404
Karya Sonya Esplanadeas Hadi
Aku melangkahkan kaki dengan santai
menuju sekolah. Hari ini adalah hari pertama masuk setelah libur kenaikan kelas
selama dua minggu. Tidak ada yang terasa berbeda pagi itu. Sebuah lengan
tiba-tiba melingkar di leherku.
"Jey! Pagi banget berangkatnya.
Nggak sabar banget, ya, buat sekolah?"
Aku menepis lengan Arjun dari
leherku, lalu memutar bola mata malas. "Nggak, sih. Biar bisa bebas pilih
tempat duduk aja. Kan kelasnya diacak lagi."
"Lah, iya, ya, diacak. Yah,
berarti aku nggak sekelas sama kamu lagi dong." Arjun memasang wajah sedih
yang dibuat-buat. Aku menatapnya datar.
"Bagus, deh. Biar kamu nggak
gangguin aku terus pas pelajaran," kataku sambil mempercepat langkah.
"Eh, jahat banget kamu, Jeyan!
Heh, tungguin aku! Jangan cepet-cepet jalannya!" Aku hanya terkekeh pelan
mendengar protesnya.
Sesampainya di sekolah, benar saja,
suasana sudah ramai. Sebagian besar murid berkerumun di depan mading untuk
melihat pembagian kelas baru. Aku ikut mendekat, meski harus sedikit berdesakan
dengan murid lain. Mataku menyusuri daftar nama yang tertempel hingga akhirnya
menemukan milikku. 11-C.
"Eh, Jey! Kita sekelas
lagi!" Arjun menunjuk daftar nama dengan antusias.
Aku mengikuti arah telunjuknya. Nama
Arjuna tertera jelas di nomor lima. Lalu pandanganku turun ke nomor urut paling
bawah. Jayden. Nama itu terasa asing.
”Jayden itu siapa, ya, Jun? Aku baru
denger,” tanyaku pada Arjun setelah keluar dari kerumunan di depan mading.
”Nggak kenal juga aku. Kenapa
tiba-tiba nanyain?” Arjun balik bertanya dengan heran.
“Lah, tadi ada namanya di nomor urut
41. Makannya aku heran soalnya kelas lain jumlahnya cuma 40.”
Kami menaiki tangga di sebelah kelas
10-A untuk menuju ke kelas 11-C.
”Masa iya? Atau anak baru mungkin?
Aku nggak lihat, sih, tadi. Fokus ke namaku sendiri taunya sekelas lagi sama
kamu, hehe.”
Aku mendengus pelan sambil membuka
pintu kelas. Kelas sudah cukup ramai saat kami masuk. Seperti biasa, aku dan
Arjun memilih bangku paling belakang.
“Kamu depanku deh, Jun. Nggak mau
aku kalau kamu yang belakang. Entar colek-colek mulu,” kataku pada Arjun.
Arjun hanya menyeringai lalu
menurut. Aku duduk di bangku paling belakang sambil memperhatikan suasana
kelas. Dari posisi ini, seluruh isi ruangan terlihat jelas. Saat itulah aku
melihat seorang murid yang tidak kukenal duduk sendirian di bangku pojok belakang.
Kepalanya terbenam di antara lipatan tangan yang bertumpu di meja. Aku
memperhatikan dadanya yang naik turun perlahan. Dia tertidur.
Aku tidak berniat mengganggunya.
Namun, seorang guru—yang kuyakini sebagai wali kelas—tiba-tiba masuk ke dalam
ruangan. Aku melirik jam dinding. Pukul tujuh lewat lima menit. Seluruh murid
yang tadi masih sibuk sendiri langsung berhamburan menuju bangku masing-masing.
Aku sedikit mencondongkan badan ke
kiri lalu menepuk bahunya pelan. “Bangun, gurunya udah dateng,” ucapku.
Anak itu mengangkat wajahnya.
Kulitnya pucat. Garis rahangnya tegas. Rambut hitamnya sedikit berantakan
karena tidur. Aku sempat terkesima sebelum akhirnya dia membuka suara.
“Eh, aku ketiduran, ya?” katanya
sambil tersenyum tipis. “Makasih udah dibangunin.”
Aku sempat hendak mengulurkan tangan
untuk memperkenalkan diri, tetapi urung kulakukan.
“Jeyan,” kataku akhirnya. “Aku baru
lihat kamu, by the way. Murid pindahan?”
“Jayden. Jay for short. Dan iya, aku
murid pindahan.”
Aku mengangguk pelan. Jadi dia murid
nomor 41 itu. Pantas namanya tidak diurutkan secara alfabet.
"Eh, tapi kok kamu nggak
dikenalin dulu sama wali kelas?" tanyaku penasaran. "Biasanya murid
baru disuruh perkenalan dulu, kan?”
Jay hanya menyunggingkan senyum
miring. “Nggak apa-apa. Ribet banget kudu perkenalan dulu. Aku lebih suka kalau
nggak terlalu banyak yang memperhatikan keberadaanku.”
Aku menatapnya dengan bingung. Ya
sudah, terserahnya.
Aku kembali duduk tegak dan
memusatkan perhatian pada wali kelas di depan. Waktu berjalan cukup lambat dan
monoton untukku. Bel istirahat berbunyi tak lama kemudian. Aku mengembuskan
napas lega. Segera kukeluarkan kotak bekal buatan ibu untuk kumakan.
"Kamu mau nitip makanan atau
minuman di kantin, nggak?" tanya Arjun.
"Nggak deh, Jun. Aku udah
dibawain bekal sama Ibu, kayak biasa."
Arjun mengangguk lalu pergi bersama
anak-anak lain menuju kantin.
Aku membuka kotak bekalku dan
berniat langsung makan karena perutku sudah keroncongan sejak tadi. Namun,
pandanganku tanpa sadar beralih ke arah Jay. Alih-alih beristirahat seperti
murid lain, dia justru membuka buku Biologi.
"Rajin banget,"
komentarku. "Nggak mau istirahat dulu?"
Jay mengalihkan pandangannya dari
buku. "Nggak lapar. Nggak capek juga."
"Oh."
Hanya itu responsku.
Aneh.
Tapi mungkin aku terlalu cepat
menilai. Kami baru saling kenal beberapa jam, dan aku sudah mulai menganggapnya
aneh. Aku meliriknya sekali lagi. Dia masih fokus membaca, sementara aku
kembali memusatkan perhatian pada bekal makan siangku.
Tak ada hal yang menarik lagi sampai
bel pulang sekolah. Murid-murid langsung berhamburan keluar kelas. Ah, di luar
sedang turun hujan, padahal aku ingin cepat pulang.
“Jey, aku bawa payung. Ayo pulang
sekarang,” ajak Arjun.
Saat hendak keluar kelas, aku
teringat sesuatu. Aku menoleh ke arah bangku pojok belakang sebelah kiri.
Kosong.
Jay sudah tidak ada di sana.
Aku sedikit mengernyit karena tidak
menyadari kalau dia sudah keluar kelas duluan.
“Jeyan! Ayo, keburu makin deres!”
Arjun memanggilku dari pintu kelas.
Aku berusaha tidak memikirkannya
lagi. Yang kuinginkan sekarang hanya sampai rumah, mandi air hangat, lalu minum
teh buatan ibu. Namun, tepat sebelum melangkah keluar gerbang sekolah, mataku
menangkap sosok yang terasa familiar.
Jay. Dia sedang berjalan sendirian
ke arah belakang sekolah.
Keesokan paginya, seperti biasa, aku
berangkat ke sekolah dengan berjalan kaki. Begitu membuka pintu kelas, aku
langsung menemukan Jay. Persis seperti kemarin. Kepalanya tertelungkup di atas
meja. Tertidur. Aku sempat berpikir mungkin dia bekerja paruh waktu sehingga
kurang tidur. Dan seperti kemarin pula, akulah yang membangunkannya saat guru
masuk ke kelas.
"Kamu kerja part-time?"
tanyaku pelan setelah dia membuka mata.
Jay menggeleng.
"Nggak."
"Lah, terus kenapa tidur
terus?"
"Daripada gabut nunggu guru,
mending tidur."
Aku terkekeh kecil. "Lalu
kenapa nggak ngobrol sama anak-anak yang lain?"
"Males."
Jawaban singkat itu langsung
mengakhiri percakapan.
Bel istirahat kembali berbunyi. Dan
lagi-lagi, Jay tidak pergi ke kantin. Dia bahkan tidak mengeluarkan makanan
sedikit pun. Sebaliknya, dia kembali membuka buku Biologinya. Aku sebenarnya
ingin bertanya soal itu, tetapi niatku terpotong saat ketua kelas menghampiri.
"Jeyan, dipanggil Bu Elis ke
ruang guru."
Aku mengangguk lalu segera pergi.
Ternyata Bu Elis memintaku mencari
satu anggota untuk lomba karya tulis ilmiah. Mustahil mengajak Arjun. Dia
memang pintar, tetapi menulis bukan bidangnya. Aku masih memikirkan siapa yang
cocok saat kembali ke kelas.
Begitu membuka pintu, aku mendapati
ruangan sudah kosong. Semua murid masih berada di kantin. Semua kecuali satu
orang. Jay. Dia masih duduk di tempatnya, tenggelam dalam buku yang sama. Aku
menarik kursi dan menggesernya mendekat.
"Makan bareng, yuk."
Aku menyodorkan kotak bekalku yang
berisi beberapa potong roti.
Jay tersenyum kecil. "Aku ennak
lapar."
"Lagi?"
"Bukan nolak, ya,"
lanjutnya. "Aku memang nggak bisa makan kalau nggak lapar."
Aku mengangguk pelan. "Kamu
ternyata bisa banyak bicara juga."
Jay tertawa kecil. "Memangnya
aku kelihatan pendiem banget?"
"Banget." Aku menjawab
tanpa ragu.
"Kamu juga jarang berbaur sama
anak-anak lain."
"Ya?"
"Iya. Kalau mau, besok ikut ke
kantin bareng aku dan Arjun."
Jay menggeleng. "Nggak usah.
Aku lebih suka di kelas."
Aku mengangguk. Lalu teringat
sesuatu.
"Oh iya. Waktu pulang kemarin
aku lihat kamu jalan ke belakang sekolah."
Ekspresinya nyaris tidak berubah.
"Oh."
"Ngapain?"
"Kamar mandi."
Aku mengernyit.
"Kenapa nggak pakai kamar mandi
lobi?"
Jay menutup bukunya perlahan.
"Entahlah. Aku lebih suka yang di belakang."
Jawaban itu sama sekali tidak
membantu rasa penasaranku. Tak ada obrolan lagi setelah itu. Aku kembali
menghabiskan bekalku, sementara Jay sibuk dengan buku biologinya. Lalu aku
teringat sesuatu.
"Oh iya, Jay. Tadi Bu Elis
minta aku cari satu anggota buat lomba karya tulis ilmiah. Kalau aku ajak kamu,
kamu mau?"
Aku akui keputusan itu cukup
impulsif. Namun melihat kebiasaannya yang selalu belajar saat istirahat, aku
merasa dia mungkin cocok.
"Boleh," jawabnya singkat.
"Kapan mulainya?"
"Bulan depan. Masih tahap
nyusun ide sama abstrak."
Jay mengangguk pelan.
"Oke."
Bel masuk berbunyi tak lama
kemudian. Aku kembali ke bangkuku, sementara Jay menutup bukunya dan mulai
memperhatikan pelajaran.
Sepulang sekolah, Arjun kembali
mengajakku pulang bersama. Kami memang selalu pulang bersama sejak SMP,
meskipun rumah kami berbeda arah. Saat hendak meninggalkan kelas, aku sempat
melirik ke arah bangku Jay.
Kosong.
Lagi.
Aku bahkan tidak melihat kapan dia
pergi.
"Nungguin siapa sih?"
tanya Arjun.
Aku menggeleng.
"Nggak ada."
Kami berjalan keluar sekolah. Namun,
sebelum melewati gerbang, aku kembali melihat sosok yang sudah mulai terasa
familiar. Jay. Dia berjalan sendirian menuju area belakang sekolah. Lagi. Aku
mengerutkan dahi. Kalau memang hanya ke kamar mandi, kenapa harus setiap hari?
Hari-hari berikutnya berjalan hampir
sama. Jay selalu datang paling pagi. Tidur sebelum pelajaran dimulai. Tidak
pernah makan saat istirahat. Dan selalu menghilang lebih dulu ketika sekolah
usai. Anehnya, aku mulai terbiasa dengan semua itu. Bahkan saat istirahat, aku
lebih sering mengobrol dengannya daripada pergi ke kantin. Meski sebenarnya
sebagian besar percakapan kami hanya diisi jawabannya yang singkat-singkat.
Suatu hari, aku mengajaknya ke
rooftop sekolah saat jam istirahat.
"Di sini lebih enak daripada di
kelas," kataku sambil duduk di salah satu bangku. "Kalau lagi penat,
aku biasanya ke sini."
Kami duduk dalam diam di sana selama
beberapa menit.
"Kamu nggak makan?"
tanyanya tiba-tiba.
Aku menggeleng. "Lagi nggak
lapar."
Untuk pertama kalinya, aku melihat
senyum tipis muncul di wajahnya.
"Sekarang nggak cuma aku yang
nggak makan."
Aku mendengus pelan. Mungkin itu
lelucon versinya.
Bel pulang berbunyi lebih cepat dari
yang kukira. Aku membereskan buku-bukuku lalu menoleh ke arah bangku Jay.
Kosong.
Lagi.
Aku bahkan mulai bertanya-tanya
apakah dia memang sengaja menghindari pulang bersama murid lain. Saat berjalan
menuju gerbang bersama Arjun, tiba-tiba dia membuka suara.
"Kamu akhir-akhir ini aneh,
Jey. Beberapa kali aku lihat kamu ngobrol sendiri di kelas."
Aku mengernyit.
"Maksudnya?"
"Ya ngobrol sendiri. Kayak lagi
ngomong sama seseorang."
Aku langsung memutar bola mata.
"Ya emang lagi ngobrol sama
seseorang. Sama Jay."
Arjun diam.
Aku menunjuk ke arah belakang
sekolah.
"Itu tuh orangnya. Lagi jalan
ke belakang lagi."
Arjun mengikuti arah yang kutunjuk.
Lalu menatapku dengan ekspresi bingung.
"Jey."
"Hm?"
"Nggak ada siapa-siapa."
Aku mulai menganggap semua keanehan
itu sebagai hal yang biasa. Setidaknya sampai Bu Elis memanggilku saat jam
istirahat.
"Kamu bilang anggota timmu
namanya siapa?"
"Jayden, Bu." Bu Elis
mengernyit.
"Ibu sudah cek daftar murid
berkali-kali. Nggak ada yang bernama Jayden."
Aku ikut mengernyit. "Ibu juga
sudah cek data murid pindahan semester ini."
Beliau menggeleng pelan. "Tetap
nggak ada."
Aku menatap layar komputer di
depanku. Benar. Kolom pencarian hanya menampilkan tulisan: Data tidak
ditemukan.
"Mungkin saya salah dengar
namanya, Bu."
"Kalau begitu coba tanyakan
lagi. Ibu butuh data lengkapnya untuk pendaftaran lomba."
Aku mengangguk pelan. Namun saat
keluar dari ruang guru, perasaanku mulai tidak nyaman. Alih-alih kembali ke
kelas, aku justru berjalan ke rooftop. Begitu membuka pintunya, aku sedikit
terkejut melihat Jay duduk di salah satu bangku kosong.
"Kamu di sini, Jay?"
Berbeda denganku, dia tampak tidak
terlalu terkejut dengan kedatanganku.
"Benar katamu, Jey. Di sini
lebih enak daripada di kelas."
Seketika perkataan Arjun dan Bu Elis
terlintas di benakku.
"Jay, aku mau tanya sesuatu.
Kalau menurutmu ini terlalu personal, nggak perlu dijawab."
Jay hanya menatapku diam.
"Kamu pindahan dari mana?"
"SMA Nararya." Aku
mengangguk pelan. Nama itu terasa asing, tapi juga familiar.
"Kalau nama lengkapmu?"
"Kamu dulu. Kamu juga belum
pernah bilang nama lengkapmu."
Aku tersenyum kecil.
"Jeyan Ardikara."
Kini giliranku menunggu jawaban.
"Kalau kamu?"
Jay mengalihkan pandangan ke langit.
"Jayden. Cuma Jayden."
Bel masuk berbunyi sebelum aku
sempat bertanya lagi. Aku langsung berdiri.
"Ayo balik."
Belum sempat tanganku menyentuh
kenop pintu, bahuku sudah ditepuk lebih dulu oleh Jay. Aku sedikit terkejut.
Baru kali ini kami bersentuhan secara langsung.
"Kamu kenapa, Jey?"
tanyanya.
Aku menggeleng cepat lalu
menyingkirkan tangannya. "Nggak apa-apa."
Namun saat itu juga aku merinding.
Tangannya dingin. Terlalu dingin untuk ukuran siang yang panas.
Sepulang sekolah, aku menceritakan
semuanya kepada Arjun. Mulai dari Bu Elis yang tidak menemukan nama Jay hingga
jawaban-jawaban aneh yang diberikan Jay. Arjun mendengarkan tanpa menyela. Baru
setelah aku selesai, dia mengembuskan napas panjang.
"Jey. Kalau aku ngomong
sesuatu, kamu jangan marah."
Aku mulai tidak suka arah
pembicaraan ini.
"Apa?"
"Menurutku nggak ada
Jayden."
Aku tertawa hambar.
"Lucu."
"Aku serius."
"Ya terus yang tiap hari duduk
di sebelahku siapa?"
Arjun terdiam beberapa saat. Lalu
menjawab pelan.
"Itu masalahnya."
Aku tidak langsung menjawab. Karena
untuk pertama kalinya, aku mulai mempertimbangkan kemungkinan bahwa Arjun
memang tidak sedang bercanda. Dan itu jauh lebih menakutkan daripada yang ingin
kuakui.
Keesokan harinya, aku berangkat
sekolah dengan perasaan tidak nyaman. Begitu membuka pintu kelas, seperti
biasa, Jay sudah ada di sana. Kepalanya terbenam di antara lipatan tangan.
Tertidur. Aku memutuskan tidak membangunkannya. Arjun bilang guru pertama hari
ini berhalangan hadir. Aku baru saja hendak merebahkan kepala di atas meja
ketika Jay tiba-tiba mengangkat wajahnya.
"Nggak dibangunin?"
Aku sedikit terkejut.
"Mapel pertama kosong."
Jay mengangguk lalu kembali membuka
buku biologinya. Aku ikut merebahkan kepala di atas meja. Tak lama kemudian,
sesuatu menyentuh pipiku. Selembar kertas. Aku menoleh ke arah Jay. Dia hanya
menunjuk kertas itu dengan ujung pulpennya. Dengan penasaran, aku membukanya.
Ada dua stickman yang sedang
bergandengan tangan. Di samping masing-masing stickman tertulis dua
nama: Jay dan Jey.
Aku tertawa kecil. Ya ampun, kenapa
banyak orang menganggap Jay aneh, sih? Padahal dia baik. Dia juga ramah padaku.
Harusnya orang lain melihat hal yang sama. Harusnya. Namun sebelum sempat
mengatakan apa pun, suara Arjun tiba-tiba terdengar dari depan bangkuku.
"Jey!"
Aku menoleh.
"Kamu kenapa sih?"
"Hah?"
"Beberapa hari lalu ngomong
sendiri. Sekarang ketawa sendiri."
Senyumku perlahan memudar.
"Aku nggak ketawa
sendiri."
Arjun mengernyit. "Lah,
terus?"
Aku langsung menunjuk ke arah Jay.
"Ini. Aku lagi ngobrol sama
Jay."
Hening. Aku menoleh ke samping.
Kosong. Bangku di sebelahku kosong.
Tidak ada Jay.
Tidak ada tasnya.
Tidak ada apa pun.
Jantungku mendadak berdegup lebih
cepat.
Tanganku gemetar saat kembali
melihat kertas yang masih kupegang.
Napas seolah tertahan di
tenggorokan.
Di atas kertas itu hanya ada satu stickman.
Dan satu nama.
Jey.
Aku merasakan bulu kudukku berdiri.
"Jey?" Suara Arjun
terdengar pelan.
Aku mengangkat kepala. "Jay
bilang dia pindahan dari SMA Nararya."
Arjun tampak bingung.
"SMA Nararya?" Aku
mengangguk.
"Itu nama sekolah kita puluhan
tahun yang lalu."
Darahku seperti berhenti mengalir
sesaat.
Aku kembali menoleh ke arah bangku
kosong di sebelahku. Lalu baru menyadari sesuatu.
Ada sebuah buku biologi di kolong
meja. Buku yang selama ini selalu dibaca Jay saat jam istirahat. Aku buru-buru
mengambilnya.
"Jey, mau ke mana?" tanya
Arjun.
Aku tidak menjawab. Kubuka buku itu
dengan tangan gemetar.
Tak ada nama pemilik.
Tak ada catatan.
Tak ada apa pun.
Hanya ada sebuah tulisan di halaman
paling terakhir yang sebelumnya tidak pernah kulihat.
Ruang arsip.
Aku tidak menuju rooftop.
Aku menuju ruang arsip sekolah.
Ruangan itu jarang dibuka. Bahkan
aku tidak yakin masih ada yang menggunakannya. Di sana aku menemukan buku
tahunan tahun 1998, saat sekolah ini masih bernama SMA Nararya. Tanganku
gemetar saat membalik halaman demi halaman. Lalu aku menemukannya. Foto kelas.
Di barisan paling belakang. Seorang
siswa yang wajahnya terasa sangat familiar.
Di bawah foto itu tertulis:
Jayden.
Tanpa nama belakang. Hanya Jayden.
Aku buru-buru membalik ke halaman
berikutnya. Ada sebuah artikel kecil. Tentang seorang siswa yang dinyatakan
hilang dan tidak pernah ditemukan. Namanya disamarkan karena permintaan
keluarga. Namun foto yang digunakan adalah foto yang sama. Foto Jay. Aku
menatap halaman itu lama. Lalu sesuatu terjatuh dari sela-sela buku. Selembar
kertas tua. Di atasnya hanya ada dua kata.
Not Found.
SINOPSIS:
404 Not Found.
Pesan sederhana yang menandakan
bahwa sesuatu tidak dapat ditemukan.
Kita terbiasa menganggap yang hilang
sebagai sesuatu yang telah pergi. Padahal, mungkin sebagian darinya masih ada.
Terselip di sudut ingatan, tertinggal dalam jejak yang terlupakan, atau
tersembunyi di tempat yang tidak lagi dicari.
Karena yang tidak dapat ditemukan
bukan berarti tidak pernah ada.