Hujan perlahan turun
membasahi jalan-jalan yang ada di sekitar kafe, kendaraan yang melewati hujan
melaju dengan cepat. Seorang gadis cantik duduk sendirian sambil menatap ke
arah luar kafe dan memandangi hujan seolah-olah semesta tahu bahwa suasana
hatinya sedang buruk. Kei duduk diam sendiri di dalam kafe sambil menggenggam
secangkir coklat panas yang sudah ia pesan dari tadi tanpa mau menyentuhnya.
Jemarinya memegang ponsel sambil terus menatapnya menunggu apakah ada balasan
dari seseorang. Dua bulan yang lalu, ia baru saja putus dari hubungan yang
menghancurkannya. Empat tahun bersama seseorang yang selalu menjadi rumah ia
pulang, berkeluh kesah, dan menjadi bagian dari dirinya. Kini hubungan mereka
harus berakhir karena masalah sepele yang membuatnya kandas yaitu LDR.
“Kita masing-masing aja,
ya, aku capek sama hubungan ini, Kei.”
Hanya itu, pesan yang
disampaikan oleh mantannya. Empat tahun yang penuh kenangan berakhir dalam
hitungan detik.
Sejak saat itu, akhirnya
Kei menjadi orang yang sangat berbeda, ia berhenti terlalu berharap pada janji,
berharap pada omongan orang dan berhenti untuk membuka hati lagi.
Sampai akhirnya ia
bertemu Ethan. Mereka bertemu tanpa sengaja saat di parkiran kampus. Awalnya
tidak sengaja saat Ethan membantu Kei mengeluarkan motornya yang terjebak.
Mereka sama-sama satu fakultas namun beda prodi. Sejak saat itu mereka saling
mengenal. Awalnya tidak ada yang istimewa, namun di balik awal pertemuan dan
sering interaksi semua berbeda.
Iya, Ethan yang ia kenal
secara tidak sengaja selalu berada di sekitar Kei.
Ia berbeda.
Ia selalu ada.
Ia selalu berusaha untuk
membuat Keii bahagia.
Saat Kei mengeluh
tugasnya yang banyak, Ethan selalu membantunya dan mendengarkan Kei. Ethan juga
yang selalu menemani Kei begadang untuk menyelesaikan tugasnya. Saat Kei sedih
karena sesuatu, Ethan langsung menghampiri Kei depan kost dan menghiburnya.
Perlakuan Ethan inilah yang membuat Kei takut untuk membuka hati lagi.
Namun, untuk pertama
kalinya setelah sekian lama ia merasa aman di dekat Ethan karena Ethan selalu
ada, berbeda dengan masa lalu Kei. Dan itu menakutkan. Karena semakin nyaman
seseorang, semakin besar kemungkinan ia kehilangan seseorang lagi.
Hari-hari berlalu, tanpa
sadar Ethan telah menjadi rutinitas di kehidupan Kei.
Pesan selamat pagi.
Telepon sebelum tidur.
Berangkat ngampus
bareng.
Video-video lucu yang
dikirim oleh Ethan melalui tiktok, membuat Kei bahagia dan menjalani harinya
dengan semangat. Bahkan, mereka sudah membuat streak.
Pesan singkat yang
dikirim Ethan seperti “ capek, ya, ada cerita apa aja hari ini? “ atau “ udah
makan belum?”
Perhatian kecil yang
ditunjukkan Ethan membuat Kei berharap lagi. Apakah Ethan menginginkannya atau
tidak? Namun, Kei tidak terlalu memikirkannya untuk sekarang, yang penting
jalani aja dulu.
Sekarang, Kei mulai
percaya diri lagi. Mulai tertawa lagi. Mulai bahagia lagi karena ada Ethan yang
menemaninya.
Di sore hari yang cerah
ini, Ethan dan Kei duduk di pinggir jalan sambil menikmati segelas es dan
memandangi jalan. Beberapa menit berlalu dalam keheningan yang nyaman, Ethan
melirik kei sekilas sebelum akhirnya memberanikan diri membuka percakapan
“Kei ....”
“Hm?” sahut kei sambil
menoleh.
