Selasa, 28 Maret 2023

SEKAR Edisi Maret 2023: Artikel Lingkungan dan Pendidikan | Nur Khasanah dan Ro'idah Salma

 Artikel 1

Judul                         Analisis Potensi Emisi CO2 oleh Berbagai Jenis Kendaraan                                                                      Bermotor di Jalan Raya Kemantren Kabupaten Sidoarjo

Authors                      : Nur Kasanah, Sudarti dan Yushardi

Jurnal                         : Jurnal Sumberdaya Alam dan Lingkungan

Tahun Publish            : 2022

Volume                       : 9

No                               : 2

Halaman                     : 70-75

DOI                            : http://dx.doi.org/10.21776/ub.jsal.2022.009.02.4

URL                            : https://jsal.ub.ac.id/index.php/jsal/article/view/498

 

Abstrak : Kendaraan bermotor merupakan faktor penyumbang polusi udara yang berperan tinggi. Salah satu polutan yang dihasilkan kendaraan bermotor adalah CO2, sehingga peningkatan kendaraan bermotor akan mendorong banyaknya potensi emisi COdan mencemari udara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi emisi CO2 dari berbagai jenis kendaraan bermotor. Metode pengambilan data dilakukan dengan observasi langsung terhadap jumlah dari masing-masing kendaraan bermotor selama tiga puluh menit serta studi literatur untuk mengetahui seberapa besar CO2 yang dihasilkan oleh setiap jenis kendaraan bermotor. Studi literatur yang dilakukan untuk mengetahui faktor emisi dan persamaan sesuai dengan IPCC 2006. Hasil dan pembahasan didapat dari pengambilan data (n) jumlah kendaraan bermotor kend.30 menit-1, (FE) faktor emisi g.liter-1, (K) konsumsi bahan bakar liter.km-1 dan perhitungan potensi emisi CO2. Berdasarkan pengambilan data dan perhitungan yang diperoleh menunjukkan jenis kendaraan bermotor  berupa sepeda motor dan mobil ialah penyumbang terbanyak dengan potensi emisi CO2 sebesar 67,568.26 (g.30 menit-1.km-1) dan mobil sebesar 63,335.30 (g.30 menit-1.km-1).


Artikel 2

Judul                     : Analisis Efektivitas Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Hukum II Newton                                             Terintegrasi PHET Simulation Terhadap Hasil Belajar Siswa Nuris Jember

Authors                  : Nur Kasanah, Ro’idah Salma, Ronald Fransisco Hafana, Pria Nur Wulandari

Jurnal                     : Jurnal Pendidikan Fisika Tadulako

Tahun Publish        : 2022

Volume                   : 10

No                          : 1

Halaman                : 59-63

DOI                        https://doi.org/10.22487/jpft.v10i1.2337

URL                       https://jurnal.fkip.untad.ac.id/index.php/jpft/article/view/2337

 

 

Abstrak :

Pembelajaran  saat  ini  khususnya  pembelajaran  fisika,  berdasarkan  hasil  observasi  masih mengalami kendala. Salah satu kendala dari pembelajaran fisika adalah  kecenderungan  siswa  yang  pasif  di  kelas  dan  hasil  belajar  yang  tidak  maksimal.  Berdasarkan  hasil observasi, dilakukan  penelitian  efektivitas  media pembelajaran  PhET Simulation.  Penelitian  ini  bertujuan guna  mengetahui  efektivitas  dari  penggunaan  media  pembelajaran  Simulasi  PhET Simulation terhadap hasil belajar siswa SMA Nuris Jember. Metode yang digunakan ialah metode deskriptif dan  metode  kuantitatif.  Pengambilan  data  dilakukan  secara  langsung  menggunakan  media Lembar  Kerja  Peserta  Didik  (LKPD)  terintegrasi  PhET Simulation.    Variabel  control  dari penelitian  ini  adalah  Lembar  Kerja  Peserta  Didik  (LKPD)  dan  media  PhET Simulation. Variabel bebas yang digunakan ialah kelompok kelas yang digunakan yaitu kelas X MIPA 1 dan X MIPA 3 SMA Nuris Jember. Variabel terikatnya ialah hasil belajar siswa. Hasil penelitian didapatkan dari pre test dan post test yang  telah dikerjakan  oleh  siswa.  Didapatkan  nilai pre test lebih  rendah dibandingkan dengan nilai post test.  Hal  ini  ditunjukkan  oleh  nilai  rata  rata  siswa  ialah 48,53 dan nilai rata rata hasil belajar post test ialah 86,58. Nilai gain yang diperoleh ialah 0,58. Kesimpulan dari penelitian ini ialah media pembelajaran PhET Simulation mampu meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran fisika Hukum II Newton. Peningkatan hasil belajar siswa terkategori sedang dengan nilai gain sebesar 0,58.

SEKAR Edisi Maret: Aku Adalah Aku | Siti Khoyimah

Aku adalah Aku

Puisi Oleh Siti Khoyimah

 

Dalam raga berselimut rahasia

Hiruk pikuk dada meronta-ronta

Berlalu-lalang tak tentu arah

 

Aku adalah Aku

Aku bukan Dia, apalagi mereka

Bukan setitik awan perampas asa

Hidupku milikku di dunia

 

Aku adalah Aku

Aku mencintai diriku

Karena aku adalah orang yang berharga

Di hadapan dunia dan pencipta semesta

Kurengkuh ragaku dalam kehangatan 

Dibalut ketulusan dan kebahagiaan

***

SEKAR Edisi Maret 2023: TOLAK | Putri Mazhhar Pratami

TOLAK

Puisi Karya PM. Pratami

Babak baru telah berdetak

Arus pun mengalir meriak

Pada pemenang telak

Melalui jalan menanjak

 

Mulanya kau raih semua pundak

Bahkan turuti semua kehendak

Lalu kau dan egomu tampak

Berganti kulit secara mendadak

 

Dari peliknya rekam jejak

Kau tinggalkan jarak

Padahal tak pernah ada sesak

Seakan lupa di mana terletak

 

Di balik rupa indah bak merak

Tak segan kau membentak

Sambil bersembunyi di balik kata dampak

Nyatanya kau berotak congkak

 

Dengarlah sahut teriak bak desir ombak

Sambil tertawa terbahak 

Berkata terkutuklah segala pihak

Tak mau lagi kusimpan ini dalam benak

 

Di balik gemerlap lautan perak

Akhirnya ku beranjak

Di jalan suram dan terinjak

Kuharap kau tergeletak

Dari perlawanan serentak

Kau bersikap layaknya yang berhak

Padahal kau hanya perusak

Pada tiap lantai yang kupijak

 

Kemudian segalanya menjadi retak

Dan air mata pun merebak

Dari atas tubuhku yang tergeletak

Kau buat tidurku tak nyenyak

 

Di tiap langkah ku menapak

Tangan kecewa ku menggertak

Kau bungkam aku hingga terinjak

Percayaku pun akhirnya rusak

 

Rantai menjerat ragaku berontak

Hingga sukmaku berteriak

Pada kau yang tamak

Dasar kau manusia tak berakhlak

 

Kelak semua akan terkuak

Terbongkar hingga amarah bergejolak

Sampai kau tak lagi dapat mengelak

Dariku dan semua yang menolak

 ***

SEKAR Edisi Maret 2023: Mencuri Karena Iri | Imelda Ratih Praditya

Mencuri Karena Iri

Cerpen Oleh Imelda Ratih Praditya

Suatu pagi, di dekat pohon mangga yang amat rindang ada 3 bocah sekawan. Mereka adalah Joni, Krisna, dan Lana. Tak sengaja lewat di depan pekarangan rumah Bu Mira, mereka tergoda oleh buah mangga yang bergelantung. Tiga bocah tersebut berinisiatif akhirnya untuk memetik mangga itu.  Tidak lupa mereka bertiga izin kepada pemilik mangga yaitu, Bu Mira. Bu Mira tinggal di rumah hanya dengan putranya, Hafidz, yang umurnya tak jauh dengan mereka bertiga. 

Saat mereka tengah asyik memetik mangga, tiba-tiba Hafidz muncul di teras rumah dengan membawa satu kardus mainan. Joni yang melihat pun merasa ingin ikut bermain dengan Hafidz. Tapi Hafidz adalah anak yang judes sehingga Joni enggan menghamipirinya. Hal yang tak diduga-duga, Hafidz memanggil mereka bertiga untuk ikut bermain. Padahal selama mereka bertetangga, Hafidz tidak pernah menyapa mereka karena memang sifatnya yang agak judes. Sontak mereka bertiga kaget.

"Itu tadi yang manggil Hafidz ya?" tanya Joni pada kedua temannya.

"Iya Jon, tumben banget ya," sahut Lana sama herannya.

"Padahal biasanya suka diem, judes lagi. Makanya enggak punya temen," imbuh Joni.

"Sudah-sudah  jangan gitu, lebih baik kita ke sana saja. Bilang terima kasih juga karena sudah diizinkan untuk memetik mangga," ajak Krisna, mencoba membuat kedua temannya untuk berpikiran positif.

"Kamu aja ya yang ngomong. Males aku," tolak Joni.

"Biar aku aja yang ngomong," Lana mengajukan diri. Mereka bertiga berjalan menuju teras.

"Hai, Hafidz. Makasih ya mangganya," ujar Lana sembari mengangkat beberapa mangga yang diperolehnya dari memanjat.

"Iya sama-sama. Lain kali kalau kurang ambil aja, soalnya aku sama mama enggak suka mangga," jawab Hafidz.

Udah judes, sombong lagi anak mama, batin Joni.

"Eh kalian mau langsung pulang? Enggak mau main dulu sama aku?” tanya Hafidz.

"Wah, mainanmu bagus semua ya," puji Krisna melihat banyaknya mainan Hafidz.

"Lihat deh. Robotnya bisa berjalan," tunjuk Lana.

"Lana, kamu mau coba? Ini remote-nya," Hafidz memberikan remote-nya kepada Lana.

"Enggak papa, Fidz, aku pinjam?" tanya Lana ragu menerima remote tersebut.

"Ya, enggak papa lah. Masa enggak boleh," Hafidz meyakinkan Lana.

Setelah mengucapkan terima kasih, Lana menikmati kegiatannya memainkan robot control. Krisna hanya menonton saja, karena pada dasarnya Krisna adalah anak yang pendiam. Sementara itu, Joni cemberut di dekat jendela, dengan melipat kedua tangannya. Dia nampak kesal dan seperti sedang memikirkan sesuatu. Krisna yang melihat hal itu pun menghampiri Joni dan duduk di dekatnya.

"Joni, sedang mikirin apa? Kenapa mukamu cemberut gitu?" tanya Krisna sambil menepuk pundak Joni.

“Emang mukaku kenapa Kris, ‘kan emang mukaku gini," jawab Lana berbohong.

"Kamu enggak suka ya, kita main sama Hafidz?" tanya Krisna lagi, menebak-nebak apa yang dirasakan oleh temannya itu.

"Enggak gitu Kris. Aku cuma bosan pengen pulang aja," sahut Joni yang tidak mau mengakui perasaannya.

"Coba deh main ini nanti pasti bosannya hilang," saran Krisna seraya memberikan satu mainan kepada Joni. Joni memperhatikan semua mainan Hafidz dan tak ada satu mainan pun yang terlihat jelek. Terbesit niat buruk pada hati Joni. Dia ingin mengambil mainan Hafidz, hitung-hitung karena Hafidz pernah judes padanya.

"Lana, Krisna, emang kalian enggak pulang? Tadi katanya mau kerjain PR," tanya Joni setelah cukup lama bermain di sana.

"Oh iya, lupa aku. Fidz, kami pulang dulu ya," pamit Krisna.

"Iya, besok ke sini lagi ya," dengan tersenyum dia meminta mereka untuk bermain lagi esok.

"Boleh-boleh. Besok kita ke sini lagi yuk sekalian mau minta mangga lagi," sahut Joni kesenangan.

"Yang ini kan belum habis, Jon," dengan heran Krisna menunjukkan buah mangganya kepada Joni.

"Iya enggak apa-apa. Petik aja.” Hafidz tidak mempermasalahkan mereka jika ingin mengambil buah mangga lagi.

Tiga bocah sekawan itu pun pergi meninggalkan rumah Bu Mira. Sepanjang perjalanan Joni terlihat sedang memikirkan hal serius. 

“Besok ke rumah Hafidz yuk. Aku tunggu di rumahku," ajak Joni saat mereka tiba di rumah Joni. Krisna dan Lana masih harus meneruskan perjalanan untuk sampai di rumah mereka.

"Oke Jon, seru juga main sama dia." sahut Lana sembari melambaikan tangan pada Joni.

***

Keesokan harinya, tiga bocah sekawan tersebut sudah berkumpul di rumah Joni. Kali ini Joni sangat berantusias, bahkan Lana dan Krisna pun heran. Sesampainya di rumah Hafidz, mereka bertiga disambut oleh Bu Mira.

"Fidz, ini temanmu sudah datang," panggil Bu Mira agar Hafidz segera menemui ketiga temannya.

"Iya Ma. Sebentar," jawab Hafidz dari dalam rumah. Tak lama kemudian dia keluar dengan keadaan rapi, sepertinya dia baru selesai mandi.

"Hai Lana, Krisna, Joni. Mau petik mangga dulu apa main?" tawar Hafidz.

"Ma—“

"Petik mangga dulu saja,” Joni memotong perkataan Lana dan memutuskan pilihannya sendiri.

"Jon, kamu di situ ya nanti mangganya kamu yang tangkap," Krisna memandu sembari naik ke atas pohon. Joni mengiyakan dan Krisna pun mulai mengambil mangga. Dia melemparkan mangga ke bawah lalu ditangkap oleh Joni. Tiba-tiba Joni mengaduh kesakitan. Membuat ketiga temannya yang berada di sana kaget dan panik.

"Kamu kenapa, Jon? Mangganya kena kepalamu ya? Maaf ya, Jon," Krisna meminta maaf dari atas pohon mangga.

"Enggak. Aku kebelet ini," sahut Joni dengan sedikit menekuk perutnya.

