kami yang bertugas sebagai panitia reuni. Saat memasuki gedung itu kulihat beberapa kursi sudah terisi, dan saat kupandangi ke seluruh penjuru, tak kutemui Adam disitu. Perasaanku sedikit kecewa, tapi kemudian aku ingat bahwa Adam memang rajanya telat. Jadi, aku mulai beranjak dan menduduki kursi yang masih kosong. 

            Beberapa menit berlalu, Adam masih juga belum datang. Kursi-kursi yang tadinya kosong sudah mulai penuh terisi. Aku mulai menyangsikan kepercayaanku pada Adam, sepertinya kali ini ia bukan terlambat, tapi ia tidak akan datang. Sebentar lagi acara reuni akan dimulai dan aku benar-benar sudah berhenti berharap, namun beberapa saat kemudian salah satu teman Adam yang menjadi panitia mendekatiku dan kami mulai mengobrol dan menanyakan kabar masing-masing. “Adam bakal dateng kok, Rin. Tenang saja,” ucapannya membuatku terheran tetapi aku mencoba menutupinya dengan tertawa kecil, “Eh, aku ga nungguin Adam kok,” tapi ucapannya selanjutnya membuatku terdiam. “Kamu kelihatan banget dari awal masuk tadi, kamu cari seseorang, dan aku ga bisa menemukan nama lain selain Adam. Itu kelihatan jelas. Tapi aku ga paham kenapa kalian jadi asing saat kelas 12 bahkan saat wisuda bisa-bisanya kalian ga foto bareng. Sorry kalau aku terlalu ikut campur, tapi aku greget banget sama hubungan kalian. Adam tuh sering cerita tentang kamu, tapi tiba-tiba suatu hari dia gak mau lagi denger kami bahas tentang kamu. Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi semoga saja kalian mendapatkan takdir yang bahagia, walaupun mungkin gak harus sama-sama”.

            Setelah ucapan panjang dari Dio -teman Adam- hatiku mendadak merasa sakit, mataku juga terasa memanas. Jika tak sedang berada di ruang publik, aku sudah akan menangis sekencang mungkin. Selama ini, aku berusaha mengelak bahwa aku sangat menyukai Adam, aku kecewa atas sikapnya yang tiba-tiba berubah, aku kecewa atas hubungan kami yang seperti ini. Aku merindukannya, aku harap yang dikatakan Dio benar, Adam akan datang.

            Tepat beberapa saat sebelum acara dibuka oleh MC, ada seseorang yang datang dan mengambil seluruh perhatian dari dalam ruangan. Itu Adam. Dia tampak cengengesan dan meminta maaf dengan gerakan tubuhnya, lalu mulai mencari kursi kosong. Saat akhirnya ia melihat ada kursi kosong, ia akhirnya beranjak dan menduduki kursi itu, kursinya berjarak beberapa kursi dariku, dan ia tampak tak menyadari keberadaanku. Lalu, acara pun dimulai. Kami semua menikmati rangkaian acara dengan hikmat dan menyenangkan. Beberapa acara memang didesain sebagai hiburan, salah satunya permainan tebak nama. Permainan ini mewajibkan peserta reuni yang ditunjuk untuk menyebutkan nama lengkap pemain kedua, yaitu objeknya. Kalau pemain pertama gagal maka ia harus berusaha mengetahui namanya dengan mengerjakan beberapa tantangan. Kegiatan itu sangat seru dan aku cukup menikmatinya, lalu tiba-tiba Dio, menunjuk Adam sebagai pemain pertama dan aku sebagai pemain kedua. Saat itulah kurasa Adam baru menyadari kehadiranku, terlihat dari raut wajahnya yang tampak kaget. Ia yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak sontak menghentikan tawanya, dan ruangan menjadi hening selama sesaat. Dio memerintahkan Adam untuk menyebutkan nama lengkapku, tapi Adam terdiam beberapa lama sambil terus memandangku. Dio yang merasa keadaan semakin canggung, dengan inisiatif mengulangi perintahnya dan Adam lalu mulai menyebutkan satu-persatu namaku. “Rina Alifia Huda, itu nama lengkapnya. Dia teman sekelasku yang sangat berkesa-” Dio memotong ucapan Adam lalu dengan riuh mengumumkan bahwa Adam melewati permainan ini dengan kemenangan mutlak. Adam masih tak berhenti memandangku, aku merasa ada sirat kekecewaan di matanya. Acara reuni kembali berlanjut, semua orang sangat bersemangat dan berbahagia. Namun, tidak lagi bagiku, hatiku terasa sangat tidak nyaman.

