Senin, 29 April 2024

SEKAR Edisi April 2024 | Sepotong Kue tuk Renjana Karya Aqilah

 Sepotong Kue tuk Renjana

Karya: Aqilah


    Malam terang. Langit mendung tersaput awan menandakan akan turunnya hujan. Seorang gadis manis berbaring di atas alas kardus. Renjana namanya, panggil saja Ren. Ia menatap langit yang sudah mulai gerimis. Dingin menusuk hingga ke tulang. Angin malam ini entah mengapa lebih dingin membelai rambut dibandingkan malam-malam sebelumnya. Di rumah kardus di atas sepetak tanah gadis manis itu hidup dengan sangat sederhana.

    “Ren.. Apa yang sedang kau pikirkan?”

    “Tidak ada.” Ren menjawab pendek tanpa memalingkan wajahnya. Terlihat wanita setengah baya dengan wajah yang menenangkan. Ia duduk membelai rambut gadis yang sedang berbaring di atas kardus itu. Wajah sendu mereka menatap rintik hujan yang mulai deras. Angin malam menusuk hingga ke tulang-tulang membuat bulu kuduk berdiri, kedinginan.

    “Ibu.. Kemarin aku melihat kue tart yang tidak begitu besar ukurannya terpajang di depan kaca sebuah toko kue dekat alun-alun kota. Warnanya yang cokelat menggiurkan dengan hiasan bunga yang menutupi bagian atas kue itu. Sepertinya kue itu sangat enak. Ingin sekali rasanya aku mencicipi meskipun secuil. Sungguh aku ingin memilikinya di hari ulang tahunku besok.” . Ia lalu terdiam, menunduk, menggigit bibir, memecah diam, ia mengatakan kalimat itu dengan ragu-ragu. Matanya berkaca-kaca, buliran bening berada di pelupuk mata memaksa keluar membasahi pipinya.

    “Sudahlah kau tenang saja. Kau tau kan ibumu ini bisa melakukan apa saja. Lihat saja, besok kau akan melihat kue tart itu tepat di depan matamu” Ibunya mengatakan dengan penuh kelembutan sambil membelai rambut lurus anak semata wayangnya itu, tersenyum. Sontak sebulir air mata bening Ren jatuh membasahi pipinya. Pelukan hangat menyelimuti tubuh kurusnya. Tenang sekali rasanya berada dalam pelukan seorang ibu yang begitu lembut. Aromanya yang khas sangat menenangkan membuat suasana hati tenang perlahan.

    “Ibu sudah sangat bahagia memiliki seorang anak gadis yang baik hatinya sepertimu, Ren. Kau harus ingat, belajarlah yang rajin. Ubahlah hidup kita ke arah yang lebih baik. Hanya dirimu harapan ibu. Ingatlah satu lagi bahwa Tuhan akan selalu menyertai hidup kita.” Perlahan tangis Ren pun mereda. Digantikan dengan matanya yang berbinar. Hatinya dipenuhi dengan harapan untuk membawa hidupnya lebih baik ke depan hingga ia tak perlu lagi hidup di rumah kardus yang sudah reot itu. Sungguh di balik senyum ibunya itu, dalam hati sang ibu selalu terbesit rasa bersalah terhadap anak gadisnya yang akan beranjak dewasa. Rasa bersalah selalu menghantui, apalagi ketika melihat anak gadisnya itu murung . Namun, ia selalu berusaha untuk tetap tegar dan memasang raut wajah yang menenangkan. Dengan sisa tenaga di umurnya yang sudah setengah baya itu, ia selalu berusaha untuk mengumpulkan pundi-pundi uang demi sesuap nasi. Terkadang jika ada rezeki ia mengumpulkannya di sebuah celengan ayam yang sudah memudar warnanya.

***

    Keesokan harinya, seperti biasa sepulang sekolah Ren langsung mengeluarkan ukulele kesayangannya sambil mendendangkan lagu dari bis ke bis, dari rumah ke rumah, dan ke tempat-tempat lainnya yang akan memberinya uang receh ataupun sepeser uang seribuan jika sedang beruntung. Dengan rambut dikuncir kuda dan topi yang selalu bertengger di kepalanya ia mulai bersenandung dengan merdu. Selalu terbesit di hatinya, mengapa ia terlahir seperti ini? Mengapa ia tidak bisa hidup nyaman seperti remaja lainnya? Apa Tuhan tidak sayang padanya?

