SEKAR Edisi Juli 2025 | Sebuah Pilihan karya Enida Martiana Sari
Sebuah Pilihan
Karya Enida Martiana Sari
Sinopsis
Ira, seorang perempuan yang menua dengan tenang dalam kesendirian. Berbeda dari pandangan umum bahwa tua tanpa pasangan adalah kutukan atau kegagalan, Ira menjalaninya sebagai pilihan sadar untuk hidup jujur dan tidak tergesa membuktikan apapun pada dunia. Di rumah kecilnya yang dipenuhi buku dan senyap yang damai, Ira menjalani hari-harinya dengan rutin namun penuh makna.
Karya Lengkap
Di ujung jalan yang jarang dilalui kendaraan, berdiri sebuah rumah kecil berpagar kayu. Cat putihnya mulai pudar, tapi taman kecil di depannya selalu tampak hidup. Bunga-bunga mekar sederhana, dan rerumputan tumbuh rapi seperti tahu betul batas tempatnya. Di dalam rumah itulah Ira tinggal sendiri. Ira telah melewati banyak musim dalam hidupnya. Usianya kini menjelang tujuh puluh dua. Tubuhnya ringkih, tetapi masih kuat untuk menyiram bunga, menyeduh teh, atau membuka halaman demi halaman buku yang telah lusuh karena sering dibaca ulang. Ia tinggal seorang diri sejak awal. Tidak ada anak-anak yang menelpon, tidak ada suara cucu yang meramaikan sore, tidak ada pasangan yang membagi makan malam di meja bundar kecil.
Namun, bukan berarti ia kesepian.
Ira tidak pernah menikah. Keputusan itu bukan karena tidak ada yang datang, bukan pula karena trauma masa lalu. Ia hanya... tahu. Tahu bahwa hidup yang ingin ia jalani adalah hidup yang tenang, sederhana, dan tidak dipenuhi kewajiban sosial yang tak ia perlukan. Ia tahu bahwa cinta, sebagaimana banyak orang mendambakannya, tidak selalu berarti harus dimiliki atau diikat dalam satu bentuk yang disepakati banyak orang. Ia mencintai hidupnya yang pelan. Bangun pagi, meregangkan tubuh di bawah cahaya matahari yang menembus tirai tipis jendelanya, lalu menyeduh teh melati favoritnya selalu dalam cangkir yang sama, yang sudah mulai retak halus di bibirnya tapi tetap bertahan seperti dirinya. Setelah itu, ia menuju ruang baca.
Ruang baca itu adalah tempat paling hidup dan jantung rumahnya. Dinding-dindingnya tertutup rak buku kayu, dan setiap buku menyimpan cerita yang bukan hanya dari isinya, tetapi juga dari ingatan. Ada novel klasik yang ia beli dengan gaji pertamanya sebagai pustakawan. Ada buku-buku filsafat dan sastra yang dulu ia baca untuk memahami dunia dan memahami dirinya sendiri. Beberapa novel remaja ia simpan bukan karena isi ceritanya, tetapi karena aroma masa muda yang tersimpan di setiap lembarnya. Ia tidak hanya membaca. Ia mengobrol dengan buku-buku itu. Ia mengingat momen saat pertama membacanya, tertawa di bagian lucu, menangis pelan saat kata-kata menyentuh luka lama. Ia menemukan dirinya berkali-kali di antara kalimat-kalimat sunyi itu.
“Buku-buku ini adalah teman yang tidak pernah pergi,” gumamnya suatu pagi.
Setiap sore, Ira berjalan ke taman kecil. Tak jauh, hanya empat blok dari rumahnya. Ia tak pernah membawa ponsel, tak pernah punya tujuan tertentu, hanya ingin duduk di bangku kayu sambil menatap senja. Ia menikmati caranya langit berubah warna. Dari biru, oranye, lalu merah keunguan sebelum tenggelam dalam kelam. Di bangku yang sama, orang-orang silih berganti duduk. Pasangan muda, anak-anak yang bermain, ibu-ibu yang menunggu keluarganya. Tapi Ira tak pernah menunggu siapa pun. Ia duduk diam, tenang, sesekali tersenyum pada anak-anak kecil yang bermain kejar-kejaran.
Orang mungkin melihatnya dan merasa iba. “Kasihan, sudah tua sendirian,” mungkin begitu pikir mereka. Tapi mereka tidak tahu, Ira tidak menunggu siapa-siapa. Ia tidak pernah menyesal. Ia tidak pernah merasa terlambat atau tertinggal. Karena sejak awal, ia tidak ikut lomba apa pun. Baginya, tua sendirian bukan kutukan. Bukan kegagalan. Bukan akibat pilihan yang salah.
“Tua sendirian bukan berarti tak dicintai. Aku hanya mencintai caraku hidup,” katanya suatu malam pada dirinya sendiri, saat bercermin.
Ada saat-saat sepi tentu. Tapi bukan sepi yang menyiksa. Melainkan sepi yang membuatnya bisa mendengar suara hati sendiri. Ira telah berdamai dengan dunia yang selalu tergesa-gesa. Ia tidak ingin membuktikan apa pun pada siapa pun. Tidak harus menunjukkan pasangan, pencapaian, atau garis waktu yang sesuai ekspektasi masyarakat. Ia hanya ingin hidup dengan jujur. Dengan damai. Dengan pelan.
Malam hari, Ira akan kembali ke ranjangnya yang hangat. Ia membaringkan tubuhnya perlahan, lalu memeluk dirinya sendiri. Tidak ada pelukan orang lain, tapi pelukannya cukup. Ia tidak butuh pengakuan bahwa ia berhasil, atau pertanyaan mengapa ia sendiri. Karena ia tahu jawabannya. Ia sendiri karena memilih demikian. Ia hidup dengan tenang karena memang menginginkannya. Ia menua dengan damai bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena ia telah mengambil pilihan yang sesuai dengan dirinya.
Ira bukan simbol kegagalan. Ia bukan kisah tragis yang dikasihani. Ia adalah bukti bahwa tidak semua orang mendambakan keramaian. Bahwa hidup bisa utuh walau dilalui sendiri. Di rumah kecil itu, di bawah cahaya lampu kuning temaram dan aroma teh melati yang belum habis, Ira tidur. Di pelukannya hanya dirinya sendiri. Tapi senyumnya... cukup untuk menjelaskan semuanya.
Komentar
Posting Komentar