Jumat, 31 Desember 2021
Bunga dari Tuan | Salsabila
Teduh | Putri Nadilla
Teduh
Putri Nadilla
Malam
Ketika angin berhembus ringan
Tepukan punggung yang pelan
Menyanyi lirih, manis tatapan
Dipundaknya
Terdapat makhluk mungil nan lucu
Merengek sendu
Ia tak suka berada didalam
Kata nenek ia ingin angin yang segar
Ibu
Ratapan jiwa yang menembus angan
Menggendong si buah hati dipelukan
Siang malam is tak paham
Atau bahkan tidak peduli?
Satu orang penuh kasih sayang
Harapanya setinggi bulan
Untuk sang buah hati tersayang
Meski lelah ia hiraukan
Nyanyian nya meneduhkan
Tangisanya mengiris relung dadamu
Memang terkadang ia tak pandai menunjukkan
Dalam dirinya, banyak kata yang tak tersampaikan
Ibu
Kau belahan jiwa
Kau air dalam hausnya
Kau pelampung dalam tenggelamnya
Ibu
Kau yang tersayang
Opini Masyarakat Konsumsi, Tanda dan Makna Sebagai Bagian dari Eksistensi Diri | Muhyi Aditya Supratman
Opini Masyarakat Konsumsi, Tanda dan Makna Sebagai Bagian dari Eksistensi Diri
Muhyi Aditya Supratman
Menuju Keabadian | Ridka Khairunnisa
Menuju Keabadian
Ridka Khairunnisa
Pelajar Bertopeng | Luluk Lailatul Zahiroh
Pelajar Bertopeng
Luluk Lailatul Zahiroh
Indonesia dan Pemuda-Pemudinya | Dina Dwi
Indonesia dan Pemuda-Pemudinya
Dina Dwi
Serpihan Harapan | Yuliana
Serpihan Harapan
Yuliana
Hari demi hari telah berlalu sudah
Kemana kehidupan ini akan melangkah
Lika- liku kehidupan yang penuh dengan sejarah
Harapan harus kian membarah
Kini saatnya sudah berproses diri
Berbenah untuk menggapai mimpi
Harapan yang selalu ku bawa sampai hayat ini
Bukti kerasnya kehidupan di jaman ini
Oh Tuhan...
Akankah harapan dalam sebuah kehidupan ini bukan mimpi
Begitu kerasnya hidup
Apalah daya harapan di dalam kehidupan haruslah selalu ada
Meskipun itu hanya sebagian serpihan dari sebuah harapan
Kehidupan ini sangatlah kesah
Apalah daya diri ini hanya orang susah
Harapan... harapan yang selalu digengam
Meski itu semua serpihan dari sebuah harapan
Kamis, 30 Desember 2021
[Review] Laut Bercerita | Nur Fitriana Tyas Ika Sari
REVIEW BUKU
Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori
Nur Fitriana Tyas Ika Sari
- Judul Buku : Laut Bercerita
- Pengarang : Leila S Chudori
- Kategori : buku fiksi
- ISBN : 978-602-424-694-5
- Ukuran : 13,5 cm x 20 cm
- Halaman : 379
- Tahun Terbit : 2017
- Harga : 80.000
Buku Cetak vs E-Book | Rofi Atin Khanifah
Buku Cetak VS E-Book
Rofi Atin Khanifah
Seiring berkembangnya teknologi masyarakat mulai banyak yang membandingbandingkan keefektifan buku cetak dan ebook. Beberapa orang menganggap bahwa membaca buku cetak lebih nyaman, dan sebagian orang lainnya menganggap bahwa atau ebook lebih mudah dibawa kemana-mana atau praktis. Namun, menurut saya sebenarnya buku cetak dan ebook sama saja, masing-masing ada porsi kelebihan dan kekurangan sendiri. Bagi saya yang paling penting adalah isi dari buku yang kita baca.