"Joni, ada-ada saja kamu ini," Lana menggelengkan kepalanya.

"Fidz, kamar mandimu sebelah mana?" tanya Joni.

Sebenarnya, Hafidz ingin mengantarkan Joni. Tetapi Joni menolaknya karena dia bisa sendiri dan teman-temannya membutuhkan bantuan untuk memetik mangga.

"Ya sudah. Dari sini lurus saja nanti ada lemari warna putih belok kiri," instruksi Hafidz memberi arah. Joni pun masuk ke dalam rumah. Tetapi tujuannya bukanlah ke kamar mandi, melainkan kamar Hafidz. Ternyata motif Joni ingin datang ke rumah Hafidz bukan untuk memetik mangga atau pun bermain, melainkan mencuri mainan Hafidz. Tiba-tiba suara pintu kamar terbuka dan Bu Mira memergoki Joni yang sedang mengambil mainan Hafidz.

 "Joni, sedang apa kamu? Kamu mau nyuri ya," tanya Bu Mira dengan sedikit memelototi Joni.

“Enggak, Bu," raut muka Joni terlihat panik. Dia tidak menyangka kalau Bu Mira akan masuk ke kamar Hafidz dengan tiba-tiba.

“Saya tadi lihat kamu masuk rumah mengendap-endap. Jangan pikir saya enggak lihat," Bu Mira terlihat serius, tidak seharusnya Joni masuk ke kamar Hafidz.

"Ada apa ini, Ma?" mendengar sedikit kegaduhan di dalam rumah, Hafidz dan lainnya menyusul.

"Kamu ngapain Jon, bukannya tadi mau ke kamar mandi?" Krisna terkejut melihat Joni berada di tempat yang berbeda dari niat awal tadi.

"Kamu mau nyolong ya. Pantesan dari tadi ngotot banget mau kesini," tuduh Lana sembari melihat Joni dari atas ke bawa yang sedang memegang mainan Hafidz.

"Joni, ayo jawab!" gertak Bu Mira melihat Joni yang langsung berubah kikuk dan diam beribu bahasa.

"Ma-maaf Fidz, tapi aku iri sama kamu. Kamu punya banyak mainan, bagus-bagus semua. Aku juga pengen Fidz," Joni sedikit terkejut dan akhirnya dia mengakui niat buruknya.

"Tapi mencuri itu dosa, Joni. Kalau kamu ingin mainan ini kamu bisa pinjam. Tidak seperti ini," Bu Mira menghela napas dan mengambil mainan yang sedang dipegang oleh Joni untuk dimasukkan ke kotak mainan lagi.

"Fidz, aku minta maaf ya," Joni merasa sangat bersalah telah melakukan perbuatan tercela seperti ini

“Iya, Jon enggak apa-apa. Lain kali jangan diulangi ya," Hafidz memaafkan Joni dan menjabat tangan Joni dengan rasa persahabatan.

"Fidz, aku juga minta maaf dulu aku iri dan benci sama kamu. Karena kamu itu judes, punya banyak mainan tapi aku enggak pernah diajak main. Makanya aku berniat buat balas dendam dan nyuri mainanmu," akhirnya Joni mengutarakan perasaan yang selama ini dia pendam.

“Aku bukannya judes tapi emang enggak pernah ngomong aja, Jon," Hafidz tersenyum sembari memberi alasan kenapa dia terlihat judes.

Kali ini Joni benar-benar kapok dan tidak mau mengulangi lagi. Empat bocah itu pun saling tertawa, seakan akan beban hilang begitu saja.

TAMAT

 

SEKAR Edisi Maret 2023: Kisahku dalam Panji Laras, Panji Liris | Isnaini Nikmah

Kisahku dalam Panji Laras, Panji Liris

Oleh Isnaini Nikmah

“Hidup di desa itu enak.” 

Entah kalimat tersebut ditujukan untuk desa mana, nyatanya aku yang sudah 28 tahun hidup di desa berkeinginan untuk pindah keluar kota. Hal ini bukan tanpa sebab, setiap hari telingaku dijejali nyinyiran tetangga mengenai nasib diriku yang belum juga dipinang pemuda. 

Ya, perawan tua.

Julukan itu kerap aku terima dan terus memenuhi pikiran, entah sampai kapan stempel yang diberikan tetangga nyinyir tersebut hilang dari diriku. Ayolah, umurku baru menginjak 28 tahun dan sekiranya masih pantas untuk hidup melajang. 

Imbas dari julukan tersebut banyak dari ibu-ibu yang sibuk merecokiku dengan memperkenalkan anak lelakinya, seperti menyombongkan harta, takhta, dan, paras ketampanan yang tak seberapa. Berharap aku akan luluh, tentu tidak semudah itu. Bagi masyarakat desa, seorang gadis memang harus dinikahkan cepat-cepat. Penduduk di sini biasanya akan menjodohkan anaknya di umur 20 tahun, khususnya bagi perempuan. Sepertinya budaya cepat menikah harus dihapuskan mengingat hal ini bertentangan dengan emansipasi wanita, misalnya mereka yang ingin mengejar kariernya. 