            Acara reuni selesai pukul 1 siang dan kami menyempatkan untuk melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Tanpa kusadari, Adam berada di sebelahku dan kami tak sengaja bertatapan. Setelah melakukan foto bersama, kami beranjak pulang dan beberapa orang menyempatkan diri untuk berbagi kontak agar tak hilang komunikasi. Saat aku hendak menuju parkiran, seseorang memanggilku. Itu Dio. “Rin, sini dulu dong, kalian gak mau bertukar sapa?” aku membeku, aku paham apa yang Dio maksud, hatiku rasanya bergerak tak karuan. Sebelum sempat menjawab, tiba-tiba Adam muncul dari belakang bahu Dio dan menepuk pundaknya. Ia mengatakan beberapa patah kata lalu Dio hanya mengangguk, Adam beranjak mendekatiku dan kami bertatapan beberapa saat sebelum Adam menarik tanganku dan mengajakku pergi.

            Kami kembali berada di atas motor bersama, Adam tak mengatakan apapun padaku. Ia hanya menyuruhku menaiki motornya dan kami langsung pergi. Di tengah perjalanan, aku mencoba membuka percakapan, namun rasanya mulutku tak mampu mengatakan apapun. Perasaanku tak karuan dan rasanya aku ingin menangis.

            Beberapa saat kemudian kami sampai di lapangan basket kota, tempat dulu Adam latihan dan aku menemaninya. Adam menyuruhku turun dan secara tiba-tiba menggenggam tanganku. Kami masuk ke dalam lapangan dan di sana aku melihat banyak sekali orang yang sedang menonton pertandingan basket. Saat kami duduk di kursi penonton, aku baru menyadari bahwa yang tengah bermain di lapangan adalah teman-teman Adam. “Itu teman-temanmu kan?” Adam hanya mengangguk dan ia tetap tak melepaskan genggamannya. Cukup lama kami berdiam diri dan hanya menonton pertandingan basket itu, tak terasa pertandingan akhirnya berakhir dan dimenangkan oleh tim dari teman-teman Adam. Kulihat Adam tersenyum tipis. Kemudian ia melepaskan genggamannya dan berdiri seraya melambaikan tangannya ke arah lapangan, disitu kulihat teman-temannya membalas lambaiannya dan tersenyum bangga. 

