Senin, 29 Mei 2023

RIMA: Kimi no Na wa

 

Resensi Bersama (RIMA): Kimi no Na wa (Your Name) karya Makoto Shinkai

Dalam agenda SPORA Sahabat Perpustakaan yang diadakan pada tanggal 27 Mei 2023, Diva Ananda Dewi Fortuna dari Divisi KPL (Kajian Pengembangan Literasi) berkesempatan untuk menjadi moderator dalam sesi RIMA (Resensi Bersama) yang merupakan bagian dari proker RUAS (Ruang Ulas) yang membahas mengenai film Kimi no Na wa karya Makoto Shinkai. 

Film fenomenal yang satu ini memiliki bentuk lain berupa light novel yang dipublikasikan oleh Kadokawa Corporation. Publikasi novel ini dilakukan pada 1 bulan sebelum penayangan perdana filmnya. Jadi, pada bulan Juni 2016 itu publikasi novelnya dan Juli 2016 itu premiere filmnya di Anime Expo dan di bioskop Jepang pada Agustus 2016. Film ini diproduksi oleh Studio Toho. Dan memiliki sountrack epik yang dibawakan oleh band Radwimps. Nah, ada juga versi manga nya yang dipublikasikan 1 bulan setelah premiere filmnya, yaitu pada Agustus 2016.

SINOPSIS

Sebuah komet muncul dan secara misterius memengaruhi dan menghubungkan kehidupan dua remaja seusia, seorang anak laki-laki di kota besar yang ramai, Tokyo, dan seorang gadis di desa pedesaan tempat kehidupan berjalan lambat namun indah. Mereka bertemu dengan alasan yang tidak diketahui, mereka terbangun dalam tubuh satu sama lain selama berminggu-minggu. Pada awalnya, keduanya mengira pengalaman ini hanya mimpi yang jelas, tetapi saat mereka menyadari kenyataan situasi mereka, mereka belajar untuk beradaptasi dan bahkan menikmatinya. Segera mereka mulai berkomunikasi dan mencoba meninggalkan catatan tentang siapa mereka dan apa yang mereka lakukan. Namun, saat mereka mengetahui lebih banyak tentang satu sama lain dan kehidupan masing-masing, mereka menemukan beberapa petunjuk yang mengganggu bahwa jarak mereka lebih dari sekadar fisik dan tragedi menghantuinya.

Cerita ini berpusat pada kehidupan dua remaja, Mitsuha dan Taki, yang secara misterius bertukar tubuh. Mitsuha Miyamizu, seorang gadis SMA yang tinggal di sebuah desa terpencil di pegunungan. dan Taki Tachibana, seorang anak laki-laki SMA yang tinggal di pusat kota Tokyo, secara misterius mulai bertukar tubuh secara acak. Mitsuha terbangun dalam tubuh Taki, dan sebaliknya, Taki terbangun dalam tubuh Mitsuha. Awalnya, mereka menganggap pertukaran ini sebagai mimpi aneh. tetapi seiring berjalannya waktu, mereka segera menyadari bahwa ini adalah kenyataan. Keduanya berusaha untuk menjalani kehidupan satu sama lain, mengatasi perbedaan lingkungan dan kepribadian mereka. Mereka meninggalkan catatan dan pesan untuk berkomunikasi dan memahami satu sama lain. Selama proses ini, Mitsuha dan Taki mulai mengembangkan perasaan yang mendalam satu sama lain, meskipun mereka belum pernah bertemu secara langsung. Namun, ketika mereka mencoba untuk bertemu dalam kehidupan nyata, pertukaran tubuh secara tiba-tiba berhenti. Mitsuha dan Taki merasa kehilangan dan tidak dapat melupakan pengalaman mereka. Taki berusaha mencari tahu tentang Mitsuha, tetapi menemui kesulitan dalam menemukannya. Melalui sebuah pesan dari masa lalu. Taki mengetahui bahwa desa Mitsuha terkena bencana dan tidak ada yang selamat dari bencana itu. Dengan tekad yang kuat, Taki memutuskan untuk melakukan perjalanan ke desa Mitsuha untuk menyelamatkan Mitsuha dan penduduk desa. Di tengah perjalanan. Taki menyadari bahwa mereka terhubung oleh waktu dan takdir yang kuat. Akhirnya, Taki dan Mitsuha bertemu dalam sebuah upacara tradisional dan merasakan koneksi yang mendalam satu sama lain, meskipun mereka tidak memiliki kenangan yang jelas tentang pertukaran tubuh mereka. Meskipun waktu dan ruang memisahkan mereka, Mitsuha dan Taki berjanji untuk mencari satu sama lain dan menjaga janji mereka.

"Kimi no Na wa" adalah sebuah cerita yang memadukan unsur fantasi, romansa, dan perjalanan waktu. Cerita ini menggambarkan ikatan yang tak terelakkan antara dua jiwa yang terpisah oleh waktu dan ruang, serta upaya mereka untuk menemukan dan bersatu kembali. Cerita ini mengangkat tema takdir, cinta, dan kekuatan hubungan antarmanusia. Saat alur cerita terungkap, cerita ini menjelajahi arti kenangan, dampak waktu, dan ketangguhan hati. Melalui perjalanan luar biasa mereka, Mitsuha dan Taki berusaha untuk saling menemukan melintasi waktu dan ruang, menantang segala rintangan untuk memenuhi takdir yang saling terikat.

KARAKTER

TACHIBANA TAKI/TAKI TACHIBANA

Tachibana Taki adalah tokoh laki-laki utama dalam Kimi no Na wa. Dia adalah seorang siswa SMA berusia 17 tahun yang menjalani gaya hidup sibuk dengan bekerja paruh waktu di restoran Italia, menghabiskan waktu bersenang-senang dengan teman-temannya, dan bermimpi memiliki masa depan di bidang arsitektur. Gaya hidupnya berubah ketika dia mulai bertukar tubuh dengan seorang siswi SMA bernama Mitsuha Miyamizu dalam mimpinya, yang berharap bisa hidup sebagai seorang cowok tampan di Tokyo. Tachibana Taki, tokoh utama pria dalam Kimi no Na wa., awalnya digambarkan sebagai seorang siswa SMA biasa dengan sikap santai dan agak acuh tak acuh. Namun, seiring berjalannya cerita, dia mengalami perkembangan karakter yang signifikan. Keberanian, tanggung jawab, sifat peduli, keingintahuan, keterampilan pemecahan masalah, dan kemampuan romantis Taki membentuk kepribadian yang kompleks. Melalui pengalaman dan fenomena pertukaran tubuh dengan Mitsuha, Taki belajar tentang empati, mendapatkan pemahaman yang lebih dalam tentang orang lain, dan menjadi lebih matang sebagai individu. Perjalanan hidupnya menggambarkan kekuatan transformasi cinta dan penemuan diri, yang pada akhirnya membuat Taki menjadi karakter yang bisa dihubungkan dan diingat dalam film tersebut.

MIYAMUZU MITSUHA/MITSUHA MIYAMUZU


Miyamizu Mitsuha adalah tokoh perempuan utama dalam Kimi no Na wa. Dia adalah seorang siswi SMA berusia 17 tahun yang tinggal di sebuah kota kecil pedesaan bernama Itomori, dan merupakan anggota keluarga Miyamizu, di mana dia bertugas sebagai pendeta di kuil keluarganya. Namun, Mitsuha merasa tidak puas dengan kehidupan di kota kecil dan karena hubungan yang tegang dengan ayahnya yang keras dan kritikan yang dia terima saat tampil sebagai gadis kuil, dia berharap bisa hidup sebagai seorang cowok tampan di Tokyo. Harapannya akhirnya terkabul sebagian ketika dia mulai bertukar tubuh dengan seorang siswa SMA bernama Taki Tachibana dalam mimpinya. Mitsuha Miyamizu memiliki kepribadian yang khas dan dinamis. Ia adalah seorang wanita mandiri yang memiliki rasa mandiri yang kuat. Mitsuha sangat ingin membebaskan diri dari batasan kehidupan di kota kecilnya dan mengeksplorasi jalannya sendiri. Ia memiliki sifat yang ingin tahu dan merindukan kegembiraan di luar lingkungan pedesaan tempat tinggalnya. Meskipun menghadapi tantangan dan kritik, Mitsuha menunjukkan ketahanan dan ketekunan. Ia berusaha mengatasi hambatan dan tetap memegang teguh mimpinya, bahkan di tengah keterpurukan. Mitsuha memiliki semangat dan antusiasme yang besar dalam menghadapi pengalaman hidupnya. Sebagai anggota keluarga Miyamizu, Mitsuha menerapkan nilai-nilai tradisional dan dengan bangga menjalankan perannya sebagai seorang pendeta. Selama cerita berlangsung, Mitsuha tumbuh dalam empati terhadap orang lain, terutama Taki. Ia semakin memahami perjuangannya dan mengalami hubungan emosional yang kuat dengannya. Mitsuha juga menunjukkan tekad yang kuat, ia aktif mencari cara untuk mengubah keadaannya dan mengejar mimpinya, meski dihadapkan pada rintangan. Melalui perjalanan pribadinya, Mitsuha mengalami pertumbuhan dan transformasi yang signifikan. Ia belajar menghargai keindahan kampung halamannya, memahami identitasnya dengan lebih baik, dan menemukan kekuatan cinta dan hubungan. Kepribadian Mitsuha yang kompleks dan berkembang memberikan kedalaman pada karakternya, menjadikannya tokoh yang dapat dihubungkan dan menarik dalam cerita Kimi no Na wa.

ULASAN-ULASAN DARI PARA NARASUMBER

"Ini adalah anime kedua yang saya tonton yang berhasil membuat saya move on dari Naruto. Scene yang ditampilkan bena-benar estetik, sering dicari-cari orang di Pinterest. Filmnya tidak santai seperti yang tampak pada poster atau gambar potongan scene yang beredar di banyak sosial media.  Dalam poster maupun gambar-gambar itu, orang-orang pasti hanya mengira film ini merupakan kisah tentang dua remaja atau anak sekolah pada umumnya.

Akan tetapi poin yang saya dapat di sini adalah tentang pencarian jati diri. Dimana Mitsuha merasakan burn out karena keteraturan yang dalam hidupnya di pedesaan membosankan. Inilah yang membuatnya merasakan euphoria saat pertama kali bertukar tubuh dengan anak laki-laki dari Tokyo (Taki) karena merasa bahwa doanya selama ini terkabulkan. Lalu setelah berselang beberapa konsekuensi dari pertukaran tubuh tadi, sifat impulsif Taki dan beberapa sisi gelap kehidupannya , Mitsuha mulai memahami bahwa ekspektasinya selama ini tidaklah benar. Akan tetapi setelah menonton sampai akhir, saya merasa bahwa fokus penokohan hanya di Mitsuha.

Unsur fantasi dalam film ini terasa ketika Mitsuha dan Taki berjuang penuh untuk meyakinkan rakyat desa terkait adanya fenomena alam berupa jatuhnya meteor yang dianggap mitos oleh warga desa setempat. Perputaran waktu yang cukup pada alur film menyenangkan dan membuat alur film ini tidak bisa ditebak. Ide Déjà vu di sini disajikan berbeda dari cerita-cerita lain pada umunya dengan adanya unsur time eror. Filmografi sangat bagus, grafiknya tidak kaku, perpaduan warnanya epik," ujar Cinthya Risti Ambasari Weningtyas (Ketua Divisi KPL).

"Visualisasi dari film ini membuat kita bisa membayangkan, bahkan seperti melihat lukisan yang menakjubkan. Tidak peduli kalian adalah pecinta anime atau tidak, film ini akan membuat para penonton menjadi penasaran dan tertarik walau hanya melihat dari trailernya saja. Grafiknya sangat detail dan pewarnaan (colouring) pada film ini sangat baik. Bahkan menurut saya, untuk bisa menyamakan colouring dari poster film ini saja, kita tidak bisa hanya menggunakan krayon. Akan tetapi kita perlu minimal menggunakan cat air untuk benar-benar bisa menyamai detailnya," kata Abdullah Al Halimir Rosyid atau Lim (Anggota Divisi HRD).

