Minggu, 27 Juli 2025

SEKAR Edisi Juli 2025 | Fructured Bond karya Kuni Tauriyatan

 Fructured Bond

Karya Kuni Tauriyatan


Sinopsis

In the shadows beneath Hogwarts, Evelyne Elowen finds a forgotten spell that consumed guilt and silence. She was sent to observe. Instead, she steps into it, because some forms of magic don’t bind to power, but to pain. And some bonds hold simply because no one else does. 

Karya Lengkap

The Room of Requirement did not open for everyone. And when it did, it never looked the same twice.

Tonight, it looked like regret.

The ceiling stretched far above, shadowed and endless, lit only by faint runes that flickered across the ancient floor — a circle pulsing slowly, like breath barely held. The magic felt older than the castle itself, quieter than grief.

Evelyne Elowen hadn’t come looking for it. But something had pulled her here anyway. The room had shaped itself around someone else's need. And that someone stood in the center of the circle.

Draco Malfoy.

He didn’t flinch when she entered. He only turned, slow and tired, as if he’d expected her eventually.

“I didn’t ask it to bring anyone else,” he said.

“I didn’t ask to be brought,” she replied.

There was no heat in the words. Just fact.

The circle between them wasn’t a prison. It was a tether. The kind of magic that fed not on power, but surrender.

“You could’ve asked for help,” Evelyne said.

His eyes barely moved. “Help wouldn’t know what to do with this.”

She stepped closer. The air changed as she neared the boundary — not resistance, but awareness. The spell saw her. Reached for her like a memory. She stopped just shy of the runes and knelt, resting her hand on the cold stone beside them.

The magic pulsed. Welcoming.

“You’re not trying to escape it,” she said quietly.

“No.” His voice was low. Honest. “It gives me something else.”

“What?”

“A place to fall apart… where no one notices.”

The silence after was thick. Charged. She didn’t break it. Instead, she let herself feel the room — not just the magic, but the intention that shaped it. This version of the Room had not been summoned for safety. It had been summoned for punishment.

And Draco had come willingly.

“You didn’t come here to be fixed,” she said.

He didn’t reply. He didn’t have to.

The runes trembled. Barely. Like a breath caught between wanting and warning. The magic made space for her. As if it understood she wasn’t there to break the spell. Only to bear it with him.

She looked at him, standing in the center like someone burdened by a fate he never chose. Not expecting to be saved, only to be left alone with the weight of it. And she didn’t reach for him. She didn’t promise light. She simply stayed.

“I’m not here to pull you out,” she murmured. “But I’ll stay, as long as it takes for you to remember how to breathe.” He turned his head at that — not fully, just enough for her to know he heard it.

“I’m not asking to be saved,” he said.

“No,” she answered. “But maybe you need someone who doesn’t look away.”

The runes fell still, as if holding their breath.

The room didn’t brighten. But it softened.

Not healed. Not changed. Just witnessed.

And sometimes, that was enough.

SEKAR Edisi Juli 2025 | Topeng yang Diam karya Wulan Puspitasari

 Topeng yang Diam

Karya Wulan Puspitasari


Lelah, memakai topeng

Seperti burung yang terbang dengan sayap yang rapuh

Banyak orang mengenal sebagai manusia yang ceria

Manusia yang selalu bilang “iya”

Why? Entah ada sesuatu dalam manusia ini 

Yang tak bisa terungkapkan 


Hati yang selalu terusik 

Seperti daun yang digoyang angin badai

Berusaha untuk tenang, selalu gagal

Selalu membayangkan apa yang manusia lain ucap

Entah sampai kapan, 

Selalu memberi ruang ikhlas dan maaf 

Dan 

Terkadang berekspektasi untuk mulai bilang “tidak”

That’s really hard for me


Manusia yang selalu kehabisan energi 

Saat bertemu pulau manusia

Selalu terpikir, 

“gimana biar bisa dipandang manusia lain?”

