Malam itu, sepulang kerja aku merebahkan diriku sejenak di atas sofa, kupejamkan mata sejenak, mengistirahatkan badan yang kupaksakan untuk terus ikut berjuang bersamaku. Setiap hari, setiap pagi aku harus bisa melawan rasa kantuk, atau bahkan kadang harus melawan rasa tidak enak badan hanya untuk seupah gaji yang biasanya ku terima di awal bulan.
Di depan rumah ramai suara motor dan mobil lalu-lalang. Ada teman dari kampungku yang harus berangkat bekerja shift malam, ada pedagang sayur yang harus pergi ke pasar, dan ada juga pedagang gerobakan yang masih menjual dagangan mereka meskipun sudah larut malam. Kata orang, malam itu sunyi dan tenang.
Mungkin orang yang berkata seperti itu sebaiknya lebih sering pergi keluar untuk membuka mata, melihat kenyataan yang sebenarnya dan keluar dari zona nyaman agar pemikirannya berkembang. Kenyataannya, malam tidak selalu tentang suara jangkrik, tentang tiupan angin malam yang sejuk, ada juga yang harus berjuang untuk memastikan kehidupan di negeri yang sedang sakit ini.
Saking lelahnya, aku bahkan sampai tertidur di sofa. Tidak peduli lagi apakah aku sudah mandi atau belum. Aku lebih memilih untuk mengistirahatkan diri untuk kembali bertempur di esok hari.
Esok hari di tempat kerja, aku melihat orang-orang berkerumun. Ketika aku mendekat, ternyata mereka sedang melihat cuplikan video yang sedang viral di media sosial baru baru ini.
“Lihat tuh, kok tega banget, ya, padahal dia kan nggak salah apa-apa.” Seorang wanita yang berdiri di depanku.
Awalnya aku tidak paham dengan cuplikan video itu, namun ketika video itu kembali diputar ulang, barulah aku memahami apa isi dari video yang sedang viral itu. Isi dari video itu adalah seorang driver ojol yang ditabrak dan dilindas dengan mobil rantis oleh para oknum yang senang mengincar mahasiswi Kedokteran dan Keperawatan itu. Geram rasanya melihat video itu, terlebih situasi dan kondisi di negara ini semakin jauh dari kata makmur.
Pada saat jam makan siang, kami kembali memperbincangkan tentang video yang sedang viral itu.
“Gini amat jadi WNI, udah hidup mah susah, hasil kerja masih dikena pajak, barang-barang pokok yang ada makin mahal,” ucap rekan kerjaku yang namanya Riko dengan logat khas ngapaknya.
Tidak lama kemudian, Fendy rekan kerjaku membalas, “Nyesel banget gua pilih dia, gua pikir dia lebih baik daripada sebelumnya. Eh, ternyata sama aja.”
Aku pun turut menyahut perbincangan mereka. “Ya gitu lah pemerintah, pas kampanye aja rakyat dielus-elus. Giliran udah jadi, rakyatnya pada dilindes semua, kapok dah.”
Memang saat ini, di negara kami situasi di semua lini baik itu di sektor ekonomi, sosial-politik, apalagi pendidikan sudah tidak lagi menjadi fokus utama pemerintah, semenjak si gendut berkuasa. Begitulah kami menyebut nama pemimpin yang tamak dan sedang menabung suara untuk tahun 2029.
Melihat video demonstrasi di media sosial, rasanya campur aduk. Seperti ada rasa emosi yang membara di dalam dada apabila ada aparat yang gila mahasiswi kedokteran itu memukuli mahasiswa, dan ada rasa puas ketika melihat ada oknum aparat itu dihajar hingga babak belur oleh demonstran. Seperti itu sederhana, tapi cukup untuk menghibur diri sebagai WNI di tengah menggilanya situasi.
Sepulang kerja, kusempatkan untuk datang ke rumah sakit. Mengunjungi tunanganku yang berprofesi sebagai seorang perawat. Ku belikan makanan kesukaannya yaitu, Martabak manis. Sengaja aku datang ke rumah sakit pada saat larut malam supaya aku bisa berbincang dan melepas rasa rindu dengannya.
