Libertas
Karya Khoirunnisa
Sepetak ruangan tampak sunyi. Tidak ada jendela. Hanya tampak
dinding lembab sejauh mata memandang. Cahaya datang dari lampu kecil yang
menggantung di langit-langit. Sinarnya temaram dan redup. Berkedip-kedip tidak
beraturan layaknya mata lelah yang dipaksa tetap terbuka. Setiap kali lampu itu
redup sesaat, ruangan seakan tenggelam dalam gelap. Lalu kembali menyala dengan
ragu, seolah bisa mati kapan saja. Hal itu terus terjadi berulang kali.
Di sudut ruangan, seorang perempuan duduk di lantai. Punggungnya
menempel pada dinding yang lembab. Pendar matanya redup menelisik dirinya.
Menelisik warna-warna yang melekat pada kanvas yang tidak lagi putih.
Melihatnya membuat perempuan itu menghela napas pelan. Perlahan-lahan ditarik
lututnya dan dipeluk rapat seolah tubuhnya ingin mengecil dan lenyap. Matanya
kini bergerak liar, menyapu setiap sudut ruangan seolah mencari celah untuk
bernapas, hingga akhirnya berhenti pada satu titik.
Ranjang.
Seketika kepalanya dihantam kilatan-kilatan kejadian yang tak
pernah benar-benar pergi. Ranjang itu menjadi altar persembahan untuk dirinya.
Saksi bisu yang menyerap semua jerit yang dipendam, tempat dirinya dirusak dan
kehormatannya direnggut berulang kali. Meninggalkan bekas yang tak kasatmata,
namun terasa lebih perih daripada luka manapun.
“Sial,” ujarnya lirih.
Perempuan itu, Sita, menjambak rambutnya. Kilasan kejadian yang
berputar di kepalanya seperti kaset rusak yang menyesakkan dadanya. Perutnya
bergejolak, rasa mual mulai menghampiri dirinya. Bahkan kini Sita memukul
kepalanya berharap bahwa ingatan itu segera pergi. Semakin lama ingatan itu
berputar, maka dirinya akan semakin tersiksa. Ingatan itu terus mengejarnya
bahkan hingga dalam mimpi.
Sambil menahan rasa mual, Sita kembali melihat ke arah ranjang.
Matanya menatap nyalang yang sarat akan amarah. Namun, ada hal lain menarik
perhatiannya. Tepat di bawah ranjang. Pandangannya tertuju pada titik kecil
dalam gelap. Pada benda kecil yang memantulkan cahaya. Melihat itu membuat Sita
teringat akan suatu hal. Dengan harapan bahwa pemikirannya benar, Sita bergerak
cepat mengahmpiri ranjang. Merendahkan dirinya dan mengulurkan tangan untuk
meraih benda tersebut. Ditariknya benda itu keluar dari bawah ranjang.
Sita terperangah. Tangannya gemetar dan secara tidak sengaja
menjatuhkan benda tersebut. Melihat benda itu jatuh tepat di depan kakinya,
Sita melangkah mundur. Tidak berani menyentuhnya. Namun dengan cepat dia
menyadari bahwa suara tadi bisa menarik perhatian orang di luar kamarnya.
Matanya melirik waspada pada pintu kayu kamarnya. Dirinya berjongkok dan
mengambil kembali benda itu dengan rasa takut.
“Gimana bisa ada di sini? Benda ini, bukankah benda ini yang
dicari Damar waktu itu?” Suaranya bergetar. Raut mukanya jelas masih menunjukkan
keterkejutan. Matanya sepenuhnya terkunci pada pisau kecil di tangannya. Sita
tidak tahu, apakah benda itu akan menyelamatkannya atau menuntunnya menuju
akhir hidupnya.
“Apakah aku bisa melakukannya?”
Sita ragu. Tapi dirinya ditarik paksa oleh realita. Sita menyadari
bahwa tidak ada bantuan yang bisa diharapkan. Penculikan ini sudah berlangsung
selama satu bulan dan hingga saat ini tidak ada yang datang menyelamatkannya.
Lagi-lagi sebuah ingatan datang seperti kilat. Tepat pada kejadian
sebelum kebebasannya direnggut paksa. Sita pulang malam itu. Menyusuri jalan
menuju kosnya yang sepi dan temaram. Hanya ada sinar lampu jalan yang satu dari
tiga titiknya sudah mati. Dia ingat mempercepat langkah. Ingat merasakan angin
dari arah berlawanan. Lalu ada mobil yang menepi. Pelan. Terlalu pelan dan
akhirnya berhenti. Sita menjadi ragu untuk melangkah maju melewati mobil itu.
Namun, dirinya tidak ada pilihan lain. Tidak ada jalan memutar untuk menuju
kosnya. Dirinya hanya berharap bahwa ketakutannya tidak berdasar. Tepat ketika
Sita berhasil melewati mobil itu, tiba-tiba sebuah tangan membekap mulutnya
dari belakang sebelum dia sempat berteriak. Setelah itu gelap. Ketika dia membuka
mata, yang ada hanyalah ruangannya saat ini.
“Apa ini saatnya untuk mendapatkan kebebasanku? Kebebasan yang
sudah lama aku nantikan. Pada kehidupanku sebelum semua bencana ini terjadi.”
Di Tengah pergulatan pikirannya, dari balik pintu kayu itu
terdengar langkah kaki seseorang mendekat. Segera pisau itu dia pindahkan ke
dalam laci di samping ranjang. Kini Sita menatap waspada pada pintu kamarnya.
Perasaan takut mulai menghampiri dirinya. Dia akan memulai kembali
penderitaannya hari ini.
Perlahan pintu itu terbuka. Tampak sosok pria jangkung memasuki
kamar. Setelah mengunci pintu kamar, langkah kaki pria itu membawanya menuju
tempat Sita berdiri. Semakin pria itu mendekat, Sita dapat mencium aroma yang
menguar. Aroma alkohol memenuhi sepetak kamar yang pengap itu. Menusuk
penciuman siapapun yang menghirupnya.
“Kau menyambutku?” Kilat matanya menunjukkan ketertarikan. Pria
itu, Damar, menunjukkan senyuman yang membuat siapapun akan menghajarnya. Sita
tahu arti senyuman itu.
“Kau bisu, hah? Aku bertanya padamu! Dasar wanita sialan. Sekarang
kau diam. Tapi nanti kau berteriak sepuasmu.” Suaranya terdengar cukup tinggi
di awal, karena tampak kesal. Tapi kini mata Damar mengerling pada Sita.
Perubahan suasana hatinya terjadi dengan cepat.
Sita membeku di tempatnya. Lehernya tercekat. Kedua tangannya
mengepal. Malam ini kembali lagi, ketika tubuhnya tidak berada dalam
kendalinya, tetapi menjadi milik pria itu. Haknya kembali diambil paksa, tanpa
suara, dan tanpa pilihan untuknya.
Lampu berkedip-kedip di atas kepala, seolah enggan menjadi saksi.
Di bawah cahaya redup itu, Damar kembali menggoreskan warna-warna kasar.
Seperti seniman yang menggoreskan kuasnya pada sebidang kanvas. Dalam
dunianya, dia mengagungkan dirinya sebagai seniman dan menganggap kanvas putih
itu pantas dipenuhi goresan-goresan kehendaknya.
Pada akhirnya, goresan itu meninggalkan luka dan trauma. Namun,
goresan warna itu seolah-olah membuat Damar merasa agung. Sementara bagi Sita,
goresan warna itu tidak bisa dia tolak, karena dia tidak dalam posisi yang
memiliki kendali atas dirinya. Ketika semuanya selesai, yang tersisa hanyalah
sunyi yang lebih berat dari sebelumnya, serta tubuh yang kembali tergeletak
seperti benda yang ditinggalkan setelah digunakan.
Pandangan Sita mengikuti Damar yang melangkah menuju pintu. Dalam
pikirannya hanya ada dua hal. Antara Damar yang mati di sini atau dirinya
sendiri. Memikirkan itu segera tangannya bergerak cepat mengambil pisau di laci
dan mengarahkannya kepada Damar. Belum sampai menjangkau tubuh Damar, pisau itu
terlepas dari genggaman Sita. Mendengar benda jatuh, Damar membalikkan tubuhnya
dan melihat pisau di lantai.
“Pisau? Wanita sialan. Kau berniat menusukku dengan pisau kecil
itu? Tapi melihatmu yang menjatuhkannya, bahkan kau tidak punya nyali.” Segera
setelah itu Damar menampar Sita hingga terjatuh ke lantai. Bahkan menendang
tubuh Sita. Tidak ada keraguan dalam tindakan Damar. Namun, posisi dirinya yang
terjatuh dimanfaatkan Sita untuk mengambil kembali pisaunya. Pandangannya
sejenak tidak fokus. Setelah menguatkan dirinya, Sita mengarahkan pisau itu ke
Damar.
Satu, dua, tiga, dan entah berapa kali. Sita terus menghujam tubuh
Damar. Melihat tubuh Damar akhirnya terjatuh, Sita terpaku sebentar. Berdiri
memandang tubuh itu. Lalu sesuatu dalam dadanya pecah. Bukan tangis sedih.
Bukan histeris. Hanya seperti beban ratusan kilo yang tiba-tiba tidak ada.
Seperti tali yang selama ini meliliti dadanya akhirnya dilepas.
“Kau tidak pernah memikirkan ini kan? Kau dan yang lain mungkin
berpikir bahwa diriku tak akan pernah melakukannya. Tapi kenyataannya aku punya
keberanian itu. Kau akan mati di sini, tapi aku kan menyiksamu. Bahkan ketika
kau pergi ke neraka, aku akan terus mengejarmu.”
Napasnya tersenggal. Tangannya gemetar dan kembali menjatuhkan
pisau. Sita menatap tangannya. Ingin melihat bukti kebebasannya. Bersih. Tidak
ada darah di bajunya, di lantai, atau di manapun. Dia bingung. Namun, sebelum
Sita sempat bereaksi, tiba-tiba kepalanya terasa sakit seperti dihantam beban
berat. Pandangannya menggelap dan tubuhnya jatuh ke lantai.
Sita tersadar dari tidurnya. Peluh membasahi tubuhnya. Matanya
melihat sekeliling. Mengunci pandangannya pada bawah ranjang. Segera dirinya
mencari pisau di bawah ranjang. Tapi tidak ada apapun di sana. Diarahkannya
tubuhnya ke laci. Sekali lagi tidak ada pisau di sana.
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, Damar muncul di sana. Akhirnya
dia menyadari, pisau itu tidak pernah ada. Begitu juga dengan kebebasan dirinya
yang hanya singgah sebentar di kepalanya. Hanya mimpi yang terlalu indah untuk
menjadi nyata.
***
SINOPSIS
Ketika kebebasan
direnggut paksa, dia mencoba merebutnya kembali. Dia hidup dengan luka dan
trauma. Kehilangan hak dan kendali atas dirinya. Namun, dia masih menggenggam
harapan, sementara perlawanan dia simpan diam-diam di balik tubuh yang dipaksa
menyerah. Di tengah kehancuran yang perlahan mengikis dirinya, dia hanya ingin
dua hal: kembali menjadi manusia yang utuh dan memiliki kebebasan atas hidupnya
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar