SEKAR Edisi Juni 2025 | Train to Love karya Deapram Ardianatasyah
Train to Love
Karya Deapram Ardianatasyah
Sinopsis
Giana melewatkan momen war tiket sehingga terpaksa menaiki kereta ekonomi dengan serba-serbi ketidaknyamanan yang didapatnya selama perjalanan, namun dari sana juga dia bertemu dengan seseorang yang akan menemaninya di perjalanan yang lebih panjang. Perjalanan menuju mimpi dan masa depan yang bahkan tidak terbayang olehnya. Kisah yang mungkin terdengar klasik namun amat berharga untuk Giana, pertemuannya dengan Zidan adalah keajaiban di tengah ketidaknyamanan. Giana menyebutnya sebagai perjalanan menuju cinta, dan kereta ekonomi sebagai saksinya.
Karya Lengkap
Libur panjang semester genap telah selesai, saatnya memulai hari baru di semester 3 yang konon disebut sebagai semester kematian. Mungkin tidak semua mahasiswa menyebut demikian, tapi ada beberapa tingkatan semester paling membuat stress dan semua adalah semester ganjil.
Pertama adalah semester 3, disebut sebagai gerbang kematian karena pada semester itu projek akhir sangat menumpuk. Walau setiap semesternya ada projek akhir, tapi entah kenapa vibes semester 3 ini jauh lebih gelap. Kedua adalah semester 5 yang disebut sebagai pintu neraka, sejujurnya aku belum begitu paham kenapa disebut demikian karena masih baru akan menempuh semester 3. Nah, selanjutnya adalah semester 7. Sebutannya semester neraka. Kalau ini sepertinya tidak perlu dijelaskan lagi alasannya, lagipula aku juga belum sampai di sana.
Berbicara tentang semester neraka yang masih jauh di depan sana,
sepertinya keadaanku yang sekarang sudah cukup memprihatinkan. Kehabisan tiket
karena kalah war dan berakhir di kursi kelas ekonomi yang sangat tegak melebihi
keadilan. Aku harus menahan sakit pinggang dan punggung selama kurang lebih
tujuh jam perjalanan, dan tidak ada yang lebih buruk dari itu.
Awalnya kupikir begitu, tapi ternyata ada yang lebih buruk lagi. Pada
pemberhentian ketiga, kursi di depanku yang semula kosong akhirnya terisi.
Seorang laki-laki berusia pertengahan dua puluhan— sepertinya, datang dan duduk
hanya dengan membawa shoulder bag. Pakaiannya santai dengan hanya mengenakan celana
pendek selutut dan kaos polos berbalut jaket abu-abu— tunggu, untuk apa aku
menjelaskannya? Yang pasti laki-laki bertudung itu sempat menatapku cukup lama
sebelum bersandar pada jendela dan menutup kedua matanya.
Aku berusaha tidak terusik dan menyibukkan diri dengan ponsel, padahal
sinyal di dalam kereta api sangat menjengkelkan. Sekadar untuk bertukar pesan
saja susah. Sementara itu batinku menggerutu, ini yang tidak kusuka dari kursi
ekonomi— harus berhadapan dengan orang yang tidak kukenal. Sebagai seorang
introvert yang selalu canggung dengan orang asing, ini sangat menyiksa.
Kereta kembali melaju di atas lintasannya, membuat pohon-pohon dan
bangunan tertinggal di belakang. Aku menatap kosong ke luar jendela, melamun
sepanjang perjalanan seraya menikmati lagu dari aplikasi musik premium memang
menyenangkan.
Namun kedamaian itu tidak bertahan lama begitu merasakan sesuatu
menyentuh lututku, itu adalah lutut orang di depanku. Dia masih terlelap, tapi
kakinya yang panjang menjulur hingga mengambil tempatku. Bagus, ini siksaan
yang lain lagi. Masih ada sekitar lima jam perjalanan, apa aku harus menahannya
sampai kereta tiba di tujuan?
Kuharap orang ini segera turun.
“Oh, maaf.” Laki-laki itu memperbaiki posisi duduknya lebih tegak
begitu sadar kakinya menyentuh kakiku. Dia menguap tapi tidak kembali tidur,
malah menatapku. “Turun di mana, Dek?”
Jujur saja di dalam sana aku langsung bergidik. Sebagai anak pertama
dan cucu pertama, cukup mengejutkan ada yang memanggilku seperti itu, terlebih
orang asing.
Walau begitu aku menjawab dengan canggung, “Stasiun terakhir.”
“Ooh, kuliah di sana ya?”
Aku mengangguk lagi, dan kupikir itu adalah obrolan terakhir. Nyatanya
dia kembali bertanya dan terus menerus seolah sedang melakukan wawancara.
Karena di kursi yang seharusnya berisi empat orang ini hanya ada kami, jadi aku
bingung bagaimana harus mengakhiri obrolan— yang sebenarnya seperti sesi tanya
jawab, dia yang bertanya terus.
Untung saja tidak lama kemudian kereta berhenti, aku pamit ke toilet
sebagai alasan. Kursiku cukup jauh dari toilet, jadi tidak mencurigakan jika
lama.
Di depan ada gerbong makan, aku sempat berpikir akan pergi ke sana
saja sampai teringat tidak membawa uang tunai dan tidak ada sinyal untuk
membuka e-money. Bagus, aku akan diusir jika hanya menumpang duduk. Tidak ada
pilihan lain kecuali kembali ke kursi neraka itu karena kereta mulai melaju
kembali.
Sebelum itu aku mengatur napas seolah akan memasuki medan perang,
kemudian langkahku secara perlahan mendekati kursi kosong yang kutinggalkan.
Setiap langkah selaras dengan detak jantungku, tapi lama-lama langkahku
melambat sementara pacuan jantungku semakin cepat. Begitu sampai di kursiku,
ada sesuatu yang aneh.
“Udah selesai?” tanya seorang laki-laki tapi bukan yang mengajakku
berbicara tadi. Dia duduk di bangkuku seraya bersandar santai. Kedua lengannya
terlipat di depan dada dan headphone berada di lehernya. Nada bicaranya ketika
bertanya terdengar seolah kami akrab, padahal rasanya aku tidak pernah melihat
wajah itu. “Kamu duduk di sini aja, biar aku dekat jendela.” Dia menepuk kursi
kosong di sampingnya— maksudku, di samping kursi milikku yang dia duduki.
Aku masih mencerna situasi, tapi tetap duduk. Kulihat laki-laki di
depanku hanya melirik malas, kemudian melengos ke arah jendela, seolah tidak
peduli. Aku bersyukur karena dia terlihat tidak berminat mengajakku berbicara
lagi, tapi laki-laki di sampingku ini masih menimbulkan tanda tanya.
Dia tiba-tiba mengetikkan sesuatu di ponselnya, sebuah catatan, lalu
menyodorkannya padaku.
‘Sorry, aku lihat kamu nggak nyaman tadi jadi pindah ke sini. Boleh?’
Aku menatapnya dengan kening berkerut, masih belum sepenuhnya paham.
Untungnya dia bukan tipe yang akan berdecak dan mendengus kesal, tampaknya dia
sabar dan kembali mengetik.
‘Kita satu tujuan, kursiku di belakang sini. Kalau kamu keberatan, aku
balik.’
Sekarang aku paham dan reflek menggeleng dengan tatapan memohon.
Jangan pergi, aku tidak ingin mendengar pertanyaan random itu lagi.
Dia mengerti dan mengangguk.
Rupanya kesepakatan tidak terduga ini membuat perjalanku lebih tenang.
Dia tidak bertanya apa-apa dan sibuk menikmati musik dari headphonenya,
sesekali matanya terbuka ketika merasakan gerakan di depannya— ketika laki-laki
aneh itu menggeliat dan berniat bergeser.
“Pacar saya nggak nyaman, Bang,” katanya tiba-tiba, membuatku langsung
menoleh. “Di depan saya aja, jangan geser ke sana.”
Laki-laki di depannya terlihat kesal tapi hanya mengangguk, lalu
merapat kembali ke arah jendela.
Aku yang masih terkejut, hanya menatapnya sambil terbengong. Sial
sekali dia menoleh, membuat kami bertemu tatap. Alih-alih langsung buang muka,
aku malah menaikkan alis. Bertanya-tanya.
Kupikir dia akan mengetik sesuatu lagi untuk menjawab, tapi kali ini
dia hanya mengedikkan bahu lalu menoleh ke arah jendela.
Dia mengabaikan kebingunganku, tapi anehnya aku tidak kesal.
Pemandangan gunung dan sawah di luar sana terlihat seperti lukisan, tapi apa
yang ada tepat di depan mataku ini tiba-tiba terlihat lebih mengagumkan dari
lukisan. Kalau dalam dunia manga atau anime, pasti muncul efek cahaya yang
biasanya mengelilingi tokoh utama.
Aku bukan orang yang mudah tertarik di pertemuan pertama, bukan juga
orang yang gampang terbawa suasana dan perasaan karena terlalu mengandalkan
logika. Sialnya, sama seperti sinyal yang nyadat-nyadat di dalam gerbong ini,
logikaku juga ikut tersendat. Berbanding terbalik dengan debar jantungku yang
lancar jaya, sampai aku takut suaranya akan menembus headphone miliknya dan
membuatku malu setengah mati.
Aku buru-buru berpaling, tanganku terangkat menyentuh dada. Ini tidak
biasa, gejalanya lebih aneh daripada ujian lisan mendadak. Ini bukan debaran
jantung yang waspada saat sesi tanya jawab setelah presentasi, atau saat sadar
lupa presensi dan tidak punya bukti. Sebagai seorang jomlowati sejak bayi, aku
bahkan langsung bisa menyimpulkan apa yang terjadi.
I fell in love at first sight!
◦•●❤♡ Train
to Love ♡❤●•◦
Aku tidak akan naik kereta ekonomi lagi, tidak mau berhadapan dengan
orang asing yang banyak tanya, dan tidak mau sakit pinggang dan punggung selama
tujuh jam perjalanan.
Kata-kata itu terus kuulang setiap mendekati libur atau awal semester
agar tidak lupa war tiket. Duduk di kursi ekonomi benar-benar memberiku trauma
yang masih melekat sampai sekarang— sekaligus sebuah pertemuan yang berkesan
dan masih tersimpan rapi di ingatanku.
Itu adalah cerita tiga tahun lalu, dan sampai sekarang setiap
detailnya masih kuingat jelas di kepala. Saat aku yang merasa akan memasuki
medan pertempuran padahal hanya kembali duduk di kursi ekonomi berhadapan
dengan orang asing banyak tanya, dan kejutan saat kursiku ternyata tidak
kosong. Apa yang terjadi selanjutnya seperti alur novel romansa remaja yang
akhirnya menemukan cinta pertamanya setelah selama 19 tahun menerjang dunia
seorang diri.
Pertemuan singkat yang sangat membekas, aku selalu tersenyum setiap
mengingatnya. Andai waktu bisa diulang— AKU TIDAK MAU NAIK KERETA EKONOMI LAGI!
Tapi bagian bertemu dengannya harus tetap ada.
“Siapa sangka berdiri di sini lagi tapi statusnya udah bukan
mahasiswi.” Wajahku terangkat menatap tulisan nama kebesaran almamaterku. “Dan
jadi hari terakhir di kota perantauan ini.”
Saat pertama kali menginjakkan kaki di tempat yang jauh dari rumah
ini, aku sempat ragu apakah bisa bertahan tanpa menangis setiap malam.
Nyatanya, tugas menumpuk dan proker organisasi membuatku tidak punya waktu
untuk menangis.
Walau begitu, setiap detik adalah pengalaman, dan setiap sudut kota
ini adalah kenangan. Tidak ada yang kusesali. Baik dari segepok tugas, sederet
proker, segelintir teman dekat, bahkan pengalaman naik kereta ekonomi. Karena
tanpa semua itu, aku tidak akan berada di sini. Di titik yang jauh lebih baik
dari bayanganku dulu.
Juga, di sebelah orang yang tidak pernah kusangka akan menggenggam
tanganku yang terus gemetar selama revisian skripsi ini.
“Aku udah pesan tiketnya,” katanya, lalu menunjukkan layar ponsel yang
menampilkan bukti pembelian tiket kereta.
Mataku memicing, rasanya tidak asing dengan tampilan itu— maksudku,
keterangan yang tertulis di sana.
“Kamu beli tiket kereta ekonomi?!”
Dia mengangguk dan tersenyum tanpa beban, padahal aku melotot sambil
melongo.
“Kamu kan tahu aku nggak suka naik kereta ekonomi, kamu tahu sejak
awal, Ji. Lupa yaa?” protesku keras. Dia adalah orang yang paling paham alasan
kenapa aku sangat menolak naik kereta ekonomi.
Dia paham, karena dia tahu apa yang kualami dulu. Oh ya, biar
kuperkenalkan dulu. Laki-laki yang sekarang masih tersenyum walau aku
mengomelinya ini adalah Zidan, pacarku
sejak dua tahun lalu. Dia juga adalah orang yang tiba-tiba duduk di kursi
ekonomiku— jika kalian lupa, dia yang mengaku jadi pacarku saat itu, padahal
aku baru pertama kali melihatnya.
Jangan tanya kenapa kami bisa bersama, yang pasti bukan aku duluan
yang mengejarnya. Walau aku sadar telah menyukainya sejak hari itu, tapi sumpah
aku mana berani mengatakannya langsung. Dia duluan yang menyatakannya— saat itu
rasanya seperti tidak nyata.
Terlalu panjang jika menceritakannya di sini, akan kubahas lain kali.
Sekarang bagian pentingnya adalah mengomel dulu padanya.
“Ji, jangan senyum aja! Jawab, dong.”
“Aku jawab setelah kamu lebih tenang,” katanya.
Aku menghela napas, sudah tiga tahun dan Zidan sama sekali tidak
berubah. Dia selalu memahami sifat anak pertama keras kepala yang kumiliki
setiap kali kami berdebat— oh, kami jarang berdebat, lebih tepatnya moodku yang
naik turun terkadang membuatku mengomel tidak jelas. Kupikir dia akan kabur
begitu melihatku suka mengomelinya, nyatanya dia tetap di tempat dan menatapku
dengan sorot mata sama. Aneh, tapi itu membuatku merasa dicintai.
“Na, kamu tau, hari ini adalah tepat tiga tahun sejak saat itu.” Zidan
meraih tanganku. “Saat aku ngelihat kamu duduk gelisah di kursi kereta ekonomi
karena tidak nyaman.”
Tatapan kesalku perlahan luluh, suara Zidan yang rendah dan lembut
selalu berhasil menenangkanku— sekaligus memenangkanku. Segalanya tentang Zidan
selalu bisa menyedot atensiku. Kuulangi, segalanya.
Jangan minta aku menjelaskan apa saja yang kumaksud segalanya tentang
dia, aku tidak mau kalian ikut jatuh cinta pada Zidan. Cukup baca cerita
singkatku ini dan semoga kalian juga menemukan Zidan yang lain. Yang ini
milikku.
“Bagi aku momen itu bukan sekadar kebetulan, pertemuan kita bukannya
sesuatu yang jadi bagian dari serba-serbi kereta ekonomi. Itu adalah perjalanan
awalku menuju sesuatu yang sangat berharga, yaitu kamu.” Mata Zidan menatapku
dengan pancaran kasih sayang dan kejujuran, dia selalu seperti itu.
Tuhan, tolong. Biarkan aku merasakan jatuh cinta selamanya setiap kali
melihat mata indah itu.
“Seperti yang kamu tahu, ini akan jadi perjalanan terakhir kita dari
kota ini, kan? Setidaknya di kali terakhir ini, aku ingin mengingat masa
pertama ketika aku memutuskan untuk menuju kamu.”
“Tapi … kursi ekonomi itu kan …”
“Seperti yang kamu bilang, aku adalah orang yang paling paham tentang
alasan kamu menolak. Aku juga tahu kamu akan bilang gitu. Giana, aku nggak
maksa kamu setuju kok. Kita bisa pesan tiket lagi kalau kamu nggak mau.”
Aku tidak akan naik kereta ekonomi lagi, tidak mau berhadapan dengan
orang asing yang banyak tanya, dan tidak mau sakit pinggang dan punggung selama
tujuh jam perjalanan.
Kata-kata itu kembali terngiang di kepalaku, mantra yang kuucap setiap
mendekati libur semester dan saat semester baru akan dimulai sebagai pengingat
untuk tidak war tiket terlalu mepet. Tapi kalimat itu perlahan mengabur bersama
dengan keraguan dan ketakutanku tentang ‘kursi kereta ekonomi’ yang menyiksa
itu.
Apa yang Zidan katakan tentang ‘awal mula dia memutuskan aku sebagai
tujuannya’ sangat menyentuh, walau dia sudah bilang pertemuan di kereta itu
memang awal dari segalanya. Di mataku dulu Zidan hanya laki-laki baik yang
ingin membantu, rupanya di mata Zidan aku adalah perempuan yang harus dijaga
saat itu padahal kami tidak mengenal satu sama lain.
Melihat ketulusannya, apa sakit punggung dan pinggang serta
serba-serbi kereta ekonomi sepadan dengannya?
Tidak! Sama sekali tidak bisa disandingkan. Jika ketulusan Zidan hanya
kubalas dengan ketidaknyamanan sesaat, maka itu namanya tidak adil!
Aku memahami keputusan Zidan untuk kembali mengenang pertemuan pertama
kami dengan menaiki kereta ekonomi, karena baginya itu bukan sekadar perjalanan
tujuh jam bersama ketidaknyamanan.
Kereta ekonomi telah membawa kami sejauh ini. Bukan hanya perjalanan menuju
kota perantauan untuk menuntut ilmu, tapi juga perjalanan menuju cinta.
Iya, perjalanan cinta kami dimulai dari kursi kereta ekonomi yang
tidak nyaman. Lantas kenapa aku harus menolak melibatkan kembali kereta ekonomi
di dalam perjalanan kami?
“Okay,” balasku. “Ayo kita naik kereta ekonomi. Tapi ada syaratnya.”
Aku mengacungkan jari telunjuk.
“Aku ambil kursi-kursi di depan kita juga, supaya kamu nggak perlu
ketemu sama orang aneh yang tanya-tanya lagi,” tukasnya sebelum syarat
kuucapkan. “Kamu mau bilang itu, kan?”
Tidak salah lagi, Zidan memang orang yang paling mengerti aku.
Komentar
Posting Komentar