Selasa, 01 September 2026

SEKAR Edisi Agustus 2026 | JALAN YANG DIBUKA BUKU Karya Wulan Puspitasari

 

JALAN YANG DIBUKA BUKU

Karya Wulan Puspitasari

 

Setiap kali membaca,

otak diam-diam menyambungkan,

kata demi kata,

membentuk jalan baru

yang sebelumnya tak ada.

 

Katanya, semakin sering dipakai,

jalan itu semakin kuat,

seperti rak buku yang makin kokoh,

karena sering disentuh, sering dibuka.

 

Mungkin begitu juga diri kita,

setiap halaman yang selesai dibaca,

menambah satu jalan baru,

satu sudut pandang baru,

satu versi diri yang sedikit berbeda.

 

Buku tak pernah memaksa,

ia hanya menunggu untuk dibuka,

lalu diam-diam mengubah kita,

tanpa kita sadari kapan tepatnya.

 

Dan setiap kali sebuah halaman selesai,

ada jalan yang tetap tinggal,

tersimpan diam-diam,

menanti untuk dilalui lagi.

 

BIONARASI PENULIS

Holaa, kenalin aku Wulan Puspitasari, teman-teman biasanya memanggilku Wulan. Aku lahir di Jember, 10 Januari 2005. Jujur, aku bukan orang yang terlalu suka membaca, tapi justru karena itu aku bergabung dengan Sahabat Perpustakaan. Di sini, aku bertemu teman-teman yang suka membaca dan sering merekomendasikan buku-buku menarik untukku. Aku sendiri lebih suka mendengarkan cerita daripada membacanya. Dari Sahabat Perpustakaan, aku belajar bahwa menikmati cerita punya banyak cara. Baik, sekiannn dari diri akuu, mari berteman di @blnpspta_

 

SEKAR Edisi Agustus 2026 | Mereka Menyebutnya Pembangunan Karya Salma

 

Mereka Menyebutnya Pembangunan

Karya Salma

 

Mereka menyebutnya proyek pembangunan nasional,

Demi ketahanan pangan dan transisi energi,

Padahal… di balik alat berat berbaris, 

Menggusur hutan yang menjadi denyut kehidupan asli. 

 

Ratusan ribu hectare, ratusan populasi hilang digusur, 

Dalam hitungan tahun yang tak seberapa, 

Hutan adat, tanah adat, masyrakat adat menggantungkan hidup disana

Kehilangan pangan, kehilangan ruang, kehilangan makna. 

 

Konsesi dibagikan hanya pada segelintir oligarki,

Yang kebetulan dekat dengan lingkar kuasa, 

Sedangkan keuntungan mengalir hanya pada satu kantong saja,

Tak pernah singgah pada masyarakat yang kehilangan tanahnya. 

 

Ketika suara tak lagi didengar,

Lewat karya, lewat gugatan, lewat proses yang sah, 

Jawabanya… bukan dialog, melainkan pembungkaman, penculikan hingga kematian. 

 

Paradoks pembangunan,

Atas nama kepentingan bersama (oligarki), 

Masyarakat adat dan generasi mendatang 

Menanggung kerusakan yang tak lagi bisa dipulihkan. 

 

Atas dasar pembangunan

Untuk siapa sesungguhnya pembangunan ini diperuntukkan,

Dan siapa yang berhak menanggung akibatnya? 

 

Bionarasi

Halo!! Perkenalkan, aku Shobrina Salma! Aku mahasiswa jurusan Pendidikan Luar Sekolah (PLS) - jurusan yang mungkin kedengarannya asing buat sebagian orang, tapi buat aku ini seru banget karena belajar soal bagaimana pendidikan bisa menjangkau siapa saja, nggak cuma lewat sekolah formal. Pendidikan itu nggak melulu soal ruang kelas dan seragam, tapi soal gimana caranya ilmu bisa sampai ke siapa aja, kapan aja, dan di mana aja. Kalau mau kenal lebih jauh atau sekadar ngobrol, boleh banget mampir ke sosmed aku: Instagram: @imsalema_. Semoga apa yang aku pelajari dan bagikan di sini bisa sedikit bermanfaat, dan aku juga terus belajar buat berkembang ke depannya. 

