Jumat, 31 Desember 2021

Bunga dari Tuan | Salsabila

 Bunga dari Tuan

Salsabila

Ketika aku mencoba menggapai Tuan 
Itu seperti mimpi yang telah lama hilang 
Kemanapun Tuan pergi diantara sinar bintang yang memudar 
Puan tidak bisa menyembunyikan bunga yang tumbuh 
Puan akan mendekat dan tidak ingin menyembunyikannya lagi 
Tidak masalah jika bunga itu berakhir gugur dan tidak mekar 

Setidaknya pernah ada bunga yang tumbuh karena Tuan 
Dan setiap kali Puan bersua tentang puisi untuk Tuan 
Puan ingin mematri dalam dalam 
Agar meski memudar, masih tersisa untuk Puan kenang 
Ketahuilah Puan pernah membiarkan kupu kupu untuk hidup 
Di dalam taman bunga yang Tuan hadirkan 

Kini, Tuan telah membawa pergi bunga beserta kupu kupu itu 
Berlayar jauh dibalik awan yang berdesakan 
Puan tak dapat menjangkaunya lagi, itu terlalu sesak
Tetapi puan tetap mengenang Tuan, meski Tuan tak begitu 
Selalu, selalu, selalu, selalu 
Meski itu menyakitkan 

Teduh | Putri Nadilla

Teduh

Putri Nadilla

 Malam

Ketika angin berhembus ringan

Tepukan punggung yang pelan

Menyanyi lirih, manis tatapan


Dipundaknya

Terdapat makhluk mungil nan lucu

Merengek sendu 

Ia tak suka berada didalam

Kata nenek ia ingin angin yang segar


Ibu

Ratapan jiwa yang menembus angan

Menggendong si buah hati dipelukan

Siang malam is tak paham

Atau bahkan tidak peduli?


Satu orang penuh kasih sayang

Harapanya setinggi bulan

Untuk sang buah hati tersayang

Meski lelah ia hiraukan


Nyanyian nya meneduhkan

Tangisanya mengiris relung dadamu

Memang terkadang ia tak pandai menunjukkan

Dalam dirinya, banyak kata yang tak tersampaikan


Ibu

Kau belahan jiwa

Kau air dalam hausnya

Kau pelampung dalam tenggelamnya


Ibu

Kau yang tersayang


Opini Masyarakat Konsumsi, Tanda dan Makna Sebagai Bagian dari Eksistensi Diri | Muhyi Aditya Supratman

 Opini Masyarakat Konsumsi, Tanda dan Makna Sebagai Bagian dari Eksistensi Diri

Muhyi Aditya Supratman

    Globalisasi dan pergerakan teknologi yang cepat telah menempatkan budaya sebagai salah satu cara dalam memodifikasi dan menampilkan wajah baru dalam kerangka inovasi yang diciptakan guna memperbesar keuntungan semata. Salah satunya adalah budaya konsumsi. Konsep budaya konsumsi merupakan konsep yang diciptakan untuk menjelaskan bagaimana tanda dan makna menjadi hidup ketika realitas tersebut dihadapkan pada kenyataan di masyarakat. Mengutip website berita di liputan6.com mengenai tren belanja online dengan menggunakan E – Comerse dunia sentuh Rp.60. 900 Triliun di 2021. Data penelitian terbaru yang di publikasi oleh Adobe Digital Economy Index mencatat transaksi E- comerse ditahun 2021 akan mencapai SD 4,2 triliun atau sekitar Rp 60.900 triliun. Budaya konsumsi telah menjadi realitas untuk membantu manusia dalam kegiatan sekecil apapun. Termasuk membeli suatu produk tanpa didasarirasionalisasi kegunaan produk yang dibeli tersebut.

    (Wolny, 2017) Kelebihan tanda dan makna akan berakibat terhadap penipisan realitas. Di dunia utopis dan dunia marxisme kita di pertemukan oleh sebuah realitas yang membantu kita dalam kegiatan sekecil apapun. Dunia beroperasi pada tatanan makna dan petanda sehingga semakin buta terhadap tindakan simbolis. Simulacra merupakan istilah yang di gunakan Jean Baudrillard untuk menunjukkan kemiripan atau kesamaan. Simulacrum mengacu terhadap film, gambar, fotografi,dan media lainnya dimana kenyataan yang nyata tidak lagi bisa di tandai sedangkan simulacrum dapat di tandai. Kapitalisme hadir untuk menunjukkan eksistensinya sebagai ruang inovasi yang menciptakan keberagaman benda dan kemudahan di kehidupan manusia guna memperbesar keuntungan yang diperoleh. Termasuk dengan menggunakan komodifikasi produk sebagai salah satu cara mendapatkan hasil yang lebih besar. Disamping itu, kapitalisme yang semakin sempurna menciptakan disparitas dan kesenjangan akses bagi sebagian masyarakat. Mereka yang tidak memiliki akses materi hanya menjadi bagian kecil dari penikmat produk melalui konsumsi tanda demi kepuasan batin.