            Lapangan basket itu mulai sepi karena sebagian besar penonton sudah pulang, tim lawan yang kalah pun sudah tak lagi berada di lapangan. Di sana hanya terdapat teman-teman Adam dan beberapa penonton yang tampaknya saling mengenal. Saat itulah Adam mulai membuka pembicaraan, “Kamu apa kabar Rin? Aku harap kamu baik-baik saja,” aku menoleh dan melihatnya tetap memandang ke tengah lapangan, ia memilih untuk tak melihatku. “Kita mungkin gak akan bertemu lagi, jadi izinin aku ngungkapin semuanya. Aku gak lagi baik-baik saja. Karena aku gak tahu kenapa kamu tiba-tiba berubah saat kita kelas 12, aku gak tahu kenapa bahkan di hari perpisahan kamu masih tidak menurunkan egomu dan seenggaknya kita harus berfoto bersama. Kamu egois dan jahat banget. Padahal, aku sangat berharap kita gak se-asing itu. Aku salah apa?” ungkapku sambil mencoba menahan air mataku yang aku yakini sebentar lagi akan jatuh. Aku memilih untuk tidak menatapnya juga, hatiku tidak akan mampu. Adam menghembuskan napas perlahan, “Kata siapa kita ga bakal ketemu lagi?” aku sontak menoleh dan mendapati Adam tengah menatapku. “Sampai kapan kita sama-sama membohongi diri-sendiri?” Adam kembali bersuara dan kini pandangannya mengarah ke tengah lapangan di mana teman-temannya sedang berkumpul. “Aku juga kecewa sama kamu, dulu kamu se-nggak mau itu untuk berangkat bareng sama aku, bahkan seringnya nyuekin aku di kelas. Tapi, ada satu momen di mana aku ngeliat bagaimana bahagianya kamu sama si Raka. Aku mengambil kesimpulan, bahwa kamu menyukai Raka dan bukan aku,” aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari sisi wajah Adam, walaupun ia tengah menyampingiku dapat kulihat matanya sedikit berair, secara tidak langsung apakah ia sedang mengakui bahwa ia menyukaiku? “Jadi, selama ini kamu juga suka?”, “Ya, dan itu sepertinya jauh sebelum perasaanmu”.

            Kami menghabiskan sisa sore itu di lapangan kota, banyak cerita dan kenyataan yang coba kami ungkapkan kepada satu sama lain. Akhirnya aku memahami bahwa apa yang Adam lakukan adalah murni karena kecemburuan tak masuk akalnya, dan apa yang aku lakukan adalah penyebab ia melakukan itu. Secara tak sadar, kami saling menyakiti satu sama lain. Adam juga bercerita bahwa ia tidak berniat hadir di acara reuni tahun ini karena di tahun lalu ia tak mendapati kehadiranku. Aku juga menanyakan perihal fotonya bersama seorang perempuan yang diunggah di akun Instagramnya, dan sebelum menjawab pertanyaanku ia sudah tertawa lebar dan mengejekku karena cemburu. “Dia sepupuku kok, jadi kamu gak usah cemburu ya,” ucapnya tanpa menghilangkan senyumannya yang menjengkelkan. Hari itu juga kami bertukar kontak dan mulai berhubungan kembali setelah sekian lama. Aku tak pernah menyangka bahwa perasaanku akan berbalas, bahkan meskipun Adam masih tak berhenti menjahiliku, rasanya aku mampu untuk menerima semua kejahilannya, karena itulah yang membuatku menyukainya. Adam juga mengungkapkan bahwa ia berani langsung mengajakku karena ia tahu aku masih belum punya pacar, salah satu temannya yang satu kampus denganku memberitahunya. “Kamu kepoin aku?” ucapku saat mendengar informasi itu, Adam menggeleng “Nggak, temenku nggak sengaja ngasih tahu”, “Aku baru tahu kalau ternyata cowok juga suka gosip ya, haha”.

            Beberapa minggu kemudian, kami berpacaran dan walaupun kami berbeda kota, setiap akhir pekan atau akhir bulan Adam menyempatkan diri untuk menemuiku dan kami menikmati waktu bersama. Aku banyak menunjukkan sisi diriku yang tak pernah kutahu akan seperti itu, Adam membawa banyak perubahan dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Rasanya menyukai seseorang yang menyukaimu juga adalah perasaan paling indah yang pernah Tuhan ciptakan. 

            “Rasanya seperti mimpi ya, Dam. Bagaimana bisa kamu membayangkan bersama denganku yang sangat pintar ini,” Adam terkekeh pelan seraya mengusap lenganku yang ia genggam. “Iya, bagaimana bisa aku bermimpi memegang tangan seseorang yang sangat jutek ini” ungkap Adam sambil mencium tanganku. Sore ini kami menikmati debur ombak dengan semburat jingga dan ungu yang menari-nari menghiasi langit. Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, menyisakan jejak keemasan di permukaan laut yang tenang. Kami saling diam dan menikmati keheningan yang nyaman, tak ada kata yang mampu terucap dan hanya hati kami yang bersuara dengan kencang, memanggil nama satu sama lain. Mimpi yang tak lagi jauh itu, telah singgah di kehidupanku, menjadi kenyataan yang sulit dinalar.

