Jumat, 29 Mei 2026

SEKAR Edisi Mei 2026 | Batu Penyesalan Karya Ibran Purba

Batu Penyesalan

Karya Ibran Purba

Matahari baru saja terbit, membiaskan cahaya keemasan yang menembus ventilasi udara rumah tipe 36 itu. Namun, kehangatan pagi sama sekali tidak menyentuh atmosfer di dalam dapur. Hawa di sana justru terasa membakar, pengap oleh ketegangan yang pekat. Di atas meja makan yang merangkap sebagai meja dapur, sebuah toples kaca berisi kopi bubuk premium berdiri tegak, seolah menjadi pusat semesta yang mengintimidasi bagi sepasang suami istri, Danu dan Rara.

Rara berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada pinggiran meja. Napasnya memburu kecil, menahan badai yang sejak lima menit lalu bergemuruh di dadanya. Ia menunjuk toples itu dengan telunjuk yang bergetar.

"Aku bilang beli yang merek biasa, Danu. Ini harganya dua kali lipat!" Suara Rara melengking dalam intonasi yang ditekan, berusaha agar tidak terdengar oleh tetangga sebelah rumah yang dindingnya saling berdempetan. "Uang belanja kita bulan ini sudah mepet. Anak kita, Tio, butuh bayar uang buku minggu depan. Kenapa kamu bebal banget, sih? Susah ya dibilangin?"

Danu, yang sedang berdiri di depan cermin kecil dekat kamar mandi sambil mengancingkan kemeja kerjanya, tidak langsung menjawab. Ia sengaja memperlambat gerakannya, menarik kerah baju dengan lagak acuh tak acuh, lalu mendengus remeh. Baginya, omelan Rara pagi ini seperti kaset rusak yang diputar berulang-ulang selalu soal uang, kekurangan, dan penghematan.

"Kopi yang biasa kamu beli itu rasanya seperti air cucian kain, Ra. Sepah," balas Danu tajam, membalikkan badan dan menatap istrinya dengan pandangan menantang. "Aku ini kerja keras seharian, berangkat pagi pulang malam, memeras keringat buat rumah ini. Masa cuma mau minum kopi yang rasanya agak enak dikit aja gak boleh? Kamu itu yang terlalu pelit, terlalu perhitungan sama suami sendiri."

"Ini bukan soal pelit, Danu! Ini soal skala prioritas!" Suara Rara naik satu oktaf, egonya terpantik oleh tuduhan 'pelit'. "Kalau uangnya ada, jangankan kopi mahal, pabrik kopinya pun gak akan aku larang kamu beli. Tapi keuangan kita bulan ini memang gak cukup. Kamu selalu mementingkan egomu sendiri tanpa mau melihat catatan pengeluaran kita!"

"Ah, sudahlah! Kamu selalu membesar-besarkan masalah kecil. Dari dulu hobinya cari keributan," potong Danu, memutus kalimat Rara dengan lambaian tangan yang meremehkan.

Danu menyambar tas kerjanya yang tergeletak di kursi. Ia tidak berpamitan, tidak mencium kening istrinya seperti biasa, bahkan sengaja melangkah dengan hentakan kaki yang berat. Sedetik kemudian, pintu depan ditutup dengan dentuman keras yang menggetarkan kaca-kaca jendela rumah mereka.

Rara terkesiap, tubuhnya melemas. Ia perlahan merosot, duduk di kursi dapur sambil menatap toples kopi itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca. Rasa kesal, lelah, dan tidak dihargai bercampur aduk menjadi gumpalan sesak di tenggorokannya.

Sepanjang hari di kantor, kepala Danu dipenuhi oleh kabut amarah yang tebal. Lembar demi lembar laporan pekerjaan di layar monitornya sama sekali tidak melekat di pikiran. Di matanya, Rara telah berubah menjadi sosok istri yang menuntut, tidak menghargai usahanya, dan selalu ingin memegang kendali atas segala hal.

"Dia pikir cari uang di luar itu gampang? Pulang ke rumah bukannya disambut senyuman, malah disuguhi wajah cemberut gara-gara kopi," batin Danu, terus memupuk rasa benarnya sendiri.

Gengsi yang besar membuat Danu menolak untuk mengirimkan pesan singkat, sekadar menanyakan kabar atau meredakan situasi. Bahkan, ketika ponselnya bergetar dua kali pada jam makan siang—menampilkan nama Rara di layar—Danu sengaja membalikkan layar ponselnya ke bawah. Ia mengabaikan panggilan itu dengan sengaja. “Biar dia tahu rasa. Biar dia mikir kalau tindakannya tadi pagi itu keterlaluan. Egois sekali jadi orang,” pikir Danu, memelihara sebuah batu hitam yang semakin mengeras di dalam kepalanya.

Sementara itu, di sudut dapur rumah mereka, Rara duduk tertegun. Amarah yang membakar tadi pagi perlahan surut, menguap bersama berjalannya waktu, dan kini menyisakan rasa sesal yang dingin. Ia menatap ponselnya yang tak kunjung menerima balasan. Rara tahu Danu lelah, tekanan pekerjaan suaminya pasti besar, dan mungkin cara menegurnya tadi pagi terlalu kasar hingga melukai harga diri Danu sebagai kepala keluarga.

Namun, ketika panggilannya diabaikan dua kali, rasa hangat yang sempat muncul di hati Rara kembali membeku. Gengsinya bangkit mengintervensi. Pikiran defensif mulai meracuni otaknya: “Kalau aku yang mengemis minta maaf duluan, dia akan merasa di atas angin. Dia akan mengulangi sifat egoisnya dan menganggap pendapatku gak penting. Sekali-kali dia harus diberi pelajaran.”

Dua kepala di dua tempat berbeda, sama-sama mengeras. Keduanya menolak untuk menjadi yang pertama mengetuk pintu perdamaian. Mereka memilih berdiri di menara ego masing-masing, mengawasi siapa yang akan runtuh lebih dulu.

Malam pun tiba, membawa serta mendung tebal yang akhirnya pecah menjadi hujan badai. Tepat pukul delapan malam, Danu pulang dengan baju yang basah di bagian bahu dan celana yang terciprat lumpur. Ketika ia memutar kunci dan melangkah masuk, keheningan yang tidak biasa langsung menyergapnya.

Rumah itu gelap sebagian, hanya lampu ruang tamu yang menyala temaram. Tidak ada aroma masakan hangat yang biasa menyambut hidungnya, tidak ada suara televisi, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang ramah.

Rara sedang duduk di ujung sofa ruang tamu. Di depannya, tumpukan pakaian kering menggunung. Ia sedang melipat baju-baju itu dengan gerakan yang sangat mekanis, kaku, dan ritmis, seolah-olah ia adalah sebuah robot yang diprogram untuk mengabaikan keberadaan Danu.

Danu, yang perutnya sudah keroncongan sejak sore, berjalan menuju dapur dengan harapan setidaknya ada lauk sederhana yang tersisa. Namun, ketika ia mengangkat tudung saji di atas meja, yang ditemukannya hanyalah piring kosong yang bersih. Rasa lapar yang berpadu dengan kelelahan fisik instan memicu kembali sumbu amarah Danu yang sempat mereda.

Ia berjalan kembali ke ruang tamu, berdiri tepat di depan Rara, menghalangi pandangan istrinya ke tumpukan baju.

"Kamu gak masak? Sengaja mau balas dendam soal tadi pagi? Childish banget kamu, Ra," kata Danu, suaranya terdengar dingin, bergetar oleh emosi yang tertahan.

Rara menghentikan gerakan tangannya yang sedang melipat kaus milik Danu. Ia menarik napas panjang, lalu mendongak. Matanya yang sembap dan kemerahan menatap langsung ke manik mata Danu.

“Aku nunggu kamu pulang dari sore untuk bicara baik-baik, Danu. Aku bahkan sudah berniat untuk minta maaf kalau caraku tadi pagi salah," suara Rara bergetar, namun penuh penekanan. "Tapi begitu kamu datang, yang kamu tanyakan cuma perutmu sendiri? Kamu gak lihat suasananya? Kamu bahkan gak tanya aku sudah makan atau belum, atau gimana hariku?"

"Halah, alasan! Gak usah berbelit-belit!" bentak Danu, suaranya meninggi, menggelegar mengalahkan suara guntur di luar. "Kamu itu cuma keras kepala! Gak mau ngaku kalau kamu yang mulai duluan pagi tadi dengan ngomel-ngomel gak jelas soal hal sepele!"

"Aku yang keras kepala?!" Rara berdiri dari sofa, menjatuhkan pakaian di pangkuannya hingga berserakan di lantai. Tangisnya yang ditahan sejak siang akhirnya pecah. "Kamu yang gak pernah mau dengerin orang lain, Danu! Kamu selalu merasa paling benar, paling lelah, paling berkorban di rumah ini! Kamu anggap aku ini apa? Pengatur? Rumah tangga ini isinya bukan cuma tentang kamu dan keinginanmu!"

"Kalau kamu merasa tersiksa, dan kamu gak suka dengan cara memimpinku di rumah ini, silakan pergi! Keluar!"

Kata-kata jahanam itu meluncur begitu saja dari mulut Danu. Kalimat itu didorong oleh ego yang telah mengkristal, rasa frustrasi yang memuncak, dan keinginan kekanak-kanakan untuk memenangkan argumen. Danu ingin melihat Rara tunduk, menangis, dan memohon.

Namun, efek yang terjadi justru sebaliknya.

Ruangan tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Begitu sunyi hingga detak jam dinding terdengar seperti dentangan lonceng kematian. Kata-kata Danu bertindak bagai tamparan fisik tak kasat mata yang telak menghantam wajah Rara. Rara berhenti menangis secara instan. Ia menatap Danu dengan pandangan yang belum pernah Danu lihat selama lima tahun pernikahan mereka—bukan pandangan marah, bukan pula pandangan benci. Itu adalah pandangan dari seseorang yang jiwanya baru saja kosong, seseorang yang telah kehilangan seluruh harapannya.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa jeritan atau bantahan, Rara berbalik. Ia berjalan masuk ke dalam kamar tidur mereka dengan langkah yang tenang namun pasti.

Danu berdiri mematung di tengah ruang tamu. Di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada alarm yang menjerit histeris. Bagian rasional dari kepalanya berteriak menyuruhnya untuk mengejar Rara, memeluk tubuh istrinya, menarik kembali kata-kata terkutuk tadi, dan membuang semua gengsinya ke tempat sampah. Namun, ego hitam di kepalanya kembali berbisik menyabotase: “Jangan kejar. Kalau kamu kejar, dia akan tahu kelemahanmu. Biarkan saja dia pergi, paling cuma ke rumah ibunya. Nanti juga pulang sendiri kalau otaknya sudah dingin.” Danu memilih mendengarkan bisikan itu.

Beberapa menit kemudian, Rara keluar dari kamar. Ia sudah mengenakan jaket tebal, menenteng sebuah tas kain kecil yang berisi beberapa helai baju, dan menggenggam kunci motornya. Ia berjalan melewati Danu seolah-olah suaminya itu hanyalah seonggok udara kosong. Rara membuka pintu depan, melangkah keluar, dan langsung menghilang di balik tirai hujan deras yang mengguyur malam.

Satu jam berlalu. Rumah itu seperti makam.

Dua jam berlalu. Keheningan mulai terasa mencekam.

Danu duduk sendirian di sofa yang dingin, dikelilingi oleh pakaian-pakaian bersih yang berserakan di lantai—pakaian yang tadi siang dilipat Rara dengan sisa-sisa rasa sayangnya. Danu menyalakan televisi dengan volume keras, mencoba mengusir kesunyian, tetapi matanya sama sekali tidak merekam gambar di layar.

Pandangannya perlahan bergeser, jatuh pada toples kopi mahal di atas meja makan. Toples yang menjadi hulu ledak kehancuran malam ini.

Dengan tangan yang sedikit gemetar, Danu berjalan ke dapur. Ia memutuskan untuk menyeduh kopi tersebut, berharap kafein bisa menenangkan sarafnya yang mulai menegang dihantam rasa bersalah. Ia menyeduh bubuk hitam itu dengan air panas, mengaduknya perlahan, lalu membawa cangkir itu ke bibirnya.

Saat sesendok cairan hitam itu menyentuh lidahnya, Danu tertegun. Rasanya pahit—sangat pahit, pekat, dan meninggalkan rasa getir yang mencekik di tenggorokan. Tidak ada rasa nikmat, tidak ada kemewahan seperti yang ia bayangkan tadi pagi. Kopi yang ia pertahankan setengah mati hingga mengorbankan perasaan istrinya, ternyata rasanya hambar dan memuakkan saat dinikmati dalam kesendirian. Kemenangan yang ia menangkan dari debat tadi pagi terasa begitu murah dan menjijikkan.

Tiba-tiba, keheningan malam dipecah oleh getaran kencang dari ponsel Danu di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. "Halo?"

"Halo, selamat malam. Apakah benar ini dengan keluarga dari Ibu Rara?" Suara seorang pria di seberang telepon terdengar tergesa-gesa, berlatar belakang suara bising sirine dan deru hujan.

Jantung Danu mencelos. "Iya, benar. Saya suaminya. Ada apa ya, Pak?"

"Begini, Pak. Pemilik nomor ini baru saja mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Utama. Sepeda motornya tergelincir hebat karena jalanan licin dan pandangan terbatas akibat hujan deras. Korban tidak sadarkan diri dengan luka parah di bagian kepala. Saat ini ambulan sedang membawa korban menuju ruang darurat Rumah Sakit Medika. Mohon pihak keluarga segera datang..."

Brak!

Ponsel di tangan Danu terlepas, jatuh menghantam lantai tegel dan layarnya retak seribu. Detak jantung Danu seolah berhenti mendadak, menyisakan kekosongan yang hampa di dadanya. Seluruh darah di tubuhnya terasa turun ke kaki, membuatnya lemas seketika.

Pada detik itu juga, seluruh "batu" dan dinding kekerasan kepala yang ia bangun dan pelihara dengan sombongnya runtuh berkeping-keping. Hancur lebur menjadi debu yang sama sekali tidak ada harganya. Rasa ingin menang, rasa gengsi, harga diri lelaki, dan ego yang beberapa jam lalu terasa begitu kokoh menopang tubuhnya, mendadak menguap tanpa bekas. Semua itu digantikan oleh rasa takut yang luar biasa hebat—ketakutan kehilangan wanita yang selama ini diam-diam menjadi jangkar hidupnya.

Danu berlari kesetanan menuju pintu depan. Ia tidak memedulikan jaketnya yang tertinggal, tidak memikirkan dompet, bahkan tidak mencari payung. Ia membuka pintu dan langsung menerjang kegelapan malam, membiarkan tubuhnya dihantam oleh air hujan yang dingin dan angin yang menusuk tulang.

Sambil berlari sekuat tenaga membelah badai menuju rumah sakit, air mata Danu luruh, menyatu dengan air hujan yang membasahi wajahnya. Di dalam kepalanya, tidak ada lagi pikiran tentang siapa yang benar atau siapa yang salah. Kini, hanya ada satu doa yang menggema pasrah, meratap di hadapan Sang Pencipta: Ia bersedia meminum kopi paling pahit seumur hidupnya, ia bersedia membuang seluruh harga dirinya, asalkan Rara kembali membuka mata. Ia hanya ingin diberikan satu kesempatan lagi untuk melunakkan kepalanya di hadapan sang istri.

Namun, di bawah langit malam yang hitam, suara petir menyambar, seolah menjadi pengingat yang kejam bahwa penyesalan selalu datang mengetuk pintu tepat ketika waktu mungkin tak lagi bersedia untuk bernegosiasi.

***

Sinopsis:

Danu dan Rara adalah sepasang suami istri yang terjebak dalam lingkaran ego dan gengsi. Pertengkaran hebat meledak di suatu pagi hanya karena masalah sepele. Alih-alih saling mengalah, keduanya justru memelihara ego masing-masing sepanjang hari. Danu merasa tidak dihargai sebagai suami, sementara Rara merasa pendapat dan pengorbanannya selalu disepelekan.

Ketegangan mencapai puncaknya pada malam hari ketika komunikasi mereka benar-benar buntu. Didorong oleh amarah yang mengkristal, Danu melontarkan kata-kata kejam yang mengusir istrinya. Rara yang terlanjur sakit hati memilih pergi menerjang badai malam itu juga. Namun, tepat ketika Danu tersadar betapa hambar dan pahitnya kemenangan yang ia pertahankan dalam kesendirian, sebuah kabar kecelakaan tragis datang meruntuhkan seluruh keangkuhannya. Kisah ini menjadi tamparan keras tentang penyesalan yang datang terlambat akibat menolak untuk saling melunak.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...