Sabtu, 31 Desember 2022

Kontradiksi Antara Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing I Prakas Putra Setiawan

IDENTITAS PENULIS

Nama : Prakas Putra Setiawan

Divisi : Kreatif

Jenis  : Artikel Populer

 

 

 

KONTRADIKSI ANTARA  BAHASA INDONESIA, DAERAH DAN ASING

 

Bahasa adalah sistem lambang bunyi yang arbitrer, yang digunakan oleh anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi, dan mengidentifikasikan diri (KBBI). Bahasa adalah alat komunikasi yang dimiliki manusia berupa sistem lambang bunyi yang berasal dari alat ucap atau mulut manusia menurut Untung Yuwono dalam karyanya dalam buku Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik (2005). Berdasarkan pengertiannya bahasa memiliki fungsi yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena setiap sesuatu yang akan dilakukan manusia selalu melibatkan bahasa didalamnya. Selain sebagai alat komunikasi dalam kehidupan, bahasa juga menjadi sebuah jati diri bangsa. “Tanpa mempelajari bahasanya sendiri orang tak akan mengenal bangsanya sendiri”- (Pramoedya Ananta Toer). Lalu, bagaimana dengan negara Indonesia yang tidak hanya menggunakan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi?

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik penduduk Indonesia 2010, menyatakan bahwa sekitar 79,15% penduduk Indonesia menggunakan bahasa daerah dalam berkomunikasi, 20% menggunakan Bahasa Indonesia dan sisanya menggunakan bahasa asing. Berdasarkan hasil laporan tersebut asal-usul nenek moyang menjadi alasan mengapa Indonesia memiliki bahasa yang beragam. Namun, dengan adanya berbagai ragam bahasa apakah dapat memberikan pengaruh yang baik atau buruk dalam negara Indonesia? Melihat eksistensi dan fungsinya semua bahasa memiliki kegunaan yang sama. Namun, kegunaan saja tidak dapat dijadikan sebagai patokan, melainkan diperlukan kepentingan atau status bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional negara. Bahasa yang wajib diketahui dan digunakan masyarakat Indonesia apakah rela memberikan jati dirinya sebagai bahasa nasional dengan bahasa daerah yang memiliki pengguna lebih dominan. Begitu juga dengan bahasa daerah apakah rela memberikan eksistensinya sebagai bahasa yang dominan digunakan dengan bahasa asing sebut saja bahasa Inggris yang semakin dibutuhkan dalam relasi jangka panjang (Internasional)?”

Setiap bahasa memiliki kedudukan masing-masing sehingga kita tidak bisa menetukan penggunaan bahasa ini lebih dari bahasa itu. Perkembangan tuntutan yang semakin hari semakin memberikan standarisasi lebih juga memberikan ancaman tersendiri terhadap jati diri bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Misalnya, penggunaan bahasa asing khususnya bahasa Inggris yang semakin dibutuhkan dalam berbagai hal, bahkan saat ini penggunaan bahasa Inggris tidak hanya digunakan dalam komunikasi luar negara saja melainkan dibutuhkan dalam dunia ketenagakerjaaan, dibuktikan dengan syarat lowongan pekerjaan yang tak sedikit memberikan syarat untuk bisa berbahasa Inggris. Selain itu, penggunaan bahasa Inggris juga sudah mempengaruhi status sosial seseorang dimana seseorang yang bisa bercakap menggunakan bahasa Inggris memiliki kenaikan status sosial dari sebelumnya. Hal itu merupakan salah satu alasan mengapa semakin banyaknya masyarakat yang menggunakan bahasa Inggris dalam berkomunikasi.

Bahasa daerah saat ini memiliki jumlah pengguna terbanyak dari bahasa yang lain berdasarkan data Badan Pusat Statistik penduduk Indonesia 2010, dengan jumlah pengguna yang dimiliki tersebut bisakah bahasa daerah tetap mempertahankan eksistensinya sebagai bahasa yang dominan? Fakta di lapangan ternyata berkata lain, dalam cnnindonesia.com tertulis bahwa  25 bahasa daerah terancam punah dan 19 bahasa lain yang masuk status rentan, artinya penutur bahasa tersebut jumlahnya tidak banyak seperti bahasa-bahasa dari Maluku, Papua, Sulawesi, Sumatera, dan Nusa Tenggara Timur. Adanya sebuah globalisasi yang tidak dapat dihindari oleh negara manapun membuat generasi muda mengikuti arus jaman dengan menggunakan bahasa asing, bahkan mereka menggunakan bahasa Indonesia dengan bahasa asing secara campuran. Melihat fakta yang ada dilapangan tersebut tidak ada satu hal yang dapat mempertahankan suatu eksistensi bahasa, selain kesadaran dari penggunanya sendiri.

Persepsi dalam masyarakat yang seharusnya diubah dalam memahami bagaimana konteks penggunaan bahasa dalam berkomunikasi. Persepsi masyarakat yang kurang tepat dalam memaknai pemilihan bahasa membuat mereka cenderung memilih bahasa yang ada bukan memahami bahasa yang ada. Misalnya, di Indonesia memiliki beragam bahasa antara lain bahasa Indonesia, bahasa daerah dan bahasa asing. Dengan adanya ketiga jenis bahasa tersebut kita sebagai pengguna diharapkan untuk memahami penggunaan bahasa tersebut bukannya memilih bahasa mana yang paling dan harus diprioritaskan di antara bahasa-bahasa yang ada. Jika masyarakat memandangnya dari cara memahami bukan memilih pasti banyak masyarakat Indonesia yang akan menguasai bahasa asing, mempertahankan bahasa Indonesia sebagai jati diri bangsa dan tetap melestarikan eksistensi bahasa daerah. Hal itu disebabkan, jika kita memandangnya dari cara pemahaman bukan pemilihan, secara tidak langsung kita akan berusaha mempelajari ketiga bahasa tersebut tanpa memberikan strata dalam bahasa-bahasa yang ada. Bahasa memiliki sifat dapat menyesuaikan, dimana setiap menggunakannya diperlukan penyesuaian. Ada kalanya kita membutuhkan bahasa Indonesia dalam berkomunikasi, ada kalanya kita menggunakan bahasa daerah untuk berkomunikasi, serta ada waktunya kita diharuskan menggunakan bahasa asing seperti bahasa Inggris dalam berkomunikasi. Dengan begitu semua komponen yang ada tidak akan ada yang tersingkirkan.

Upaya mempertahankan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional dan bahasa daerah sebagi keragaman budaya tidaklah sulit jika dalam persepsi yang didapat benar, begitu sebaliknya jika pemahaman yang di dapat salah akan bahasa dampaknya bagi eksistensi bahasa yang ada di Indonesia. Selain itu, diperlukan adanya sikap peduli kita sebagai pengguna bahasa untuk melestarikan bahasa yang ada. Bahasa adalah tanggung jawab penggunanya, bahasa adalah jati diri bangsa, dan bahasa adalah alat pemersatu bangsa jika kita tidak peduli dengan eksistensi bahasa yang ada maka akan lebih buruk lagi dampaknya. Mari lestarikan budaya karena kita generasi budaya, peduli akan bahasa dan cinta keberagaman Indonesia.

 

 

 

 

Daftar Pustaka

https://www.cnnindonesia.com/nasional/20200221144218-20-476834/kemendikbud-11-bahasa-daerah-punah-25-terancam-menyusul  (Kemendikbud: 11 Bahasa Daerah Punah, 25 Terancam Menyusul) di akses pada 21 februari 2020.

Na’im, Akhsan.2010. Kewarganegaraan, Suku Bangsa, Agama, dan Bahasa Sehari-hari Penduduk Indonesia 2010. (demografi.bps.go.id/.../BPS_kewarganegaraan_sukubangsa_agama_bahasa_2010.pdf) diakses pada 10 Oktober 2017

Skenario I Prakas Putra Setiawan

 IDENTITAS PENULIS

Nama : Prakas Putra Setiawan

Divisi : Kreatif

Jenis  : Cerita Pendek

SKENARIO

Cepat kemari anak jadah, suara teriakan yang berasal dari dapur menggertak diriku. Kukuatkan langkahku menuju ruang dapur walau sebenarnya diri ini meyakinkan untuk mengabaikannya. Perlahan ku menghampirinya, belum lama aku melangkah pecahan suara piring terdengar diikuti panggilan yang terus saja meminta anak jadah ini segera datang. Sampailah aku di dapur, disana kulihat kondisi dapur yang sudah tak karuan seperti baru saja terkena gerpakan gempa. Lagi-lagi pria tua penjudi itu lagi yang membuat onar, layaknya seorang bocah yang merengek meminta dibuatkan makanan pada orang tuanya. Kenyataannya sebaliknya ia adalah ayahku. Dengan berat hati kusebut dan kuakuinya  ayah, rasa kasih sayang ayah yang tak pernah aku dapatkan darinya membuatku ragu benarkah dia ayahku.

Belum selesai aku melayani pria tua penjudi itu, datang wanita berpakaian serba pendek lengkap taburan make up hingga menutupi wajah aslinya memintaku untuk mencucikan baju miliknya, tanpa berkata aku hanya bisa menghela nafas sambil menunggu telur goreng untuk ayah matang. Tak lama terdengar suara dari sutradara yang mengatakan “CUT”. Semua pemain termasuk aku kembali menuju tempat rias masing-masing untuk melanjutkan adegan selanjutanya. Namun, ketika adegan baru segera dimulai tatapanku tak bisa fokus, rasanya semua yang aku lihat sedang berputar tak karuan seketika aku terjatuh dan tak sadarkan diri. Ketika terbangun terlihat dua orang perawat, dokter juga dua asisten kru syutingku. Tak banyak yang kuingat apa yang mereka katakan, hanya perkataan dokter yang mengatakan padaku untuk lebih banyak istirahat dan jangan banyak pikiran, mendengar perkataan itu aku hanya bisa terdiam karena sudah keberapa ribu kali aku selalu mendapat saran seperti itu.

Perlahan dokter dan dua perawat meninggalkan ruangan, tersisa aku dan dua asisten kru syutingku. Mereka mengatakan syuting hari ini di undur terlebih dahulu, sutradara memintaku untuk memulihkan kembali kondisiku. Hari itupun aku dipulangkan, sesampainya dirumah bukannya membuat keadaan lebih baik justru sebaliknya. Belum juga masuk pintu rumah, sudah ada renteiner ayah yang baru saja keluar dari dalam rumah. Masuklah aku menuju rumah, kulihat pintu lemari yang sudah terbuka tak selaras, buku-buku yang sudah terbengkalai dan terbuang dari posisi sebelumnya, juga bentukan kasur yang berubah macam baru dicakar macan. Melihatnya sudah tak ada keterkejutan hanya saja kucoba menerka barang apa lagi yang kali ini menjadi tumbal. Ku tengok ke arah lawan, benar saja kali ini laptopku jadi sasaran.

Seketika tubuhku mulai tak kuat menyanggah, mataku mulai berapi-api, juga kepeningan dikepala memaksaku untuk istirahat sejenak. Terduduk merenung aku memikirkan, akankah kehidupan ini berakhir layaknya happy ending disebuah film. Bahkan aku tak bisa membedakan apakah aku sedang melakonkan sebuah adegan atau melakonkan sebuah kehidupan dimana tak ada yang tahu persis akhir dari skrip adegan. Terdiam aku membayangkan, seandainya aku tak menjadi bagian dalam skenario keluarga ini, mungkin aku tak perlu bertanya-tanya tentang bagaimana rasanya kebahagian. Tapi semua percuma, tak ada gunanya menyesali keadaan walau memang benar tak ada yang dibanggakan dalam kehidupan.

