Selasa, 01 September 2026

SEKAR Edisi Agustus 2026 | Katanya, Langit Itu Biru Karya Kuni Tauriyatan

 

Katanya, Langit Itu Biru

Karya Kuni Tauriyatan

Pagi itu langit tidak berwarna biru. Warnanya abu-abu pucat, seperti seseorang yang sedang berusaha menyembunyikan luka. Aku duduk di dekat jendela, sesekali terdengar suara hujan yang jatuh pelan di atap rumah. Aku suka hujan. Ada sesuatu dari suara rintiknya yang selalu membuat suasana terasa lebih tenang. Aku tidak tahu kenapa aku tiba-tiba teringat padanya. Mungkin karena hujan selalu punya cara sendiri untuk membawa kembali hal-hal yang sudah berusaha kita simpan jauh-jauh.

Namanya muncul begitu saja di kepalaku.

Seseorang yang dulu begitu sering mengisi percakapan-percakapan kecilku. Seseorang yang awalnya tidak pernah kupikir akan menjadi sepenting itu. Tidak ada awal yang istimewa. Kami hanya berbicara, tentang banyak hal yang sebenarnya sederhana.

Tapi aku selalu menikmati percakapan dengannya.

Dia laki-laki yang menyenangkan untuk diajak bicara. Lucu ya, ternyata jatuh hati memang sesederhana itu, sepertinya. Tidak selalu dimulai dari sesuatu yang luar biasa. Kadang hanya karena seseorang membuat kita merasa nyaman, lalu tanpa sadar kita mulai menunggu kehadirannya, menunggu cerita-ceritanya, bahkan mulai mengingat hal-hal kecil yang pernah dia katakan.

Dan sejak saat itu, semuanya menjadi sedikit lebih rumit.

Seharusnya aku tidak berharap terlalu banyak. Seharusnya aku tidak terlalu peduli. Seharusnya dia lebih mengerti. Seharusnya semuanya bisa berbeda.

Seharusnya.

Istilah yang menarik. Satu kata yang bisa menyampaikan berjuta-juta makna tentang jalan kehidupan yang bisa terjadi. Tentang sesuatu yang mungkin saja berjalan berbeda.

“Kenapa dia seperti itu?”

“Aku hanya ingin dia mengerti.”

Aku terdiam cukup lama. Aku hanya sedang mencari alasan agar rasa kecewaku terasa masuk akal. Aku ingin ada seseorang yang bisa kusebut sebagai penyebab semuanya. Aku ingin bisa mengatakan, “Ini salahnya.” Supaya aku tidak perlu bertanya kepada diriku sendiri kenapa aku masih peduli.

Tapi semakin kupikirkan, semakin aku sadar bahwa mungkin bukan dia yang salah.

Mungkin memang begitulah dirinya.

Dan menerima kalimat itu ternyata jauh lebih sulit daripada membencinya.

Karena kalau dia jahat, mungkin akan lebih mudah untuk pergi. Kalau dia sepenuhnya salah, mungkin akan lebih mudah untuk berhenti peduli. Tapi bagaimana kalau dia hanya seseorang yang memiliki cara berbeda dalam memahami sesuatu? Bagaimana kalau sesuatu yang menurutku perlu dijaga, baginya memang tidak pernah terasa berbeda? 

Perasaan itu sulit, ya.

Sulit sekali.

Kita bisa menjelaskan banyak hal dengan logika, tetapi perasaan sering kali sulit diajak bekerja sama. Kita tahu seseorang tidak sempurna, tetapi tetap berharap dia bisa menjadi seperti yang kita butuhkan. Kita tahu kita tidak bisa memaksa seseorang berubah, tetapi tetap kecewa ketika dia tidak berubah. Kita tahu harus menerima, tetapi hati kita masih bertanya,“Kenapa harus sesakit ini?”

“Kenapa harus ada perasaan yang begitu indah tetapi pada akhirnya meninggalkan luka?”

Namun, waktu terus berjalan. Tanpa meminta izin dan tanpa menjelaskan apa pun. 

Dia tetap dirinya.

Aku tetap diriku.

Dan mungkin memang sejak awal kami tidak harus menjadi dua orang yang memiliki cara mencintai yang sama. Barangkali begitulah cara mencintai yang paling dewasa. Menerima bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk hadir. Karena pada akhirnya, tidak ada kehidupan yang bisa dibangun dari sesuatu yang seharusnya terjadi. Kita hanya bisa hidup dari sesuatu yang benar-benar terjadi.

Dan yang benar-benar terjadi adalah aku pernah bertemu dengannya. Aku pernah menyukainya. Aku pernah merasa bahagia hanya karena bisa berbicara dengannya. Aku pernah berharap. Aku pernah kecewa. Aku pernah menangis. Dan aku pernah belajar bahwa seseorang bisa begitu berarti tanpa harus menjadi milik kita selamanya.

“Oh, ternyata dulu aku pernah sesayang itu.”

Tidak apa-apa.

Waktu akan membuatnya perlahan pudar, tanpa harus merasa kehilangan. Bukan menghilangkan. Hanya memudarkan warna-warna yang dulu terlalu terang. Sampai akhirnya aku bisa mengingatmu tanpa merasa harus kembali. Aku bisa mendengar namamu tanpa merasa perlu mencari tahu kabarmu. Aku bisa mengingat percakapan kita tanpa berharap percakapan itu terulang. Dan mungkin itulah bentuk sembuh yang paling tenang, ketika keberadaannya tidak lagi menentukan bagaimana kita menjalani hari.

Aku kembali melihat langit dari jendela. Warnanya masih abu-abu. Hujan belum benar-benar berhenti. Aku tersenyum kecil. Langit tidak selalu biru. Aku tahu itu. Tapi entah kenapa, biru selalu menjadi warna yang paling kuingat ketika membicarakan langit. 

Seperti kamu.

Aku pernah berharap kamu menjadi seseorang yang bisa menjagaku dengan cara yang kuinginkan. Tapi sekarang aku tahu, mungkin kamu memang tidak pernah tahu bagaimana caranya. Dan itu tidak membuatmu menjadi orang jahat.

Aku mengerti.

Sekarang semuanya terasa sedikit lebih mudah.

Bukan karena rasa sakitnya tidak pernah ada, tetapi karena aku berhenti melawannya. Aku berhenti bertanya, “Kenapa harus seperti ini?” Aku berhenti memikirkan siapa yang salah. Berhenti menghitung berapa banyak seharusnya

Aku hanya ingin berterima kasih.

Untuk percakapan-percakapan kecil yang pernah membuat hariku lebih menyenangkan. Untuk tawa yang pernah hadir. Untuk perasaan yang pernah tumbuh. Bahkan untuk luka yang pernah membuatku belajar.

Loving you was beautiful, yet, so hurt.

Kalimat itu tidak lagi terdengar seperti keluhan. Ia hanya menjadi bagian dari cerita seseorang yang pernah kusukai. Tentang perasaan yang pernah begitu besar. Tentang banyak pertanyaan yang tidak pernah memiliki jawaban. Dan tentang bagaimana akhirnya aku belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan jawaban untuk bisa diterima. Mungkin memang tidak semua orang datang untuk tinggal selamanya. Mungkin beberapa orang hanya datang untuk mengajarkan sesuatu.

Tentang perasaan.

Tentang kehilangan.

Tentang menerima.

Jadi, kalau suatu hari nanti aku kembali melihat langit dan warnanya bukan biru, aku tidak akan lagi bertanya kenapa.

Aku akan melihatnya saja.

Menerimanya. 

Dan tentangmu tetap akan menjadi milikmu.

Tidak akan ada yang sama sepertimu.

Tidak perlu ada.

Langit masih ada.

Hujan masih turun.

Hari masih berjalan.

Dan aku—

masih di sini.

Baik-baik saja.


Sinopsis

Dan tentangmu tetap akan menjadi milikmu.

Tidak akan ada yang sama sepertimu.

Tidak perlu ada.

Langit masih ada.

Hujan masih turun.

Hari masih berjalan.

Dan aku—

masih di sini.

Baik-baik saja.


Bionarasi

Hai, hai! kenalin aku Kuni Tauriyatan, tapi boleh panggil Kuni. Aku suka banyak hal, karena rasanya hampir semuanya menarik bagiku. Aku suka hujan, bintang, film, editing, buku dan tentu saja menulis. Semuanya aku tulis, hanya karena banyak hal yang kadang terlalu sulit untuk diucapkan. Kalau mau kenal aku lebih jauh cukup reach me out on instagram @knitaryn yaaa!






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...