Jumat, 29 Mei 2026

SEKAR Edisi Mei 2026 | Libertas Karya Khoirunnisa

 Libertas

Karya Khoirunnisa

Sepetak ruangan tampak sunyi. Tidak ada jendela. Hanya tampak dinding lembab sejauh mata memandang. Cahaya datang dari lampu kecil yang menggantung di langit-langit. Sinarnya temaram dan redup. Berkedip-kedip tidak beraturan layaknya mata lelah yang dipaksa tetap terbuka. Setiap kali lampu itu redup sesaat, ruangan seakan tenggelam dalam gelap. Lalu kembali menyala dengan ragu, seolah bisa mati kapan saja. Hal itu terus terjadi berulang kali. 

Di sudut ruangan, seorang perempuan duduk di lantai. Punggungnya menempel pada dinding yang lembab. Pendar matanya redup menelisik dirinya. Menelisik warna-warna yang melekat pada kanvas yang tidak lagi putih. Melihatnya membuat perempuan itu menghela napas pelan. Perlahan-lahan ditarik lututnya dan dipeluk rapat seolah tubuhnya ingin mengecil dan lenyap. Matanya kini bergerak liar, menyapu setiap sudut ruangan seolah mencari celah untuk bernapas, hingga akhirnya berhenti pada satu titik. 

Ranjang. 

Seketika kepalanya dihantam kilatan-kilatan kejadian yang tak pernah benar-benar pergi. Ranjang itu menjadi altar persembahan untuk dirinya. Saksi bisu yang menyerap semua jerit yang dipendam, tempat dirinya dirusak dan kehormatannya direnggut berulang kali. Meninggalkan bekas yang tak kasatmata, namun terasa lebih perih daripada luka manapun. 

“Sial,” ujarnya lirih.

Perempuan itu, Sita, menjambak rambutnya. Kilasan kejadian yang berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyesakkan dadanya. Perutnya bergejolak, rasa mual mulai menghampiri dirinya. Bahkan kini Sita memukul kepalanya berharap bahwa ingatan itu segera pergi. Semakin lama ingatan itu berputar, maka dirinya akan semakin tersiksa. Ingatan itu terus mengejarnya bahkan hingga dalam mimpi. 

Sambil menahan rasa mual, Sita kembali melihat ke arah ranjang. Matanya menatap nyalang yang sarat akan amarah. Namun, ada hal lain menarik perhatiannya. Tepat di bawah ranjang. Pandangannya tertuju pada titik kecil dalam gelap. Pada benda kecil yang memantulkan cahaya. Melihat itu membuat Sita teringat akan suatu hal. Dengan harapan bahwa pemikirannya benar, Sita bergerak cepat mengahmpiri ranjang. Merendahkan dirinya dan mengulurkan tangan untuk meraih benda tersebut. Ditariknya benda itu keluar dari bawah ranjang. 

Sita terperangah. Tangannya gemetar dan secara tidak sengaja menjatuhkan benda tersebut. Melihat benda itu jatuh tepat di depan kakinya, Sita melangkah mundur. Tidak berani menyentuhnya. Namun dengan cepat dia menyadari bahwa suara tadi bisa menarik perhatian orang di luar kamarnya. Matanya melirik waspada pada pintu kayu kamarnya. Dirinya berjongkok dan mengambil kembali benda itu dengan rasa takut.

“Gimana bisa ada di sini? Benda ini, bukankah benda ini yang dicari Damar waktu itu?” Suaranya bergetar. Raut mukanya jelas masih menunjukkan keterkejutan. Matanya sepenuhnya terkunci pada pisau kecil di tangannya. Sita tidak tahu, apakah benda itu akan menyelamatkannya atau menuntunnya menuju akhir hidupnya. 

“Apakah aku bisa melakukannya?” 

Sita ragu. Tapi dirinya ditarik paksa oleh realita. Sita menyadari bahwa tidak ada bantuan yang bisa diharapkan. Penculikan ini sudah berlangsung selama satu bulan dan hingga saat ini tidak ada yang datang menyelamatkannya.

Lagi-lagi sebuah ingatan datang seperti kilat. Tepat pada kejadian sebelum kebebasannya direnggut paksa. Sita pulang malam itu. Menyusuri jalan menuju kosnya yang sepi dan temaram. Hanya ada sinar lampu jalan yang satu dari tiga titiknya sudah mati. Dia ingat mempercepat langkah. Ingat merasakan angin dari arah berlawanan. Lalu ada mobil yang menepi. Pelan. Terlalu pelan dan akhirnya berhenti. Sita menjadi ragu untuk melangkah maju melewati mobil itu. Namun, dirinya tidak ada pilihan lain. Tidak ada jalan memutar untuk menuju kosnya. Dirinya hanya berharap bahwa ketakutannya tidak berdasar. Tepat ketika Sita berhasil melewati mobil itu, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya dari belakang sebelum dia sempat berteriak. Setelah itu gelap. Ketika dia membuka mata, yang ada hanyalah ruangannya saat ini.

“Apa ini saatnya untuk mendapatkan kebebasanku? Kebebasan yang sudah lama aku nantikan. Pada kehidupanku sebelum semua bencana ini terjadi.”

Di Tengah pergulatan pikirannya, dari balik pintu kayu itu terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Segera pisau itu dia pindahkan ke dalam laci di samping ranjang. Kini Sita menatap waspada pada pintu kamarnya. Perasaan takut mulai menghampiri dirinya. Dia akan memulai kembali penderitaannya hari ini. 