 

SEKAR Edisi Maret 2025 | Akhir dari Riuhnya Angin Malam karya Nadila Aprilianti Tri Zikri

Akhir dari Riuhnya Angin Malam

karya Nadila Aprilianti Tri Zikri


Apa yang tidak ada dari diriku? Mengapa sulit memilih untukku sendiri? Apakah aku mampu membuktikan ke semua orang? Beberapa pertanyaan itu selalu muncul dalam pikiran seorang gadis remaja yang jiwanya tertanam dalam ruangan hitam di kepalanya. Dinginnya malam selalu memecahkan kehangatan dalam tubuhnya, tangis yang bercucuran di pipinya membuat ia semakin larut dalam kedinginan. Berharap akan ada yang bisa menyelamatkannya, namun hal itu sangat mustahil. Tak kuasa ia menghangati jiwanya yang tak bisa keluar dari kegelapan.

Perempuan remaja ini hanya bisa meratapi nasibnya, yang entah sampai kapan semua ini berakhir. Keluarga yang tak memihaknya, pertemanan yang memojokkannya, itu semua membuatnya semakin tak berdaya. Di dalam tubuh yang tidak berdaya, ia ingin semua yang membencinya dapat melindunginya dari kedinginan itu. 

Saat terik matahari menyinari bumi, terdapat seorang gadis remaja bernama Kia yang sedang mengalami masalah di tempat yang jarang dikunjungi oleh siswa sekolah, yaitu di gudang belakang sekolah. “Duhh sekarang udah ga nurut lagi ya, pake ga ngerjain tugas gue sekalian. Egois tau ga sih!!!!” ucap rekannya yang benci dengan Kia. Kia memberanikan diri untuk tidak mengerjakan tugas temannya yang bernama Asti, meskipun Kia dan Asti berteman sedari SD namun saat mereka menduduki bangku SMA, Asti pun mulai berubah, Asti jauh lebih nakal dan justru memanfaatkannya, “Sorry Asti aku kemarin gabisa ngerjain tugas mu karena aku sakit, bahkan tugasku sendiri saja juga belum aku kerjain” tegas Kia. “Aku ga peduli ya Kia, pokoknya harus selesai juga. Kamu ga inget kita dulu sering kemana-mana bareng? Kamu lupain semuanya?” ucap Asti yang tidak peduli dengan temannya itu. “Kamu harus bisa ngerjain tugas kamu sendiri Asti” jawab Kia dengan harapan Asti dapat memahami keadaannya, nyatanya hal itu tidak terjadi, Asti dengan kesal justru mendorong Kia dan menyiram Kia “Lu itu harus bantuin gue, kalo ga gue bakal cepuin ke mama lu. Hahahahaha” ancam Asti kepada Kia. Asti adalah satu-satunya teman Kia yang mengerti bagaimana keadaan keluarganya, Asti dipercaya oleh mamanya Kia untuk mengawasi Kia oleh karena itu Asti bisa saja mengancam Kia dengan mudah. Sebab Kia sangat takut dengan mamanya, menurutnya apabila ia melakukan kesalahan maka taruhannya pun nyawa. 