Oh ya, perkenalkan namaku Garwati biasanya orang sini memanggilku dengan sebutan Wati, dalam bahasa Jawa Garwa artinya istri. Ini menunjukkan bahwa nama tidak menentukan nasib seseorang. Walaupun namaku ada arti istri, tetapi hingga saat ini belum juga menyandang gelar istri seseorang. Jika kalian berpikir aku belum menikah karena sedang sibuk menjadi wanita karier, tentu itu salah besar. Setiap harinya aku membantu Ibu mengolah ikan asap, mengingat mata pencaharian penduduk di sekitar pantai utara Lamongan adalah nelayan. Selain itu, aku juga bekerja sampingan dengan berjualan online, karena di zaman ini mencari pekerjaan hanya bermodalkan ijazah SMA terbilang sulit.

Julukan perawan tua diberikan lantaran aku dipandang terlalu pemilih terhadap lelaki, sejujurnya aku telah menjalin hubungan dengan seorang pria selama empat tahun, Randi namanya. Aku mengenalnya secara tidak sengaja, waktu akan mengantarkan pesanan baju ke pembeli tiba-tiba saja aku ditabrak oleh motor Randi. Sejak saat itu, kami selalu berhubungan hingga suatu ketika Randi memantapkan hatinya untuk melamarku, terdengar klise memang. Dia pun datang ke rumahku seorang diri, katanya dia ingin mengakrabkan dirinya lebih dulu dengan ibu karena selama ini aku tidak pernah membicarakan kedekatanku dengannya. Saat itu perasaanku sangat bahagia, tetapi siapa sangka kebahagiaan tersebut tidak bertahan lama. Aku masih mengingat percakapan ibu dan Randi pada saat itu.

“Nak Randi, kenal Wati dari mana?” tanya ibu waktu itu.

Lalu, mengalirlah awal mula pertemuan kami dan tiba di pertanyaan, “Nak Randi, orang mana?”

“Kediri, Bu, jawab Randi.

Mendengar itu, wajah ibu yang semula sumringah mendadak tak enak dilihat. Aku yang tidak tahu perubahan ekspresi Ibu disebabkan oleh apa hanya mengangkat bahu kepada Randi. 

“Wati, Kamu iki piye toh[1]? Pacaran sama orang Kediri enggak omong-omong,tegur ibu, dari sini perasaanku mulai tidak enak.

“Kamu itu orang Lamongan enggak boleh nikah sama orang Kediri. Kamu enggak lihat, Mas Pram tetangga belakang rumah nikah sama orang Kediri terus cerai,secara tidak langsung Ibu tidak merestui kami.

“Jika Mbahmu[2] masih ada sudah dimaki-maki kamu, tahu cucunya nikah sama orang Kediri.” imbuh ibu

Karena, larangan zaman dulu yang masih terikat di desa kami, ibu pun meminta maaf kepada Randi untuk tidak melanjutkan hubungan ini ke jenjang yang lebih serius.

Saat itu juga, Randi memutuskan hubungan tanpa ingin memperjuangkannya lagi. Dasar lelaki. Padahal jauh di lubuk hatiku, aku masih mencintainya. Tetapi mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Setidaknya, bubur masih bisa di makan. Begitu pun hubunganku dengannya masih ada harapan. Namun, hingga saat itu aku tidak tahu kabar darinya, dia seolah sudah tidak peduli. Sementara aku sendiri hingga sekarang belum ingin menjalin hubungan dengan pria lain lagi, miris sekali.

***

Hari yang agak mendung ini, keluargaku akan mengadakan lamaran. Intinya bukan aku yang melamar, lebih tepatnya sepupu perempuanku dari pihak keluarga ibu. Ya, melamar bukan dilamar. Inilah yang unik dari kotaku Lamongan. Pihak perempuan akan datang lebih dahulu untuk melamar, sejatinya tidak ada yang keliru. Dahulu di zaman Rasulullah, Siti Khadijah pun datang lebih dulu untuk melamar Rasulullah SAW. Tradisi pihak wanita yang melamar lebih dulu masih berkembang di wilayah sekitar pantai utara Lamongan. Namun, saat ini mulai tergerus seiring modernisasi dan pola pikir masyarakat yang berkembang. Lelaki adalah pemimpin keluarga kelak, jadi harus mempunyai keberanian untuk datang melamar pujaan hatinya.

Aku mematut diriku di depan cermin. Gamis merah marun yang aku padukan dengan hijab coklat susu, sungguh kali ini aku kelihatan sangat manis. Selesai dengan kegiatan memoles wajah. Aku pun memilih keluar dari kamar. 