“gimana biar bisa dihargai manusia lain”

Arghhh, otak manusia ini yang selalu berisik

Banyak hal yang membuat sedih’bingung’mati rasa

Menyendiri adalah waktu yang tepat untuk menyadari

Kehidupan yang menurut manusia ini baik,

Oh no, that’s wrong

Tidak semua manusia mampu memahami manusia lain


Pada akhirnya, manusia ini mulai membuka topeng,

Seperti bunga yang mekar di pagi hari,

Mulai merasakan untuk menjadi manusia yang ikhlas

Mulai mengutamakan manusia ini

Love yourself first before someone else

and

Setidaknya, Allah tahu manusia ini berusaha

SEKAR Edisi Juli 2025 | Mati Sebagai Pahlawan atau Hidup Sebagai Penghianat? karya Denis Eka Prasetyo

 Mati Sebagai Pahlawan atau Hidup Sebagai Penghianat?

Karya Denis Eka Prasetyo


"You either die a hero or live long enough to see yourself become the villain."

Renungan panjang ini muncul pertama kali ketika mendengarkan kalimat itu pada 2017. Sejak saat itu, kalimat itu tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di sudut kepala, berbisik pelan di tengah malam yang sunyi.

"Benarkah hidup lebih lama membuat kita lupa akan cara bermanusia?"

Mungkin bukan lupa, melainkan perlahan kehilangan rasa. Seperti air hujan yang terus menetes ke batu, tanpa kita sadari, hati pun mulai terkikis. Bukan karena kita ingin menjadi jahat, tapi karena dunia tak selalu memberi ruang bagi mereka yang tetap ingin baik.

Di awal hidup, kita menggenggam nilai dengan erat. Kejujuran, kasih sayang, pengorbanan, semua itu tampak suci. Namun seiring waktu, realita mengganti idealisme dengan kompromi. Satu demi satu batas dilanggar, dan kita menyebutnya dewasa.


Menjadi pahlawan ternyata bukan tentang menyelamatkan dunia. Kadang, itu hanya tentang mampu bertahan sebagai manusia yang masih punya hati, meski dunia merayakan kejam dan licik.

"Lalu, apakah benar kita semua ditakdirkan menjadi penjahat bagi cerita orang lain?"

Mungkin. Tapi mungkin juga, kita hanya manusia yang lelah. Manusia yang terlalu lama bertahan di dunia yang memaksa memilih antara terluka atau melukai. Antara dilupakan atau mengubah diri menjadi sesuatu yang tak lagi kita kenali.

Maka hari ini aku bertanya:

Jika menjadi pahlawan berarti harus gugur dalam semangat, dan menjadi penjahat berarti bertahan dalam luka, di mana tempat bagi mereka yang hanya ingin menjadi manusia?

SEKAR Edisi Juli 2025 | Sebuah Pilihan karya Enida Martiana Sari

 Sebuah Pilihan

Karya Enida Martiana Sari


Sinopsis

Ira, seorang perempuan yang menua dengan tenang dalam kesendirian. Berbeda dari pandangan umum bahwa tua tanpa pasangan adalah kutukan atau kegagalan, Ira menjalaninya sebagai pilihan sadar untuk hidup jujur dan tidak tergesa membuktikan apapun pada dunia. Di rumah kecilnya yang dipenuhi buku dan senyap yang damai, Ira menjalani hari-harinya dengan rutin namun penuh makna.

Karya Lengkap

Di ujung jalan yang jarang dilalui kendaraan, berdiri sebuah rumah kecil berpagar kayu. Cat putihnya mulai pudar, tapi taman kecil di depannya selalu tampak hidup. Bunga-bunga mekar sederhana, dan rerumputan tumbuh rapi seperti tahu betul batas tempatnya. Di dalam rumah itulah Ira tinggal sendiri. Ira telah melewati banyak musim dalam hidupnya. Usianya kini menjelang tujuh puluh dua. Tubuhnya ringkih, tetapi masih kuat untuk menyiram bunga, menyeduh teh, atau membuka halaman demi halaman buku yang telah lusuh karena sering dibaca ulang. Ia tinggal seorang diri sejak awal. Tidak ada anak-anak yang menelpon, tidak ada suara cucu yang meramaikan sore, tidak ada pasangan yang membagi makan malam di meja bundar kecil.

Namun, bukan berarti ia kesepian.

Ira tidak pernah menikah. Keputusan itu bukan karena tidak ada yang datang, bukan pula karena trauma masa lalu. Ia hanya... tahu. Tahu bahwa hidup yang ingin ia jalani adalah hidup yang tenang, sederhana, dan tidak dipenuhi kewajiban sosial yang tak ia perlukan. Ia tahu bahwa cinta, sebagaimana banyak orang mendambakannya, tidak selalu berarti harus dimiliki atau diikat dalam satu bentuk yang disepakati banyak orang. Ia mencintai hidupnya yang pelan. Bangun pagi, meregangkan tubuh di bawah cahaya matahari yang menembus tirai tipis jendelanya, lalu menyeduh teh melati favoritnya selalu dalam cangkir yang sama, yang sudah mulai retak halus di bibirnya tapi tetap bertahan seperti dirinya. Setelah itu, ia menuju ruang baca.

Ruang baca itu adalah tempat paling hidup dan jantung rumahnya. Dinding-dindingnya tertutup rak buku kayu, dan setiap buku menyimpan cerita yang bukan hanya dari isinya, tetapi juga dari ingatan. Ada novel klasik yang ia beli dengan gaji pertamanya sebagai pustakawan. Ada buku-buku filsafat dan sastra yang dulu ia baca untuk memahami dunia dan memahami dirinya sendiri. Beberapa novel remaja ia simpan bukan karena isi ceritanya, tetapi karena aroma masa muda yang tersimpan di setiap lembarnya. Ia tidak hanya membaca. Ia mengobrol dengan buku-buku itu. Ia mengingat momen saat pertama membacanya, tertawa di bagian lucu, menangis pelan saat kata-kata menyentuh luka lama. Ia menemukan dirinya berkali-kali di antara kalimat-kalimat sunyi itu.

“Buku-buku ini adalah teman yang tidak pernah pergi,” gumamnya suatu pagi.

Setiap sore, Ira berjalan ke taman kecil. Tak jauh, hanya empat blok dari rumahnya. Ia tak pernah membawa ponsel, tak pernah punya tujuan tertentu, hanya ingin duduk di bangku kayu sambil menatap senja. Ia menikmati caranya langit berubah warna. Dari biru, oranye, lalu merah keunguan sebelum tenggelam dalam kelam. Di bangku yang sama, orang-orang silih berganti duduk. Pasangan muda, anak-anak yang bermain, ibu-ibu yang menunggu keluarganya. Tapi Ira tak pernah menunggu siapa pun. Ia duduk diam, tenang, sesekali tersenyum pada anak-anak kecil yang bermain kejar-kejaran.

Orang mungkin melihatnya dan merasa iba. “Kasihan, sudah tua sendirian,” mungkin begitu pikir mereka. Tapi mereka tidak tahu, Ira tidak menunggu siapa-siapa. Ia tidak pernah menyesal. Ia tidak pernah merasa terlambat atau tertinggal. Karena sejak awal, ia tidak ikut lomba apa pun. Baginya, tua sendirian bukan kutukan. Bukan kegagalan. Bukan akibat pilihan yang salah.

“Tua sendirian bukan berarti tak dicintai. Aku hanya mencintai caraku hidup,” katanya suatu malam pada dirinya sendiri, saat bercermin.

Ada saat-saat sepi tentu. Tapi bukan sepi yang menyiksa. Melainkan sepi yang membuatnya bisa mendengar suara hati sendiri. Ira telah berdamai dengan dunia yang selalu tergesa-gesa. Ia tidak ingin membuktikan apa pun pada siapa pun. Tidak harus menunjukkan pasangan, pencapaian, atau garis waktu yang sesuai ekspektasi masyarakat. Ia hanya ingin hidup dengan jujur. Dengan damai. Dengan pelan.

Malam hari, Ira akan kembali ke ranjangnya yang hangat. Ia membaringkan tubuhnya perlahan, lalu memeluk dirinya sendiri. Tidak ada pelukan orang lain, tapi pelukannya cukup. Ia tidak butuh pengakuan bahwa ia berhasil, atau pertanyaan mengapa ia sendiri. Karena ia tahu jawabannya. Ia sendiri karena memilih demikian. Ia hidup dengan tenang karena memang menginginkannya. Ia menua dengan damai bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena ia telah mengambil pilihan yang sesuai dengan dirinya.

Ira bukan simbol kegagalan. Ia bukan kisah tragis yang dikasihani. Ia adalah bukti bahwa tidak semua orang mendambakan keramaian. Bahwa hidup bisa utuh walau dilalui sendiri. Di rumah kecil itu, di bawah cahaya lampu kuning temaram dan aroma teh melati yang belum habis, Ira tidur. Di pelukannya hanya dirinya sendiri. Tapi senyumnya... cukup untuk menjelaskan semuanya.

SEKAR Edisi Juli 2025 | Hari Hari Tanpa Hati karya Desy Aulia Faricha

 Hari Hari Tanpa Hati

Karya Desy Aulia Faricha


Setia menunggu pagi

Meski sesak penuh dihati

Harapan atas sebuah mimpi

Akankah masih berarti?


Kaki menopang serpihan mimpi

Di depan cermin yang tak pernah mencaci maki

Tapi memaksa tegap berdiri

Menghadapi badai yang tiada henti


Senyum menjadi topeng yang berarti

Menjalani peran yang basi

Hari-hari akan tetap hidup

Tetapi tak punya hati


SEKAR Edisi Juli 2025 | Sindrom Kelabu karya Sausan Destiana Dewi Syafitri

Sindrom Kelabu

Karya Sausan Destiana Dewi Syafitri


Sinopsis

Kehidupan sekolah Yurin berjalan dengan normal, sampai suatu ketika sekolahnya kedatangan guru sejarah baru, Sayaka Yukimura yang datang bersama sosok bayangan misterius menyerupai dirinya. Semua orang bisa melihat sosok itu, kecuali Yukimura-sensei sendiri. Ketakutan pun merajalela di kalangan murid dan guru, menciptakan suasana mencekam setiap pelajaran sejarah. Yurin mengira setelah Yukimura-sensei diberhentikan dengan hormat, maka semuanya selesai. Sayangnya, kisah menyeramkan itu sepertinya belum berakhir. 

Karya Lengkap

“Kalian melihatnya lagi?” 

“Ya, bahkan tadi ikut menulis pada papan.” 

Seluruh kelas heboh, anak perempuan dengan respons dramatis mereka, sedangkan anak laki-laki memilih untuk cuek dan diam. Sudah menjadi kebiasaan setelah pelajaran sejarah usai, kelas akan dipenuhi bisikan-bisikan bahkan teriakan ngeri akan apa yang sudah dilihat. Mungkin terkesan tidak masuk akal, tetapi inilah kenyataan yang terjadi. 

Namaku Yurin Kisaragi, siswi tahun kedua dari sebuah SMP swasta di Kota Kyoto. Seperti kebanyakan siswa lainnya, aku menjalani hari dengan baik di sekolah dan teman-temanku terbilang cukup banyak. Semuanya berjalan normal, sampai ketika memasuki pertengahan tahun kedua, aku bertemu dengan sesuatu yang … mengerikan. 


Waktu itu adalah musim panas ketika kelasku mendapat pengumuman tentang adanya guru baru yang menggantikan Katagiri-sensei yang dipindahtugaskan empat hari lalu. Semua teman-temanku tentunya menyambut dengan rasa penasaran, termasuk diriku sambil berharap agar guru baru itu tidak memiliki sifat pemarah seperti Katagiri-sensei. Setelah melalui jam pelajaran yang cukup panjang, kelasku memasuki jam pelajaran terakhir, saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tiga sore. 


Seperti pada pergantian jam sebelumnya, aku dan beberapa temanku sempat mengobrol sejenak, menjernihkan otak setelah bekerja menyerap informasi panjang tiada henti. Ada melempar candaan dan tertawa lepas, sibuk menggambar sesuatu, membaca majalah, hingga sekelompok anak laki-laki yang bermain kejar-kejaran. Sayangnya suasana menyenangkan itu harus terhenti kala terdengar suara langkah kaki serta teriakan anak laki-laki yang melihat ada guru yang berjalan kemari. Semuanya buru-buru kembali ke meja masing-masing, merapikan beberapa peralatan yang berantakan, serta mengambil kembali kertas bekas pesawat-pesawatan. 


