ANTOLOGI ULASAN BUKU FIKSI SEJARAH-POLITIK: RUAS #2
RUAS (Ruang Ulas) merupakan salah satu program kerja Sahabat Perpustakaan 2025, divisi Kajian dnan Pengembangan Literasi. Kegiatan ini menyediakan ruang diskusi bagi pecinta baca khususnya mengenai buku fiksi, dan`dapat dihadiri oleh seluruh civitas akademika Universitas Jember. Telah dilaksanakan sebelumnya pada bulan Mei. Kali ini, RUAS #2 telah terlaksana pada tanggal 20 September 2025, dengan tema buku fiksi sejarah-politik. Berikut transkip ulasan buku yang telah ditulis oleh peserta RUAS #2.
Ulasan novel Malam Terakhir karya Leila S. Chudori oleh Atiya
Atiya Num’atul Salsabila, mahasiswa FIB Universitas Jember sekaligus angggota SP 2025. Menulis ulasan mengenai buku Malam Terakhir karya Leila S. Chudori. Ulasannya sebagai berikut.
Buku Malam Terakhir sangat kental akan nuansa politik. Hal itu dapat dilihat dari preminya yang bila disederhanakan; menceritakan tiga orang mahasiswa yang ditangkap oleh aparat karena melakukan aksi demontrasi. Ketiga mahasiswa tersebut merupakan seorang aktivis, sehingga memberi kesimpulan bahwa mereka ditangkap karena melawan pemerintah. Setelah ditangkap, ketiga mahasiswa tersebut mengalami penyiksaan, diceritakan dengan cukup detail sehingga mampu memberi gambaran kepada pembaca mengenai deritanya. Ketiganya disiksa, bahkan diperispkan untuk dieksekusi secara terbuka di depan umum.
Latar cerita yang digunakan tahun ’98, sehingga rasanya buku ini benar-benar bercerita mengenai kerusuhan yang terjadi pada tahun itu. Sebuah sejarah yang menghitami kalender Indonesia.
Ulasan novel Notasi karya Morra Quatro oleh Windy Aliffia
Windy Aliffia, mahasiswa Universitas Jember sekaligus anggota SP 2025. Memilih karya Morra Quatro berjudul Notasi untuk diulas. Ulasasannya sebagai beikut.
Novel Notasi berlatar tahun 1998, menceritakan percintaan Naila seorang mahasiswa kedokteran gigi dan Nino seorang mahasiswa teknik elektro. Namun, novel ini juga disisipkan peristiwa kelam Indonesia pada tahun 1998. Naila dan Nino bisa dekat karena adanya urusan mengenai bersaing memperebutkan suara pemilikan ketua BEM UGM di tengah peristiwa itu terjadi penembakan saat dilaksanakan suatu event dikarenakan menampilkan karya yang mengkritik pemerintah zaman orde baru yang menindas keadilan.
Ulasan cerpen Patriotism karya Yukio Mishima oleh Bakhtiyar
Bakhtiyar, mahasiswa Universitas Jember. Menulis ulasan tentang cerita pendek berjudul Patriotism karya penulis Jepang Yukio Mishima. Cerpen terbitan 1961 ini disukainya karena cerita yang ringkas sehingga dapat selesai dalam sekali duduk. Ulasannya sebagai berikut.
Cerpen Patriotism adalah bagian dari majalah musim dingin, sehingga cerita ini berlatar waktu bulan Februari tepatnya tahun 1936. Menceritakan tentang Lieutenant Shinji Takeyama Yubo, seseorang yang baru menikah dengan pujaan hatinya, Reiko. Diceritakan bahwa sang tokoh utama, Shinji baru saja pulang di tengah gejolak pemerintahan Jepang. Latar politik memiliki peran penting dalam cerita ini, sehingga diberi gambaran lengkap oleh penulis. Pemerintahan terguncang di kala itu, bahkan ada indikasi kudeta dari militer ke pemerintah sipil. Shinji merupakan seorang tentara, disinilah konflik batin terjadi. Ia mengalami kebimbangan ketika teman-temannya di militer melakukan pemberontakan, berbanding terbalik dengan perasaannya yang ingin tetap setiap kepada pemerintah kala itu, sang Kaisar.
Cerpen ini dengan jelas menunjukkan kompleksitas batin seorang prajurit dalam gelombang politik yang memaksanya tunduk. Sebuah sudut pandang yang tidak banya ditemukan dalam cerita lain. Alur kompleks yang dibawakan dengan ringkas, sebuah refernsi bacaan yang menarik untuk memperluas sudut pandang pembaca.
Ulasan novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye oleh Aulia
Aulia Nur Azizah, mahasiswa Universitas Jember sekaligus anggota SP 2025. Memilih karya Tere Liye berjudul Negeri Para Bedebah untuk diulas. Ulasasannya sebagai beikut.
Novel ini menceritakan kisah penuh konflik tentang Thomas. Tokoh utama yag merupakan seorang konsultan keunangan, dikenal memiliki masa lalu yang kelam akibat terseret dalam masalah besar. Sebuah masalah yang juga melibatkan pamannya, Mr. Liem sang pemilik Bank Semesta. Pamannya dituduh melakukan peanggaran hukum, sehingga Thomas turut membantunya menyelesaikan menghadapi persoalan ini. Ia menghadapi polisi, politikus licik, dan mengetahui masalah besar di dunia perbankan. Thomas dituntut untuk berpikir cerdas dan menggunakan strategi yang tepat dalam misi menyelamatkan Bank Semesta yang hampir bankrut.
Masalah ekonomi yang diangkat sebagai pokok masalah menyebabkan aspek aspek lain turut memengaruhi jalan cerita, mulai dari politik, moral masyarakat, dan lainnya. Sebagaimana novel Tere Liye lainnya, novel ini memiliki banyak pesan moral yang disampaikan dari bagaimana tokoh bersikap. Cocok direkomendasikan bagi pembaca yang ingin bacaan bertema ekonomi-politik.
Ulasan novel Animal Farm karya George Orwell oleh Saffanah Salsabila
Saffanah Salsabila, mahasiswa Universitas Jember sekaligus anggota SP 2025. Memilih karya George Orwell berjudul Animal Farm untuk diulas. Ulasasannya sebagai beikut.
Novel ini menceritakan sebuah peternakan yang ingin memerdekakan dirinya sendiri dari kekuatan pak Jones. Mereka ingin berevolusi karena ingin menganggap semua binatang setara. Hingga akhirnya para pemimpin revolusi ini terlena dengan kekuasaan sehingga pemerintahan menjadi terani. Pada cerita ini karakter manusia seperti tidak dapatdibedakan mana yang manusia dan mana yang hewan.
Ulasan novel 1984 karya George Orwell oleh Erika Dwi Sabrina Putri
Erika Dwi Sabrina Putri, mahasiswa Universitas Jember sekaligus anggota SP 2025. Memilih karya George Orwell berjudul 1984 untuk diulas. Ulasasannya sebagai beikut.
Novel ini membahas mengenai lolalilariesme, yang mana digambarkan sebuah rezim mengendalikan setiap ospek kehidupan individu sampai pengendalian pemikiran setiap orang. Pemerintah (partai) menggunakan pengawasan tanpa henti, manipulasi psikologi sampai pada kekerasan fisik untuk mempertahankan kekuasaan mutlak. Orwell menunjukan bagaimana sebuah rezim bagaimana sebuah rezim dapat menghancurkan keanusiaan individu, memanipulasi kebenaran, dan menciptakan ketakutan sebagai alas kontrol.
Ulasan Novel Sam Kok (Cerita Tiga Negara) karya Luo Guanzhong
Taif Maharsyah, merupakan mahasiswa PBSI Universitas Jember. Menulis ulasan mengenai buku berjudul Sam Kok (Cerita Tiga Negara). Buku terbitan tahun 2009 ini disukainya karena mengajarkan cara memahami manusia. Selain itu, buku ini juga memberikan cara pandang mengenai siasat, dedikasi dan ambisi. Ulasannya sebagai berikut.
Novel Sam Kok (Cerita Tiga Negara) karya Luo Guanzhong menampilkan tema besar tentang peralihan dinasti di Tiongkok, dari Xia, Shang, Qin, Han hingga Jin. Dalam novel ini memuat pandangan bahwa setiap kekuasaan selalu bergerak dalam siklus yang sama, yaitu raja yang awalnya bijak lambat laun menjadi tamak dan membawa keruntuhan. Bagian paling menarik adalah masa kejayaan dan kemunduran Dinasti Han, yang bermula dari Liu Bang lalu melemah hingga munculnya Pemberontakan Serban Kuning sebagai tanda runtuhnya wibawa istana. Dari kekacauan itu lahir perpecahan menjadi 16 negara yang kemudian berpusat pada tiga kerajaan besar, yaitu Wei di bawah Cao Cao, Wu di bawah keluarga Sun, dan Shu dengan Liu Bei sebagai simbol kebajikan. Novel ini tidak hanya mengisahkan tentang strategi perang, tetapi juga tentang loyalitas para pengikut seperti Guan Yu, Zhang Fei, dan Zhuge Liang yang menjadi kunci kekuatan Shu.
Ulasan Novel Habibie dan Ainun karya Bacharuddin Jusuf Habibie
Anggi Indriyani, mahasiswa Universitas Jember sekaligus anggota SP 2025. Anggi menulis ulasan mengenai novel Habibie dan Ainun. Buku terbitan tahun 2009 ini disukainya karena menceritakan persepsi politik secara manusiawi. Ulasannya sebagai berikut.
Novel Habibie dan Ainun, memuat pesan Habibi sangat penting dalam sejarah, terutama pada masa transisi dan orde baru menuju reformasi. Buku ini menjelaskan dan memperlihatkan sisi manusiawi seorang presiden dalam menghadapi dilema pengambilan keputusan besar, seperti kebebasan pers, hingga referendum Timor Timur.
Ulasan Novel Max Havellar karya Multatuli
Izzah, mahasiswa Fakultas Pertanian, Universitas Jember sekaligus anggota SP 2025. Buku terbitan tahun 1860 berjudul Max Havellar karya Multatuli dipilihnya untuk diulas. Ulasannya sebagai berikut.
Novel Max Havelaar karya Multatuli (nama pena Eduard Douwes Dekker) merupakan kritik tajam terhadap praktik kolonial Belanda di Hindia Belanda, khususnya terhadap sistem tanam paksa (1830–1870) yang menimbulkan penderitaan rakyat. Sebagai asisten residen di Lebak, Banten, Havelaar melihat langsung bagaimana rakyat diperas oleh pejabat pribumi yang bersekongkol dengan pemerintah kolonial, sementara orang-orang Eropa hidup nyaman tanpa memedulikan penderitaan yang mereka ciptakan. Melalui tokoh Havelaar, terlihat kondisi rakyat yang terjerat kemiskinan, kelaparan, dan kesengsaraan akibat penindasan tersebut. Havelaar sendiri menjadi saksi mata hingga mengundurkan diri dari jabatannya sebagai bentuk protes moral terhadap sistem yang korup. Novel ini meledak di Eropa, karena berhasil membuka mata dunia terhadap jurang lebar antara kemewahan kaum kolonial dengan penderitaan rakyat pada masa itu.
Ulasan buku Ill Principe karya Niccolo Machiavelli oleh Silivia
Silvia Lusiana adalah mahasiswa FISIP Universitas Jember. Menulis ulasan mengenai buku berjudul Ill Principe atau The Prince atau Sang Penguasa karya Niccolo Machiavelli. Sebuah buku fenomenal membahas tentang kekuasaan. Ulasannya sebagai berikut.
Ill Principe adalah buku non-fiksi membahas tentang bagaimana seharusnya kekuasaan itu dijalankan. Tidak hanya itu tapi juga menggambarkan realitas politik yang terjadi di dunia nyata. Realitas tajam membedakan antara apa yang dikatakan penguasa dan apa yang sebenernya dilakukan. Sang penulis, Machiavelli mengungkapkan bahwa politik bukanlah sekedar idealisme / moralitas, melainkan seni bertahan dan mempertahankan kekuasaan. Buku ini memberi contoh banyak kisah sejarah nyata, memberi ilustrasi konkret sehingga meskipun membahas hal yang berat, buku ini tetap menarik.
Sebuah buku yang mampu memberi pandangan kuat dalam pola pikir berpolitik. Kutipan yang populer dari buku ini adalah "it's better to be feared than loved, if u cannot be both".
Komentar
Posting Komentar