Rabu, 29 April 2026

SEKAR Edisi April 2026 | Di Ambang Hadir Karya Windy Aliffia

Di Ambang Hadir 

Karya Windy Aliffia


Entah dengan bahasa apa aku menggambarkan-Mu

Segala kata gugur sebelum sampai

Seperti embun yang menguap sebelum pagi

Tak ada yang sanggup menjangkau-Mu seutuhnya

 

Jika dunia adalah taman yang mekar

Maka Engkau rahasia di balik wanginya

Yang tak tampak namun menghidupkan

Yang diam namun menggetarkan

 

Namun aku seperti langkah tanpa arah

Bergerak tanpa pernah sampai singgah

Aku melihat begitu banyak tanda-Mu

Namun hatiku tak pernah membacanya

 

Setiap hari aku mengetuk pintu-Mu

Dengan gerakan yang hafal arah

Namun jiwaku pengembara asing

Tersesat di rumahnya sendiri

 

Lisanku bagai sungai dalam menyebut nama-Mu

Namun hatiku gurun yang retak

Tak ada yang tumbuh dari panggilan itu

Hanya gema yang kembali hampa

 

Aku berdiri di hadapan-Mu

Seperti bayang kehilangan tubuh

Hadir namun tak berjejak

Dekat namun tak menyentuh

 

Ya Rabb, ajari aku tenggelam

Bukan sekadar menyentuh permukaan

Agar setiap sujud menjadi samudra

Dan aku larut tanpa sisa di dalam-Mu

 

Agar aku pulang sebagai jiwa

Bukan tubuh yang sekadar datang

Mengerti bahwa Engkau tak pernah jauh

Hanya aku yang lupa jalan pulang

 

SEKAR Edisi April 2026 | Resonansi yang Tak Terucap Karya Trileonita Aritonang

Resonansi yang Tak Terucap 
Karya Trileonita Aritonang

Di antara riuh semesta yang tak bernama

Aku menemukan gema yang tak kasat indera

Bukan hadir dalam bentuk yang nyata

Namun terasa seakan telah lama ada

 

Ia tak mengetuk, tak pula memaksa

Hanya hadir sebagai rasa yang perlahan menyala

Seperti vayu yang menyentuh tanpa wujud

Namun cukup untuk menggetarkan seluruh kalbu

 

Dalam diam, kusebut ia dalam doa

Tanpa ingin menggenggam, tanpa ingin memiliki sepenuhnya

Sebab ada rasa yang tak ditakdirkan untuk bersuara

Namun tetap hidup dalam sunyi yang setia

 

Kadang aku bertanya pada semesta

Apakah ini sekadar persinggahan jiwa

Ataukah serpih takdir yang belum sempurna

Yang hanya dipertemukan untuk saling merasa

 

Ia tak pernah tahu betapa dalam gelombangnya

Betapa sunyi pun mampu menjadi penuh karenanya

Namun mungkin memang begitulah adanya

Tidak semua rasa diciptakan untuk saling menemukan

 

Dan jika suatu saat angin membawa arah berbeda

Aku tak akan menggenggamnya dengan paksa

Sebab yang pernah hadir dengan begitu sederhana

Telah cukup menjadi bagian dari makna

 

Biarlah ia tetap menjadi gema yang tak terucap

Hidup di antara doa dan harap yang terjaga

Karena dalam ketidakterucapan itu

Aku belajar mencinta tanpa harus memiliki selamanya

SEKAR Edisi April 2026 | Titik Koma yang Terlewat Karya Siti Aprilia Mudmainah

Titik Koma yang Terlewat 
Karya Siti Aprilia Mudmainah

Namanya Alin, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Jember yang semester empatnya terasa seperti lomba lari tanpa garis akhir. Sejak mengambil mata kuliah Ilmu dan Perancangan Perundang-undangan, hidupnya dipenuhi istilah, asas, dan draft pasal yang tak kunjung selesai. Laptopnya jarang benar-benar mati, hanya berpindah dari meja belajar ke kasur kosan yang sempit. Setiap pagi ia bangun dengan pikiran tentang deadline—bukan tentang sarapan, bukan tentang cuaca Jember yang kadang terik berlebihan—melainkan tentang revisi naskah akademik dan tugas menyusun rancangan peraturan fiktif yang terasa terlalu nyata bebannya.

Alin dikenal dengan mahasiswa yang cukup rajin dengan IPK-nya yang lumayan dan juga aktif beberapa organisasi hingga kegiatan kampus. Dari luar, hidupnya terlihat tertata. Namun belakangan, ia sering menatap kertas-kertas folio dan laptopnya terlalu lama tanpa benar-benar membaca. Grup kelas membahas struktur konsiderans, dosen mengoreksi redaksi pasal dengan detail yang nyaris kejam, dan ia merasa setiap kata yang ditulisnya selalu kurang tepat. Salah titik koma bisa jadi bahan evaluasi panjang. Salah memilih diksi bisa dipertanyakan logikanya. Ia mulai takut dengan hari Selasa karena biasanya hari itu berarti tambahan tugas dan revisi yang cukup melelahkan.

