Jumat, 29 Mei 2026

SEKAR Edisi Mei 2026 | Belenggu Karya Muhammad Farrel Rayhan

Belenggu

Karya Muhammad Farrel Rayhan

Di kota-kota yang tak pernah tidur,
manusia menukar waktu dengan angka,
menggadaikan tenaga demi lembar-lembar,
yang nilainya berubah oleh suara di ruang tertutup.

Kertas yang katanya “bernilai”,
bukan lagi sekadar alat transaksi,
melainkan rantai halus,
yang melilit tanpa terasa.

Mereka menyebutnya sistem,
mesin besar yang dipoles kata “stabilitas”,
padahal di balik layar, ada tangan-tangan tak terlihat,
yang menggerakkan jarum seperti dalang memainkan wayangnya.

Hari ini harga dijatuhkan, besok pasar diangkat tinggi.
Rakyat dipaksa panik, lalu dipaksa berharap,
pada penyelamat yang sama,
yang sebelumnya menyalakan api.

Bank-bank menjulang seperti istana kaca,
sementara petani menghitung musim dengan cemas,
buruh menghitung sisa receh, dan anak-anak belajar,
bahwa mimpi pun harus dibayar cicilan.

Mereka mencetak ketakutan,
lebih cepat daripada mencetak uang,
Inflasi menjadi badai, resesi menjadi senjata,
dan berita disusun rapi agar dunia percaya:
semua ini adalah “takdir ekonomi”.

SEKAR Edisi Mei 2026 | Senyum yang Tak Sempat Jadi Rumah Karya Ulan Maulidyah Rohmaniyah

Senyum yang Tak Sempat Jadi Rumah

Karya Ulan Maulidya Rohmaniyah

Aku pernah belajar

bahwa senyum tak selalu berarti undangan,

kadang ia hanya sopan santun yang lembut,

sehangat pagi yang tak pernah berniat tinggal lama.


Aku membaca matamu terlalu jauh,

menafsir diam sebagai isyarat,

menganggap perhatian sebagai pintu,

padahal mungkin aku hanya singgah,

di tempat yang tak pernah menungguku.


Dan lucunya, 

hatiku tumbuh diam-diam,

di tanah yang bukan milikku,

menyiram harap,

pada sesuatu yang sejak awal,

tak pernah dimnta untuk hidup.


Kini aku tahu, 

tidak semua yang indah harus dimiliki,

tidak semua yang datang harus dipeluk,

dan tidak semua rasa,

harus dipaksa menjadi cerita.


Aku belajar melepaskan, 

tanpa harus membenci,

mengingat tanpa harus kembali,

dan mencinta,

tanpa selalu harus dimengerti.

SEKAR Edisi Mei 2026 | Bahu Senja Karya Mutiara Ulfatus Sa'adah

Bahu Senja

Karya Mutiara Ulfatus Sa'adah

Banyak orang datang membawa kesan,
Namun tak semua tinggal di ingatan,
Beberapa lewat sebagai sapaan,
Tanpa benar-benar menjadi tujuan

Aku bukan hati yang mudah terpikat,
Tak pandai percaya pada kehadiran sesaat,
Bagiku ketulusan harus terlihat,
Bukan sekadar datang lalu menghilang cepat

Atmaku menyukai seseorang yang tenang,
Datang tanpa membawa bimbang,
Mampu menciptakan nyaman untuk pulang,
Tak membuat arah diri menghilang

Aku menunggu ia yang seperti bahu senja,
Hangat tanpa banyak kata,
Tetap tinggal disaat langit berubah warna,
Dan tahu cara tumbuh bersama

Sebenarnya hatiku bukanlah batu,
Hanya saja banyak memilih lebih dulu,
Namun bila ada yang tahu caraku,
Mungkin namanya akan tinggal di situ


SEKAR Edisi Mei 2026 | September Karya Putri Tirta Lestari

September

Karya Putri Tirta Lestari

Seringkali ku tatap sesuatu tanpa chaitanya

Tak sedikit yang datang untuk jadi wirasana

Di masa kelam menjadi karunasankara

Karunasankara yang terpaksa atas segalanya

 

Seorang yang tak pernah aku bayangkan sebelumnya 

Pertama kali kutatap teduh bak manendra

Hadir sekejap berbagi daya tanpa aba-aba

Menjadikanku lalita akan hadirnya ragnala

 