    Tiba-tiba dari kejauhan teman sepantarannya, yaitu Elok berlari ke arah Ren sambil berteriak. Gadis pendek dengan rambut kribo itu berlari kencang hingga suaranya terdengar sayup-sayup dari kejauhan

    “Ren!!! Astaga!!! Ini gawat sekali. Ibumu... Ibumu tertabrak mobil, Ren! Cepatlah kau pergi ke alun-alun, banyak orang yang sudah mengerubungi!” kata Elok dengan napas yang masih terengah-engah berusaha menyampaikan kabar tersebut kepada Ren. Bak ditikam benda tumpul. Dadanya tiba-tiba sesak mendengar apa yang telah Elok katakan. Ia terdiam mematung. Air matanya sudah memenuhi pelupuk. Segera ia berlari menuju alun-alun kota. Tetes demi tetes air matanya mulai mengalir membasahi pipinya. Sesampainya Ren di tempat kejadian, ia langsung berlari menerobos kerumunan orang yang mengerubungi ibunya. Ren jatuh terduduk, tidak percaya dengan apa yang terjadi di depannya. Sang ibu menatap nanar wajah Ren yang lusuh, peluh dan air mata menyatu membasahi wajah manisnya itu.

    “Ren... Lihatkan? Ibu bisa membelikanmu kue tart ini. Selamat ulang tahun, Renjana.” Sang ibu berusaha untuk mengatakan kalimat-kalimat terakhirnya untuk Ren sambil menunjukkan kue tart yang baru dibelinya dari uang celengan ayam miliknya. Meskipun napasnya mulai tersendat-sendat, ia tetap tersenyum.

    Ren hanya mampu terdiam, menunduk. Disekanya wajah sang ibu yang dipenuhi darah. Tidak. Bukan ini yang dia inginkan. Bukan sepotong kue itu yang ia inginkan sekarang. Dia hanya ingin sang ibu. Jika malaikatnya itu meninggalkan Ren sendiri, lalu siapa yang akan menerangi kehidupannya yang begitu terjal ini? Sungguh, semuanya sudah terlambat. Perlahan-lahan sang ibu mulai menutup mata, menatap Ren untuk terakhir kalinya. Ya, malaikatnya itu akan pergi, selamanya. Meninggalkan Ren sendiri.

    “Ibu, tolong jangan tutup matamu! Tataplah mataku! Tolong jangan tinggalkan aku sendiri. Sungguh aku tidak tau harus berbuat apa.” Air matanya semakin deras tak terbendung. Dia hanya bisa menangis menghadapi kejadian yang tak pernah terbayangkan ini. Genggaman tangan ibunya mulai lemas, menandakan sang ibu sudah pergi. Sepotong kue tart lengkap dengan lilinnya tergeletak di sebelah sang ibu. Itu kue yang Ren inginkan untuk ulang tahunnya kali ini.

***

    Bulan purnama menggantung di angkasa. Langit mulai berkabut berusaha menutupi cerahnya rembulan. Senyap? Tidak juga. Guntur mulai bersautan menandakan akan turunnya hujan malam ini. Masih teringat kata-kata sang ibu kemarin lusa di suasana yang sama. Muncullah secercah harapan dalam hati Ren untuk mengubah nasibnya yang begitu malang ini. Ditatapnya foto sang ibu, sebentar ia terpekur menatap foto lama itu. Menelan ludah, lantas menarik napas panjang sekali. Perlahan ia tersenyum, mengikhlaskan semua yang terjadi.

    “Aku berjanji akan bangkit dan menjadi seorang yang sukses. Aku yakin Tuhan dan Ibuku selalu menyertai.” Ia percaya jika suatu saat nanti ia akan bersimpuh, bercerita di pusara ibunya, bahwa janji yang dibuatnya malam ini di tengah gerimis dengan rembulan yang mulai tertutup kabut telah tercapai.

SEKAR Edisi April 2024 | The Night is Still Young dan Polaroid di Dinding Kamar Karya Rani Kurnia Fadhillah

 The Night is Still Young dan Polaroid di Dinding Kamar

Karya: Rani Kurnia Fadhillah


Kau berjalan ke kasurmu dan langsung merebahkan diri setelah memutar ‘1 jam the night is still young’ di YouTube. Biasanya, setelah melewati hari yang panjang dan melelahkan, kau akan melakukan kesukaanmu, entah melanjutkan novel yang ingin kau selesaikan, menonton film yang ada di daftar panjang to be watch- mu, melanjutkan serial TV favoritmu, atau menonton anime. Biasanya, kau akan melakukan hal tadi sambil ditemani secangkir kopi dan makanan manis. Itu adalah hal wajib. Hal-hal tadi adalah sesuatu yang membuatmu bahagia, hal-hal yang suka kau lakukan sebelum melanjutkan realita kehidupan perkuliahan. Memikirkan tentang kemungkinan apa saja yang akan kau lakukan di kos nanti membuatmu bersemangat. Tapi, kali ini berbeda. Begitu sampai kos, kau merasa tidak ingin melakukan apapun. Bahkan, mata pun menolak untuk tidur walau tahu tubuhmu sangat lelah.

Kau pun membuka laptop di atas mejamu, ke halaman YouTube, memutar lagu itu, mematikan lampu utama dan menyalakan lampu-lampu kecil yang warnanya biru dan putih itu. Begitu di kasur, kau mencoba lagi untuk tertidur. Tapi kau tidak bisa. Akhirnya kau membuka mata, dan matamu langsung tertuju pada polaroid yang terpajang tepat di dinding depan kasurmu. Dengan lampu yang berkelap kelip di sekitarnya, dinding itu tampak cantik di matamu. Foto keluarga, teman-temanmu, karakter-karakter favoritmu, bahkan quotes favoritmu, semua terpajang rapi di sana. Beberapa gambar membuatmu bernostalgia akan masa kecil dan masa remaja yang kau habiskan di kampung halamanmu.

Pertama, kau tertuju pada gambarmu bersama kedua orang tuamu saat mereka mengantarmu di bandara. Kau teringat dirimu yang suka bercerita ke ibumu, dan bagaimana ibumu pun juga suka membicarakan apapun kepadamu. Kau teringat masa kecilmu yang sering pergi ikut ayahmu bekerja, ayahmu yang sering mengajakmu menonton bola, ayahmu yang pertama kali mengajarimu bermain bulu tangkis.

Kau mengalihkan pandangan ke foto adik-adikmu. Kau teringat sering memarahi mereka. Sekarang, kau bertanya-tanya apakah mereka merindukanmu, apakah mereka senang bahwa tidak ada lagi yang setiap hari mengomeli mereka. Memikirkan hal ini membuatmu tersenyum tipis walau juga dibarengi dengan sedikit perasaan menyesal karena terlalu galak pada mereka.

Sekarang kau mengalihkan pandangan ke foto bersama teman-teman SMP mu. Masih teringat betul dengan jelas di ingatanmu bagaimana masa itu adalah pertama kalinya kau benar-benar merasakan ketatnya persaingan akademik. Kau berusaha keras untuk tidak tertinggal dari teman-temanmu yang berotak bagus itu. Namun kemudian kau teringat, meskipun mereka adalah orang-orang yang sangat mementingkan pendidikan, mereka tahu bagaimana caranya bersenang-senang. Kau pun menikmatinya, bersenang-senang dan banyak membuat kenangan bersama mereka. Siapa sangka, pertemanan itu masih bertahan sampai sekarang. Terkadang, mengetahui mereka yang berusaha keras dalam jalan yang mereka pilih sekarang membuatmu semakin termotivasi. Kau mengagumi mereka.

Mengingat masa SMP, tentunya kau akan teringat dengan teman lamamu itu—yang kau sayangi dan yang kau rindukan. Kau teringat betapa dulu kalian sangatlah dekat, namun sekarang sudah tidak pernah berhubungan lagi. Kau bertanya-tanya dari mana semuanya bermula. Kau bertanya-tanya apakah kau sudah berusaha cukup keras untuk tetap berhubungan dengannya. Tapi kemudian kau teringat bahwa kau sudah melakukan semua yang kau bisa, namun rasa-rasanya, dialah yang memilih untuk menjauh. Lambat laun, kau mulai merasa kau tidak diinginkan. Dia terasa semakin jauh. Kau pun berhenti juga untuk meraih teman itu lagi. Dan benar saja, dia pun tidak pernah penasaran akan bagaimana kabarmu. Kau dulu pernah bertanya-tanya “apakah aku masalahnya?”, “apa yang salah denganku?”, dan “apakah selama ini hanya aku yang menganggap kita bersahabat?” Namun seiring berjalannya waktu, kau tahu bahwa itu hanyalah bagian dari siklus hidup. Tidak ada yang salah di sini. Dan tidak peduli seberapa kecewanya engkau pada temanmu itu, kenangan indah tentang kalian di masa lalu benar-benar membuatmu bahagia dan bersyukur. Jadi, kau pun memutuskan untuk menerima dengan hati yang lapang. Kau hanya akan menyimpannya sebagai kenangan baik dihatimu, teman berharga yang pernah kau miliki. Sekarang jika mengingatnya, sudah tidak ada lagi amarah.

Tentang masa SMA, tidak banyak kenangan dari situ. Namun kau mengingat bahwa kau sangat bersyukur mendapat dua teman lagi sebelum lulus. Kau bersyukur bertemu mereka yang membuatmu nyaman. Terkadang, kalian merasa lucu memikirkan bagaimana kalian bisa menjadi teman. Semua memang terasa tiba-tiba.

Bernostalgia diakhiri dengan melihat gambarmu bersama sepupumu. Umur kalian hanya terpaut beberapa bulan, namun dia memanggilmu kakak. Lebih dari seorang adik, kau tahu dia adalah teman masa kecilmu, dan sahabatmu. Kau teringat bagaimana kalian sewaktu kecil suka bermain di rumah nenek kalian di kampung terpencil. Bersama dia, kalian melalui kesulitan tinggal di kampung dan itu adalah kenangan yang sangat berarti buatmu. Sekarang setelah dipikirkan, hubungan kalian terasa berbeda. Kalian sekarang sibuk dengan jalan masing-masing yang kalian pilih. Kau merasa senang sekaligus cemburu karena dia yang memiliki banyak teman dan terlihat lebih bahagia bersama mereka. Tapi, lagi-lagi, kau mengerti bahwa itulah siklus hidup. Terkadang, kau memang merasa sedih akan kenyataan itu, tapi kau menerima.

Sambil tersenyum kau mengatakan “can’t believe childhood is over.

Setelahnya, kau sadar bahwa sebenarnya kau telah melalui banyak hal sedari kau kecil. Sekarang setelah diingat lagi, kau merasa bangga dengan bagaimana caramu menyikapinya.

Sejenak kau berpikir “Ah! Lagu ini mendukung suasana ini.”

Puas bernostalgia, kini kau merasa kau akhirnya bisa tertidur. Kau pun tertidur dan tak lama setelahnya, lagu itu juga berhenti berputar.

SEKAR Edisi April 2024 | Ingatlah Hari Itu Karya Cindy Putri Intanari

Ingatlah Hari Itu

Karya: Cindy Putri Intanari


Keindahan cahaya rembulan

Kupandangi penuh perasaan

Pikiranku pun melayang

Masa lalu selalu terbayang

Ku coba ingin hentikan

Ku coba ingin melupakan


Kisah romansa di sekolah

Membuatku gundah dan gelisah

Bisikan rindu tanpa arah

Bertahan membawaku lelah

Tak lama, aku pun menyerah

Walau hatiku sakit tak berdarah

SEKAR Edisi April 2024 | Bisikan perpisahan. Karya Afifah Citra Pratama

 Bisikan perpisahan.

Karya: Afifah Citra Pratama


Adalah sorak ajakan yang kudengar dari gelegar petir

Mengundang untuk bermain, membiarkanku lupa akan rasa getir

Rasanya menyenangkan, aku terlena


Hingga, hujan menampar ku kembali sadar

Tak ada yang benar-benar tinggal

Mereka hanya singgah, sebentar


Sedang aku,

Terus berdiri meratapi sepi, di tengah ricuhnya teriakan-teriakan hati

Tangis-tawa, dan canda-duka berebut melintas tanpa kata

Aku di sini, sendiri, tetap menanti pelangi yang takan pernah kembali.


2020

SEKAR Edisi April 2024 | Kupu-Kupu yang Bersinar Karya Nasya Falasarika

 Kupu-Kupu yang Bersinar

Karya: Nasya Falasarika


    Nara adalah seorang mahasiswi kupu-kupu, begitu mereka menyebutnya. Kegiatan yang Nara lalui hanya pergi ke kampus lalu pulang ke kosnya. Sudah hampir tiga bulan kegiatan itu ia lakukan. Namun, akhir-akhir ini, ia mulai merasakan sesuatu, suatu perasaan yang tidak nyaman dan membuatnya sulit tidur di malam hari.

    Bosan, muak, dan terasingkan. Di kelas, ia hanya menerima materi dari presentasi temannya, ia adalah orang yang tidak akan bertanya walaupun ia tidak paham, kecuali sang dosen menunjuknya. Nara pemalu, ia selalu berlindung di balik kata itu, namun setelah ia melakukannya selama hampir tiga bulan, ia mulai muak akan perasaan dan perilakunya. Ia muak karena ia tidak aktif saat pembelajaran kelas, karena ia pikir orang lain akan mengejeknya, ia muak harus selalu memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentangnya, ia muak karena tubuhnya selalu bergetar hebat saat berpikir untuk mengacungkan tangan dan mengajukan pertanyaan. Ia muak kepada dirinya yang seperti itu. Karena hal itu, ia sulit mendapat teman kelompok sehingga selalu berakhir mengerjakan tugas kelompok sendirian.

    Ia juga merasa diasingkan oleh teman-temannya karena ia tidak pernah ikut kepanitiaan ataupun kegiatan-kegiatan yang diikuti oleh kelasnya. Awalnya, ia menyangkal bahwa ia diasingkan dan tidak ditemani, namun, akhirnya ia menyadari bahwa mereka memang melakukannya.

    Nara mulai berpikir, ia menelusuri kegiatannya sehari-hari dari sejak pertama kali menjadi mahasiswi hingga hampir tiga bulan lamanya. Lalu, ketika akhirnya ia genap tiga bulan menjadi mahasiswi. Ia pun dapat menarik kesimpulan, bahwa yang dilakukan orang-orang di sekitarnya adalah karena apa yang ia pikir dan apa yang ia lakukan. Ia menarik diri dari teman-temannya, maka dari itu mereka menjadi sungkan untuk mengajaknya. Nara juga tidak sekalipun merespon chat grup apabila ditanya oleh ketua kelas terkait keikutsertaan dalam kegiatan ataupun kepanitiaan. Ia menelan kenyataan itu dengan pahit, ia menyadari bahwa semua hal yang terjadi kepadanya adalah karena dirinya sendiri, ia terlalu berpikiran buruk kepada temannya, ia terlalu pesimis pada kemampuannya, ia juga tidak mau membuka diri dan berteman dengan yang lain, dan inilah akibatnya, inilah hasil dari yang ia tanam.

    Sejak itu, Nara memutuskan untuk mulai memperbaiki diri dengan mencoba untuk aktif di kelas, ia bertanya dan memberi feedback saat ada temannya yang sedang presentasi, walaupun pada awalnya tubuhnya bergetar hebat dan menyebabkan suaranya ikut bergetar. Nara juga mulai aktif di grup kelas dan membalas ajakan dari ketua kelas, ia pun mulai membuka diri dan bertegur sapa dengan teman sekelasnya. Bulan ke-empat berhasil ia lewati tanpa hambatan, di bulan ini ia merasakan banyak sekali perubahan, dari yang awalnya tidak memiliki teman lalu sekarang memiliki sahabat. Puncaknya di bulan ke-lima, ia memberanikan diri unutk ikut kepanitian dan unit kegiatan mahasiswa yang ia minati. Dari situ, Nara jadi mengenal banyak orang dari program studi bahkan fakultas lain. Ia menjadi seseorang yang tidak lagi gugup saat harus berkenalan dan menyatakan pendapatnya di muka umum. Nara menyukai kehidupannya saat ini, ia merasa sangat bahagia karena kini, ia memiliki teman-teman yang baik, ia meraih nilai yang memuaskan, bahkan ia berhasil memperoleh beasiswa penuh selama delapan semester. Sungguh, Nara tidak pernah membayangkan dan tidak sekalipun pernah bermimpi untuk menjadi orang yang setiap pulang ke kos selalu ada yang menyapa dan mengajaknya pulang bersama, setiap kali tugas kelompok akan ada banyak kelompok yang mengajaknya bergabung, setiap kali ada pendaftaran kepanitian, namanya akan selalu menjadi yang pertama di tag di grup kelas oleh ketua kelasnya. Di balik itu semua, Nara sangat bersyukur ia mampu keluar dari zona nyamannya, ia mampu melawan egonya, ia juga mampu mengendalikan diri untuk tidak terjerumus ke dalam hal-hal yang merugikan.

