Katanya, Langit Itu Biru
Karya Kuni Tauriyatan
Pagi itu langit
tidak berwarna biru. Warnanya abu-abu pucat, seperti seseorang yang sedang
berusaha menyembunyikan luka. Aku duduk di dekat jendela, sesekali terdengar
suara hujan yang jatuh pelan di atap rumah. Aku suka hujan. Ada sesuatu dari
suara rintiknya yang selalu membuat suasana terasa lebih tenang. Aku tidak tahu
kenapa aku tiba-tiba teringat padanya. Mungkin karena hujan selalu punya cara
sendiri untuk membawa kembali hal-hal yang sudah berusaha kita simpan
jauh-jauh.
Namanya muncul
begitu saja di kepalaku.
Seseorang yang
dulu begitu sering mengisi percakapan-percakapan kecilku. Seseorang yang
awalnya tidak pernah kupikir akan menjadi sepenting itu. Tidak ada awal yang
istimewa. Kami hanya berbicara, tentang banyak hal yang sebenarnya sederhana.
Tapi aku selalu
menikmati percakapan dengannya.
Dia laki-laki
yang menyenangkan untuk diajak bicara. Lucu ya, ternyata jatuh hati memang
sesederhana itu, sepertinya. Tidak selalu dimulai dari sesuatu yang luar biasa.
Kadang hanya karena seseorang membuat kita merasa nyaman, lalu tanpa sadar kita
mulai menunggu kehadirannya, menunggu cerita-ceritanya, bahkan mulai mengingat
hal-hal kecil yang pernah dia katakan.
Dan sejak saat
itu, semuanya menjadi sedikit lebih rumit.
Seharusnya aku
tidak berharap terlalu banyak. Seharusnya aku tidak terlalu peduli. Seharusnya
dia lebih mengerti. Seharusnya semuanya bisa berbeda.
Seharusnya.
Istilah yang
menarik. Satu kata yang bisa menyampaikan berjuta-juta makna tentang jalan
kehidupan yang bisa terjadi. Tentang sesuatu yang mungkin saja berjalan
berbeda.
“Kenapa dia
seperti itu?”
“Aku hanya
ingin dia mengerti.”
Aku terdiam
cukup lama. Aku hanya sedang mencari alasan agar rasa kecewaku terasa masuk
akal. Aku ingin ada seseorang yang bisa kusebut sebagai penyebab semuanya. Aku
ingin bisa mengatakan, “Ini salahnya.” Supaya aku tidak perlu bertanya kepada
diriku sendiri kenapa aku masih peduli.
Tapi semakin
kupikirkan, semakin aku sadar bahwa mungkin bukan dia yang salah.
Mungkin memang
begitulah dirinya.
Dan menerima
kalimat itu ternyata jauh lebih sulit daripada membencinya.
Karena kalau
dia jahat, mungkin akan lebih mudah untuk pergi. Kalau dia sepenuhnya salah,
mungkin akan lebih mudah untuk berhenti peduli. Tapi bagaimana kalau dia hanya
seseorang yang memiliki cara berbeda dalam memahami sesuatu? Bagaimana kalau
sesuatu yang menurutku perlu dijaga, baginya memang tidak pernah terasa
berbeda?
Perasaan itu
sulit, ya.
Sulit sekali.
Kita bisa
menjelaskan banyak hal dengan logika, tetapi perasaan sering kali sulit diajak
bekerja sama. Kita tahu seseorang tidak sempurna, tetapi tetap berharap dia
bisa menjadi seperti yang kita butuhkan. Kita tahu kita tidak bisa memaksa
seseorang berubah, tetapi tetap kecewa ketika dia tidak berubah. Kita tahu
harus menerima, tetapi hati kita masih bertanya,“Kenapa harus sesakit ini?”
“Kenapa harus
ada perasaan yang begitu indah tetapi pada akhirnya meninggalkan luka?”
Namun, waktu
terus berjalan. Tanpa meminta izin dan tanpa menjelaskan apa pun.
Dia tetap
dirinya.
Aku tetap
diriku.
Dan mungkin
memang sejak awal kami tidak harus menjadi dua orang yang memiliki cara
mencintai yang sama. Barangkali begitulah cara mencintai yang paling dewasa.
Menerima bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri untuk hadir. Karena pada
akhirnya, tidak ada kehidupan yang bisa dibangun dari sesuatu yang seharusnya
terjadi. Kita hanya bisa hidup dari sesuatu yang benar-benar terjadi.