Dipta terpancar terang di wajahnya

Tak kalah dengan indahnya sang loka 

Teduh selayaknya sadajiwa

Enggan sekali kulepas genggamannya

 

Seseorang yang kini kupunya raganya

Membuatku menunggu terbitnya sang surya

Hari demi hari yang diusahakannya 

Tak terhitung dan ananta

 

Seringkali ia memanggilku Tirta 

Menyebalkan sekali tingkah lakunya

Dimatanya seorang perempuan yang pandai bicara 

Tetapi, tak sadar bahwa akulah memang ratunya

 

Hujan dan panas selalu melanda

Tak kuasa aku menahan tawa 

Saat dijemput dimana aku berada

Terbayang ia masih anak SMA

 

Setiap doa selalu ku selipkan namanya

Karena ia melibatkanku disetiap langkah

Perempuan merah muda aku dikenalnya 

Tersipu malu saat disampingnya

 

Langit biru yang selalu ku pandang tingginya

Berharap aku untuk bisa menggapainya

Pohon yang tumbuh dengan hijaunya

Berharap air selalu mengaliri akarnya.

SEKAR Edisi Mei 2026 | Batu Penyesalan Karya Ibran Purba

Batu Penyesalan

Karya Ibran Purba

Matahari baru saja terbit, membiaskan cahaya keemasan yang menembus ventilasi udara rumah tipe 36 itu. Namun, kehangatan pagi sama sekali tidak menyentuh atmosfer di dalam dapur. Hawa di sana justru terasa membakar, pengap oleh ketegangan yang pekat. Di atas meja makan yang merangkap sebagai meja dapur, sebuah toples kaca berisi kopi bubuk premium berdiri tegak, seolah menjadi pusat semesta yang mengintimidasi bagi sepasang suami istri, Danu dan Rara.

Rara berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pinggiran meja. Napasnya memburu kecil, menahan badai yang sejak lima menit lalu bergemuruh di dadanya. Ia menunjuk toples itu dengan telunjuk yang bergetar.

"Aku bilang beli yang merek biasa, Danu. Ini harganya dua kali lipat!" Suara Rara melengking dalam intonasi yang ditekan, berusaha agar tidak terdengar oleh tetangga sebelah rumah yang dindingnya saling berdempetan. "Uang belanja kita bulan ini sudah mepet. Anak kita, Tio, butuh bayar uang buku minggu depan. Kenapa kamu bebal banget, sih? Susah ya dibilangin?"

Danu, yang sedang berdiri di depan cermin kecil dekat kamar mandi sambil mengancingkan kemeja kerjanya, tidak langsung menjawab. Ia sengaja memperlambat gerakannya, menarik kerah baju dengan lagak acuh tak acuh, lalu mendengus remeh. Baginya, omelan Rara pagi ini seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang selalu soal uang, kekurangan, dan penghematan.

"Kopi yang biasa kamu beli itu rasanya seperti air cucian kain, Ra. Sepah," balas Danu tajam, membalikkan badan dan menatap istrinya dengan pandangan menantang. "Aku ini kerja keras seharian, berangkat pagi pulang malam, memeras keringat buat rumah ini. Masa cuma mau minum kopi yang rasanya agak enak dikit aja gak boleh? Kamu itu yang terlalu pelit, terlalu perhitungan sama suami sendiri."

"Ini bukan soal pelit, Danu! Ini soal skala prioritas!" Suara Rara naik satu oktaf, egonya terpantik oleh tuduhan 'pelit'. "Kalau uangnya ada, jangankan kopi mahal, pabrik kopinya pun gak akan aku larang kamu beli. Tapi keuangan kita bulan ini memang gak cukup. Kamu selalu mementingkan egomu sendiri tanpa mau melihat catatan pengeluaran kita!"

"Ah, sudahlah! Kamu selalu membesar-besarkan masalah kecil. Dari dulu hobinya cari keributan," potong Danu, memutus kalimat Rara dengan lambaian tangan yang meremehkan.

Danu menyambar tas kerjanya yang tergeletak di kursi. Ia tidak berpamitan, tidak mencium kening istrinya seperti biasa, bahkan sengaja melangkah dengan hentakan kaki yang berat. Sedetik kemudian, pintu depan ditutup dengan dentuman keras yang menggetarkan kaca-kaca jendela rumah mereka.