Memang terkadang, dalam kasus tertentu buku cetak tidak dapat tergantikan oleh ebook. Salah satunya, yaitu sensasi dalam membaca buku cetak yang tidak dapat tergantikan oleh ebook, yaitu aroma buku yang katanya dapat menyegarkan, selain itu bagi saya dengan membeli buku cetak kita lebih bisa mengapresiasi karya penulis, dan sangat sayang jika harus kehilangan buku yang bagus bila ternyata ebook di laptop kita tidak sengaja terhapus. Sedangkan ebook sendiri juga memiliki kelebihan yang tidak kalah dengan buku cetak, yaitu:
- Praktis dan dapat dibawa kemana saja
- Mudah menerjemahkan apabila ketika membaca kita menemukan kosa kata baru, yaitu hanya dengan memblok tulisan atau frasa tersebut dan secara ajaib akan muncul pop up terjemahan.
- Mempermudah kita membuat catatan highlight frasa yang penting dengan aesthetic. Sedangkan jika di buku cetak saya biasa menggunakan stabilo atau bolpoin, yang tentunya lebih merepotkan.
- Tersingkronisasi dengan berbagai macam perangkat.
- Melalui aplikasi ebook, kita dengan mudah dapat berpindah perangkat sesuai kebutuhan kita.
Selasa, 07 September 2021
Sisa Harapan di Tengah Senja | Ratri Septia Vidiana Diari
Sisa Harapan di Tengah Senja
Ratri Septia Vidia Diari
“Ah panas sekali!”
“Masih belum ada yang laku.”
Sambil mengusap wajahnya, Pak Jono membuka ciloknya yang masih belum terjual sama sekali. Hari mulai terik, matahari seperti di atas kepala. Pak Jono berkeliling dari perumahan satu ke yang lainnya. Tapi banyak pintu masuk yang ditutup. Kali ini perumahan ke empat, yang dilalui Pak Jono. Dengan mengayuh sepedanya Pak Jono percaya diri bahwa kali ini dia dibiarkan masuk ke perumahan untuk menjajakan ciloknya.
“Maaf Pak pedagang dilarang masuk!”
“Lho kenapa mas?” tanya Pak Jono.
“Lingkungan di sini sedang melakukan pembatasan Pak, jadi hanya warga sini yang boleh memasuki kawasan perumahan”.
“Saya hanya ingin berjualan mas, sedari tadi pagi cilok saya belum laku”. Kata Pak Jono menjelaskan.
“Saya minta maaf Pak, ini sudah peraturan.”
Begitulah penolakan yang diterima Pak Jono. Ia mulai putus asa, sedangkan hari sudah mulai beranjak sore. Kini hanya di jalan raya ia menjajakan dagangannya. Jalanan tak ramai seperti biasa, tampak lengang. Hanya beberapa toko di pinggir jalan yang buka. Lelah berkeliling Pak Jono berhenti di sebuah pos kosong. Ia mengelap keringatnya dan minum air yang dibawanya dari rumah. Sambil mengelap keringatnya, Pak Jono terbayang wajah anak dan istrinya di rumah. Betapa ia merasa bersalah kepada keluarganya, karena sampai sore hari ini ciloknya belum laku. Di tengah lamunannya, tiba-tiba ada seorang lewat. Sontak Pak Jono dengan senyum ramahnya menawarkan dagangannya.
“Cilok mas”
“Kelihatannya mas lapar, silahkan bisa buat ganjal perut”
“Terimakasih pak tidak, saya tidak lapar”
Sambil menghela nafas orang itu berhenti dan duduk di pos kosong. Pak Jono yang melihatnya seperti merasa khawatir karena orang itu terlihat lemas dan cemas.
“Mas tidak apa-apa?” tanya Pak Jono.
“Saya baik-baik saja Pak.”
Tanpa ragu Pak Jono memberikan sebungkus cilok dagangannya kepada orang itu.
“Ini Pak”. Sambil menyerahkan cilok
“Eh saya enggak lapar kok Pak”
“Tidak apa-apa mas, saya ikhlas.”