"Saat film ini pertama dirilis, belum ada Netflix atau platform menonton film yang seterkenal yang kita ketahui saat ini. Saya mendapatkan rekomendasi untuk menoton film ini dari teman saya dimana dia sendiri mengatakan bahwa genre film ini adalah romance. Namun setelah ditonton, justru porsi romance-nya di sini hanya sedikit. Lebih banyak ke hal-hal yang supernatural, fantasi, dan sejenisnya. Feel dari film ini memang ‘nyampe’, tapi karena saya sendiri merupakan ‘anak sastra’ dimana saya lebih memahami hal-hal yang ada di realita, saya jadi kurang memahami maksud dari film ini seperti apa. Baru setelah menonton sebanyak tiga kali, saya memahami maksud dari film ini. Warnanya estetik dan gambarnya detail. Alur maju-mundurnya epic karena menyatukan berbagai genre walau terasa agak membingungkan. Kisahnya soft dan bagus. Karya-karya Makoto Shinkai memang selalu dikemas dengan baik, 5 tahun sekali memang layak untuk dinanti-nanti. Untuk menonton film ini, kalian tidak perlu menjadi ‘wibu’. Saya memberi rating 8.5/10 untuk film ini," terang Aisyah Rayya Amani atau Airaa (Sekretaris Divisi Humas).

ULASAN-ULASAN DARI PARA PESERTA

"Porsi Taki dikit sekali dibandingkan Mitsuha. Penjabaran kehidupan Taki hanya sebatas di masa sekolah, dia bekerja sampingan, dan kemudian menjadi dewasa. Menurut saya benar, warga desa sulit percaya dengan Mitsuha (dengan jiwa Taki) terkait fenomena meteor. Itu karena kondisi Mitsuha yang masih kecil. Sudah menjadi fakta bahwa masyarakat hanya akan memandang  perkataan dari anak seusianya sebagai bualan belaka. Ini juga anime yang saya tonton setelah Naruto dan Doraemon, jadi menurut saya alur dari cerita membingungkan. Namun saya tetap bisa mendapatkan feel dari film ini, saya tetap merasa sedih meski agak bingung," ucap Berninda Cindy Anjar Sari (Anggota Kelompok Bulan).

 "Porsi tokoh pas jika kita memperhatikan masalah screen time, Mitsuha lebih banyak tampil di awal sedangkan Taki cukup mendominasi di akhir. Menurut saya memang ‘kurang masuk akal’. Kalian harus menonton sampai akhir agar lebih paham tentang maksud film ini, sampai ke detailnya juga. Sempat salah satu narasumber (Cinthya) bertanya terkait satu momen yang ternyata mengungkap bahwa pertukaran tubuh ini tidak hanya terjadi sekali, tapi sampai tiga generasi; dari nenek, ibu, sampai Mitsuha sendiri. Ini menambah konflik dalam film ini menjadi semakin rumit karena adanya trauma yang dialami ayah Mitsuha akibat kematian ibu Mitsuha. Jadi Mitsuha dan Taki inilah yang berhasil menghentikan time flop dari ketiga generasi ini dan kemudian menyelamatkan warga desa dan masa depan desa Itomori," sahut Fildza Shabrina (Anggota Kelompok Bumi).

"Menurut saya penulis dan pembuat film ini memang menghasilkan karya-karya yang keren. Porsi penokohan pas dan bagus. Mitsuha bukan cewek yang muluk-muluk. Dia memiliki dua sisi, penurut pada budaya tetapi juga ingin mandiri. Taki merepresentasikan cowok di kota yang lebih modern. Filmografi tidak diragukan lagi. Untuk rating, saya memberi 9/10 untuk film ini. Ini karena, ceritanya di luar prediksi, out of the box, dan benar-benar di luar prediksi penonton," sahut Aan Cahya Kurnia Wahyudi (Anggota Kelompok Bulan).

"Alur ceritanya bagus akan tetapi sangat disayangkan bahwa tidak happy ending (ternyata saya belum menonton sampai akhir). Saya belum pernah menonton anime sebelum ini, saya lebih menyukai drakor, tetapi menurut saya film ini bagus. Untuk rating, saya memberikan 9/10 untuk film ini," sahut Rachma Saidah Nur Fadila SY (Anggota Kelompok Bulan).

Beragam tanggapan tersebut membawa kita pada kesimpulan bahwa film ini yang sangat bagus. Ceritanya ditulis dengan baik, menyentuh secara emosional, animasinya benar-benar memukau, dan musiknya indah. Karakternya juga sangat menyenangkan dan mudah di-root. Selain menjadi pengalaman naratif yang luar biasa, film ini juga memiliki banyak tema positif yang dapat diambil orang darinya dan diterapkan dalam kehidupan mereka sendiri. Film ini mengeksplorasi tema cinta, identitas, penemuan diri, kekuatan hubungan manusia, dan pentingnya menghargai momen saat ini. Kimi no Nawa atau Your Name adalah tontonan wajib bagi siapa saja. Ini adalah film yang benar-benar menyentuh banyak orang dan meninggalkan kesan abadi pada banyak orang, dan ini film yang harus dialami setiap orang setidaknya sekali seumur hidup.

Selasa, 09 Mei 2023

SEKAR Edisi Bulan April 2023 | CITRA DARMA MAHASISWA oleh Nadinda Jelita Salsabilah

 

CITRA DARMA MAHASISWA

Sebuah puisi oleh Nadinda Jelita Salsabilah

 

Bak pioner bak nirmala

Meraki asa dengan senandikanya

Sabitah mana yang ia kejar

Risak dirasa saujana

 

Meski terbayang-bayang lengkara

Derana harus dipegangnya

Saat arunika mulai datang

Litani mulai terdengar dalam ruang

 

Menjura pada sang wiyata

Taklif yang ia berikan

Entah itu sepadan atau tidak

Tetap dengan renjana harus dirampungnya

 

Entah itu untuk sorangan

Entah itu untuk batihnya

Entah itu untuk cahaya matanya

Siapa yang tahu?

