Postingan

Menampilkan postingan dari Agustus, 2025

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Doa yang Tak Senada karya Ibran Purba

  Doa yang Tak Senada Karya Ibran Purba Kita berdiri di tanah yang sama, namun bayangan jatuh ke arah berbeda. Lonceng tua berdenting lirih, adzan merdu menjawab di langit tinggi.   Di jalan sunyi kita melangkah, bergandeng tangan, percaya tanpa suara. Mampukah cinta ini bertahan, atau runtuh dihantam ribuan pandangan?   Setiap langkah ditemani bisik cemooh, namun tak ada jemari yang terlepas. Meski benang merah tak tampak mata, cinta terpatri jauh di dada.   Kau bersujud dalam lima waktu, aku berbisik di bawah salib kayu. Kita memohon pada langit yang sama, meski suara tak pernah menyatu.   Namun, langit tak selalu biru; awan kerap enggan berlalu. Di balik senyum, tersimpan pilu; takdir menulis garis yang tak berpadu.   Di antara doa yang tak senada, ku langitkan ukiran kata— tak sekedar kiasan semata.   Jika jalan ini berakhir di simpang berbeda, biarlah cinta tetap tinggal—meski tak bersama...

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Pena Hijau karya Khairunnisa Apriliyanti

  Pena Hijau Karya Khairunnisa Apriliyanti Kepada pena berwarna hijau yang sempat digenggam Pena penuh gambar bunga yang sempat diharapkan Kau pernah meyakinkan dengan menggoreskan garis yang tegas Menjanjikan warna dan menggambar teduh di langit kertas Tintamu seolah dijanjikan untuk tidak luntur dan bertahan lama Namun, kini entah kenapa Tintamu tiba-tiba melangkah, merubah arah Hilang dan muncul secepat burung di langit senja   Terkadang, pena hijau menggambar di lembaran kertas putihku Akan tetapi, gambaranmu tak pernah benar-benar selesai Pena hijau, gambaranmu menggantung Meninggalkan ruang kosong yang tak pernah terisi   Hingga pada setiap coretan di sudut lembaran, aku selalu bertanya Apakah pena hijau ini memang diciptakan untuk memiliki tinta permanen Ataukah hanya singgah, mencoret sesuka hati Lalu membiarkan aku menebak-nebak arti?   Sebab pena hijau yang dulu kupeluk penuh harap Kini hanya tinggal kenangan pada h...

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Tersesat di Persimpangan karya Fajar Wahyudi

  Tersesat di Persimpangan Karya Fajar Wahyudi Aku berdiri di ujung jalan,  tak tahu harus ke kiri atau kanan. Langit seperti air keruh, diam, tak memberi petunjuk.   Setiap hari aku melangkah, tapi kaki ini seperti berputar. Aku tanya pada bayang di tanah, “Ke mana aku harus pergi?”   Waktu berjalan terlalu cepat, seperti air yang lari dari genggaman. Hatiku penuh tanya, tapi tak ada jawaban.   Di dalam hati, ada bisik kecil, yang menyuruhku untuk terus berjalan. Mungkin nanti, jalan itu akan menunjukkan tujuannya.

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Retak karya Aulia Nur Azizah

  Retak Karya Aulia Nur Azizah Sejak kecil Ada satu cahaya yang kupercaya Tempatku belajar arti cinta Dari genggaman yang terasa paling nyata   Namun, cahaya itu meredup Sinarnya melukai mata kecilku Hangat yang dulu kuanggap rumah Berubah menjadi dingin yang tak kupahami   Cahaya yang seharusnya menjadi pelindung Justru menjelma menjadi jeruji Membuat langkahku sempit Membuat hatiku sesak   Aku tumbuh dengan luka yang tak bisa kuceritakan Sebab cahaya pertama itu merenggut tawaku Menyisakan retak yang tak terlihat mata Seperti berjalan di lorong tanpa cahaya   Malam-malam terasa panjang Rindu menjelma duri yang tak bisa kucabut Di dasar hatiku masih ada jejak kecil yang merintih  Berbisik lirih “Aku ingin pulang, tapi ke mana?”

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Ruang Masa Lalu karya Alanisya Octania Ramadhani

  Ruang Masa Lalu Karya Alanisya Octania Ramadhani Kita pernah begitu dekat Hingga senyummu terasa seperti rumah, Dan langkah kecilmu selalu kutunggu Seperti senja menanti cahaya terakhirnya Namun kini ada jeda, Diam yang tak bisa kita terjemahkan, Jarak tipis yang perlahan tumbuh Di antara tawa dan cerita kita   Aku masih melihatmu, Dengan perasaan kosong Meski hatiku diam-diam bertanya Apa ini adalah akhir segalanya   Mungkin cinta juga butuh ruang, Agar rindu tahu caranya pulang Dan meski ada kecewa yang tertinggal Kisah itu masih tersimpan dalam ingatan

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Dunia Kotak-Kotak karya Ainun Mardiyah

Dunia Kotak-Kotak Karya Ainun Mardiyah Andi baru pertama kali main Roblox. Begitu melihat karakternya, dia langsung protes. “Lah, ini aku kok kayak kotak kardus berjalan?!” Raka ngakak. “Ya emang gitu. Anggap aja kita lagi belajar bangun ruang. Semua orang di sini bentuknya balok.” Andi mencoba menggerakkan karakternya. Baru lompat sekali… BRUK! jatuh ke jurang. Karakternya pecah jadi potongan kecil. “Woi! Aku mati!” teriak Andi panik. Raka santai. “Tenang, di Roblox mati itu bukan akhir. Itu Cuma… kayak hukum kekekalan energi. Hancur, tapi muncul lagi.” Dan benar, tiga detik kemudian Andi hidup lagi. Tapi baru melangkah sebentar, tiba-tiba karakternya disambar mobil dan tubuhnya hancur lagi. “Ya ampun! Aku jadi bahan percobaan fisika nih, ditabrak benda bergerak!” Raka ngakak. “Iya, itu namanya gaya dorong. Energi pindah, badanmu pecah. Santai aja, itu ilmu IPA terapan versi Roblox.” Andi makin frustasi. Dia coba lari kencang, eh malah nyangkut di dinding dan muter-m...

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Singgah karya Octafia Rahmadani

 Singgah Karya Octafia Rahmadani Sinopsis “Singgah” adalah kisah seorang anak bernama Irma yang menuturkan perjalanan hidup bersama Ibunya, Isma, yang ia panggil Inang. Sejak usia enam tahun, Irma hidup tanpa kehadiran ayah setelah perceraian orang tuanya. Inang harus menjalani hidup sebagai seorang ibu tunggal, bekerja keras dari pagi hingga malam untuk membesarkan anak-anaknya, meski dirinya terus dihantui luka dari masa lalu yang penuh kekerasan, pengkhianatan, dan kesepian. Irma tumbuh dalam bayang-bayang kesedihan, merasakan dunia seperti lembah gelap yang sulit dijangkau cahaya. Namun di balik semua penderitaan, ia menyadari bahwa cinta Inang adalah rumah sejati, lebih dari sekadar tempat berteduh. Meski tubuh dan hati Inang rapuh, ia tetap menjadi sandaran kokoh bagi anak-anaknya. Karya Lengkap Riuh ricuh suara insan berbisik mengalun sampai telinga Inang. Dunia fana yang gelap selalu diiringi oleh suara tawa munafik para insan adam maupun hawa. Cerita manis selalu disisip...

SEKAR Edisi Agustus 2025 | Yang Pergi karya Farhan Anshori Putra

  Yang Pergi Karya Farhan Anshori Putra Kepadamu.. yang telah lama pergi Kau tahu. berapa musim kulewatkan berduka? hingga mata enggan menatap. memilih buta kehilangan cahaya Yang kuyakini tak pernah kembali. kau tahu. berapa lara kurayakan sengaja hingga kenanganmu disemogakan terlupa Kepadamu yang kini berdiri sendiri. di ruang lain tak tahu seberapa besar ingatanku tentangmu. atau memilih kenangan hilang dengan waktu Entah kamu Atau kenanganmu Aku tak tahu.