[Review] Eliana | Ayudya Ratriana Nur Anisyah
REVIEW BUKU
Eliana Karya Tere Liye
Ayudya Ratriana Nur Anisyah
• Identitas Buku
1. Judul Buku : Eliana (Serial Anak Mamak)
2. Nama Penulis : Tere Liye
3. Tahun Terbit : Cetakan I, Januari 2011, Cetakan XVI, Juni 2017
4. Penerbit : Replubika Penerbit
5. Jumlah halaman : iv, 159 halaman
6. Harga Buku : Rp. 63.000,-
- Sinopsis
Novel ini menceritakan tentang seorang gadis berusia 12 tahun bernama Eliana. Ia memiliki 2 adik laki-laki bernama Burlian, Pukat dan sorang adik perempuan bernama Amelia. Dari keempat bersaudara, Eliana adalah yang paling berani. Mereka tinggal bersama Bapak dan Mamak di sebuah daerah di pulau Sumatera. Suatu hari, Bapaknya, Syahdan membawa Eliana dan Amelia ke kota kecamatan. Di sana, Pak Syahdan akan menangani kasus penting. Dia pergi ke gedung biru untuk menemui orang-orang di sana dan meminta Eli dan Amel untuk menunggu di toko emas Koh Acung. Setelah beberapa saat, mereka tidak bisa menunggu Bapak lagi dan memutuskan untuk mengikutinya ke gedung biru. Ada beberapa keributan di gedung biru dan Eliana mengenali salah satu suara dalam keributan itu. Eliana segera membuka pintu ke ruangan tempat keributan itu berasal dan bergabung dengan debat panas.
Dalam perjalanan pulang, ia ditegur oleh ayahnya atas kejadian sebelumnya. Selain itu, ia mendapat nasihat bijak dari ayahnya. Eliana telah membuat keributan sebelumnya karena dia tidak menerima ayahnya tersinggung dan dia tidak puas dengan rencana penambangan pasir yang ingin dia terapkan di desanya. Ternyata, alasan kedua justru membuat Eliana marah hingga ia muak dengan "Johan" (pemilik tambang pasir) yang juga menghina ayahnya. Eli bersumpah untuk membencinya selamanya dan menghentikan rencana penambangan pasirnya dengan cara apa pun. Dia memutuskan untuk mengundang teman-temannya, Hima, Damdas dan Marhotap untuk melawan para petugas tambang yang datang dari kota provinsi. Mereka menyebut geng itu "Empat Buntal". Suatu malam, ketika semua anak di desa telah selesai mengaji Al-Qu'an di rumah Nek Kiba, Marhotap berencana menyerang truk tambang besar dengan balon berisi minyak tanah dan mengajak tiga temannya, tetapi tidak ada yang mau ikut. Ia harus melakukannya sendiri. Sejak malam itu, Marhotap seolah ditelan bumi, tidak ada yang tahu di mana dia berada. Sekarang hanya ada tiga dari mereka yang tersisa untuk melawan para penambang. Hingga akhirnya mereka mengajak Anton yang juga teman sekolah mereka untuk bergabung dalam misi tersebut. "Empat Buntal" sangat sulit untuk menambang pasir sehingga mereka harus bekerja sangat keras. Pada satu titik, saat menjalankan misi, keempatnya terjebak dalam sebuah kontainer.
Alam mulai menunjukkan kemarahan terhadap para pekerja di tambang pasir. Saat itu, hujan deras menyebabkan tanggul jebol dan banjir bandang. Semua perabotan di desa itu dihancurkan dan diratakan, tidak meninggalkan bekas penambangan pasir. Air terlihat keruh. "Empat Buntal" yang terperangkap di dalam kontainer akhirnya selamat. Dua puluh tahun telah berlalu. Sekarang, Eliana telah menjadi pengacara terkenal di kota provinsi. Selain itu, Marhotap yang pernah menghilang ditemukan, hanya tersisa jasadnya di tengah kubangan lumpur.
- Kelebihan
Penulis berhasil menyajikan cerita yang sangat menarik untuk dibaca, karena novel ini menceritakan kehidupan sehari-hari yang terkesan nyata. Alur cerita yang disajikan membuat pembaca hanyut dalam ceritanya. Latar tempat dideskripsikan sangat detail, sehingga pembaca mudah untuk membayangkan cerita yang dimaksud oleh penulis. Selain itu, bahasa yang digunakan merupakan bahasa sehari-hari yang mudah dipahami pembaca.
- Kekurangan
Di bagian awal cerita, membuat pembaca sedikit bingung dan merasa bosan dengan ceritanya. Selain itu, di dalam novel ini, menyebutkan beberapa kali kosa kata bahasa Belanda tanpa keterangan arti, namun hal ini tidak berdampak fatal karena pembaca masih bisa menerka-nerka maksud penulis dengan membaca kalimat selanjutnya dengan menggunakan bahasa Indonesia.
Komentar
Posting Komentar