Minggu, 25 Juni 2023

SEKAR Edisi Bulan Mei-Juni 2023 | Tapi Ini Bukan tentang Matahari Terbenam oleh Ade Darma

 Tapi Ini Bukan tentang Matahari Terbenam

Sebuah puisi oleh Ade Darma


Rintihan angin liar dengan secercah binar datang di saat waktu yang sudah ditentukan oleh alam

Begitu pula dengan seseorang yang datang di saat waktu yang sudah ditentukan oleh Tuhan

Senja menatap sendu

Rindu yang pulang

kembali menemukanmu

Sore yang indah pun perlu waktu

untuk kembali padamu

Perihal tentang seseorang yang sekadar hadir sesaat

Semata-mata hanya bisa melihat dari kejauhan untuk sebatas mengagumi bukan untuk memiliki

Akan tetapi terkadang suatu hal jauh lebih baik ketika dipandang

daripada berusaha untuk menggapai tetapi dapat menimbulkan kegundahan dalam diri

Keindahan langit yang temaram di waktu matahari terbenam hadir menyiratkan keelokannya

Tak hanya sebatas sekadar hadir

Namun ia berjanji untuk kembali

Tapi ini bukan tentang Matahari Terbenam

SEKAR Edisi Bulan Mei-Juni 2023 | Untukmu Ibu oleh Linda

Untukmu Ibu

Sebuah puisi oleh Linda

Ibu engkaulah pahlawan dalam hidupku

Penyemangat di setiap langkahku

Mendampingiku saat senang dan sedih

Pelukanmu menghapus lara dalam hatiku

                                    Ibu kau bagaikan bintang bagiku

                                    Menerangiku di setiap kegelapan

                                    Menanamkan nilai nilai kebaikan  

                        Agar aku menjadi pribadi kuat dan sopan

Di setiap doaku tak luput dari namamu

Doa kupanjatkan agar kau sehat selalu

Tiada yang bisa mengganti posisimu

Karena kau selalu ada dihatiku

                        Walaupun waktu terus berlalu

                                    Engkaulah bintang yang terus menuntunku

                                    Terima kasih ibu atas segalanya

                                    Untukmu ibuku tercinta

SEKAR Edisi Bulan Mei-Juni 2023 | Jalan yang Terang untuk yang Bertahan oleh Bella Najwa Muzdha

 Jalan yang Terang untuk yang Bertahan

Sebuah puisi oleh Bella Najwa Muzdha


ia bak sekawanan awan yang angkat kaki.

setapak, setapak, lalu berlari

melahap waktu serakus-rakusnya,

dari menyarap pagi hingga meneguk petang.

 

ia ingin membawa pulang sekeranjang penuh syukur

yang menyala—meredupkan nestapa

di rumah yang selalu menunggu kepulangan

dan membuat perayaan untuk menghidangkan segala rupa kebahagiaan

sebelum ibu dan ayahnya semakin dikikis usia.

 

maka ia terus berjalan.

sebab berkat doa dan semoga yang dibisikkan mereka ke Pemilik Semesta,

ia dihadiahi sepasang kaki yang tak berkarat

juga sepatu yang membawanya kepada selamat

ketika sesekali tersesat—atau hampir sekarat.

SEKAR Edisi Bulan Mei-Juni 2023 | Sesapu Keterkikisan oleh Silvia Lusiani

 Sesapu Keterkikisan: Mahasiswa dan Rakyat dalam Daur Wacana yang Tersingkir

Sebuah puisi oleh Silvia Lusiani

 

Di negeri yang subur, mahasiswa bersemarak,

Mengagungkan mimpi, membara dan bercahaya.

Namun terkadang, ironi menyapa,

Kaitan dengan rakyat terkikis oleh wacana yang lemah.

 

Mahasiswa, suara para intelektual,

Dilahirkan dalam akademi yang bernilai tinggi.

Namun, apakah kepala hanya penuh dengan angka,

Tak terketuk kegelisahan rakyat yang nyata?

 

Bergelora dalam diskusi dan perdebatan,

Menyuarakan keadilan dan kebenaran.

Namun, di balik tirai ilmu yang megah,

Apakah tetap berpihak pada rakyat yang terpinggirkan?

 

Kuliah bergelut dengan teori-gerakan besar,

Marx, Foucault, dan Piketty yang kian terkenal.

Namun, dalam praktik, sering kali hilang tanda tanya,

Tentang sejuta wajah rakyat yang menderita.



Mahasiswa, seolah-olah memegang kunci perubahan,

Namun terkadang lupa mengenai rakyat yang nyata.

Dalam hidup yang terkadang keras dan kejam,

Apakah hanya ilmu yang dapat menciptakan keadilan?

 

Tapi jangan kita lupakan, rakyat juga tak bersih,

Banyak yang korup, terjebak dalam kesesatan.

Namun mahasiswa, sebagai harapan masa depan,

Diharapkan mampu membawa cahaya penyelesaian.

 

Kaitan mahasiswa dengan rakyat adalah ikatan,

Yang tak dapat dipisahkan, harus saling terjalin.

Kembalilah, mahasiswa, ke akar-akar gerakan,

Dekatkan diri dengan rakyat, bukan hanya teori-gerakan.

SEKAR Edisi Bulan Mei-Juni 2023 | Bintang (Tidak) Jatuh oleh Cinthya Risti Ambasari Weningtyas

 Bintang (Tidak) Jatuh

Sebuah cerpen oleh Cinthya Risti Ambasari Weningtyas


Setelah melewati hari yang melelahkan dengan pertempuran mata kuliah dan sakit kepala yang tak kunjung mereda, aku akhirnya jatuh ke tempat tidur. Lelah menyelimuti tubuhku. Meskipun berjam-jam tidak beristirahat, aku masih merindukan gerakan, sehingga aku tidak benar-benar merasa istirahat.

Ada sebuah ungkapan yang sering terdengar dari mulut orang-orang, "tutup matamu, dan tidur akan mendatangimu, baik sadar maupun tidak." Aku mencoba mengikuti saran tersebut dengan harapan dapat memulihkan kelelahan yang melanda. Namun, ada sesuatu yang berat terus mengganggu pikiranku, merayap keluar melalui celah-celah rambut yang menempel di bantalku.

Tak lama kemudian, terdengar suara ketidakpuasan di telingaku. Aku mendengar staf mengeluhkan performa Lyra, sahabatku. Evaluasi bulanan dari agensi menuntut kesempurnaan darinya. Aku hampir lupa bahwa hari ini adalah hari yang ditakuti oleh seluruh trainee. Hari di mana setiap kesalahan dianggap sebagai kegagalan.

Setelah menunggu cukup lama, kuputuskan untuk menunggunya di luar ruangan. Aku siap untuk membawanya pulang ke asrama, tempat kami bisa berbicara tanpa gangguan.

***

"Dengar, kamu aman di sini, bersamaku," kataku dengan lembut, sambil menyentuh wajahnya dengan penuh kehangatan, berharap dapat mengurangi rasa sakit yang tengah dia rasakan. Seperti sebelumnya, tubuhnya bergetar. Namun, kali ini, aku merasakan bahwa evaluasi bulanan bukanlah satu-satunya penyebabnya. Ada sesuatu yang lebih dalam.

"Tolong maafkan aku. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku. Aku merasa sangat gugup... Tolong, maafkan aku. Aku hanya ingin tampil yang terbaik untuk kalian semua... Inilah sebabnya aku merasa cemas. Tolong, pahami… Aku ingin menjadi sempurna di mata kalian," Lyra berkata dengan nada yang penuh penyesalan dan kebingungan.

Aku hanya bisa menggelengkan kepala dengan lembut, sambil menjelaskan kepadanya bahwa dia sudah melakukan yang terbaik. Yang perlu dia lakukan sekarang adalah memperbaiki beberapa bagian yang kurang dan tidak perlu merasa gagal atau bahkan lebih buruk dari itu. Lyra adalah yang terbaik, mood maker di dalam grup. Tak hanya aku, para pendukung dan semua member pasti terpukul jika melihat kondisinya saat ini.

"Terima kasih. Aku akan melakukan yang lebih baik pada penampilan berikutnya. Aku akan memberikan yang terbaik dari diriku. Sungguh. Aku benar-benar berjanji. Aku... aku siap memberikan segalanya untuk membuat penampilanku yang terbaik. Aku ingin membuat kalian bangga. Aku tidak ingin mengecewakan kalian," ucap Lyra dengan tekad yang kuat, penuh semangat untuk mencapai hasil yang memuaskan.

