Selasa, 01 September 2026

SEKAR Edisi Agustus 2026 | KULAT Karya Faesa Septian Khadavi

 

KULAT

Karya Faesa Septian Khadavi

Di malam hari itu dengan cuaca yang dingin justru terasa panas bagi tiga sekawan yang sedang berkumpul seperti biasanya. Cuacanya dingin tetapi entah kenapa hawa yang dikeluarkan oleh mereka bertiga sangat panas. Awalnya mereka hanya bermain, bercanda seperti biasa sampai di mana seseorang mengganti topik pembicaraannya.

“Za, lu percaya gue gak? Di dunia ini gak ada cewek bingung maupun cowok bingung. Yang ada lu itu bukan orang yang dia mau, dia gak melihat masa depan sama lu.”

Ucap Pram ke Faza dengan wajah serius tak seperti biasanya Pram memasang raut muka seperti ini.

“Haha, gak usah sok tau pemikiran orang lain, bro. Dia cuman perlu diyakinin kalau emang ada pria yang selalu ngusahain dia, dan itu gue.” Ucap Faza

“Ngeyakinin? Mau sampai kapan lu yakinin? Sampai presiden kita ganti? Gak mungkin.” Saut Pram

“Kalau nanti pada akhirnya lu malah melihat Eka di pelaminan dan lu bukan jadi kekasihnya tapi jadi tamu undangan, udah siap lu?” 

Bima melempar pertanyaan disela-sela perdebatan di antara kedua temannya itu. Dan itu berhasil membuat Faza berhenti untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan Bima. 5 menit berlalu, 10 menit berlalu, sampai akhirnya Pram nyeletuk

“Gak bisa jawab kan lu. Ini demi lu Za, gue tahu lu udah naksir ke Eka 3 tahun, gue seneng ngelihat lu bisa bareng Eka. Tapi Za, pada akhirnya lu cuman jadi pengagum bukan pemilik. Dan lu harus menerima itu.”

Bahkan setelah Pram diam Faza tetap tidak mengeluarkan kata-kata sama sekali. Entah apa yang ada di pikirannya hingga dia diam seribu kata seolah-olah dia telah dibungkam oleh kedua sahabatnya itu. Malam itu mereka bertiga berubah menjadi seperti orang baru kenal, canggung, tidak berani menatap satu sama lain, dan diam seribu bahasa. Setelah diam cukup lama Faza memutuskan untuk meninggalkan mereka berdua, dia bingung dengan pertanyaan dari sahabatnya itu entah kenapa Faza merasa tenggorokannya tercekik ketika ingin menjawab.

Esok hari Faza harus pergi ke kampus dengan mata kuliah pagi hari. Tetapi hari itu Faza merasa kelelahan padahal dia tidak melakukan pekerjaan berat apapun. Atau hasil dari dia berpikir semalam tentang pertanyaan sahabatnya itu yang membuat kepala dia sangat berat sekali. Jiwa dan raga Faza seakan tidak mengizinkan dia untuk pergi kuliah pada pagi hari, dia bahkan sempat mengumpat.

“Sial, kenapa hari ini harus kuliah pagi-pagi”

Meskipun dengan keadaan setengah sadar Faza tetap memaksakan badannya untuk beranjak dari kasur yang sangat nyaman itu. Jam menunjukkan pukul 06.32 yang seharusnya dia harus di kampus pukul 07.00, dia segera berlari ke kamar mandi dan siap siap ke kampus.

Satu hal yang dilupakan Faza dia pasti bertemu dengan sahabatnya itu Pram dan Bima. Meskipun tidak berada di kelas yang sama, tapi kelas yang digunakan Faza sebelumnya diisi oleh kelasnya Pram dan Bima. Faza dalam keadaan tergesa–gesa segera berlari menuju ke ruang kelas. Di momen yang sama Pram dan Bima baru selesai dari kelasnya dan mereka bertiga berpapasan di koridor kelas. Faza yang merasa bersalah karena telah meninggalkan temannya begitu saja tidak berani menyapa bahkan menatap mata dari kedua sahabatnya itu. 

Selama perkuliahan berlangsung, Faza tidak bisa fokus sama sekali ia terus merasa bersalah kepada temannya, dan dia baru terpikirkan sesuatu.

“Gue yang gak lihat atau Eka gak ke kampus hari ini, ya?”