Di sela kesibukan itu ada gibran, pacarnya yang satu kampus dan fakultasnya. Awalnya hubungan mereka sederhana dan menyenangkan. Ngopi sepulang kelas, jalan sebentar keliling kampus, atau sekadar video call sebelum tidur. gibran sering bercanda soal istilah hukum yang menurutnya terdengar seperti mantra. Alin biasanya tertawa. Namun semakin dekat tenggat tugas Perancangan Perundang-undangan, semakin sering ia menjawab pesan gibran dengan singkat. 

“Lagi ngerjain.” “Nanti, ya.” “Capek.” Kata-kata yang lama-lama terdengar seperti dinding.

Gibran mulai merasa dijauhkan. Ia pernah bertanya pelan, “Lin, kamu masih ada buat aku, nggak sih?” 

Alin ingin menjawab iya dengan yakin, tapi kepalanya terlalu penuh. Ia merasa bersalah membagi waktu. Setiap dua jam yang ia habiskan untuk bertemu pacarnya itu terasa seperti dua jam yang bisa dipakai menyempurnakan rumusan pasal. Ia mulai menganggap istirahat sebagai kemewahan, dan hubungan sebagai distraksi. Tanpa sadar, ia menjadikan cinta sebagai beban tambahan, bukan tempat pulang.

Puncaknya terjadi saat draft rancangan peraturannya dikembalikan penuh coretan merah. Dosen menulis catatan panjang tentang inkonsistensi norma dan sistematika yang tidak runtut. Alin keluar kelas dengan langkah cepat, menahan air mata yang tidak ingin jatuh di depan teman-temannya. Ia merasa bodoh, merasa tidak pantas berada di Fakultas Hukum. Saat gibran wajah lelah dan hati yang sudah tipis.

Percakapan mereka berlangsung singkat. Gibran bilang ia rindu Alin yang dulu bisa tertawa tanpa melihat jam.

“Aku kangen kamu yang bisa duduk lama tanpa gelisah lihat deadline,” katanya pelan.

Alin yang emosinya sudah rapuh justru merasa disalahkan. “Aku melakukan semua ini demi masa depan, Ghibran. Aku nggak bisa santai terus.”

“Aku tahu kamu berjuang,” jawabnya hati-hati. “Aku cuma merasa… aku makin jauh dari kamu.”

Alin menatapnya. “Jadi sekarang aku yang berubah dan itu salahku?”

Gibran menggeleng cepat. “Bukan salah. Cuma… rasanya kamu sendirian di dalam semua ini. Kamu nggak pernah kasih aku masuk.”

Alin terdiam. Ia ingin membantah, tapi lelah.

Ghibran lalu mengangguk pelan. “Tapi kalau kamu kehilangan diri kamu sendiri, itu masa depan buat siapa?” tanyanya.

Kalimat itu menggantung di udara. Alin tidak langsung menjawab. Ia hanya menunduk, menahan sesuatu yang terasa penuh di dada.

Beberapa menit kemudian, tanpa drama besar, mereka sepakat untuk berhenti dulu.

“Mungkin kita butuh jeda,” ucap Alin lirih.

“Iya. Biar sama-sama fokus,” jawab Ghibran.

Katanya supaya tidak saling menyakiti. Meski tetap saja terasa sakit.

Malam itu Alin kembali ke kos dan membuka undang-undang di laptop lagi dan mulai merevisi rancangan nya pada kertas folio bergaris dengan penanya. Anehnya, di tengah kesedihan, ia merasa sedikit lega. Tidak ada pesan yang harus segera dibalas. Tidak ada rasa bersalah karena menolak ajakan bertemu. Hanya ia dan draft pasal-pasalnya. Namun di antara baris-baris norma itu, ia mulai menyadari sesuatu. Selama ini ia bukan hanya mengejar nilai. Ia sedang berusaha membuktikan bahwa dirinya mampu, bahwa ia pantas, bahwa ia tidak boleh gagal. Ia menekan dirinya lebih keras daripada dosen mana pun.

Plot twist dalam hidup Alin datang bukan dari nilai A atau keberhasilan menyelesaikan rancangan peraturan. Ia tetap mendapatkan revisi. Ia tetap begadang. Namun suatu sore, ketika membaca ulang draft-nya untuk kesekian kali dan merasa kembali buntu pada satu konsep yang tak kunjung ia pahami, ia berhenti. Ia mengizinkan dirinya tidur tanpa rasa bersalah. 

Keesokan harinya, Alin mengetuk pintu ruang dosen dengan ragu.

“Masuk,” terdengar jawaban dari dalam.

“Selamat siang, Pak. Saya mau bertanya soal draft saya,” ucap Alin pelan.

“Silakan duduk. Bagian mana yang membingungkan?”

Alin menarik napas. “Tentang delegasi kewenangan di pasal tiga, Pak. Saya takut salah membedakan antara delegasi dan mandat.”

Dosen itu melihat draft-nya. “Menurut kamu sendiri, apa bedanya?”

“Atribusi dari undang-undang langsung. Delegasi pelimpahan kewenangan dan tanggung jawab ikut beralih. Kalau mandat… tanggung jawab tetap di pemberi kewenangan,” jawab Alin, masih ragu.

“Nah, di kasus yang kamu tulis, tanggung jawabnya pindah atau tetap?”

Alin berpikir sejenak. “Tetap, Pak.”

“Berarti itu mandat, bukan delegasi. Kamu tidak salah konsep, hanya kurang tepat istilah.”

Alin terdiam, lalu bertanya pelan, “Jadi saya tidak sepenuhnya keliru, Pak?”

Dosen itu tersenyum. “Tidak. Kamu sedang belajar. Kalau bingung, bertanya itu wajar.”

Bahu Alin terasa lebih ringan. “Terima kasih, Pak.” 

“Revisi saja bagian itu. Selebihnya sudah baik.”

Alin mengangguk. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjadi sempurna untuk tetap dianggap mampu.

Beberapa minggu kemudian, tugas besarnya akhirnya selesai. Ia mempresentasikannya dengan suara yang lebih stabil dari biasanya. Tidak sempurna—sempat ada satu slide yang ia jelaskan terlalu cepat—tetapi cukup baik. Ketika dosen mengangguk dan hanya memberi sedikit catatan perbaikan, Alin tidak lagi menerjemahkannya sebagai kegagalan. Ia mencatat, mengucapkan terima kasih, lalu duduk dengan perasaan lega yang tenang.

Siang itu, saat berjalan di koridor kampus, ia berpapasan dengan Gibran. Mereka sempat terdiam sepersekian detik sebelum sama-sama tersenyum canggung namun tulus. Tidak ada lagi dorongan untuk menjelaskan panjang lebar atau menyalahkan keadaan. 

“Semoga presentasimu lancar,” kata Gibran singkat. 

“Sudah tadi pagi,” jawab Alin, juga singkat. Percakapan itu sederhana, tetapi tidak menyisakan sesak seperti dulu.

Dalam perjalanan pulang, Alin menyadari sesuatu yang kini terasa jelas. Yang hampir menenggelamkannya bukan semata-mata mata kuliah Ilmu dan Perancangan Perundang-undangan, juga bukan Ghibran atau jarak yang sempat tercipta diantara mereka. Yang paling melelahkan adalah versinya sendiri, versi yang menuntut kesempurnaan tanpa henti, seolah-olah satu kesalahan kecil bisa meruntuhkan segalanya. Kini ia tahu, belajar tidak harus selalu dibayar dengan mengorbankan dirinya sendiri.

Kini Alin masih mahasiswi Fakultas Hukum yang sibuk dengan deadline dan pasal-pasal panjang. Bedanya, ia tidak lagi memusuhi dirinya sendiri. Ia belajar bahwa hukum memang mengatur banyak hal, tetapi hidupnya tidak harus seketat rumusan norma. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa menjadi manusia, bukan sekadar mesin penyusun peraturan.

SINOPSIS

Semester empat seharusnya biasa saja. Tapi bagi Alin, mahasiswi Fakultas Hukum yang dikenal rajin dan ambisius, semester ini berubah menjadi medan perang. Draft pasal, revisi tanpa henti, dan coretan merah dosen membuatnya mulai mempertanyakan kemampuannya sendiri. Di kampus, ia terlihat kuat. Di dalam kamar kosnya, ia nyaris runtuh.

Di tengah tekanan itu, ada Ghibran—pacar yang dulu selalu jadi tempat pulang. Namun ketika ambisi berubah menjadi obsesi, cinta terasa seperti gangguan. Hingga suatu hari, sebuah kalimat sederhana dari Ghibran membuat Alin terdiam: “Kalau kamu kehilangan diri kamu sendiri, itu masa depan buat siapa?”

Tanpa drama besar, mereka memilih jeda. Tapi apakah benar hanya itu yang retak?

Saat Alin mulai menyadari bahwa musuh terbesarnya bukanlah mata kuliah Ilmu dan Perancangan Perundang-undangan, melainkan tuntutan sempurna dari dirinya sendiri—ia dihadapkan pada pilihan: terus mengejar standar yang melelahkan, atau belajar menerima bahwa satu titik koma yang terlewat bukan akhir segalanya.

Lalu, di antara ambisi dan cinta, mana yang akan Alin pilih—dan apakah ia masih bisa menemukan dirinya yang dulu sebelum semuanya benar-benar terlambat?.

SEKAR Edisi April 2026 | Strategi Paling Nekat Karya Navira Monica Sari

Strategi Paling Nekat 

Karya Navira Monica Sari

 

Ternyata... keluar dari kantor nggak otomatis ngebuat bayangan Dinda ter-uninstall otomatis dari kepala mungilku. Folder ”Dinda” di otakku malah seolah masuk ke tahap maintenance permanen—nggak bisa dihapus, tapi... terus memakan memori.

            Sudah waktunya aku balik ke realita, berkutat dengan skripsi yang revisinya bahkan lebih banyak daripada total jumlah kata di dalamnya—Berlebihan memang hobiku, jadi jangan heran. Setiap kali aku merasa buntu menghadapi dosen pembimbing yang ribetnya ngalahin mamaku, aku teringat ucapannya ”Jangan terlalu aman.”

            Di suatu sore yang mendung—tipe cuaca yang biasanya ngebuat orang-orang jadi melankolis parah dan kehilangan akal sehatnya—aku melakukan suatu hal yang super duper nekatbahkan aku yang dulu nggak bakal mengira bakal ngelakuinnya. Sesuatu yang Dinda bilang harus dilakukan sesekali. 

            Aku memotret segelas es kopi susu yang sangat manis, penuh dengan gula dan whipped cream bukan whipped cream pink ya—lalu mengirimnya ke WhatsApp Dinda. 


Arga : Lagi minum ujian hidup nih kak, versi manisnya tapi. Biar nggak pahit-pahit banget kayak kopi kakak.


            Setelah mengirimkan pesan itu, aku meletakkan kembali ponsel dengan layar menghadap ke bawah. Jantungku berdegup kencang daripada waktu kepala aku nabrak pintu kaca dulu—Kejadian yang paling memalukan dan traumatis buat aku—Lima menit. Sepuluh menit. Aku udah hampir menyerah sampai rasanya ingin menarik pesan itu sebelum centang birunya muncul.  Lalu tak lama ponselku bergetar. Drrt


Dinda  : Kebanyakan gula bikin ngantuk. Skripsinya kapan selesai kalau molor terus? Tebak reaksiku setelah baca pesan dari Dinda, yap nyengir. Masih datar, ciri khas Dinda banget.

Arga    : Ini lagi usaha, kak. Kalau selesai cepat, boleh minta hadiah nggak, kak?

Dinda  : Hadiah apa?

Arga    : Simple aja, Kopi. Tapi aku yang pilih tempatnya. Biar kakak tahu kalau kopi enak itu nggak harus rasa obat. Dia nggak membalas pesanku lagi—Hanya dibaca—Aku menghela napas, berpikir mungkin aku udah kelewat tengil. Namun, waktu aku baru aja hendak kembali fokus ke barisan skripsiku, sebuah pesan masuk lagi ke ponselku. 

Dinda  : Selesain dulu revisinya. Baru bahas kopinya. Aku hampir aja berteriak di kafe saat itu juga. Rasanya sepertinya baru saja memenangkan tender besar tanpa perlu presentasi. Skip Dua minggu kemudian, aku dan dinda benar-benar bertemu. Bukan di kantor, bukan di lobby, tapi di sebuah kafe kecil di dekat kampusku. Dinda datang tanpa kemeja kerja, Dia hanya memakai kaos putih dan celana flare jeans, tapi entah kenapa, level ”bahaya” di mataku malah naik berkali-kali lipat. 

”Mana revisinya?” tanyanya langsung tanpa ragu-ragu saat duduk. Bahkan belum sempat memesan minum.

”Dibahas nanti, kak. Sekarang bahas hal yang lebih penting dulu,” jawabku sambil menyodorkan menu. Dia angkat alis kanannya. ”apa yang lebih penting dari pada skripsimu?”

”Pilihan kopi kakak hari ini.”

            Dinda tertawa. Itu adalah tawa pertama yang aku dengar secara langsung tanpa adanya gangguan suara mesin fotokopi atau.. obrolan orang kantor di latar belakang. Manis. MANIS BANGET!!!. Jauh lebih manis bahkan dari es kopi susu yang aku minum kemarin.

            Kami mengobrol ngalor-ngidul berjam-jam—Ternyata Dinda nggak sedingin itu—Dia hanya terlalu terbiasa profesional yang membuat dia terkesan kaku. Dia bercerita tentang klien-kliennya yang ajaib, dan aku bercerita tentang bagaimana aku hampir menabrak pintu kaca untuk kedua kalinya di kampus karena melamun... ya, sesuatu deh.

”Kamu masih sering melamun ya, ga,” katanya sambil menopang dagu menatapku dengan mata yang indah itu.

”Iya,” jawabku jujur. ”Tapi sekarang objek lamunannya udah punya nama, kak.”

            Dinda diam sebentar, lalu menyesap kopinya—yang tentu saja masih pahit. 

”Jangan aneh-aneh.”

”Aku nggak aneh-aneh, kak. Aku hanya mencoba biar nggak ’aman’ lagi,” kataku pelan, meniru kalimatnya waktu itu.

            Hening sejenak. Lampu kafe mulai temaram, dan di luar hujan mulai turun lagi. Persis saat dia mengantarku pulang waktu itu.

”Arga, ” panggilnya 

”Iya, kak? ”

”Jangan panggil ‘kak’ kalau lagi di luar kantor.”

Aku tertegun. Butuh waktu tiga detik bagi otak mungilku untuk memproses perintah itu. Hal itu adalah strategi paling tidak terduga yang aku terima.

”Terus harus manggil apa? Sayang?” tanyaku, jiwa tengilku kembali tanpa diundang.

Dinda mendecak, tapi dia nggak marah. ”Terserah, asal bukan ’kak’. Berasa lagi di kantor.”

Aku tersenyum lebar sampai ke telinga. ”Oke, Dinda.” ucapku sambil menekankan kata Dinda. 

Nama itu terasa asing tapi menyenangkan di lidahku. Dia hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, menyembunyikan senyum di balik cangkir kopi pahitnya. 

Malam itu, saat aku berjalan menuju parkiran motor, aku sadar satu hal. Aku yang dulu mengira perasaan ini hanya akan jadi kenangan magang yang lewat begitu saja, ternyata salah besar.

Dulu aku berharap perasaan ini pudar setelah lulus. Tapi sekarang, aku malah berharap sebaliknya. Aku ingin perasaan ini tumbuh, sedikit demi sedikit, senekat mungkin, sampaitidak ada lagi kata 'kalau' di antara kami.

Sial. Aku benar-benar menyukainya. Suka sekali. Dan kalau ini berubah jadi cinta... ya sudah, biarkan saja riwayatku tamat dengan bahagia.

---

            Beberapa bulan kemudian, hari yang aku tunggu—dan aku tangisi setiap malam di depan laptop akhirnya tiba. Sidang skripsiku selesai. Aku keluar dari ruangan dengan kaki lemas, tapi bibir nggak bisa berhenti nyengir lebar. Orang pertama yang aku kabari bukan orang tuaku, bukan juga grup WhatsApp angkatan yang isinya cuma keluhan, melainkan nomor yang namanya sudah aku ganti menjadi "Dinda" tanpa embel-embel jabatan apa pun.

Arga    : Lapor, target sudah dilumpuhkan. Skripsi sudah sah. Hadiah kopi ditunggu. Balasannya datang secepat kilat, bahkan aku belum keluar dari room chat WhatsApp Dinda.

Dinda  : Selamat, Ga. Jam 7 malam ini. Jangan telat.

            Malam itu, aku sengaja menjemputnya. Kali ini bukan dia yang menyetir, tapi aku yang memboncengnya dengan motor kesayanganku. Saat dia naik ke jok belakang, aku bisa merasakan ada sesuatu yang berbeda. nggak ada lagi jarak formalitas "anak magang dan senior". Hanya ada aku dan dia di bawah lampu jalanan kota yang temaram.

"Jadi, ke mana kita?" tanyanya tepat di samping telingaku.

"Ke tempat yang kopinya nggak rasa ujian hidup, Dinda," jawabku mantap.

Di kafe itu, suasana jauh lebih santai. Kami nggak lagi bicara soal revisi atau klien yang menyebalkan. Kami bicara tentang mimpi, tentang ketakutan-ketakutan kecil, dan tentang bagaimana sebuah pertemuan singkat di kantor bisa merubah banyak hal. Dinda banyak bercerita bahwa awalnya dia memang menganggapku anak magang paling aneh yang pernah dia temui. Tapi keanehan itulah yang ternyata membuatnya merasa kantor nggak lagi membosankan.

"Kamu tahu, Ga?" Dinda menatapku sambil memutar-mutar sendok kopinya. "Prinsip hidup itu penting, tapi kadang kita harus membiarkan seseorang datang dan merusak prinsip itu sedikit demi sedikit."

"Termasuk prinsip 'jangan dekat sama anak magang'?" godaku. 

Dia tertawa, lalu mengangguk kecil. "Termasuk itu."

Aku menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa keberanian dari jiwa tengilku ini. "Dinda, kalau dulu aku bilang realita itu pelit, sekarang aku mau tarik ucapan itu. Ternyata realita bisa sangat baik, asal kita berani nekat sedikit."

Aku menatapnya lekat-lekat. nggak ada lagi pintu kaca yang menghalangi, nggak ada lagi bayangan masa lalu yang membebani. Hanya ada kejelasan yang selama ini aku cari.

"Aku serius, Din. Bukan cuma soal kopi, tapi soal kita."

Dinda nggak langsung menjawab. Dia menyesap kopinya—yang kali ini aku pesankan dengan sedikit gula—lalu tersenyum. Sebuah senyuman yang membuatku sadar bahwa riwayatku memang sudah tamat, tapi ini adalah jenis penutup yang paling aku inginkan.

"Ya sudah," katanya pelan. "Ayo kita lihat seberapa nekat kamu selanjutnya."

Malam itu, aku pulang dengan perasaan yang meluap. Ternyata benar, nggak semua hal harus pudar setelah waktu berakhir. Kadang, akhir dari sebuah bab hanyalah awal untuk menulis cerita yang jauh lebih panjang, lebih rumit, dan jauh lebih indah. Dan aku sudah siap untuk menulis setiap lembarnya bersama Dinda.

