Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 22 September 2023

SEKAR Edisi Bulan September 2023 | Titik Perubahan oleh Dian Indriyani Prameswati

 Titik Perubahan

Sebuah cerpen oleh Dian Indriyani Prameswati

 

Awal bulan Desember, di mana hujan dengan derasnya terus-menerus mengguyur kota. Saat itu, tiada hari tanpa hujan, yang membuat aktivitas warga kota di siang hari menjadi berkurang. Tidak sedikit orang melintasi jalanan yang menggunakan payung dan jas hujan. Ada juga yang berteduh di area terlindungi dari hujan. Saat itu, seorang gadis sedang menatap melalui jendela kafe yang sepertinya menikmati melihat hujan. Gadis itu baru menyelesaikan kelasnya di sebuah universitas di kota tersebut. Gadis itu bernama Keila. Seorang mahasiswi yang baru menempuh semester satu. 

Keila sedang duduk di kursi sebuah kafe menikmati kapucino panas yang ia beli sebelumnya sambil menunggu temannya datang. Saat itu, Keila memiliki janji untuk belajar bersama dengan kedua temannya. Mareka akan mempersiapkan Ujian Akhir Semester yang dilaksanakan seminggu lagi. Namun, ia datang terlalu awal dan sepertinya rencana tersebut akhirnya tertunda karena kedua temannya masih terjebak hujan. Ia terus menerus menatap jendela kafe, hingga ingatan saat pertama kali memasuki dunia perkuliahan terlintas di benaknya. 

***

Pada pertengahan Agustus, yaitu hari pertama Keila memasuki kampus sebagai mahasiswa baru, Keila bingung dengan lingkungan yang baru ia masuki. Untung saja Keila datang satu jam lebih awal sebelum acara ospek dimulai, sehingga Keila memiliki cukup waktu menemukan tempat pertemuan yang sudah ditentukan. Keila berjalan dengan melihat-lihat sekeliling sambil membaca nama-nama setiap ruang yang ia lewati. Tanpa sadar Keila menabrak seseorang. Dari penampilannya, Keila tahu bahwa seseorang di depannya mahasiswa baru seperti dirinya. Seseorang tersebut tersenyum pada Keila sambil mengangkat tangannya untuk berjabat tangan dengan Keila. 

“Halo, namaku Hannah, Prodi S1 Akuntansi. Siapa namamu? Kamu dari Prodi mana? Kita sama-sama mahasiswa baru di sini ya?” sapa Hannah dengan ramah.

“Halo juga, namaku Keila mahasiswa baru, Prodi S1 Akuntansi juga. Apakah kamu tahu di mana ruang pertemuan untuk ospek?” jawab Keila.

“Tentu saja aku tahu, itu ada di sana. Kita bisa pergi ke sana bersama.” jawab Hannah sambil menunjuk ke sebuah ruangan.

“Tentu.” jawab Keila singkat.

Mereka berdua lalu pergi ke ruangan tersebut. Sesampainya di ruang itu, mereka melihat ruangan itu masih sepi. Hanya ada panitia yang sedang mempersiapkan ospek. Keila pun agak menyesal berangkat terlalu pagi. Awalnya, Keila khawatir akan tersesat hingga membuatnya terlambat dan mendapatkan hukuman. Namun, kekhawatiran itu sia-sia.  Lalu Keila melihat sekeliling, tidak jauh dari ruangan itu terdapat seseorang berpakaian sama dengan Keila dan Hannah sedang memainkan ponselnya. Keila dan Hannah lalu menghampiri orang tersebut.  Akhirnya mereka bertiga duduk Bersama dan mulai berkenalan.

Setelah berkenalan, mereka bertiga saling mengobrol satu sama lain. Ternyata, anak tersebut bernama Rosa dan mereka berasal dari prodi yang sama. Akhirnya tanpa terasa satu persatu mahasiswa baru mulai berdatangan hingga memenuhi ruangan tersebut. Selanjutnya kegiatan ospek pun dimulai. 