“Malam ini kamu ada
acara nggak?”
“Belum, sih, kenapa?”
Ethan tersenyum kecil.
“Aku kebetulan ada satu tiket konser tulus yang nggak kepakai. Kalau kamu mau,
temenin aku nonton, ya?”
“Serius? Oke, boleh,”
jawab Kei sambil antusias dan tersenyum lebar.
Malam itu area konser
dipenuhi lautan manusia, beberapa lampu mulai dipadamkan saat Tulus naik ke
atas panggung. Musik mulai dimainkan dan Kei ikut bernyanyi dengan ribuan orang
lainnya. Sesekali ia melirik Ethan yang terlihat menikmati setiap lagu yang
dibawakan, dan entah mengapa malam itu terasa lebih tenang
Saat lagu jatuh suka
mulai dimainkan, suasana mendadak menjadi lebih sunyi. Tanpa sadar, kei terdiam
sambil memandang Ethan. Lagu itu mengingatkannya padanya. Ia mulai berpikir,
bagaimana kalau Ethan meninggalkannya secara tiba-tiba? Meski tidak pernah ada
status yang jelas di antara keduanya.
Teman?
Lebih dari teman?
Atau hanya dua orang
yang menemani saat sedang sepi? Kei juga tidak tahu. Yang ia tahu saat di dekat
Ethan jantungnya selalu berdetak lebih cepat dan itu membuatnya semakin takut.
Setelah selesai, saat mereka berjalan pulang setelah menonton konser, Ethan
tiba-tiba berhenti.
“Aku boleh jujur nggak?”
tanyanya.
Kei menoleh. “Boleh.”
Ethan tersenyum
kecil. “Aku nyaman sama kamu.”
Jantung Kei seakan
berhenti berdetak. Angin malam terasa lebih dingin dari biasanya.
“Aku juga nyaman sama
kamu,” jawab Kei pelan.
Ethan menatapnya
beberapa detik.
Lalu tersenyum.
Dan malam itu, untuk
pertama kalinya Kei membiarkan dirinya berharap.
Mungkin kali ini
berbeda.
Mungkin kali ini tidak
akan berakhir seperti sebelumnya.
Mungkin kali ini ia
tidak akan patah hati lagi.
Seiring berjalannya
waktu, sikap Ethan kepada Kei mulai berubah. Telepon malam yang sudah jarang,
balasan yang dulu panjang sekarang hanya dibalas singkat saja. Kei dibuat
bingung dengan perubahan sikap Ethan yang semakin hari semakin berubah. Ia
berusaha untuk berpikir positif, mungkin Ethan sedang sibuk sehingga tidak bisa
diganggu. Namun, semakin hari jarak itu semakin terasa. Dan yang paling
menyakitkan bukanlah kepergian seseorang, melainkan saat mereka masih ada,
tetapi tidak lagi benar-benar hadir.
Saat ia ingin menanyakan
kepada Ethan apa yang sebenarnya terjadi.
“Nggak usah overthinking."
Kalimat itu menjadi
jawaban kesukaan Ethan setiap kali Kei mencoba bertanya. Padahal bukan itu yang
Kei butuhkan. Ia hanya ingin kejelasan. Hanya ingin tahu apa yang sebenarnya
terjadi. Namun, setiap pertanyaan selalu berakhir menggantung.
Tanpa jawaban.
Tanpa penjelasan.
Tanpa kepastian.
Suatu malam untuk
pertama kalinya Kei memberanikan diri dan menegaskan pada Ethan sebenarnya
mereka ini apa. Ia memberanikan untuk mengirimkan pesan kepada Ethan. Entah apa
yang dijawab Ethan, yang penting dia sudah mengeluarkan semua
uneg-unegnya.
“Kenapa tiba-tiba
menjauh? Setelah kita sudah menjalani hari bersama-sama dan kalau kamu udah
bosen, bilang aja. Aku lebih baik menerima kejujuran dari pada terus
nebak-nebak kayak gini.”
Tidak ada balasan
setelah menunggu beberapa menit.