SINOPSIS

Arga, seorang mahasiswa magang yang ceroboh dan hobi mempermalukan diri sendiri, terjebak dalam pesona Dinda, senior brand strategist yang tenang dan profesional. Arga memegang prinsip bahwa sikap seseorang bisa berubah seiring berjalannya waktu, persis seperti pengamatan Dania pada Eren. Arga mengira perasaannya akan berakhir seiring selesainya masa magang. Namun, sebuah nasihat untuk "tidak bermain aman" membawa Arga pada serangkaian tindakan nekat—mulai dari pesan singkat yang berani hingga pertemuan di luar jam kantor. Di antara pahitnya kopi dan manisnya percakapan, Arga harus memutuskan: tetap berada di zona aman sebagai mantan anak magang, atau melancarkan strategi paling nekat untuk memenangkan hati sang senior.

 

SEKAR Edisi April 2026 | Tukiyem dan Impiannya Karya Nasya Falasarika

Tukiyem dan Impiannya 

Karya Nasya Falasarika

Di sebuah rumah gubuk sederhana, hiduplah sepasang suami istri renta dan anak gadis mereka yang telah beranjak remaja bernama Tukiyem. Suatu hari, keluarga itu terlibat perbincangan serius perihal keberlanjutan hidup Tukiyem. Tukiyem baru saja lulus SMA di desanya, ia mendapat nilai bagus di beberapa mata pelajaran sehingga guru-guru menyarankannya untuk melanjutkan kuliah dan mengejar impiannya. Tukiyem adalah anak yang rajin dan pandai, ia juga berbakti kepada kedua orang tuanya. Bapak dan ibu Tukiyem bernama Sabi dan Marwa, mereka berdua telah berumur 62 dan 59 tahun.

Suatu hari, Tukiyem memberanikan diri untuk mengajak orang tuanya berbincang perihal langkah hidup yang harus ia ambil selanjutnya. Jadi, ia panggil kedua orang tuanya yang berada di depan gubuk untuk masuk ke ruang tamu mereka yang sederhana.

“Pak, Bu, Tukiyem mau membicarakan sesuatu dengan Bapak dan Ibu. Boleh kita masuk dulu?” kata Tukiyem. Bapak dan Ibu Tukiyem hanya memandang anaknya sebentar lalu menuruti keinginannya untuk masuk ke dalam rumah.

Di ruang tamu yang sederhana itu, ketiganya duduk berhadapan, Bapak dan Ibu Tukiyem kemudian membuka percakapan, “Apa yang ingin kamu bicarakan, Nduk?” tanya Ibunya. 

Tukiyem sedikit gugup untuk membuka mulutnya, ia terdiam sebentar kemudian dengan keberanian yang ia paksakan, ia mulai berbicara. “Pak, Bu, Iyem kan sudah lulus SMA. Dan Iyem pun berhasil memperoleh nilai paling bagus di desa ini. Iyem mau meminta sesuatu, apakah Bapak dan Ibu mengizinkan jika Iyem melanjutkan kuliah di jurusan Pendidikan?” 

Bapak dan Ibu Tukiyem sedikit tersentak mendengar ucapan Tukiyem, mereka saling berpandangan sejenak sebelum Ibu Tukiyem kembali bersuara, “Kuliah di jurusan itu nantinya bakal bikin kamu kerja apa?”

“Jadi guru, Bu” jawab Tukiyem cepat.

Bapak dan Ibu Tukiyem kembali saling berpandangan. "Nduk, menjadi seorang guru itu pekerjaan yang sulit untuk mendapatkan uang. Kamu lihat sendiri si Bari anak Pak Lurah yang saat ini masih menjadi guru honorer. Gajinya sebulan hanya 250 ribu”, kemudian Bapak Tukiyem juga menambahkan, “Benar, Nduk. Bapak tidak yakin pekerjaan guru dapat menjadikanmu orang kaya. Dan bukannya kamu bahagia bekerja sebagai guru, malah kamu akan stres karena tugas-tugasnya yang tidak sesuai dengan besaran gajinya.”

Tukiyem memandang kedua orang tuanya dengan nanar. Menjadi seorang guru merupakan cita-citanya sejak kecil. Ia melihat sosok guru sebagai orang yang paling mulia, sehingga selain mendapat gaji ia juga yakin seorang guru akan mendapat balasan pahala dari Yang Maha Kuasa atas jasanya mencerdaskan generasi penerus bangsa.

“Pak, Bu, Tukiyem tidak mempermasalahkan tentang gaji, seiring berjalannya waktu gaji akan semakin naik. Dan—”

“Tidak! Jika kamu memang ingin melanjutkan sekolahmu, maka Bapak dan Ibu yang akan memilihkan jurusan yang akan kamu masuki. Bapak dan Ibu sudah lama mengecap pahit manisnya hidup, dengan gaji yang akan diterima sebagai guru kamu tidak akan pernah menjadi kaya. Dan untuk menutupi biaya yang dihabiskan untuk kuliahmu saja mungkin kamu tidak akan mampu. Kamu jangan mencoba naif dan mengabaikan uang yang sangat dibutuhkan di zaman ini, uang sedikit tidak akan membuatmu hidup lama. Percuma Ibu dan Bapak sekolahkan kamu hingga lulus SMA tapi pemikiranmu masih saja tidak realistis,” wajah Ibu Tukiyem terlihat memerah karena menahan marah.