Tidak lama pintu depan digeser, menampakkan seorang wanita muda nan cantik yang tersenyum hangat kepada, membuat semua orang di kelas terpana, termasuk diriku. Kakinya lalu melangkah masuk dengan gerakan anggun, disertai aura hangat dan elegan. Namun, ekspresiku langsung berubah bingung kala ada seseorang yang ikut masuk ke dalam kelas. Paras dan tubuhnya mirip dengan guru baru itu, hanya saja kulitnya lebih pucat dan tidak memberikan ekspresi apapun. Aku tidak terlalu ambil pusing, berpikir bahwa guru baru itu punya saudara kembar dan kebetulan akan mengajar bersama. 

Minna-san, konnichiwa. Namaku Sayaka Yukimura, guru sejarah kalian yang baru. Salam kenal semuanya.” 

Teman-teman kelasku menjawab perkenalan itu dengan serentak, kemudian beberapa berbisik ada yang mulai berbisik, memuji suara halus milik Yukimura-sensei. Sesi perkenalan itu berjalan cukup singkat tanpa ada basa-basi dengan Yukimura-sensei bersiap untuk menerangkan materi, tanpa berniat untuk memperkenalkan seseorang yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Tentu ini menimbulkan keanehan sebab mereka masuk bersamaan juga akan mengajar bersama, tetapi hingga perintah mengeluarkan buku paket diucapkan, sesi perkenalan untuk orang itu tidak ada. Dalam hati aku hendak melayangkan protes, hitung-hitung mengulur waktu sebelum sesi pelajaran dimulai. Sayangnya, niat itu aku urungkan ketika melirik teman-teman sekelasku yang nampak abai dan aku memilih untuk mengeluarkan buku paket. 


Sensei!” 


Sebuah suara terdengar dari tengah kelas, itu adalah si ketua kelas, Chizuru Hasegawa yang sudah mengangkat tangannya. 


Ano Sensei, Anda belum memperkenalkan seseorang di sebelah Anda,” ucap Chizuru dengan nada ragu. 


Yukimura-sensei diam sejenak. Wajahnya yang bingung kemudian menoleh ke arah samping, tepat di mana saudara kembarnya berdiri. Namun, respons yang dia berikan justru membuatku serta teman-teman sekelas terkejut bukan main. 


“Seseorang? Tetapi tidak ada siapapun di sampingku saat ini.” 

Begitu kalimat itu terucap, waktu seolah berhenti. Terkejut, bingung, juga perasaan ngeri bercampur jadi satu. Padahal aku dan teman-teman sekelas melihatnya dengan sangat jelas, sosok perempuan yang sama persis sedang berdiri di sebelahnya dengan postur yang sama, memegang sebuah buku di tangan. Satu-satunya perbedaan dari mereka adalah kulit pucat serta wajah tanpa ekspresi. Dari situ aku sadar bahwa ‘sosok’ itu hanya bisa dilihat selain Yukimura-sensei sendiri. 

Hari itu semua orang di kelasku sama sekali tidak ada yang bergerak, diam membeku sembari menahan perasaan takut yang menjalar ke seluruh tubuh. Suasana mendadak berubah menjadi suram dengan atmosfer menyesakkan yang menyeramkan. Sayangnya, itu baru satu dari sekian banyak kengerian yang harus aku dan teman-teman kelasku rasakan dalam satu bulan ke depan. 

*****

            Satu minggu setelah kejadian mengerikan itu, hampir seluruh angkatan tahun kedua tahu tentang Yukimura-sensei serta ‘sosok’ yang mengikutinya. Bahkan sebagian besar murid tahun pertama dan ketiga mendengar rumor itu, hingga beberapa dari mereka pernah mencoba untuk membuktikan. Tidak sampai di sana, para guru pun rupanya bisa melihat ‘sosok’ itu, tetapi mereka memilih untuk diam dan pura-pura tidak tahu. Yukimura-sensei benar-benar menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. 