 

Penyuara aspirasi di tengah asa

Diam bungkam sebagai pengecut

Bak bilang agen perubahan

Jangan sekadar dalam lisan

 

Tuah mana lagi yang diingkari

Sesekali tengoklah ke bawah

Pantaskah kursi-kursi itu didudukinya

Buktikan dengan adiwarnamu

SEKAR Edisi Bulan April 2023 | Manusia Rapuh oleh Amin Khoirul Fatwa

 

Manusia Rapuh

Sebuah puisi oleh Amin Khoirul Fatwa

 

Manusia rapuh, seakan setetes embun

Rapuh di tangan waktu, terombang-ambing dalam dunia yang liar

Dalam deru lautan hidup yang berliku

Mencari kebahagiaan di antara sisi gelapnya

 

Namun, badai tak henti menghampiri

Menimbulkan luka yang tak bisa terobati

Terjerat dalam lembah kesedihan yang dalam

Membuatnya tak mampu lagi berdiri dan bertahan

 

Tapi, di balik lemahnya dirinya

Terdapat kekuatan yang tak ternilai

Ketabahan dalam menghadapi pahit getirnya hidup

Membentuk karakter yang tegar dan tabah

 

Manusia rapuh, janganlah meratap dan putus asa

Karena  di dalam dirimu terdapat semangat api yang membakar

Berdirilah, hadapi badai yang datang silih berganti

Hidup tak selalu berjalan mulus, tetapi jangan lelah untuk terus berjuang

 

Karena, setiap kesulitan adalah pelajaran

Untuk memperbaiki dan memperkuat diri

Jangan pernah menyerah pada keadaan yang sulit

Karena, kehidupan masih menyimpan banyak rahasia dan keindahan

 

Manusia rapuh, janganlah berkecil hati

Karena, engkau memiliki kekuatan dalam dirimu

Bangkitlah, hadapi dunia dengan semangat yang membara

Jadilah manusia yang kuat, berani, dan penuh inspirasi

SEKAR Edisi Bulan April 2023 | IMAN oleh Ro'idah Salma

 

IMAN

Sebuah puisi oleh Ro’idah Salma

Ramadan datang

Kami gembira

Memenuhi selaksa asa

Membarukan tekad dan iman

 

Ramadan mulai berpamitan

Setapak demi setapak kau pun ikut menjauh

Mulai redup ditelan gulitanya malam

Daku gundah

Kala pikirku lalai

Dari hakikatmu yang sejatinya bersinar hingga berabad

SEKAR Edisi Bulan April 2023 | Di Balik Peti Itu oleh Ivanda Fitara Fany

 

Di Balik Peti Itu

Sebuah puisi oleh Ivanda Fitara Fany

 

Kafan menyelimuti tubuhnya 

Dingin badannya saat kucium untuk terakhir kalinya

Tak bisa lagi kupandang senyum indah di wajahnya 

Tak bisa lagi kudengar suaranya

 

Sudah tidak ada lagi laki-laki itu

Laki-laki yang paling mencintaiku dalam segi apa pun 

Aku kehilangan segalanya 

Sedih, pilu, bahagia, dan tawa semua mendadak hampa

 

Hari itu aku merasakan patah hati terberat 

melihat ayah pergi untuk selama-lamanya 

Kini semua yang tersisa hanya kenangannya di kepala

Al Fatihah untuk ayah

SEKAR Edisi Bulan April 2023 | Merayan saat Terjaga oleh Savariya

 

Merayan saat Terjaga

Sebuah cerpen oleh Savariya

Sudut mataku menangkap seorang gadis yang duduk di teras kelas X Bahasa. Helai-helai rambutnya melambai diterpa angin, menutupi sebagian wajah dan membuatku tak mampu mengenalinya. Pintu-pintu kelas X masih belum dibuka, dia datang terlalu pagi seperti diriku. Seekor burung gagak mengepakkan sayap dan hinggap di atap kelas. Berkicau dan mengubah atmosfer menjadi semakin suram saat awan hitam menutupi langit secara tiba-tiba. Memandang gadis itu yang masih duduk di tempat sama membuat suasana kian mengerikan. Aku tak dapat bergerak, tak bisa berteriak. Sepersekian detik kemudian, tubuh gadis itu jatuh dan terjun dari lantai dua kelas yang tergolong masih baru dibangun.

 “Nay!” suara seseorang bergema di kepalaku.

Sontak aku mendongakkan kepala dan melihat papan tulis dipenuhi dengan materi statistika. Lampu kelas yang padam membuat suasana semakin gelap, saat aku tersadar bahwa mendung telah menyelimuti angkasa. Baru saja aku mendengar suara seseorang yang memanggilku tapi ternyata sudah tidak ada orang. Dengan terburu-buru aku membawa tas dan meninggalkan kelas yang nyenyat.

 Aku berlari semakin cepat agar segera sampai melewati gerbang. Keluar dari tempat yang berubah menyeramkan akhir-akhir ini. Namun, jantungku dipaksa berhenti berdetak untuk beberapa detik. Karena, seseorang telah berdiri di gerbang seolah menyambutku dengan jas biru dan dasi hitam di kedua tangannya. Seluruh tubuhku kaku, meminta tolong juga tak mampu.

Dia bergerak membalikkan tubuh, aku mengingatnya meski tak tahu siapa dirinya. Dengan napas yang memburu, aku mengedipkan mata. Mendadak dia maju beberapa meter dari tempatnya yang semula berdiri. Berjalan dengan patah-patah dan menyeret jas serta dasinya. Kukedipkan mataku sekali lagi, kami berpapasan.

***

Tubuhku terperanjat dan tersadar aku masih duduk di bangku depan. Mimpi di dalam mimpi bersamanya. Bukan sekali dua kali, ini sudah ketiga kalinya aku memimpikan dia saat mataku terpejam. Bahkan pada suasana yang riuh di kelas saat jam istirahat, dia mendatangiku lagi. Ketakutan menggerayangiku saat melihat dia harus terjatuh dari ketinggian dan menghampiriku tiap malam.

“Kamu enggak papa?” Tyas, salah satu siswa yang terkenal tajir menatapku dengan khawatir. Padahal beberapa menit yang lalu aku hanya pamit untuk tidur sebentar, bukan menutup mata untuk selamanya.

“Di UKS aja kalau sakit,” imbuhnya saat aku tidak menjawab pertanyaannya.