 

SEKAR Edisi Agustus 2026 | Yang Datang Setelahmu Karya Luna Andreca Martha Dewi

 

Yang Datang Setelahmu

Karya Luna Andreca Martha Dewi

 

Kukira setelah kau pergi,

hatiku akan menemukan rumah yang baru.

Lalu seseorang datang,

membawa tawa dan hangat yang berbeda,

mengajarkanku bahwa bahagia

tak harus selalu tentangmu.

 

Namun di sela tawa bersamanya,

bayangmu masih saja datang.

Pada lagu, jalan, dan malam yang sunyi,

namamu diam-diam kembali.

 

Ia tak pernah salah,

hanya datang saat hatiku

belum sepenuhnya selesai denganmu.

Mungkin aku tak ingin kembali,

hanya belum mampu benar-benar pergi.

 

Sebab orang baru bisa menggenggam tanganku,

tetapi kenangan tentangmu

masih menggenggam hati yang sama.






BIONARASI

Hai! Namaku Luna Andreca Martha Dewi, tetapi orang-orang lebih sering memanggilku Luna, Una, Nana, atau panggilan lain yang muncul secara spontan. Saat ini aku sedang menempuh pendidikan sebagai mahasiswa Ilmu Tanah. Jujur saja, menjadi mahasiswa Ilmu Tanah bukan sesuatu yang pernah masuk dalam wishlist hidupku. Namun, dari pilihan yang awalnya tidak direncanakan, aku justru menemukan banyak cerita, pengalaman, dan hal-hal baru yang perlahan membuatku belajar bahwa tidak semua hal harus berjalan sesuai rencana. Aku menikmati mencoba hal-hal baru, bertemu banyak orang, dan mengabadikan momen-momen kecil dalam perjalanan hidup. Yuk mampir ke Instagramku di @letarie._

 

SEKAR Edisi Agustus 2026 | Katanya, Langit Itu Biru Karya Kuni Tauriyatan

 

Katanya, Langit Itu Biru

Karya Kuni Tauriyatan

Pagi itu langit tidak berwarna biru. Warnanya abu-abu pucat, seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan luka. Aku duduk di dekat jendela, sesekali terdengar suara hujan yang jatuh pelan di atap rumah. Aku suka hujan. Ada sesuatu dari suara rintiknya yang selalu membuat suasana terasa lebih tenang. Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba teringat padanya. Mungkin karena hujan selalu punya cara sendiri untuk membawa kembali hal-hal yang sudah berusaha kita simpan jauh-jauh.

Namanya muncul begitu saja di kepalaku.

Seseorang yang dulu begitu sering mengisi percakapan-percakapan kecilku. Seseorang yang awalnya tidak pernah kupikir akan menjadi sepenting itu. Tidak ada awal yang istimewa. Kami hanya berbicara, tentang banyak hal yang sebenarnya sederhana.

Tapi aku selalu menikmati percakapan dengannya.

Dia laki-laki yang menyenangkan untuk diajak bicara. Lucu ya, ternyata jatuh hati memang sesederhana itu, sepertinya. Tidak selalu dimulai dari sesuatu yang luar biasa. Kadang hanya karena seseorang membuat kita merasa nyaman, lalu tanpa sadar kita mulai menunggu kehadirannya, menunggu cerita-ceritanya, bahkan mulai mengingat hal-hal kecil yang pernah dia katakan.

Dan sejak saat itu, semuanya menjadi sedikit lebih rumit.

Seharusnya aku tidak berharap terlalu banyak. Seharusnya aku tidak terlalu peduli. Seharusnya dia lebih mengerti. Seharusnya semuanya bisa berbeda.

Seharusnya.

Istilah yang menarik. Satu kata yang bisa menyampaikan berjuta-juta makna tentang jalan kehidupan yang bisa terjadi. Tentang sesuatu yang mungkin saja berjalan berbeda.

“Kenapa dia seperti itu?”

“Aku hanya ingin dia mengerti.”

Aku terdiam cukup lama. Aku hanya sedang mencari alasan agar rasa kecewaku terasa masuk akal. Aku ingin ada seseorang yang bisa kusebut sebagai penyebab semuanya. Aku ingin bisa mengatakan, “Ini salahnya.” Supaya aku tidak perlu bertanya kepada diriku sendiri kenapa aku masih peduli.

Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa mungkin bukan dia yang salah.

Mungkin memang begitulah dirinya.

Dan menerima kalimat itu ternyata jauh lebih sulit daripada membencinya.

Karena kalau dia jahat, mungkin akan lebih mudah untuk pergi. Kalau dia sepenuhnya salah, mungkin akan lebih mudah untuk berhenti peduli. Tapi bagaimana kalau dia hanya seseorang yang memiliki cara berbeda dalam memahami sesuatu? Bagaimana kalau sesuatu yang menurutku perlu dijaga, baginya memang tidak pernah terasa berbeda? 

Perasaan itu sulit, ya.

Sulit sekali.

Kita bisa menjelaskan banyak hal dengan logika, tetapi perasaan sering kali sulit diajak bekerja sama. Kita tahu seseorang tidak sempurna, tetapi tetap berharap dia bisa menjadi seperti yang kita butuhkan. Kita tahu kita tidak bisa memaksa seseorang berubah, tetapi tetap kecewa ketika dia tidak berubah. Kita tahu harus menerima, tetapi hati kita masih bertanya,“Kenapa harus sesakit ini?”

“Kenapa harus ada perasaan yang begitu indah tetapi pada akhirnya meninggalkan luka?”

Namun, waktu terus berjalan. Tanpa meminta izin dan tanpa menjelaskan apa pun. 

Dia tetap dirinya.

Aku tetap diriku.

Dan mungkin memang sejak awal kami tidak harus menjadi dua orang yang memiliki cara mencintai yang sama. Barangkali begitulah cara mencintai yang paling dewasa. Menerima bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk hadir. Karena pada akhirnya, tidak ada kehidupan yang bisa dibangun dari sesuatu yang seharusnya terjadi. Kita hanya bisa hidup dari sesuatu yang benar-benar terjadi.

Dan yang benar-benar terjadi adalah aku pernah bertemu dengannya. Aku pernah menyukainya. Aku pernah merasa bahagia hanya karena bisa berbicara dengannya. Aku pernah berharap. Aku pernah kecewa. Aku pernah menangis. Dan aku pernah belajar bahwa seseorang bisa begitu berarti tanpa harus menjadi milik kita selamanya.

“Oh, ternyata dulu aku pernah sesayang itu.”

Tidak apa-apa.

Waktu akan membuatnya perlahan pudar, tanpa harus merasa kehilangan. Bukan menghilangkan. Hanya memudarkan warna-warna yang dulu terlalu terang. Sampai akhirnya aku bisa mengingatmu tanpa merasa harus kembali. Aku bisa mendengar namamu tanpa merasa perlu mencari tahu kabarmu. Aku bisa mengingat percakapan kita tanpa berharap percakapan itu terulang. Dan mungkin itulah bentuk sembuh yang paling tenang, ketika keberadaannya tidak lagi menentukan bagaimana kita menjalani hari.

Aku kembali melihat langit dari jendela. Warnanya masih abu-abu. Hujan belum benar-benar berhenti. Aku tersenyum kecil. Langit tidak selalu biru. Aku tahu itu. Tapi entah kenapa, biru selalu menjadi warna yang paling kuingat ketika membicarakan langit. 

Seperti kamu.

Aku pernah berharap kamu menjadi seseorang yang bisa menjagaku dengan cara yang kuinginkan. Tapi sekarang aku tahu, mungkin kamu memang tidak pernah tahu bagaimana caranya. Dan itu tidak membuatmu menjadi orang jahat.

Aku mengerti.

Sekarang semuanya terasa sedikit lebih mudah.

Bukan karena rasa sakitnya tidak pernah ada, tetapi karena aku berhenti melawannya. Aku berhenti bertanya, “Kenapa harus seperti ini?” Aku berhenti memikirkan siapa yang salah. Berhenti menghitung berapa banyak seharusnya

Aku hanya ingin berterima kasih.

Untuk percakapan-percakapan kecil yang pernah membuat hariku lebih menyenangkan. Untuk tawa yang pernah hadir. Untuk perasaan yang pernah tumbuh. Bahkan untuk luka yang pernah membuatku belajar.

