Kita Mulai dari Selesai
Karya Fajar Wahyudi
"Ini bukan hukuman," kata psikiaternya sambil
menyodorkan sebuah buku bersampul hijau tua “Ini tugas untukmu.”
Ia menjelaskan
bahwa selama satu tahun ke depan Sangkar hanya perlu melakukan satu hal setiap
minggu: berbicara selama lima menit dengan satu orang asing, lalu menuliskan
satu kata yang menurutnya paling mewakili percakapan itu. Terdengar sederhana.
Justru itu yang membuatnya terasa mustahil. Selama beberapa bulan terakhir,
bahkan untuk berbicara kepada dirinya sendiri terasa melelahkan. Sangkar
membuka buku itu, halaman pertama hingga seterusnya kosong. Lalu
ia menutupnya kembali. Entah kenapa, beberapa lembar kertas kosong itu terasa
lebih menyesakkan daripada ribuan baris kode yang biasa ia susun
berhari-hari untuk membuat sebuah web.
Orang asing
pertama yang ia temui adalah seorang sopir angkot. Di dalamnya hanya ada
seorang pelajar perempuan. Tangannya erat memeluk kotak plastik berisi donat
yang barangkali belum habis terjual.
"Turun mana, Mas?"
"Depan, Pak."
Sopir itu mengangguk.
Selama perjalanan jemarinya beberapa kali mengetuk setir mengikuti
irama lagu yang nyaris tak terdengar. Sesekali ia menggerutu ketika lampu merah
terlalu lama menyala. Sebelum Sangkar turun, sopir itu sempat berkata,
"Kalau pulang jangan kemaleman, Mas."
Malamnya, Sangkar membuka buku hijau itu. Cukup lama ia membiarkan
halaman itu kosong. Hingga akhirnya ia menulis satu kata.
Pulang.
Minggu
berikutnya, Sangkar berhenti di sebuah kios koran dekat lampu merah. Lelaki tua
yang menjaganya sedang membaca koran pagi sambil sesekali mengipasi wajah
dengan koran yang terlipat. Tumpukan koran di depannya masih rapi, seolah belum
ada satupun yang berpindah tangan.
"Ada berita apa hari ini, Pak?"
Lelaki itu menurunkan korannya sebentar, lalu tersenyum kecil.
"Sama kayak kemarin mas," katanya. "Cuma ganti
tanggal."
Ia terkekeh pelan, seperti baru saja melontarkan lelucon yang
sudah terlalu sering ia ulangi.
Sangkar memandangi halaman depan koran itu. Besok pagi semuanya
akan diganti. Berita baru datang, berita lama perlahan dilupakan. Malam itu,
halaman berikutnya di buku terapinya mulai terisi.
Besok.
Minggu ketiga
mempertemukannya dengan seorang penjahit di gang sempit. Mesin jahit di sudut
ruangan berdetak pelan, sementara lelaki paruh baya itu merapikan lipatan
kemeja yang belum selesai dijahit. Tangannya dipenuhi bekas tusukan jarum. Jari
telunjuknya dibungkus plester yang mulai mengelupas, tetapi jemarinya tetap
bergerak lincah seolah luka-luka kecil itu sudah menjadi bagian dari
pekerjaannya.
"Bahannya bagus," katanya sambil meraba ujung kain.
"Sayang kalau buru-buru, Mas."
"Saya nggak buru-buru kok pak."
Penjahit itu tersenyum tipis tanpa mengangkat kepala.
"Semua orang awalnya juga bilang gitu."
Sangkar tak menjawab. Malamnya, Sangkar membuka bukunya. Ia tidak
membutuhkan waktu selama minggu sebelumnya.
Sabar.
Kata itu cocok untuk kali ini.
Kini, giliran
seorang ibu-ibu di terminal menjadi sosok yang ditemui Sangkar pada minggu
keempatnya. Perempuan itu duduk sendirian di bangku besi yang mulai berkarat.
Sebuah tas besar diletakkan di pangkuannya, sementara kedua tangannya saling
menggenggam di atas resleting yang sudah kusam.
Sangkar duduk di sebelahnya.
"Sedang menunggu, Bu?"
"Iya, Mas."
"Siapa?"
"Anak saya." Perempuan itu tersenyum kecil.
"Katanya bus jam sepuluh. Sekarang sudah jam dua belas."
"Kenapa nggak ditelepon Bu?"
"Nanti dia pikir saya nggak percaya sama dia."
Setelah itu mereka sama-sama diam. Di kejauhan terdengar suara
kondektur memanggil jurusan, disusul deru bus yang datang dan pergi silih
berganti.
Malamnya, Sangkar membuka buku hijau itu.
Ia menulis satu kata.
Tunggu.
Ketika membuka kembali halaman-halaman sebelumnya, Sangkar
menyadari sesuatu. Semua orang yang ia temui ternyata sedang menunggu sesuatu.
Sedangkan ia sendiri tidak sedang menunggu apa pun.
Minggu kelima,
Sangkar membawa kamera analog peninggalan ayahnya ke sebuah toko barang bekas
di ujung jalan. Papan namanya sudah memudar. Rak-rak kayu memenuhi hampir
setiap sudut ruangan. Radio tua berdampingan dengan mesin tik, kamera analog,
jam dinding yang berhenti di waktu berbeda, dan tumpukan cangkir enamel yang
warnanya mulai pudar. Di balik meja kasir, seorang perempuan sedang berdiri di
atas bangku pendek. Kedua tangannya sibuk menyusun tumpukan piring ke rak
paling atas.
Bel kecil di atas pintu berdenting ketika Sangkar masuk.
“Sebentar ya, Mas”
Suara itu muncul bahkan sebelum Sangkar sempat melihat siapa yang
berbicara. Suara seorang perempuan terdengar sangat sibuk dari balik meja kasir
yang dipenuhi vas bunga antik.
“Ada yang bisa dibantu, Mas?”
Sangkar pun meletakkan kameranya diatas meja
“"Wah...kamera analog. Ini mau dititip jual, Mas?”
“Iya.”
Jemarinya bergerak lincah memutar cincin lensa, membuka penutup
belakang, lalu meniup sedikit debu yang menempel di viewfinder.
“Masih bagus kameranya. Ini seri lama ya, Mas? Peninggalan siapa?”
“Ayah”
“Ohh..”
"Di sini juga ada kamera yang usianya lebih tua." Ia
berjalan ke rak kaca dan mengambil sebuah kamera lipat berwarna hitam.
"Yang ini lucu ceritanya."
Sangkar belum sempat bertanya apapun, tetapi Rahara sudah mulai
bercerita.
"Dulu ada bapak-bapak yang nitip jual kamera ini. Katanya ini
kamera yang dipakai memotret istrinya waktu masih pacaran. Beberapa bulan
kemudian beliau datang lagi."
"Mau diambil lagi?" tanya Sangkar.
"Iya, ternyata istrinya marah, bukan karena kameranya dijual,
tapi karena foto-foto waktu pacaran mereka masih ada di dalamnya." Rahara
terkekeh pelan.
"Untung kameranya belum sempat laku. Kalau sudah, mungkin
yang dicari bukan kameranya lagi."
Ia mengembalikan kamera itu ke meja. Matanya lalu berpindah ke rak
sebelah.
"Mas suka ngopi?"
Sangkar mengangguk pelan.
"Pantes."
"Kenapa?"
"Biasanya yang datang bawa kamera ujung-ujungnya beli
cangkir."
Ia mengambil salah satunya.
"Saya juga nggak ngerti hubungannya apa."
"Tapi hampir selalu begitu."
Rahara kemudian menarik formulir titipan dari bawah meja dan mulai
mengisinya.
"Namanya, Mas?"
"Sangkar."
"Sangkar?" Ujung pulpennya berhenti bergerak.
"Iya."
"Lucu ya." Ia tertawa kecil
"Soalnya saya langsung kebayang kandang burung."
Sangkar sudah terbiasa mendengar komentar itu.