***

Keesokan harinya, aku masuk ke ruangan Lyra dan menemukan beberapa pil dan surat kunjungan psikiater di atas mejanya. Aku terkejut dan bertanya-tanya mengapa dia menyembunyikannya dariku. Aku menatapnya dengan tajam, mencari jawaban dalam air mukanya.

Aku merasa marah melihat dia. Apalagi melihatnya saat ini terus berlatih tanpa istirahat. Aku berkata kepadanya dengan serius, "Lyra, kita harus bicara."

Dia tampak takut dan menundukkan kepala, mengakui kesalahannya. Dia menjelaskan bahwa pil-pil itu membantu meredakan kecemasan dan mendapatkan sedikit istirahat. Dia meminta maaf dan berjanji akan berusaha lebih baik. Aku tetap diam, ingin tahu sejak kapan ini terjadi.

Lyra mengakui bahwa ini sudah berlangsung sejak bulan lalu. Dia mengatakan bahwa dia ingin memberikan yang terbaik untukku dan teman-teman lainnya, tetapi dia tidak bisa mengatasi tekanan. Dia merasa takut dan lelah secara mental. Akhirnya, dia memutuskan untuk mencari bantuan dari seorang psikiater. Dia meminta maaf karena menyembunyikannya dariku.

Aku merasa terganggu dan mengungkapkan kekecewaanku. Aku mengingatkannya bahwa ini bukan hanya tentang aku, tapi juga tentang kesehatannya sendiri. Dia pun merasa bersalah dan mengaku bahwa dia ingin menjadi lebih baik. Bahkan jika itu berarti mengundurkan diri dan tidak debut bersama teman-temannya. Kesehatan mentalnya sudah memburuk dan dia minta maaf atas semua ini.

Mendengar itu, jelas sekali, aku merasa terluka. Dia tidak memberitahuku lebih awal dan menyembunyikan masalahnya. Aku hanya bisa menegaskan kekecewaanku padanya.

Dia menundukkan kepala, mencoba menjelaskan alasannya. "Aku berusaha menangani sendiri karena takut terlihat lemah. Itu adalah kesalahan besar. Aku seharusnya memberitahumu. Aku menyesal sekali." Dia meminta maaf dan meraih tanganku. "Aku benar-benar menyesal. Maafkan aku... Kamu dan yang lain sudah melakukan begitu banyak untukku. Seharusnya aku lebih bersyukur."

Aku bertanya kepadanya dengan harapan dan emosi yang beradu, "Apakah kamu pernah benar-benar percaya padaku?"

Dia menatapku dengan keyakinan. "Ya, aku percaya padamu." Dia mencoba menyampaikan penyesalannya dalam pelukan erat. "Aku benar-benar minta maaf. Aku tidak akan mengulanginya lagi. Aku ingin berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Kamu… kalian semua tidak pantas mendapatkan apa pun kecuali yang terbaik."

Meskipun merasa hangat dalam pelukannya, aku ingin mengingatkannya tentang pentingnya dirinya sendiri. "Kamu juga pantas mendapatkannya. Jangan selalu membuat semuanya tentang aku, para member, ataupun para pendukungmu. Pikirkan juga tentang dirimu sendiri!"

Dia mengerti dan mengangguk. "Kamu benar... Tapi saat ini... Kalian lebih penting bagiku daripada diriku sendiri. Kalian selalu ada di sisiku, menunjukkan cinta dan dukungan yang tak tergantikan. Kalian adalah yang utama. Selalu." Dia bersumpah, "Aku sungguh minta maaf. Aku tahu aku tidak dapat menjaga diriku sendiri. Tetapi aku benar-benar ingin memperbaiki diriku untuk kalian. Kalian adalah yang paling penting bagiku."

Aku menolak. Aku ingin dia memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraannya sendiri. "Tidak!"

"Demi Tuhan, kalian yang pertama!" Dia berkata dengan keyakinan. "Mengapa kamu begitu marah? Aku hanya ingin menunjukkan betapa pentingnya kalian bagiku. Kalian adalah prioritas utamaku, sahabatku, pendukungku. Kalian berhak untuk didahulukan."

Aku merasa frustrasi dengan keteguhannya. "Mereka pasti ingin kamu memprioritaskan dirimu sendiri!"

"Tapi mengapa...? Kamu harus mengerti. Aku ingin menunjukkan cintaku pada kalian. Aku ingin menunjukkan siapa yang penting bagiku, siapa yang paling aku hargai, dan siapa yang selalu ada untukku. Aku tidak akan pernah cukup berterima kasih atas semua yang kalian berikan padaku. Tolong pahami. Kalian adalah orang yang paling penting dalam hidupku. Aku ingin kalian bahagia. Bahkan jika itu berarti aku menjadi yang kedua. Aku akan melakukannya. Selalu."

Aku merasa kesal dan tak tahan dengan sikap keras kepalanya. "Aku muak, Lyra. Kamu terlalu keras kepala!"

Dia menundukkan kepalanya dengan tulus. "Maafkan aku. Aku hanya... Aku hanya melakukan apa yang aku yakini akan membuatmu bahagia. Kamu satu-satunya orang yang berdiri di sampingku dengan cinta dan kenyamanan saat aku membutuhkannya. Aku ingin kamu merasa dicintai dan dihargai. Kamu tidak hanya pantas mendapatkan yang terbaik, kamu adalah yang terbaik. Aku sangat mencintaimu. Aku tidak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata. Kamu adalah orang yang paling penting bagiku."

Aku menatapnya, mencoba menyampaikan pesanku dengan lembut. "Jangan mencintai aku jika kamu tidak bisa mencintai dirimu sendiri."

Dia menahan tangisnya dan berusaha menjelaskan. "Tapi... Tapi kamu membuatku merasa dicintai. Bersamamu, hatiku dipenuhi cinta dan sukacita. Kamu selalu ada untukku. Kamu luar biasa... Kamu baik dan menakjubkan. Kamu adalah segalanya bagiku. Aku mencintaimu. Aku hanya ingin yang terbaik untukmu. Tolong pahami, aku tidak pantas mendapatkan cintamu. Aku merasa tidak layak untukmu. Kamu adalah orang yang istimewa. Aku tidak pantas memiliki semuanya ini. Tapi aku ingin tetap bersamamu. Meskipun aku mungkin tidak pernah bisa mencintai diriku sendiri, aku akan selalu mencintaimu."

"Cinta seharusnya tidak seperti itu, Lyra. Tolong..." aku mencoba memotongnya, mengingatkan tentang pentingnya mencintai diri sendiri.

"Bukankah itu cinta?" dia menjawab dengan lirih, mencoba menjelaskan pandangannya. "Bagaimana aku bisa tidak mencintai kalian? Cinta... Cinta adalah… saat aku ingin kita bersama, menemukan kebahagiaan dalam diri masing-masing, merasa aman dan nyaman, menghargai dan mengapresiasi, menunjukkan betapa aku peduli dan menghargai kita bersama... Bukankah itulah cinta?"

Aku mengerti apa yang dia coba sampaikan, tetapi aku tidak bisa menyerah begitu saja. "Ya, tapi... kamu juga harus mencintai dirimu sendiri, oke? Aku di sini mewakili semua pendukungmu."

Dia menatapku dengan penuh tekad. "Aku... aku berjanji akan mencoba. Ini sulit... Kamu tahu itu. Tapi jika itu membuat kalian bahagia, aku akan memberikan yang terbaik dari diriku. Aku tidak akan mengecewakan kalian lagi, aku berjanji. Aku akan menjaga diriku sendiri, menjadikanku sebagai prioritas. Oke? Aku akan berusaha. Aku janji."

Aku merasa lega mendengar janjinya. "Baiklah. Jadi sekarang... apakah kamu masih akan menyerah pada impianmu?" tanyaku dengan kekhawatiran. Aku tidak bisa berbohong bahwa di sini aku juga satu dari sekian banyak orang yang menantikan debut Lyra dan grupnya. Aku tahu aku egois.

Dia menggelengkan kepala mantap, "Aku tidak menyerah pada impianku. Meski aku mengalami kesulitan dan merasa lelah, aku masih ingin melanjutkan. Aku ingin terus berjuang untuk impianku. Aku mungkin merasa sedikit terpuruk, tapi itu tidak berarti aku harus menyerah. Aku akan berjuang lebih keras lagi. Aku minta maaf jika aku membuatmu khawatir."

"Tapi Lyra... mengapa? Mengapa tiba-tiba kamu berubah pikiran?" tanyaku dengan rasa ingin tahu. Rasa bersalah kini menguasaiku sepenuhnya.

Dia memandang ke bawah, berusaha menjelaskan, "Aku... Aku tahu aku sering meragukan diriku sendiri. Aku sering membandingkan diriku dengan orang lain dan merasa tidak cukup baik. Tapi aku menyadari bahwa itu adalah sikap yang salah. Aku tidak boleh menghukum diriku sendiri seperti itu. Aku tahu aku pantas mendapatkan kesuksesan dan kebahagiaan. Aku tidak boleh menyerah pada diriku sendiri. Aku minta maaf jika aku membuatmu bingung."

"Apa kamu benar-benar ingin mengambil risiko ini? Bagaimana dengan dirimu sendiri? Apa kamu akan merawat dirimu dengan baik?" tanyaku, mencari kepastian.

Dia menatapku dengan tekad, "Aku ingin mencoba. Aku ingin memberikan yang terbaik dari diriku. Aku ingin melampaui ketakutan dan keraguan yang selama ini menghantuiku. Aku tahu ini tidak akan mudah, tapi aku siap menghadapinya. Aku berjanji aku akan berjuang dengan segala kekuatanku. Aku akan mencoba lebih baik lagi dalam merawat diriku sendiri. Aku tahu pentingnya menjaga kesehatan mental dan emosional. Aku akan belajar mencintai diriku sendiri dan menghargai diriku sepenuhnya. Aku minta maaf jika aku terlalu fokus pada orang lain dan melupakan diriku sendiri. Aku akan berusaha lebih seimbang."

"Lepaskan dan katakan padaku, apakah kamu bahagia dengan keputusan ini?" tanyaku, mencari kebahagiaannya.

Dia menatap mataku dengan tulus dan berkata dengan senyum di bibirnya, "Aku sangat bahagia dengan keputusanku. Aku merasa lega dan penuh harapan. Aku tahu ada tantangan di depan, tapi aku percaya aku bisa menghadapinya. Aku akan melakukan segala yang aku bisa untuk meraih impianku. Aku berterima kasih padamu karena telah mendukungku dan mempercayaiku. Aku berjanji aku tidak akan mengecewakanmu."

Aku memelukku dengan erat. "Aku sangat bangga padamu. Aku melihat kekuatan dan keteguhanmu. Aku tahu kamu bisa melakukannya. Aku akan selalu mendukungmu."

Dia pun membalas pelukanku. "Terima kasih karena selalu ada di sisiku. Aku bersyukur memiliki dukunganmu. Aku akan melakukan yang terbaik dan membuatmu bangga."

***

Hari-hari terus bergulir dan aku mendapatkan kabar melalui media sosial grup bahwa proyek debut Lyra telah berakhir. Saat itu, sedih melanda hatiku, tetapi aku sadar bahwa ini adalah bagian dari perjalanan hidupnya. Aku tahu dia telah memberikan segalanya dan tidak ada penyesalan dalam usahanya. Meskipun ia harus menghadapi kekecewaan ini, aku yakin dia akan tetap berdiri tegak dengan kepala tinggi. Lyra memiliki kekuatan yang luar biasa, dan aku yakin masih ada banyak kesempatan di masa depan yang menantinya. Dia tidak akan berhenti mencari dan meraih impiannya, karena dia memiliki keteguhan dan keberanian yang tak tergoyahkan.

Lalu terkait aku… aku hanya terdiam tanpa air muka di depan ponselku. Jujur, semua emosi negatif terasa meresap di setiap sendi-sendi tulangku. Lyra gagal debut, bukan aku. Ya, aku tahu. Akan tetapi… aku merasa ada beban berat yang benar-benar menghantam kepalaku dengan keras. Hahaha! Ya, benar. Ekspektasi adalah beban itu. Sakit kepalaku ini sampai membuatku tak menyadari bahwa beberapa tetes air mata sudah berjatuhan ke seprai kasurku. Aku tak ingin menjadi semakin egois. Aku juga harus dewasa.

Sementara itu, Lyra dalam keadaan penuh keyakinan berbicara pada dirinya sendiri, menantang dirinya untuk tidak menyerah. Dia menyadari betapa beratnya kekecewaan ini, tetapi dia memilih untuk tidak membiarkan hal itu menguasainya sepenuhnya. Lyra menyadari bahwa pentingnya menghargai dirinya sendiri dan menjaga kekuatan internalnya. Dengan hati yang teguh, dia berkomitmen untuk melangkah maju dengan keberanian yang baru. Meskipun tantangan masih ada di depan, Lyra yakin bahwa ia mampu menghadapinya. Dia berjanji pada dirinya sendiri untuk mencoba lagi, dengan keyakinan yang kuat bahwa ia akan berhasil. Lyra tetaplah bintang kami, tidak akan pernah ada yang berubah dari pendarnya. Meskipun kini dia ingin bersinar ke arah yang berbeda.

***

SEKAR Edisi Bulan Mei-Juni 2023 | Hak yang Diintervensi oleh Silvia Lusiani

 

HAK YANG DIINTERVENSI

Sebuah puisi oleh Silvia Lusiani

               

Di bawah langit biru yang terbentang,

Terhampar hak yang diintervensi oleh tangan yang tak bertanggung jawab.

Sejuta cerita terlukis di mata rakyat yang terhina,

Hak-hak yang terkikis, terperih, dan terenggut tanpa ampun.

 

Hak hidup, hak cinta, dan hak berbicara,

Dipangkas oleh kekuasaan yang mencengkram tanpa belas kasihan.

Suara-suara terdiam dalam hening yang pilu,

Seolah kebenaran dibungkam, ditutup rapat di balik tirai kegelapan.

 

Namun, dalam jalinan waktu yang mengalir,

Harapan-harapan bersemi di setiap detik yang berlalu.

Dalam setiap langkah yang tegap, setiap jerit yang menggelegar,

Keberanian tumbuh sebagai api yang tak bisa dipadamkan.

 

Hak-hak yang diintervensi adalah api yang meradang,

Menyala dalam jiwa yang terus berjuang dan berani.

Bersatu dalam keadilan, merangkai ikatan solidaritas,

Mereka menentang tirani, membebaskan hak yang terkekang.

 

Biarkan keadilan menjadi nyanyian kebebasan,

Yang diteriakkan oleh setiap jiwa yang haus kebenaran.

Hak-hak yang diintervensi, berjuanglah tanpa lelah,

Tak ada batas bagi impian yang mampu menggapai langit.

Bersama-sama kita berdiri, menguatkan langkah,

Menyuarakan kebenaran, mengakhiri tirani yang terus merajalela.

Di dalam hati yang tulus, kami melukis harapan,

Hak-hak yang diintervensi, akan kembali menggeliat dengan kekuatan yang sejati.

 

Jadi tegarlah, hak-hak yang terzalimi,

Dalam kegelapan, masih ada cahaya yang memandu jalanmu.

Di setiap upaya membebaskan dan mengembalikan derita,

Kau menjelma menjadi simbol perjuangan yang tak akan padam.

 

Hak-hak yang diintervensi, suatu hari kan kembali merdeka,

Dan di hadapan dunia, mereka akan bersinar dengan gemilang.

Mari kita bersama, jangan pernah lelah berjuang,

Hingga keadilan tumbuh subur di setiap sudut tanah ini.

SEKAR Edisi Bulan Mei-Juni 2023 | Pantaskah? oleh Bimantoro Eko W.

 

Pantaskah?

Sebuah puisi oleh Bimantoro Eko W.

 

Tangis bernoda itu tampak

Kosong bola matanya

Seraya mengucap pinta tanpa jeda

 

Mungkin takut yang dirasa

Takut maut akan tiba

Letih sudah ia bersuara

Dalam lautan salah yang meluap

 

Pantaskah?

Tak kuasa aku bertanya

Kini, kuramu doa menjadi satu

Nanti, biarlah telaga surga yang merindu

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...