Bergegas aku membersihkan rumah sebelum mereka datang. Tak terasa kulihat langit mulai menggelap, mentari yang perlahan berubah menjadi senja mulai menghilang. Kusandarkan diriku ditelapak gepalan dinding teras rumah sambil terduduk lelah kuluruskan lutut dari kursi depan rumah. Karena terlalu lelahnya aku tertidur di teras rumah, seketika terdengar suara dobrakan pintu mengejutkanku.

“Hey hey hey, bangun!!! tidur terus kerjaanmu.” Wanita berbau alkohol itu melototiku. “Kau pasti bolos syutingkan?”

Terdiam aku tak menjawab pertanyaannya percuma saja wanita itu tak akan percaya walau kukatakan apa yang sebenarnya. Malam itu sama seperti malam-malam sebelumnya, wanita tua berbau alkohol itu membawa dua laki-laki berondong yang tak kukenal mungkin saja mereka langganan barunya.

“Cepat bersihkan kamar mama,” ujar wanita itu padaku.

Dibalik diamku Jauh didalam hati terdapat rasa malu dan benci yang sedang bersemayam dalam diriku. Mengapa mamaku berbeda, disaat para ibu diluar sana sedang menghabiskan waktunya berkasih sayang dengan buah hatinya berbeda dengan mamaku yang lebih nyaman menjalin kasih dengan lelaki orang.

Waktu semakin larut kulihati setiap sudut rumah tetangga yang mulai sunyi juga kehilangan cahaya lampunya, hanya rumahku yang masih tak ada bedanya kapan waktu siang juga kapan waktu malam. Berlalulalang para orang tak dikenal dari yang modelan berondong, tante, om, bahkan bencong semuanya pada nongkrong. Seketika ku masuk ke dalam kamar untuk menenangkan diri dari segala bejatnya kehidupan. Bersandar diatas kasur, menatap album foto kecilku yang sangat memprihatinkan. Waktu semakin malam, mata terasa sangat berat untuk dibuka namun pikiran sulit untuk diistirahatkan. Raga yang mulai lelah menghadapi realita yang ada, terbentur terbalik dengan pikiran yang selalu saja melayang-layang memikirkan tentang kelurga, keluarga dan keluarga. Rasanya seperti tak tahu apa yang harus aku lakukan, tak tahu tujuan apa yang aku kejar, bahkan aku juga tak tahu apa yang aku harapkan semua terlanjur basi untuk diimpikan. Semua pertanyaan itu selalu menggantayangiku hingga membuat pikiranku tak senada lagi dengan perintahku.

Kulihat jam dinding menunjukan pukul 12.15 malam, mungkin sudah waktunya orang normal untuk istirahat tapi berbeda dengan yang kurasakan, aku harus rela mengurangi jatah istirahatku, bagaimana tidak setiap kali aku kupejamkan mata selalu terdengar jeritan para wanita-wanita jalang yang sedang asyik dengan sodoran laki orang, suara bencong meminta keadilan kekuasaan, juga pecahan botol bir menambah bagaimana pesta maksiat itu dilakukan. Waktu semakin larut kudengar suara mesin motor ayah datang, aku terdiam dan menunggu umpatan apalagi yang malam ini akan ayah ucapkan.  Drrrrrrkkk...,k suara kaki menendang pintu ruang tamu.

“BABI...KELUARRRR,” teriak Ayah dengan keras.

Semua orang pun keluar termasuk mama, tiba-tiba mama datang menghampiri ayah dan seketika tamparan keras mama berikan pada ayah.

“Jalang, apa maksutmu?” ketus Ayah.

Mama marah, “Apa yang sudah kamu lakukan?” sahutnya, ”pelangganku hilang setan”

Ayah berkata, “Dasar tak tahu diri.”

Suasana semakin tak karuan, semua orang bergegas meninggalkan rumah kami tersisa aku mama dan ayah, dimana aku menyaksikan lagi pertengkaran antara mereka. Kusaksikan setiap tamparan ayah yang membuat bekas merah dikening mama, juga cakaran mama yang selalu membuat wajah ayah terluka. Mereka bertengkar tak tahu waktu, sudah biasa tetangga bangun malam-malam hanya untuk menyaksikan mereka berdua bertengkar. Sudah lelah kuingatkan mereka, bukannya berhenti mungkin aku juga dapat imbas ego mereka. Teringat ketika malam takbir menjelang hari raya, ayah dan mama bertengkar hebat hingga membuat pak RT datang. Para tetangga yang datang membantu untuk memisahkan, namun tetap saja tak mereka hiraukan, hingga tiba ketika kucoba untuk memisahkan mereka bukannya mendengar, mereka malah mendorongku hingga membuatku terjatuh dan terbentur ke siku lemari yang membuat kepalaku berdarah. Herannya, bukannya berhenti mereka tetap melanjutkan pertengkaran mereka dan tak menghiraukan kondisiku. Semenjak kejadian itu aku tidak pernah memisahkan mereka lagi, karena itu akan percuma.

Kudiamkan mereka hingga mereka merasa lelah dengan pertengkaran mereka sendiri. Kupaksakan mataku terpejam walau sebentar lagi mentari datang, kubiarkan telinga ini mendengarkan segala umpatan walau sebenarnya jauh didalam hati merasa teriris. Kubiarkan memori-memori ini berkelana dalam pikiran dan berharap agar mimpi indah segera datang. Dunia di mana aku bisa merasakan elusan kasih sayang seorang mama, pelukan tulus seorang ayah, dimana aku bisa menceritakan berbagai pahitnya kehidupan pada mereka dan mereka yang selalu berkata, “Tenang anak mama dan papa pasti bisa kok,” walau hanya sebuah dimensi khayalan, sejujurnya itu membuat diriku sedikit tenang walau harus bisa menerima kenyataan bahwa hari esok akan ada hari yang buruk lagi.

Keesokan paginya, kuterbangun dan melihat keadaan rumah berbeda dari biasanya. Seperti ada yang kurang namun tak bisa aku tangkap, ternyata segala barang dan perabotan rumah telah tak ada, hanya kulihat mama dan ayah yang sudah berdandan rapi dengan membawa tas masing-masing. Terheran aku memikirkan apa yang sebenarnya mereka lakukan dan apa yang sebenarnya terjadi.

“Bagaimana kamu sanggup tidak?” Mama menatap serius Ayah. “Aku pribadi gak bisa, tahu sendiri, kan?”

“Apa kau benar-benar yakin tidak sanggup?” tanya Ayah.

“Kamu pikir aku pura-pura,” jawab Mama.

“Sudah kubilang kita semua tidak sanggup, lebih baik dia bersama neneknya?” Ucap Ayah.

Jantungku berdetuk kencang, badanku terasa lemas, pikirku melayang entah kemana, hidupku mulai terambang tak tahu bagaimana kehidupan akan kulanjutkan. Hidupku bagai tak ada asa, jiwaku mulai kehilangan arah, hanya satu jalan yang bisa aku pikirkan mengakhiri skrip adegan dalam kehidupan ini walau dengan jalur yang salah.

TAMAT

 

 

Prakas Putra Setiawan,

Hai, matamu jangan lesuh mari berkenalan denganku, berikan kata untuk perkenalan kita, berikan rasa untuk jumpa kita.  Namaku Prakas, lahir di Banyuwangi sejak 22 Juli 2001, sedikit perkenalan dariku sisanya mari kita bertemu.

 

 

 

Pentingnya Desain Grafis di Era Digital I Kominfo

 IDENTITAS PENULIS

Divisi   : Kominfo

Jenis     : Artikel Populer

 

 

PENTINGNYA DESAIN GRAFIS DI ERA DIGITAL

Desain grafis merupakan bentuk komunikasi visual yang menggunakan gambar untuk menyampaikan informasi atau pesan dengan cara yang paling efektif. Dalam desain grafis, teks juga dianggap sebagai gambar karena termasuk hasil abstraksi dari simbol-simbol yang dapat berbunyi. Desain grafis diterapkan pada desain media dan seni. Seperti jenis desain lainnya, desain grafis bisa mengacu pada proses produksi, metode desain, produk yang dibuat atau bahkan prinsip yang dipakai.

Menjelajahi tujuan dan fungsi desain grafis juga dapat membantu untuk lebih memahami apa arti desain grafis. Desain grafis berarti menggunakan perangkat lunak pengolah grafis seperti Adobe Illustrator, Corel Draw dan Photoshop. Namun pada kenyataannya, aplikasi yang berbeda hanyalah alat yang digunakan untuk melakukan proses desain.

Prinsip Desain Grafis

1. Warna

Warna adalah elemen desain penting yang dapat menentukan suasana desain secara keseluruhan. Warna yang dipilih dapat mewakili merek dan maksud pesan. Jadi prinsip desainnya harus dipertimbangkan. Jangan sampai orang yang melihatnya salah paham. Sebagai desainer grafis, kita perlu mengetahui dasar-dasar teori warna. Misalnya: warna terang melambangkan kebahagiaan, biru melambangkan ketenangan, dan seterusnya.

2. Kontras

Kontras terjadi ketika ada perbedaan antara dua atau lebih elemen desain yang berlawanan. Kontras yang paling umum adalah hitam versus putih, gelap versus terang, besar versus kecil, tradisional versus modern, dan seterusnya. Prinsip ini dapat memandu pemirsa untuk dapat membaca atau melihat setiap aspek desain.

3. Keseimbangan

Keseimbangan atau balance menghadirkan struktur dan stabilitas pada keseluruhan desain. Terdapat kemungkinan bahwa bentuk, teks, dan gambar adalah elemen utama yang membentuk desain. Oleh karena itu, direkomendasikan untuk membiasakan memperhatikan bobot visual setiap elemen. Keseimbangan unsur-unsur tersebut tidak selalu sama ukurannya, tetapi lebih tepatnya menuju keseimbangan simetris dan asimetris. Keseimbangan simetris terjadi ketika bobot elemen didistribusikan secara merata di kedua sisi desain. Sedangkan, keseimbangan asimetris adalah penggunaan proporsi, kontras, dan warna untuk mencapai aliran dalam suatu desain.

4. Proximity

Proximity atau kedekatan membantu menciptakan hubungan antara elemen yang serupa atau saling bergantung. Elemen-elemen ini tidak perlu dikelompokkan, mereka harus ditautkan secara visual berdasarkan font, warna, ukuran, dan sebagainya.

5. Hierarki visual

Sederhananya, hierarki terbentuk ketika bobot visual tambahan diberikan pada elemen atau pesan terpenting dalam sebuah desain.

Hal ini dapat dicapai dengan berbagai cara, antara lain:

1. Gunakan font yang lebih besar atau tebal untuk judul.

2. Isi pesan utama ditempatkan di atas konten teks lainnya.

3. Beri fokus tajam ke gambar yang lebih besar, lebih detail, dan berwarna daripada gambar yang kurang relevan.

6. Tipografi

Tipografi adalah salah satu elemen desain utama dan dapat menciptakan identitas merek atau karya seni bila dilakukan dengan gaya khusus.

7. Penyelarasan (Alignment)

Alignment memainkan peran penting dalam menciptakan koneksi visual yang halus dan mulus antara elemen desain. Prinsip ini memberikan tampilan teratur pada bentuk, gambar, dan baris teks, menghilangkan elemen yang ditempatkan secara acak.

8. Repetisi (Pengulangan)

Pengulangan adalah elemen desain utama, terutama saat membuat desain bermerek. Pengulangan mengatur ritme dan memperkuat keseluruhan desain dengan menyatukan elemen kohesif seperti ikon, warna, dan font untuk membuat merek atau desain langsung dapat dikenali.

9. Ruang negative (negative space)

Ruang negatif mengacu pada area di sekitar elemen desain. Dengan kreativitas yang tepat, kita bisa menjadikan ruang negatif ini sebagai objek yang menonjol dalam desain yang kita buat.

Jobdesc utama seorang desainer grafis adalah memecahkan masalah untuk kebutuhan komunikasi visual. Seorang desainer grafis bukan hanya seseorang yang dapat menggunakan perangkat lunak grafik komputer. Seorang desainer tidak hanya harus mahir dalam menggambar pensil. Pada dasarnya seorang desainer grafis adalah perancang, pencipta dan penemu ide. Seorang desainer grafis bertanggung jawab untuk mengubah komunikasi verbal menjadi komunikasi visual agar pesan lebih mudah diterima dengan estetika dan visual yang lebih baik.

 

Perspektif I Ican Frida Ambami

 

IDENTITAS PENULIS

Nama : Ican Frida Ambami (Violinjuly)

Divisi : Kominfo

Jenis  : Cerita Pendek

 

 

PERSPEKTIF

- Februari, 2019

Banyak orang bilang kalau hasil itu tidak akan mengkhianati usaha, tapi…

Terhitung sudah dua bulan aku lontang-lantung memikirkan akan kuliah di mana nantinya. Tidak seperti siswa lain yang sibuk mencari Perguruan Tinggi Negeri favorit, aku sama sekali tidak tertarik untuk berkuliah. Lebih tepatnya, aku tidak terlalu ingin berkuliah di dalam negeri. Tidak, tentu saja mimpiku yang setinggi langit itu bukanlah hanya sebatas angan belaka. Jika boleh sombong, aku adalah siswi yang pintar dan juga cerdas. Selama tiga tahun berturut-turut aku mendapatkan gelar sebagai juara umum. Tidak hanya itu, aku aktif dalam mengikuti berbagai olimpiade, salah satunya Fisika.

Hai! Namaku Nara. Aku memang sudah mengenal dan mencintai Fisika sejak duduk di bangku SMP. Aku murni mencintai Fisika dengan hatiku. Pun aku tahu bahwa tidak sedikit orang yang membencinya. Bagiku, mendengar Archimedes bersorak “EUREKA!” saat setelah berendam dari bak mandi, itu sangat luar biasa. Atau melihat Blaise Pascal melubangi plastik yang berisi air dan kemudian lahirlah sebuah teori yang diberi nama ‘Hukum Pascal’. Para ilmuwan itu memang keren, kelak aku ingin menjadi salah satu dari mereka.

“Nara, bagaimana? Apakah kamu sudah memutuskan akan memilih apa untuk pilihan pertama di SNMPTN nanti?” tanya Bu Ida, seorang guru BK kesayangan kami.

“Belum Bu, saya masih harus mendiskusikannya terlebih dahulu dengan Bapak,” jawabku dengan penuh alasan.

Ya, sebetulnya bapak sama sekali tidak pernah mempermasalahkan tentang studiku, semua kendali ada di tanganku. Bapak hanya berpesan untuk sungguh-sungguh dalam belajar dan selalu menyelesaikan apa yang sudah aku mulai. Bapak memang begitu. Sejak kepergian ibu, bapak menjadi sosok yang sangat inspiratif dan selalu memotivasi. Kata-katanya bak hujan gerimis yang membasahi tanah gersang. Ya, selalu menyejukkan dan menghidupkan semangatku.

Aku ingat, saat itu Hari Kamis. Bapak pulang ke rumah dengan semangat sambil membawa selongsong koran. “Naraaa, coba lihat ini!” ucap bapak dengan penuh semangat. Headline berita di koran itu tertulis ‘Indonesia Emas, Tim Olimpiade Fisika Indonesia (TOFI) Meraih Medali Emas dan Perak pada International Physics Olimpiad (IPhO) 2016’. “TOFI? IPhO? Fisika? Maksudnya apa?” Aku yang saat itu baru saja duduk di bangku SMP, masih terdengar sangat asing tentang istilah pada berita tersebut. Sebagai rasa sayangku kepada bapak, aku hanya merespons dengan berpura-pura excited dan sama-sama memasang wajah sumringah.

Malam harinya, ntah kenapa aku tiba-tiba merasa kesulitan untuk tidur dan memutuskan untuk membaca-baca sejenak, “yah, siapa tau habis baca-baca bisa ngantuk” batinku saat itu. Tanpa sengaja mataku tertuju pada koran yang tergeletak di atas karpet, ternyata koran yang dibawa oleh bapak tadi. Kata demi kata, kalimat demi kalimat, hingga satu berita tentang TOFI dan IPhO’ itu aku lahap dalam sekali duduk. “Hmmm menarik, ini menarik sekali. Aku akan mencari tahu lebih banyak lagi tentang ini besok di sekolah,” gumamku setelah membaca berita tersebut.

Keesokan harinya, aku membawa koran tersebut ke perpustakaan sekolah. Kemudian tanpa sengaja, Pak Hanan, seorang guru IPA di sekolahku, menemukanku tengah mencari-cari sesuatu di rak kumpulam majalah sambil membawa koran.

“Apa yang sedang kamu cari, Nak?” tanya Pak Hanan.

“Saya sedang mencari apapun tentang ini Pak, ummm TOFI… IPhO… dan… Profesor Yohanes Surya.” jawabku dengan gugup.

“Wah, kebetulan sekali bapak tahu banyak tentang itu.” Pak Hanan menimpali.