Dua jam, tak kunjung
dapat balasan. Padahal Ethan sedang online. Kei tahu bahwa dia dan Ethan
tidak memiliki hubungan apa pun, namun ia ingin memastikan lebih dalam,
sebenarnya apa yang Ethan mau.
Keesokan harinya,
balasan itu datang.
“Maaf kalau bikin kamu
mikir macem-macem. Aku bingung sama perasaanku sendiri “
Hanya itu yang Ethan
sampaikan, tidak ada penjelasan, tidak ada kepastian. Kei yang membaca
pesan itu berulang kali memastikan apakah akan berakhir seperti masa lalu.
Matanya memanas, bukan karena marah tapi lebih kecewa.
Ia berusaha membuka hati
lagi. Berusaha memulai lagi dengan yang baru. Namun, ternyata ia kembali di
posisi yang sama, menunggu seseorang yang tidak pernah benar-benar memilihnya.
Malam itu, Kei menangis
bukan karena kehilangan Ethan. Ia menangis karena kehilangan harapan. Harapan
yang selama ini ia bangun perlahan. Harapan yang membuatnya percaya bahwa
mungkin kali ini akan berbeda. Ternyata tidak, dan kenyataan itu jauh lebih
menyakitkan daripada perpisahan.
Dua bulan berlalu, Ethan
semakin jarang menghubunginya. Hingga akhirnya hampir tidak pernah sama sekali,
bahkan rutinitas yang biasanya Kei lakukan bersama Ethan hilang dalam sekejap.
Tanpa kata perpisahan.
Tanpa penutup cerita.
Hanya menghilang
perlahan.
Seolah hubungan mereka
tidak pernah berarti apa-apa.
Kei akhirnya mengerti,
tidak semua orang datang untuk tinggal. Beberapa hanya datang untuk mengajarkan
pelajaran. Meski terkadang pelajarannya terasa terlalu menyakitkan.
Seiring berjalannya
waktu, Kei akhirnya sadar bahwa ia tidak lagi mengharapkan kehadiran Ethan Ia
hanya ingin menikmati dirinya sendiri. Tidak ada lagi air mata. Tidak ada lagi
pertanyaan yang tidak terjawab. Tidak ada lagi penantian yang melelahkan.
Karena terkadang, cara terbaik untuk melanjutkan hidup bukanlah mendapatkan
semua jawaban.
Mungkin Ethan bukan
akhir dari ceritanya, mungkin juga bukan awal yang selama ini ia cari. Namun
satu hal yang pasti, kali ini Kei tidak sedang memulai hubungan baru. Ia sedang
memulai dirinya yang baru dengan versi yang tidak bergantung kepada orang lain
Kei juga berharap di
kehidupan selanjutnya ia berharap Ethan tidak menjadi cowok bingung. Jadilah
cowok yang bertanggung jawab atas rasa yang kamu tumbuhkan di perempuan. Dan
jangan bawa orang lain sejauh mungkin kalau kamu masih belum tahu apa yang kamu
mau.
Kei akhirnya memahami
arti sebenarnya dari dua kata yang selama ini terdengar sederhana.
Begin Again.
Bukan tentang menemukan orang baru, melainkan tentang menemukan dirinya dengan versi terbaiknya setelah hancur dan terlalu bergantung pada orang lain
Sinopsis :
Setelah hubungan empat
tahunnya berakhir, kei memilih menutup hati dan berhenti berharap pada
cinta. Sampai ethan datang dan perlahan mengubah semuanya. Dengan
perhatian sederhana dan kehadirannya yang selalu ada, ethan membuat kei
percaya bahwa mungkin ia bisa memulai kembali. Ketika harapan mulai tumbuh dan hati perlahan
kembali terbuka, semuanya terasa baik-baik saja.
Hingga suatu hari,
perhatian yang dulu selalu ada berubah menjadi jarak tanpa penjelasan. Yang
tersisa hanyalah pertanyaan, penantian, dan perasaan yang tak pernah mendapat
kepastian.Begin Again ? adalah kisah tentang harapan yang tumbuh di waktu yang
salah, kehilangan yang datang tanpa perpisahan, dan keberanian untuk memulai
kembali setelah pernah hancur
Tidak ada komentar:
Posting Komentar