Rara terkesiap, tubuhnya melemas. Ia perlahan merosot, duduk di kursi dapur sambil menatap toples kopi itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa kesal, lelah, dan tidak dihargai bercampur aduk menjadi gumpalan sesak di tenggorokannya.

Sepanjang hari di kantor, kepala Danu dipenuhi oleh kabut amarah yang tebal. Lembar demi lembar laporan pekerjaan di layar monitornya sama sekali tidak melekat di pikiran. Di matanya, Rara telah berubah menjadi sosok istri yang menuntut, tidak menghargai usahanya, dan selalu ingin memegang kendali atas segala hal.

"Dia pikir cari uang di luar itu gampang? Pulang ke rumah bukannya disambut senyuman, malah disuguhi wajah cemberut gara-gara kopi," batin Danu, terus memupuk rasa benarnya sendiri.

Gengsi yang besar membuat Danu menolak untuk mengirimkan pesan singkat, sekadar menanyakan kabar atau meredakan situasi. Bahkan, ketika ponselnya bergetar dua kali pada jam makan siang—menampilkan nama Rara di layar—Danu sengaja membalikkan layar ponselnya ke bawah. Ia mengabaikan panggilan itu dengan sengaja. “Biar dia tahu rasa. Biar dia mikir kalau tindakannya tadi pagi itu keterlaluan. Egois sekali jadi orang,” pikir Danu, memelihara sebuah batu hitam yang semakin mengeras di dalam kepalanya.

Sementara itu, di sudut dapur rumah mereka, Rara duduk tertegun. Amarah yang membakar tadi pagi perlahan surut, menguap bersama berjalannya waktu, dan kini menyisakan rasa sesal yang dingin. Ia menatap ponselnya yang tak kunjung menerima balasan. Rara tahu Danu lelah, tekanan pekerjaan suaminya pasti besar, dan mungkin cara menegurnya tadi pagi terlalu kasar hingga melukai harga diri Danu sebagai kepala keluarga.

Namun, ketika panggilannya diabaikan dua kali, rasa hangat yang sempat muncul di hati Rara kembali membeku. Gengsinya bangkit mengintervensi. Pikiran defensif mulai meracuni otaknya: “Kalau aku yang mengemis minta maaf duluan, dia akan merasa di atas angin. Dia akan mengulangi sifat egoisnya dan menganggap pendapatku gak penting. Sekali-kali dia harus diberi pelajaran.”

Dua kepala di dua tempat berbeda, sama-sama mengeras. Keduanya menolak untuk menjadi yang pertama mengetuk pintu perdamaian. Mereka memilih berdiri di menara ego masing-masing, mengawasi siapa yang akan runtuh lebih dulu.

Malam pun tiba, membawa serta mendung tebal yang akhirnya pecah menjadi hujan badai. Tepat pukul delapan malam, Danu pulang dengan baju yang basah di bagian bahu dan celana yang terciprat lumpur. Ketika ia memutar kunci dan melangkah masuk, keheningan yang tidak biasa langsung menyergapnya.

Rumah itu gelap sebagian, hanya lampu ruang tamu yang menyala temaram. Tidak ada aroma masakan hangat yang biasa menyambut hidungnya, tidak ada suara televisi, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang ramah.

Rara sedang duduk di ujung sofa ruang tamu. Di depannya, tumpukan pakaian kering menggunung. Ia sedang melipat baju-baju itu dengan gerakan yang sangat mekanis, kaku, dan ritmis, seolah-olah ia adalah sebuah robot yang diprogram untuk mengabaikan keberadaan Danu.

Danu, yang perutnya sudah keroncongan sejak sore, berjalan menuju dapur dengan harapan setidaknya ada lauk sederhana yang tersisa. Namun, ketika ia mengangkat tudung saji di atas meja, yang ditemukannya hanyalah piring kosong yang bersih. Rasa lapar yang berpadu dengan kelelahan fisik instan memicu kembali sumbu amarah Danu yang sempat mereda.

Ia berjalan kembali ke ruang tamu, berdiri tepat di depan Rara, menghalangi pandangan istrinya ke tumpukan baju.

"Kamu gak masak? Sengaja mau balas dendam soal tadi pagi? Childish banget kamu, Ra," kata Danu, suaranya terdengar dingin, bergetar oleh emosi yang tertahan.

Rara menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat kaus milik Danu. Ia menarik napas panjang, lalu mendongak. Matanya yang sembap dan kemerahan menatap langsung ke manik mata Danu.

“Aku nunggu kamu pulang dari sore untuk bicara baik-baik, Danu. Aku bahkan sudah berniat untuk minta maaf kalau caraku tadi pagi salah," suara Rara bergetar, namun penuh penekanan. "Tapi begitu kamu datang, yang kamu tanyakan cuma perutmu sendiri? Kamu gak lihat suasananya? Kamu bahkan gak tanya aku sudah makan atau belum, atau gimana hariku?"

"Halah, alasan! Gak usah berbelit-belit!" bentak Danu, suaranya meninggi, menggelegar mengalahkan suara guntur di luar. "Kamu itu cuma keras kepala! Gak mau ngaku kalau kamu yang mulai duluan pagi tadi dengan ngomel-ngomel gak jelas soal hal sepele!"

"Aku yang keras kepala?!" Rara berdiri dari sofa, menjatuhkan pakaian di pangkuannya hingga berserakan di lantai. Tangisnya yang ditahan sejak siang akhirnya pecah. "Kamu yang gak pernah mau dengerin orang lain, Danu! Kamu selalu merasa paling benar, paling lelah, paling berkorban di rumah ini! Kamu anggap aku ini apa? Pengatur? Rumah tangga ini isinya bukan cuma tentang kamu dan keinginanmu!"

"Kalau kamu merasa tersiksa, dan kamu gak suka dengan cara memimpinku di rumah ini, silakan pergi! Keluar!"

Kata-kata jahanam itu meluncur begitu saja dari mulut Danu. Kalimat itu didorong oleh ego yang telah mengkristal, rasa frustrasi yang memuncak, dan keinginan kekanak-kanakan untuk memenangkan argumen. Danu ingin melihat Rara tunduk, menangis, dan memohon.

Namun, efek yang terjadi justru sebaliknya.

Ruangan tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Begitu sunyi hingga detak jam dinding terdengar seperti dentangan lonceng kematian. Kata-kata Danu bertindak bagai tamparan fisik tak kasat mata yang telak menghantam wajah Rara. Rara berhenti menangis secara instan. Ia menatap Danu dengan pandangan yang belum pernah Danu lihat selama lima tahun pernikahan mereka—bukan pandangan marah, bukan pula pandangan benci. Itu adalah pandangan dari seseorang yang jiwanya baru saja kosong, seseorang yang telah kehilangan seluruh harapannya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa jeritan atau bantahan, Rara berbalik. Ia berjalan masuk ke dalam kamar tidur mereka dengan langkah yang tenang namun pasti.

Danu berdiri mematung di tengah ruang tamu. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada alarm yang menjerit histeris. Bagian rasional dari kepalanya berteriak menyuruhnya untuk mengejar Rara, memeluk tubuh istrinya, menarik kembali kata-kata terkutuk tadi, dan membuang semua gengsinya ke tempat sampah. Namun, ego hitam di kepalanya kembali berbisik menyabotase: “Jangan kejar. Kalau kamu kejar, dia akan tahu kelemahanmu. Biarkan saja dia pergi, paling cuma ke rumah ibunya. Nanti juga pulang sendiri kalau otaknya sudah dingin.” Danu memilih mendengarkan bisikan itu.

Beberapa menit kemudian, Rara keluar dari kamar. Ia sudah mengenakan jaket tebal, menenteng sebuah tas kain kecil yang berisi beberapa helai baju, dan menggenggam kunci motornya. Ia berjalan melewati Danu seolah-olah suaminya itu hanyalah seonggok udara kosong. Rara membuka pintu depan, melangkah keluar, dan langsung menghilang di balik tirai hujan deras yang mengguyur malam.

Satu jam berlalu. Rumah itu seperti makam.

Dua jam berlalu. Keheningan mulai terasa mencekam.

Danu duduk sendirian di sofa yang dingin, dikelilingi oleh pakaian-pakaian bersih yang berserakan di lantai—pakaian yang tadi siang dilipat Rara dengan sisa-sisa rasa sayangnya. Danu menyalakan televisi dengan volume keras, mencoba mengusir kesunyian, tetapi matanya sama sekali tidak merekam gambar di layar.

Pandangannya perlahan bergeser, jatuh pada toples kopi mahal di atas meja makan. Toples yang menjadi hulu ledak kehancuran malam ini.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Danu berjalan ke dapur. Ia memutuskan untuk menyeduh kopi tersebut, berharap kafein bisa menenangkan sarafnya yang mulai menegang dihantam rasa bersalah. Ia menyeduh bubuk hitam itu dengan air panas, mengaduknya perlahan, lalu membawa cangkir itu ke bibirnya.