Perlahan pintu itu terbuka. Tampak sosok pria jangkung memasuki kamar. Setelah mengunci pintu kamar, langkah kaki pria itu membawanya menuju tempat Sita berdiri. Semakin pria itu mendekat, Sita dapat mencium aroma yang menguar. Aroma alkohol memenuhi sepetak kamar yang pengap itu. Menusuk penciuman siapapun yang menghirupnya. 

“Kau menyambutku?” Kilat matanya menunjukkan ketertarikan. Pria itu, Damar, menunjukkan senyuman yang membuat siapapun akan menghajarnya. Sita tahu arti senyuman itu.

“Kau bisu, hah? Aku bertanya padamu! Dasar wanita sialan. Sekarang kau diam. Tapi nanti kau berteriak sepuasmu.” Suaranya terdengar cukup tinggi di awal, karena tampak kesal. Tapi kini mata Damar mengerling pada Sita. Perubahan suasana hatinya terjadi dengan cepat.

Sita membeku di tempatnya. Lehernya tercekat. Kedua tangannya mengepal. Malam ini kembali lagi, ketika tubuhnya tidak berada dalam kendalinya, tetapi menjadi milik pria itu. Haknya kembali diambil paksa, tanpa suara, dan tanpa pilihan untuknya.

Lampu berkedip-kedip di atas kepala, seolah enggan menjadi saksi. Di bawah cahaya redup itu, Damar kembali menggoreskan warna-warna kasar. Seperti seniman yang menggoreskan kuasnya pada sebidang kanvas.  Dalam dunianya, dia mengagungkan dirinya sebagai seniman dan menganggap kanvas putih itu pantas dipenuhi goresan-goresan kehendaknya. 

Pada akhirnya, goresan itu meninggalkan luka dan trauma. Namun, goresan warna itu seolah-olah membuat Damar merasa agung. Sementara bagi Sita, goresan warna itu tidak bisa dia tolak, karena dia tidak dalam posisi yang memiliki kendali atas dirinya. Ketika semuanya selesai, yang tersisa hanyalah sunyi yang lebih berat dari sebelumnya, serta tubuh yang kembali tergeletak seperti benda yang ditinggalkan setelah digunakan.

Pandangan Sita mengikuti Damar yang melangkah menuju pintu. Dalam pikirannya hanya ada dua hal. Antara Damar yang mati di sini atau dirinya sendiri. Memikirkan itu segera tangannya bergerak cepat mengambil pisau di laci dan mengarahkannya kepada Damar. Belum sampai menjangkau tubuh Damar, pisau itu terlepas dari genggaman Sita. Mendengar benda jatuh, Damar membalikkan tubuhnya dan melihat pisau di lantai.

“Pisau? Wanita sialan. Kau berniat menusukku dengan pisau kecil itu? Tapi melihatmu yang menjatuhkannya, bahkan kau tidak punya nyali.” Segera setelah itu Damar menampar Sita hingga terjatuh ke lantai. Bahkan menendang tubuh Sita. Tidak ada keraguan dalam tindakan Damar. Namun, posisi dirinya yang terjatuh dimanfaatkan Sita untuk mengambil kembali pisaunya. Pandangannya sejenak tidak fokus. Setelah menguatkan dirinya, Sita mengarahkan pisau itu ke Damar. 

Satu, dua, tiga, dan entah berapa kali. Sita terus menghujam tubuh Damar. Melihat tubuh Damar akhirnya terjatuh, Sita terpaku sebentar. Berdiri memandang tubuh itu. Lalu sesuatu dalam dadanya pecah. Bukan tangis sedih. Bukan histeris. Hanya seperti beban ratusan kilo yang tiba-tiba tidak ada. Seperti tali yang selama ini meliliti dadanya akhirnya dilepas.

“Kau tidak pernah memikirkan ini kan? Kau dan yang lain mungkin berpikir bahwa diriku tak akan pernah melakukannya. Tapi kenyataannya aku punya keberanian itu. Kau akan mati di sini, tapi aku kan menyiksamu. Bahkan ketika kau pergi ke neraka, aku akan terus mengejarmu.”

Napasnya tersenggal. Tangannya gemetar dan kembali menjatuhkan pisau. Sita menatap tangannya. Ingin melihat bukti kebebasannya. Bersih. Tidak ada darah di bajunya, di lantai, atau di manapun. Dia bingung. Namun, sebelum Sita sempat bereaksi, tiba-tiba kepalanya terasa sakit seperti dihantam beban berat. Pandangannya menggelap dan tubuhnya jatuh ke lantai.

Sita tersadar dari tidurnya. Peluh membasahi tubuhnya. Matanya melihat sekeliling. Mengunci pandangannya pada bawah ranjang. Segera dirinya mencari pisau di bawah ranjang. Tapi tidak ada apapun di sana. Diarahkannya tubuhnya ke laci. Sekali lagi tidak ada pisau di sana. 

Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, Damar muncul di sana. Akhirnya dia menyadari, pisau itu tidak pernah ada. Begitu juga dengan kebebasan dirinya yang hanya singgah sebentar di kepalanya. Hanya mimpi yang terlalu indah untuk menjadi nyata.

***

 

SINOPSIS

Ketika kebebasan direnggut paksa, dia mencoba merebutnya kembali. Dia hidup dengan luka dan trauma. Kehilangan hak dan kendali atas dirinya. Namun, dia masih menggenggam harapan, sementara perlawanan dia simpan diam-diam di balik tubuh yang dipaksa menyerah. Di tengah kehancuran yang perlahan mengikis dirinya, dia hanya ingin dua hal: kembali menjadi manusia yang utuh dan memiliki kebebasan atas hidupnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...