    Beralih ke masa kini, saat ini Nara tengah nongkrong di kafe dengan sahabatnya, Tari. Tari adalah orang pertama yang menyadari perubahan Nara, dan ia juga orang pertama yang mengajak Nara untuk bergabung dengan kelompoknya. Tari juga selalu menjadi penyemangat dan tempat berkeluh kesah tentang masalah yang Nara hadapi, dan Nara menjadi yakin bahwa Tuhan mengirim malaikat baik hati ini untuk menemaninya melalui kehidupan perkuliahannya.


Tamat

SEKAR Edisi April 2024 | RATAPAN SENJA Karya Mohammad Ainul Yaqin

 RATAPAN SENJA

Karya: Mohammad Ainul Yaqin


Di ufuk barat, senja merona,

Warna-warni langit, indah berona.

Angin lembut berbisik, merayu,

Menyapa bumi, sebelum malam tiba.

Gemintang tersenyum, menghiasi langit,

Memandang bumi dengan tatapan lembut.

Pohon-pohon bergoyang, merasakan kelembutan,

Menyambut senja dengan cinta yang tulus.


Teriring doa di senja yang damai,

Semoga esok kan datang dengan ceria.

Namun, di hati tetap tersimpan kenangan,

Senja, kau abadi dalam ingatan.

SEKAR Edisi April 2024 | INSTRUMEN DUKA YANG BERDENTING Karya Intan Suci N. S.


INSTRUMEN DUKA YANG BERDENTING

Karya: Intan Suci N. S.


Kupetik renjana berwarna kelabu

Kuminum dukanya yang mengerat kalbu

Malam yang redam,langit yang diam

Kusuguhkan secangkir dama untuk sekedar sapa

Tapi apa?

Kau hunuskan lenggana berteman mala

Aksaku tak lagi menangkap senyumnya

Tiada cela yang hadir dalam logika

Bagiku kau tercipta sempurna

Tiada penyesalan dalam setiap keputusan

Karena mencintaimu, adalah patah hati yang paling kurindukan

Segenap pengharapanku telah usang tertikam waktu

Tergulung ombak yang menerpa

Perahuku kandas ditengah karang yang lenggana melihatku berlayar bebas

SEKAR Edisi April 2024 | Sang Bintang dan Monolognya Karya Diva Asadia

 Sang Bintang dan Monolognya

Karya: Diva Asadia


“Apa cantiknya diriku?” Sang bintang bertanya. Namun hanya sunyi senyap yang jadi jawabnya. “Sinarku ini, cukup terangkah ia?” Sang Bintang mengedarkan pandangan ke luasnya angkasa lepas, mencari jawaban atas pertanyaan yang tak kunjung ia temukan jawabannya.

Matanya lantas terpaku kepada Sang Bulan, permata angkasa yang cahayanya diberikan langsung oleh Matahari. Pikirannya berkelana, pantaskah ia bersanding dengan sang mentari malam? Pantaskah ia berada di sini? “Aku hanya setitik cahaya kecil, yang bahkan alasan keberadaanku sendiri pun aku tidak tahu.” Monolognya menggaung pada luasnya angkasa lepas. Membangunkan Sang Langit yang lantas tersenyum kepadanya.

“Kau tahu,” sapa Sang Langit, “Dirimu pantas.”

Sang Langit lantas melanjutkan.

“Cahaya yang sinarnya benderang—yang kau dapat bukan dari siapapun tapi dirimu sendiri, sudah lebih dari cukup untuk membuat dirimu pantas. Konstelasimu juga cantik. Sangat cantik. Lalu apalagi yang kau khawatirkan, Bintangku?” 

Sang Bintang masih termangu diam. Sang Langit lantas mengucap kalimat yang membuat Sang Bintang akhirnya menemukan jawaban atas semua pertanyaan dalam monolognya. “Kau tahu, Bintangku?” Sang Bintang mengangkat kepalanya ragu. “Seluruh semesta tidak perlu tahu apa yang kuucapkan tadi untukmu mengerti betapa cantik dan indahnya dirimu.”

Setelahnya, untuk sepanjang malam, Sang Bintang memeluk erat pekatnya langit malam dengan kerlapnya yang sebelumnya sempat redup, tapi—terima kasih kepada Sang Langit—itu tidak padam. Dan tidak akan pernah padam.

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...