SEKAR Edisi Juli 2025 | Sindrom Kelabu karya Sausan Destiana Dewi Syafitri

Sindrom Kelabu

Karya Sausan Destiana Dewi Syafitri


Sinopsis

Kehidupan sekolah Yurin berjalan dengan normal, sampai suatu ketika sekolahnya kedatangan guru sejarah baru, Sayaka Yukimura yang datang bersama sosok bayangan misterius menyerupai dirinya. Semua orang bisa melihat sosok itu, kecuali Yukimura-sensei sendiri. Ketakutan pun merajalela di kalangan murid dan guru, menciptakan suasana mencekam setiap pelajaran sejarah. Yurin mengira setelah Yukimura-sensei diberhentikan dengan hormat, maka semuanya selesai. Sayangnya, kisah menyeramkan itu sepertinya belum berakhir. 

Karya Lengkap

“Kalian melihatnya lagi?” 

“Ya, bahkan tadi ikut menulis pada papan.” 

Seluruh kelas heboh, anak perempuan dengan respons dramatis mereka, sedangkan anak laki-laki memilih untuk cuek dan diam. Sudah menjadi kebiasaan setelah pelajaran sejarah usai, kelas akan dipenuhi bisikan-bisikan bahkan teriakan ngeri akan apa yang sudah dilihat. Mungkin terkesan tidak masuk akal, tetapi inilah kenyataan yang terjadi. 

Namaku Yurin Kisaragi, siswi tahun kedua dari sebuah SMP swasta di Kota Kyoto. Seperti kebanyakan siswa lainnya, aku menjalani hari dengan baik di sekolah dan teman-temanku terbilang cukup banyak. Semuanya berjalan normal, sampai ketika memasuki pertengahan tahun kedua, aku bertemu dengan sesuatu yang … mengerikan. 


Waktu itu adalah musim panas ketika kelasku mendapat pengumuman tentang adanya guru baru yang menggantikan Katagiri-sensei yang dipindahtugaskan empat hari lalu. Semua teman-temanku tentunya menyambut dengan rasa penasaran, termasuk diriku sambil berharap agar guru baru itu tidak memiliki sifat pemarah seperti Katagiri-sensei. Setelah melalui jam pelajaran yang cukup panjang, kelasku memasuki jam pelajaran terakhir, saat jarum jam menunjukkan pukul setengah tiga sore. 


Seperti pada pergantian jam sebelumnya, aku dan beberapa temanku sempat mengobrol sejenak, menjernihkan otak setelah bekerja menyerap informasi panjang tiada henti. Ada melempar candaan dan tertawa lepas, sibuk menggambar sesuatu, membaca majalah, hingga sekelompok anak laki-laki yang bermain kejar-kejaran. Sayangnya suasana menyenangkan itu harus terhenti kala terdengar suara langkah kaki serta teriakan anak laki-laki yang melihat ada guru yang berjalan kemari. Semuanya buru-buru kembali ke meja masing-masing, merapikan beberapa peralatan yang berantakan, serta mengambil kembali kertas bekas pesawat-pesawatan. 


Tidak lama pintu depan digeser, menampakkan seorang wanita muda nan cantik yang tersenyum hangat kepada, membuat semua orang di kelas terpana, termasuk diriku. Kakinya lalu melangkah masuk dengan gerakan anggun, disertai aura hangat dan elegan. Namun, ekspresiku langsung berubah bingung kala ada seseorang yang ikut masuk ke dalam kelas. Paras dan tubuhnya mirip dengan guru baru itu, hanya saja kulitnya lebih pucat dan tidak memberikan ekspresi apapun. Aku tidak terlalu ambil pusing, berpikir bahwa guru baru itu punya saudara kembar dan kebetulan akan mengajar bersama. 

Minna-san, konnichiwa. Namaku Sayaka Yukimura, guru sejarah kalian yang baru. Salam kenal semuanya.” 

Teman-teman kelasku menjawab perkenalan itu dengan serentak, kemudian beberapa berbisik ada yang mulai berbisik, memuji suara halus milik Yukimura-sensei. Sesi perkenalan itu berjalan cukup singkat tanpa ada basa-basi dengan Yukimura-sensei bersiap untuk menerangkan materi, tanpa berniat untuk memperkenalkan seseorang yang sejak tadi berdiri di sampingnya. Tentu ini menimbulkan keanehan sebab mereka masuk bersamaan juga akan mengajar bersama, tetapi hingga perintah mengeluarkan buku paket diucapkan, sesi perkenalan untuk orang itu tidak ada. Dalam hati aku hendak melayangkan protes, hitung-hitung mengulur waktu sebelum sesi pelajaran dimulai. Sayangnya, niat itu aku urungkan ketika melirik teman-teman sekelasku yang nampak abai dan aku memilih untuk mengeluarkan buku paket. 