***

Tanpa terasa, kegiatan ospek telah berakhir. Keila, Hannah, dan Rosa semakin dekat seiring berjalannya waktu. Mereka bertiga juga berkenalan dengan banyak mahasiswa baru lainnya. Keila mengetahui fakta baru tentang Hannah dan Rosa, yaitu Hannah dan Rosa sepertinya cukup ambisius. Mereka berdua terlihat pintar dan cerdas dalam beropini selama kegiatan ospek berlangsung. Hal tersebut membuat Keila khawatir, apakah Keila juga bisa seperti mereka berdua? Atau apakah mereka berdua akan menganggap beban apabila mereka bertiga satu kelompok? Namun bagi Keila, selama kegiatan ospek berlangsung mereka berdua cukup membantu Keila saat kesulitan mengerjakan tugasnya. Mungkin sama saja Ketika perkuliahan sudah berlangsung asalkan keila juga berusaha untuk belajar dengan giat. 

            Keila merasa ia cukup pasif dalam berdiskusi. Hal itu karena Keila tidak terbiasa aktif dalam kelas ketika ia masih SMA. Keila tidak cukup percaya diri saat menjalani masa SMA. Hal itu karena setiap tahun, Keila selalu sekelas dengan anak yang cukup terkenal dan anak-anak dari geng yang cukup mendominasi di sekolahnya. Akibatnya, Keila cukup takut dan insecure. Jadi, hanya perlu melakukan kewajibannya dengan belajar, mengerjakan tugas, ujian dengan baik tanpa harus berpartisipasi aktif dalam diskusi kelas sewaktu SMA. 

            Namun, Keila sudah bertekad dan berniat untuk berubah apabila ia lulus dalam ujian masuk PTN yang ia impikan. Ketika kegiatan perkuliahan dimulai, keila selalu mencoba untuk aktif bertanya dan berpendapat di kelas. Selain itu, Keila juga ikut dalam perlombaan-perlombaan yang di dalam di kampusnya untuk menambah prestasi-prestasi akademiknya serta juga bergabung di UKM yang diminatinya. Tentu saja, Keila juga bersama dengan Hannah dan Rosa. Merekalah yang selalu mengajak Keila untuk mengikuti lomba-lomba dan UKM serta rajin belajar kelompok secara rutin setiap minggu. Meskipun mereka bertiga berada di kelas yang berbeda-beda.

***

Lima belas menit telah berlalu, saat Keila mengingat masa-masa awal perkulliahan. Keila merasa bahwa niat dan tekad yang ia jalankan menjadi titik perubahan dalam hidupnya. Ditambah dengan motivasi dari teman-temannya yang ambisius membuatnya jadi lebih serius dalam belajar. Keila pun akhirnya bertekad untuk menjadi lebih baik di semester-semester depan. Hujan di luar masih cukup deras. Keila masih berada di cafĂ© sendirian. Akhirnya Keila memutuskan mulai membuka buku untuk belajar dan berhenti untuk melamun. 

Sepuluh menit telah berlalu setelah Keila membaca bukunya. Hujan di luar juga sudah reda. Akhirnya kedua temannya yang Keila tunggu – tunggu datang juga. Mereka berdua sama – sama minta maaf kepada Keila karena datang sangat terlambat. Hannah mengatakan bahwa ia terjebak hujan di kampusnya. Sementara itu, Rosa mengatakan bahwa ia masih ada diskusi dengan kelompoknya yang lain tentang tugas dari mata kuliahnya. Keila pun juga memakluminya. Akhirnya, mereka berdua mulai mengeluarkan buku masing-masing dan mulai berdiskusi dan mengerjakan soal-soal bersama.

 

TAMAT

Selasa, 18 Juli 2023

SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Amenable oleh Zakya Annisa Rahma

Amenable

Sebuah cerpen karya Zakya Annisa Rahma 

Hari Sabtu sore. Weekend. Sudah sewajarnya kampus sepi. Terutama ruang kelas, banyak yang sudah kosong. Dosen dan mahasiswa sudah banyak yang pulang dari sesi pertemuan tambahan atau jadwal pengganti. Di satu ruangan ada dua orang yang sedang sibuk dengan buku mereka. Membaca beberapa materi sekaligus berdiskusi sedikit mengenai mata kuliah yang tiga jam lalu disampaikan oleh profesor.

“Hei,” salah satu dari mereka membuka percakapan kembali. Setelah dua puluh menit sebelumnya penuh keheningan.

Lawan bicaranya menjawab dengan deheman.

“Akhir-akhir ini, kamu ngerasa ada yang aneh enggak?” tanyanya.

“Apa?” Dibalas pertanyaan. Tidak ada lanjutan percakapan. Membuat yang terakhir berucap mengangkat pandangannya, menatap temannya penasaran.

“Angga, sayangku, cintaku, kurang-kuranginlah nanya tanpa konteks terus bikin orang penasaran,” kata perempuan dengan rambut diikat.

“Dih, ngomong gitu sama cewek aja, aku yang cowok jijik dengernya,” ledek laki-laki dengan rambut berombak. “Kamu, kurusan enggak sih, Ta?”

Perempuan yang dipanggil Tata menaikkan alisnya, raut wajahnya berubah sedikit. “Eh, iya kah? Kelihatan ya? Cakepan enggak?”

Cibiran terdengar keras. “Pipimu itu lho, makin tirus kayak enggak dikasih makan setahun.”

“Makin mirip artis Korea kan? Mirip Han So Hee.”

“Makin enggak jelasss!” Angga menyeret kata terakhirnya.

Percakapan tersebut berlanjut hingga lembaran catatan terlupakan.

***

“Habis ini mau ngebakso di tempat yang kemarin enggak?” tanya Angga memasang helmnya. Mereka sedang berada di tempat parkir.

“Enggak deh, aku mau langsung balik ke kosan,” jawab Tata ringan.

“Makan dulu. Sudah malam, nanti malah enggak makan apa-apa.”

“Gampang, bisa pesan online.”

“Eh, mahal. Mending ngebakso. Itung-itung nemenin aku.” Angga masih berusaha.

“Dih, malam minggu gini mending ngajak pacarmu itu,” sindir Tata dengan tatapan sinisnya.

“Mana ada.”

“Bukannya cabangnya setiap fakultas ya?”

“Ngawur. Sudah, nemenin aja. Nanti aku traktir.” Angga menstarter motornya, memberi kode untuk Tata naik ke motornya.

“Enggak deh, aku mager mau makan,” tolak Tata, tetapi tetap naik ke motor Angga. “Aku nemenin aja.”

“Makan aja mager, mau disuapin?” tawar Angga.

“Najis. Cepetan jalan!”

***

Angga dengan luwes memesan dua porsi bakso, sebelum Tata sempat menolak. Wajah perempuan itu langsung masam. Sementara temannya hanya tertawa puas.

“Sama-sama,” kata Angga.

“Enggak mau bilang makasih,” sanggah Tata. “Kebiasaan, suka maksa.”

“Kalau enggak dipaksa, enggak makan. Nanti aku bilang apa ke tante?” Angga memberi alasan disertai pertanyaan.

“Kamu enggak ada kewajiban buat ngabarin ke mamaku ya…” Tata melotot. 

“Makan aja, apa susahnya sih. Kalo enggak habis nanti aku yang ngabisin.” Angga memilih memainkan sendok sambal di depannya. Menunjukkan dia tidak mau berdebat lebih lanjut.

Sebagai orang yang sudah berkawan lebih dari satu periode kepresidenan, Tata tahu gelagat laki-laki di depannya. Ia memilih melengos dan mengeluarkan gawainya.

Tidak sampai sepuluh menit, dua mangkuk bakso terhidang di depan keduanya. Tata menatap mangkuk miliknya. Lima bakso polos dengan mi bihun dan dua tahu putih tanpa seledri dan bawang goreng. Persis yang biasa dia pesan. Tapi kali ini sepertinya…

“Kebanyakan,” ucap Tata pelan, tetapi masih tertangkap oleh telinga Angga.

Angga mendorong botol kecap ke depan mangkuk Tata. “Segitu doang, sekali suap habis. Lihat nih, punyaku.” 

Mangkuk pesanan Angga terlihat dua kali lebih penuh dari milik Tata. Komplit dengan bakso urat, siomay, mi kuning, dan pangsit goreng. Bawang goreng bertaburan di atasnya. Angga memang selalu meminta bawang goreng yang banyak, tapi kali ini mungkin bapak pedagang bakso sedang berbaik hati menumpahkan satu stoples ke mangkuknya.

Tata tidak membalas perkataan Angga, memilih mengaduk kuah baksonya tanpa minat. Gerungan tidak nyaman keluar dari mulutnya.

“Kamu makan pakai mata?” sindir Angga gemas. “Lima menit enggak makan, aku suapin beneran.”

“Iya, iya, bawel,” jawab Tata menunjukkan kekesalan.

Pelan, Tata menyuapkan bakso ke mulutnya.