Setelah perselisihan itu Kia pun langsung menuju ke ruangan akademik untuk mendapatkan bimbingan, karena ia mendapatkan kesempatan untuk mengikuti olimpiade biologi. Di dalam ruangan itu hanya satu gadis yang dekat dengan Kia yang saat ini menjadi sahabat seperjuangan, gadis itu bernama Laksma, ia adalah satu-satunya teman yang Kia punya saat ia menduduki bangku SMA. “Masih berani aja Kia ikut Olimpiade, lu kan kalah terus!” ejek teman-temannya di ruangan itu “Kalian ini apasih, kita kan sama-sama belajar dan berjuang buat banggain sekolah” bela Laksma yang tidak terima Kia direndahkan. Memang benar Kia sering mengikuti olimpiade akan tetapi nasibnya belum beruntung, Kia belum pernah sama sekali mendapatkan juara dibandingkan teman-temannya. Saat pembinaan sudah selesai Kia dan Laksma pulang bersama, mereka menuju halte bus yang sama, di perjalanan menuju bus mereka pun saling bertukar cerita “Kia kamu itu harus berani jangan mau terus-terusan direndahin, kamu itu berhak loh untuk membela diri kamu sendiri” ucap Laksma “Gimana ya, aku ngerasa omongan mereka itu benar kok, selama ini aku belum pernah mendapatkan juara olimpiade gak kayak kamu dan temen-temen lain. Lagian aku juga gamau kalau keadaan lebih ricuh lagi” jawab Kia dengan pasrahnya “Ya ga gitu, pokok intinya kamu gak boleh nyerah dan inget kalau kamu itu berarti banget. Kalau ada apa-apa cerita ya ke aku, kan kita sudah bestie” Laksma yang ceria itu memberikan semangat lagi untuk sahabatnya. 

Sesampainya Kia di rumah, ia pun langsung disambut oleh ibunya “Dasar perempuan nakal, kemana aja kamu baru pulang. Kamu gak lihat jam berapa ini?!!!” amarah ibunya menyambut kepulangan Kia, Kia pun spontan kaget sebab menurutnya ia tidak begitu terlambat untuk pulang ke rumah. “maaf buk, tadi kia lama nunggu bisnya” jawab Kia, “alah alasan terus, sekarang buruan ganti baju dan buruan datang ke kamar ibuk”. Semenjak ayah Kia pergi dari rumah dengan alasan bekerja di luar negeri, hingga sekarang ayahnya belum juga kembali, Ibu Kia selalu menyakiti Kia, melampiaskan segala hal yang terjadi padanya. Kia awalnya tak percaya Ibunya bisa secepat itu berubah, namun apa boleh buat Kia hanya bisa meratapi nasib atas kesengsaraan ini. Kia membuka pintu kamar ibunya dengan hati yang penuh dengan rasa takut, dan benar nyatanya Kia pun mendapati kekerasan fisik dari ibunya. Kali ini benar-benar badan Kia tidak kuat sebab hari ini ia sudah sangat lelah, di sekolah dan di rumah ia mendapatkan kekerasan fisik.

Malam hari selalu menemani kegelisahannya, menurutnya malam memiliki ketenangan akan tetapi juga menghanyutkan. Kedinginan malam membuat Kia menyerah dengan keadaannya, sampai di malam ini Kia memutuskan langkah baru yang ia tempuh “Halo Laksma, thanks ya buat ucapan tadi siang. Aku pengen kamu juga kuat, dan hal yang harus kamu tahu kalau orang baik akan selalu memiliki takdir yang baik,” ucap Kia saat menelepon Laksma sahabatnya “Heii, are you ok? Makasih ya Kia, aku pengen kita berjuang bareng-bareng di keadaan kita saat ini,” jawab Laksma “maaf Laksma, aku tutup dulu ya” ucapan terakhir Kia sebelum menghembuskan napas terakhirnya. 

            Kia meninggal karena kehendak dirinya sendiri, meninggalnya Kia membuat Ibu Kia menyesal dan justru menjadi seseorang yang kehilangan arah. Tidak hanya ibu Kia, namun Laksma juga menyesal bahwa ia merasa belum menjadi sahabat terbaik bagi Kia, sahabat yang dapat mengetahui keadaan yang sebenarnya terjadi, Laksma mengetahui banyaknya luka di tubuh Kia namun ketika ia tanya kepada Kia, dia selalu menjawab terbentur karena tidurnya yang tidak pernah diam. Tak ada yang bisa kuat dengan sengsaranya hidup, namun hak untuk hidup yang kita punya juga harus ditegaskan dalam kehidupan manusia.