Dan yang
benar-benar terjadi adalah aku pernah bertemu dengannya. Aku pernah
menyukainya. Aku pernah merasa bahagia hanya karena bisa berbicara dengannya.
Aku pernah berharap. Aku pernah kecewa. Aku pernah menangis. Dan aku pernah
belajar bahwa seseorang bisa begitu berarti tanpa harus menjadi milik kita
selamanya.
“Oh, ternyata
dulu aku pernah sesayang itu.”
Tidak apa-apa.
Waktu akan
membuatnya perlahan pudar, tanpa harus merasa kehilangan. Bukan menghilangkan.
Hanya memudarkan warna-warna yang dulu terlalu terang. Sampai akhirnya aku bisa
mengingatmu tanpa merasa harus kembali. Aku bisa mendengar namamu tanpa merasa
perlu mencari tahu kabarmu. Aku bisa mengingat percakapan kita tanpa berharap
percakapan itu terulang. Dan mungkin itulah bentuk sembuh yang paling tenang,
ketika keberadaannya tidak lagi menentukan bagaimana kita menjalani hari.
Aku kembali
melihat langit dari jendela. Warnanya masih abu-abu. Hujan belum benar-benar
berhenti. Aku tersenyum kecil. Langit tidak selalu biru. Aku tahu itu. Tapi
entah kenapa, biru selalu menjadi warna yang paling kuingat ketika membicarakan
langit.
Seperti kamu.
Aku pernah
berharap kamu menjadi seseorang yang bisa menjagaku dengan cara yang
kuinginkan. Tapi sekarang aku tahu, mungkin kamu memang tidak pernah tahu
bagaimana caranya. Dan itu tidak membuatmu menjadi orang jahat.
Aku mengerti.
Sekarang
semuanya terasa sedikit lebih mudah.
Bukan karena
rasa sakitnya tidak pernah ada, tetapi karena aku berhenti melawannya. Aku
berhenti bertanya, “Kenapa harus seperti ini?” Aku berhenti memikirkan siapa
yang salah. Berhenti menghitung berapa banyak seharusnya.
Aku hanya ingin
berterima kasih.
Untuk
percakapan-percakapan kecil yang pernah membuat hariku lebih menyenangkan.
Untuk tawa yang pernah hadir. Untuk perasaan yang pernah tumbuh. Bahkan untuk
luka yang pernah membuatku belajar.
Loving you was
beautiful, yet, so hurt.
Kalimat itu
tidak lagi terdengar seperti keluhan. Ia hanya menjadi bagian dari cerita
seseorang yang pernah kusukai. Tentang perasaan yang pernah begitu besar.
Tentang banyak pertanyaan yang tidak pernah memiliki jawaban. Dan tentang
bagaimana akhirnya aku belajar bahwa tidak semua hal membutuhkan jawaban untuk
bisa diterima. Mungkin memang tidak semua orang datang untuk tinggal selamanya.
Mungkin beberapa orang hanya datang untuk mengajarkan sesuatu.
Tentang
perasaan.
Tentang
kehilangan.
Tentang
menerima.
Jadi, kalau
suatu hari nanti aku kembali melihat langit dan warnanya bukan biru, aku tidak
akan lagi bertanya kenapa.
Aku akan
melihatnya saja.
Menerimanya.
Dan tentangmu
tetap akan menjadi milikmu.
Tidak akan ada
yang sama sepertimu.
Tidak perlu
ada.
Langit masih
ada.
Hujan masih
turun.
Hari masih
berjalan.
Dan aku—
masih di sini.
Baik-baik saja.
Sinopsis
Dan tentangmu
tetap akan menjadi milikmu.
Tidak akan ada
yang sama sepertimu.
Tidak perlu
ada.
Langit masih
ada.
Hujan masih
turun.
Hari masih
berjalan.
Dan aku—
masih di sini.
Baik-baik saja.
Bionarasi
Hai, hai!
kenalin aku Kuni Tauriyatan, tapi boleh panggil Kuni. Aku suka banyak hal,
karena rasanya hampir semuanya menarik bagiku. Aku suka hujan, bintang, film,
editing, buku dan tentu saja menulis. Semuanya aku tulis, hanya karena banyak
hal yang kadang terlalu sulit untuk diucapkan. Kalau mau kenal aku lebih jauh
cukup reach me out on instagram @knitaryn yaaa!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar