SEKAR Edisi Juni 2025 | Kamu Cukup, Selalu karya Aura Alfisyahrani

Kamu Cukup, Selalu

Karya Aura Alfisyahrani


Sinopsis

Ketika Bulan terbangun dalam tubuh Luna, ia menyadari satu kebenaran mengerikan. Kematiannya bukanlah akhir. Justru, itu adalah awal dari sebuah permainan takdir yang jauh lebih kejam— di mana pria yang ia kira mengkhianatinya ternyata mencintainya lebih dalam dari yang ia sangka. Tapi sekarang, dalam tubuh orang lain, bisakah ia menyelamatkan hubungan mereka... atau justru menghancurkannya  selamanya?.

Karya Lengkap

Kain tenun berwarna orange keemasan berlabuh indah di matanya. Warna yang selalu dirindukan, warna yang selalu menempati posisi teratas di hatinya. Digenggamnya salah satu sudut kaos oblong miliknya, kedua matanya terpejam hebat, sekian lama menggertakkan giginya membuat suara yang memekikkan telinga. Jantungnya berdentang keras, pembuluh darahnya hampir saja mencuat keluar dari pangkal lehernya. Hingga sedetik kemudian, angin menghembus dan menerbangkan topi baseballnya. Kegaduhannya terputus, dengan refleks mengulurkan tangan meraih topi yang hampir saja dicuri angin entah kemana. Barulah ia sadar, lantai 2 bangunan kosnya yang mangkrak disitulah ia berada.

5 Bulan berlalu sejak dua tokoh utama kita mengakhiri segala janji-janji manis kepada pasangannya, licik namun cerdik. Umumnya para pria hanya mampu mengucapkan janji-janji manis yang nantinya juga akan habis tertelan waktu. Namun berbeda dengannya, dengan lihai ia mengatakan, “Kita hapus semua janji-janji yang pernah ada di cerita kita. Kamu boleh mengingat cerita dan semua baik buruknya namun tidak dengan janji yang sudah diucapkan. Anggap semuanya hanya angin lalu”. Kejam, tetapi benar lebih baik begini.

Disinilah, korban dari janji yang hilang tersebut berada. Sudut kost bernuansa kuning cerah, menjadi saksi bahwa ada hati biru yang sedih mengangkat kedua kepalanya berat. Pukul 4 sore, dan kerongkongannya belum menyerap energi satupun setetes air pun tidak. Tubuhnya lemah, kepalanya berat. Banyak sekali memori-memori yang terputar tanpa henti di otaknya. Enggan pergi, dan enggan berhenti. Digigitnya sudut kiri bibir tebalnya, hentakan kaki juga beberapa kali melayang keras membuat sprei kasur berwarna merah itu hancur berantakan. Berjam-jam kondisinya hanya seperti itu, bak kapal tua yang enggan tenggelam karena lapuk diombang-ambing samudra.

-”atau mungkin kamu yang tak lagi cinta..”- Terdengar satu bait lagu milik penyanyi Indonesia diputar ratusan kali sejak ia bangun dari tidurnya.

Bulan, namanya. Perempuan dengan semangat juang tinggi, dan juga memiliki banyak hal konyol di otaknya. Namun babak cerita berujung beda. Siapa sangka sore ini ia menjadi perempuan yang merasa paling tersakiti. Hidup luntang-lantung di atas kasur merahnya, rambut acak-acakan, mata merah sembab, dan bibir plumpy akibat beberapa kali digigitnya dengan keras. Sejak satu minggu yang lalu, kondisinya begitu, tidak punya semangat hidup dan merasa menjadi manusia yang tidak pernah dicintai.

Waktupun berlalu, dengan sedikit usaha ia mencoba bangun dan menuju kamar di sebelahnya. Diketuknya pelan, yang kemudian langsung ia buka tanpa basa-basi. Tubuhnya segera merebah di kasur kamar itu, dihiraukannya pemilik kamar yang mengernyit kaget sekaligus heran.

“Gopud yuk, aku lapar banget”. Celetuknya seketika. Pemilik kamar yang sudah terbiasa dengan seluruh tingkah anehnya hanya menggeleng pelan sudah makan.

“Plis temenin aku sarapan..”, Mata penuh harapan diarahkannya ke pemilik kamar tersebut. Alhasil helaan maklum keluar dari mulut gadis dihadapannya. Mungkin, Bulan kembali ke rutinitas awalnya makan sehari sekali. Sekali lagi tolakan tegas diterima dengan paksa. Namun ternyata gadis ini menawarkan hal yang paling diinginkannya.

“Aku aduin dia ya, kalo kamu belum makan dari pagi!”. Ancamnya, gadis ini ternyata pintar dan cukup peka terhadap keinginan temannya. Bulan melonjak kaget, dan sedetik kemudian ia terduduk lemas, menggeleng penuh tekanan. Ego dan gengsinya cukup tinggi.

“Jangan ah, enggak bakal dijawab juga”, kepalanya tertunduk lesu. Gadis dihadapannya tersenyum tipis dan berusaha menyalurkan kata-kata semangat, tentu saja bukan hanya kata semangat yang ingin didengarnya. 

“Beneran kamu nggak mau nemenin aku makan? Balik aja aku mah kalo gitu”. Kakinya tertatih-tatih keluar dari kamar tersebut, ia beralih kembali ke istana miliknya kasur berwarna merah. Dilihatnya jam saat itu sudah menunjukkan pukul 10 malam lebih. Dan tentu saja tidak mungkin ia memesan makanan di malam hari seperti ini. Menurutnya lebih baik menghangatkan diri dengan selimut dan mendekap erat bantal di kepalanya, menghilangkan semua suara memori berisik yang tak pernah berhenti berputar.

Beberapa menit setelahnya, ia merasa tubuhnya berat dan mengambang. Jari jemari dan lengannya juga seperti diremas oleh banyak orang. Apa yang terjadi?

Ia membuka mata dan gemerlap cahaya memaksa masuk ke retinanya, sayup-sayup terdengar suara bersahut-sahutan mengatakan “Syukurlah..”. Dihadapannya banyak orang asing yang menunjukkan wajah sembab dan khawatir.

Komedi apa lagi yang sedang dihadapinya kali ini? Pikirnya kesal. Belum ada satu jam ia tertidur, dan saat ini banyak orang aneh yang khawatir seakan dia bagian dari sanak keturunannya. Bulan mengernyit heran, kepalanya masih terasa berat dan seluruh tubuhnya terasa sangat aneh. Salah satu dokter disana menyuruh semua orang aneh tadi keluar dari ruangan. Sekejap terdengar lebih banyak ocehan tidak terima dari orang-orang itu. Untungnya para perawat mampu mengkondisikan hal tersebut dengan baik. Tersisalah Bulan dan dokter sekitar kepala 3 di hadapannya.

“Permisi kak Luna, bagaimana kondisinya? Coba keluarkan suara terlebih dahulu”. Perintahnya. Bulan dengan hati-hati membuka mulutnya merasakan  bahwa kondisinya sangat mengkhawatirkan melihat dari ekspresi sang dokter. “Hai, salam kenal pak dokter?”, Ia terkejut dan heran dengan nada suaranya. Namun ekspresi dokter yang tersenyum puas, membuatnya lebih lega.

“Baik, bisa ceritakan apa yang saat ini kak Luna rasakan?”. Bulan termangu heran, Luna siapa yang dokter ini maksud? Namanya memang Bulan, tapi jika dipanggil Luna, bukankah terlalu keren? Wajah sang dokter masih tersenyum menunggu jawaban. Ia mulai goyah, tempat ini, kulit pada lengan, dan suara yang terdengar asing. Awalnya ia mengira mungkin ia sedang bermimpi, tapi entah mengapa semua terasa lebih jelas saat ini. Bukan suara cempreng yang biasa ia dengar keluar dari pita suaranya. Dan tubuh ini… bukanlah miliknya.