Singkat cerita, aku dan Pak Hanan berdiskusi banyak mengenai Fisika, TOFI, IPhO, dan Profesor Yohanes Surya. Di akhir percakapan kami, Pak Hanan memimjamkanku dua buah novel serial. Novel ini terdiri atas bagian satu dan bagian dua. Pada halaman sampul novel tersebut tertulis ‘TOFI: Perburuan Bintang Sirius oleh Prof. Yohanes Surya’. “Sebentar, Prof. Yohanes Surya? Beliau menulis novel jugaaa?” gumamku dengan penuh rasa kagum.

Setelah berdiskusi banyak bersama Pak Hanan, aku langsung semangat untuk ‘menyantap’ novel tersebut sesaat sesampainya di kelas. Bahkan, saat dalam perjalanan menuju pulang ke rumah pun, sepasang bola mataku tidak bisa lepas dari tiap halamannya. Hanya membutuhkan waktu empat hari saja aku dapat menyelesaikan kedua novel tersebut. “Keren, sepertinya aku jatuh cinta. Aku jatuh cinta kepada sains” pikirku sesaat setelah selesai membaca kalimat terakhir pada halaman novel tersebut.

Semakin hari aku semakin menggila. Setiap hari aku pergi ke perpustakaan untuk membaca buku-buku karya Prof. Yohanes Surya. Kali ini bukan novel yang kubaca, melainkan buku pelajaran Matematika dan Fisika karya beliau. Baru pertama kali aku menemukan buku Matematika yang semenarik ini. Prof. Yohanes sangat dapat mengubah Matematika dan Fisika yang menyeramkan itu menjadi suatu hal yang asik dan menyenangkan.

Kala itu pun tiba. Sabtu, 14 Februari 2015 aku mengikuti olimpiade Fisika pertamaku. Setelah berjuang keras bergelut dengan soal-soal, pada akhirnya aku dapat membawa medali pertamaku. Memang bukan emas, tapi ini sangat cukup untuk dijadikan sebagai garis start sekaligus pemicu semangatku untuk mengikuti kompetisi berikutnya.

Tahun demi tahun berganti. Sudah berpuluh-puluh kompetisi kulalui, dan ini akan menjadi yang terakhir bagiku untuk mengkuti olimpiade di tingkat SMA. Olimpiade Sains Nasional 2018. Hal tersebut merupakan momen yang terpenting dan yang paling mendebarkan bagiku. Pasalnya, ini adalah kali pertama dan terakhir aku lolos ke tingkat Nasional. Jika aku berhasil mendapatkan medali, setidaknya aku bisa menggapai mimpi kecilku, menjadi salah satu dari Tim Olimpiade Fisika Indonesia dan mengikuti Olimpiade Fisika Internasional (IPhO). Ah, rasanya mimpiku hanya berjarak tiga sentimeter di depan mata.

Malam hari sebelum olimpiade dilaksanakan, aku yang sedang duduk-duduk di tangga asrama —kami yang lolos ke tingkat nasional harus menjalani karantina pelatihan khusus selama dua bulan di asrama— mendapat kabar bahwa ayahku tertabrak bajaj dan sedang kritis di rumah sakit. Tanpa berpikir panjang, aku bergegas meminta izin untuk pulang dan pergi ke rumah sakit menemui bapak. “Dheg!” ternyata bapak sedang mendapat perawatan di ruang ICU dan aku belum boleh bertemu bapak. Awalnya aku berniat untuk nekat mengikuti olimpiade esok hari dengan syarat minimal bapak sudah melewati masa kritis. Tapi ternyata, hingga pukul 7 pagi keesokan harinya pun belum ada kabar apa-apa dari dokter. Singkat cerita aku batal mengikuti olimpiade. Tapi di sisi lain, aku senang bapak masih hidup dan sehat sampai saat ini.

Bohong jika aku tidak merasa kesal. Puluhan kompetisi yang kuikuti, ribuan soal yang kukerjakan, ratusan malam yang kulewati untuk belajar, hingga ribuan liter keringat dan air mata yang aku tumpahkan, rasanya semua itu sia-sia. Aku masih sering berandai-andai. Pun bapak, tak jarang ia meminta maaf dan selalu merasa bersalah. Padahal aku tidak menyalahkan bapak sama sekali, aku terkadang hanya sedikit kecewa dengan alam. Mengapa waktunya selalu tidak tepat?

Bapak pernah berkata, “Nak, terkadang alam suka mendadak dan tidak terduga. Tapi kamu tidak boleh berpikir negatif kepada alam. Alam selalu penuh dengan rahasia, alam ingin kita bisa memaknai dari setiap kejadian yang ada”.  Yah begitulah bapak, selalu menjadi kutub positif bagi aku yang penuh dengan kenegatifan ini.

Hasil memang tidak akan mengkhianati usaha, tapi syarat dan ketentuan berlaku di sini. Kita tidak boleh lupa akan campur tangan Tuhan dan tentu saja alam yang super rahasia itu. Bagiku, sad ending atau happy ending itu tidak ada. Karena semua itu tergantung dari sudut mana kita memaknainya. Mungkin jika menurut Einstein, happy ending atau sad ending itu sifatnya relatif, setiap tokoh punya perspektifnya sendiri. Pun dengan kisahku, mungkin sebagian orang berpikir ini adalah akhir yang menyedihkan. Tapi bagiku, menemani dan merawat bapak dalam melewati masa kritisnya saat itu adalah hal terbaik. Karena aku hanya punya bapak dan bapak hanya punya aku. Kehadiranku saat itu tentunya sangat berpengaruh besar terhadap motivasi bapak untuk dapat sembuh. Alam bawah sadar bapak bekerja saat itu. Ikatan batin seorang bapak dan anak.

Yah, walaupun saat ini aku masih lontang-lantung dalam memutuskan keberlanjutan studiku, tapi setidaknya aku masih menyimpan satu rak penuh piagam penghargaan olimpiade Fisika juga mengantongi restu dan doa dari bapak untuk melanjutkan studi di mana pun itu. Jadi, menurutmu kemana aku harus mendaftar? UI? ITB? Ataukah Unej?

 

 

Jember, 10 November  2022

 

 

Senin, 26 Desember 2022

Seri I Dhita Nurul Fitri

 IDENTITAS PENULIS

Nama : Dhita Nurul Fitri

Divisi : Literasi

Jenis   : Cerita Pendek

 

SERI 

 

            “Aku tidak punya mimpi.”

            Mendengar kalimat itu aku terkejut. Aku tidak menyangka mendengar kalimat seperti itu dari seorang Tian. Tian adalah seorang teman yang sangat berbanding terbalik denganku. Dia terkenal, pintar, produktif, dia bersinar, dia disukai semua orang. Jika aku harus mendeskripsikan diriku, maka semua yang ada pada diriku adalah kebalikan dari Tian. Kubalas kalimat Tian dengan sarkas.

            “Kenapa bisa seseorang sepertimu tidak punya mimpi. Kau punya segalanya, bahkan mimpi bukanlah hal besar untukmu.”

            Tian memandangku bingung, sepertinya dia terkejut aku membalas perkatannya seperti itu. “Kalau begitu aku tanya, apa tujuan hidupmu Jamal?” Tian bertanya.

            Aku berpikir sejenak, “Tujuan hidupku adalah, hidup dengan baik, memiliki pekerjaan yang bagus, gaji yang cukup, bisa berkeluarga yang damai, menghabiskan masa tuaku dengan tenang, dan mati dengan damai,” aku memang menjawab seperti tapi sebenarnya itu bukanlah jawaban yang kupikirkan.

            Tian hanya menganggukan kepalanya seolah mengerti kemudian dia menjawab, “Tujuan hidup yang sederhana,” dia hanya menjawab satu kalimat itu kemudian terdiam. Sepertinya dia memikirkan sesuatu. Karena dia terdiam, aku juga mengajukan pertanyaan yang sama.

            “Lalu kau sendiri, apa tujuan hidupmu?” Tian tampak berpikir dalam, alisnya berkerut. Kemudian dia menjawab, “Aku hanya ingin hidup.” 

            Aku tertawa terbahak mendengar jawabannya. Jawaban yang benar-benar mengejutkan, aku merasa kita berdua memang cocok berteman. Tian di sampingku melihatku dengan terkejut. “Kenapa kau tertawa?” dia bertanya dengan polosnya. 

            Masih dengan sedikit sisa tawa aku menjawab, “Enggak-enggak, lucu aja. Seorang Tian, tujuan hidupnya adalah hanya ingin hidup. Bukannya itu terlalu simpel ya?”

            “Emang selama ini kamu liat aku sebagai orang yang kayak gimana, aku gak boleh punya tujuan hidup yang simpel gitu?”

            “Selama ini aku selalu liat kamu sebagai orang yang hidupnya keren, dan bakal punya impian atau tujuan hidup yang sama kerennya,” jawabku blak-blakan. 

            “Padahal aku juga sama kayak orang biasa,” Tian menjawab. Kami berdua sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikiran masing-masing. Tidak ada yang bersuara, menyadari hal itu aku berusaha untuk melanjutkan obrolan kita.

            “Kenapa tiba-tiba bahas mimpi sama tujuan hidup?”

            “Tadi aku gak sengaja denger, temen-temen cewek lagi bahas impian mereka, baru sadar kalau aku ternyata gak punya impian,” jawabnya. Kemudian Tian melanjutkan, “Makanya, aku kira kalau ngobrol sama kamu aku bisa tahu dan sadar tentang impianku. Tapi kayaknya percakapan kita gak menghasilkan jawaban yang aku cari,” dia sedikit mengeluh tentang hal itu.

            “Ya maaf deh,” aku hanya bisa minta maaf sederhana.

            “Tapi percakapan kita gak sepenuhnya gak ada artinya kok. Aku jadi tahu satu hal tentang kamu,” Tian mengucapkan itu dengan wajah yang sulit aku mengerti, tapi aku merasa telah membongkar rahasia ku padanya secara tidak sengaja.

            “Apa yang kau tahu?” aku tidak bisa tidak bertanya. Jantungku berdetak kencang menunggu jawaban Tian. 

            “Jamal, kau dan aku sama. Mungkin karena itulah kita bisa berteman,” setelah tersungging sebentar, dia meninggalkan ku dalam kebingungan. Sama? Apa persamaan dari kami berdua? 

***

            Haah. Aku tidak tahu sampai kapan aku bisa menghentikan ini. Sepertinya aku benar-benar sudah terbakar habis. Setumpuk abu tidak mungkin kembali jadi kayu bukan? Maka sepertinya aku juga sudah tidak bisa kembali menjadi manusia. Oh bukan! Aku hanya setengah manusia, karena fisikku masih sama seperti manusia. Srek. Sial! Kaget aku! Wah, bergerak. Masih punya semangat hidup rupanya. Pemandangan ini yang aku suka! Srat!

***

            Apa maksud dia sebenarnya? Sama? Apa persamaan diantara kita? Sial! Tian, kau benar-benar menyebalkan. Tidak cukup kau adalah seseorang yang mendapatkan semua perhatian dan bukannya aku. Sekarang kau juga mengusikku. Wajah menyebalkannya yang terkakhir kali kulihat, itu bukan ekspresi biasa. Aku yakin dia pasti tahu sesuatu…sesuatu…tidak mungkin kan. Haha, bagaimana bisa dia tahu hal itu. Tidak-tidak, dia tidak akan tahu! Lalu apa! Apa maksud senyum menyebalkannya itu! Dasar! Tian!

***

Pagi ini, ditemukan kembali seorang mayat wanita tanpa identitas. Mayat tersebut ditemukan mengapung di sungai oleh warga sekitar. Polisi yang datang ke TKP tidak dapat menemukan petunjuk lainnya selain tubuh korban yang diperkirakan sudah mengapung di sungai selama berhari-hari. Saat ini polisi masih terus mencari bukti-bukti yang diperlukan, dan polisi juga memperluas kemungkinan apakah mayat kali ini berhubungan dengan 3 mayat wanita yang ditemukan sebelumnya. 