Aku sebenarnya tidak peduli dan terlalu malas untuk ikut campur, tetapi bohong jika aku berkata tidak takut padanya. Bayangkan saja, setiap menjelang sore kalian harus menahan rasa takut dan ngeri selama hampir satu jam setengah sambil melihat bagaimana ‘sosok’ itu bergerak mengikuti Yukimura-sensei tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Tentunya kejadian ini mendapatkan protes dari siswa, mengeluhkan hal yang sama. Namun, guru-guru hanya menyuruh mereka untuk bersabar dan mengabaikan ‘sosok’ itu. 

Puncaknya adalah ketika memasuki minggu ketiga. Salah satu wali murid dari kelas sebelah datang ke sekolah dengan membawa seorang pengacara. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, menurut teman-temanku ada salah satu siswa dari kelas sebelah yang terkena insomnia akut akibat tidak tidur selama lima hari setelah ‘sosok’ Yukimura-sensei menghantui mimpinya. Entah itu benar atau tidak, yang pasti setelah kedatangan wali murid dan pengacara itu, sekolah dipulangkan lebih awal. 


“Aku yakin dia bagian dari sekte sesat dan sedang dikutuk karena sudah menyembah iblis,” ujar salah satu temanku, Saeko Takahara. 


“Bisa jadi ‘sosok’ di belakangnya itu adalah bentuk hukuman dari Dewa agar semua orang menjahuinya, karena dia sudah menyimpang!” timpal Fumiko Matsuyama, temanku yang lain. 


Aku tidak menanggapinya, memilih untuk mendengarkan. Namun entah mengapa, aku merasa kasihan pada Yukimura-sensei. Dia hanya seorang guru yang melakukan kewajibannya, sedang bekerja untuk menghidupi menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Keinginannya tulus, tetapi dunia memperlakukannya dengan kejam hanya karena ada entitas mengerikan yang terus mengikutinya. Aku tidak menyalahkan mereka yang mengucilkan Yukimura-sensei, sebab aku pun menjauhinya. Namun, sampai membuat rumor-rumor mengerikan bahkan terkesan merendahkan, membuatku kesal dan muak. 

“Eh, kau mau ke mana, Yurin-chan?” Saeko bertanya padaku. 

“Ke kamar mandi sebentar. Kalian lanjutkan dulu tanpa aku,” jawabku kemudian melangkah keluar dari kelas. 

Pergi ke kamar mandi hanyalah sebuah alasan, tujuanku sebenarnya adalah keluar dari percakapan yang memuakkan telinga itu. Aku memang takut dengan Yukimura-sensei, tetapi mengatainya ikut ajaran sesat bahkan mendapat hukuman Dewa itu sudah berlebihan menurutku, merendahkan dirinya. Karena itu aku memutuskan pergi, sedikit berjalan-jalan sambil mencari udara segar. Aku lantas menghela napas panjang kemudian berjalan menyusuri koridor sekolah yang tidak terlalu ramai. 

Pikiranku melayang ke mana-mana, mencoba mencerna kejadian tidak biasa ini, tentang Yukimura-sensei, ‘sosok’ yang mengikutinya, juga perasaanku yang tidak tega padanya. Aku terlalu sibuk melamun tanpa menyadari ke mana kakiku melangkah dan ketika sadar, diriku sudah berdiri di depan ruang musik yang letaknya di ujung lorong lantai dua. Aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya membalikkan badan, berniat untuk membeli minuman dingin. Sayangnya, niat itu aku urungkan kala melihat seseorang sedang duduk di ruang musik dengan menghadap jendela, membelakangi diriku dan itu adalah Yukimura-sensei. Kemudian di sebelahnya, aku bisa melihat ‘sosok’ itu yang anehnya tidak sedang duduk, melainkan berdiri menghadap ke arah Yukimura-sensei seolah sedang memperhatikannya. Melihat itu tentu membuatku terkejut dan rasa takut langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Seharusnya ‘sosok’ itu ikut duduk menghadap jendela, mengikuti gerakan Yukimura-sensei, bukan berdiri di sampingnya. 

