SEKAR Edisi Agustus 2025 | Singgah karya Octafia Rahmadani
Singgah
Karya Octafia Rahmadani
Sinopsis
“Singgah” adalah kisah seorang anak bernama Irma yang menuturkan perjalanan
hidup bersama Ibunya, Isma, yang ia panggil Inang. Sejak usia enam tahun, Irma
hidup tanpa kehadiran ayah setelah perceraian orang tuanya. Inang harus
menjalani hidup sebagai seorang ibu tunggal, bekerja keras dari pagi hingga
malam untuk membesarkan anak-anaknya, meski dirinya terus dihantui luka dari
masa lalu yang penuh kekerasan, pengkhianatan, dan kesepian. Irma tumbuh dalam
bayang-bayang kesedihan, merasakan dunia seperti lembah gelap yang sulit
dijangkau cahaya. Namun di balik semua penderitaan, ia menyadari bahwa cinta
Inang adalah rumah sejati, lebih dari sekadar tempat berteduh. Meski tubuh dan
hati Inang rapuh, ia tetap menjadi sandaran kokoh bagi anak-anaknya.
Karya Lengkap
Riuh ricuh suara insan berbisik mengalun sampai
telinga Inang. Dunia fana yang gelap selalu diiringi oleh suara tawa munafik
para insan adam maupun hawa. Cerita manis selalu disisipi oleh kata-kata pahit
yang melukai hati Inang. Aku duduk manis di samping bunga yang sering aku sebut
sebagai inang para lebah, yang kini mulai mati seiring campur tangan insan yang
andil dalam dunia. Sama seperti kehidupan yang aku rasakan seiring umur ini
bertambah. Terjerat berbagai masalah, derita, dan juga luka. Aku insan yang
selalu dikasihi oleh Inang. Ibuku, sang inang para anaknya. Inang singgah di
rumah, tetapi rumah yang disinggahi tak kunjung jadi tempat berteduh seperti
yang dibayangkan.
Mungkin sebagian orang menilai inang yang baik
layak diberi rumah yang baik pula. Tapi apakah itu maksud dari dunia fana?
Jujur saja melihat Inang yang tak punya rumah untuk sekadar bersandar adalah
hal yang menyakitkan hati kecil insan. Rumah sejati bukan hanya untuk berteduh,
melainkan memberi tempat perlindungan. Insan dan inang tetap di dalam, tapi
rumah perlahan pergi meninggalkan fana. Rumah selalu memberikan fana, tetapi
melupakan dunia kecil di dalam dirinya.
Halo namaku Irma, putri kecil Inang bernama Isma. Ibuku yang sering aku panggil Inang adalah seorang single parent. Beliau bercerai dengan sang rumah yang sering aku panggil Ayah, saat aku berusia 6 tahun. Aku anak bungsu dari 3 bersaudara. Saudaraku, mereka sudah merantau
tak tahu arah. Pergi ke pulau satu balik ke pulau lainnya. Bisa dibilang aku tidak akrab dengan keduanya. Sejauh ini hidupku seperti lembah gelap yang tak bisa dijangkau oleh mentari terang. Aku selalu berjalan sendiri. Inang selalu bekerja dari pagi hingga malam, sedangkan Ayah entah pergi kemana setelah bercerai dengan Inang 14 tahun silam.
Inang senantiasa kesepian di sepanjang umurnya. 14 tahun berlalu, tak ada perubahan yang tampak mengesankan di dalam hidupnya. Berputar-putar seperti komedi putar yang sering Inang lihat di pasar malam. Ada rasa iri dan dengki yang bersarang di hatinya. Ingin rasanya ia murka. Tak ada bahagia yang Inang temukan di dalamnya. Dipukul, ditampar, dicekik, dan diselingkuhi adalah makanan sehari-hari. Kelamnya percintaan Inang selalu membuat Insan takut tak beraturan.
Sedih rasanya melihat orang terkasih yang selalu berkorban di sepanjang hidupnya dilukai dengan cara tak manusiawi. Cerita manis dan indah yang orang-orang rasakan tak berlaku untuk Inang.
“Sakitt…rasanya sakittt,” lirih Inang
Hatinya terlalu sakit untuk mengingat semua cerita yang telah terjadi. Inang sadar, semua luka yang singgah di hatinya hanyalah tamu sementara. Meski jejaknya tak pernah benar-benar hilang, Inang tetap berdiri dengan sisa tenaga yang ia punya. Dunia fana memang kejam, selalu memberikan derita dan darah tanpa jeda, tetapi Inang memilih tetap hidup, demi insan kecil yang lahir dari rahimnya. Irma, hanya bisa menatap punggung renta itu dari jauh. Punggung yang tak pernah benar-benar mendapat sandaran, namun tetap kokoh menjadi sandaran bagi anak-anaknya.
Kini insan mengerti, rumah sejati bukanlah bangunan tinggi yang megah, bukan pula atap yang melindungi dari hujan dan panas. Rumah sejati adalah hati yang tak pernah menyerah, hati yang meski retak tetap memeluk, hati seorang Inang yang tak pernah berhenti mencinta meski dunia menolak keberadaannya.
Insan sang putri kecil yang lahir
dari luka dan derita, akan terus singgah di pelukan Inang sampai fana ini
menutup cerita. Karena di balik gemerlap dunia yang penuh dusta, hanya ada satu
kebenaran yang tak bisa digoyahkan, cinta seorang Inang adalah rumah paling
abadi di dunia.
Komentar
Posting Komentar