KULAT
Karya Faesa Septian Khadavi
Di malam hari
itu dengan cuaca yang dingin justru terasa panas bagi tiga sekawan yang sedang
berkumpul seperti biasanya. Cuacanya dingin tetapi entah kenapa hawa yang
dikeluarkan oleh mereka bertiga sangat panas. Awalnya mereka hanya bermain,
bercanda seperti biasa sampai di mana seseorang mengganti topik pembicaraannya.
“Za, lu percaya
gue gak? Di dunia ini gak ada cewek bingung maupun cowok bingung. Yang ada lu
itu bukan orang yang dia mau, dia gak melihat masa depan sama lu.”
Ucap Pram ke
Faza dengan wajah serius tak seperti biasanya Pram memasang raut muka seperti
ini.
“Haha, gak usah
sok tau pemikiran orang lain, bro. Dia cuman perlu diyakinin kalau emang ada
pria yang selalu ngusahain dia, dan itu gue.” Ucap Faza
“Ngeyakinin?
Mau sampai kapan lu yakinin? Sampai presiden kita ganti? Gak mungkin.” Saut
Pram
“Kalau nanti
pada akhirnya lu malah melihat Eka di pelaminan dan lu bukan jadi kekasihnya
tapi jadi tamu undangan, udah siap lu?”
Bima melempar
pertanyaan disela-sela perdebatan di antara kedua temannya itu. Dan itu
berhasil membuat Faza berhenti untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Bima. 5
menit berlalu, 10 menit berlalu, sampai akhirnya Pram nyeletuk
“Gak bisa jawab
kan lu. Ini demi lu Za, gue tahu lu udah naksir ke Eka 3 tahun, gue seneng
ngelihat lu bisa bareng Eka. Tapi Za, pada akhirnya lu cuman jadi pengagum
bukan pemilik. Dan lu harus menerima itu.”
Bahkan setelah
Pram diam Faza tetap tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Entah apa yang
ada di pikirannya hingga dia diam seribu kata seolah-olah dia telah dibungkam
oleh kedua sahabatnya itu. Malam itu mereka bertiga berubah menjadi seperti
orang baru kenal, canggung, tidak berani menatap satu sama lain, dan diam
seribu bahasa. Setelah diam cukup lama Faza memutuskan untuk meninggalkan
mereka berdua, dia bingung dengan pertanyaan dari sahabatnya itu entah kenapa
Faza merasa tenggorokannya tercekik ketika ingin menjawab.
Esok hari Faza
harus pergi ke kampus dengan mata kuliah pagi hari. Tetapi hari itu Faza merasa
kelelahan padahal dia tidak melakukan pekerjaan berat apapun. Atau hasil dari
dia berpikir semalam tentang pertanyaan sahabatnya itu yang membuat kepala dia
sangat berat sekali. Jiwa dan raga Faza seakan tidak mengizinkan dia untuk
pergi kuliah pada pagi hari, dia bahkan sempat mengumpat.
“Sial, kenapa
hari ini harus kuliah pagi-pagi”
Meskipun dengan
keadaan setengah sadar Faza tetap memaksakan badannya untuk beranjak dari kasur
yang sangat nyaman itu. Jam menunjukkan pukul 06.32 yang seharusnya dia harus
di kampus pukul 07.00, dia segera berlari ke kamar mandi dan siap siap ke
kampus.
Satu hal yang
dilupakan Faza dia pasti bertemu dengan sahabatnya itu Pram dan Bima. Meskipun
tidak berada di kelas yang sama, tapi kelas yang digunakan Faza sebelumnya
diisi oleh kelasnya Pram dan Bima. Faza dalam keadaan tergesa–gesa segera
berlari menuju ke ruang kelas. Di momen yang sama Pram dan Bima baru selesai
dari kelasnya dan mereka bertiga berpapasan di koridor kelas. Faza yang merasa
bersalah karena telah meninggalkan temannya begitu saja tidak berani menyapa
bahkan menatap mata dari kedua sahabatnya itu.
Selama
perkuliahan berlangsung, Faza tidak bisa fokus sama sekali ia terus merasa
bersalah kepada temannya, dan dia baru terpikirkan sesuatu.
“Gue yang gak
lihat atau Eka gak ke kampus hari ini, ya?”
Dengan banyak
sekali gangguan di kepalanya itu Faza merasa tidak nyaman dengan perkuliahan
hari ini, dia merasa ingin cepat untuk pulang. Sebelum pulang Faza ingin
bertemu dengan kedua sahabatnya itu untuk menyelesaikan masalah semalam.
Setelah keluar
dari kelas Faza mengeluarkan handphone dan mengirimkan sebuah pesan ke
grup
“Bro, kalian
udah pulang semua. Ada yang ingin gue omongin?”
“HAMA” Teriak
Pram
Kedua
sahabatnya itu entah bagaimana sudah ada dibelakangnya. Mungkinkah mereka sudah
memperkirakan hal ini.
Ketiga sekawan
ini menuju ke kantin fakultas untuk mengobrol dan sarapan yang tertunda karena
kelas pagi. Seperti biasa mereka ke warung andalan mereka “Mie Ayam Cak Sugi”
mungkin karena yang harganya ramah di kantong dan porsinya yang cukup banyak.
“Jadi lu mau
ngomongin apaan? Kalau soal semalam basi malas mau bahas gue”
Ucap Bima
membuka obrolan yang sepertinya diantara mereka masih canggung
“Iya sama gue,
udah tau juga lu itu keras kepala za, semoga beruntung dah lu bisa yakinin Eka.
Btw, Eka gak ke kampus hari ini sakit mungkin.” Pram yang ikut menambahi
ucapan Bima
Faza yang diam
sejenak setelah mendengar perkataan kedua temannya itu, mungkin mereka sudah
capek menghadapi sifat keras kepalanya. Dan dia baru ingat bahwa semalam dia
belum membalas pesan dari Eka setelah meninggalkan kedua temannya itu.
“Siapa juga mau
membahas semalam, gue mau tanya Eka kok gak ada hari ini” Saut Faza dengan
ketawa kecilnya
“Hama” Pram dan
Bima secara kompak melontarkan kata ke Faza.
Faza tertawa
kecil sambil menggelengkan kepalanya.
3 porsi mie
ayam sudah dihidangkan di depan mereka, segera mereka santap sampai tak
tersisa.
“Udah lah, gue
mau pulang” Ucap Faza setelah menyelesaikan makanannya.
“Lah, katanya
mau nanya Eka?” Tanya Bima.
“Ya gue juga
mau nanya, tapi orangnya gak ada”
“Yaudah chat
aja” Saut Pram
Faza tidak
menjawab perkataan Pram. Dia hanya mengambil handphone yang berada di atas meja
dan melihat kembali percakapannya dengan Eka. Pesan terakhir dari Eka belum
dibalas olehnya sejak semalam.
“Za,” Panggil
Pram.
“Hm?”
“Lu masih mau
ngejar Eka?”
Faza terdiam.
Pertanyaan itu
lagi. Pertanyaan yang sejak semalam terus muncul di kepalanya.
“Gue gak tahu.”
Pram dan Bima
saling melihat satu sama lain.
“Tumben jawaban
lu gak keras kepala,” Ucap Bima.
“Gue juga
manusia, Bim.”
“Gue kira lu
robot.”
“Bacot.”
Ketiganya
tertawa kecil.
Namun setelah
tawa itu berhenti, Faza kembali diam. Dia memasukkan handphone ke dalam saku
celananya lalu berjalan meninggalkan kantin bersama kedua temannya. Sepanjang
perjalanan menuju parkiran Faza terus memikirkan satu hal.
Eka.
Tiga tahun
bukan waktu yang sebentar. Selama tiga tahun itu Faza selalu berpikir kalau
suatu saat nanti Eka akan melihat dirinya lebih dari sekadar teman. Dia selalu
percaya kalau waktu akan membuat seseorang berubah pikiran.
Tapi bagaimana
jika ternyata tidak?
Bagaimana jika
selama ini Eka hanya nyaman karena Faza selalu ada?
Dan bagaimana
jika suatu saat nanti ada orang lain yang datang dan Eka justru memilih orang
tersebut?
Pertanyaan itu
kembali membuat kepala Faza terasa berat.
Setelah selesai
makan, Faza dan kedua sahabatnya akhirnya memutuskan untuk pulang. Pram dan
Bima berjalan lebih dulu menuju parkiran, sedangkan Faza masih berdiri sebentar
sambil melihat handphonenya. Dia kembali membuka chat dengan Eka.
“Lo kenapa gak
masuk hari ini?”
Pesan itu
akhirnya dikirim.
Tidak lama
kemudian Eka membalas.
“Gue lagi gak
enak badan.”
Faza sedikit
tersenyum.
“Udah makan?”
“Udah.”
“Yaudah
istirahat.”
Percakapan itu
berhenti begitu saja, tetapi entah kenapa Faza merasa sedikit lega karena
setidaknya dia tahu Eka baik-baik saja.
Sementara itu,
di rumahnya Eka hanya duduk di atas tempat tidur sambil melihat pesan dari
Faza. Sebenarnya dia tidak sedang sakit. Dia hanya sedang ingin sendiri karena
ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.
Faza.
Selama ini Eka
selalu menganggap Faza hanya sebagai teman. Tapi semakin lama, dia mulai sadar
kalau dirinya sudah terlalu nyaman dengan kehadiran Faza. Setiap kali
membutuhkan seseorang, Faza selalu ada. Dan ketika Faza tidak ada di dekatnya,
Eka justru merasa seperti ada sesuatu yang kurang.
“Gue sebenarnya
nganggep Faza apa?” Gumam Eka.
Eka membuka
kembali chat Faza. Jarinya sempat mengetik beberapa kali, tetapi selalu
dihapus.
Sampai akhirnya
dia memberanikan diri mengirim pesan.
“Za, lu masih
suka sama gue?”
Faza yang baru
sampai rumah membaca pesan tersebut cukup lama sebelum akhirnya membalas.
“Masih.”
Hanya satu
kata, tetapi cukup membuat Eka kembali diam.
Tiga tahun.
Selama tiga
tahun Faza masih memiliki perasaan yang sama kepadanya. Eka tidak tahu harus
merasa senang atau justru takut. Dia kemudian mengetik satu pesan lagi.
“Kalau misalnya
gue kasih kesempatan, lu mau?”
Faza membaca
pesan itu dan tidak langsung membalas. Beberapa menit kemudian, jawabannya
masuk.
“Gue mau, tapi
gue gak mau lu melakukan itu karena kasihan sama gue.”
Eka kembali
terdiam. Untuk pertama kalinya, dia mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk
menjalani hubungan dengan Faza.
Bukan sebagai
teman.
Bukan sebagai
seseorang yang selalu ada ketika dia membutuhkan.
Tapi sebagai
orang baru yang mungkin akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.
Namun Eka masih
belum yakin. Dia takut jika hubungan itu gagal, mereka tidak akan bisa kembali
seperti sebelumnya.Malam itu Eka hanya menatap layar handphonenya.
Dia mengetik
satu pesan terakhir.
“Besok kita
ngobrol.”
Pesan itu
terkirim.
Faza membalas
singkat.
“Boleh.”
Setelah itu Eka
mematikan handphonenya. Dia tahu besok mungkin akan menjadi hari yang
menentukan. Tapi sampai malam itu berakhir, Eka masih belum tahu apakah dia
akan datang membawa sebuah jawaban atau justru masih dengan keraguan yang sama.
Sinopsis:
3 Tahun.
Pernahkah kalian membayangkan menunggu sosok yang kita kagumi selama itu.
Menunggu keajaiban bisa mengobrol atau bertemu dengannya. Apakah alam
mengizinkan kita bersatu. Dan jika diizinkan apakah itu selamanya atau hanya
sesaat. Diambang kebingungan antara yang lama atau yang baru. Trauma yang
didapat dari masa lalu yang terus dipikul hingga saat ini menjadi sosok yang
menghantui bagi kedua belah pihak. Di satu sisi, takut akan mengulangi
kesalahan yang sama. Di sisi lain, harus mengalahkan trauma tersebut demi
meyakinkan bahwa tidak semua hal baru akan berakhir seperti masa lalu. Apakah
setelah 3 tahun, yang baru akan mendapatkan kesempatan atau justru masa lalu
masih menjadi penghambat
Bionarasi
Hai hai, kalian
bisa panggil aku Davi atau Faesa. Lahirku di Jember tanggal 01 September 2006.
Terima kasih yang sudah membaca sepercik dari beberapa rangkaian kata yang
kususun sampai jadi sebuah cerpen. Aku belum memiliki karya yang dipublish
untuk saat ini semoga kedepannya ada. Jujur aku masih tidak begitu bisa menulis
karya seperti ini jadi maaf kalau banyak salahnya. Semoga kedepannya dengan
pengalaman ini dapat membuat diriku lebih improve. Kalau kalian ingin kenalan
lebih jauh bisa mampir di akun media sosialku IG:@fssptnkhdv
Tidak ada komentar:
Posting Komentar