Entah sudah berapa lama aku menatapnya, tetapi kejadian berikutnya adalah aku melihat dengan jelas bahwa ‘sosok’ itu menoleh ke arahku sambil menyunggingkan sebuah senyum, senyum mengerikan yang membuat waktu terasa berhenti. Aku membeku, sekujur tubuhku rasanya dingin dan jantungku berdetak kencang. Dengan keberanian dan kewarasan yang masih tersisa, aku berlari sekencang mungkin untuk kembali ke kelas, tidak mempedulikan orang-orang menatapku dengan aneh. Saat ini pikiranku hanya diisi rasa takut yang luar biasa. 

Setelah kejadian itu, aku jatuh sakit selama tiga hari dan saat kembali ke sekolah, aku mendapat kabar bahwa Yukimura-sensei telah diberhentikan dengan hormat sehari setelah aku tidak masuk. Tentunya aku merasa lega karena berhasil terbebas dari suasana mengerikan dan mencekam yang selalu kualami saat kelas sejarah, tetapi aku juga merasa sedikit sedih membayangkan bagaimana Yukimura-sensei menjalani hidupnya setelah ini. Apakah akan kembali ditolak dan ditakuti masyarakat? 

“Apapun itu, setidaknya kita tenang sekarang. Tidak perlu takut dan merasa tegang saat pelajaran sejarah.” 

Aku tersenyum, mengangguk kecil kepada dua temanku. Hari-hariku di sekolah pun kembali berjalan dengan normal, tidak ada sosok mengerikan yang menghantui juga rasa tegang yang selalu menyelimuti. Waktu demi waktu berlalu, cerita menyeramkan tentang Yukimura-sensei mulai terlupakan, berubah menjadi cerita urban salah satu misteri sekolah. Beberapa temanku juga mulai melupakannya semenjak sibuk mengurus masa depan, tetapi aku masih mengingatnya dengan baik, diam-diam mengenangnya sebagai pengalaman ‘tak terlupakan. 

Saat ini aku duduk di bangku kuliah dan hari ini adalah hari pertamaku masuk kelas secara resmi, karenanya jantungku berdebar akibat gugup. Untungnya, aku sempat berpapasan dengan salah satu temanku ketika masa orientasi, Seiji Ishiyama yang lebih dulu menyapaku. Aku tersenyum, membalas sapaan Seiji dan kami berjalan beriringan menuju kelas sambil diiringi obrolan ringan. 


“Ngomong-ngomong, kau tidak pernah cerita kalau punya saudara kembar. Jadi siapa namanya?” 

Aku tertegun. “Apa?” 

SEKAR Edisi Juli 2025 | Aku karya Zaskia Dwi Arefa

Aku

Karya Zaskia Dwi Arefa



Sampai bertemu nanti

Aku yang akan melihatmu mati lalu hidup lagi

Ditusuk, kau dihabisi

Di hadapan api

Kamu dan aku bertemu kembali


Siapa yang suci? Bukan aku

Kalau kamu intip isi kepalaku,

Di sana aku telah membunuhmu

Hidup-hidup


Sayangnya aku tidak punya kuasa

Aku bukan perwira

Yang dengan mudah merenggut nyawa di dunia nyata

Jadi semua hanya ada di kepala

Fatamorgana


Kubilang, aku bukan orang suci

Di neraka itu, aku yang akan kamu temui

Aku mau bersaksi

Tak masalah aku juga dikuliti

Asal kamu juga habis dilahap api

Aku seorang saksi


‘Kan ku beri selamat atas dosa yang mungkin sekarang kamu tolak untuk akui

Sampai bertemu nanti


Di jalan yang sepi tanpa pengawalmu

Tanpa kuasamu

‘Kan ku panggil namamu

Pertama kalinya, kamu akan mendengar Aku.

SEKAR Edisi Juli 2025 | Dancing Bugs karya Farah Nabila Aina

Dancing Bugs

Karya Farah Nabila Aina


The bugs don’t ask
why the wind blew,
they just tumble,
tiny and true.


I tried to hold
what can’t be caught—
but they just dance,
and I forgot
I could, too.


Let the storm come,

let the sky forget my name,

and I’ll still dance

like the bugs do—

because it’s enough


to be small,

to be free,

to be. 


PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...