SEKAR Edisi Maret 2025 | Rintik Rindu karya Layli Alifia Syamsiandari

Rintik Rindu

karya Layli Alifia Syamsiandari


Langit bergemuruh

Hujan turun perlahan

Bersama munculnya kenangan

Rasa yang muncul kembali

Rasanya menusuk hati 

Bagaikan bentuk pengertian

Alam turut bersedih 

Seakan sosok itu hadir kembali

Hujan akan selalu sama

Rasa yang kumiliki pun akan tetap sama

Namun, dia yang telah berbeda 

Hilang entah kemana 

Menyisakan puing-puing kenangan 

Saat berdua menikmati rintik hujan

SEKAR Edisi Maret 2025 | Dalam Gerak dan Nada karya Hida Hudria Nasya

Dalam Gerak dan Nada

karya Hida Hudria Nasya


Di bawah langit biru berkelip bintang

Embun berkilau menghias hamparan persawahan

Lampu blencong nampak menerangi kelir wayang

Pertanda pertunjukan siap dimulai

Dalang mulai bersuara, menghidupkan jiwa

Seolah memberikan nafas

Bercerita dalam gerak dan nada

Kala wayang menari, meliuk ke sana ke mari

Pahlawan dan dewa berperang

Sejarah seolah kembali terulang

Arjuna yang gagah, Sinta yang setia

Kisah yang tak lekang oleh waktu

Suka-cita, duka-lara..

Tampak menyelimuti perjalanan

Mengajarkan arti kehidupan sesungguhnya

SEKAR Edisi Maret 2025 | Harga Sebuah Kejujuran karya Gilang Firmansyah

Harga Sebuah Kejujuran 

karya Gilang Firmansyah


    Mentari pagi samar-samar menampakkan dirinya tetapi aku sudah siap untuk berangkat ke sekolah. Ini adalah hari yang penting, hari ujian kelulusan. Hari yang selama ini hanya terasa seperti bayangan jauh, kini hadir di depan mataku. Aku duduk di bangku nomor 14, tepat di tengah ruangan. Lembar soal sudah dibagikan, dan suara pengawas mengingatkan kami untuk tidak melakukan kecurangan.

   "Kalian sudah berusaha sejauh ini. Gunakan waktu sebaik mungkin dan tetaplah jujur," kata pengawas dengan tegas.

    Aku menarik napas panjang, mencoba menghalau kegelisahan yang menyeruak. Aku sudah belajar berbulan-bulan untuk ini, jadi aku yakin bisa melaluinya. Namun, sesuatu menarik perhatianku. Dari sudut mataku, aku melihat seseorang di sebelahku bergerak mencurigakan.

    Jasmine. — sahabatku sejak SMP.

    Aku melihatnya dengan ekor mataku—tangannya menyelinap ke balik meja, mengeluarkan selembar kertas kecil. Catatan kecil itu berisi rumus-rumus matematika, yang dengan cepat dia selipkan di bawah lembar jawabannya. Aku menelan ludah.

    Jasmine curang?

    Tidak, aku pasti salah lihat. Jasmine tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Dia bukan tipe orang yang mengandalkan contekan. Dia pintar, rajin, dan selalu mengingatkan aku untuk belajar. Tapi aku melihatnya sendiri. Aku menggigit bibir. Dadaku terasa sesak. Aku ingin fokus pada soalku sendiri, tapi bayangan Jasmine yang menyontek terus mengganggu pikiranku.

    Bagaimana kalau dia ketahuan?

    Bagaimana kalau dia berhasil dan lulus dengan nilai tinggi karena kecurangannya?