Loving you was beautiful, yet, so hurt.

Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti keluhan. Ia hanya menjadi bagian dari cerita seseorang yang pernah kusukai. Tentang perasaan yang pernah begitu besar. Tentang banyak pertanyaan yang tidak pernah memiliki jawaban. Dan tentang bagaimana akhirnya aku belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan jawaban untuk bisa diterima. Mungkin memang tidak semua orang datang untuk tinggal selamanya. Mungkin beberapa orang hanya datang untuk mengajarkan sesuatu.

Tentang perasaan.

Tentang kehilangan.

Tentang menerima.

Jadi, kalau suatu hari nanti aku kembali melihat langit dan warnanya bukan biru, aku tidak akan lagi bertanya kenapa.

Aku akan melihatnya saja.

Menerimanya. 

Dan tentangmu tetap akan menjadi milikmu.

Tidak akan ada yang sama sepertimu.

Tidak perlu ada.

Langit masih ada.

Hujan masih turun.

Hari masih berjalan.

Dan aku—

masih di sini.

Baik-baik saja.


Sinopsis

Dan tentangmu tetap akan menjadi milikmu.

Tidak akan ada yang sama sepertimu.

Tidak perlu ada.

Langit masih ada.

Hujan masih turun.

Hari masih berjalan.

Dan aku—

masih di sini.

Baik-baik saja.


Bionarasi

Hai, hai! kenalin aku Kuni Tauriyatan, tapi boleh panggil Kuni. Aku suka banyak hal, karena rasanya hampir semuanya menarik bagiku. Aku suka hujan, bintang, film, editing, buku dan tentu saja menulis. Semuanya aku tulis, hanya karena banyak hal yang kadang terlalu sulit untuk diucapkan. Kalau mau kenal aku lebih jauh cukup reach me out on instagram @knitaryn yaaa!






SEKAR Edisi Agustus 2026 | KULAT Karya Faesa Septian Khadavi

 

KULAT

Karya Faesa Septian Khadavi

Di malam hari itu dengan cuaca yang dingin justru terasa panas bagi tiga sekawan yang sedang berkumpul seperti biasanya. Cuacanya dingin tetapi entah kenapa hawa yang dikeluarkan oleh mereka bertiga sangat panas. Awalnya mereka hanya bermain, bercanda seperti biasa sampai di mana seseorang mengganti topik pembicaraannya.

“Za, lu percaya gue gak? Di dunia ini gak ada cewek bingung maupun cowok bingung. Yang ada lu itu bukan orang yang dia mau, dia gak melihat masa depan sama lu.”

Ucap Pram ke Faza dengan wajah serius tak seperti biasanya Pram memasang raut muka seperti ini.

“Haha, gak usah sok tau pemikiran orang lain, bro. Dia cuman perlu diyakinin kalau emang ada pria yang selalu ngusahain dia, dan itu gue.” Ucap Faza

“Ngeyakinin? Mau sampai kapan lu yakinin? Sampai presiden kita ganti? Gak mungkin.” Saut Pram

“Kalau nanti pada akhirnya lu malah melihat Eka di pelaminan dan lu bukan jadi kekasihnya tapi jadi tamu undangan, udah siap lu?” 

Bima melempar pertanyaan disela-sela perdebatan di antara kedua temannya itu. Dan itu berhasil membuat Faza berhenti untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Bima. 5 menit berlalu, 10 menit berlalu, sampai akhirnya Pram nyeletuk

“Gak bisa jawab kan lu. Ini demi lu Za, gue tahu lu udah naksir ke Eka 3 tahun, gue seneng ngelihat lu bisa bareng Eka. Tapi Za, pada akhirnya lu cuman jadi pengagum bukan pemilik. Dan lu harus menerima itu.”

Bahkan setelah Pram diam Faza tetap tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Entah apa yang ada di pikirannya hingga dia diam seribu kata seolah-olah dia telah dibungkam oleh kedua sahabatnya itu. Malam itu mereka bertiga berubah menjadi seperti orang baru kenal, canggung, tidak berani menatap satu sama lain, dan diam seribu bahasa. Setelah diam cukup lama Faza memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua, dia bingung dengan pertanyaan dari sahabatnya itu entah kenapa Faza merasa tenggorokannya tercekik ketika ingin menjawab.

Esok hari Faza harus pergi ke kampus dengan mata kuliah pagi hari. Tetapi hari itu Faza merasa kelelahan padahal dia tidak melakukan pekerjaan berat apapun. Atau hasil dari dia berpikir semalam tentang pertanyaan sahabatnya itu yang membuat kepala dia sangat berat sekali. Jiwa dan raga Faza seakan tidak mengizinkan dia untuk pergi kuliah pada pagi hari, dia bahkan sempat mengumpat.

“Sial, kenapa hari ini harus kuliah pagi-pagi”

Meskipun dengan keadaan setengah sadar Faza tetap memaksakan badannya untuk beranjak dari kasur yang sangat nyaman itu. Jam menunjukkan pukul 06.32 yang seharusnya dia harus di kampus pukul 07.00, dia segera berlari ke kamar mandi dan siap siap ke kampus.

Satu hal yang dilupakan Faza dia pasti bertemu dengan sahabatnya itu Pram dan Bima. Meskipun tidak berada di kelas yang sama, tapi kelas yang digunakan Faza sebelumnya diisi oleh kelasnya Pram dan Bima. Faza dalam keadaan tergesa–gesa segera berlari menuju ke ruang kelas. Di momen yang sama Pram dan Bima baru selesai dari kelasnya dan mereka bertiga berpapasan di koridor kelas. Faza yang merasa bersalah karena telah meninggalkan temannya begitu saja tidak berani menyapa bahkan menatap mata dari kedua sahabatnya itu. 

Selama perkuliahan berlangsung, Faza tidak bisa fokus sama sekali ia terus merasa bersalah kepada temannya, dan dia baru terpikirkan sesuatu.

“Gue yang gak lihat atau Eka gak ke kampus hari ini, ya?”

Dengan banyak sekali gangguan di kepalanya itu Faza merasa tidak nyaman dengan perkuliahan hari ini, dia merasa ingin cepat untuk pulang. Sebelum pulang Faza ingin bertemu dengan kedua sahabatnya itu untuk menyelesaikan masalah semalam.

Setelah keluar dari kelas Faza mengeluarkan handphone dan mengirimkan sebuah pesan ke grup 

“Bro, kalian udah pulang semua. Ada yang ingin gue omongin?”

“HAMA” Teriak Pram

Kedua sahabatnya itu entah bagaimana sudah ada dibelakangnya. Mungkinkah mereka sudah memperkirakan hal ini.

Ketiga sekawan ini menuju ke kantin fakultas untuk mengobrol dan sarapan yang tertunda karena kelas pagi. Seperti biasa mereka ke warung andalan mereka “Mie Ayam Cak Sugi” mungkin karena yang harganya ramah di kantong dan porsinya yang cukup banyak.

“Jadi lu mau ngomongin apaan? Kalau soal semalam basi malas mau bahas gue” 

Ucap Bima membuka obrolan yang sepertinya diantara mereka masih canggung

“Iya sama gue, udah tau juga lu itu keras kepala za, semoga beruntung dah lu bisa yakinin Eka. Btw, Eka gak ke kampus hari ini sakit mungkin.” Pram yang ikut menambahi ucapan Bima

Faza yang diam sejenak setelah mendengar perkataan kedua temannya itu, mungkin mereka sudah capek menghadapi sifat keras kepalanya. Dan dia baru ingat bahwa semalam dia belum membalas pesan dari Eka setelah meninggalkan kedua temannya itu.

“Siapa juga mau membahas semalam, gue mau tanya Eka kok gak ada hari ini” Saut Faza dengan ketawa kecilnya

“Hama” Pram dan Bima secara kompak melontarkan kata ke Faza.

Faza tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

3 porsi mie ayam sudah dihidangkan di depan mereka, segera mereka santap sampai tak tersisa.

“Udah lah, gue mau pulang” Ucap Faza setelah menyelesaikan makanannya.

“Lah, katanya mau nanya Eka?” Tanya Bima.