Kebetulan, saat itu dia sedang tidak bertugas jadi dia ikut denganku untuk sekadar duduk di Cafetaria milik rumah sakit. Bagiku, sekadar melihat parasnya sudah membuat rasa jenuh dan lelahku menjadi lebih baik, apalagi ketika aku melihat senyum bibirnya yang dibalut oleh lipstik merah itu.
Kami menghabiskan waktu sejenak, melepas rasa rindu satu sama lain, saling bertukar cerita, dan bersenda gurau untuk melepas rasa kantuk dan menggantikannya dengan rasa bahagia. Aku tidak pernah menyangka, orang sepertiku bisa menjalin hubungan dengan seorang perawat, padahal aku bukan polisi ataupun tentara.
Di sela-sela senda gurau, aku mengucapkan kata-kata yang bisa dibilang sedikit nyeleneh.
“Sayang, jika semisal nanti kamu dapat tugas menyuntik pasien, bisakah kamu menyuntikkan sedikit zat doktrin kepada mereka?” Mendengarku berbicara seperti itu, dia terlihat terkejut. seakan menggambarkan kebigungan.
“Maksudnya gimana?” Dia bertanya dengan nada rendah dengan suaranya yang menggemaskan.
“Bisakah kamu membuat mereka sadar, kalau negara kita sedang dipimpin oleh seorang bajingan? Supaya mereka sadar kalau setan juga bisa berwujud manusia melalui buzzer yang menyebar di masyarakat kita,” ucapku sekali lagi sembari meraih tangan kanannya.
Mendengar seperti itu, raut wajahnya berubah, senyumannya hilang dan alisnya saling berhadapan, seolah mengatakan bahwa dia sangat tidak suka mendengar suara itu.
“Kalau aku menyuntikkan zat doktrin kepada mereka, apakah hal itu bisa membuat situasi dan kondisi saat ini menjadi lebih baik?” ucapnya.
Lalu dia meraih wajahku sambil berkata, “Sudah, ya, Sayang, kamu fokus kerja aja, ya. Nggak usah mikirin rezim yang sekarang, setidaknya kamu memberi ruang kepada pemerintah untuk mengevaluasi kinerjanya.”
Waktu pun berlalu, tanpa sadar kami menghabiskan waktu 1 jam di Cafetaria itu, akhirnya kami harus berpisah.
Saat aku hendak kembali ke area parkir, dia kembali memanggilku dan berkata, “Hati-hati di jalan, ya.” Sambil memelukku dengan sangat erat seakan bahasa tubuhnya berkata, biarkanlah aku memelukmu sepuas yang aku mau.
Di perjalanan pulang, aku kembali memikirkan perkataan yang diucapkan oleh tunanganku. Tentang memberi waktu dan ruang kepada rezim untuk mengevaluasi kinerjanya.
Lalu aku dihadang oleh segerombolan begal yang mencoba merampas tasku tepat di depan ruko. Aku pun bersih keras untuk mempertahankan tas dan mencoba untuk melawan. Aku pun terlibat pergulatan dengan para begal, di mana salah satu di antara mereka membawa senjata tajam.
Walaupun dilanda rasa takut, aku memilih untuk tidak menyerahkan harta bendaku kepada para preman malam yang beraninya memberhentikan orang di tempat sepi dan gelap. Namun kali ini mereka salah, karena aku bukanlah orang yang mudah takut sekalipun diancam dengan senjata tajam.
Tidak mau kalah, aku pun mengambil batu bata dan melemparkannya ke arah begal itu, alhasil batu bata itu berhasil mengenai salah satu mata begal itu. Melihat senjata tajam yang dipegangnya jatuh, segera kurebut untuk mengancam balik para pelaku begal itu. Namun, pemilik seorang warga kemudian melintas, melihat itu para begal pun melarikan diri kecuali begal yang terluka matanya akibat benturan keras dari batu baya yang kulemparkan padanya.
