SEKAR Edisi Juli 2025 | Mati Sebagai Pahlawan atau Hidup Sebagai Penghianat? karya Denis Eka Prasetyo
Mati Sebagai Pahlawan atau Hidup Sebagai Penghianat?
Karya Denis Eka Prasetyo
"You either die a hero or live long enough to see yourself become the villain."
Renungan panjang ini muncul pertama kali ketika mendengarkan kalimat itu pada 2017. Sejak saat itu, kalimat itu tak pernah benar-benar pergi. Ia tinggal di sudut kepala, berbisik pelan di tengah malam yang sunyi.
"Benarkah hidup lebih lama membuat kita lupa akan cara bermanusia?"
Mungkin bukan lupa, melainkan perlahan kehilangan rasa. Seperti air hujan yang terus menetes ke batu, tanpa kita sadari, hati pun mulai terkikis. Bukan karena kita ingin menjadi jahat, tapi karena dunia tak selalu memberi ruang bagi mereka yang tetap ingin baik.
Di awal hidup, kita menggenggam nilai dengan erat. Kejujuran, kasih sayang, pengorbanan, semua itu tampak suci. Namun seiring waktu, realita mengganti idealisme dengan kompromi. Satu demi satu batas dilanggar, dan kita menyebutnya dewasa.
Menjadi pahlawan ternyata bukan tentang menyelamatkan dunia. Kadang, itu hanya tentang mampu bertahan sebagai manusia yang masih punya hati, meski dunia merayakan kejam dan licik.
"Lalu, apakah benar kita semua ditakdirkan menjadi penjahat bagi cerita orang lain?"
Mungkin. Tapi mungkin juga, kita hanya manusia yang lelah. Manusia yang terlalu lama bertahan di dunia yang memaksa memilih antara terluka atau melukai. Antara dilupakan atau mengubah diri menjadi sesuatu yang tak lagi kita kenali.
Maka hari ini aku bertanya:
Jika menjadi pahlawan
berarti harus gugur dalam semangat, dan menjadi penjahat berarti bertahan dalam
luka, di mana tempat bagi mereka yang hanya ingin menjadi manusia?
Komentar
Posting Komentar