SEKAR Edisi Juni 2025 | Angin Malam karya Saffanah Salsabila Syaikhoni

Angin Malam

Karya Saffanah Salsabila Syaikhoni


Sinopsis

Menurut kalian apakah jatuh cinta bisa dikatakan benar? Mungkin kalian semua akan mengatakan ‘benar’ namun bagaimana jika sebaliknya? Kami tahu jatuh cinta bukanlah sebuah tindakan yang penuh dosa, kita tidak bisa memberikan titah pada hati terkait perasaan aneh ini. Itulah masalahnya.

   “Namun, Zaid… aku tahu kita bisa melakukannya!”

   “Kamu tidak tahu, Afifah.”

Angin malam itu menenangkan, namun kali ini sangat menyakitkan. 

Karya Lengkap

Afifah Jalila Sakinah

Dinding mulia ini pasti muak tiap hari mendengar goresan penaku. Pilar-pilar suci ini pasti hafal siapa sosok yang aku bentuk lewat garis gambarku. Aku tahu seharusnya ini tidak boleh terjadi namun, apalah dayaku. Aku hanyalah seorang muslimah yang tidak sengaja memiliki perasaan terlarang ini. Padahal aku belum cukup mencintai penciptanya, tapi aku telah berani mencintai ciptaan-Nya. Tapi tahukah kalian apa yang setelah itu aku lakukan? Aku tetap disini, memendam perasaan yang sama sembari mengaguminya dari jauh.

   “Afi, maaf… aku lama banget ya?” Ini adalah temanku, namanya Lia. Seorang muslimah juga. Setelah sholat isya’ kami memutuskan untuk mengikuti kajian muslimah yang dibawakan oleh ustadzah kami.

   “Astagfirullah, Afi… kamu masih aja ya ngelakuin hal yang ga berguna?” ungkapnya. Lia tidak suka melihatku mengekspresikan perasaanku.  “Udah ayo… mending kita cepet masuk,” ucap Lia sembari menarik tanganku. Tapi aku tak mengacuhkannya, kedua manik mataku menangkap sosok yang aku tunggu-tunggu, aku tak mengindahkan beribu ajakan yang dilontarkan Lia.

   “AFI! Apasih kamu ini?!”

 “Mmm… kamu masuk dulu aja ya… aku masih ada urusan dengan temanku,” ucapku beralibi.

  “Ha? Temanmu yang mana, Fi?”

Aku mendorong tubuh Lia agar segera masuk ke dalam masjid, “Temennya Abi, aku mau tanya sesuatu, udah sana cepettt.”  Setelah Lia masuk ke dalam masjid, aku bergegas berlari ke sebelah kiri masjid dengan membawa alat gambarku. Aku bersembunyi di sebalik pagar tembok berharap ia tak sadar akan pandanganku. Diam diam aku biarkan tanganku menari-nari di atas kertas. Goresan itu terukir cakap membentuk sebuah sosok indah yang selama ini aku kagumi.

Jikalau aku tidak salah, namanya adalah Zaid. Ya Allah, mengucapkan namanya saja mampu membuat jantungku meleleh seperti es krim vanilla kesukaan Lia. Ia adalah pemuda saleh yang sering berkunjung ke masjid bahkan hampir setiap hari. Mulai dari bersedekah hingga terkadang ikut membersihkan masjid kami. Sebenarnya terbesit niat lain di hatiku dalam mengikuti kajian ini dan inilah niat yang lain itu.

Dari sebalik pagar tembok aku menikmati alunan suara syahdu yang merambat masuk ke dalam dua telingaku. Lama kelamaan suara itu mendekat… dekat… sangat dekat hingga mengunci detak jantungku, menghentikan peredaran darahku hingga membuat sekujur tubuhku panas dingin.

   “Permisi, apakah kajian di dalem udah selesai?” tanyanya. Ya, dia bertanya padaku, Zaid. Tidak ada yang bisa mendeskripsikan bagaimana kondisi jiwaku saat itu, bahkan diriku sendiri tidak bisa. Hasilnya, aku tak langsung menjawabnya, aku masih termangu diam membisu untuk mengatur ritme detak jantungku.

   “Be-belum, Mas,” jawabku terbata-bata. Afifah… tenang.

   “Kira-kira sampai jam berapa ya? Soalnya nasi kotaknya agak terlambat datangnya.” ucap Zaid. Ya allah… apa yang harus aku lakukan? Apakah saat ini juga aku bisa terbang langsung ke langit ketujuh? Jangankan ketujuh, kesepuluh pun aku rela asalkan aku bisa menghentikan pemberontakan jantung ini.

   “Mung-mungkin satu jam lagi, saya permisi dulu, assalamualaikum.” Setelah menjawab itu aku langsung pergi. Aku yakin pasti sikap bodohku sangat terlihat jelas di matanya.

Esok hari telah tiba menyapaku dengan ceria. Entah mengapa hanya karena interaksi sepersekian detik saja telah mampu membuat tidurku tak nyaman. Bagaimana jika interaksi itu menjadi semenit? Atau bahkan sejam? Sebulan? Setahun? Saat itu terjadi, aku rasa jantungku telah terkunci rapat tak bergeming sama sekali. Jam 6 pagi aku bangun dengan senyuman yang terukir indah di wajahku.

   “AFIFAH!” teriak umiku, “Hei, Nak… kamu lupa kalo sekarang lagi ada acara pengajian di masjid? Kenapa bangunnya siang sekali?”

Bagus sekali Afifah, kamu telah melewatkan satu acara penting pagi ini karena terlalu larut dalam perasaan yang fana itu… waktunya bangun, hadapi kenyataan.

   “Astagfirullah, Umi… Afifah minta maaf, Afifah bakal siap-siap,” ucapku dengan segera memakaikan kedua sandal kodokku yang berwarna hijau.

   “Jangan lam—” aku memotong kalimat umiku.

  “10 menit! ucapku sembari menunjukkan sepuluh jariku, “Umi duluan aja!” Aku bergegas lari menuju kamar mandi.

Setelah bersiap-siap menyiapkan segalanya dalam waktu 10 menit lebih 50 menit, akhirnya aku sampai di masjid dan aku lihat para jamaah pengajian telah bergegas untuk menginjakkan kaki dari majelis. Aku menepuk dahiku sembari merutuki diri sendiri, mengapa aku hari ini begitu ceroboh. Dengan satu tarikan nafas aku siapkan mentalku untuk mendapat siraman rohani dari Abi.

   “Afifah! Lama sekali kamu,” ucap umi, “Sekarang kamu cepet ke dapur masjid, kamu bantu bikin teh ya.”

   “Eh, buat apa? Bukannya pengajiannya udah selesai?”

  “Ini ada acara lain. Afifah, Umi tuh bersyukur banget karena masjid kita dapet sumbangan dana untuk renovasi, Fi… hari ini dimulai, tapi hanya sekedar rapat, makanya cepet sana bantuin bikin teh.”

  “Sebentar, Umi, memang siapa yang memberikan dana untuk masjid kita yang lumayan besar di tengah segala keterpurukan ekonomi ini?”

   “Haduh, kamu banyak tanya sekali… itu, anak laki-laki itu yang memberinya. Udah buruan, orang yang terlambat tidak pantas menghambat.”

Sesuai dugaan. Orang yang berada di balik rencana renovasi masjid ini adalah Zaid? Ya Allah bagaimana ini? Hamba semakin jatuh hati padanya, perasaan ini semakin membludak seperti jumlah pengangguran di Indonesia. Persentase keinginan untuk berada disampingnya kini sudah berada di puncak tertinggi yang bahkan jika diukur oleh software analisa data manapun hasilnya akan eror karena rasa ini sudah tak terbendung.

  “AFIFAH!” teriak umi sekali lagi, “JANGAN KAMU KIRA UMI TIDAK BISA MARAH!” teriak ratuku sekali lagi.

 “I-iya, Umi.” Aku bergegas menuju dapur masjid membuyarkan semua lamunanku tentangnya. 

Sesampainya di sana, aku langsung diberikan tugas untuk mengantar teh ke meja depan masjid yang kemudian akan Abi suguhkan untuk para pekerja dan… Zaid. Dengan hati-hati aku membawa nampan yang berisi beberapa teh. Namun, semuanya percuma. Teh itu hampir saja jatuh menimpa gamisku kala aku melihat wajahnya. Aku melihat wajahnya dalam jarak 50 cm. Bayangkan saja kondisiku seperti apa.

   “Sini, biar saya saja yang bawa ya… karena sepertinya kamu kesusahan.” 50 cm bukan jarak yang jauh bukan? Tapi sekarang kesadaran diriku yang semakin jauh. Aku diam mematung di tempat sembari melihat belakang punggungnya yang semakin menjauh.

   “Afifah! Ngapain masih ngelamun? Cepet balik ke dapur, awas aja besok kamu terlambat lagi ya!” ucap Abi di seberang yang tengah menerima senampan teh dari Zaid. Hal itu berhasil membuyarkan lamunanku. Ya allah, ya allah, ya allah… apa ini? Ternyata bom bukan hanya suka meledak di langit tapi juga suka meledak di hatiku. Astagfirullah, Afifah… kamu harus bisa mengendalikan dirimu.

Seharian aku berada di masjid menyaksikan diskusi tentang perbaikan masjid kami. Sesekali aku mencuri pandang kepadanya. Sesekali pula ia menangkap pandanganku itu. Sesekali juga kami saling menatap. Tapi cepat-cepat aku menampar wajahku dengan kasar, ini seharusnya tidak boleh dibiarkan… begitulah kata hatiku.

Diskusi berjalan hingga maghrib tiba dengan Zaid yang berpamitan untuk pulang terlebih dahulu dengan alasan ada suatu hal yang harus dia urus. Semua orang pun bergegas untuk melaksanakan ibadah sholat maghrib. Aku dan umi memutuskan untuk sholat di rumah saja sembari mensucikan diri.

Tenang rasanya setelah selesai menunaikan sholat, setenang melihat tagihan listrik lunas —kata Lia. Tapi sebenarnya ketenangan yang diciptakan melebihi dari itu. Setelah beribadah aku hendak mencurahkan hatiku kepada Allah lewat coretan pada selembar kertasku:

Sat, 20/12/23

Malam ini angin begitu sejuk namun sejuknya tak menyakitkan. Malam ini bulan tersenyum padaku dengan sinarnya yang terang benderang menerangi sukma. Bintang gemintang menyumbangkan keindahannya pada malam ini sehingga seluruh karuniaMu berkumpul dalam satu waktu, mereka merangsang dopamine alami yang bergelora di hatiku.

Kegembiraan ini sudah tak bisa dibendung lagi, Ya Allah… perasaan ini meluap bagai ombak yang mengamuk tak tentu arah. Hasrat itu bahkan seperti akar tunggang yang tertancap kokoh di dalam tanah. Ya Allah… apa yang harus aku lakukan dikala diri ini tak mampu menggenggam sebutir perasaan itu? Maafkan aku yang telah berani menaruh hati pada hambaMu. Maafkan aku karena jatuh cinta padanya dengan rasa yang berkobar-kobar. Ijinkan aku untuk jatuh cinta Ya Allah.

***

Zed Tobias Sebastian

Aku tidak tahu apakah ini sebenarnya jalan yang benar atau tidak. Aku hanya mengikuti kata hatiku. Namun, dari sisi kemanusiaan ini sangat sangat bisa dikatakan benar bukan? Akan tetapi aku juga telah melakukan kekeliruan. Aku tidak ingin menjadi pengkhianat namun hal ini diluar kendaliku. Aku tidak bisa memilih dengan sengaja akan jatuh pada hati yang mana, hal itu datang tanpa aba-aba. Padahal kenyataan berkata hal itu tak mungkin ada bahkan bisa jadi sirna.

Kala itu… di depan tempat ibadahmu yang berdiri megah laksana panglima perang, aku melihatmu tersenyum menawan. Kain tudungmu tak membuat perasaanku goyah, baju panjangmu tak sedikitpun membuat langkahku gentar. Hanya keindahanmu lah yang terekam jelas di mataku. Keindahanmu berhasil menawan hatiku hingga aku lupa siapa aku dan siapa kamu. Pada waktu itu aku mencoba menginjakkan kaki di halaman tempat ibadahmu, melihatmu begitu serius bercengkrama dengan Tuhanmu. Anehnya, keseriusan itu bukan membuatku tertampar tapi malah semakin tertarik. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku.

Sampai pada saat aku melihatmu dari balik lubang pagar tembok ibadahmu, kau seperti bermain petak umpet dan itu sangat menggemaskan. Itulah kali pertama aku mendengar lantunan suara indahmu yang mengalir langsung ke dalam dadaku. Suara lembut yang berhasil merobohkan kerasnya hatiku. Ketahuilah, tujuan lain yang sedang aku lakukan di tempat ibadahmu adalah untuk melihatmu. Menyaksikan keindahanmu tanpa berniat untuk memilikimu karena aku sadar dimana kita berada.

Aku ingat saat kamu membawa senampan teh, raut wajah penuh kehati-hatian itu sangat menggemaskan hingga membuat hatiku terpanah kesekian kalinya. Lalu aku memberanikan diri untuk membantumu, aku tak paham mengapa saat itu kamu diam membatu. Waktu itu aku pun tidak sempat memikirkan hal itu karena aku sendiri tidak bisa mengendalikan detak jantungku. Kamu tahu hal apa lagi yang membuat perasaan ini semakin menggebu-gebu? Saat aku melihatmu berlari kecil setelah ditegur oleh ayahmu. Aku rasa kau seperti anak kecil, dan aku ingin sekali memanjakanmu.

Senyumku merekah jika mengingat waktu dimana kita mengunci tatapan satu sama lain. Saat itu aku berpikir apakah kita memiliki getaran yang sama? Meskipun itu benar, kita tidak memiliki benang merah yang bisa menghubungkan kita berdua menjadi satu takdir yang sama. Kamu memang tidak tahu, tapi aku tahu. Aku sadar maka dari itu aku tidak bisa meraihmu.

Aku selalu bersembunyi di balik nama Zaid yang menurutku itu sedikit sesuai dengan nama di dalam keyakinanmu. Aku takut kamu, keluargamu, orang-orang di sekitarmu tidak menerimaku saat tahu siapa aku sebenarnya dan dimana sebenarnya aku berada. Maafkan keegoisanku.

Aku semakin sadar bahwa sebenarnya tidak seharusnya aku berada disana saat mendengar panggilan ibadahmu malam itu, rasanya tembok penghalang kita semakin tinggi hingga kamu tak bisa untuk kuraih. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi dari sana. Pergi dengan mobilku ditemani gemuruh angin sepoi-sepoi yang menyakitkan. Berkelana menuju asalku yang sebenarnya.

Setibanya disana, aku membuka pintu tempat ibadahku perlahan. Dengan langkah lemas aku melangkah tanpa harap. Duduk di bangku paling depan sembari menyatukan tanganku untuk berdoa kepada Tuhanku.

Aku tahu ini salah, namun apakah menaruh cinta adalah dosa? Mengapa hanya dengan satu perbedaan saja bisa membuat semuanya tidak bisa tercipta? Terkadang aku berpikir ini semua tidak adil, Tuhan… namun, ini kehidupan. Kita harus selalu memilih mana yang akan dikorbankan, dan Tuhan masih berada di atas segalanya karena aku tahu Kau tidak akan pernah mengijinkan aku untuk jatuh cinta pada yang berbeda. Setidaknya ijinkan aku untuk tetap melihat keindahannya walau terhalang tembok yang tinggi.

“Zed, where have you been? Kamu sudah ditunggu Papa, tahun ini kita siapin natal bareng-bareng!” ucap Zia.

Benar bukan? Kita berbeda. Dan selamanya akan begitu, kita tak bisa merubahnya. Malam… tolong sampaikan pada satu nama bahwa aku menaruh perasaan padanya, nama itu ialah Afifah. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKAR Edisi Juni 2025 | Kamu Cukup, Selalu karya Aura Alfisyahrani

PROFIL

SEKAR Edisi April 2025 | Yang Tak Sempat Menjadi karya Donabella Shefa Aulia