“Ya gue juga mau nanya, tapi orangnya gak ada”

“Yaudah chat aja” Saut Pram

Faza tidak menjawab perkataan Pram. Dia hanya mengambil handphone yang berada di atas meja dan melihat kembali percakapannya dengan Eka. Pesan terakhir dari Eka belum dibalas olehnya sejak semalam.

“Za,” Panggil Pram.

“Hm?”

“Lu masih mau ngejar Eka?”

Faza terdiam.

Pertanyaan itu lagi. Pertanyaan yang sejak semalam terus muncul di kepalanya.

“Gue gak tahu.”

Pram dan Bima saling melihat satu sama lain.

“Tumben jawaban lu gak keras kepala,” Ucap Bima.

“Gue juga manusia, Bim.”

“Gue kira lu robot.”

“Bacot.”

Ketiganya tertawa kecil.

Namun setelah tawa itu berhenti, Faza kembali diam. Dia memasukkan handphone ke dalam saku celananya lalu berjalan meninggalkan kantin bersama kedua temannya. Sepanjang perjalanan menuju parkiran Faza terus memikirkan satu hal.

Eka.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Selama tiga tahun itu Faza selalu berpikir kalau suatu saat nanti Eka akan melihat dirinya lebih dari sekadar teman. Dia selalu percaya kalau waktu akan membuat seseorang berubah pikiran.

Tapi bagaimana jika ternyata tidak?

Bagaimana jika selama ini Eka hanya nyaman karena Faza selalu ada?

Dan bagaimana jika suatu saat nanti ada orang lain yang datang dan Eka justru memilih orang tersebut?

Pertanyaan itu kembali membuat kepala Faza terasa berat.

Setelah selesai makan, Faza dan kedua sahabatnya akhirnya memutuskan untuk pulang. Pram dan Bima berjalan lebih dulu menuju parkiran, sedangkan Faza masih berdiri sebentar sambil melihat handphonenya. Dia kembali membuka chat dengan Eka.

“Lo kenapa gak masuk hari ini?”

Pesan itu akhirnya dikirim.

Tidak lama kemudian Eka membalas.

“Gue lagi gak enak badan.”

Faza sedikit tersenyum.

“Udah makan?”

“Udah.”

“Yaudah istirahat.”

Percakapan itu berhenti begitu saja, tetapi entah kenapa Faza merasa sedikit lega karena setidaknya dia tahu Eka baik-baik saja.

Sementara itu, di rumahnya Eka hanya duduk di atas tempat tidur sambil melihat pesan dari Faza. Sebenarnya dia tidak sedang sakit. Dia hanya sedang ingin sendiri karena ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.

Faza.

Selama ini Eka selalu menganggap Faza hanya sebagai teman. Tapi semakin lama, dia mulai sadar kalau dirinya sudah terlalu nyaman dengan kehadiran Faza. Setiap kali membutuhkan seseorang, Faza selalu ada. Dan ketika Faza tidak ada di dekatnya, Eka justru merasa seperti ada sesuatu yang kurang.

“Gue sebenarnya nganggep Faza apa?” Gumam Eka.

Eka membuka kembali chat Faza. Jarinya sempat mengetik beberapa kali, tetapi selalu dihapus.

Sampai akhirnya dia memberanikan diri mengirim pesan.

“Za, lu masih suka sama gue?”

Faza yang baru sampai rumah membaca pesan tersebut cukup lama sebelum akhirnya membalas.

“Masih.”

Hanya satu kata, tetapi cukup membuat Eka kembali diam.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun Faza masih memiliki perasaan yang sama kepadanya. Eka tidak tahu harus merasa senang atau justru takut. Dia kemudian mengetik satu pesan lagi.

“Kalau misalnya gue kasih kesempatan, lu mau?”

Faza membaca pesan itu dan tidak langsung membalas. Beberapa menit kemudian, jawabannya masuk.

“Gue mau, tapi gue gak mau lu melakukan itu karena kasihan sama gue.”

Eka kembali terdiam. Untuk pertama kalinya, dia mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk menjalani hubungan dengan Faza.

Bukan sebagai teman.

Bukan sebagai seseorang yang selalu ada ketika dia membutuhkan.