Dengan banyak sekali gangguan di kepalanya itu Faza merasa tidak nyaman dengan perkuliahan hari ini, dia merasa ingin cepat untuk pulang. Sebelum pulang Faza ingin bertemu dengan kedua sahabatnya itu untuk menyelesaikan masalah semalam.

Setelah keluar dari kelas Faza mengeluarkan handphone dan mengirimkan sebuah pesan ke grup 

“Bro, kalian udah pulang semua. Ada yang ingin gue omongin?”

“HAMA” Teriak Pram

Kedua sahabatnya itu entah bagaimana sudah ada dibelakangnya. Mungkinkah mereka sudah memperkirakan hal ini.

Ketiga sekawan ini menuju ke kantin fakultas untuk mengobrol dan sarapan yang tertunda karena kelas pagi. Seperti biasa mereka ke warung andalan mereka “Mie Ayam Cak Sugi” mungkin karena yang harganya ramah di kantong dan porsinya yang cukup banyak.

“Jadi lu mau ngomongin apaan? Kalau soal semalam basi malas mau bahas gue” 

Ucap Bima membuka obrolan yang sepertinya diantara mereka masih canggung

“Iya sama gue, udah tau juga lu itu keras kepala za, semoga beruntung dah lu bisa yakinin Eka. Btw, Eka gak ke kampus hari ini sakit mungkin.” Pram yang ikut menambahi ucapan Bima

Faza yang diam sejenak setelah mendengar perkataan kedua temannya itu, mungkin mereka sudah capek menghadapi sifat keras kepalanya. Dan dia baru ingat bahwa semalam dia belum membalas pesan dari Eka setelah meninggalkan kedua temannya itu.

“Siapa juga mau membahas semalam, gue mau tanya Eka kok gak ada hari ini” Saut Faza dengan ketawa kecilnya

“Hama” Pram dan Bima secara kompak melontarkan kata ke Faza.

Faza tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.

3 porsi mie ayam sudah dihidangkan di depan mereka, segera mereka santap sampai tak tersisa.

“Udah lah, gue mau pulang” Ucap Faza setelah menyelesaikan makanannya.

“Lah, katanya mau nanya Eka?” Tanya Bima.

“Ya gue juga mau nanya, tapi orangnya gak ada”

“Yaudah chat aja” Saut Pram

Faza tidak menjawab perkataan Pram. Dia hanya mengambil handphone yang berada di atas meja dan melihat kembali percakapannya dengan Eka. Pesan terakhir dari Eka belum dibalas olehnya sejak semalam.

“Za,” Panggil Pram.

“Hm?”

“Lu masih mau ngejar Eka?”

Faza terdiam.

Pertanyaan itu lagi. Pertanyaan yang sejak semalam terus muncul di kepalanya.

“Gue gak tahu.”

Pram dan Bima saling melihat satu sama lain.

“Tumben jawaban lu gak keras kepala,” Ucap Bima.

“Gue juga manusia, Bim.”

“Gue kira lu robot.”

“Bacot.”

Ketiganya tertawa kecil.

Namun setelah tawa itu berhenti, Faza kembali diam. Dia memasukkan handphone ke dalam saku celananya lalu berjalan meninggalkan kantin bersama kedua temannya. Sepanjang perjalanan menuju parkiran Faza terus memikirkan satu hal.

Eka.

Tiga tahun bukan waktu yang sebentar. Selama tiga tahun itu Faza selalu berpikir kalau suatu saat nanti Eka akan melihat dirinya lebih dari sekadar teman. Dia selalu percaya kalau waktu akan membuat seseorang berubah pikiran.

Tapi bagaimana jika ternyata tidak?

Bagaimana jika selama ini Eka hanya nyaman karena Faza selalu ada?

Dan bagaimana jika suatu saat nanti ada orang lain yang datang dan Eka justru memilih orang tersebut?

Pertanyaan itu kembali membuat kepala Faza terasa berat.

Setelah selesai makan, Faza dan kedua sahabatnya akhirnya memutuskan untuk pulang. Pram dan Bima berjalan lebih dulu menuju parkiran, sedangkan Faza masih berdiri sebentar sambil melihat handphonenya. Dia kembali membuka chat dengan Eka.

“Lo kenapa gak masuk hari ini?”

Pesan itu akhirnya dikirim.

Tidak lama kemudian Eka membalas.

“Gue lagi gak enak badan.”

Faza sedikit tersenyum.

“Udah makan?”

“Udah.”

“Yaudah istirahat.”

Percakapan itu berhenti begitu saja, tetapi entah kenapa Faza merasa sedikit lega karena setidaknya dia tahu Eka baik-baik saja.

Sementara itu, di rumahnya Eka hanya duduk di atas tempat tidur sambil melihat pesan dari Faza. Sebenarnya dia tidak sedang sakit. Dia hanya sedang ingin sendiri karena ada sesuatu yang terus mengganggu pikirannya.

Faza.

Selama ini Eka selalu menganggap Faza hanya sebagai teman. Tapi semakin lama, dia mulai sadar kalau dirinya sudah terlalu nyaman dengan kehadiran Faza. Setiap kali membutuhkan seseorang, Faza selalu ada. Dan ketika Faza tidak ada di dekatnya, Eka justru merasa seperti ada sesuatu yang kurang.

“Gue sebenarnya nganggep Faza apa?” Gumam Eka.

Eka membuka kembali chat Faza. Jarinya sempat mengetik beberapa kali, tetapi selalu dihapus.

Sampai akhirnya dia memberanikan diri mengirim pesan.

“Za, lu masih suka sama gue?”

Faza yang baru sampai rumah membaca pesan tersebut cukup lama sebelum akhirnya membalas.

“Masih.”

Hanya satu kata, tetapi cukup membuat Eka kembali diam.

Tiga tahun.

Selama tiga tahun Faza masih memiliki perasaan yang sama kepadanya. Eka tidak tahu harus merasa senang atau justru takut. Dia kemudian mengetik satu pesan lagi.

“Kalau misalnya gue kasih kesempatan, lu mau?”

Faza membaca pesan itu dan tidak langsung membalas. Beberapa menit kemudian, jawabannya masuk.

“Gue mau, tapi gue gak mau lu melakukan itu karena kasihan sama gue.”

Eka kembali terdiam. Untuk pertama kalinya, dia mulai mempertimbangkan kemungkinan untuk menjalani hubungan dengan Faza.

Bukan sebagai teman.

Bukan sebagai seseorang yang selalu ada ketika dia membutuhkan.

Tapi sebagai orang baru yang mungkin akan menjadi bagian penting dalam hidupnya.

Namun Eka masih belum yakin. Dia takut jika hubungan itu gagal, mereka tidak akan bisa kembali seperti sebelumnya.Malam itu Eka hanya menatap layar handphonenya.

Dia mengetik satu pesan terakhir.

“Besok kita ngobrol.”

Pesan itu terkirim.

Faza membalas singkat.

“Boleh.”

Setelah itu Eka mematikan handphonenya. Dia tahu besok mungkin akan menjadi hari yang menentukan. Tapi sampai malam itu berakhir, Eka masih belum tahu apakah dia akan datang membawa sebuah jawaban atau justru masih dengan keraguan yang sama.

 

Sinopsis:

3 Tahun. Pernahkah kalian membayangkan menunggu sosok yang kita kagumi selama itu. Menunggu keajaiban bisa mengobrol atau bertemu dengannya. Apakah alam mengizinkan kita bersatu. Dan jika diizinkan apakah itu selamanya atau hanya sesaat. Diambang kebingungan antara yang lama atau yang baru. Trauma yang didapat dari masa lalu yang terus dipikul hingga saat ini menjadi sosok yang menghantui bagi kedua belah pihak. Di satu sisi, takut akan mengulangi kesalahan yang sama. Di sisi lain, harus mengalahkan trauma tersebut demi meyakinkan bahwa tidak semua hal baru akan berakhir seperti masa lalu. Apakah setelah 3 tahun, yang baru akan mendapatkan kesempatan atau justru masa lalu masih menjadi penghambat

Bionarasi

Hai hai, kalian bisa panggil aku Davi atau Faesa. Lahirku di Jember tanggal 01 September 2006. Terima kasih yang sudah membaca sepercik dari beberapa rangkaian kata yang kususun sampai jadi sebuah cerpen. Aku belum memiliki karya yang dipublish untuk saat ini semoga kedepannya ada. Jujur aku masih tidak begitu bisa menulis karya seperti ini jadi maaf kalau banyak salahnya. Semoga kedepannya dengan pengalaman ini dapat membuat diriku lebih improve. Kalau kalian ingin kenalan lebih jauh bisa mampir di akun media sosialku IG:@fssptnkhdv 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...