Saat sesendok cairan hitam itu menyentuh lidahnya, Danu tertegun. Rasanya pahit—sangat pahit, pekat, dan meninggalkan rasa getir yang mencekik di tenggorokan. Tidak ada rasa nikmat, tidak ada kemewahan seperti yang ia bayangkan tadi pagi. Kopi yang ia pertahankan setengah mati hingga mengorbankan perasaan istrinya, ternyata rasanya hambar dan memuakkan saat dinikmati dalam kesendirian. Kemenangan yang ia menangkan dari debat tadi pagi terasa begitu murah dan menjijikkan.

Tiba-tiba, keheningan malam dipecah oleh getaran kencang dari ponsel Danu di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. "Halo?"

"Halo, selamat malam. Apakah benar ini dengan keluarga dari Ibu Rara?" Suara seorang pria di seberang telepon terdengar tergesa-gesa, berlatar belakang suara bising sirine dan deru hujan.

Jantung Danu mencelos. "Iya, benar. Saya suaminya. Ada apa ya, Pak?"

"Begini, Pak. Pemilik nomor ini baru saja mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Utama. Sepeda motornya tergelincir hebat karena jalanan licin dan pandangan terbatas akibat hujan deras. Korban tidak sadarkan diri dengan luka parah di bagian kepala. Saat ini ambulan sedang membawa korban menuju ruang darurat Rumah Sakit Medika. Mohon pihak keluarga segera datang..."

Brak!

Ponsel di tangan Danu terlepas, jatuh menghantam lantai tegel dan layarnya retak seribu. Detak jantung Danu seolah berhenti mendadak, menyisakan kekosongan yang hampa di dadanya. Seluruh darah di tubuhnya terasa turun ke kaki, membuatnya lemas seketika.

Pada detik itu juga, seluruh "batu" dan dinding kekerasan kepala yang ia bangun dan pelihara dengan sombongnya runtuh berkeping-keping. Hancur lebur menjadi debu yang sama sekali tidak ada harganya. Rasa ingin menang, rasa gengsi, harga diri lelaki, dan ego yang beberapa jam lalu terasa begitu kokoh menopang tubuhnya, mendadak menguap tanpa bekas. Semua itu digantikan oleh rasa takut yang luar biasa hebat—ketakutan kehilangan wanita yang selama ini diam-diam menjadi jangkar hidupnya.

Danu berlari kesetanan menuju pintu depan. Ia tidak memedulikan jaketnya yang tertinggal, tidak memikirkan dompet, bahkan tidak mencari payung. Ia membuka pintu dan langsung menerjang kegelapan malam, membiarkan tubuhnya dihantam oleh air hujan yang dingin dan angin yang menusuk tulang.

Sambil berlari sekuat tenaga membelah badai menuju rumah sakit, air mata Danu luruh, menyatu dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Di dalam kepalanya, tidak ada lagi pikiran tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Kini, hanya ada satu doa yang menggema pasrah, meratap di hadapan Sang Pencipta: Ia bersedia meminum kopi paling pahit seumur hidupnya, ia bersedia membuang seluruh harga dirinya, asalkan Rara kembali membuka mata. Ia hanya ingin diberikan satu kesempatan lagi untuk melunakkan kepalanya di hadapan sang istri.

Namun, di bawah langit malam yang hitam, suara petir menyambar, seolah menjadi pengingat yang kejam bahwa penyesalan selalu datang mengetuk pintu tepat ketika waktu mungkin tak lagi bersedia untuk bernegosiasi.

***

Sinopsis:

Danu dan Rara adalah sepasang suami istri yang terjebak dalam lingkaran ego dan gengsi. Pertengkaran hebat meledak di suatu pagi hanya karena masalah sepele. Alih-alih saling mengalah, keduanya justru memelihara ego masing-masing sepanjang hari. Danu merasa tidak dihargai sebagai suami, sementara Rara merasa pendapat dan pengorbanannya selalu disepelekan.

Ketegangan mencapai puncaknya pada malam hari ketika komunikasi mereka benar-benar buntu. Didorong oleh amarah yang mengkristal, Danu melontarkan kata-kata kejam yang mengusir istrinya. Rara yang terlanjur sakit hati memilih pergi menerjang badai malam itu juga. Namun, tepat ketika Danu tersadar betapa hambar dan pahitnya kemenangan yang ia pertahankan dalam kesendirian, sebuah kabar kecelakaan tragis datang meruntuhkan seluruh keangkuhannya. Kisah ini menjadi tamparan keras tentang penyesalan yang datang terlambat akibat menolak untuk saling melunak.


SEKAR Edisi Mei 2026 | Senja Pulang Karya Atika Nurul Masruroh

Senja Pulang

Karya Atika Nurul Masruroh

Langit sore pelan berubah jingga,

Angin lewat tanpa banyak suara.

Aku terduduk diam di ujung hari,

Melihat cahaya turun sedikit demi sedikit.

 

Kadang hidup memang seperti senja,

Tidak selalu terang,

Tidak juga sepenuhnya gelap.

Ada hal yang datang dan pergi,

Tanpa sempat kita genggam lama.

 

Tapi senja selalu mengajarkan satu hal,

Bahwa tenang bisa hadir secara sederhana.

Meski hari terasa melelahkan,

Langit tetap pulang dengan indahnya sendiri.


SEKAR Edisi Mei 2026 | Senyum Beribu Arti Karya Anugrah Duta

Senyum Beribu Arti

Karya Anugrah Duta

Betapa bodohnya diri ini, 

mengira setiap senyum yang kau beri,

aku lihat sebagai rasa yang perlahan tumbuh,

ironinya aku keliru,

 

aku membaca terlalu jauh,

pada hal sederhana yang sebenarnya tdk perlu dimaknai,

kau hanya baik,

dan aku … tenggelam dalam lautan harapan,

 

aku terjatuh...

mengartikannya terlalu dalam,

senyummu tetap sama, hangat, ringan, tanpa beban,

sementara aku, menanggung arti yang tak pernah kau titipkan,


aku kalah…

bukan karena ada yang lebih baik,

tapi, karena memang sejak awal,

aku tidak pernah ada dalam "inginmu"

SEKAR Edisi Mei 2026 | Libertas Karya Khoirunnisa

 Libertas

Karya Khoirunnisa

Sepetak ruangan tampak sunyi. Tidak ada jendela. Hanya tampak dinding lembab sejauh mata memandang. Cahaya datang dari lampu kecil yang menggantung di langit-langit. Sinarnya temaram dan redup. Berkedip-kedip tidak beraturan layaknya mata lelah yang dipaksa tetap terbuka. Setiap kali lampu itu redup sesaat, ruangan seakan tenggelam dalam gelap. Lalu kembali menyala dengan ragu, seolah bisa mati kapan saja. Hal itu terus terjadi berulang kali. 

Di sudut ruangan, seorang perempuan duduk di lantai. Punggungnya menempel pada dinding yang lembab. Pendar matanya redup menelisik dirinya. Menelisik warna-warna yang melekat pada kanvas yang tidak lagi putih. Melihatnya membuat perempuan itu menghela napas pelan. Perlahan-lahan ditarik lututnya dan dipeluk rapat seolah tubuhnya ingin mengecil dan lenyap. Matanya kini bergerak liar, menyapu setiap sudut ruangan seolah mencari celah untuk bernapas, hingga akhirnya berhenti pada satu titik. 

Ranjang. 

Seketika kepalanya dihantam kilatan-kilatan kejadian yang tak pernah benar-benar pergi. Ranjang itu menjadi altar persembahan untuk dirinya. Saksi bisu yang menyerap semua jerit yang dipendam, tempat dirinya dirusak dan kehormatannya direnggut berulang kali. Meninggalkan bekas yang tak kasatmata, namun terasa lebih perih daripada luka manapun. 

“Sial,” ujarnya lirih.

Perempuan itu, Sita, menjambak rambutnya. Kilasan kejadian yang berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyesakkan dadanya. Perutnya bergejolak, rasa mual mulai menghampiri dirinya. Bahkan kini Sita memukul kepalanya berharap bahwa ingatan itu segera pergi. Semakin lama ingatan itu berputar, maka dirinya akan semakin tersiksa. Ingatan itu terus mengejarnya bahkan hingga dalam mimpi. 

Sambil menahan rasa mual, Sita kembali melihat ke arah ranjang. Matanya menatap nyalang yang sarat akan amarah. Namun, ada hal lain menarik perhatiannya. Tepat di bawah ranjang. Pandangannya tertuju pada titik kecil dalam gelap. Pada benda kecil yang memantulkan cahaya. Melihat itu membuat Sita teringat akan suatu hal. Dengan harapan bahwa pemikirannya benar, Sita bergerak cepat mengahmpiri ranjang. Merendahkan dirinya dan mengulurkan tangan untuk meraih benda tersebut. Ditariknya benda itu keluar dari bawah ranjang. 

Sita terperangah. Tangannya gemetar dan secara tidak sengaja menjatuhkan benda tersebut. Melihat benda itu jatuh tepat di depan kakinya, Sita melangkah mundur. Tidak berani menyentuhnya. Namun dengan cepat dia menyadari bahwa suara tadi bisa menarik perhatian orang di luar kamarnya. Matanya melirik waspada pada pintu kayu kamarnya. Dirinya berjongkok dan mengambil kembali benda itu dengan rasa takut.

“Gimana bisa ada di sini? Benda ini, bukankah benda ini yang dicari Damar waktu itu?” Suaranya bergetar. Raut mukanya jelas masih menunjukkan keterkejutan. Matanya sepenuhnya terkunci pada pisau kecil di tangannya. Sita tidak tahu, apakah benda itu akan menyelamatkannya atau menuntunnya menuju akhir hidupnya. 

“Apakah aku bisa melakukannya?” 

Sita ragu. Tapi dirinya ditarik paksa oleh realita. Sita menyadari bahwa tidak ada bantuan yang bisa diharapkan. Penculikan ini sudah berlangsung selama satu bulan dan hingga saat ini tidak ada yang datang menyelamatkannya.

Lagi-lagi sebuah ingatan datang seperti kilat. Tepat pada kejadian sebelum kebebasannya direnggut paksa. Sita pulang malam itu. Menyusuri jalan menuju kosnya yang sepi dan temaram. Hanya ada sinar lampu jalan yang satu dari tiga titiknya sudah mati. Dia ingat mempercepat langkah. Ingat merasakan angin dari arah berlawanan. Lalu ada mobil yang menepi. Pelan. Terlalu pelan dan akhirnya berhenti. Sita menjadi ragu untuk melangkah maju melewati mobil itu. Namun, dirinya tidak ada pilihan lain. Tidak ada jalan memutar untuk menuju kosnya. Dirinya hanya berharap bahwa ketakutannya tidak berdasar. Tepat ketika Sita berhasil melewati mobil itu, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang sebelum dia sempat berteriak. Setelah itu gelap. Ketika dia membuka mata, yang ada hanyalah ruangannya saat ini.

“Apa ini saatnya untuk mendapatkan kebebasanku? Kebebasan yang sudah lama aku nantikan. Pada kehidupanku sebelum semua bencana ini terjadi.”

Di Tengah pergulatan pikirannya, dari balik pintu kayu itu terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Segera pisau itu dia pindahkan ke dalam laci di samping ranjang. Kini Sita menatap waspada pada pintu kamarnya. Perasaan takut mulai menghampiri dirinya. Dia akan memulai kembali penderitaannya hari ini. 

Perlahan pintu itu terbuka. Tampak sosok pria jangkung memasuki kamar. Setelah mengunci pintu kamar, langkah kaki pria itu membawanya menuju tempat Sita berdiri. Semakin pria itu mendekat, Sita dapat mencium aroma yang menguar. Aroma alkohol memenuhi sepetak kamar yang pengap itu. Menusuk penciuman siapapun yang menghirupnya. 

“Kau menyambutku?” Kilat matanya menunjukkan ketertarikan. Pria itu, Damar, menunjukkan senyuman yang membuat siapapun akan menghajarnya. Sita tahu arti senyuman itu.

“Kau bisu, hah? Aku bertanya padamu! Dasar wanita sialan. Sekarang kau diam. Tapi nanti kau berteriak sepuasmu.” Suaranya terdengar cukup tinggi di awal, karena tampak kesal. Tapi kini mata Damar mengerling pada Sita. Perubahan suasana hatinya terjadi dengan cepat.

Sita membeku di tempatnya. Lehernya tercekat. Kedua tangannya mengepal. Malam ini kembali lagi, ketika tubuhnya tidak berada dalam kendalinya, tetapi menjadi milik pria itu. Haknya kembali diambil paksa, tanpa suara, dan tanpa pilihan untuknya.