Duh, suwine rek, koyok Putri Solo (Duh, lamanya, seperti Putri Solo).” logat Jawa Timur Angga keluar mengomentari tingkah Tata. “Selak kabur bakule, nunggoni kamu (Keburu lari yang jual, nungguin kamu).”

Tata hanya melotot membalas komentar Angga.

Sudah tentu mangkuk Angga tandas lebih dulu dibandingkan Tata. Perempuan itu menatap Angga sekian detik sebelum akhirnya mendorong mangkuknya yang masih berisi tiga bakso. “Kenyang,” katanya singkat.

Angga yang sudah terbiasa dengan kelakuan sahabatnya hanya mengerutkan alis, tapi tidak banyak bicara mentransfer isi mangkuk ke dalam perutnya.

“Mau ke toilet, sebentar.” Tata berpamitan singkat. “Jangan ditinggal,” tambahnya mengingat tragedi sebelumnya, di mana Angga meninggalkannya di kafe saat ia pergi ke toilet.

Sahabatnya itu hanya mengibaskan tangannya, memberikan kode tanpa ucapan.

***

Tata menatap horor ke kloset di toilet. Bukan karena kondisinya yang kotor. Warung bakso langganan Angga dan Tata tempatnya cukup bersih, termasuk toiletnya. Mungkin karena warung ini juga menjadi satu bagian dengan rumah pedagangnya.

Tangan Tata menekan perutnya. 

“Enggak …”

Dengan cepat, tangannya naik. Memasukkan dua jari ke mulutnya, mencoba mencapai kerongkongan. 

“Uhk.” tersedak. “Belum …”

Jarinya mencoba lagi. Mengeluarkan apa yang sudah masuk sebelumnya. Pikiran Tata kalut.

Kumohon jangan,’ batinnya. ‘Jangan sampai menjadi lemak. Ayo keluar.

Tata jangan menyerah!’ Dalam otak Tata menyemangati dirinya sendiri. ‘Ingat Tata, enggak ada cowok yang mau sama cewek gendut. Makanya kamu enggak punya pacar sampai sekarang. Kalau Angga punya pacar, enggak ada yang bareng kamu lagi. Kamu bakal dibuang. Ayo Tata!

“Haahhh …” Tata mencoba bernafas, beberapa isi perutnya keluar. Tapi masih belum cukup.

Harusnya tadi aku enggak makan,’ batin Tata. 

Tapi nanti Angga bakal ngejauh. Tata, kamu harusnya sadar diri. Angga mau jadi teman karena kasihan. Kalau kamu tambah gendut nanti Angga bakal ngejauhin kamu! Sudah jelek, gendut lagi!

Tata menekan kepalanya ke dinding. Suara-suara di dalam kepalanya menyakitkan dan menyebabkan pening. Setelah mencoba mengeluarkan semuanya, Tata membasuh tangannya.

Kamu harus sempurna Tata. Harusnya kamu berhenti makan setelah melihat dirimu itu. Apa bedanya kamu dengan ikan buntal? Bahkan ikan buntal lebih indah darimu.

Tidak apa-apa. Kamu bisa terus makan. Bukannya kamu ingin Angga membencimu? Kamu ingin begitu kan? Kamu ingin semua orang menjauhimu karena kamu menjadi makluk buruk rupa? Setelahnya kamu bermimpi bertemu pangeran seperti beauty and the beast? Naif.

Tata mencoba menyeimbangkan dirinya, setelahnya ia keluar dari toilet. Terlihat istri pedagang bakso memandangnya khawatir.

Sial.

“Mbak, enggak papa? Ibu dengar tadi kayak muntah-muntah,” kata ibu tersebut khawatir.

Sebuah senyum berusaha dipamerkan Tata di wajahnya. “Enggak papa, Bu. Saya cuma masuk angin.”

“Mau minyak kayu putih? Ibu punya di rumah.” Ibu baik hati itu menawarkan.

“Enggak usah, Bu. Enggak papa,” tolak Tata. 

Lihat Tata, kamu payah. Bahkan kamu membuat orang asing repot karena dirimu.

Dari cermin yang dipasang di dinding berhadapan dengan toilet, Tata dapat melihat refleksi dirinya. Mata dan hidungnya merah. Karet rambutnya turun, menyebabkan rambutnya terlihat berantakan.

“Astaga.” lidah Tata kelu. Penampilannya benar-benar berantakan. 

“Saya cuci muka saja, Bu,” kata Tata pada ibu yang setia menatapnya.

“Oh, iya mbak. Kalau butuh minyak kayu putih atau minyak telon bilang ya, Ibu punya,” kata Ibu itu, lalu meninggalkan Tata.

Tata, kamu pembawa sial.

Perempuan itu mencuci mukanya di wastafel depan cermin. Menatap wajahnya sekali lagi. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di depan orang lain dan Angga. Ikatan rambutnya diperbaiki.

Oke, Tata. Kamu cuma harus tersenyum. Iya. Kamu harus tetap senyum, jangan sampai orang lain tahu kalau kamu sedang tidak baik-baik saja. Tidak baik merepotkan orang lain dengan masalahmu. Itu egois.’

‘Dan kamu tahu? Semua orang benci orang yang egois.’ 

TAMAT


SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Jejak Langkah oleh Niken Nila Dewi

Jejak Langkah

Sebuah cerpen oleh Niken Nila Dewi

 

Di sebuah desa kecil yang terletak di lereng pegunungan, hiduplah seorang anak laki-laki bernama Aji. Aji adalah seorang anak yang cerdas dan penuh semangat. Ia selalu penasaran dengan dunia di sekitarnya dan sering berpetualang ke hutan yang berada dekat desanya. Suatu hari, Aji mendengar cerita dari neneknya tentang sebuah gua misterius yang tersembunyi di dalam hutan. Katanya, gua itu dipercaya memiliki kekuatan ajaib yang bisa memberikan kebahagiaan kepada siapa pun yang menemukannya. Aji tidak bisa menahan rasa penasaran dan memutuskan untuk mencari gua tersebut. Dengan membawa bekal dan peta yang digambar oleh neneknya, Aji memulai petualangannya ke dalam hutan. Ia melewati sungai yang deras, melewati jembatan bambu yang rapuh, dan berjalan melalui jalan setapak yang jarang dilalui. Aji tidak menyerah, meskipun perjalanan terasa berat dan melelahkan. Setelah berhari-hari berjalan, Aji akhirnya menemukan gua tersebut. Tapi, pintu gua itu terkunci dengan batu besar yang berat. Aji tidak kehilangan harapan. Ia mulai mencari cara untuk membuka pintu gua tersebut. Setelah beberapa saat mencoba, Aji menemukan kunci yang tersembunyi di balik semak-semak.

Dengan penuh kegembiraan, Aji membuka pintu gua dan memasukinya. Di dalam gua itu, terdapat cahaya yang terang benderang dan suasana yang damai. Aji melihat lantai gua dipenuhi dengan batu-batu berkilauan yang indah dan langit-langit gua dihiasi dengan stalaktit dan stalagmit yang spektakuler. Tapi yang paling mengejutkan adalah apa yang ada di tengah gua. Di situ terdapat sebuah patung malaikat kecil yang terbuat dari kristal. Aji merasa bahwa patung itu adalah hadiah dari gua tersebut sebagai simbol keberhasilannya menemukannya. Ia merasa begitu bahagia dan bersyukur. Aji membawa pulang patung malaikat kecil tersebut. Membagikan kisah petualangannya kepada keluarga dan teman-temannya di desa. Semua orang terinspirasi oleh keberanian dan ketekunan Aji. Desa tersebut menjadi terkenal karena gua misterius dan patung malaikat kecil yang ditemukan oleh Aji. Dari saat itu, Aji menjadi tokoh inspiratif di desa. Ia menjadi sumber motivasi bagi anak-anak lain untuk menjelajahi dunia di sekitar mereka. Aji belajar bahwa petualangan bukan hanya tentang menemukan sesuatu yang berharga, tetapi juga tentang proses dan jejak langkah yang ditinggalkan.

 

TAMAT


SEKAR Edisi Bulan Juli 2023 | Behind the Rainbow oleh Friscela Yona Nagifea

 Behind the Rainbow

Sebuah cerbung oleh Friscela Yona Nagifea

Ada saatnya terlintas dalam pikiran untuk mempelajari bahasa burung. Bukan semata untuk saling bercakap mengeluarkan aksara, akan tetapi saling bertaut untuk menyampaikan pesan kepada awan tentang mengapa ia begitu muram. Warnanya kelabu, tidak lagi ditemani oleh langit biru. 

Pagi itu merupakan satu dari ribuan pagi yang mampu membuat tubuh menggigil. Semerbak bau khas tanah yang lembap, juga ikut turun tangan meramaikan indra penciuman. Udara di Desa Pronojiwo selalu saja sejuk sehabis hujan. Embun yang tertampung dalam bendungan daun selalu menetes ke tanah. Desa yang dipenuhi warna hijau ini masih belum terjamah oleh gedung-gedung pencakar langit. Yang ada hanyalah berhektar-hektar tanah berisi jajaran padi bersama pepohonan di kanan kiri serta atap coklat dari rumah sederhana jika dilihat dari atas.

Di temani sebuah sketchbook dan pensil berwarna biru, seorang pemuda terduduk mematung memandangi objek yang ada di depannya. Tak berselang lama kemudian bibir pemuda itu menarik sebuah senyum puas.

“Sial, kenapa baru sekarang,” gumamnya seraya membuka lembar demi lembar sketchbooknya. 

Seolah mengetahui apa yang juga ingin dilihat oleh pepohonan di sekitarnya, angin sepakat untuk berembus kencang menyebabkan anak rambut hitam legam pemuda itu berlambai-lambai. Beberapa kali kepala itu mendongak lalu menunduk untuk mencoba mengcopy paste apa yang ditangkap oleh mata cokelatnya ke dalam sketchbook yang ia pegang. 

Tak sadar dengan waktu yang ia habiskan, pria itu merasa harus kembali pada benda yang ia sebut sebagai rumah. Kaki jenjangnya melangkah dengan hati-hati menuruni bebatuan berlumut yang menjadikannya licin. Sekilas ia melihat seorang gadis berparas cantik yang sedang mendongakkan kepalanya. Rambut yang sengaja dibiarkan terurai itu pun menari-nari tertiup angin. 

Tunggu! Ada yang aneh. Mengapa gadis itu mendongak mantap awan yang masih enggan menampakan blue sky. Heran? Tentu saja. Namun, ia mencoba acuh kembali dan membawa kakinya untuk meinggalkan tempat yang beberapa hari terakhir ini menjadi tujuannya. 

Sebenarnya, entah mengapa ia menjadi salah satu fenomena paling indah sehabis hujan. Warna yang beragam, mampu membuat siapa saja terpaku atas keindahannya. Terkagum-kagum atas ciptaan Tuhan. Pelangi. Pelangi sendiri tercipta karena pembiasan cahaya yang dilakukannya bersama tetesan air bernama hujan. Yang kemudian cahaya itu akan di belokkan dan menyebar menghasilkan warna yang beragam. Dari proses itu tidak menutup kemungkinan banyak orang yang menyukai pelangi tetapi membenci hujan. Jika memang membenci hujan, mengapa harus menanti pelangi?

***

“Dari mana Al, kok enggak bilang kalau keluar?” kejut ibu.

“Ya Allah, Bu. Untung enggak jantungan aku, Bu,” sahut Alfan dan tak ada yang menimpali.

“Ibu, enggak bercanda Alfan Maulana. Bisa-bisa ibu sama ayahmu yang kena serangan jantung kalau kamu belum pulang!” tegur ibu tampak sedikit marah karena perilaku putranya.

Muhammad Alfan Maulana, remaja berambut hitam legam yang sedang menenteng tas berisi alat gambarnya memasang muka cemberut karena diberi sedikit ceramah.

“Padahal aku hanya pergi sebentar, kenapa kalian selalu saja berlebihan. Di mana nenek?” tanya Alfan mengganti topik pembicaraan.

Kedua orang tua Alfan hanya mampu mengembuskan napas berat. Sebenarnya mereka tidak bermaksud terlalu mengekang Alfan mengingat anak itu juga sudah memasuki usia remaja. Akan tetapi, ada sesuatu yang harus mereka jaga dengan baik setiap detiknya jika tidak ingin menangis tersedu-sedu di kemudian hari. 

Di sisi lain, sepelan langkah kaki harimau yang ingin memangsa kelinci, Alfan berusaha mengejutkan pasutri tua yang sedang menikmati hawa dingin ditemani kepulan asap panas dari teh yang telah mereka buat. 

“Kakek sudah tau, Al!” ucap kakek.