Dokter kepala tiga itu masih menunggu jawaban dengan setia, senyumnya tak luntur sedikitpun seperti berhadapan dengan anak kecil yang mengkhawatirkan. Bulan mencoba mencerna semuanya. Kemudian ia membuka suara, menjawab dengan kalimat yang tidak pernah dipikirkannya. “Aku baik-baik saja, pak dokter. Mungkin hanya pusing?”.

Lagi-lagi, suara yang keluar sangat lembut dan feminim, jauh berbeda dengan suaranya yang memekikkan telinga. Bulan panik. Apa yang terjadi? Kenapa aku di tubuh orang lain? Pikirnya. Tak sempat ia mengeluh, sang dokter langsung mengangguk puas dan mengambil langkah menjauhinya. Meninggalkan dirinya sendirian, kebingungan. Di sebelahnya terdapat tiang infus yang terbuat dari aluminium. dilihatnya pantulan bayangan perempuan dengan mata sayu, rambut hitam panjang, dengan kulit pucat.

Tiba-tiba, pintu terbuka. Seorang wanita paruh baya masuk dengan mata berkaca-kaca. “Luna, nak… Mama nggak mau kamu kaya gini lagi. Kamu harus hidup!”

Bulan hanya bisa terdiam. Luna nama itu sedari tadi selalu diucapkan kepadanya. Kenapa pula wanita ini menangis memohon dihadapannya?

Tidak berselang lama, kepalanya berdengung keras. Banyak ingatan yang mengalir deras layaknya air terjun yang menghujam batuan di bawahnya, sakit. Namun satu hal yang berhasil membuat Bulan terkejut. Luna, perempuan pemilik tubuh ini sedang mencoba mengakhiri hidupnya. Dan gilanya, keputusan itu diambil setelah seorang lelaki menolak cintanya. Lelaki yang sangat Bulan kenal sebelumnya, lelaki yang memutuskan mengakhiri dan menghapus semua janji-janji yang pernah diucapkannya.

Semuanya berakar saat komunikasi diantara Bulan dan Bintang mulai meredup. Bintang yang lebih mementingkan karir dan kerja kerasnya, memutuskan untuk mengakhiri semuanya. Tentu saja momen itu menjadi titik balik kebiasaan buruk Bulan mulai kembali. Ia tak terima, namun suaranya tercekat untuk menahan kepergian Bintang. Ketika ditanya mengapa akhirnya mereka menyerah? Mungkin karena salah satu dari mereka merasa tidak pantas, merasa kurang, dan merasa dapat tergantikan suatu waktu.

“Kamu itu cukup. Bahkan saat kamu tidak menjadi penyelamat atau pahlawan siapa-siapa. Bahkan saat kamu hanya duduk, sedih, tidak kuat, tidak lucu, tidak pintar- kamu tetap cukup, dari dulu selalu begitu”. Suara Bulan lemah dan gemetar. Ia tak sanggup untuk menahan sedih, gengsinya tinggi untuk meminta Bintang bertahan.

Lain hal dengan Luna, yang merupakan partner kerja dari Bintang. Luna kagum dengan seluruh kerja keras dan kejujurannya. Sejak mulai mengenalnya, Luna berkali-kali merasakan jatuh dan degupan jantung bertumbuk satu sama lain. Luna tahu, Bintang tidak sehebat itu. Ia tahu, lelaki yang kuat dengan mencoba segala hal sendirian itu tidaklah hebat. Berkali kali kemudian Luna meminta Bintang untuk menceritakan keluh kesah perjalanan hidupnya. Tentu saja gelengan tegas dan senyum tipis yang ia terima.

Merasa tak cukup dan sedikit kesal, suatu saat luna memaksanya dengan beberapa kalimat desakan. Dengan terpaksa, Bintang hanya mengatakan beberapa kalimat kecil.

“Aku bukan orang hebat, dan kamu tahu itu. Aku hanya laki-laki yang mencoba bertahan. Dan setiap kali aku hampir menyerah, aku teringat ada seseorang yang pernah mengatakan… ‘Kamu pantas disayang, bukan karena apa yang kamu berikan kepada orang lain, namun karena kamu ada.’ itulah yang menjadi pedomanku. Aku baik-baik saja, semoga kamu paham”. Keduanya terdiam. Bagi Luna, kalimat itu menjadi pisau yang mencincang habis ekspektasinya.

Namun, Luna bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Jika seratus kali ia ditolak, maka ia harus berusaha setidaknya seratus satu kali lagi. Hingga usaha yang keseratus duanya adalah, menelan obat nyamuk diam-diam di dalam kamarnya. Ia sadar, seberapa berusahanya dia untuk mendapatkan hati Bintang, ia takkan pernah menjadi seseorang yang mengatakan bahwa Bintang itu cukup, pertama kalinya.

 Hingga disinilah, takdir membuat candaan paling menyakitkan. Dua bulan setelah Bulan hidup sebagai Luna, Seorang pria yang sangat ingin ditemuinya, berdiri di depan pintu rumah Luna dengan wajah yang gugup. Dia terlihat lebih kurus, matanya lelah, tapi masih memancarkan keteguhan. Bulan dalam tubuh Luna melonjak kegirangan, dihampirinya ragu-ragu pria itu.

“Maaf Luna, aku hanya bisa melukaimu”, ujarnya pelan. Sesaat, Bulan ingin sekali berteriak mengatakan bahwa yang di hadapannya adalah perempuan yang pernah dibuatnya kecewa.

Ia masih memandang Bintang dengan sedikit rasa kesal, kecewa, dan gundah. Banyak hal yang ingin dikatakannya, namun yang terucap hanyalah satu bait kekhawatiran, “Kamu… masih mencintainya, ya?”

 yang pernah mengatakan aku cukup. Tapi aku tak pantas untuknya waktu itu. Sekarang… aku hanya bisa berharap dia bahagia di sana”. Sontak Bulan menangis, ia tahu bahwa orang yang selama ini ditunggunya sedang menatapnya dalam tubuh yang salah.

Sejak saat itu, Bulan di tubuh Luna, menggantikan kesehariannya. Bekerja dan menghabiskan waktu tertawa dengan partner kerja yang tidak pernah terpikirkannya. Selain itu, Bulan menjadi tahu bahwa Bintang mencarinya dan berusaha menghubunginya. Namun seperti dikhianati oleh waktu, kabar yang beredar mengenai Bulan sangat menyakitkan. Diduga Bulan mengalami serangan jantung saat dalam tidur. Hal itu pula yang membuat Bintang merasa kehilangan separuh jiwanya.

“Terkadang, aku merasa bahwa sikapmu mirip sepertinya”, tukas Bintang suatu saat. Rasanya ia tidak keberatan untuk bertukar cerita dan mengeluhkan banyak hal kepada Luna. Dalam konteks lain Luna adalah orang luar yang mungkin saja bisa mengkhianati kepercayaannya. Kembali pada Bulan dengan tubuh Luna, ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk kaku. Sudah beberapa kali Bintang mengatakan hal tersebut.

Bintang terdiam cukup lama, lalu menghela nafas. “Aku mencintai seseorang  yang pernah mengatakan aku cukup. Tapi aku tak pantas untuknya waktu itu. Sekarang… aku hanya bisa berharap dia bahagia di sana”. Sontak Bulan menangis, ia tahu bahwa orang yang selama ini ditunggunya sedang menatapnya dalam tubuh yang salah.

Sejak saat itu, Bulan di tubuh Luna, menggantikan kesehariannya. Bekerja dan menghabiskan waktu tertawa dengan partner kerja yang tidak pernah terpikirkannya. Selain itu, Bulan menjadi tahu bahwa Bintang mencarinya dan berusaha menghubunginya. Namun seperti dikhianati oleh waktu, kabar yang beredar mengenai Bulan sangat menyakitkan. Diduga Bulan mengalami serangan jantung saat dalam tidur. Hal itu pula yang membuat Bintang merasa kehilangan separuh jiwanya.

“Terkadang, aku merasa bahwa sikapmu mirip sepertinya”, tukas Bintang suatu saat. Rasanya ia tidak keberatan untuk bertukar cerita dan mengeluhkan banyak hal kepada Luna. Dalam konteks lain Luna adalah orang luar yang mungkin saja bisa mengkhianati kepercayaannya. Kembali pada Bulan dengan tubuh Luna, ia hanya tersenyum tipis dan mengangguk kaku. Sudah beberapa kali Bintang mengatakan hal tersebut.

“Tapi entah mengapa, aku kurang senang jika kamu selalu memujiku kuat. Seakan-akan kamu hanya menginginkan kekuatanku, dan jujur saja Bulan juga begitu- aku muak”. Ludah Bulan tercekat. Ia terkejut mendengar penuturan yang tidak pernah ada dalam kamusnya. Giginya gemeretak marah, dan satu hal yang dia katakan sebagai respon benar-benar membuatnya menyesal.

“Manusia itu makhluk sosial, kita saling membutuhkan. Jadi jika kamu bilang aku memanfaatkanmu karena selalu bergantung dan memujimu kuat, kamu salah besar. Ungkapan itu aku tunjukkan untuk kamu yang benar-benar kuat. Namun menjadi kuat juga bisa berakhir buruk. Karena itulah aku harap kamu bisa sedikit memberikan bebanmu dan menceritakan seluruh keluh kesahmu padaku.”

Keduanya sekali lagi terdiam. Mata Bintang membelalak tidak percaya.

“Bulan…”, satu kata yang muncul dari suara Bintang membuyarkan amarah Bulan. Ia melonjak kaget, dan tanpa sadar langsung pergi meninggalkan ruang kerja mereka berdua. Bintang pun begitu, ia segera mengejar perempuan yang kabur dari hadapannya.

Hingga di balik kantin kantor, Bulan tak sanggup lagi berlari Bintang berhasil menyusulnya. Dengan helaan nafas panjang, Bintang meraih kedua lengan Luna dan menatapnya lekat-lekat.

“Aku… aku tidak pernah bermaksud menyakiti siapa pun. Entah Bulan yang merasa aku sudah tidak mencintainya, maupun Luna yang merasa bahwa aku tidak akan pernah mencintainya”, suaranya parau. Matanya bergetar, hampir menangis.

“Aku masih mencintai Bulan, namun aku tidak cukup untuknya. Karena itu aku tidak berani menerima Luna”. Perkataan itu menusuk hati Bulan, rasanya bangga namun kecewa juga mendorong perlahan. Dengan paksaan ia tersenyum sebagai penenang.

“Kamu cukup. Bahkan disaat seperti ini. Selalu begitu dari dulu”. Suara Bulan tercekat. Nafasnya menggulung lemah, rasanya seluruh oksigen berhenti beredar di sekitarnya. Matanya melemah, yang dapat ia lihat hanyalah wajah gelisah Bintang. Hidungnya seperti mengeluarkan air kental yang deras. Kepalanya berdengung dan terasa berat. Tidak ada suara yang mampu masuk ke dalam gendang telinganya. Sakit dan hangat, campur aduk tak dapat digambarkan.

Hanya satu hal yang saat itu sempat dikatakannya.

“Paham? Kamu cukup. Selalu”.

Takdir bak mempermainkan kisah mereka bertiga. Jiwa Bulan yang tersesat dan penasaran Merasuki tubuh Luna yang kosong. Mengukir cerita yang seharusnya rampung dari dulu. Penghakiman perasaan membuat satu diantara mereka akan tersiksa di sisa hidupnya, teringat dengan dua jiwa yang pergi meninggalkannya. Namun ia takkan pernah menyerah, karena baginya saat ini Ia cukup dengan hanya hadir di dunia ini. Selalu.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

PROFIL

SEKAR Edisi April 2025 | Yang Tak Sempat Menjadi karya Donabella Shefa Aulia