***

            Aku harus menemui Tian hari ini, entah kenapa aku benar-benar tidak bisa tenang beberapa hari ini. Sepertinya rahasia terbesarku telah tidak sengaja kubuka. Tian sialan yang terlalu pintar itu menyadarinya. Aku yakin itu. Sial! Dimana dia? 30 menit sudah aku menunggu disini. Apakah dia tidak membaca pesan yang kukirimkan? Tidak biasanya dia terlambat.

            “Jamal!”

            Akhirnya dia datang. Aku berpaling kearah suaranya berasal. Wajah menyebalkannya tersenyum jahil. Dia tahu alasan aku memanggilnya tanpa harus kuberitahu. Bajingan! 

            “Apa yang mau kau bicarakan?” dia bertanya.

            “Kamu tahu kan?” tanyaku. 

            “Tahu apa?”

            “Kamu tahu tentangku kan! Enggak-enggak, kamu pasti menyadarinya kan! Cepat katakana padaku!” aku cengkram bagian atas kaosnya. Aku tidak sabar, aku berdebar, aku takut! Dia pasti tahu!

            “Wooh, santai dong. Gak usah emosi. Lepas dulu,” dia melepaskan tanganku dari kaosnya. “Kalau yang kau maksud tentang ‘itu’ ya tentu saja aku tahu. Mudah untuk membaca orang sepertimu Jamal.”

            Nafasku berat. Seluruh tubuhku bergetar. Aku…apa yang harus aku lakukan? A-aku, aku takut.

***

            Apa ini?! Ini menyenangkan! Tidak kusangka dia bergetar. Padahal selama ini aku menganggap dia lawan yang tangguh. Ternyata tidak lebih dari hanya seorang pengecut yang sedang coba-coba. Bagaimana jika aku memprovokasinya sedikit lagi?

***

            “Kenapa kau gemetar Jamal?”

            Aku tersadar dari ketakutanku. Tenang Jamal, aku tidak boleh membongkar yang lainnya juga. Aku harus ingat orang di depanmu ini adalah Tian. Bajingan menyebalkan. Kami saling bertatapan untuk waktu yang lama. Aku memikirkan segala cara untuk bisa balik melawannya. Apa? Apa? Kenapa aku tidak terpikirkan satu ide pun? Berpikirlah Jamal!

            “Kalau begitu, bukannya kau juga sama denganku dalam hal ini Tian?” aku menemukannya! Sesuatu yang bisa membuatnya goyah.

            “Hahaha!” apa?! Kenapa dia tertawa? Apakah ini tidak berhasil menggoyahkannya?

            “Aku sudah katakan padamu bukan, kita sama. Kau dan aku Jamal, kita sama. Tidak perlu kau coba-coba untuk menggoyahkanku dengan kalimat seperti itu. Dari awal aku memang mengakui kau dan aku sama, yang menolak justru kau kan?”

            Sial! Apa ini?! Dia tidak goyah. Lalu, apa ini artinya aku kalah?

            “Tenang Jamal, tenang. Kau tidak harus mengalah. Aku tahu kita ‘bersaing’ tapi kita tetap bisa bersaing secara sehat kan. Lagipula poin kita seri. Tidak harus ada pemenang diantara kita. Aku lebih suka kita seri, bukankah dengan itu tujuan hidup kita bisa tercapai?” 

            Bajingan tengik! Sialnya, semua perkatannya benar. “Kalau begitu, bagaimana kalau kita membuat tanda pada masing-masing ‘hasil’ kita? Mungkin sebuah kata atau kalimat yang diukir akan bagus,” aku menawarkan. Dia tersenyum puas. 

            “Bagus! Aku suka! Oleh sebab itulah kita berteman Jamal, hahaha! Baiklah, aku akan memilih hanya ingin hidup. Bagaimana denganmu?”

            “Aku akan memilih aku takut mati. Itu adalah ketakutanmu kan, Tian?” Tian terkejut. Bagus, walau sedikit aku harus bisa mengguncangnya. Dia tertawa lagi, mungkin dia senang dan terkejut aku bisa mengetahuinya. 

            Dengan ini, ‘persaingan’ kita berdua yang dilakukan secara sehat dimulai. Hanya Ingin Hidup, Aku Takut Mati akan terukir disetiap ‘hasil’ kami. 

***

Dalam dua bulan ini, kepolisian dan juga masyarakat dibuat gempar. Hanya dalam waktu dua bulan, wanita yang dibunuh dan dibuang identitasnya berjumlah 8 orang. Polisi dan aparat yang berwenang sedang berusaha keras untuk menyelesaikan masalah ini dan menangkap si pelaku. Polisi memperkirakan ini perbuatan dari dua orang, hanya saja polisi tidak mengumumkan bukti spesifik dari hipotesa tersebut karena bersifat rahasia. Tetapi berhasil menemukan sebuah petunjuk, bahwa bukti ekslusif itu berupa tulisan tentang hidup dan mati. Bagi para wanita di luar sana diharapkan berhati-hati terhadap lingkungan sekitar, dan jangan berkeliaran sendirian pada malam hari. 

***

            Aku hanya ingin hidup, aku takut untuk mati. Untuk itulah aku harus tetap bertahan hidup. Sesuai dengan prinsip hidup, membunuh atau dibunuh. Aku hanya bertahan hidup, yang kulakukan tidak salah. Apalagi ternyata, teman tersayangku juga memiliki tujuan yang sama denganku. Mungkin pada saatnya nanti hanya akan tersisa aku dan temanku. Mungkin pada saat itulah prinsip membunuh atau dibunuh bisa benar-benar aku terapkan dengan baik. Haha. 

 

 

 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...