    (Bakti et al., 2019) mengutip pendapat Baudrillard bahwa konsumsi memiliki hubungan dengan sistem tanda dan semiotika. Pada proses belanja online, individu tidak menyadari bahwa dirinya telah mengkonsumsi tanda dan makna yang hendak dihadirkan dalam kerangka budaya konsumsi. Oleh karena itu, setiap individu menampilkan eksistensi dirinya melalui komoditas – komoditas yang telah menampilkan tanda dan makna. Slogan merupakan kode untuk menunjukkan keberadaan dirinya kepada orang lain. Termasuk slogan Saya berbelanja maka saya ada . Budaya konsumerisme menciptakan tanda sebagai strategi untuk menarik para konsumennya dalam memaknai barang yang dihasilkan. Dengan kata lain, kode menjadi salah satu kunci dalam mengembangkan budaya konsumerisme di masyarakat. Sebagai bagian dari pengembangan kapitalisme yang berlanjut, proses penerimaan budaya menjadi salah satu peluang untuk memberikan jalan dalam proses memperbesar keuntungan secara berkelanjutan. Budaya konsumsi menjadi salah satu faktor dalam menyokong kapitalisme dalam kerangka kebudayaan yang dikomodifikasi. Setiap individu mencari eksistensinya masing – masing melalui konsumsi tanda yang dihadapkan. Disamping itu, disparitas dan ruang keberjarakan antara pemilik kuasa produksi dan para penikmat produksi terlihat jelas ketika para aktor yang tidak memiliki relasi dan kekuasaan produksi hanya bisa menikmati benda dan sesuatu yang diproduksi demi keberuntungan proses kapitalisme. 

    Sistematika yang lebih rinci dapat dilihat melalui kerangka aplikasi belanja online ketika tanda yang berupa foto yang menarik menciptakan keingininan individu dalam melakukan konsep konsumerisme. Individu tidak menyadari bahwa ia telah mengkonsumsi tanda dalam aplikasi digital di smartphone nya sehingga dalam konteks inilah budaya konsumerisme dan kapitalisme menciptakan ruang gerak yang dapat dikatakan menjadi satu dimensi karena kapitalisme dengan jiwa inovaasinya telah menghadirkan difusi inovasi yang menciptakan penerimaan ideologi baru di masyarakat. Menarik untuk dikaji karena berhadapan dengan konteks dunia simulasi yang memiliki keterkaitan dengan bagaimana tanda dan makna memiliki fungsi dan tujuan dengan jalan inovasi menuju kapitalisme modern yang semakin bergerak melaju, namun disisi lain meninggalkan segudang permasalahan mengwnai konsep konsumerisme dan kemiskinan batin ketika individu dan masyarakat hanya bisa mengkonsumsi barang tanpa ia mengetahui bagaimana barang tersebut di produksi dan didistribusikan melalui proses internalisasi dan hegemoni.




DAFTAR PUSTAKA

https://www.liputan6.com/bisnis/read/4544527/belanja-online-jadi-tren-transaksi-ecommerce-dunia-sentuh-rp-60900-triliun-di-2021

Bakti, I. S., Nirzalin, N., & Alwi, A. (2019). Konsumerisme dalam Perspektif Jean Baudrillard. Jurnal Sosiologi USK (Media Pemikiran & Aplikasi), 13(2), 147– 166. https://doi.org/10.24815/jsu.v13i2.15925

Wolny, R. W. (2017). Hiperrealitas dan Simulacrum : Jean Baudrillard dan Postmodernisme Eropa. 4138, 75–83.

Menuju Keabadian | Ridka Khairunnisa

 Menuju Keabadian

Ridka Khairunnisa


    Saftya adalah gadis yang jarang tersenyum. Ia terlihat sangat sedih setiap hari. Karimah, teman sekelasnya, sangat mengkhawatirkan keadaannya. Pada suatu hari, Saftya tidak pergi ke sekolah. Dan keesokan harinya, ia terlambat.

    Ia tidak mengatakan apa-apa kepada guru atau teman-temannya. Ia diam sepanjang hari. Setelah kelas, Ia kembali ke rumahnya dengan tergesa-gesa. Karimah memutuskan untuk mengikutinya sehingga Ia tahu apa masalahnya.

Setelah menemukan Saftya, Karimah terkejut. Ia melihat Saftya duduk tak berdaya di kuburan. Lalu Karimah mendekati Saftya. Ia melihat Saftya menangis di samping makam kakaknya.

    Karimah duduk disamping Saftya dan memeluknya. Ia mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Karimah meminta Saftya untuk menceritakan masalahnya dan tidak pernah menyembunyikannya. Setelah hari itu, mereka menjadi sahabat sejati.

Pelajar Bertopeng | Luluk Lailatul Zahiroh

 Pelajar Bertopeng

Luluk Lailatul Zahiroh

Wahai mentari yang bersinar
Di ufuk timur, tiada banding
Kaulah sang pelajar,
Yang berlindung dibalik dinding.

Tegakah kau seperti itu?
Membohongi diri, guru, serta ayah dan ibumu.
Mampukah kau keluar dari perbuatan itu?
Menghapus segala dosa dalam diri, dan kalbu mu.

Wahai sang pelajar..
Janganlah engkau merasa pintar,
Janganlah engkau merasa benar,
Sesungguhnya engkau masih lapar,
Sesungguhnya engkau masih perlu diajar.
Oleh guru sang pengajar.

Indonesia dan Pemuda-Pemudinya | Dina Dwi

 Indonesia dan Pemuda-Pemudinya

Dina Dwi

Lebih dari 76 tahun yang lalu,
Penjelajah asing datang untuk bertamu,
Bercengkerama riang tanpa ada maksud tertentu
Hanya berdagang guna mendapat kepingan logam berkilau

Namun, semuanya hanya berjalan dalam beberapa waktu,
Penjelajah pun kian berubah menjadi penjajah
Menjarah harta benda hingga nyawa dengan buas
Tanpa peduli jeritan mereka yang tertindas

Para pahlawan dengan sigap bertarung tanpa ampun
Demi membawa secercah harapan kebebasan tanpa beban
Hingga kini, bendera kebangsaan dapat berkibar setiap ruang apa pun
Tanda pertempuran telah membuahkan hasil berwujud kemenangan

Namun sayang,
Perjuangan itu pun belumlah usai
Para generasi muda perlu ambil peran
Demi wujudkan kemerdekaan untuk tetap bisa dirasa

Mari para pemuda harapan negeri
Singsingkan lengan untuk mengabdi
Sikap nasionalis mulai tanamkan dalam hati
Untuk membawa Indonesia jaya abadi

                                                                                                Dina Dwi Septya Ningrum

Serpihan Harapan | Yuliana

 Serpihan Harapan

Yuliana

Hari demi hari telah berlalu sudah

Kemana kehidupan ini akan melangkah

Lika- liku kehidupan yang penuh dengan sejarah

Harapan harus kian membarah

Kini saatnya sudah berproses diri

Berbenah untuk menggapai mimpi

Harapan yang selalu ku bawa sampai hayat ini

Bukti kerasnya kehidupan di jaman ini

Oh Tuhan...

Akankah harapan dalam sebuah kehidupan ini bukan mimpi

Begitu kerasnya hidup

Apalah daya harapan di dalam kehidupan haruslah selalu ada

Meskipun itu hanya sebagian serpihan dari sebuah harapan

Kehidupan ini sangatlah kesah

Apalah daya diri ini hanya orang susah

Harapan... harapan yang selalu digengam

Meski itu semua serpihan dari sebuah harapan

Kamis, 30 Desember 2021

[Review] Laut Bercerita | Nur Fitriana Tyas Ika Sari

 

REVIEW BUKU

Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori

Nur Fitriana Tyas Ika Sari

    Ingin tau cerita tentang kondisi zaman dulu dimana buku/bahan bacaan yang mengkritik pemerintah dilarang? Yuk telusuri cerita ini... 
  1. Judul Buku : Laut Bercerita 
  2. Pengarang : Leila S Chudori 
  3. Kategori : buku fiksi 
  4. ISBN : 978-602-424-694-5 
  5. Ukuran : 13,5 cm x 20 cm 
  6. Halaman : 379 
  7. Tahun Terbit : 2017 
  8. Harga : 80.000 
    Di halaman daftar isi, bagian novel ini terbagi menjadi tiga sudut pandang yaitu sudut pandang dari biru laut sebagai tokoh utama yang mengalami peristiwa tersebut, adiknya biru laut yang bernama Asmara Jati dan di akhir bagian prolog dan epilog terdapat sudut pandang dari penulisnya. 