“Hanya mimpi buruk,” jawabku. Lalu merapikan bukuku dan kumasukkan ke dalam tas hitam yang baru kubeli kemarin.

“Tapi kurasa aku akan pulang lebih awal,” kuputuskan untuk memotong jam pelajaran dan kembali di rumah. Aku berusaha menjauhi sepi agar tak mengingat mimpi itu lagi. Tetapi nyatanya, teror itu terus menghantui.

Kucangklong tas dengan niat meninggalkan kelas. Di sisi lain, Tyas menghampiri beberapa temannya dan menunjuk-nunjuk diriku. Aku tidak peduli. Sebelum meninggalkan sekolah, aku harus mengambil kartu izin di tempat yang selalu kuhindari. Tempat membosankan itu berdiri di belakang kelas X Bahasa.  Agar tak lagi terbayang mimpi mengerikan itu, aku memilih untuk memutar jalan. Melewati lapangan, menyapa beberapa teman di kantin kejujuran, dan akhirnya sampai di depan pintu cokelat perpustakaan.

“Pak, permisi,” aku tak mendapat jawaban. Hanya tumpukan buku berdebu yang berada di rak mencoba menyapaku dan sebagian berserakan di lantai. Sisa-sisa kertas yang sudah digunting pergi ke sana kemari karena disapu oleh kipas angin yang senantiasa hidup di langit-langit perpustakaan.

“Pak,” kupanggil kembali petugas untuk kedua kalinya. Tidak ada suara yang menyambutku.

Di samping komputer tua, beberapa kartu hijau tergeletak di dalam kardus kecil. Tanpa pikir panjang, kuambil kertas itu dan kuisi dengan identitasku. Berharap setelah aku pulang, aku bisa tidur nyenyak tanpa gangguan perempuan itu lagi. Aku tidak tahu siapa gadis itu, apa hubungannya denganku, dan kenapa aku harus memimpikannya dalam tiap tidurku.

Awalnya hidupku biasa-biasa saja—bahkan terlalu biasa untuk diceritakan pada semua orang. Aku tidak pernah mencari masalah dengan siapa pun. Kalau saja aku terjebak pada keramaian baku hantam, lebih baik aku lari meski banyak orang menganggapnya asyik dan rugi untuk ditinggalkan.

Tenggelam dalam sepinya perpustakaan dan berkecamuknya pikiran adalah ruang nyata untuk mengundang ketakutan datang. Suara ketukan di jendela membuatku terjingkat dari kursi plastik merah. Tanpa berpikir positif, aku menyambar tas dan meninggalkan perpustakaan terkutuk itu akibat berdekatan dengan kelas bahasa.

Sejujurnya, aku malas untuk meninggalkan sekolah di saat-saat seperti ini. Aku harus menemui beberapa guru untuk dimintai tanda tangan sebelum akhirnya diperbolehkan untuk pulang. Tentunya dengan alasan yang sebenarnya tidak sedang kurasakan. Tidak mungkin aku akan berpamitan karena aku diteror mimpi buruk. Itu artinya aku membuka topeng bahwa kelas tidak lebih dari tempat tidur bagiku.

Dengan pikiran yang kacau, aku mengurungkan niat untuk melangkahi gerbang sekolah. Karena, di sisi lain menyadari bahwa jarak antara sekolah dan rumah tidak dekat. Aku duduk di pos satpam seraya berbincang ringan dan sambat ini itu. Aku dan satpam sekolah tidak cukup akrab tetapi dia adalah orang yang baik, sehingga mudah untuk membujuknya agar aku diperbolehkan untuk duduk di sana.

“Ngomong-ngomong soal bangkai kucing yang saya temukan dua hari lalu, sampeyan(kamu) masih ingat tragedi di kelas bahasa itu ndak pak?” obrolan ngalor-ngidul(ke sana kemari) tukang kebun dan pak satpam mulai mendapatkan topik terarah. Sejak tadi aku hanya bisa menangkap tentang kopi hitam, tembakau paling enak, dan akhirnya kucing hitam menjadi jembatan percakapan mereka pada tema selanjutnya.

“Huust ndak usah bahas-bahas itu lagi lah. Udah lama juga kejadiannya,” balas Pak Kusno yang sedang menaruh cangkir kopi di atas meja.

“Lah, bukan begitu, maksud saya kan saya juga kepingin tahu bagaimana ceritanya sampai dia mengambil keputusan yang mengerikan. Medeni(menakutkan) lho Pak,”  Tukang kebun ini memang memiliki nama yang sesuai dengan perangainya, Geger, sukanya bikin keributan dengan dalih penasaran.

Sampeyan ini, sudah tahu medeni kok ya diteruskan ceritanya. Tapi Pak, menurut kabar dari anak-anak, dia korban bulu-bulu. Apa ya namanya, kalau anak zaman sekarang nyebutnya. Intinya kekerasan gitu lho Pak,” ternyata dua orang ini sama saja. Awalnya pura-pura tidak mau, tapi nyatanya malah diteruskan.

“Perundungan pak. Bulu-bulu apa tho sampeyan ini,” aku menahan tawa agar tak meledak di sana.

“Ya itu wis(sudah) Pak. Terlalu keras mungkin Pak, sampai imbasnya ke mental juga,”

“Saya itu enggak habis pikir aja. Siapa juga Pak yang ndak kaget, pagi-pagi sudah nemuin mayat tiduran di tanah. Saya pikir pingsan ternyata habis terjun dan getihe(darahnya) sudah ngalir ke mana-mana,”

Aku menatap dua pria dewasa ini dengan tak percaya, mereka membahas kasus bunuh diri di sekolah ini? Mereka menatapku juga. Pak Kusno menepuk lutut Pak geger agar tak melanjutkan ceritanya.

“Kenapa Nduk(Nak)? Ndak tahu ceritanya ta?” tanya Pak Geger padaku.

“Lho sampeyan ini, wis-wis ndak usah dibahas. Bikin takut Nduke saja. Gimana Nduk sekolahnya?” Pak Kusno mencoba mengalihkan topik pembicaraan.

“Lancar Pak. Yang terjun itu siapa Pak? Di mana kejadiannya?” aku kembali menarik mundur obrolan mereka.