Sensei!” 


Sebuah suara terdengar dari tengah kelas, itu adalah si ketua kelas, Chizuru Hasegawa yang sudah mengangkat tangannya. 


Ano Sensei, Anda belum memperkenalkan seseorang di sebelah Anda,” ucap Chizuru dengan nada ragu. 


Yukimura-sensei diam sejenak. Wajahnya yang bingung kemudian menoleh ke arah samping, tepat di mana saudara kembarnya berdiri. Namun, respons yang dia berikan justru membuatku serta teman-teman sekelas terkejut bukan main. 


“Seseorang? Tetapi tidak ada siapapun di sampingku saat ini.” 

Begitu kalimat itu terucap, waktu seolah berhenti. Terkejut, bingung, juga perasaan ngeri bercampur jadi satu. Padahal aku dan teman-teman sekelas melihatnya dengan sangat jelas, sosok perempuan yang sama persis sedang berdiri di sebelahnya dengan postur yang sama, memegang sebuah buku di tangan. Satu-satunya perbedaan dari mereka adalah kulit pucat serta wajah tanpa ekspresi. Dari situ aku sadar bahwa ‘sosok’ itu hanya bisa dilihat selain Yukimura-sensei sendiri. 

Hari itu semua orang di kelasku sama sekali tidak ada yang bergerak, diam membeku sembari menahan perasaan takut yang menjalar ke seluruh tubuh. Suasana mendadak berubah menjadi suram dengan atmosfer menyesakkan yang menyeramkan. Sayangnya, itu baru satu dari sekian banyak kengerian yang harus aku dan teman-teman kelasku rasakan dalam satu bulan ke depan. 

*****

            Satu minggu setelah kejadian mengerikan itu, hampir seluruh angkatan tahun kedua tahu tentang Yukimura-sensei serta ‘sosok’ yang mengikutinya. Bahkan sebagian besar murid tahun pertama dan ketiga mendengar rumor itu, hingga beberapa dari mereka pernah mencoba untuk membuktikan. Tidak sampai di sana, para guru pun rupanya bisa melihat ‘sosok’ itu, tetapi mereka memilih untuk diam dan pura-pura tidak tahu. Yukimura-sensei benar-benar menjadi bahan pembicaraan di mana-mana. 

Aku sebenarnya tidak peduli dan terlalu malas untuk ikut campur, tetapi bohong jika aku berkata tidak takut padanya. Bayangkan saja, setiap menjelang sore kalian harus menahan rasa takut dan ngeri selama hampir satu jam setengah sambil melihat bagaimana ‘sosok’ itu bergerak mengikuti Yukimura-sensei tanpa mengeluarkan ekspresi apapun. Tentunya kejadian ini mendapatkan protes dari siswa, mengeluhkan hal yang sama. Namun, guru-guru hanya menyuruh mereka untuk bersabar dan mengabaikan ‘sosok’ itu. 

Puncaknya adalah ketika memasuki minggu ketiga. Salah satu wali murid dari kelas sebelah datang ke sekolah dengan membawa seorang pengacara. Aku tidak tahu pasti apa yang terjadi, menurut teman-temanku ada salah satu siswa dari kelas sebelah yang terkena insomnia akut akibat tidak tidur selama lima hari setelah ‘sosok’ Yukimura-sensei menghantui mimpinya. Entah itu benar atau tidak, yang pasti setelah kedatangan wali murid dan pengacara itu, sekolah dipulangkan lebih awal. 


“Aku yakin dia bagian dari sekte sesat dan sedang dikutuk karena sudah menyembah iblis,” ujar salah satu temanku, Saeko Takahara. 


“Bisa jadi ‘sosok’ di belakangnya itu adalah bentuk hukuman dari Dewa agar semua orang menjahuinya, karena dia sudah menyimpang!” timpal Fumiko Matsuyama, temanku yang lain. 


Aku tidak menanggapinya, memilih untuk mendengarkan. Namun entah mengapa, aku merasa kasihan pada Yukimura-sensei. Dia hanya seorang guru yang melakukan kewajibannya, sedang bekerja untuk menghidupi menghidupi dirinya sendiri dan keluarganya. Keinginannya tulus, tetapi dunia memperlakukannya dengan kejam hanya karena ada entitas mengerikan yang terus mengikutinya. Aku tidak menyalahkan mereka yang mengucilkan Yukimura-sensei, sebab aku pun menjauhinya. Namun, sampai membuat rumor-rumor mengerikan bahkan terkesan merendahkan, membuatku kesal dan muak. 

“Eh, kau mau ke mana, Yurin-chan?” Saeko bertanya padaku. 

“Ke kamar mandi sebentar. Kalian lanjutkan dulu tanpa aku,” jawabku kemudian melangkah keluar dari kelas. 

Pergi ke kamar mandi hanyalah sebuah alasan, tujuanku sebenarnya adalah keluar dari percakapan yang memuakkan telinga itu. Aku memang takut dengan Yukimura-sensei, tetapi mengatainya ikut ajaran sesat bahkan mendapat hukuman Dewa itu sudah berlebihan menurutku, merendahkan dirinya. Karena itu aku memutuskan pergi, sedikit berjalan-jalan sambil mencari udara segar. Aku lantas menghela napas panjang kemudian berjalan menyusuri koridor sekolah yang tidak terlalu ramai. 

Pikiranku melayang ke mana-mana, mencoba mencerna kejadian tidak biasa ini, tentang Yukimura-sensei, ‘sosok’ yang mengikutinya, juga perasaanku yang tidak tega padanya. Aku terlalu sibuk melamun tanpa menyadari ke mana kakiku melangkah dan ketika sadar, diriku sudah berdiri di depan ruang musik yang letaknya di ujung lorong lantai dua. Aku terdiam cukup lama sebelum akhirnya membalikkan badan, berniat untuk membeli minuman dingin. Sayangnya, niat itu aku urungkan kala melihat seseorang sedang duduk di ruang musik dengan menghadap jendela, membelakangi diriku dan itu adalah Yukimura-sensei. Kemudian di sebelahnya, aku bisa melihat ‘sosok’ itu yang anehnya tidak sedang duduk, melainkan berdiri menghadap ke arah Yukimura-sensei seolah sedang memperhatikannya. Melihat itu tentu membuatku terkejut dan rasa takut langsung menjalar ke seluruh tubuhku. Seharusnya ‘sosok’ itu ikut duduk menghadap jendela, mengikuti gerakan Yukimura-sensei, bukan berdiri di sampingnya. 

Entah sudah berapa lama aku menatapnya, tetapi kejadian berikutnya adalah aku melihat dengan jelas bahwa ‘sosok’ itu menoleh ke arahku sambil menyunggingkan sebuah senyum, senyum mengerikan yang membuat waktu terasa berhenti. Aku membeku, sekujur tubuhku rasanya dingin dan jantungku berdetak kencang. Dengan keberanian dan kewarasan yang masih tersisa, aku berlari sekencang mungkin untuk kembali ke kelas, tidak mempedulikan orang-orang menatapku dengan aneh. Saat ini pikiranku hanya diisi rasa takut yang luar biasa. 

Setelah kejadian itu, aku jatuh sakit selama tiga hari dan saat kembali ke sekolah, aku mendapat kabar bahwa Yukimura-sensei telah diberhentikan dengan hormat sehari setelah aku tidak masuk. Tentunya aku merasa lega karena berhasil terbebas dari suasana mengerikan dan mencekam yang selalu kualami saat kelas sejarah, tetapi aku juga merasa sedikit sedih membayangkan bagaimana Yukimura-sensei menjalani hidupnya setelah ini. Apakah akan kembali ditolak dan ditakuti masyarakat? 

“Apapun itu, setidaknya kita tenang sekarang. Tidak perlu takut dan merasa tegang saat pelajaran sejarah.” 

Aku tersenyum, mengangguk kecil kepada dua temanku. Hari-hariku di sekolah pun kembali berjalan dengan normal, tidak ada sosok mengerikan yang menghantui juga rasa tegang yang selalu menyelimuti. Waktu demi waktu berlalu, cerita menyeramkan tentang Yukimura-sensei mulai terlupakan, berubah menjadi cerita urban salah satu misteri sekolah. Beberapa temanku juga mulai melupakannya semenjak sibuk mengurus masa depan, tetapi aku masih mengingatnya dengan baik, diam-diam mengenangnya sebagai pengalaman ‘tak terlupakan. 

Saat ini aku duduk di bangku kuliah dan hari ini adalah hari pertamaku masuk kelas secara resmi, karenanya jantungku berdebar akibat gugup. Untungnya, aku sempat berpapasan dengan salah satu temanku ketika masa orientasi, Seiji Ishiyama yang lebih dulu menyapaku. Aku tersenyum, membalas sapaan Seiji dan kami berjalan beriringan menuju kelas sambil diiringi obrolan ringan. 


“Ngomong-ngomong, kau tidak pernah cerita kalau punya saudara kembar. Jadi siapa namanya?” 

Aku tertegun. “Apa?” 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SEKAR Edisi Juni 2025 | Kamu Cukup, Selalu karya Aura Alfisyahrani

PROFIL

SEKAR Edisi April 2025 | Yang Tak Sempat Menjadi karya Donabella Shefa Aulia