Kamis, 30 Juli 2026

SEKAR Edisi Juli 2026 | Arti Pulang Karya Bunga Maya Lestari

Arti Pulang 
Karya Bunga Maya Lestari

Aku Jay, anak bungsu dari dua bersaudara. Sejak lahir aku tinggal di sebuah desa kecil di kaki bukit, dikelilingi sawah yang luas dan pepohonan rindang. Desa sederhana, tempat aku tumbuh, belajar, dan mengenal banyak hal. Desa tempatku tinggal selalu punya aroma khas, tanah basah setelah hujan, suara jangkrik yang bersahut-sahutan di malam hari, dan cahaya senja yang jatuh di antara batang padi atau pepohonan.

Sejak kecil, aku dikenal sebagai anak yang keras kepala. Aku selalu ingin segala sesuatu berjalan sesuai dengan keinginanku. Jika orang lain berkata “A”, aku sering bersikeras mengatakan “B”. Kata orang, sifatku itu menurun dari Ibu. Dan mungkin benar, karena setiap kali aku membantah, Ibu hanya tersenyum kecil seolah sedang bercermin pada dirinya sendiri di masa muda.

Ibu adalah sosok yang sederhana. Tidak ada gelar besar yang melekat padanya, tidak ada penghargaan yang terpajang di dinding, tidak ada nama yang dikenal banyak orang. Tetapi bagiku, Ibu adalah orang paling hebat yang pernah aku kenal.

Aku masih ingat masa kecilku yang penuh dengan pertanyaan.

 “Bu, kenapa langit biru?” tanyaku. “

“Karena Tuhan ingin kamu melihat keindahan setiap hari,” jawabnya sambil menatap langit. 

“Terus, kenapa hujan turun?” tanyaku lagi. 

“Supaya tanah subur, padi tumbuh baik, biar kita bisa makan,” katanya sambil tersenyum.

Saat itu aku tidak sadar bahwa bukan hanya pertanyaan tentang dunia yang ia jawab. Ibu juga sedang mengajarkanku cara menghadapi dunia. Namun, sifat keras kepalaku sering membuat hubungan kami penuh pertengkaran kecil. Suatu sore, aku pulang dengan wajah masam. Aku baru saja gagal dalam lomba yang sangat kuinginkan. Aku merasa dunia tidak adil.

Ibu menyambutku di teras. “Anak Ibu kok mukanya cemberut begitu?” tanyanya. 

“Jangan ngajak ngobrol deh, bu. Jay malas, Jay gagal, kalah,” Bentakku.

“Gapapa sayang, besok kamu bisa coba lagi” kata Ibu, entah dirautnya tidak ada kekecewaan seperti yang ku bayangkan dijalan pulang tadi. 

“Aku gamau, aku harusnya menang, percuma belajarku kemarin!” kata Jay dengan nada lebih tinggi dari sebelumnya.

Ibu menatapku, “Kamu memang keras kepala kalau sudah mau sesuatu, Jay”

Aku semakin marah. “Kenapa Ibu selalu bilang aku keras kepala? Aku bukan seperti Ibu!”

Ibu tersenyum kecil, lalu berkata pelan, seolah menyanyikan bait lagu yang pernah kudengar: 

“Keras kepalaku sama denganmu, caraku marah, caraku tersenyum.”

Aku terdiam, kata-kata itu seperti cermin yang memantulkan wajahku sendiri. Aku sadar ternyata aku mewarisi cara Ibu marah dan tersenyum. Pertengkaran itu membuatku sadar bahwa keras kepalaku bukanlah kutukan. Ia adalah warisan. Namun malam itu, setelah aku masuk kamar, rasa bersalah mulai menghantam. Aku menatap langit-langit, mendengar suara jangkrik dari luar jendela. Aku tahu aku sudah melukai hati Ibu dengan kata-kataku. Aku ingin meminta maaf, tetapi naasnya, gengsi.

Keesokan harinya, aku melihat Ibu di dapur. Ia sedang menyiapkan sarapan. Aku berdiri di ambang pintu. Ragu? Tentu saja. 

“Bu…” panggilku pelan. 

Ibu menoleh sambil tersenyum. "Sarapan dulu, Jay."  

Aku menunduk. “Maaf, Bu. Kemarin aku marah-marah.” 

Ibu mendekat, menepuk bahuku. 

“Tidak apa-apa. Ibu tahu kamu sedang kecewa, tapi belajarlah mengatur emosi ya, Nak." 

Air mataku hampir jatuh. Aku sadar bahwa, meski keras kepala, Ibu selalu menjadi orang pertama yang memaafkanku. 

***

Hari-hari berikutnya, aku sudah beranjak dewasa, merantau keluar kota dengan status mahasiswa. Aku sering merasa dunia terlalu berat, nilai yang buruk, plan yang tidak tercapai, pertemanan yang hilang, dan rasa takut akan hari esok sering memenuhi pikiranku. Namun, setiap kali aku pulang, Ibu selalu ada.

