SEKAR Edisi Juni 2025 | Ayla dan Dunia Mimpi karya Siti Aprilia Mudmainah
Ayla dan Dunia Mimpi
Karya Siti Aprilia Mudmainah
Sinopsis
Apa
jadinya jika mimpi bukan sekadar bunga tidur, tapi pintu menuju dunia yang
perlahan-lahan menghilang?
Ayla, seorang gadis berusia tujuh belas tahun dengan mata
seperti sisa mimpi panjang, selalu bangun dengan jejak mimpi yang nyata,
seperti pasir di kaki, bulu emas di tangan, dan langit ungu di ingatannya.
Dunia menyebutnya aneh. Tapi sang nenek, Lyra, menyebutnya “penjaga pintu
jiwa.”
Suatu malam, Ayla terhisap ke dalam Somnaria, negeri tempat
semua mimpi bermuara. Namun, negeri indah itu sedang sekarat. Bayang Tidur
telah bangkit, mengubah mimpi menjadi mimpi buruk dan menyerap harapan dari
dunia nyata. Ditemani Lumo, makhluk cahaya yang bicara seperti lonceng angin,
Ayla harus menyeberangi Hutan Lupa yang memakan kenangan, bernyanyi di atas
Sungai Terbalik, dan menjawab teka-teki di Gerbang Mimpi Buruk. Ia bertemu Kuda
Bayangan yang lupa cara tidur, Ratu yang menyimpan waktu dalam botol, dan
penjaga mimpi yang bicara dalam teka-teki patah.
Tapi waktu terus menipis. Pasir di botol terus jatuh. Dan
satu pertanyaan tetap menggantung di udara,
“Bagaimana jika
ketakutan bukan musuh... tapi kunci?”
"Somnaria" bukan hanya kisah petualangan dalam
mimpi ini adalah perjalanan menemukan jati diri, menghadapi ketakutan, dan
belajar bahwa terkadang, dunia yang paling nyata adalah dunia yang tersembunyi
saat mata terpejam.
Karya
Lengkap
Di sebuah kota kecil yang nyaris terlupakan peta, hiduplah seorang
gadis berusia 17 tahun bernama Ayla, dengan mata yang selalu tampak seperti
baru saja terbangun dari mimpi panjang. Ia bukan gadis biasa. Sejak masih
kecil, Ayla membawa sesuatu dari dunia lain ke dalam dunia nyata.
Setiap pagi, ia bangun dengan sisa-sisa mimpi yang tak sempat larut,
seperti butiran pasir di sela jari kakinya, tetes air yang asin tapi tak asin
di helaian rambutnya, atau bulu emas lembut yang menempel di telapak tangannya
semacam salam dari makhluk bersayap yang hanya ada di dongeng, dan hal yang
paling aneh, ia mengingat semuanya. Setiap mimpi, setiap bisikan angin di
langit ungu, setiap langkah di jalanan yang terbuat dari bintang jatuh. Tidak
pernah terlupa.
Orang-orang menganggapnya aneh. Mereka berkata itu hanya bunga tidur,
khayalan remaja yang terlalu banyak membaca cerita. Tapi neneknya, Lyra
merupakan seorang perempuan tua dengan rambut seputih kabut pagi selalu
mempercayai mimpi – mimpi yang diceritakan oleh cucunya itu.
“Mimpi bukan hanya tempat kita bersembunyi,” kata Lyra. “Itu dunia
lain yang bisa kita datangi saat tidur.” Lyra juga selalu menasihati Ayla agar
tidak merasa takut dengan mimpi-mimpinya, “Ketakutan adalah pintu. Buka, dan
kau temukan kekuatanmu.”
Suatu malam saat bulan menggantung rendah, Ayla bermimpi aneh. Ia
berdiri di depan sebuah gerbang besar dari kaca bening, berhiaskan
bintang-bintang yang berputar perlahan. Di atas gerbang kaca tersebut tertulis
“Somnaria Negeri Tidur”. Pintu itu terbuka dengan sendirinya saat ayla mendekat,
mengisapnya masuk dalam pusaran cahaya.
Ia mendarat di taman yang penuh bunga bercahaya dan jalanan terapung.
Langitnya ungu, dan angin berbau manis seperti vanila. Di kejauhan, istana dari
awan menggantung, dijaga oleh makhluk bersayap kupu-kupu sebesar kuda.
“Selamat datang, penjelajah jiwa,” suara melengking menyambutnya.
Seekor makhluk mungil setinggi lutut, bertubuh kaca dan bersinar dari dalam,
terbang mengitari Ayla.
“Aku sedang bermimpi... tapi terasa nyata.”
“Kau memang bermimpi, tapi di Somnaria, mimpi adalah dunia sejati.”
Makhluk itu memperkenalkan diri sebagai Lumo, penjaga pintu mimpi.
Lumo menjelaskan bahwa Somnaria adalah dunia tempat semua mimpi bertemu, tempat
dimana anak-anak berlari di langit, tempat puisi menetes dari awan, dan ketakutan
disegel di bawah tanah oleh Penjaga Cahaya.
Namun, dunia itu sedang dalam bahaya. “Bayang Tidur telah bangkit,”
kata Lumo. “Ia menyerap mimpi menjadi mimpi buruk. Jika tidak dihentikan,
Somnaria akan runtuh… dan dunia nyata akan kehilangan harapannya.”
Ayla menatap ke langit. Kini, sebagian awan menjadi kelabu. Di
cakrawala, sebuah celah hitam merayap lambat, mengisap warna dari sekitar.
“Kenapa aku dibawa ke sini?”
“Kau memiliki kunci jiwa, roh yang dapat menyeberang tanpa terputus.
Kau bisa melawan bayang tidur... jika kau berani masuk ke wilayahnya.”
Ayla, yang sepanjang hidupnya merasa aneh karena mimpi-mimpinya, kini
tahu bahwa ia berbeda karena sebuah alasan. Ia menerima tantangan itu.
Perjalanannya dimulai dengan Lumo di sisinya, melalui Hutan Lupa,
tempat dimana pepohonan berbisik dan mencoba menghapus ingatannya dan Sungai
Terbalik, di mana arus mengalir ke langit, dan Ayla harus menyeberangi jembatan
pelangi yang terbuat dari lagu masa kecilnya.
Ia bertemu banyak makhluk, salah satunya Kuda bayangan yang tak bisa
tidur, ratu dari suku tidur siang yang menyimpan waktu dalam botol, dan kembar
tiga penjaga gerbang mimpi buruk yang bicara dalam teka-teki.
Perjalanan Ayla dimulai dengan Lumo di sisinya, makhluk mungil
bersinar itu kini jadi penuntunnya dalam dunia mimpi yang membentang luas dan
penuh misteri. Langkah pertama membawa mereka ke Hutan Lupa, tempat
pohon-pohonnya berbisik dalam suara-suara kenangan yang terlupakan.
Ranting-ranting menjulur pelan, menyentuh pelipis Ayla dan mencoba mencuri
memorinya, yang berisi suara Lyra, tawa masa kecil, bahkan nama dirinya
sendiri.
Lumo yang mengetahui hal itu, segera menggenggam tangan Ayla. Cahaya
tubuhnya menahan gelap yang merambat. "Ingat siapa dirimu, Ayla,"
bisiknya, dan gadis itu mulai menutup mata. Kemudian, ia menyenandungkan lagu
masa kecil yang biasa dinyanyikan Lyra sebelum tidur. Lagu itu bukan hanya
menenangkan, tapi juga menyelamatkan.
Suaranya ternyata berhasil memanggil jembatan pelangi yang terbentuk dari nada-nada dan cahaya, membentang di atas Sungai Terbalik. Sungai yang unik dengan arus yang meluncur ke langit, membawa dedaunan dan kilatan bintang ke angkasa.
Melintasi jembatan itu, mereka tiba di hamparan langit tidur, tempat
bintang-bintang digantung dengan benang perak. Di sanalah Ayla bertemu Kuda
Bayangan, seekor makhluk megah berwarna malam, dengan mata terang yang tak
pernah terpejam. Ia telah lupa cara tidur, karena setiap kali menutup mata, ia
bermimpi tentang dunia yang runtuh.
Namun ketika melihat Ayla, ia melihat sesuatu yang telah lama hilang
dari dirinya, cahaya harapan. Gadis itu membawa aroma langit yang belum rusak
dan keberanian yang belum dikikis waktu. "Aku pernah bermimpi
tentangmu," kata Kuda Bayangan dengan suara berat seperti petang.
"Dalam mimpiku yang tergelap, kau berjalan membawa cahaya yang tak bisa
padam. Mungkin... kaulah jawabannya."
Karena itu, meski lelah dan penuh bayang, Kuda Bayangan memilih untuk
mempercayainya. Ia bersedia mengantar Ayla melintasi Dataran Menguap, tanah
datar yang bergelombang seperti napas orang tertidur, menuju Istana Siang
Abadi, kediaman Ratu dari Suku Tidur Siang. "Jika kau mampu melewati
tempat itu dan bertemu sang Ratu," katanya, "Maka mungkin mimpiku tak
harus menjadi kenyataan."
Mereka pun telah sampai di depan gerbang istana Ratu dari Suku Tidur
Siang. Mereka berjalan dengan melihat kemewahan yang ada pada halaman istana,
tak terasa mereka ternyata sudah didepan pintu istana. pintu istana itu dijaga
oleh dua prajurit.
Kemudian, Dua prajurit itu melihat ke arah Ayla dan Lumo dan bertanya,
“Ada maksud apa kalian kemari?”. Dengan nada lembut Ayla menjawab, “Kami disini
bermaksud untuk bertemu Ratu dari Suku Tidur Siang”. “Baiklah tunggu sebentar,
saya akan meminta izin kepada Ratu”, gumam salah satu prajurit.
Prajurit itu bergegas masuk kedalam istana dan meminta persetujuan
ratu. “Ada apa prajurit?” kata ratu. Prajurit berkata, “Ada satu anak dan temannya
yang ingin bertemu dengan ratu”. “Persilahkan saja,” katanya. Prajurit itu
segera kembali menemui Ayla dan Lumo yang masih menunggu didepan pintu istana
dan prajurit mempersilahkan mereka masuk.
Ayla dan Lumo segera masuk, mereka melihat Ratu dari Suku Tidur Siang
duduk di tahta yang indah dengan awan-awan yang menghiasi. Ratu itu terlihat
sangat anggun dan nada bicaranya lembut.
“Ada apa kalian ingin
menemuiku,” ratu berkata.
“Kami disini ingin menyelamatkan dunia Somnaria dan melawan bayangan
tidur,” Ayla menjawab tegas.
Kemudian, ratu mengambil sebuah botol kaca berisi pasir yang melayang.
"Kau hanya punya waktu selama mimpi ini bertahan, bila pasir ini habis dan
kalian masih belum bisa mengalahkan Bayangan Tidur, kalian akan hancur "
katanya sambil menyodorkan botol waktu yang isinya mulai berjalan menipis,
detik-detiknya jatuh pelan bagai embun.
Perjalanan pun berlanjut, membawa Ayla ke Gerbang Mimpi Buruk, dijaga oleh tiga bersaudara kembar, satu selalu tertawa tanpa alasan, satu menangis terus-menerus, dan satu membisu dengan mata tertutup. Mereka bicara dalam teka-teki, kalimat-kalimat yang terdengar seperti puisi yang patah.
Untuk masuk, Ayla harus menjawab pertanyaan yang bukan sekadar soal
logika, tapi keberanian hati, "Apa yang datang saat kau berhenti mencari,
tapi pergi saat kau genggam terlalu erat?" Sambil menatap cahaya Lumo yang
mulai meredup, Ayla menyadari jawabannya bukan pengetahuan, ia berpikir keras.
“KEYAKINAN…,” jawaban yang keluar dari mulutnya dengan nada yang tegas. Gerbang
terbuka, dan bayangan mimpi menanti di baliknya.
Akhirnya, Ayla sampai di Lembah Kosong, sarang bayang tidur. Langitnya
hitam pekat, dan tanahnya retak seperti kaca pecah. Di tengah lembah berdiri
menara hitam menjulang, berputar perlahan dalam diam. Bayang Tidur muncul
sebagai sosok tinggi tanpa wajah, hanya kabut dan mata menyala merah. “Kau
datang membawa terang,” gumamnya, suaranya seperti ribuan bisikan. “Tapi
terangmu akan padam.”
Ayla merasa takut, tetapi ia ingat kata Lyra, “Ketakutan adalah pintu.
Buka, dan kau temukan kekuatanmu.” Ia mengangkat tangannya, dan Kunci Jiwa
menyala dari dalam dadanya. Cahaya menyebar, membentuk perisai mimpi yang
berisi potongan kenangan manisnya suara Lyra, hujan pertama yang ia nikmati,
senyuman anak-anak saat ia mendongeng.
Bayang Tidur menerjangnya, menebar ilusi, memperlihatkan masa depan
yang suram dan masa lalu yang penuh kegagalan. Namun Ayla tetap berdiri. Ia
menyadari bahwa kekuatan Somnaria berasal dari harapan yang dibentuk oleh para
pemimpi.
Dengan satu teriakan, Ayla melepaskan cahaya dari jiwanya. Bayang
Tidur pecah menjadi debu kelam, dan langit mulai berubah kembali menjadi ungu.
“SOMNARIA SELAMAATT….”
Lumo dan makhluk lain bersorak. Ayla berdiri di tengah taman cahaya
yang kembali bermekaran, dan langit menurunkan serpihan mimpi sebagai hujan.
“Sudah saatnya kau kembali,” kata Lumo. “Tapi pintu ini tak tertutup.
Kau bisa kembali kapan saja... bila dunia nyata lupa cara bermimpi.”
Ayla terbangun di ranjangnya. Tangannya menggenggam sebutir kristal
kecil yang bersinar lembut sisa dari Somnaria. Ia tahu, dunia mimpi bukan hanya
ilusi. Itu tempat di mana harapan dilahirkan.
Dan sejak hari itu, Ayla menceritakan mimpinya kepada siapa pun yang mau mendengar. Ia mengajar anak-anak menggambar bintang, menulis mimpi, dan percaya bahwa saat tidur, kita semua adalah pejuang cahaya di dunia yang tersembunyi di negeri bernama Somnaria.
Komentar
Posting Komentar