“Kakak kelas kamu kalau ndak salah, kalau enggak dua tahun lalu, ya tiga tahun lalu. Di kelas bahasa depan perpus itu Nduk,” Pak Geger sangat antusias untuk menceritakan ulang tragedi itu. Sementara Pak Kusno masih berusaha untuk mencari topik lain. Dilihat dari raut wajahnya, Pak Kusno ingin sekali mengambil sandal untuk dilempar ke arah Pak Geger.

Panjenengan(Anda) tahu siapa namanya ndak Pak? Atau alamatnya mungkin?” tanyaku ragu. Mereka saling berpandangan dan kompak menggelengkan kepala.

“Memangnya kenapa tanya begitu?” Pak Kusno malah balik bertanya.

“Bukan apa-apa Pak. Cuma ingin tahu saja,” sudah jelas aku berbohong. Aku tidak ingin melibatkan banyak orang pada masalah ini.

“Saya sih enggak kenal Nduk, coba kamu tanyakan ke ruang guru. Biasanya kan ada yang nyimpan data siswa dari tahun ke tahun,” saran Pak Geger yang membuatku mengangguk pelan.

Aku terdiam dan menatap lurus ke depan. Dapat kudengar bisikan-bisikan dari Pak Kusno yang memarahi Pak Geger karena dia meneruskan pembicaraan tabu itu. Berarti benar, aku memimpikan kakak kelas di masa lalu. Jika boleh jujur, aku sangat membenci ini. Selain karena aku menjadi lebih takut di sekolah, aku akhirnya terlibat dengan sesuatu yang gaib.

Padahal tiap kali teman-teman bercerita padaku soal legenda simpang siur sekolah yang katanya bekas rumah sakit, kuburan, hingga tempat pembantaian, aku selalu menepisnya. Menganggap semua itu hanya bualan belaka. Anehnya, kini aku malah terjebak pada situasi yang sama sekali tak kupercaya.

Aku berdiri dari tempatku duduk dan pergi dari pos satpam, tentunya setelah berpamitan dengan bapak-bapak yang cukup banyak omongnya. Niatku untuk pulang ke rumah lebih awal akhirnya kutunda. Mimpi yang datang berulang kali itu, kupikir bukan kebetulan. Dia datang untuk meminta pertolongan. Aku harus menyelesaikan ini secepat mungkin agar bisa kembali tenang.

Namun, kakiku terpaku kendati melihat seorang gadis berdiri di sisi lain gerbang. Jantungku berdetak kencang dan tak berani untuk mengedipkan mata. Gadis itu adalah gadis yang menghabisi dirinya dan baru saja diperbincangkan. Beberapa detik kemudian, sebuah sepeda motor melintas di depannya, mengubah gadis itu menjadi seseorang yang kukenal.

Dia berdiri di tempat yang sama dengan tatapan mata menusuk dibalut keresahan. Tak lama kemudian, dia menyebrang dan melirikku dengan takut sembari menenteng plastik hitam.

“Dari mana Ra?” tanyaku.

“Am-ambil barang,” aku mengernyitkan dahi. Aneh, dia terlihat gemetar saat lewat di sampingku. Dengan tergesa-gesa dia mencoba menghindariku.

Aku membalikkan badan dan melihat tubuhnya semakin menjauh. Sebenarnya, perlakuan barusan hanya sekadar formalitas. Aku termasuk pada sebagian besar orang yang tak menyukai Angkara. Gadis itu baru masuk pada semester ini tapi terlalu banyak bertingkah. Mencuri perhatian para guru dan berusaha merebut posisi siswa terpintar di sekolah ini.

Tidak tahu juga bagaimana dia melakukan itu. Namun, usut punya usut dia memplagiat karya siswa terpintar dan langsung dipercayai oleh para guru. Mereka menuduh bahwa siswa yang sudah masuk dari kelas sepuluh itu meniru karya Angkara. Yang benar saja, meski aku tidak tahu tepatnya, tetapi aku lebih mempercayai penghuni lama. Angkara hanyalah pendatang dan merusak ketenangan.

“Lho, kok balik ke sekolah? Katanya mau pulang,” Pak Kusno menyadari berubahnya rute jalanku.

Mboten sios wangsul Pak(Tidak jadi pulang Pak),” jawabku lalu berlari menuju ke arah kelas. Aku mengambil jalan pintas agar lekas sampai, meski harus melewati kelas X Bahasa yang selalu terlintas dalam tidurku.

“Ketua kelas, mana ketua kelas?” aku masuk ke kelas dengan tergopoh-gopoh. Menarik semua perhatian semua siswa yang ada di dalamnya. Beruntungnya ini masih jam istirahat, kalau tidak mungkin aku yang akan di lempar keluar kelas.

Seorang lelaki berponi dengan masker biru bercorak polkadot mengangkat tangannya dengan gentar. Kulewati beberapa anak yang duduk di bangku dengan melongo dan sedikit menggeser meja yang menghalangi jalanku.

“Biasanya data-data siswa yang menyimpan siapa?” tanyaku tanpa basa basi.

“Bu-Bu Sati, di ruang TU,” jawabnya tergugup-gugup.

“Data lama di Bu Sati juga?”

“Kurang paham kalau data lama. Ta-tapi kamu bisa tanya ke Bu Sati,”

“Bu Sati sekarang masuk enggak?”

Lelaki kurus ini menggeleng, menandakan tidak masuk atau tidak tahu. Tapi dari raut mukanya, jelas dia takut.

“Bu Sati enggak masuk. Katanya ada keluarga yang sakit,” aku menoleh pada asal suara dari pojok kelas. Seorang gadis berkuncir kuda berdiri, lalu menciut takut saat aku melemparkan pandangannya padanya.

“Siapa dia?” tanyaku tanpa mengalihkan pandangan dari gadis itu.

“Sekretaris kelas,” jawab ketua kelas yang sibuk memundurkan kursinya dari hadapanku.

Aku menghela napas panjang. Aku tidak jadi pulang dan aku tidak dapat apa-apa. Akhirnya aku kembali duduk di bangkuku.

Kan aku wis ngomong, aja salin seragam ning kunu. Ngeyel sih awakmu iki(Kan aku sudah bilang, jangan salin seragam di sana. Ngeyel sih kamu ini),” seorang siswa yang tak kuingat lupa namanya masuk dengan membawa baju olahraga. Mereka adalah siswa yang telat mengambil nilai praktik mata pelajaran olahraga dan mungkin baru saja menyelesaikan persaingan ketat dengan ledakan antrian kamar mandi di jam istirahat.

Ya sapa sing ngerti(Ya siapa yang tahu),” balas perempuan satunya sembari melengos ke sahabatnya.

“Kalian pakai kamar mandi kelas X Bahasa?” mendadak mereka terkejut saat aku bertanya. Wajah dua gadis itu menciut seketika, aku memasang raut keheranan.

“Aku salah?” tanyaku lagi.

“Enggak kok. Iya ki-kita pake kamar mandi itu,” mereka saling sikut dan menjawab dengan gelagapan.

“Kalian sudah tahu cerita itu kan?” berharap dua gadis ini bisa memberiku petunjuk meski itu tidak berpengaruh besar.

“Enggak usah dibahas ya. Kita masih punya banyak tugas,” mereka terburu-buru pergi, meninggalkanku dengan seribu tanda tanya yang melekat dan enggan untuk angkat kaki. Percuma nyatanya bertanya pada mereka.

Mulutku terbuka dan segera menutupnya dengan telapak tangan kananku. Tangan kiriku menumpu kepala yang tergeletak di atas meja. Mataku berusaha untuk tetap terbuka untuk mencegah tersibaknya tragedi itu lagi.

“Makin lama Angkara ini ngelunjak deh. Caper banget sih jadi anak baru,” Astri mendobrak pintu kelas dan masuk dengan tak sopan. Aku mengangkat kepala dengan cepat. Semua anak terdiam, termasuk aku, ketika melihat gerombolan perempuan yang dianggap penting di sekolah ini. Satu angkatan tidak ada yang berani melakukan perlawanan, mereka pemaksa dan juga penindas.

“Tahu tuh, yang ditanyain siapa yang jawab siapa,” timpal Tyas, aku menyebutnya sebagai kompor. Selalu saja menyulut api dan terus membakar teman-temannya.

“Kita harus beri dia pelajaran lagi. Enggak ada kapok-kapoknya tuh anak,” tumben Astri memberi saran, biasanya dia hanya mengeluh dan marah-marah tak jelas.

“Menurut kamu gimana?” tanya Gendhis kepadaku—sejak kapan mereka duduk melingkari mejaku?

Aku bergeming, sembari mengarahkan telunjukku ke dada. Memastikan bahwa benar-benar aku yang mereka ajak untuk bicara. Mereka manggut-manggut, sama herannya denganku. Aku menggelengkan kepala, jelas itu bukan urusanku.

Mereka saling pandang, mengembuskan napas panjang dan kembali melanjutkan pembicaraan yang sempat tertunda.

“Kita lanjutkan saja,” Gendhis yang bertanya, dia sendiri yang menjawab. Setelah itu, aku tak berminat untuk mendengarkan perbincangan mereka. Hanya membuang waktuku saja.

Saat jam pelajaran kembali dimulai, aku pernah berpikir kenapa waktu di sekolah berjalan sangat lambat. Rasanya ingin terlelap tapi mimpi itu semakin kalap. Di sisi lain, mendengar guru sepuh menerangkan pembelajaran sejarah malah menjadi dongeng pengantar tidur untukku.

Aku tak sadar bagaimana bisa sampai di tempat ini. Ke depan ke belakang, sepasang kaki menjuntai dari kejauhan. Dengan wajah tertutup rambut hitam yang lebat, cukup sulit untuk mengetahui siapa dirinya. Dia seperti semua gadis yang kutemui di sekolah. Mungkin karena aku sendiri yang tak terlalu peduli sehingga semua teman-teman perempuan kupikir sama. Tapi yang jelas, sekarang aku tahu bahwa dia adalah kakak kelas.

Tak seperti biasanya, aku harus bisa berbincang dengannya sebelum dia melompat kembali. Sepatuku mulai menginjak tangga pertama, sembari berkali-kali melihat gadis itu agar tak lompat terlebih dahulu.

“Jangaaaan!” gagal, tepat setelah melangkahkan kaki, dia telah meregangkan nyawa.

“Nay, kamu kenapa?” Bu Sri menguasai indra penglihatanku. Berdiri dengan spidol hitam di tangannya dan tatapannya menyudutkanku.

“Cepat cuci muka! Kalau kamu sekali lagi tidur di kelas saya, silakan keluar. Pintu kelas selalu terbuka,” dengan separuh nyawa aku pergi ke tempat cuci tangan yang disediakan pada masing-masing kelas.

Saat air masih mengalir membasahi telapak tanganku, aku melihat Angkara memandangiku. Sebelum akhirnya dia kembali ke dalam kelas dengan was-was setelah melemparkan botol plastik ke dalam tempat sampah.

Ingin cepat pulang tapi kini malah terjebak dengan sapu kelas yang termutilasi. Membersihkan kelas seorang diri selepas bel favorit semua siswa berbunyi. Tapi ini lebih baik, daripada bersama banyak teman yang selalu berakhir dengan adu mulut karena saling tolak untuk mengerjakan piket. Aku tidak punya banyak waktu untuk mendengarkan omong kosong mereka, lebih baik menyelesaikan semuanya sendirian dan segera mencari tahu soal kakak kelas itu.

Tidak lupa untuk mematikan kipas angin yang selalu jadi permasalahan Pak Geger dengan anak-anak dan merapikan buku-bukuku yang tidak terurus di meja. Aku membaca beberapa nama teman-teman di antara buku-bukuku. Aku tidak merasa meminjam buku mereka tapi anehnya semua buku ini keluar dari dalam tasku. Besok saja kukembalikan, sekarang saatnya untuk pulang.

***

Jeritannya melengking di telingaku, napasnya memburu meminta ampun. Tiga gadis lain masih terus memberikan pelajaran yang mungkin tidak pernah gadis itu lupakan.

“Tolong, hentikan semua ini. Aku tidak kuat! Apa pun yang kalian minta, aku akan menurutinya,” gadis itu memohon, agar mereka bisa melepaskannya.

“Kamu pikir, dengan semua yang telah kamu lakukan pada sahabat kami, kamu bisa mendapatkan ampunan?”

“Kamu mungkin bisa mengatakan yang sejujurnya pada semua orang, bahwa sebenarnya kamu yang menjiplak karyanya. Tapi membersihkan namanya dari kotoran yang kamu buat memangnya kamu bisa?”

“Aku heran. Bagaimana bisa kamu merebut semua hati para guru dengan begitu cepat? Meyakinkan mereka bahwa kamu bisa mengalahkanku?”

“Aku tidak tahu. Tapi aku bisa mengembalikan semuanya seperti sedia kala. Aku mohon, maafkan aku,”

“Kembalikan semuanya yang dia miliki. Kamu enggak usah ikut campur lagi. Lebih baik jadi anak yang biasa-biasa aja ya. Cari aman,”

Gadis yang terpojok itu mengangguk dengan paksa, matanya memerah dan berkaca-kaca. Entah berapa banyak tangis yang sudah mengalir dari sana. Herannya, tidak yang tahu seberapa besar nyalinya hingga dia bisa berurusan dengan mereka. Anak baru yang tak mengerti tata krama.

“Baiklah, kamu bisa lepas. Tapi setelah kami puas,” senyum-senyum licik tergambar dari empat penguasa. Sebenarnya hanya satu penguasa, sisanya hanya numpang nama.

***

Napasku tertahan setelah melihatnya terbang beberapa detik sebelum menghempas tanah. Kicauan gagak menjadi musik pengiring kematian. Aku baru mampu membuka mata setelah keheningan kembali menerpa setelah dipecahkan oleh malapetaka. Cairan merah segar membasahi tanaman-tanaman yang sudah tumbuh sejak aku pertama masuk ke sekolah. Baru kali ini, akar-akarnya disirami oleh darah.

Sudah beberapa detik aku berdiri di tempatku tapi aku tak bangun-bangun. Aku mundur beberapa langkah, menampar pipiku sendiri agar terkejut dan berusaha mengembalikan diriku pada jasad yang seharusnya tertidur di kelas.

“Aaaaaaakh!” suara teriakan adik kelas berjas biru tua mengagetkanku di seberang gadis yang terbujur kaku. Ada orang baru dalam mimpiku?

“Tolooong!” sekarang dia berteriak, aku melihat banyak sekali orang berlarian. Beberapa menjauh mencari pertolongan, yang lain mendekat membunuh rasa penasaran, dan sisanya jatuh pingsan.

Dalam beberapa menit, lokasi kejadian dikerubungi oleh banyak orang. Gadis itu dibungkus dengan kantung berwarna jingga dan dimasukkan ke dalam ambulans yang sirenenya berbunyi sejak tadi.

Seorang perempuan menarikku dari kerumunan. Sekejap dia bertanya, “Nayaka, kamu enggak melakukan ini kan?”

“Apa maksudmu?”

“Nayaka, ikut saya ke ruang BK sekarang,” guru BK, Pak Suyit, mendatangiku dan menyuruhku untuk mengikutinya.

“Saya tahu, Angkara sedang berselisih dengan kamu karena kamu dituduh menjiplak karyanya. Jadi Nayaka, apa benar kamu yang membuat Angkara melakukan keputusan seperti ini?”

Aku menatap Pak Suyit dengan nanar. Mimpi itu bukan hanya masa lalu.

Lantai 2, November 2021

SEKAR Edisi Bulan April 2023 | Fenomena di Negeri Wakanda oleh Emha Taufiq

 

Fenomena di Negeri Wakanda

Sebuah cerbung oleh Emha Taufiq

Pada suatu hari di sebuah fakultas terpencil pada salah satu perguruan tinggi kota tembakau, ada suatu peristiwa menarik yang menurut saya lucu. Ibarat suatu bangunan adat kokoh yang dibangun bersama-sama dan sudah bertahan sejak lama, tiba-tiba diruntuhkan begitu saja oleh kepala sukunya cuma gara-gara anak bungsunya merengek tidak suka. Lucunya, bangunan tersebut dirobohkan beralasan karena sudah ketinggalan zaman. Padahal, bangunan tersebut telah melahirkan banyak cendekiawan maupun pendekar yang disegani seantero negeri.

Masih pantaskah beliau disebut kepala suku? Padahal beliau telah menghancurkan budayanya sendiri demi kepentingan pribadi. Para cendekiawan dan pendekar yang berjuang mati-matian mempertahankan budayanya sangat kecewa dengan keputusan beliau. Parahnya lagi, beliau juga memutarbalikkan fakta mengenai budaya yang dijalankan para cendekiawan dan pendekar. Tapi mereka tak bisa berbuat banyak dengan keputusan tolol kepala sukunya. 

Memang, suku tersebut terkenal dengan kekeluargaan, keberanian, dan solidaritasnya. Itulah yang membuat suku-suku lain ketar-ketir ketika berhadapan dengan suku tersebut dalam medan perang. Mungkin para pemimpin suku bangga akan hal itu, tapi enggan untuk mengapresiasinya. Ada fakta yang cukup mencengangkan, daerah suku tersebut tak seluas dan tak seindah daerah suku lain. Apalagi sarana dan fasilitas umum yang miris sekali keadaannya, sangat jauh dibandingkan daerah suku lain yang penuh dengan ke-aesthetic-an. Maklumlah, mungkin karena para pemimpin sukunya minim perhatian dan hanya mengedepankan ego pribadinya.

Para penduduknya sudah sangat sabar menghadapi tingkah laku para pemimpin suku tersebut, yang terkesan mempersulit usaha penduduknya. Tapi sejak kecil, para penduduknya sudah terdidik menjadi pribadi mandiri, sopan santun dan menghormati pemimpinnya. Itulah yang membuat mereka tetap menghormati pemimpin sukunya walaupun rada amburadul dalam melaksanakan roda pemerintahan. Inilah keistimewaan sekaligus keanehan, suku yang mempunyai pasukan dan armada terkuat seantero negeri masih sabar menghadapi keabsurdan pemimpinnya. Melihat di daerah lain yang pemimpinnya seperti itu, sudah pasti dihakimi anarkis oleh penduduknya.

bersambung…

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...