Namun, warga itu mengira akulah pelaku begal yang sebenarnya. Karena aku sempat memegang senjata tajam yang tanpa ku sadari terdapat noda darah di bilahnya. Mereka pun menelepon polisi dan menganggap aku lah pelaku begal yang sebenarnya. Mereka menghajarku habis-habisan, sampai hidung dan mulutku berdarah.
Dan ketika polisi tiba, mereka langsung memborgol kedua tanganku dan membawaku ke kantor polisi. Mungkin ini adalah pengalaman pahitku, ketika aku mencoba membela diri namun akulah yang tetap disalahkan atas tindakanku.
Sesampainya di kantor polisi, para polisi itu mengintrogasiku. Aku diikat di sebuah kursi dan bahkan sesekali mereka memukuliku. Aku ibarat sosok pelanggar HAM karena melawan kepada para pelaku begal. Mengapa mereka begitu kasar kepada rakyat kecil.
Keesokan harinya, satu per satu orang terdekatku datang ke kantor polisi, mereka tidak percaya jika aku melakukan tindakan kriminal yang bahkan aku sendiri tidak akan pernah berani untuk melakukannya. Bahkan, orang tuaku hampir menyerahkan uang kepada polisi supaya mereka bisa segera membebaskanku.
Namun, aku meminta mereka untuk tidak melakukan hal itu. Aku tidak ingin harta yang mereka kumpulkan susah payah diserahkan kepada preman berseragam dan berpangkat yang kerjaannya hanya menindas rakyat dan mengincar mahasiswi Kedokteran.
Tunanganku pun datang ke kantor polisi, masih mengenakan seragam dinas perawat. Ia ternyata baru selesai shift malam dan segera menuju kantor polisi ketika mendengar diriku ditangkap polisi.
Ketika ia melihat wajahku yang babak belur setelah dihajar oleh warga, dia langsung menangis dan berkata, “Aku tahu kamu nggak mungkin ngelakuin itu.” Bagaimana tidak sedih? Sedangkan waktu pernikahan kami sudah tinggal 2 bulan lagi, bagaimana kami akan menikah jika aku mendekam di balik jeruji besi hanya karena sebuah kesalahpahaman.
Lalu dia berkata sambil tersedu-sedu, “Padahal tadi malem kita masih barengan loh, Mas. Kenapa hal gini bisa nimpa kamu?”
“Sabar, ya, Sayang, aku pasti dibebasin kok. Cepat atau lambat semuanya akan segera terbukti siapa yang salah dan siapa yang benar.” Aku mengucapkan demikian untuk menenangkan dirinya melalui jarak sebuah cermin kaca karena mustahil bagiku untuk merangkul dan menenangkan dirinya.
“Sabar, ya, Mas, semoga Allah segera membalas apa pun yang sudah ditimpakan kepadamu,” ucapnya lagi. Mendengar ucapan itu, hatiku tak kuasa menahan rasa tangis. Air mata itu tumpah seperti banjir karena tanggulnya sudah tidak bisa menahan air yang volumenya sudah melebihi kadar batasnya.
Lalu, aku pun memintanya untuk segera pulang karena dia baru saja pulang dari rumah sakit yang langsung bergegas ke kantor polisi ketika mendengarku ditangkap polisi. Semoga tidak ada satu pun personil yang akan menganggunya hanya karena dia memakai seragam perawat.
Belakangan, sebuah rekaman CCTV ruko itu beredar luas ke publik. Rekaman itu kemudian terus menyebar dengan cepat, menuai kecaman publik mengingat sistem hukum di Indonesia tajam ke bawah, tumpul ke atas.
Barulah saat itu, pihak kepolisian kemudian menyelidiki rekaman tersebut dan menyatakan kalau aku tidak bersalah. Anehnya, mereka sangat merasa gengsi untuk mengatakan permohonan maaf secara langsung kepadaku, mereka justru mengadakan konferensi pers.
Yaa, seperti biasalah, pimpinan mereka menyampaikan permohonan maaf di depan wartawan. Dari sini terlihat kalau mereka sebenarnya hendak cuci tangan dari perbuatan mereka. Begitulah gambaran para oknum preman berseragam di negaraku yang sebenarnya sangat aku cintai.
Sebuah kasus baru bisa diselesaikan setelah viral atau diviralkan, sehingga meninggalkan sebuah pertanyaan dalam diriku, “Apakah penegakan hukum di negara yang aku cintai ini harus bisa diributkan melalui aplikasi digital?”
Sesampainya di rumah, banyak tetangga, dan teman-teman sekampung yang datang ke rumah. Entah apa yang mereka lakukan, antara mereka datang untuk menjenguk, atau sekadar mewawancarai diriku karena baru saja viral dan dibebaskan polisi. Entahlah, orang Indonesia memang seperti itu, mereka sering kepo kalau ada apa-apa.
Di antara orang-orang yang datang ke rumah, ada teman lamaku dari SMA bernama Sofyan. Dia datang ke rumah untuk bertanya kronologi kejadian bagaimana aku dibegal lalu ditangkap polisi. Aku pun menceritakan semuanya secara runtut, dan kulihat dia tampak begitu memperhatikan setiap kata yang kuucapkan tanpa memotong pembicaraan sekalipun.
Setelah aku selesai, barulah dia menggerutu. “Ah! Sistem hukum di negara kita ini memang sudah tidak benar, tajam ke atas, tapi tumpul ke bawah. Sial banget jadi WNI!” katanya. Sofyan memang seorang penggerutu, dia juga seorang pengangguran yang tidak lekas mendapat pekerjaan.
Dalam pandanganku, Sofyan bukanlah sosok yang pemalas dan bodoh. Dia hanya merasa kurang percaya diri dengan realita yang akan ia jalani. Sejak masa SMA, Sofyan dikenal sebagai sosok yang aktif di Organisasi Siswa atau OSIS dan juga aktif di ekstrakurikuler pramuka. Di kelasnya, Sofyan selalu mendapat ranking 2. Dan lebih mengejutkannya lagi, Sofyan bahkan diterima di Universitas Airlangga.
Memang di negara kami, untuk mendapatkan pekerjaan sangatlah sulit. Apalagi kalau tidak punya orang dalam. Hal itulah yang menyebabkan angka pengangguran meningkat beberapa tahun terakhir. Sedangkan pemerintah hanya berjanji kepada rakyat, yaitu tentang wacana pembukaan sembilan belas juta lapangan pekerjaan.
Memang seperti itu pemerintah, ketika sedang berkampanye mereka seakan mengelus-elus rakyat, setelah mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, barulah mereka melupakan rakyat. Dan ketika rakyat menagih janji pemerintah, mereka justru menyiapkan ribuan peleton BRIMOB dan sejumlah kebijakan yang tidak logis dan tidak ada manfaatnya bagi masyarakat luas.
Aku mencintai negeri ini, baik dari sisi sejarahnya, keaneka ragamannya, lambang negaranya dan keindahan alamnya. Namun, hanya satu yang tidak ku cintai di negeri ini. yaitu Pemerintah yang hanya berjanji ketika berkampanye, lalu melupakan rakyat ketika sudah mencapai keinginan. Bagi mereka, rakyat adalah bungkus makanan yang dibuang, setelah dimakan isinya.
Aku tidak tahu berapa lama lagi aku akan hidup di negara yang sakit ini, entah 10, 20, atau 50 tahun kedepan, tapi aku selalu berharap semoga semakin kedepan Indonesia, tanah air yang ku cinta akan menjadi lebih baik dibandingkan hari ini yang kelak akan menjadi sejarah di masa depan.
---------------------------------------------------------------------
SINOPSIS
BIMANTARA mengisahkan keresahan rakyat kecil karena rusaknya sistem hukum dan tata negara akibat bobroknya rezim pemerintahan. Tokoh utama yang peduli oada isu sosial, justru menjadi korban salah tangkap aparat setelah berjuang melawan begal. Ketidakadilan hukum, intimidasi, dan kebijakan pemerintah yang tidak logis merefleksikan kepahitan hidup sebagai warga negara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar