Sisa Harapan di Tengah Senja | Ratri Septia Vidiana Diari
Sisa Harapan di Tengah Senja Ratri Septia Vidia Diari “Ah panas sekali!” “Masih belum ada yang laku.” Sambil mengusap wajahnya, Pak Jono membuka ciloknya yang masih belum terjual sama sekali. Hari mulai terik, matahari seperti di atas kepala. Pak Jono berkeliling dari perumahan satu ke yang lainnya. Tapi banyak pintu masuk yang ditutup. Kali ini perumahan ke empat, yang dilalui Pak Jono. Dengan mengayuh sepedanya Pak Jono percaya diri bahwa kali ini dia dibiarkan masuk ke perumahan untuk menjajakan ciloknya. “Maaf Pak pedagang dilarang masuk!” “Lho kenapa mas?” tanya Pak Jono. “Lingkungan di sini sedang melakukan pembatasan Pak, jadi hanya warga sini yang boleh memasuki kawasan perumahan”. “Saya hanya ingin berjualan mas, sedari tadi pagi cilok saya belum laku”. Kata Pak Jono menjelaskan. “Saya minta maaf Pak, ini sudah peraturan.” Begitulah penolakan yang diterima Pak Jono. Ia mulai putus asa, sedangkan hari sudah mulai beranjak sore. Kini hanya di jalan ...