“Anggap saja penglaris karena jualan saya belum laku dari pagi.”
“Wah terimakasih banyak Pak”.
Orang itu langsung saja memakan cilok Pak Jono dengan lahap. Pak Jono sudah menduga bahwa orang itu benar-benar lapar.
“Terimakasih banyak Pak”.
“Sama-sama mas”.
“Ngomong-ngomong nama Bapak siapa? Saya Firman Pak.”
“Saya Jono mas”.
“Maaf Pak saya tidak bisa membeli cilok bapak, dan saya benar-benar terimakasih karena saya sekarang menjadi bersemangat”.
“Wah Alhamdulillah mas”. Ucap Pak Jono lega.
Setelah berkenalan, orang yang bernama Firman itu pergi. Orangnya terlihat masih muda, tapi terlihat dewasa dan gagah itu yang ada dalam pikiran Pak Jono. Tapi siapa sangka, sebenarnya dalam perjalanan Firman hendak melakukan sesuatu yang besar. Yang sama sekali tidak terpikirkan oleh Pak Jono yang melihatnya dan berkenalan dengannya di pos.
“Permisi mbak!”
“Iya, ada yang bisa saya bantu mas?”
“Mau cari hp smartphone mbak.”
“Mau yang merk apa mas?”
“Apa saja mbak, yang bagus.”
Sementara mbak-mbak pegawai konter hp itu menjelaskan tipe-tipe smartphone yang trend saat ini, Firman mengamati keadaan sekitar. Toko konter itu tampak lengang, hanya 3 pegawai yang ada di konter. Pengunjungnya hanya ada dirinya, sedangkan dua pegawai lainnya sibuk memencet layar sambil tertawa lepas tanpa beban. Satu persatu smartphone dikeluarkan oleh pegawai itu sambil menjelaskan keunggulannya. Tanpa disadari oleh pegawai, tangan Firman dengan cepat mengambil salah satu hp dan memasukkannya ke dalam saku. Dengan alasan belum ada yang tertarik, Firman dengan mulus keluar dari toko.
“Huh tanya-tanya aja nggak beli”. Keluh si pegawai
Sambil merapikan kembali smartphone di etalase, pegawai itu merasa aneh Ya baru saja ia sadar ada smartphone yang dicuri. Sontak ia menjerit sejadi-jadinya.
“Maling!”
“Maling!”
Dua pegawai yang tadi asyik tertawa langsung kaget, dan mengejar Firman yang belum jauh dari toko. Beberapa warga yang ada di pinggir jalan juga turut mengejar. Firman berlari dengan nafas tersengal-sengal. Senja terus beranjak, pikirannya sekarang kalut. Merasa bersalah dan merasa harus membawa curiannya dengan berhasil.
“Cepat malingnya lari kesana” seru salah satu warga.
“Mentang-mentang sepi, beraninya maling.” Keluh salah satu warga.
Firman benar-benar merasa lelah, tapi ia tetap terus berusaha berlari. Di tengah gaduhnya warga mengejar maling, Pak Jono masih duduk di pos kosong sambil menunggu pembeli. Pak Jono pada mulanya bingung, melihat Firman yang baru dikenalnya tadi dikejar-kejar oleh warga. Pak Jono baru tahu setelah warga berteriak “maling”. Ia tidak menyangka bahwa tadi dirinya membantu maling itu. Pak Jono ingat kalau Firman mengatakan bahawa ia merasa semangat setelah makan ciloknya.
“Woi jangan lari kau!”
“Dasar maling nggak tau malu”. Umpat salah satu warga.
Firman benar-benar merasa lelah, kakinya mulai terasa berat untuk berlari.
“Nah akhirnya tertangkap kau bangsat!”
“Ampun pak, ampun.” Kata Firman memelas
“Sudah hajar saja!”
“Hajar!”