“Jay, makan dulu. Kamu pasti capek habis perjalanan jauh,” katanya sambil meletakkan sepiring nasi hangat di meja. 

“Aku nggak lapar,” jawabku ketus. 

“Kalau begitu, makan sedikit saja, ya?” katanya lembut.

Aku yang keras kepala sering menolak, tetapi akhirnya selalu luluh. Ada sesuatu dalam suara Ibu yang membuatku merasa aman. Aku mulai memperhatikan wajah Ibu yang berubah. Rambutnya tidak lagi seluruhnya hitam. Tangannya yang dulu halus sekarang sudah ada kerutan. Langkahnya tidak secepat dulu. Ada rasa sedih ketika menyadari bahwa waktu tidak pernah berhenti untuk siapa pun.

Suatu malam, aku duduk di teras rumah. Angin desa membawa aroma tanah basah. Ibu duduk di sampingku. 

“Jay, kamu sering marah sama Ibu, tapi Ibu tahu itu karena kamu lagi capek, banyak pikiran, kan?” katanya pelan.  

Aku menunduk. “Aku cuma... ingin semua berjalan sesuai keinginanku.”

“Itu sifat keras kepala kamu. Sama seperti Ibu dulu. Tapi ingat, hidup tidak selalu mengikuti kemauan kita. Kadang kita harus belajar menerima.”

Aku ingin sekali membalas semua yang telah Ibu lakukan. Aku ingin memberikan kehidupan yang lebih baik untuknya. Aku ingin membuatnya merasakan kebahagiaan sebesar yang selama ini ia berikan kepadaku. Tetapi Ibu selalu berkata, 

“Ibu tidak butuh banyak hal, Sayang. Ibu cuma butuh kamu tumbuh jadi anak yang baik, tidak harus sempurna.”

Kalimat itu menjadi hantaman bagi hati kerasku. Aku mulai memahami bahwa menjadi orang baik jauh lebih penting daripada menjadi orang paling hebat atau sempurna. Kini, aku mengerti mengapa banyak orang mencari tempat untuk pulang setelah merasa lelah. Karena dunia sering kali meminta kita menjadi sempurna, sementara rumah adalah tempat yang mengizinkan kita untuk menjadi selayaknya. Dan rumah terbaik yang pernah aku miliki adalah Ibu, ia adalah saksi dari setiap perjalananku. Ia melihat masa-masa ketika aku hampir menyerah. Ia berdiri di sampingku ketika aku berhasil mencapai sesuatu. Ia tidak pernah pergi, bahkan ketika aku gagal.

Suatu hari nanti, mungkin aku akan memiliki rumah sendiri, jauh dari Ibu, menjalani kehidupanku sendiri. Tetapi aku tahu, sejauh apa pun aku pergi, akan selalu ada satu tempat yang ingin aku datangi ketika dunia terasa terlalu berat. Tempat itu adalah Ibu. Ibu bukan hanya seseorang yang melahirkan. Ia adalah doa yang berjalan, kekuatan yang diam-diam menjaga langkah kecilku, dan rumah yang selalu membuka pintunya. 

Aku memang keras kepala, tapi Ibu senantiasa menjadi alasan mengapa aku belajar untuk mendengar, untuk memahami, dan untuk menjadi lebih baik. Selama Ibu ada, aku tahu aku tidak pernah benar-benar sendirian dan di sanalah aku menemukan arti pulang yang sebenarnya. Pulang bukan sekadar kembali ke rumah dengan dinding dan atap. Pulang adalah kembali ke hati yang selalu menerima kita apa adanya. Pulang adalah kembali ke pelukan yang tidak pernah menuntut apa-apa. Pulang adalah kembali ke doa yang diam-diam menjaga langkah kita, bahkan ketika kita jauh.

SINOPSIS

Jay dikenal sebagai sosok yang keras kepala. Tegas, sulit mengalah, dan selalu ingin segala sesuatu berjalan sesuai keinginannya. Namun, sifat itu justru membuatnya sering berjarak dengan orang yang paling ia sayangi. Saat kegagalan menghantam dan gengsi menahan kata maaf, Jay memilih diam, seolah tembok yang ia bangun sendiri mampu melindunginya. Baginya, keras kepala adalah cara bertahan. Tetapi ketika hidup terasa semakin berat, benarkah ia benar-benar baik-baik saja? Di balik amarah dan keteguhannya, selalu ada Ibu yang menunggu tanpa lelah. Mampukah Jay menyadari bahwa arti pulang bukan sekadar kembali ke sebuah rumah, melainkan kembali kepada seseorang yang selalu menerimanya apa adanya? 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...