"Hampir semua orang bilang begitu."
"Iya sih..." Rahara mengangguk.
"Kalau ada yang namanya Burung baru aneh, hahaha."
Rahara tertawa sendiri.
Sangkar hanya diam.
Humornya garing.
Tetapi memang begitulah Rahara.
"Eh maaf, saya Rahara, tetapi pelanggan saya biasanya manggil
Rara"
Beberapa menit kemudian formulir itu selesai.
Bel pintu kembali
berdenting ketika Sangkar melangkah keluar. Langkahnya melambat setelah
melewati etalase toko, ia menyadari satu hal yang terasa aneh. Selama hampir
sepuluh menit, ia hampir tidak mengajukan satupun pertanyaan. Ia hanya
mendengarkan. Malam itu, ia membuka buku terapinya untuk keenam kalinya. Namun
kali ini ia lebih lama menatap halaman kosong. Bukan karena tidak tahu harus menulis
apa. Justru karena terlalu banyak kata yang terlintas.
Akhirnya ia menulis satu di antaranya.
Kandang.
Minggu berikutnya
Sangkar kembali ke Lapak Lama. Bukan karena ingin membeli sesuatu. Ia hanya
ingin memastikan apakah kameranya sudah terjual.
Bel pintu kembali berdenting. Rahara bahkan tidak menoleh.
"Tunggu sebentar ya, Mas. Radio ini lagi ngambek."
Di atas meja kasir tergeletak sebuah radio kayu berwarna cokelat.
Tutup belakangnya terbuka. Rahara memegang obeng kecil sambil sesekali meniup
debu di sela-sela komponennya.
"Rusak?" tanya Sangkar.
"Iya. Padahal kemarin sempat bunyi. Barang tua memang gitu,
suasana hatinya sulit ditebak."
Ia memutar tombolnya sekali lagi. Tetap tidak ada suara.
"Tapi saya tetap nyalain."
"Untuk apa?"
"Biar ada yang diajak ribut."
Sangkar mengernyit.
Rahara tertawa kecil melihat ekspresinya.
"Kalau toko lagi sepi, saya suka ngobrol sendiri. Nah, kalau
radionya nyala, orang kira saya lagi dengerin siaran. Padahal mah lagi
ngoceh."
Sangkar mengangguk pelan. Ia tidak tahu mana yang bercanda dan
mana yang sungguhan.
Ia datang lagi
seminggu kemudian. Lalu seminggu setelahnya. Kadang hanya bertanya apakah
kameranya sudah terjual. Kadang membeli kaset lama yang bahkan tidak memiliki
pemutar di rumahnya. Pernah juga pulang membawa sebuah cangkir enamel hanya
karena Rahara bersikeras mengatakan kopi akan terasa lebih enak diminum dari
sana.
"Nggak ada bedanya, Ra" kata Sangkar.
"Mas sudah coba?"
"Belum."
"Nah, berarti jangan menyimpulkan dulu."
Percakapan mereka selalu dimulai dari barang-barang yang ada di
toko, lalu berakhir di tempat yang berbeda. Sebuah mesin tik tua mengingatkan
Rahara pada pamannya yang pernah bercita-cita menjadi penulis tetapi malah
membuka bengkel. Jam dinding yang berhenti di angka tiga membuatnya bercerita
tentang pelanggannya yang bersikeras meminta jam itu tidak diperbaiki karena
jarumnya berhenti tepat ketika anaknya lahir. Bahkan sebuah kursi
goyang yang salah satu kakinya lebih pendek menjadi cerita tentang nenek yang
setiap sore duduk di teras sambil mengupas mangga. Rahara seolah memiliki
cerita untuk hampir semua barang.
Atau mungkin sebaliknya.
Ia selalu menemukan barang untuk setiap cerita. Sangkar jarang
membalas lebih dari beberapa kalimat. Anehnya, Rahara tidak pernah terlihat
keberatan. Perempuan itu tak membutuhkan lawan bicara yang pandai berbicara. Ia
hanya membutuhkan seseorang yang tidak buru-buru pergi.
Beberapa kali Sangkar membantu mengangkat lemari, menurunkan
koper, atau merapikan buku yang hampir roboh, meski tak pernah diminta.
Semuanya terasa begitu biasa hingga Sangkar tidak menyadari satu kebiasaan
perlahan menghilang.
Tak lagi berbicara dengan orang asing.
Akhir bulan,
Sangkar kembali duduk di ruang praktik psikiaternya. Buku bersampul hijau itu
kembali berpindah tangan. Psikiaternya membuka beberapa halaman pertama.
Pulang.
Besok.
Sabar.
Tunggu.
Kandang.
Ia mengangguk pelan, lalu membalik halaman berikutnya. Tangannya
berhenti di halaman yang dipenuhi satu nama.
Rahara.
"Kamu berhenti menemui orang asing ya?"
Sangkar menggeleng.
"Lalu?"
“Bagaimana seorang lelaki bisa menghindari percakapan dengannya?”
kata Sangkar dalam hati.
Ia ingin menyangkal. Mengatakan bahwa semua ini hanya bagian dari
tugas. Bahwa Rahara masih ia anggap orang asing, karena Sangkar masih belum
seutuhnya mengenal Rara.
Seminggu
kemudian, handphone Sangkar berdering. Nomor yang muncul tidak
tersimpan, tetapi ia mengenali suara itu sebelum lawan bicaranya menyebut nama.
"Kameranya laku, Mas."
Rahara terdengar berusaha terdengar ceria, meski ada jeda kecil
setelah kalimat itu.
"Selamat, ya."
Sore harinya Sangkar datang ke Lapak Lama. Rahara sudah menyiapkan
amplop cokelat berisi hasil penjualan kamera. Ia menyodorkannya sambil
tersenyum.
"Titipannya selesai."
Sangkar menerimanya, pandangannya berkeliling pelan. Rak-rak itu
nyaris tidak berubah sejak pertama kali ia datang.
"Ada yang ketinggalan, Mas?" tanya Rahara.
Sangkar menggeleng.
"Radionya masih belum bunyi?"
"Ah itu.., masih."
"Kenapa nggak diganti?" Ia mengangkat bahu.
Rahara mengusap debu di atas radio itu dengan telapak tangannya.
"Kasihan."
"Kalau diganti, nanti dia ngambek."
Rahara terkekeh pelan sebelum melanjutkan,
"Lagian, kameranya Mas aja saya temenin berbulan-bulan sampai
laku. Masa radionya ditinggal." Ia tertawa kecil, seolah baru saja
mengatakan sesuatu yang biasa.
Entah kenapa, Sangkar ikut tersenyum.
Bel pintu kembali berdenting ketika Sangkar melangkah keluar. Rak
kaca tempat kameranya dulu dititipkan kini kosong. Seharusnya tidak ada lagi
alasan baginya untuk kembali. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan halaman
toko itu, ia sudah lebih dulu bertanya dalam hati kapan bisa datang lagi.
Minggu
berikutnya, tanpa rencana, Sangkar kembali melewati jalan yang sama dan baru
menyadarinya ketika bel pintu kembali berdenting.
"Oh," Rahara mendongak dari balik meja kasir. "Mau
nitipin barang lagi, Mas?"
"Nggak."
"Berarti beli cangkir lagi?"
Sangkar menggeleng.
"Radio?"
"Nggak juga."
Rahara menyandarkan kedua sikunya di meja, lalu menatap Sangkar
beberapa detik.
"Terus Mas kandang burung ini datang mau ngapain?"
Pertanyaan itu terdengar seperti candaan.
Anehnya, Sangkar benar-benar tidak punya jawaban.
Ia hanya berdiri di sana, memperhatikan Rahara yang kembali sibuk
membungkus sebuah teko emas yang baru pelanggan beli.
Mereka mengobrol
seperti biasa. Tentang seorang bapak yang menawar terlalu rendah. Tentang jam
dinding yang tiba-tiba kembali berdetak selama lima menit sebelum mati lagi.
Tentang hujan yang selalu membuat toko lebih sepi. Ketika Sangkar pamit pulang,
Rahara melambai sambil berkata,
"Hati-hati, Mas. Minggu depan jangan lupa mampir lagi."
Kalimat itu diucapkan begitu saja.
Seperti kebiasaan.
Namun sepanjang pulang, justru kalimat itulah yang paling lama
tinggal di kepala Sangkar.
Sore berikutnya
Sangkar kembali lagi. Dan minggu sesudahnya. Tidak ada lagi yang dititipkan.
Tidak ada lagi yang perlu diambil. Tetapi percakapan mereka tetap berlangsung,
seolah selalu ada sesuatu yang belum selesai meski tidak pernah mereka
rencanakan. Tanpa disadari, buku terapi itu ikut berubah. Halaman-halaman yang
dulu hanya berisi satu kata kini semakin jarang menemukan kata yang baru.
Sampai pada suatu malam, Sangkar membuka buku itu cukup lama. Namun
yang ia tulis justru sebuah nama.
Rahara.
Sejak hari itu,
Sangkar tidak lagi menghitung sudah berapa kali ia datang ke Lapak Lama. Kadang
sepulang bekerja. Kadang hanya karena hujan turun lebih cepat dari biasanya.
Kadang tanpa alasan yang benar-benar bisa ia jelaskan. Bel kecil di atas pintu
seolah mulai menghafal langkahnya.
"Sangkar."
Rahara selalu menyapa lebih dulu.
Entah sejak kapan ia berhenti memanggilnya "Mas".
Sangkar mulai hafal letak hampir semua barang di toko itu. Ia tahu
radio tua selalu berada di sudut dekat jendela. Kamera-kamera analog tersusun
di rak kaca sebelah kiri. Jam dinding yang tak lagi berdetak sengaja digantung
memenuhi tembok belakang, seolah-olah memilih berhenti pada waktunya sendiri.
Sesekali ia membantu mengangkat kardus. Sesekali mengganti bohlam
yang mati. Pernah juga memperbaiki engsel pintu yang berderit setiap kali
dibuka.
"Aku curiga sebenarnya Mas Sangkar datang buat kerja di sini,
deh."
Rahara tertawa kecil ketika melihat Sangkar sedang mengencangkan
baut rak yang longgar.
"Gratis lagi."
Sangkar hanya mengangkat bahu.
"Nanti lama-lama aku kasih seragam."
"Warnanya hijau?"
"Bukan."
"Terus?"
"Warna apa aja asal jangan sama kayak tembok. Nanti aku susah
nyari Mas."
Sangkar menggeleng pelan. Untuk pertama kalinya, ia tertawa tanpa
memikirkan apakah tawanya perlu. Percakapan mereka selalu berawal dari hal-hal
kecil, lalu melebar ke mana-mana. Rahara bisa bercerita tentang pelanggan yang
datang mencari piring, tetapi pulang membawa mesin tik karena teringat
kakeknya. Seorang nenek yang terus membeli cangkir yang sama karena selalu
pecah sebelum dipakai, atau koper tua yang telah tiga kali berpindah pemilik,
tetapi selalu kembali ke toko yang sama.
"Kadang aku mikir," kata Rahara sambil membersihkan debu
radio, "barang-barang ini sebenarnya bukan nggak laku."
Sangkar menoleh.
"Mereka cuma belum ketemu orang yang tepat."
Ia tidak langsung menanggapi.
Kalimat itu tinggal lebih lama daripada yang seharusnya.
Akhir
rehabilitasi datang tanpa terasa. Sangkar kembali duduk di ruang praktik yang
selama setahun terakhir selalu ia datangi. Buku hijau itu kembali berpindah
tangan. Psikiater membukanya sebentar, lalu tersenyum kecil.
"Aku rasa kita tidak perlu membahas halaman-halaman
sebelumnya."
Sangkar ikut melihat buku itu. Di sana masih ada kata-kata yang ia
tulis sejak awal. Pulang, Besok, Sabar, Tunggu,
Kandang. Lalu halaman-halaman setelahnya. Yang perlahan berubah menjadi
satu nama. Rahara.
Psikiaternya menutup buku itu.
"Hari ini tinggal satu halaman."
Ia menggeser buku itu kembali ke hadapan Sangkar.
"Kali ini tidak ada tugas."
Sangkar mengangkat kepala.
"Hanya satu pertanyaan."
Ruangan kembali sunyi.
"Apa satu kata yang ingin kamu tulis untuk dirimu
sendiri?"
Sangkar tidak langsung menjawab. Ujung pena-nya hanya menggantung
di atas halaman terakhir. Ia membalik beberapa halaman ke belakang.
Pulang. Ia teringat sopir
angkot yang bahkan tidak pernah mengetahui bahwa satu kalimat sederhananya
berhasil menetap di kepala seseorang.
Besok. Pedagang koran yang
menganggap berita hanya berganti tanggal.
Sabar. Penjahit yang
berkali-kali tertusuk jarum, tetapi tetap menyelesaikan setiap jahitan.
Tunggu. Seorang ibu yang
memilih percaya kepada anaknya, meski bus yang ditunggu terlambat berjam-jam.
Lalu halaman berikutnya.
Kandang. Sangkar tersenyum tipis. Ia baru sadar, kata itu bukan lagi
tentang namanya. Melainkan tentang dirinya sendiri. Ia pernah hidup di
dalamnya. Kemudian halaman-halaman setelahnya. Tidak ada lagi kata. Hanya satu
nama yang berulang.
Rahara. Ia memandangi nama itu
cukup lama. Lucu juga, pikirnya. Selama ini ia mengira sedang
mencatat orang lain. Padahal setiap halaman ternyata sedang mencatat
dirinya. Ruangan menjadi hening. Psikiater itu tidak menyela. Seperti
biasa, ia membiarkan Sangkar menemukan jawabannya sendiri.
"Aku dulu berpikir..." Sangkar akhirnya bersuara.
"Kalau hidupku selesai."
"Makanya nama toko itu selalu terasa aneh buat saya."
"Lapak Lama?" tanya psikiater.
"Iya."
Sangkar tersenyum kecil.
"Orang-orang datang ke sana buat melepas barang yang menurut
mereka sudah selesai." Ia berhenti sejenak.
"Padahal barangnya cuma pindah tangan."
Kalimat itu menggantung beberapa saat.
"Yang berubah bukan barangnya, tetapi pemiliknya." Untuk
pertama kalinya sejak terapi dimulai, psikiater itu tersenyum lebih lebar.
"Begitu juga hidup?"
Sangkar mengangguk.
Ia melihat kembali halaman terakhir. Tangan yang dulu gemetar
ketika menerima buku itu kini bergerak tenang. Penanya menyentuh kertas. Ia
menulis perlahan.
Mulai.
Sinopsis:
“Bagaimana seorang lelaki bisa menghindari percakapan dengannya?” Setelah gagal mengakhiri hidupnya, Sangkar yang yang merasa hidupnya telah selesai harus menjalani rehabilitasi selama satu tahun dengan satu tugas sederhana: berbicara selama lima menit dengan orang asing, lalu menuliskan satu kata.
Bagi Sangkar, setiap percakapan hanyalah bagian dari tugas yang harus diselesaikan, di antara banyaknya wajah yang datang dan pergi, Rahara menjadi satu-satunya orang yang membuat lima menit terasa tak pernah cukup. Tanpa sadar, Sangkar berhenti mencari orang baru, dan mulai kembali ke tempat yang sama. Yang tidak pernah diketahui Rahara, setiap percakapan mereka selalu berakhir di buku terapi Sangkar.
Semakin lama, halaman-halaman buku terapinya tak lagi dipenuhi kata-kata, melainkan sesuatu yang seharusnya tidak pernah ia tulis.
Terang Benderang
Bak Mentari,
Tidak ada komentar:
Posting Komentar