Batu Penyesalan
Karya Ibran Purba
Matahari baru saja terbit, membiaskan cahaya
keemasan yang menembus ventilasi udara rumah tipe 36 itu. Namun, kehangatan
pagi sama sekali tidak menyentuh atmosfer di dalam dapur. Hawa di sana justru
terasa membakar, pengap oleh ketegangan yang pekat. Di atas meja makan yang
merangkap sebagai meja dapur, sebuah toples kaca berisi kopi bubuk premium
berdiri tegak, seolah menjadi pusat semesta yang mengintimidasi bagi sepasang
suami istri, Danu dan Rara.
Rara berdiri dengan kedua tangan bertumpu pada
pinggiran meja. Napasnya memburu kecil, menahan badai yang sejak lima menit
lalu bergemuruh di dadanya. Ia menunjuk toples itu dengan telunjuk yang
bergetar.
"Aku bilang beli yang merek biasa, Danu.
Ini harganya dua kali lipat!" Suara Rara melengking dalam intonasi yang
ditekan, berusaha agar tidak terdengar oleh tetangga sebelah rumah yang
dindingnya saling berdempetan. "Uang belanja kita bulan ini sudah mepet.
Anak kita, Tio, butuh bayar uang buku minggu depan. Kenapa kamu bebal banget,
sih? Susah ya dibilangin?"
Danu, yang sedang berdiri di depan cermin
kecil dekat kamar mandi sambil mengancingkan kemeja kerjanya, tidak langsung
menjawab. Ia sengaja memperlambat gerakannya, menarik kerah baju dengan lagak
acuh tak acuh, lalu mendengus remeh. Baginya, omelan Rara pagi ini seperti
kaset rusak yang diputar berulang-ulang selalu soal uang, kekurangan, dan
penghematan.
"Kopi yang biasa kamu beli itu rasanya
seperti air cucian kain, Ra. Sepah," balas Danu tajam, membalikkan badan
dan menatap istrinya dengan pandangan menantang. "Aku ini kerja keras
seharian, berangkat pagi pulang malam, memeras keringat buat rumah ini. Masa
cuma mau minum kopi yang rasanya agak enak dikit aja gak boleh? Kamu itu yang
terlalu pelit, terlalu perhitungan sama suami sendiri."
"Ini bukan soal pelit, Danu! Ini soal
skala prioritas!" Suara Rara naik satu oktaf, egonya terpantik oleh
tuduhan 'pelit'. "Kalau uangnya ada, jangankan kopi mahal, pabrik kopinya
pun gak akan aku larang kamu beli. Tapi keuangan kita bulan ini memang gak
cukup. Kamu selalu mementingkan egomu sendiri tanpa mau melihat catatan
pengeluaran kita!"
"Ah, sudahlah! Kamu selalu
membesar-besarkan masalah kecil. Dari dulu hobinya cari keributan," potong
Danu, memutus kalimat Rara dengan lambaian tangan yang meremehkan.
Danu menyambar tas kerjanya yang tergeletak di
kursi. Ia tidak berpamitan, tidak mencium kening istrinya seperti biasa, bahkan
sengaja melangkah dengan hentakan kaki yang berat. Sedetik kemudian, pintu
depan ditutup dengan dentuman keras yang menggetarkan kaca-kaca jendela rumah
mereka.
Rara terkesiap, tubuhnya melemas. Ia perlahan
merosot, duduk di kursi dapur sambil menatap toples kopi itu dengan mata yang
mulai berkaca-kaca. Rasa kesal, lelah, dan tidak dihargai bercampur aduk
menjadi gumpalan sesak di tenggorokannya.
Sepanjang hari di kantor, kepala Danu dipenuhi
oleh kabut amarah yang tebal. Lembar demi lembar laporan pekerjaan di layar
monitornya sama sekali tidak melekat di pikiran. Di matanya, Rara telah berubah
menjadi sosok istri yang menuntut, tidak menghargai usahanya, dan selalu ingin
memegang kendali atas segala hal.
"Dia pikir cari uang di luar itu gampang?
Pulang ke rumah bukannya disambut senyuman, malah disuguhi wajah cemberut gara-gara
kopi," batin Danu, terus memupuk rasa benarnya sendiri.
Gengsi yang besar membuat Danu menolak untuk
mengirimkan pesan singkat, sekadar menanyakan kabar atau meredakan situasi.
Bahkan, ketika ponselnya bergetar dua kali pada jam makan siang—menampilkan
nama Rara di layar—Danu sengaja membalikkan layar ponselnya ke bawah. Ia
mengabaikan panggilan itu dengan sengaja. “Biar dia tahu rasa. Biar dia mikir
kalau tindakannya tadi pagi itu keterlaluan. Egois sekali jadi orang,” pikir
Danu, memelihara sebuah batu hitam yang semakin mengeras di dalam kepalanya.
Sementara itu, di sudut dapur rumah mereka,
Rara duduk tertegun. Amarah yang membakar tadi pagi perlahan surut, menguap
bersama berjalannya waktu, dan kini menyisakan rasa sesal yang dingin. Ia
menatap ponselnya yang tak kunjung menerima balasan. Rara tahu Danu lelah,
tekanan pekerjaan suaminya pasti besar, dan mungkin cara menegurnya tadi pagi
terlalu kasar hingga melukai harga diri Danu sebagai kepala keluarga.
Namun, ketika panggilannya diabaikan dua kali,
rasa hangat yang sempat muncul di hati Rara kembali membeku. Gengsinya bangkit
mengintervensi. Pikiran defensif mulai meracuni otaknya: “Kalau aku yang
mengemis minta maaf duluan, dia akan merasa di atas angin. Dia akan mengulangi
sifat egoisnya dan menganggap pendapatku gak penting. Sekali-kali dia harus
diberi pelajaran.”
Dua kepala di dua tempat berbeda, sama-sama
mengeras. Keduanya menolak untuk menjadi yang pertama mengetuk pintu
perdamaian. Mereka memilih berdiri di menara ego masing-masing, mengawasi siapa
yang akan runtuh lebih dulu.
Malam pun tiba, membawa serta mendung tebal
yang akhirnya pecah menjadi hujan badai. Tepat pukul delapan malam, Danu pulang
dengan baju yang basah di bagian bahu dan celana yang terciprat lumpur. Ketika
ia memutar kunci dan melangkah masuk, keheningan yang tidak biasa langsung
menyergapnya.
Rumah itu gelap sebagian, hanya lampu ruang
tamu yang menyala temaram. Tidak ada aroma masakan hangat yang biasa menyambut
hidungnya, tidak ada suara televisi, tidak ada tanda-tanda kehidupan yang
ramah.
Rara sedang duduk di ujung sofa ruang tamu. Di
depannya, tumpukan pakaian kering menggunung. Ia sedang melipat baju-baju itu
dengan gerakan yang sangat mekanis, kaku, dan ritmis, seolah-olah ia adalah
sebuah robot yang diprogram untuk mengabaikan keberadaan Danu.
Danu, yang perutnya sudah keroncongan sejak
sore, berjalan menuju dapur dengan harapan setidaknya ada lauk sederhana yang
tersisa. Namun, ketika ia mengangkat tudung saji di atas meja, yang
ditemukannya hanyalah piring kosong yang bersih. Rasa lapar yang berpadu dengan
kelelahan fisik instan memicu kembali sumbu amarah Danu yang sempat mereda.
Ia berjalan kembali ke ruang tamu, berdiri
tepat di depan Rara, menghalangi pandangan istrinya ke tumpukan baju.
"Kamu gak masak? Sengaja mau balas dendam
soal tadi pagi? Childish banget kamu, Ra," kata Danu, suaranya terdengar
dingin, bergetar oleh emosi yang tertahan.
Rara menghentikan gerakan tangannya yang
sedang melipat kaus milik Danu. Ia menarik napas panjang, lalu mendongak.
Matanya yang sembap dan kemerahan menatap langsung ke manik mata Danu.
“Aku nunggu kamu pulang dari sore untuk bicara
baik-baik, Danu. Aku bahkan sudah berniat untuk minta maaf kalau caraku tadi
pagi salah," suara Rara bergetar, namun penuh penekanan. "Tapi begitu
kamu datang, yang kamu tanyakan cuma perutmu sendiri? Kamu gak lihat
suasananya? Kamu bahkan gak tanya aku sudah makan atau belum, atau gimana
hariku?"
"Halah, alasan! Gak usah
berbelit-belit!" bentak Danu, suaranya meninggi, menggelegar mengalahkan
suara guntur di luar. "Kamu itu cuma keras kepala! Gak mau ngaku kalau
kamu yang mulai duluan pagi tadi dengan ngomel-ngomel gak jelas soal hal
sepele!"
"Aku yang keras kepala?!" Rara
berdiri dari sofa, menjatuhkan pakaian di pangkuannya hingga berserakan di
lantai. Tangisnya yang ditahan sejak siang akhirnya pecah. "Kamu yang gak
pernah mau dengerin orang lain, Danu! Kamu selalu merasa paling benar, paling
lelah, paling berkorban di rumah ini! Kamu anggap aku ini apa? Pengatur? Rumah
tangga ini isinya bukan cuma tentang kamu dan keinginanmu!"
"Kalau kamu merasa tersiksa, dan kamu gak
suka dengan cara memimpinku di rumah ini, silakan pergi! Keluar!"
Kata-kata jahanam itu meluncur begitu saja
dari mulut Danu. Kalimat itu didorong oleh ego yang telah mengkristal, rasa
frustrasi yang memuncak, dan keinginan kekanak-kanakan untuk memenangkan
argumen. Danu ingin melihat Rara tunduk, menangis, dan memohon.
Namun, efek yang terjadi justru sebaliknya.
Ruangan tiba-tiba menjadi sangat sunyi. Begitu
sunyi hingga detak jam dinding terdengar seperti dentangan lonceng kematian.
Kata-kata Danu bertindak bagai tamparan fisik tak kasat mata yang telak
menghantam wajah Rara. Rara berhenti menangis secara instan. Ia menatap Danu
dengan pandangan yang belum pernah Danu lihat selama lima tahun pernikahan
mereka—bukan pandangan marah, bukan pula pandangan benci. Itu adalah pandangan
dari seseorang yang jiwanya baru saja kosong, seseorang yang telah kehilangan
seluruh harapannya.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, tanpa
jeritan atau bantahan, Rara berbalik. Ia berjalan masuk ke dalam kamar tidur
mereka dengan langkah yang tenang namun pasti.
Danu berdiri mematung di tengah ruang tamu. Di
dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ada alarm yang menjerit histeris. Bagian
rasional dari kepalanya berteriak menyuruhnya untuk mengejar Rara, memeluk
tubuh istrinya, menarik kembali kata-kata terkutuk tadi, dan membuang semua
gengsinya ke tempat sampah. Namun, ego hitam di kepalanya kembali berbisik
menyabotase: “Jangan kejar. Kalau kamu kejar, dia akan tahu kelemahanmu. Biarkan
saja dia pergi, paling cuma ke rumah ibunya. Nanti juga pulang sendiri kalau
otaknya sudah dingin.” Danu memilih mendengarkan bisikan itu.
Beberapa menit kemudian, Rara keluar dari
kamar. Ia sudah mengenakan jaket tebal, menenteng sebuah tas kain kecil yang
berisi beberapa helai baju, dan menggenggam kunci motornya. Ia berjalan
melewati Danu seolah-olah suaminya itu hanyalah seonggok udara kosong. Rara
membuka pintu depan, melangkah keluar, dan langsung menghilang di balik tirai
hujan deras yang mengguyur malam.
Satu jam berlalu. Rumah itu seperti makam.
Dua jam berlalu. Keheningan mulai terasa
mencekam.
Danu duduk sendirian di sofa yang dingin,
dikelilingi oleh pakaian-pakaian bersih yang berserakan di lantai—pakaian yang
tadi siang dilipat Rara dengan sisa-sisa rasa sayangnya. Danu menyalakan
televisi dengan volume keras, mencoba mengusir kesunyian, tetapi matanya sama
sekali tidak merekam gambar di layar.
Pandangannya perlahan bergeser, jatuh pada
toples kopi mahal di atas meja makan. Toples yang menjadi hulu ledak kehancuran
malam ini.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Danu
berjalan ke dapur. Ia memutuskan untuk menyeduh kopi tersebut, berharap kafein
bisa menenangkan sarafnya yang mulai menegang dihantam rasa bersalah. Ia
menyeduh bubuk hitam itu dengan air panas, mengaduknya perlahan, lalu membawa
cangkir itu ke bibirnya.
Saat sesendok cairan hitam itu menyentuh
lidahnya, Danu tertegun. Rasanya pahit—sangat pahit, pekat, dan meninggalkan
rasa getir yang mencekik di tenggorokan. Tidak ada rasa nikmat, tidak ada
kemewahan seperti yang ia bayangkan tadi pagi. Kopi yang ia pertahankan
setengah mati hingga mengorbankan perasaan istrinya, ternyata rasanya hambar
dan memuakkan saat dinikmati dalam kesendirian. Kemenangan yang ia menangkan
dari debat tadi pagi terasa begitu murah dan menjijikkan.
Tiba-tiba, keheningan malam dipecah oleh
getaran kencang dari ponsel Danu di atas meja. Layarnya menyala, menampilkan
sebuah panggilan dari nomor yang tidak dikenal. "Halo?"
"Halo, selamat malam. Apakah benar ini
dengan keluarga dari Ibu Rara?" Suara seorang pria di seberang telepon
terdengar tergesa-gesa, berlatar belakang suara bising sirine dan deru hujan.
Jantung Danu mencelos. "Iya, benar. Saya
suaminya. Ada apa ya, Pak?"
"Begini, Pak. Pemilik nomor ini baru saja
mengalami kecelakaan tunggal di Jalan Raya Utama. Sepeda motornya tergelincir
hebat karena jalanan licin dan pandangan terbatas akibat hujan deras. Korban
tidak sadarkan diri dengan luka parah di bagian kepala. Saat ini ambulan sedang
membawa korban menuju ruang darurat Rumah Sakit Medika. Mohon pihak keluarga
segera datang..."
Brak!
Ponsel di tangan Danu terlepas, jatuh
menghantam lantai tegel dan layarnya retak seribu. Detak jantung Danu seolah
berhenti mendadak, menyisakan kekosongan yang hampa di dadanya. Seluruh darah
di tubuhnya terasa turun ke kaki, membuatnya lemas seketika.
Pada detik itu juga, seluruh "batu"
dan dinding kekerasan kepala yang ia bangun dan pelihara dengan sombongnya
runtuh berkeping-keping. Hancur lebur menjadi debu yang sama sekali tidak ada
harganya. Rasa ingin menang, rasa gengsi, harga diri lelaki, dan ego yang
beberapa jam lalu terasa begitu kokoh menopang tubuhnya, mendadak menguap tanpa
bekas. Semua itu digantikan oleh rasa takut yang luar biasa hebat—ketakutan
kehilangan wanita yang selama ini diam-diam menjadi jangkar hidupnya.
Danu berlari kesetanan menuju pintu depan. Ia
tidak memedulikan jaketnya yang tertinggal, tidak memikirkan dompet, bahkan
tidak mencari payung. Ia membuka pintu dan langsung menerjang kegelapan malam,
membiarkan tubuhnya dihantam oleh air hujan yang dingin dan angin yang menusuk
tulang.
Sambil berlari sekuat tenaga membelah badai
menuju rumah sakit, air mata Danu luruh, menyatu dengan air hujan yang
membasahi wajahnya. Di dalam kepalanya, tidak ada lagi pikiran tentang siapa
yang benar atau siapa yang salah. Kini, hanya ada satu doa yang menggema
pasrah, meratap di hadapan Sang Pencipta: Ia bersedia meminum kopi paling pahit
seumur hidupnya, ia bersedia membuang seluruh harga dirinya, asalkan Rara
kembali membuka mata. Ia hanya ingin diberikan satu kesempatan lagi untuk
melunakkan kepalanya di hadapan sang istri.
Namun, di bawah langit malam yang hitam, suara
petir menyambar, seolah menjadi pengingat yang kejam bahwa penyesalan selalu
datang mengetuk pintu tepat ketika waktu mungkin tak lagi bersedia untuk bernegosiasi.
***
Sinopsis:
Danu dan Rara adalah sepasang suami istri yang terjebak dalam
lingkaran ego dan gengsi. Pertengkaran hebat meledak di suatu pagi hanya karena
masalah sepele. Alih-alih saling mengalah, keduanya justru memelihara ego masing-masing
sepanjang hari. Danu merasa tidak dihargai sebagai suami, sementara Rara merasa
pendapat dan pengorbanannya selalu disepelekan.
Ketegangan mencapai puncaknya pada malam hari ketika komunikasi
mereka benar-benar buntu. Didorong oleh amarah yang mengkristal, Danu
melontarkan kata-kata kejam yang mengusir istrinya. Rara yang terlanjur sakit
hati memilih pergi menerjang badai malam itu juga. Namun, tepat ketika Danu
tersadar betapa hambar dan pahitnya kemenangan yang ia pertahankan dalam
kesendirian, sebuah kabar kecelakaan tragis datang meruntuhkan seluruh
keangkuhannya. Kisah ini menjadi tamparan keras tentang penyesalan yang datang
terlambat akibat menolak untuk saling melunak.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar