SEKAR Edisi Juni 2025 | Kelopak Yang Tak Sempat Mekar karya Navira Monica Sari
Kelopak Yang Tak Sempat Mekar
Karya Navira Monica Sari
Sinopsis
Allice diam-diam mengidap Hanahaki, penyakit yang membuatnya memuntahkan kelopak bunga karena cinta tak terbalas pada sahabatnya, Arka. Meski tahu cintanya takkan pernah dibalas, ia memilih menyimpannya dalam diam, meski tubuhnya semakin lemah. Ketika akhirnya ia mengungkapkan segalanya, Arka tak bisa menjanjikan apa pun selain simpati. Allice pun pergi selamanya, meninggalkan dunia dengan ladang Camellia di dadanya dan cinta yang tak sempat mekar.
Karya
Lengkap
Musim semi datang dengan pelan, seolah enggan menyentuh terlalu cepat
luka-luka yang belum sembuh dari musim sebelumnya. Di sudut bangku ketiga,
tepat di bawah jendela yang menghadap taman belakang sekolah, Allice duduk
diam, memeluk udara yang semakin lembut tapi tak cukup hangat untuk menghapus
getir di dadanya.
Hening bukan hal baru baginya, tapi sejak sebulan terakhir, hening
menjadi satu-satunya ruang di mana ia merasa aman. Suara teman-teman yang riuh
di kelas, denting lonceng masuk, bahkan suara Arka yang khas saat menyebut
namanya, semuanya mulai terdengar seperti gema di dalam lorong panjang yang
semakin menjauh.
Hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia merasakan gatal halus di
tenggorokan. Ia tahu tanda-tandanya. Rasa perih yang tak seperti flu, bukan
alergi, dan bukan sekadar kelelahan. Ia buru-buru meraih sapu tangan putih dari
tasnya, menutup mulutnya ketika batuk kecil mulai keluar.
Dan saat ia melihat ke dalam kain itu, di sanalah kelopaknya.
Merah muda. Lembut. Lembab oleh darah yang tipis tapi jelas.
Ia menahan napas, seperti biasa. Seolah jika ia menolak mengakui
kehadiran kelopak itu, penyakitnya bisa disangkal. Tapi tidak kali ini. Tidak
setelah dua minggu berturut-turut ia memuntahkan bunga setiap malam dan bangun
dengan dada sesak, seolah ada taman yang tumbuh di antara tulang rusuknya, tapi
tak diberi cukup ruang untuk bernapas.
---
Hanahaki.
Penyakit fiktif, katanya. Penyakit dalam cerita, dongeng, fiksi Jepang
dan Korea, tentang orang-orang yang terlalu lama mencintai dalam diam. Tapi
bagi Allice, ini nyata. Terlalu nyata. Ia hidup dalam tubuhnya, dalam
paru-parunya, dalam setiap kata yang tak pernah ia ucapkan pada Arka.
Arka.
Ia bukan bintang yang bersinar mencolok, bukan ketua OSIS, bukan
atlet, bukan pusat perhatian. Tapi ia adalah matahari bagi Allice hangat,
konstan, dan tak sadar bahwa dirinya menyinari semesta seseorang dengan cara
paling sunyi. Cara Arka menyentuh dunia dengan kameranya, menangkap hal-hal
kecil yang orang lain anggap sepele seperti bayangan daun di dinding, atau
embun di tepi jendela membuat Allice percaya bahwa cinta bisa tumbuh dalam
senyap, dan tetap bermakna.
Mereka berteman. Cukup dekat untuk saling sapa, tertawa bersama saat
kerja kelompok, bahkan kadang pulang bareng jika jalan searah. Tapi tidak
pernah lebih dari itu. Karena Arka sudah menyukai orang lain Reva. Dan Reva
sempurna dalam cara yang Allice tahu tak mungkin bisa ia gantikan.
Sejak kelopak pertama muncul, dunia Allice mulai mengecil.
Ia berhenti mengikuti kegiatan sekolah. Menolak ajakan teman-teman.
Lebih banyak tidur, atau duduk memandangi Camellia
dari jendela, menghitung berapa kelopak yang akan ia muntahkan malam ini.
Kadang, saat tubuhnya terlalu lemah, ibunya yang membantu membersihkan lantai
menyapu kelopak dan darah, seperti menyapu sisa mimpi yang gagal.
“Allice, ini tidak bisa dibiarkan,” kata ibunya suatu malam, suara
nyaris pecah. “Tolong jalani operasi. Kita bisa ke Jakarta. Ada rumah sakit
yang paham tentang ini.”
Allice hanya memejam. Tangannya yang kurus menggenggam selimut.
“Kalau aku dioperasi, aku akan kehilangan semuanya, Bu. Bahkan…
namanya. Aku nggak mau bangun tanpa tahu siapa yang dulu membuat aku merasa
hidup.”
“Tapi kamu bisa mati, Allice!”
“Aku sudah setengah mati, Bu. Sejak dia nggak pernah lihat aku seperti
aku melihat dia.”
Tangis ibunya pecah malam itu, seperti langit yang akhirnya menyerah
pada hujan.
---
Puncaknya datang saat Arka datang ke rumah. Ia berdiri di depan pintu
dengan canggung, membawa setangkai Camellia
yang dibungkus kertas cokelat.
Ibunya membuka pintu dengan tatapan penuh ragu, tapi memanggil Allice
juga. Dan saat Allice muncul, tubuhnya hampir tak dikenali. Pucat, mata cekung,
langkah pelan seolah setiap gerak bisa mematahkan sesuatu di dalam dirinya.
“Al...” Arka maju beberapa langkah. “Kamu... sakit, ya?”
Allice tak langsung menjawab. Ia hanya menyodorkan saputangan putih.
Arka mengambilnya, dan ketika kelopak merah muda itu jatuh ke lantai, ia
menahan napas.
“Aku pernah baca tentang ini,” bisiknya. “Aku kira... cuma cerita.”
“Aku juga.”
“Kenapa nggak bilang?”
“Karena kamu bahagia sama dia. Dan aku nggak ingin kebahagiaanmu
berubah jadi beban.”
Arka terdiam. Wajahnya menegang, seperti sedang bertarung antara rasa
bersalah dan kebingungan.
“Aku nggak bisa balas, Al. Aku... mencintai Reva. Tapi aku peduli sama
kamu. Kamu temanku.”
Allice tersenyum. Lelah, tapi damai.
“Teman yang diam-diam menanam taman di dadanya. Tapi tak pernah bisa
kau lihat, ya?”
Air mata mengalir di pipinya. Bukan karena Arka menolaknya. Tapi
karena semua akhirnya terucap.
---
Tiga hari berlalu, dunia kehilangan satu cahaya kecil yang tak banyak
bersuara, tapi selalu menatap penuh makna.
Allice ditemukan terlelap di ranjangnya, tubuhnya hangat terakhir
kalinya. Di sekelilingnya, kelopak-kelopak merah muda memenuhi tempat tidur,
seolah ia telah tidur di ladang yang tumbuh dari hatinya sendiri.
Ibunya memeluk tubuh itu erat-erat, seakan bisa memanggilnya kembali.
Tapi tidak ada jawaban, kecuali surat yang terlipat rapi di bawah bantal.
“Cinta tak pernah
salah. Yang salah adalah memaksa cinta untuk selalu berakhir indah. Terima
kasih sudah jadi bagian dari hidupku. Aku pergi, tapi tidak hilang. Aku tinggal
di kelopak yang gugur, dalam hujan yang turun di pagi hari. Jika kelak kau
menemukan Camellia di taman yang tak pernah kau sadari tumbuh… itu aku. Aku di
sana, menunggu gugur, demi pernah mencintaimu.”
---
Musim semi berikutnya, taman belakang sekolah itu memiliki satu pohon Camellia yang baru. Arka yang menanamnya
sendiri. Di bawahnya, tertera plakat kecil:
Untuk
Allice.
Yang mencintai dalam diam, dan tetap mekar meski tak pernah dipetik.
Komentar
Posting Komentar