Dalam hitungan detik kemarahan warga berubah menjadi kekerasan, Firman dihakimi massa. Tubuhnya meringkuk kesakitan, bukan hanya tubuhnya yang kini ia rasakan sakit namun hatinya. Namun hatinya begitu sakit, karena tidak bisa membawa pulang hp baru untuk anaknya sekolah. Pikirannya cemas, memikirkan anaknya yang sedang berharap di rumah menunggu kedatangannya membawa hp baru yang telah ia janjikan. Ya tadi pagi, Firman pamit pergi membeli hp baru untuk anaknya, menjanjikan bahwa ia akan segera pulang dan membawa hp baru. Anaknya yang mendengarnya sontak bahagia, meski sebenarnya Firman berbohong. Bukan membelinya, melainkan mencuri. Ia tak bisa membayangkan pulang dengan muka babak belur, dan membayangkan muka kecewa anaknya. Kini tidak ada lagi harapan yang tersisa, tubuhnya hanya meringkuk kesakitan di tendang sana-sini oleh warga yang marah. Dan akhirnya ada warga yang datang untuk menengahi.
“Sudah-sudah lebih baik kita cari jalan damai.”
“Wah tidak bisa dia haru masuk penjara biar kapok!”
“Tidak kita harus bicarakan baik-baik, kasihan pasti keluarga di rumah menunggunya.”
Setelah perdebatan yang panjang oleh warga, akhirnya Firman dimaafkan. Hp smartphone itu dikembalikan, dan ia berjanji tidak akan mengulanginya.
Sementara warga tadi berunding, ternyata cilok Pak Jono akhirnya laku. Beberapa warga yang lelah, duduk berhenti di pos. Dan mungkin merasa iba, warga akhirnya membeli cilok Pak Jono
Firman berjalan terseok-seok ia merasa lemas dan tak bertenaga. Air matanya mulai mengalir. Sambil menahan sakit, ia kembali duduk di pos kosong tempat Pak Jono tadi. Pak Jono lalu menghampirinya.
“Saya tidak tahu alasan kenapa kamu mencuri, mungkin keadaan sulit seperti ini memaksamu mas.”
“Maafkan saya Pak.”
“Eh kenapa minta maaf ke saya?”
“Sudah mas, lebih baik kamu renungi kesalahanmu.”
“Sesusah-susahnya kita, jangan sampai mencuri mas.”
“Kasihan anak istri di rumah.” Kata Pak Jono memghibur
“Iya Bapak benar.”
“Ini.” Sambil menyodorkan sebungkus cilok.
“Mungkin masnya lapar lagi setelah berlarian tadi, hehe” sambil tersenyum.
Langit sudah mulai jelas menampakkan senja, langit oranye dan debu tiupan angin menemani Pak Jono dan Firman menyantap cilok. Dengan pikiran kalut dan hanya sisa harapan yang tersisa, di tengah senja yang kelu.
Oerip Soemohardjo | Belkis Irbat
Oerip Soemohardjo
Belkis Irbat
Muhammad Sidik merupakan nama kecil dari Oerip Soemohardjo yang lahir pada tanggal 22 Februari 1893 di Kelurahan Sindurejan, Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo, Provinsi Jawa Tengah. Beliau anak sulung dari pasangan Soemohardjo dan putri Raden Tumenggung Wijoyokusumo. Oerip Soemohardjo sendiri berasal dari keluarga bangsawan. Kakek dari ibunya merupakan bupati Trenggalek, sedangkan ayahnya seorang mantri guru yang mempunyai pekarangan luas.
Sejak kecil, ia sudah mempunyai bakat menjadi pemimpin. Terbukti ia selalu melindungi teman-temannya ketika sedang bermain. Kedua orang tuanya menginginkan ia menjadi seorang pegawai negeri sipil atau bupati sama seperti kakeknya. Oleh sebab itu, ia di sekolahkan di Sekolah Dasar Belanda.