   Aku menatap lembar jawabanku. Tanganku tiba-tiba terasa kaku. Aku bisa diam saja, berpura-pura tidak tahu, dan semuanya akan baik-baik saja. Tapi… apakah benar semuanya akan baik-baik saja?

   Aku menatap ke arah Jasmine lagi. Dia tampak tenang, menyalin sesuatu dari kertas kecilnya ke lembar jawaban. Jantungku berdebar lebih cepat. Aku tahu aku harus melakukan sesuatu. Tapi apa?

    Pilihan yang sulit

    Aku mencoba menyelesaikan soalku, tapi pikiranku terus bertarung dengan rasa bersalah. Jika aku melaporkannya, dia bisa didiskualifikasi. Masa depannya bisa hancur. Tapi jika aku diam, aku mengkhianati nilai kejujuran yang selalu diajarkan kepadaku sejak kecil.

    Aku melihat ke depan, ke arah pengawas. Dia duduk dengan tenang di kursi depan kelas, pengawas itu sesekali menatap kami semua dengan tatapan tajamnya. Aku bisa memberitahunya. Tapi apa Jasmine akan membenciku? Aku memejamkan mata sejenak. Aku harus memutuskan. Dengan tangan yang sedikit gemetar, aku mengangkat tangan.

    "Iya, ada apa, Naura?" tanya pengawas, berjalan ke arahku. Aku menelan ludah, melirik ke arah Jasmine yang masih sibuk dengan catatannya. “Saya…" Aku berbisik, "saya melihat seseorang menyontek." Pengawas mengerutkan kening. Aku bisa merasakan Jasmine menegang di sebelahku. "Siapa?" tanyanya dengan nada pelan tapi tegas. Aku menunduk, menarik napas dalam, dan berkata dengan suara lirih.

    "Jasmine."

  Dalam sekejap, seluruh ruangan terasa lebih sunyi daripada sebelumnya. Pengawas menatapku sejenak, lalu berjalan ke arah meja Jasmine.

  "Jasmine, tolong angkat tanganmu dari meja," kata pengawas dengan suara tenang. Jasmine ragu sejenak, tapi akhirnya menurut. Namun, pengawas itu sudah melihat kertas kecil yang masih terselip di antara lembar jawaban. Wajah Jasmine langsung pucat.

   "Ikut saya ke ruang guru." kata pengawas, sembari mengambil lembar jawabannya. Aku menatapnya dengan rasa bersalah yang menghantam dadaku seperti ombak besar. Saat dia berdiri, mata kami bertemu. Mata itu yang dulu penuh kehangatan kini hanya berisi keterkejutan dan pengkhianatan. Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku ingin menjelaskan. Tapi dia hanya berbisik pelan sebelum berjalan pergi.

 "Kamu menghancurkan aku, Naura." Dan tiba-tiba, ruang ujian terasa jauh lebih dingin dari sebelumnya.

  Setelah kejadian pada hari itu, Jasmine diskors dan harus mengikuti ujian ulang dengan pengawasan ketat. Kami tidak berbicara selama beberapa hari. Aku ingin menjelaskan bahwa aku hanya melakukan apa yang menurutku benar. Tapi aku juga sadar, dalam hidup, tidak semua orang akan menerima keputusan kita dengan baik.

  Suatu hari, saat aku duduk di kantin sendirian, Jasmine tiba-tiba duduk di depanku. Aku menegang, menunggu apa pun yang akan dia katakan.

  "Aku marah," katanya tanpa basa-basi. "Tapi aku juga sadar… kamu benar." Aku menatapnya, tidak percaya dengan apa yang baru saja kudengar. Dia menghela napas. "Aku terlalu takut gagal. Aku ingin memastikan aku lulus dengan nilai tinggi, jadi aku memilih cara yang salah." Aku tidak tahu harus berkata apa. "Aku tidak tahu apakah kita masih bisa berteman," lanjutnya, "tapi… aku tidak bisa menyalahkanmu karena melakukan hal yang benar." 