Ia tidak habis pikir, anaknya tidak mampu berpikir realistis tentang uang di zaman sekarang. Bapak Tukiyem mencoba mencairkan ketegangan yang terjadi di ruang tamu itu, ia bertanya kepada anak gadisnya, “Sebenarnya, mengapa kamu ingin menjadi seorang guru, Nduk?”

Tukiyem yang merasa mendapat sedikit kesempatan untuk bersuara segera saja menyambarnya, “Tukiyem mau menjadi orang yang mulia, Pak. Seorang guru, selain mendapatkan gaji juga akan mendapatkan kemuliaan.”

“Kemuliaan? Apakah kamu berpikir bahwa kemuliaan akan memberimu makan? Menghidupimu? Memberikan pakaian dan susu untuk anak-anakmu kelak? Benar kata Ibumu, pekerjaan guru tidak menjanjikan gaji yang sepadan.” Bapak Tukiyem menghela napas berat setelah mengatakan hal itu.

Tukiyem yang mendapatkan penolakan dari kedua orang tuanya, mencoba tetap meyakinkan mereka. “Tapi, Pak, Bu, Tukiyem inginnya menjadi guru.”

Bapak dan Ibu Tukiyem menatap Tukiyem dengan mata yang sedikit membelalak, kemudian Bapak Tukiyem berkata, “Sampai kapan pun Bapak dan Ibu tidak mengizinkanmu menjadi guru. Jikalau kamu tetap bersikeras dengan keinginanmu itu, carilah biaya sendiri untuk sekolahmu karena menjadi guru atau menjadi orang biasa pun akan mendapatkan uang yang sama, atau bahkan menjadi orang biasa akan mendapat uang yang lebih besar daripada menjadi guru.”

Tukiyem tersentak kaget dengan ucapan bapaknya ia menoleh kepada ibunya dan berharap ibunya akan melembutkan hatinya dan mau mendukung impiannya. Namun, pupus sudah harapannya kala Tukiyem mendengar vonis terakhir dari mulut Ibunya. “Bapakmu benar. Ibu tidak dapat membayangkan masa depan cerah di pekerjaan seorang guru. Yang ada, nanti kamu malah terlilit hutang untuk membiayai hidup anakmu kelak, seperti si Bari. Harusnya kamu dapat melihat Bari sebelum berkeinginan untuk menjadi seperti dia. Menjadi seorang guru adalah cita-cita yang sia-sia dan sangat naif. Bohong kalau kamu tidak membutuhkan uang untuk hidup, dan bohong jika kamu akan menikmati pekerjaanmu demi label kemuliaan.”

Selepas mengatakan hal itu, kedua orang tua Tukiyem pergi meninggalkan Tukiyem sendiri di ruang tamu. Setelah mereka berdua tak lagi terlihat di pintu, Tukiyem menumpahkan tangisnya, ia merasa kedua orangnya tidak mengerti kebenaran dari apa yang mereka bicarakan. Sulit untuknya memahami bagaimana mungkin orang tuanya melihat pekerjaan guru hanya dari gajinya, padahal dirinya telah berjaya karena perjuangan seorang guru.

Tangis Tukiyem masih belum reda kala ia melihat seseorang yang sangat dikenalnya berbincang dengan kedua orang tuanya di halaman depan. Tukiyem hendak bangkit untuk menyapa orang itu, tapi lebih dulu sosok tersebut beranjak ke arahnya diikuti bapak dan ibunya.

“Tukiyem, kamu apa kabar?” sapa sosok itu setelah ia berada tepat di depan Tukiyem.

Tukiyem tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya melihat sosok tersebut ada di dalam rumahnya, ia buru-buru menghambur ke pelukan sosok itu.

“Kenapa, Nduk?” tanya sosok itu sambil mengelus punggung Tukiyem yang terisak.

“Ibu kenapa lama sekali perginya,” isakan Tukiyem tak kunjung surut, tak ayal sosok itu mendorong pelan tubuh Tukiyem dan menghapus air matanya.

“Kamu kenapa menangis? Ibu ke sini untuk menjemput kamu, Nduk.”

Kedua orang tua Tukiyem nampak terkejut, hentakan tubuh mereka disadari oleh sosok tersebut.

“Pak, Bu, saya Naira. Guru SMA Tukiyem di kelas 10 dulu. Saya sudah berjanji untuk mengantarkan Tukiyem menuju masa depan yang lebih cerah. Dan hari ini saya ingin menunaikannya, saya ingin mengajak Tukiyem pergi dari desa ini untuk belajar di luar sana. Mempelajari hal-hal yang tidak akan bisa ia miliki di sini.”

Bu Naira, sosok yang terlihat berwibawa itu membuat kedua orang tua Tukiyem tertegun. Butuh beberapa detik hingga mereka mampu merespon informasi yang dilontarkan oleh Bu Naira.

“Apakah Ibu yang menghasut anak kami untuk menjadi guru?”

            Bu Naira yang ganti tersentak mendengar perkataan orang tua Tukiyem. “Maksudnya bagaimana, ya, Bu?

            Dengan wajah yang kembali menampilkan kegeraman, kedua orang tua Tukiyem berdebat dengan Bu Naira perihal pilihan hidup Tukiyem yang ingin menjadi guru. Lama perdebatan itu terjadi, hingga kemudian terlontar dua kata yang tak seharusnya keluar dari mulut Ibu Tukiyem.

            “Pergi saja!”

            Tukiyem memandang wajah ibunya dalam kebingungan. Ia yang sejak tadi memilih untuk diam tak bisa tidak bereaksi mendengar perkataan yang keluar dari mulut ibunya.

            “Maksud Ibu?”

            “Keluar saja kamu dari rumah ini, kejar apa pun yang kamu impikan. Tapi jangan kembali ke sini!”

            Bu Naira maupun Tukiyem saling memandang tak percaya, bapak yang hanya mematung di samping tubuh ibu juga tak bereaksi. Sepertinya kedua orang tuanya sepakat untuk tak memperpanjang masalah ini dan memilih jalan pintas yang menurut mereka baik untuk keduanya.

            Tukiyem terdiam cukup lama, Bu Naira telah mencoba menenangkan kemarahan orang tua Tukiyem, tapi agaknya hal tersebut sia-sia. Kedua orang tua Tukiyem tetap teguh mengusir Tukiyem apabila anak itu memilih menjadi guru.

            Tak lama setelah Tukiyem terdiam seraya mendengar ucapan-ucapan dari Bu Naira, akhirnya ia membuat keputusan.

            “Pak, Bu, hari ini Iyem ingin egois. Iyem mau menata hidup Iyem sendiri. Kalau Ibu dan Bapak tak dapat memahami apa yang Iyem pahami, sepertinya memang sudah saatnya Iyem pergi. Sulit jika kita tetap hidup bersama, tapi pemikiran kita sudah berbeda. Iyem sayang sama Ibu dan Bapak, tapi Iyem tahu apa yang Iyem yakini benar. Semoga suatu hari nanti, ketakutan-ketakutan Ibu dan Bapak bisa musnah kalau ngeliat Iyem sukses. Itu pun kalau Ibu dan Bapak mengizinkan Iyem untuk kembali ke sini.”

            Bu Naira tak bisa menutupi wajah terkejutnya, ia tak menyangka akhirnya akan begini. Seharusnya ia membawa Tukiyem secara baik-baik dari keluarganya, bukannya malah memisahkan mereka.

            Tukiyem sadar apa yang sedang dipikirkan Bu Naira, ia hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Tak ada yang salah dari Bu Naira, hanya orang tuanya yang belum memahami apa yang mereka pahami.

            Tanpa banyak bicara lagi, Iyem meminta Bu Naira menunggu di kendaraannya dan Iyem bergegas mengemasi barang-barangnya. Sementara itu, kedua orang tuanya termangu di ruang tamu dengan wajah memerah.

            Setelah dua tas terisi penuh dengan barang-barangnya, Tukiyem beranjak mendekati kaki kedua orang tuanya, menciumnya, dan mengucapkan selamat tinggal. Orang tua Tukiyem masih bergeming, enggan menatap atau membalas ucapan pamit Tukiyem.

            Untuk terakhir kalinya, Tukiyem memandangi rumah gubuk yang telah menemaninya selama tujuh belas tahun. Air matanya mengalir semakin deras tatkala melihat orang tuanya tetap berdiam diri di ruang tamu. Tukiyem sadar, orang tuanya bukan tipe orang tua yang sadar dengan ucapan tanpa bukti. Maka, biarlah nanti ia sendiri yang akan menjadi bukti kekeliruan mereka.

            Dengan linangan air mata, Tukiyem dan Bu Naira beranjak dari halaman gubuk itu. Semakin jauh hingga rumah gubuknya tak terlihat lagi di pandangan, begitu pun jejak orang tuanya.

Tamat

Sinopsis

Tukiyem, seorang gadis desa yang cerdas, harus menghadapi penolakan keras dari kedua orang tuanya yang memandang profesi guru sebagai pekerjaan yang tidak sejahtera dan tidak realistis secara ekonomi. Meski diancam akan diusir dan kehilangan restu, Tukiyem akhirnya memilih untuk pergi meninggalkan rumah bersama mantan gurunya demi mengejar impian menjadi seorang pendidik. Ia melangkah pergi dengan tekad kuat untuk membuktikan bahwa pilihannya bukanlah sebuah kesia-siaan, melainkan jalan kemuliaan yang layak diperjuangkan.

 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...