    Di bagian prolog, saya sudah dibawa tegang dengan alur yang langsung menuju ending. Rangkaian kata-kata tersebut membuat saya terhenyak bahwa peristiwa menuju kematian seorang diri ditambah mengalami penyiksaan fisik dan batin membuat penggambaran dari tokoh utama (biru laut) yang sungguh menyedihkan. Penggambaran dari kata-kata terkait kesedihan tokoh membayangi saya dengan kejadian sebenarnya. 

    Di bagian ke dua, dari sudut pandang biru laut menceritakan kilas balik peristiwa tersebut, cerita dari kehidupannya sendiri, bagaimana dia bisa mendirikan perkumpulan pembaca dan tukang pengkritik dengan rezim orde baru pemerintah. Saya suka bagaimana penggambaran tentang kehidupan biru laut yang kaya akan pengetahuan khususnya mengenai sastra. Di sini penulis tidak hanya menampilkan atau menuliskan beberapa bait dari puisi/artikel saja tetapi ia juga menjelaskan maknanya yang membuat saya sebagai pembaca awam kurang lebih mengerti, karena jujur bagi saya bahasan di novel ini cukup berat. Juga saya suka dari tokoh-tokoh pembantu temannya biru laut yang tidak hanya berbahasa Indonesia saja tetapi bahasa Jawa dan Sunda juga ada. 

    Diceritakan bahwa otoritas Bapak Soeharto di Rezim Orde Baru selebihnya menyiksa masyarakat. Hal itu di dapat dari cerita masyarakat dalam bentuk puisi dan artikel. Sejujurnya saya sangat setuju bahwa rezim orde baru saat itu benar-benar terbilang kejam. Di sini penulis menyebutkan tokoh penulis yang saya juga baru tau. Tidak lupa penulis menggambarkan dengan detail bagaimana kisah perjalanan mereka saat di nilai memberontak terhadap pemerintah, tetapi saya berpendapat bahwa alurnya terlalu cepat. 

    Di bagian sudut pandang, asmara jati dijelaskan bahwa sosok biru laut merupakan sosok yang membentuk mereka. Penulis menggambarkan peran biru laut di keluarga mereka dengan menyentuh. Di bagian ini juga dijelaskan bagaimana kehidupan dari mereka yang telah hilang entah kemana. Honestly, saya kurang puas dengan endingnya tetapi setelah saya pikir untuk keadilan di zaman dahulu hal itu sudah cukup sebanding. 

    Cerita ini saya saranin dibaca bukan untuk kejar target ya, karena harus banyak fokus dengan rentetan alur yang cepat dan cukup untuk membuat kepikiran setelah membacanya...

Buku Cetak vs E-Book | Rofi Atin Khanifah

 Buku  Cetak VS E-Book


Rofi Atin Khanifah


        Menurut Permendikbud Nomor 8 Tahun 2016 Pengertian buku teks adalah sumber pembelajaran utama untuk mencapai kompetensi dasar dan kompetensi inti dan dinyatakan layak oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk digunakan pada satuan pendidikan. Sedangkan E-book adalah sebuah versi elektronik dari sebuah buku tercetak yang dapat dibaca pada sebuah personal komputer atau alat lain yang didesain khusus untuk membaca e-book (Danang, 2009).

    Seiring berkembangnya teknologi masyarakat mulai banyak yang membandingbandingkan keefektifan buku cetak dan ebook. Beberapa orang menganggap bahwa membaca buku cetak lebih nyaman, dan sebagian orang lainnya menganggap bahwa atau ebook lebih mudah dibawa kemana-mana atau praktis. Namun, menurut saya sebenarnya buku cetak dan ebook sama saja, masing-masing ada porsi kelebihan dan kekurangan sendiri. Bagi saya yang paling penting adalah isi dari buku yang kita baca.

    Memang terkadang, dalam kasus tertentu buku cetak tidak dapat tergantikan oleh ebook. Salah satunya, yaitu sensasi dalam membaca buku cetak yang tidak dapat tergantikan oleh ebook, yaitu aroma buku yang katanya dapat menyegarkan, selain itu bagi saya dengan membeli buku cetak kita lebih bisa mengapresiasi karya penulis, dan sangat sayang jika harus kehilangan buku yang bagus bila ternyata ebook di laptop kita tidak sengaja terhapus. Sedangkan ebook sendiri juga memiliki kelebihan yang tidak kalah dengan buku cetak, yaitu:

  1.  Praktis dan dapat dibawa kemana saja
  2. Mudah menerjemahkan apabila ketika membaca kita menemukan kosa kata baru, yaitu hanya dengan memblok tulisan atau frasa tersebut dan secara ajaib akan muncul pop up terjemahan. 
  3. Mempermudah kita membuat catatan highlight frasa yang penting dengan aesthetic. Sedangkan jika di buku cetak saya biasa menggunakan stabilo atau bolpoin, yang tentunya lebih merepotkan. 
  4. Tersingkronisasi dengan berbagai macam perangkat.
  5. Melalui aplikasi ebook, kita dengan mudah dapat berpindah perangkat sesuai kebutuhan kita. 
    Sebagai gambaran, biasanya saya mencari referensi tugas kuliah dengan membaca menggunakan HP, saat saya sedang bersantai, namun saat akan mengutip beberapa kalimat saya beralih membaca ebook di perangkat laptop atau komputer. 

Tangisan Sampah | Rahmat Hidayat


Tangisan Sampah

Rahmat Hidayat


 


 

Selasa, 07 September 2021

Sisa Harapan di Tengah Senja | Ratri Septia Vidiana Diari


 Sisa Harapan di Tengah Senja

Ratri Septia Vidia Diari

 

“Ah panas sekali!”

“Masih belum ada yang laku.”

Sambil mengusap wajahnya, Pak Jono membuka ciloknya yang masih belum terjual sama sekali. Hari mulai terik, matahari seperti di atas kepala. Pak Jono berkeliling dari perumahan satu ke yang lainnya. Tapi banyak pintu masuk yang ditutup. Kali ini perumahan ke empat, yang dilalui Pak Jono. Dengan mengayuh sepedanya Pak Jono percaya diri bahwa kali ini dia dibiarkan masuk ke perumahan untuk menjajakan ciloknya.

“Maaf Pak pedagang dilarang masuk!”

“Lho kenapa mas?” tanya Pak Jono.

“Lingkungan di sini sedang melakukan pembatasan Pak, jadi hanya warga sini yang boleh memasuki kawasan perumahan”.

“Saya hanya ingin berjualan mas, sedari tadi pagi cilok saya belum laku”. Kata Pak Jono menjelaskan.

“Saya minta maaf Pak, ini sudah peraturan.”

Begitulah penolakan yang diterima Pak Jono. Ia mulai putus asa, sedangkan hari sudah mulai beranjak sore. Kini hanya di jalan raya ia menjajakan dagangannya. Jalanan tak ramai seperti biasa, tampak lengang. Hanya beberapa toko di pinggir jalan yang buka. Lelah berkeliling Pak Jono berhenti di sebuah pos kosong. Ia mengelap keringatnya dan minum air yang dibawanya dari rumah. Sambil mengelap keringatnya, Pak Jono terbayang wajah anak dan istrinya di rumah. Betapa ia merasa bersalah kepada keluarganya, karena sampai sore hari ini ciloknya belum laku. Di tengah lamunannya, tiba-tiba ada seorang lewat. Sontak Pak Jono dengan senyum ramahnya menawarkan dagangannya.

“Cilok mas”

“Kelihatannya mas lapar, silahkan bisa buat ganjal perut”

“Terimakasih pak tidak, saya tidak lapar”

Sambil menghela nafas orang itu berhenti dan duduk di pos kosong. Pak Jono yang melihatnya seperti merasa khawatir karena orang itu terlihat lemas dan cemas.

“Mas tidak apa-apa?” tanya Pak Jono.

“Saya baik-baik saja Pak.”

Tanpa ragu Pak Jono memberikan sebungkus cilok dagangannya kepada orang itu.

“Ini Pak”. Sambil menyerahkan cilok

“Eh saya enggak lapar kok Pak”

“Tidak apa-apa mas, saya ikhlas.”

“Anggap saja penglaris karena jualan saya belum laku dari pagi.”

“Wah terimakasih banyak Pak”.

Orang itu langsung saja memakan cilok Pak Jono dengan lahap. Pak Jono sudah menduga bahwa orang itu benar-benar lapar.

“Terimakasih banyak Pak”.

“Sama-sama mas”.

“Ngomong-ngomong nama Bapak siapa? Saya Firman Pak.”

“Saya Jono mas”.

“Maaf Pak saya tidak bisa membeli cilok bapak, dan saya benar-benar terimakasih karena saya sekarang menjadi bersemangat”.

“Wah Alhamdulillah mas”. Ucap Pak Jono lega.

Setelah berkenalan, orang yang bernama Firman itu pergi. Orangnya terlihat masih muda, tapi terlihat dewasa dan gagah itu yang ada dalam pikiran Pak Jono. Tapi siapa sangka, sebenarnya dalam perjalanan Firman hendak melakukan sesuatu yang besar. Yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Pak Jono yang melihatnya dan berkenalan dengannya di pos.

 

“Permisi mbak!”

“Iya, ada yang bisa saya bantu mas?”

“Mau cari hp smartphone mbak.”

“Mau yang merk apa mas?”

“Apa saja mbak, yang bagus.”

Sementara mbak-mbak pegawai konter hp itu menjelaskan tipe-tipe smartphone yang trend saat ini, Firman mengamati keadaan sekitar. Toko konter itu tampak lengang, hanya 3 pegawai yang ada di konter. Pengunjungnya hanya ada dirinya, sedangkan dua pegawai lainnya sibuk memencet layar sambil tertawa lepas tanpa beban. Satu persatu smartphone dikeluarkan oleh pegawai itu sambil menjelaskan keunggulannya. Tanpa disadari oleh pegawai, tangan Firman dengan cepat mengambil salah satu hp dan memasukkannya ke dalam saku. Dengan alasan belum ada yang tertarik, Firman dengan mulus keluar dari toko.

“Huh tanya-tanya aja nggak beli”. Keluh si pegawai

Sambil merapikan kembali smartphone di etalase, pegawai itu merasa aneh  Ya baru saja ia sadar ada smartphone yang dicuri. Sontak ia menjerit sejadi-jadinya.

“Maling!”

“Maling!”

Dua pegawai yang tadi asyik tertawa langsung kaget, dan mengejar Firman yang belum jauh dari toko. Beberapa warga yang ada di pinggir jalan juga turut mengejar. Firman berlari dengan nafas tersengal-sengal. Senja terus beranjak, pikirannya sekarang kalut. Merasa bersalah dan merasa harus membawa curiannya dengan berhasil.

“Cepat malingnya lari kesana” seru salah satu warga.

“Mentang-mentang sepi, beraninya maling.” Keluh salah satu warga.

 

Firman benar-benar merasa lelah, tapi ia tetap terus berusaha berlari. Di tengah gaduhnya warga mengejar maling, Pak Jono masih duduk di pos kosong sambil menunggu pembeli. Pak Jono pada mulanya bingung, melihat Firman yang baru dikenalnya tadi dikejar-kejar oleh warga. Pak Jono baru tahu setelah warga berteriak “maling”. Ia tidak menyangka bahwa tadi dirinya membantu maling itu. Pak Jono ingat kalau Firman mengatakan bahawa ia merasa semangat setelah makan ciloknya.

“Woi jangan lari kau!”

“Dasar maling nggak tau malu”. Umpat salah satu warga.

Firman benar-benar merasa lelah, kakinya mulai terasa berat untuk berlari.

“Nah akhirnya tertangkap kau bangsat!”

“Ampun pak, ampun.” Kata Firman memelas

“Sudah hajar saja!”

“Hajar!”

Dalam hitungan detik kemarahan warga berubah menjadi kekerasan, Firman dihakimi massa. Tubuhnya meringkuk kesakitan, bukan hanya tubuhnya yang kini ia rasakan sakit namun hatinya. Namun hatinya begitu sakit, karena tidak bisa membawa pulang hp baru untuk anaknya sekolah. Pikirannya cemas, memikirkan anaknya yang sedang berharap di rumah menunggu kedatangannya membawa hp baru yang telah ia janjikan. Ya tadi pagi, Firman pamit pergi membeli hp baru untuk anaknya, menjanjikan bahwa ia akan segera pulang dan membawa hp baru. Anaknya yang mendengarnya sontak bahagia, meski sebenarnya Firman berbohong. Bukan membelinya, melainkan mencuri. Ia tak bisa membayangkan pulang dengan muka babak belur, dan membayangkan muka kecewa anaknya. Kini tidak ada lagi harapan yang tersisa, tubuhnya hanya meringkuk kesakitan di tendang sana-sini oleh warga yang marah. Dan akhirnya ada warga yang datang untuk menengahi.

“Sudah-sudah lebih baik kita cari jalan damai.”

 

“Wah tidak bisa dia haru masuk penjara biar kapok!”

“Tidak kita harus bicarakan baik-baik, kasihan pasti keluarga di rumah menunggunya.”

Setelah perdebatan yang panjang oleh warga, akhirnya Firman dimaafkan. Hp smartphone itu dikembalikan, dan ia berjanji tidak akan mengulanginya.

Sementara warga tadi berunding, ternyata cilok Pak Jono akhirnya laku. Beberapa warga yang lelah, duduk berhenti di pos. Dan mungkin merasa iba, warga akhirnya membeli cilok Pak Jono

Firman berjalan terseok-seok ia merasa lemas dan tak bertenaga. Air matanya mulai mengalir. Sambil menahan sakit, ia kembali duduk di pos kosong tempat Pak Jono tadi. Pak Jono lalu menghampirinya.

“Saya tidak tahu alasan kenapa kamu mencuri, mungkin keadaan sulit seperti ini memaksamu mas.”

“Maafkan saya Pak.”

“Eh kenapa minta maaf ke saya?”

“Sudah mas, lebih baik kamu renungi kesalahanmu.”

“Sesusah-susahnya kita, jangan sampai mencuri mas.”

“Kasihan anak istri di rumah.” Kata Pak Jono memghibur

“Iya Bapak benar.”

“Ini.” Sambil menyodorkan sebungkus cilok.

“Mungkin masnya lapar lagi setelah berlarian tadi, hehe” sambil tersenyum.

Langit sudah mulai jelas menampakkan senja, langit oranye dan debu tiupan angin menemani Pak Jono dan Firman menyantap cilok. Dengan pikiran kalut dan hanya sisa harapan yang tersisa, di tengah senja yang kelu.

Oerip Soemohardjo | Belkis Irbat


 Oerip Soemohardjo

Belkis Irbat

 

Muhammad Sidik merupakan nama kecil dari Oerip Soemohardjo yang lahir pada tanggal 22 Februari 1893 di Kelurahan Sindurejan, Kecamatan  Purworejo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Beliau anak sulung dari pasangan  Soemohardjo dan putri Raden Tumenggung Wijoyokusumo. Oerip Soemohardjo sendiri berasal dari keluarga bangsawan. Kakek dari ibunya merupakan bupati Trenggalek, sedangkan ayahnya seorang mantri guru yang mempunyai pekarangan luas.

Sejak kecil, ia sudah mempunyai bakat menjadi pemimpin. Terbukti ia selalu melindungi teman-temannya ketika sedang bermain. Kedua orang tuanya menginginkan ia menjadi seorang pegawai negeri sipil atau bupati sama seperti kakeknya. Oleh sebab itu, ia di sekolahkan di Sekolah Dasar Belanda.

Dalam menempuh pendidikannya, ia termasuk murid yang kurang pandai. Angka-angka pada rapornya banyak yang merah. Namun demikian, Oerip dapat menyelesaikan pendidikannya di OSVIA. Setelah lulus dari Sekolah Dasar Belanda, ia bersiap memasuki sekolah bagi pegawai bumi putera atau Opleidingschool Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Seperti juga di Sekolah Dasar Belanda nilai rapor Oerip pun merah.

Benih-benih menjadi tentara sudah ada sejak Oerip masih duduk di Sekolah Dasar Belanda dan menjadi sangat kuat ketika ia sekolah di OSVIA. Akhirnya, setelah lulus dari OSVIA, ia akan mendaftarkan diri di sekolah militer yang ada di Jakarta. Di sekolah itu Oerip diajarkan berbagai macam ilmu dalam bidang militer.

Tahun 1914 Oerip lulus dari ujian penghabisan. Kemudian, lulus pula ujian tambahan. Sesudah itu, barulah Oerip dilantik sebagai letnan dua. Sejak saat itu, Oerip ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia. Ketika ia bertugas, ia sering dideskriminasi oleh kawannya orang Belanda yang akhirnya membuat Oerip mengundurkan diri dari KNIL.

Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, pemerintahan mulai disusun, departemen mulai dibentuk, dan gubernur-gubernur mulai diangkat. Dengan begitu, pemerintahan mulai berjalan.

Indonesia yang pada saat itu belum mempunyai tentara lantas mengajak tokoh-tokoh dari mantan KNIL, Peta, dll. untuk membicarakan mengenai Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Oerip Soemohardjo yang merupakan pensiunan Mayor KNIL memperoleh mandat dari pemerintah menjadi kepala staf umum dengan tugas menyusun organisasi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan membentuk markas tinggi TKR (MTKR).

Perintah dari pusat menghimbau para mantan KNIL, Peta, Heiho, laskar rakyat, dan lain sebagainya untuk segera mendaftarkan diri menjadi anggota TKR. Oerip Soemohardjo mulai membentuk tatanan organisasi tentara Indonesia dari nol karena sebelumnya Indonesia belum mempunyai tentara.

Langkah awal dalam rangka penyempurnaan organisasi adalah mengganti nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dengan singkatan tetap (TKR). Pergantian nama tersebut terjadi pada tanggal 1 Januari 1946. Pada tanggal 26 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan maklumat Penetapan Pemerintahan No.4/SD Tahun 1946 yang mengubah nama Tentara Keselamatan Rakyat diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) (Riyanto, 2015). Nama tersebut dianggap lebih cocok untuk nama tentara dari sebuah negara yang merdeka.

Dalam usaha menciptakan suatu tentara yang bermutu, Oerip Soemohardjo memerlukan sumber daya manusia yang bermutu pula. Oleh karena itu, perlu dibentuk pendidikan militer untuk melatih para TNI. Maka, atas perintah dari Oerip Soemohardjo berdirilah sebuah Militer Akademi (MA) di Yogyakarta.

Senin, 06 September 2021

Covid dan Curhatan Semasa Pandemi | Adinda Salsabila Risanti


 Covid dan Curhatan Semasa Pandemi

Adinda Salsabila Risanti

 

Pandemi, covid-19, protokol kesehatan, lockdown, dan berbagai istilah lainnya yang sering bertebaran di televisi maupun di semua jejaring media sosial yang kumiliki. Satu tahun ini rasanya bagaikan surga dan neraka semenjak virus corona masuk ke Indonesia bulan Maret tahun lalu. Bagaimana tidak? Secara langsung, aku, sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Jember juga harus merasakan dampak dari virus itu.

Mulai dari kuliah daring, cabut kos, hingga menjadi mahasiswa pengangguran di rumah. Siapa yang tidak merindukan kegiatan di kampus berjalan normal seperti biasa? Surat Kebijakan Rektor yang awalnya hanya memberlakukan kuliah daring selama dua minggu, lama-kelamaan diperpanjang menjadi sebulan hingga berbulan-bulan. Dan sampai sekarang, kami, mahasiswa, masih menunggu kapan keadaan kembali seperti semula.

Secara pribadi, aku sendiri cukup kesulitan dengan efek pandemi, terutama pembelajaran daring. Selain harus berdaptasi lagi, tekanan yang ada di rumah membuatku frustasi. Ekonomi turun, beban mental, dan terkunci di dalam rumah seperti terpenjara. Belum lagi protokol kesehatan yang ketat setiap kali keluar rumah. Namun, memang tiada pilihan lain. Aku pun tidak ingin terjangkit covid. Tidak banyak yang harus dilakukan selain mematuhi protokol kesehatan Pemerintah. (Walau di sisi lain bisa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan quality time bersama keluarga).

Jumlah kasus yang meningkat seiring berjalannya waktu, entah itu di televisi maupun media sosial, sempat membuatku stress. Ditambah orang-orang di rumah sama-sama melimpahkan rasa tertekan mereka satu sama lain. Rasanya ingin lari saja ke planet lain dan memulai hidup baru meskipun aku tahu itu merupakan hal yang mustahil. Dan yang paling parah, perasaan tak berguna karena tidak bisa melakukan apapun selama menjadi mahasiswa. Setiap hari hanya rebahan, kuliah, mengerjakan tugas, membersihkan rumah, dan tidak ada yang spesial dari rutinitas selama pandemi (saat itu jiwa ambisiusku masih mendominasi sih).

Hingga dua-tiga bulan kemudian, ada informasi mengenai open recruitment pengurus Panwaslu dan anggota Sahabat Perpustakaan 2020. Aku pun mencoba peruntunganku di sana. Dan ternyata setelah melalui proses yang cukup panjang, kedua lembaga itu sama-sama menerimaku.

Aku merasa senang, awalnya. Setidaknya aku memiliki kesibukan untuk pengalihan rasa tertekanku. Namun bagaimanapun juga, berorganisasi secara langsung dan daring sensasinya sangat berbeda. Selama daring, yang kulakukan hanyalah duduk di depan laptop, microsoft word yang sudah menjadi teman setiaku sejak lama semakin setia saja menemaniku siang dan malam. Zoom, google meet. Rapat, rapat, dan rapat online terus. Hingga pada suatu titik, karena saking seringnya rapat, tugas sekretaris umum Panwaslu, dan kebodohanku yang tidak pandai mengatur waktu maupun menjaga kesehatan, aku pun jatuh sakit.

Setelah sekian lama, aku kembali terserang tipus. Bila dulu hanya gejalanya, waktu itu aku sudah benar-benar tidak sanggup bahkan untuk melihat ponsel. Kepala pusing seharian, lidah hambar, dan perut terasa tidak nyaman. Semua jadwalku pun berantakan, termasuk jadwal kuliah. Tugas-tugasku banyak yang tidak tersentuh, dan mungkin stress adalah salah satu penyebab diriku sakit.

Mungkin itulah cerita mengenai pengalamanku selama pandemi. Aku yakin banyak orang—mahasiswa—yang mengalami pengalaman yang sama denganku. Harapan kami pun sama; semoga keadaan lekas pulih dan kami dapat beraktivitas seperti sedia kala

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...