  Aku tersenyum tipis. "Aku hanya ingin kamu lulus dengan usahamu sendiri, bukan dengan contekan." 

  Dia tidak menjawab, hanya mengangguk pelan sebelum berdiri dan pergi. Mungkin kami tidak akan kembali seperti dulu. Tapi aku tahu satu hal—aku telah memilih jujur, dan meskipun itu sulit, aku tidak menyesalinya

SEKAR Edisi Maret 2025 | Sendu Kala Rindu karya Fajriyanti Azizah

Sendu Kala Rindu

oleh Fajriyanti Azizah


Senja menghilang terganti rembulan

Sambut petang dengan ketulusan

Udara malam yang kian mengenang

Jiwa ini hanyut akan kenangan

 

Hampa menyeruak tiba-tiba

Terbayang engkau telah disana

Sedih mengalun dengan pilunya

Tanpa isyarat jatuh basahi rupa

Kini lara hati jadi tahta

 

Bintang fajar tampakkan siluetnya

Raga terjaga ratapi nestapa

Iktikad diri kunjungi rehatnya

Mungkinkah mampu hilangkan buncah?

 

Genggam erat setangkai krisan

Langkah pelan iringi ketabahan

Tatapku rindu penuh sayatan

Hadap peristirahatan yang memilukan

SEKAR Edisi Maret 2025 | Perudungan karya Atiya Num’atul Salsabila

 PERUNDUNGAN

karya Atiya Num’atul Salsabila


Mulutnya dikatupkan, bungkam

Matanya dipejamkan, tak terlihat

Telinganya disumbat menggunakan kedua tangannya 

 

Menunduk dan terus berdoa agar cepat-cepat pulang

Lari terus, kencang, menembus lautan manusia

Suara-suara itu buat dirinya selalu ketakutan 

 

Tiap-tiap malam dirinya berdoa, agar besok tidak ada lagi luka

Kamar mandi selalu menjadi tempat favoritnya untuk meluapkan amarahnya

Satu minggu, tiga bulan, dua tahun, dan seterusnya dirinya menghitung hari

Akhirnya dirinya bebas dari tempat itu

SEKAR Edisi Maret 2025 | Bisik Senja di Pucuk Cemara karya Anggi Indriyani

Bisik Senja di Pucuk Cemara 

karya Anggi Indriyani


Di pundakmu, senja berbisik pilu, Beban dunia, langkahmu membeku.

Senyummu pudar, di balik bayang semu, Menari sendiri, di atas luka membiru.

 

Keinginanmu terkurung dalam kalbu, Terjebak sunyi, di labirin waktu.

Setiap langkah, harapan kian layu,

Namun hatimu, tak pernah menyerah ragu.

 

Kau adalah mentari, di balik awan kelabu, Pancarkan hangat, meski jiwa merindu.

Kau adalah rembulan, di malam yang sendu, Terangi jalan, di tengah gelap yang membatu.

 

Gadis kecilku, dengarkan bisik senja ini,

Di setiap tetes air mata, ada kekuatan tersembunyi.

Badai pasti reda, mentari kan bersinar lagi, Dan di balik senja, kau temukan arti sejati

SEKAR Edisi Maret 2025 | Tuan, mimpi atau mati? karya Afifah Citra Pratama

 

Tuan, mimpi atau mati? 

karya Afifah Citra Pratama

 

Selamat petang, Tuan. 

Kaki telanjang saya sekali lagi melangkah ke hamparan pasir ini

Menyaksikan ombak datang dan pergi

Menyaksikan pusat semesta dipeluk laut, tenggelam, hilang

Hilang bersama pusat dunia saya; anda. 

 

Biru, kuning, hijau, jingga, putih, merah, brutal menyergap

Riuh-bising-senyap dunia menyerang

Mendorong tetes demi tetes mengaliri pipi, hingga

Asing, jari kaki tak lagi merasakan butir, tunggu

Saya akan menjemput Tuan.

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...