Kaki kanan Alfan mengapung di udara. Untuk ukuran seorang kakek yang sudah melewati masa jayanya, menurut Alfan kakeknya itu terlalu peka.

“Ah. Enggak seru,” gerutu Alfan.

Mendengar nada bicara cucunya yang sedikit merajuk, pria berkepala tujuh itu menengok ke belakang. “Kamu kira Kakek ini siapa, dulu Kakek itu tentara Indonesia yang mencoba melawan penjajah Belanda, tentu saja insting Kakek tajam.”

Senyum Alfan mengembang, “Kek, tolong bujuk ayah dan ibu,”

“Apa lagi yang mau kau minta? Coba katakan pada kakek!” tanya kakek.

“Kek, aku ingin tinggal di sini. Aku suka pemandangannya. Tolong bujuk Ayah dan Ibu ya Kek, Nek.” Alfan menyengir kuda. Ia menggosok hidungnya dengan jari telunjuk dan melanjutkan.

“Nanti aku akan membantu kalian, aku janji. Akh akh Nek, jangan tarik telingaku,” nenek menjewer telinga Alfan.

Setelah melayangkan beribu-ribu rayuan, akhirnya Alfan mendapatkan izin untuk tinggal bersama dengan kakek neneknya. Bukan hanya Alfan, Alfin saudara kembarnya juga turut ikut tinggal untuk menemani Alfan katanya. 

Waktu yang seperti roda berputar membawa penumpangnya menyusuri hari demi hari yang panjang. Tak terasa sudah satu bulan lebih 4 hari Alfan hidup di desa ini. Orang tua Alfan kembali ke Jember untuk melanjutkan pekerjaan. Meskipun demikian, setiap 2 minggu sekali mereka akan berkunjung untuk membawa Alfan ke Jember untuk melakukan transfusi darah dan kembali setelahnya.

Jika Alfan boleh berbicara, sebenarnya ia ingin merasakan masa muda seperti remaja-remaja lainnya. Membahagiakan kedua orang tua, dan kemudian merasakan jatuh cinta. Selama 20 tahun masa hidupnya, tidak pernah Alfan merasakan jatuh cinta. Kegiatannya sehari-hari sangat sibuk untuk membuat kenangan bersama orang-orang kesayangannya. Akan tetapi, pada saat berkunjung ke desa kelahiran ayahnya ini ia seperti menemukan sesuatu yang janggal dalam hatinya. Denyutnya akan terasa sangat kencang bila mengingat gadis yang sempat ia jumpai kala itu di Air Terjun Kapas Biru.

Di sela-sela lamunan, secara tiba-tiba perhatian Alfan teralihkan pada ketukan pintu. Yang secara tidak sengaja juga menarik perhatian orang seisi rumah.

“Al, coba bukakan pintunya!” perintah Nenek.

“Selamat pagi. Apakah ada yang bisa kuban--” ucapan Alfan tergantung saat mengetahui siapa yang berkunjung. Mata cokelatnya menatap lurus mata hitam legam dari gadis yang saat ini ada di hadapannya, alhasil hal tersebut membuat Alfan salah tingkah tak karuan.

“Oh maaf. Sepertinya aku salah rumah.” suaranya lembut.

“Apa ada yang bisa kubantu?” tanya Alfan sekali lagi mengulang pertanyaannya dengan benar.

“Aku ingin pergi ke rumah Bu Qom. Sepertinya aku salah rumah. Maaf, aku permisi pergi dulu.” jawab gadis tersebut.

Alfan sedikit mengerutkan keningnya tak mengerti. Mata yang ia tatap dengan berseri-seri itu ternyata kosong, menghadap lurus ke depan. Sepertinya kini Alfan paham bahwa gadis yang ada di hadapannya saat ini tunanetra alias tidak bisa melihat. Jangan lupakan tongkat instisblind yang terkalung manis di tangan kiri gadis itu. 

“Siapa yang datang, Al? Oh Lily!” sebelum Alfan menjawab, neneknya usdah tahu siapa yang datang.

“Bu Qom?” gadis itu membalikkan badannya lagi. “Ah ternyata benar?”

“Kamu benar Nak. Ayo masuk dulu. Al, kenapa diam saja. Bantu Lily masuk, bukan malah melamun,” ujar sang nenek, menyuruh cucunya yang malah terdiam di ambang pintu.

Jadi namanya Lily? Cantik seperti bunga lily.

 

Bersambung …

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...