Dalam menempuh pendidikannya, ia termasuk murid yang kurang pandai. Angka-angka pada rapornya banyak yang merah. Namun demikian, Oerip dapat menyelesaikan pendidikannya di OSVIA. Setelah lulus dari Sekolah Dasar Belanda, ia bersiap memasuki sekolah bagi pegawai bumi putera atau Opleidingschool Voor Inlandsche Ambtenaren (OSVIA). Seperti juga di Sekolah Dasar Belanda nilai rapor Oerip pun merah.
Benih-benih menjadi tentara sudah ada sejak Oerip masih duduk di Sekolah Dasar Belanda dan menjadi sangat kuat ketika ia sekolah di OSVIA. Akhirnya, setelah lulus dari OSVIA, ia akan mendaftarkan diri di sekolah militer yang ada di Jakarta. Di sekolah itu Oerip diajarkan berbagai macam ilmu dalam bidang militer.
Tahun 1914 Oerip lulus dari ujian penghabisan. Kemudian, lulus pula ujian tambahan. Sesudah itu, barulah Oerip dilantik sebagai letnan dua. Sejak saat itu, Oerip ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia. Ketika ia bertugas, ia sering dideskriminasi oleh kawannya orang Belanda yang akhirnya membuat Oerip mengundurkan diri dari KNIL.
Setelah Indonesia merdeka tanggal 17 Agustus 1945, pemerintahan mulai disusun, departemen mulai dibentuk, dan gubernur-gubernur mulai diangkat. Dengan begitu, pemerintahan mulai berjalan.
Indonesia yang pada saat itu belum mempunyai tentara lantas mengajak tokoh-tokoh dari mantan KNIL, Peta, dll. untuk membicarakan mengenai Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Oerip Soemohardjo yang merupakan pensiunan Mayor KNIL memperoleh mandat dari pemerintah menjadi kepala staf umum dengan tugas menyusun organisasi Tentara Keamanan Rakyat (TKR) dan membentuk markas tinggi TKR (MTKR).
Perintah dari pusat menghimbau para mantan KNIL, Peta, Heiho, laskar rakyat, dan lain sebagainya untuk segera mendaftarkan diri menjadi anggota TKR. Oerip Soemohardjo mulai membentuk tatanan organisasi tentara Indonesia dari nol karena sebelumnya Indonesia belum mempunyai tentara.
Langkah awal dalam rangka penyempurnaan organisasi adalah mengganti nama Tentara Keamanan Rakyat menjadi Tentara Keselamatan Rakyat dengan singkatan tetap (TKR). Pergantian nama tersebut terjadi pada tanggal 1 Januari 1946. Pada tanggal 26 Januari 1946 pemerintah mengeluarkan maklumat Penetapan Pemerintahan No.4/SD Tahun 1946 yang mengubah nama Tentara Keselamatan Rakyat diubah lagi menjadi Tentara Republik Indonesia (TRI) (Riyanto, 2015). Nama tersebut dianggap lebih cocok untuk nama tentara dari sebuah negara yang merdeka.
Dalam usaha menciptakan suatu tentara yang bermutu, Oerip Soemohardjo memerlukan sumber daya manusia yang bermutu pula. Oleh karena itu, perlu dibentuk pendidikan militer untuk melatih para TNI. Maka, atas perintah dari Oerip Soemohardjo berdirilah sebuah Militer Akademi (MA) di Yogyakarta.
Senin, 06 September 2021
Covid dan Curhatan Semasa Pandemi | Adinda Salsabila Risanti
Covid dan Curhatan Semasa Pandemi
Adinda Salsabila Risanti
Pandemi, covid-19, protokol kesehatan, lockdown, dan berbagai istilah lainnya yang sering bertebaran di televisi maupun di semua jejaring media sosial yang kumiliki. Satu tahun ini rasanya bagaikan surga dan neraka semenjak virus corona masuk ke Indonesia bulan Maret tahun lalu. Bagaimana tidak? Secara langsung, aku, sebagai salah satu mahasiswa di Universitas Jember juga harus merasakan dampak dari virus itu.
Mulai dari kuliah daring, cabut kos, hingga menjadi mahasiswa pengangguran di rumah. Siapa yang tidak merindukan kegiatan di kampus berjalan normal seperti biasa? Surat Kebijakan Rektor yang awalnya hanya memberlakukan kuliah daring selama dua minggu, lama-kelamaan diperpanjang menjadi sebulan hingga berbulan-bulan. Dan sampai sekarang, kami, mahasiswa, masih menunggu kapan keadaan kembali seperti semula.
Secara pribadi, aku sendiri cukup kesulitan dengan efek pandemi, terutama pembelajaran daring. Selain harus berdaptasi lagi, tekanan yang ada di rumah membuatku frustasi. Ekonomi turun, beban mental, dan terkunci di dalam rumah seperti terpenjara. Belum lagi protokol kesehatan yang ketat setiap kali keluar rumah. Namun, memang tiada pilihan lain. Aku pun tidak ingin terjangkit covid. Tidak banyak yang harus dilakukan selain mematuhi protokol kesehatan Pemerintah. (Walau di sisi lain bisa lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan quality time bersama keluarga).
Jumlah kasus yang meningkat seiring berjalannya waktu, entah itu di televisi maupun media sosial, sempat membuatku stress. Ditambah orang-orang di rumah sama-sama melimpahkan rasa tertekan mereka satu sama lain. Rasanya ingin lari saja ke planet lain dan memulai hidup baru meskipun aku tahu itu merupakan hal yang mustahil. Dan yang paling parah, perasaan tak berguna karena tidak bisa melakukan apapun selama menjadi mahasiswa. Setiap hari hanya rebahan, kuliah, mengerjakan tugas, membersihkan rumah, dan tidak ada yang spesial dari rutinitas selama pandemi (saat itu jiwa ambisiusku masih mendominasi sih).
Hingga dua-tiga bulan kemudian, ada informasi mengenai open recruitment pengurus Panwaslu dan anggota Sahabat Perpustakaan 2020. Aku pun mencoba peruntunganku di sana. Dan ternyata setelah melalui proses yang cukup panjang, kedua lembaga itu sama-sama menerimaku.
Aku merasa senang, awalnya. Setidaknya aku memiliki kesibukan untuk pengalihan rasa tertekanku. Namun bagaimanapun juga, berorganisasi secara langsung dan daring sensasinya sangat berbeda. Selama daring, yang kulakukan hanyalah duduk di depan laptop, microsoft word yang sudah menjadi teman setiaku sejak lama semakin setia saja menemaniku siang dan malam. Zoom, google meet. Rapat, rapat, dan rapat online terus. Hingga pada suatu titik, karena saking seringnya rapat, tugas sekretaris umum Panwaslu, dan kebodohanku yang tidak pandai mengatur waktu maupun menjaga kesehatan, aku pun jatuh sakit.
Setelah sekian lama, aku kembali terserang tipus. Bila dulu hanya gejalanya, waktu itu aku sudah benar-benar tidak sanggup bahkan untuk melihat ponsel. Kepala pusing seharian, lidah hambar, dan perut terasa tidak nyaman. Semua jadwalku pun berantakan, termasuk jadwal kuliah. Tugas-tugasku banyak yang tidak tersentuh, dan mungkin stress adalah salah satu penyebab diriku sakit.
Mungkin itulah cerita mengenai pengalamanku selama pandemi. Aku yakin banyak orang—mahasiswa—yang mengalami pengalaman yang sama denganku. Harapan kami pun sama; semoga keadaan lekas pulih dan kami dapat beraktivitas seperti sedia kala
PROFIL
TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...
-
Kamu Cukup, Selalu Karya Aura Alfisyahrani Sinopsis Ketika Bulan terbangun dalam tubuh Luna, ia menyadari satu kebenaran mengerikan. Kemat...
-
TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...
-
RESENSI BUKU BULAN JULI 2024 AYAHKU [BUKAN] PEMBOHONG – Tere Liye COVER Identitas buku Judul: Ayahku [Bukan] Pembohong Penulis: Tere Liye...