Tampak jajanan beraneka ragam berjejer di lantai dengan alas talam warna-warni dan hiasan pita cantik di atasnya. Kue-kue yang beraneka macam, ada kue lemet, gemblong, dan yang paling identik di kota Lamongan adalah wingko, jajanan yang berasal dari kelapa dan gula. 

“Wati,” panggil Ibu yang baru keluar dari dapur.

Enggeh, Bu?[3]” sahutku.

“Coba kamu lihat Mbak Vita, sudah siap atau belum. Mobilnya udah nungguin di depan, titah ibu.

Mbak Vita, dia adalah anak dari kakak ibu atau sepupuku yang akan melamar hari ini. Walaupun dari segi umur lebih tua aku, tetapi aku menghormatinya dengan memanggilnya Mbak karena dilihat dari silsilah keluarga. 

Masuk ke kamar Mbak Vita bau wangi tercium di pengindraan. Dia duduk di kursi rias dan mengenakan kebaya simpel warna coklat pastel, terlihat anggun. Aku sempat membayangkan kapan aku berada di posisi Mbak Vita.

“Ada apa, Ti?” lamunanku buyar tatkala Mbak Vita bertanya.

“Ah iya, Mbak disuruh menemui yang lain jika sudah siap,”

“Aku sudah siap dari tadi. Ya sudah ayo!” ajaknya penuh semangat.

Mbak Vita keluar mendahuluiku. Saat dia keluar kamar, terdengar seisi rumah memujinya.

Gusti Pengeran Kang Maha Agung, ayu tenan anakku,”[4] takjub bude Marni, ibu dari Mbak Vita.

“Ti, kamu kapan dipinang? Jangan jadi perawan tua loh,” celetukan itu membuat moodku runtuh seketika. Mulai-mulai, sungguh apakah pikiran ibu-ibu di sini mengenai aku hanya tentang perawan tua saja, batinku menggerutu.

Aku memilih tidak menggubrisnya, sudah bosan meladeni pertanyaan seperti itu. 

“Sudah-sudah ayo ini barangnya diangkut ke mobil, nanti keburu kesiangan sampai ke sana.” itu adalah perkataan ibu. Ya kali ini ibu membelaku.  Mungkin beliau tidak mau masalah ini berkepanjangan atau Ibu juga malu punya anak yang belum menikah. 

Perjalanan kami diisi oleh ibu-ibu yang mengobrol ngalor-ngidul[5]. Sekiranya apa yang terlihat di pandangan akan menjadi perbincangan, mulai dari pemuda-pemudi berboncengan, truk membawa ikan, hingga sinetron kesayangan yang tak ketinggalan. Sementara aku memilih diam dan menyimak, sudah kepalang malas sejak insiden di rumah tadi.

***

Sekitar 30 menit mobil sampai di kediaman calon suami Mbak Vita. Rumahnya sederhana dengan model Jawa masih melekat di sana, lokasinya dekat dengan Alun-alun Lamongan mungkin hanya berjarak 1 km dari sini.

Tiba-tiba ide terlintas begitu saja di pikiranku. Aku tidak ingin ikut acara lamaran tersebut. Lebih baik aku pergi mengunjungi alun-alun saja, hitung-hitung cari udara segar. Sejatinya walaupun aku asli orang Lamongan tapi belum pernah singgah ke sini, mungkin hanya lewat. 

“Ibu,” aku berbisik ke telinga ibu.

“Iya apa?” sahut ibu.

“Aku ingin keluar sebentar mengunjungi temanku, kebetulan dia di sini. Boleh ya, Bu?” izinku.

“Kamu ini bagaimana toh, kesini niatnya ikut lamaran malah dolan[6],” tegur ibu.

“Iya Ibu, sebentar saja. Hitung-hitung menyambung tali silaturahmi, hehehe. aku beralasan agar aku bisa keluar dari sini. Maaf Ibu, terpaksa aku berbohong, batinku.

“Ya sudah sana. Jangan lama-lama apalagi sampai waktu nanti pulang, ibu-ibu yang lain cariin kamu,” akhirnya ibu mengizinkan.

“Beres, Bu. jawabku.

Aku pun memilih meninggalkan tempat tersebut dan mengunjungi alun-alun. Di sini banyak wahana permainan, lapangan basket, taman baca, monumen pesawat, dan di seberang terdapat Masjid Agung. Selesai melihat di sekitar alun-alun aku memilih untuk istirahat di depan Masjid Agung. Di depan masjid tersebut terdapat dua gentong suci, konon ini adalah awal mengapa orang Lamongan dilarang menikah dengan orang kediri. Gentong tersebut sedang dibersihkan oleh seorang bapak-bapak kisaran umur 50 tahun, sepertinya beliau marbut masjid. Aku pun memilih menghampiri bapak tersebut.