Lampu berkedip-kedip di atas kepala, seolah enggan menjadi saksi. Di bawah cahaya redup itu, Damar kembali menggoreskan warna-warna kasar. Seperti seniman yang menggoreskan kuasnya pada sebidang kanvas.  Dalam dunianya, dia mengagungkan dirinya sebagai seniman dan menganggap kanvas putih itu pantas dipenuhi goresan-goresan kehendaknya. 

Pada akhirnya, goresan itu meninggalkan luka dan trauma. Namun, goresan warna itu seolah-olah membuat Damar merasa agung. Sementara bagi Sita, goresan warna itu tidak bisa dia tolak, karena dia tidak dalam posisi yang memiliki kendali atas dirinya. Ketika semuanya selesai, yang tersisa hanyalah sunyi yang lebih berat dari sebelumnya, serta tubuh yang kembali tergeletak seperti benda yang ditinggalkan setelah digunakan.

Pandangan Sita mengikuti Damar yang melangkah menuju pintu. Dalam pikirannya hanya ada dua hal. Antara Damar yang mati di sini atau dirinya sendiri. Memikirkan itu segera tangannya bergerak cepat mengambil pisau di laci dan mengarahkannya kepada Damar. Belum sampai menjangkau tubuh Damar, pisau itu terlepas dari genggaman Sita. Mendengar benda jatuh, Damar membalikkan tubuhnya dan melihat pisau di lantai.

“Pisau? Wanita sialan. Kau berniat menusukku dengan pisau kecil itu? Tapi melihatmu yang menjatuhkannya, bahkan kau tidak punya nyali.” Segera setelah itu Damar menampar Sita hingga terjatuh ke lantai. Bahkan menendang tubuh Sita. Tidak ada keraguan dalam tindakan Damar. Namun, posisi dirinya yang terjatuh dimanfaatkan Sita untuk mengambil kembali pisaunya. Pandangannya sejenak tidak fokus. Setelah menguatkan dirinya, Sita mengarahkan pisau itu ke Damar. 

Satu, dua, tiga, dan entah berapa kali. Sita terus menghujam tubuh Damar. Melihat tubuh Damar akhirnya terjatuh, Sita terpaku sebentar. Berdiri memandang tubuh itu. Lalu sesuatu dalam dadanya pecah. Bukan tangis sedih. Bukan histeris. Hanya seperti beban ratusan kilo yang tiba-tiba tidak ada. Seperti tali yang selama ini meliliti dadanya akhirnya dilepas.

“Kau tidak pernah memikirkan ini kan? Kau dan yang lain mungkin berpikir bahwa diriku tak akan pernah melakukannya. Tapi kenyataannya aku punya keberanian itu. Kau akan mati di sini, tapi aku kan menyiksamu. Bahkan ketika kau pergi ke neraka, aku akan terus mengejarmu.”

Napasnya tersenggal. Tangannya gemetar dan kembali menjatuhkan pisau. Sita menatap tangannya. Ingin melihat bukti kebebasannya. Bersih. Tidak ada darah di bajunya, di lantai, atau di manapun. Dia bingung. Namun, sebelum Sita sempat bereaksi, tiba-tiba kepalanya terasa sakit seperti dihantam beban berat. Pandangannya menggelap dan tubuhnya jatuh ke lantai.

Sita tersadar dari tidurnya. Peluh membasahi tubuhnya. Matanya melihat sekeliling. Mengunci pandangannya pada bawah ranjang. Segera dirinya mencari pisau di bawah ranjang. Tapi tidak ada apapun di sana. Diarahkannya tubuhnya ke laci. Sekali lagi tidak ada pisau di sana. 

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, Damar muncul di sana. Akhirnya dia menyadari, pisau itu tidak pernah ada. Begitu juga dengan kebebasan dirinya yang hanya singgah sebentar di kepalanya. Hanya mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata.

***

 

SINOPSIS

Ketika kebebasan direnggut paksa, dia mencoba merebutnya kembali. Dia hidup dengan luka dan trauma. Kehilangan hak dan kendali atas dirinya. Namun, dia masih menggenggam harapan, sementara perlawanan dia simpan diam-diam di balik tubuh yang dipaksa menyerah. Di tengah kehancuran yang perlahan mengikis dirinya, dia hanya ingin dua hal: kembali menjadi manusia yang utuh dan memiliki kebebasan atas hidupnya sendiri.

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...