Jumat, 13 September 2024

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Teman Singkat Karya Halimatuz Zahro

 Teman Singkat

Karya Halimatuz Zahro

 

Perbedaan yang kita bawa

Tampak tak padu saat awal berjumpa

Aku tak menduga waktu begitu lekas

Dikala aku berbaring dengan foto di nakas

Cerita kita menggaung tanpa batas

Aku bisa apa?

Perpisahan ini tak mau menunda

Ketika amarah, tawa, dan tangis kita

Berkelebat dengan tidak sopannya

Aku hanya bisa berucap dalam angan

Mari bertemu nanti, Kawan.

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Semau Dalam Pelukan Karya P. M. Pratami

 

Semau Dalam Pelukan

Karya: P.M. Pratami

 

Aku seorang pengelana

Berbalut pasir dalam tiap langkah terinjak

Membekas di seluruh jalan menapak

Berlari kencang tinggalkan jejak

Kulihat dimana Semau terletak

 

Aku seorang penjelajah

Dicium cerah binar baskara 

Berlayar hingga segara terbelah

Bercumbu mesra sebab terpikat samirana

Dari kejauhan tampak Semau merekah

 

Aku seorang pengembara

Terpesona nyanyian tanpa suara

Terpana pada tarian pengiring sukma

Candu oleh gemerlap atap dunia

Takjub akan kilau sambekala

 

Semau dalam pelukan

Bersandar dibawah teduh pepohonan

Membawa diri pada luas hamparan

Dalam sukma asa tak berkesudahan

Manakala diri berpijak angan ku tanam

 

Dan kusesap manis memori

Agar tak lagi aku sangsi

Pun kan terus kucari

Pada Semau aku berjanji

Harap esok dapat kembali

 

Batuinan, 20 Agustus 2024

 

SEKAR Edisi Agustus 2024 | Kata Mereka Karya Putri Wulan Jatiningrum

 

Kata Mereka

Karya Putri Wulan Jatiningrum

 

Riuh lirih selalu membisiki telingaku

Nada yang selalu berusaha menembus jalan pikiranku 

Kata mereka tentangmu menanamkan ragu dibenakku

 

Berbagai goresan makna memenuhi memoriku 

Jalan penuh liku mencari tau siapa dirimu Anganku bertanya dalam setiap ucapanmu Dimana letak kebenaran itu ?

 

Suara yang sangat riuh sangat mengganggu

Sempat goyah untuk memilih berhenti atau tetap dalam langkah ini 

Pada akhirnya aku memilih untuk tetap pada pelabuhanku

 

RESENSI BUKU BULAN JULI 2024 AYAHKU [BUKAN] PEMBOHONG – Tere Liye

 RESENSI BUKU BULAN JULI 2024

AYAHKU [BUKAN] PEMBOHONG – Tere Liye

COVER







Identitas buku

Judul: Ayahku [Bukan] Pembohong

Penulis: Tere Liye

Tebal: 304 lembar

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Tahun terbit: 2016

ISBN: 978-602-03-3158-4

Biografi penulis

  Novel ini merupakan karya salah satu sosok penulis yang terkenal karena produktivitasnya dalam menghasilkan karya sastra, yaitu Darwis atau yang lebih dikenal dengan nama pena Tere Liye. Ia lahir di sebuah kota kecil bernama Kota Lahat di provinsi Sumatera Selatan pada 21 Mei 1979. Meskipun seorang penulis, latar belakang pendidikan Tere Liye adalah seorang akuntan yang pernah berkuliah di Universitas Indonesia pada jurusan akuntansi. Menjadi seorang penulis hingga menghasilkan puluhan novel berawal dari hobi dan kecintaan seorang Tere Liye pada menulis dan dunia sastra. Selain itu, melalui karyanya Tere Liye menunjukkan kemampuannya yang serba bisa dalam menulis berbagai genre cerita. Hingga kini, Tere Liye telah menghasilkan banyak karya best seller dan dicintai oleh para penggemarnya, sebut saja Hafalan Shalat Delisa, series petualangan Bumi, novel Hujan, dan Ayahku Bukan Pembohong yang akan dibahas dalam resensi ini.

a) Sinopsis novel

  Novel ini mengisahkan Dam, seorang anak laki-laki yang tumbuh dengan cerita-cerita fantastis dari ayahnya, Papi. Papi sering menceritakan kisah-kisah luar biasa yang tampaknya tidak mungkin terjadi, membuat Dam bertanya-tanya tentang kebenaran cerita-cerita tersebut. Saat Dam beranjak dewasa, keraguannya semakin mendalam, dan ia memutuskan untuk menyelidiki kebenaran di balik kisah-kisah Papi. Dalam pencariannya, Dam melakukan perjalanan untuk mengunjungi orang-orang yang pernah muncul dalam cerita Papi dan menemukan bahwa setiap kisah mengandung pelajaran berharga dan kebenaran tersendiri. Pada akhirnya, Dam menyadari bahwa meskipun cerita-cerita tersebut tampak fantastis, Papi tidak berbohong; ia menggunakan cerita sebagai alat untuk mengajarkan nilai-nilai kehidupan.

b) Alur Cerita

  Novel "Ayahku [Bukan] Pembohong" menggunakan alur campuran, di mana cerita bergerak maju mengikuti perjalanan hidup Dam dari masa kecil hingga dewasa, sembari diselingi kilas balik yang menggambarkan kisah-kisah fantastis yang sering diceritakan oleh ayahnya, Papi. Alur maju memperlihatkan bagaimana Dam tumbuh dan mulai meragukan kebenaran dari cerita-cerita tersebut, sedangkan kilas balik memberikan konteks pada kisah-kisah yang disampaikan Papi dan bagaimana mereka mempengaruhi pandangan Dam tentang kehidupan. Alur campuran ini memungkinkan pembaca untuk melihat perkembangan karakter Dam dan hubungan emosionalnya dengan Papi, serta mengungkap kebenaran di balik cerita-cerita yang tampaknya tidak masuk akal.

c) Unsur Intrinsik

- Tokoh dan penokohan

• Dam. Seorang anak yang tumbuh dengan kasih sayang, sehingga memiliki sifat yang baik. Sifat yang dipelajarinya dari berbagai kisah yang diceritakan ayahnya. Namun beranjak dewasa, ia menyadari kesederhanaan kisah tidak sesuai dengan dunia yang dihadapinya, sehingga ia mulai berubah, menjadi anak pembangkang, bahkan berani menuduh ayahnya pembohong.

• Ayah Dam. Seorang yang sederhana dan jujur, ia sangat menyayangi anaknya dan gemar menceritakan kisah dongeng inspiratif kepada Dam. Kepribadiannya yang hangat membuatnya dikenal dan disenangi seluruh masyarakat kota.

• Ibu Dam. Seorang wanita penyayang, sabar dan sederhana. Ia merupakan selebriti terkenal sebelum akhirnya memutuskan untuk berhenti dan menikah.

d) Unsur Ekstrinsik

- Nilai moral

  Nilai moral yang diangkat seperti kejujuran dan kebenaran, menunjukkan bahwa kebenaran tidak selalu sederhana dan sering kali terletak dalam pelajaran yang lebih dalam. Melalui hubungan antara Dam dan Papi, novel ini menyoroti pentingnya kepercayaan dan pemahaman dalam keluarga, serta keberanian dalam menghadapi kenyataan.

- Nilai sosial

  Nilai sosial yang diangkat mencakup pentingnya komunikasi dan cerita sebagai sarana menyampaikan nilai-nilai budaya dan pengalaman antar generasi. Novel ini menekankan kepercayaan dan dukungan sosial, yang terlihat dalam hubungan Dam dan Papi serta interaksi mereka dengan orang lain, juga mencerminkan nilai kebersamaan dan solidaritas, menunjukkan bagaimana hubungan sosial yang kuat dapat membantu mengatasi tantangan dan membangun komunitas yang lebih erat.

e) Kelebihan dan Kekurangan

- Kelebihan

  Dalam menulis novel ini, Tere Liye menggunakan bahasa deskriptif yang jelas sehingga pembaca bisa dengan mudah ikut merasakan apa yang terjadi dengan tokoh dalam cerita. Penggunaan bahasa yang ringan membuat pembaca mudah menyerap pesan moral yang ingin disampaikan oleh novel ini. Adapun pesan moral yang bisa didapat diantaranya tentang keluarga, tentang kebahagiaan sejati, dan tentang betapa pentingnya sebuah kejujuran dalam hidup. Selain itu, seperti karya-karya beliau yang lain, novel ini juga terdapat banyak kalimat-kalimat motivasi dan dirangkai sedemikiannya masuk akal sehingga pada akhirnya, novel ini dapat meningkatkan rasa kasih kita kepada sosok ‘Ayah’.

- Kekurangan novel

  Meski penulis sangat pandai dalam mendeskripsikan suasana, namun tetap saja ada beberapa latar yang sulit untuk ditangkap nalar pembaca. Misalnya pada latar tempat Negeri Penguasa Angin, pembaca sulit menggunakan logika dan harus berusaha lebih mengandalkan imajinasi untuk mampu masuk dan menikmati kisahnya..


SEKAR Edisi Juli 2024 | Riuh Dalam Hening Karya Sasa Bela Firdianti

 Riuh Dalam Hening

Karya ; Sasa Bela Firdianti


Malam yang sunyi dengan kedinginan

Menyorak ramai dalam keheningan 

Kini ku tahu kereta berjalan

Sampai tujuan dengan harapan


Membisik tanah dengan sebutan

Berharap jadi angan impian 

Merangkai doa diramalkan

Berharap tuhan berpihak dengan keinginan


Mencoba berlari dihutan yang lebat

Mencoba bertahan untuk kembali kuat

Meski diri sudah merasa sekarat

Ditengah keputusan yang semakin lambat


Puisi tentang diri yang ragu ditengah keputusan yang mencekik diri


SEKAR Edisi Juli 2024 | Perpisahan Karya Lim

 Perpisahan

Inspired by : PMM 4

Karya : Lim

Saat kita berdiri di persimpangan jalan,

Dengan mata berkaca, hati terasa rawan,

Kenangan berlari di antara bayangan,

Menggoreskan kisah dalam ingatan.


Waktu kita bersama, kini harus berlalu,

Seperti daun gugur, diterbangkan angin pilu,

Setiap senyuman dan canda tawa,

Kini tersimpan dalam hati yang sendu.


Kita pernah berbagi mimpi dan asa,

Menjalani hari dengan penuh makna,

Namun takdir menulis kisah berbeda,

Membawa kita pada perpisahan yang tak terduga.


Langkah-langkah kecil yang pernah seirama,

Kini harus berjalan di jalan yang berbeda,

Meski jarak memisahkan kita,

Hati ini takkan pernah lupa.


Dalam hening malam yang sepi,

Aku mengenang setiap detik yang berarti,

Doa ku panjatkan untuk kebahagiaanmu,

Semoga langkahmu selalu dalam ridha-Nya.


Air mata mungkin mengalir perlahan,

Namun senyum ini kan tetap bertahan,

Karena perpisahan hanyalah sementara,

Selama kenangan kita tetap ada.


Selamat tinggal, wahai sahabat tercinta,

Kita kan bertemu lagi di waktu yang tak terduga,

Di bawah langit biru yang sama,

Merajut kembali cerita yang tertunda.


SEKAR Edisi Juli 2024 | Nada Cahya Karya Nur Habibah

 Nada Cahya

Karya ; Nur Habibah 


Terduduk dan bicara,

Fajar bergerak arahkan warna

Senyap cahaya membuka mata

Tak sabar jua senyum terbuka


Terduduk dan bicara,

Berjuta suara batin di dada

Telinga dengar heningnya saja

Entahlah, Tuan, maksudmu apa


Kuning langsat gitar bunyinya

Bertambah saja benang kusutnya

Andai cahaya boleh berada

Putus benangnya petiklah sudah


PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...