Tapi sebagai orang baru yang mungkin akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Namun Eka masih belum yakin. Dia takut jika hubungan itu gagal, mereka tidak akan bisa kembali seperti sebelumnya.Malam itu Eka hanya menatap layar handphonenya.

Dia mengetik satu pesan terakhir.

“Besok kita ngobrol.”

Pesan itu terkirim.

Faza membalas singkat.

“Boleh.”

Setelah itu Eka mematikan handphonenya. Dia tahu besok mungkin akan menjadi hari yang menentukan. Tapi sampai malam itu berakhir, Eka masih belum tahu apakah dia akan datang membawa sebuah jawaban atau justru masih dengan keraguan yang sama.

 

Sinopsis:

3 Tahun. Pernahkah kalian membayangkan menunggu sosok yang kita kagumi selama itu. Menunggu keajaiban bisa mengobrol atau bertemu dengannya. Apakah alam mengizinkan kita bersatu. Dan jika diizinkan apakah itu selamanya atau hanya sesaat. Diambang kebingungan antara yang lama atau yang baru. Trauma yang didapat dari masa lalu yang terus dipikul hingga saat ini menjadi sosok yang menghantui bagi kedua belah pihak. Di satu sisi, takut akan mengulangi kesalahan yang sama. Di sisi lain, harus mengalahkan trauma tersebut demi meyakinkan bahwa tidak semua hal baru akan berakhir seperti masa lalu. Apakah setelah 3 tahun, yang baru akan mendapatkan kesempatan atau justru masa lalu masih menjadi penghambat

Bionarasi

Hai hai, kalian bisa panggil aku Davi atau Faesa. Lahirku di Jember tanggal 01 September 2006. Terima kasih yang sudah membaca sepercik dari beberapa rangkaian kata yang kususun sampai jadi sebuah cerpen. Aku belum memiliki karya yang dipublish untuk saat ini semoga kedepannya ada. Jujur aku masih tidak begitu bisa menulis karya seperti ini jadi maaf kalau banyak salahnya. Semoga kedepannya dengan pengalaman ini dapat membuat diriku lebih improve. Kalau kalian ingin kenalan lebih jauh bisa mampir di akun media sosialku IG:@fssptnkhdv 

 

SEKAR Edisi Agustus 2026 | Abadi Karya Enida Martiana Sari

 

Abadi

Karya Enida Martiana Sari

 

Apa sih yang kita cari didunia ini?

Semua orang berjalan cepat,

Mengejar sesuatu yang belum tentu

Benar-benar mereka butuhkan.


Kita tumbuh dengan keyakinan

Bahwa hidup adalah tentang sampai,

Tentang memiliki, tentang menjadi,

Padahal waktu hanya mengajarkan

Bahwa semua akan berlalu.


Pada akhirnya,

Rumah, nama, pencapaian,

Bahkan hari-hari yang begitu kita jaga

Akan menjadi kenangan

Yang perlahan dimakan waktu.


Mungkin yang abadi

Bukanlah apa yang kita punya,

Melainkan apa yang kita beri

Kebaikan, tawa, dan cerita

Yang tinggal di hati seseorang.


Sebab ketika langkah kita berhenti,

Semoga masih ada jejak yang tertinggal

Bukan untuk dikenang selamanya,

Cukup untuk membuat seseorang berkata,

Pernah ada seseorang yang berarti.



BIONARASI

Halo, kamu! Perkenalkan namaku Enida Martiana Sari. Aku lebih suka dipanggil Nida. Sejujurnya, sejak kecil aku tidak terlalu suka menulis. Namun, aku selalu punya ketertarikan pada membaca. Buku-buku digital menjadi salah satu pelarianku. Biasanya, aku membacanya melalui berbagai platform atau aplikasi. Sesekali, jika memungkinkan, aku juga membeli versi cetaknya. Dulu, aku adalah penggemar berat cerita-cerita komedi. Namun, seiring bertambahnya usia, seleraku pun ikut berkembang. Kini, aku lebih banyak menikmati buku-buku bertema fantasi dan pengembangan diri. Kalau ingin mengenalku lebih jauh, kamu bisa menemukanku di Instagram @_jstiann. Sampai bertemu di sana!

 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...