“Assalamualaikum, Pak,” ucapku menyampaikan salam.

“Eh, Waalaikumsalam. Ada apa, Nak?” bapak tersebut sedikit terkejut dengan kehadiranku.

“Bapak sedang apa?” tanyaku basa-basi.

“Ini loh Nak, membersihkan gentong suci peninggalan zaman dulu, tahu kan ceritanya.” jawabnya sembari membersihkan gentong tersebut.

“Tahu Pak, tapi bolehkah saya mendengarkan ceritanya langsung dari Bapak. Mungkin cerita yang selama ini saya dengar ada yang keliru, pintaku.

“Boleh. Memang sepatutnya generasi muda mengetahui sejarah daerahnya sendiri. aku pun mulai mendengar kisah dari bapak tersebut.

***

Dahulu, pemerintahan Bupati Lamongan dipimpin oleh Raden Puspokusumo, dia memiliki dua anak laki-laki kembar yaitu Panji Laras dan Panji Liris. Kedua anak tersebut, memiliki kebiasaan mengembara di kota-kota. Saat itu Panji Laras dan Panji Liris pergi ke kota Kediri. Hal ini diketahui oleh Andansari dan Andanwangi, anak dari Bupati Wirosobo. Kedua perempuan tersebut terpesona dengan ketampanan Panji Laras dan Panji Liris. Berhari-hari mereka membayangkan paras ketampanannya hingga dirundung sakit. Setelah ditelusuri mengenai riwayat penyakitnya ternyata kedua perempuan tersebut sedang sakit asmara. Melihat kondisi putrinya, Bupati Wirosobo pun mengutus orang untuk menyampaikan lamaran kedua putrinya kepada Panji Laras dan Panji Liris. Lamaran tersebut tak langsung diterima, mengingat keyakinan antara kedua belah pihak berbeda. Namun, demi menghormati lamaran dari bupati kediri, Raden Puspokusumo mengajukan sebuah syarat. Andansari dan Andanwangi harus membawa gentong suci dan alas tikar dari batu serta harus dibawa sendiri-sendiri. Maksud dari gentong suci dan alas tikar adalah keduanya harus memeluk agama islam, tetapi keduanya tidak tahu makna dibaliknya.

Tibalah Andansari dan Andanwangi berangkat menuju kali Lamong dengan membawa persyaratan yang telah disepakati. Saat itu kondisi perairan di kali Lamong sedang dangkal. Di tepi kali, Andansari dan Andanwangi melihat Panji Laras dan Panji Liris yang tak kunjung menjemput mereka. Karena kedua putri kembar sudah tak sabar, mereka memutuskan untuk menyeberangi kali. Tiba-tiba, di tengah-tengah kali mereka berdua menyingkap kain dan terlihatlah betis mereka yang ditumbuhi bulu-bulu panjang. Melihat hal itu Panji Laras dan Panji Liris nampak terkejut sekaligus geli. Saat itu juga kedua lelaki kembar tersebut memutuskan untuk membatalkan lamaran hanya perihal bulu di betis. Lantas prajurit Kediri menyerang prajurit Lamongan dan timbullah perpecahan antara keduanya. Andansari dan Andanwangi memilih untuk bunuh diri sedangkan Panji Laras dan Panji Liris terbunuh dalam peperangan tersebut. Melihat kondisi anaknya yang terbunuh, Raden Puspokusumo pun mengutuk bahwa orang Lamongan dilarang menikah dengan orang Kediri.

***

Aku duduk sila di depan Masjid Agung Lamongan sambil mendengarkan cerita dari Bapak ini. Gentong suci dan alas tikar menunjukkan bahwa legenda itu benar adanya. 

“Pak, apakah selama ini ada yang melanggar kutukan tersebut dan pernikahannya tidak langgeng? tanyaku setelah mendengarkan cerita tersebut.

“Saat ini kutukan tersebut sudah banyak yang melanggar, buktinya banyak orang Lamongan menikah dengan orang Kediri. Jika dilihat dari hubungannya ada yang langgeng, ada juga yang mengalami banyak cobaan dan berpisah. Intinya kembali lagi pada pribadi masing-masing memilih mempercayainya atau tidak.” jawab bapak tersebut.

“Empat tahun silam, saya menjalin hubungan dengan orang Kediri, Pak. Namun orang tua saya melarang, takut jika di tengah jalan ada apa-apa,” aku pun menceritakan permasalahanku, tentang pertemuanku hingga niatan Randi untuk melamarku. 

“Pantangan tersebut memang masih kuat di kalangan orang zaman dulu. Mereka lebih memilih jalan aman agar tidak menyesal kemudian.” terangnya.

Aku merenungi kisah hidupku dalam legenda Panji Laras dan Panji Liris. Bisa dibilang legenda tersebutlah yang juga menjadi penyebab hingga kini aku hidup melajang. Jika saja legenda tersebut tidak ada mungkin saat ini aku hidup bahagia bersama orang yang aku cinta. 

Sebuah bunyi di ponselku menyadarkan aku dari lamunan. Sebuah telepon dari ibu, aku pun sadar bahwa sudah satu jam lebih aku berada di sini. Mungkin ibu-ibu yang lain sedang menungguku untuk pulang. Aku tidak menjawab telepon Ibu tetapi mengirimkan pesan singkat, aku akan kembali ke sana. Setelah berpamitan dengan bapak itu, aku pun memilih pulang.

Benar dugaanku di depan rumah calon keluarga Mbak Vita berdiri rombongan kami, sepertinya sedang menungguku, matilah aku. 

“Itu bukannya Wati?” salah satu rombongan kami, menyebutku sambil menuding ke arahku.

“Assalamualaikum. Maaf harus menunggu lama.ujarku.

“Waalaikumsalam, dari mana saja kamu, perawan tua sukanya keluyuran.” jawab bude dengan wajah pias menahan amarah. 

Aku tidak menjawab hanya menunduk saja.

“Maaf atas keteledoran Wati, nggeh ibu-ibu,ibuku menengahi situasi yang mulai memanas. 

Karena malu dilihat keluarga calon mertua Mbak Vita, ibu pun menengahi permasalahan tersebut. Kami para rombongan pun memilih pulang tak lupa berpamitan kepada keluarga calon mertua Mbak Vita. Di sepanjang jalan, tidak ada pembicaraan seperti di awal. Semua tampak diam entah itu karena mengantuk atau sebab perkara tadi.

***

Malam yang temaram dengan ditemani semilir angin tenang, aku menatap langit hitam di balik  jendela. Malam ini terasa mamang antara kembali menyatukan hubungan yang empat tahun dihadang mitologi kutukan atau stagnan. Tepukan di pundak menyadarkan lamunan, rupanya Ibu yang sedang bertandang.

“Belum tidur, Bu?” tanyaku.

“Baru mau tidur, tapi lihat lampu kamarmu belum dimatikan ibu ke sini. Ibu pikir kamu ketiduran, ujar ibu sambil duduk di tepi ranjangku.

“Hehehe. Belum ngantuk, Bu, sahutku.

“Mikirin apa?” memang Ibu yang paling mengerti kegundahan hati anaknya.

Aku menghela napas kasar, menatap wajah ibu yang mulai banyak guratan. Langsung saja aku menceritakan kisahku tadi siang tak lupa perbincanganku dengan Bapak tua itu. Belum juga aku menyimpulkan maksud dari perkataanku tadi, ibu sudah menyimpulkan.

“Jadi maksud kamu mau kembali menjalin hubungan dengan orang Kediri itu?” tanya ibu. Aku buru-buru menyelanya

“Enggak, Bu. Aku sudah tidak pernah hubungan lagi sama dia, sejak saat itu Randi menghilang dariku,” jelasku.

“Bagus, sampai kapan pun Ibu tidak setuju kamu menikah dengan orang Kediri. Wasiat orang zaman dulu harus dituruti, jika dilanggar takutnya terjadi hal yang tidak-tidak. Kalau begitu besok kamu tak kenalkan lagi sama anaknya Bu Nanik, semoga saja  berjodoh. Ibu kasihan sama kamu umur segini setiap harinya merenung. Malam jadi siang, siang jadi malam,” ibu mengusap puncak kepalaku.

Hadeh. Entah pemuda ke berapa yang dikenalkan ibu padaku. Pemuda yang di bawa ibu tidak ada yang masuk dalam kriteria jodoh idaman, hanya pemuda Kediri itu. Tapi itu dulu, sepertinya kali ini aku harus menerima supaya saran ibu supaya aku tidak lagi dicap sebagai perawan tua.

Setelah pembicaraan itu, Ibu nampak sumringah dan berlalu keluar dari kamarku. Meninggalkan aku sendiri yang menatap kilatan cahaya bintang.

Sekali lagi aku menghela napas kasar. Merenungi nasib yang terjadi padaku, ingin menentang percuma, ingin melanggar takut Allah murka. Apa yang Allah takdirkan menjadi milik kita tidak mungkin meleset sedikit pun, meskipun semua orang menghalangi. Begitu juga kalau tidak ditakdirkan untuk kita, mau seluruh makhluk mendukung, sampai kapan pun tak akan jadi milik kita. Belajar yakin bahwa takdir Allah itu terbaik buat hambanya.

Lamongan, 07 Maret 2023



[1] Wati, kamu ini bagaimana?

[2] Nenekmu.

[3] Iya, Bu?

[4] “Tuhan Yang Maha Agung, cantik sungguh anakku,”

[5] Ke utara ke selatan: ke sana-kemari.

[6] bermain.

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...