Gemuruh hatinya tak pernah benar-benar reda.
Ia bergema di rongga dada.
Luka memang pandai menua,
namun tak pernah benar-benar lupa,
kepada siapa ia pernah bermula.
Terima kasih…
atas makian yang engkau tanamkan dalam diriku.
Mereka mengira kata-kata adalah akhir,
padahal ia hanyalah benih,
yang akan tumbuh menjadi hutan keteguhan.
Mereka memanggiku “Si Gagal”
seolah masa depanku telah selesai dituliskan.
Tatapan mereka lebih tajam daripada kenyataan,
dan suaranya terus berputar di kepalaku,
berusaha meyakinkanku bahwa aku tak pantas menang.
Aku ingin melawan,
tetapi lawanku tak memiliki rupa.
Ia bernama waktu,
dan garis ‘start’ yang tak pernah berpihak.
Aku mencoba berlari,
sementara dunia sibuk menghitung,
berapa kali aku tersungkur.
Ratusan kali aku bertahan untuk tidak hancur
Ratusan kali pula aku waspada
agar tak jatuh pada lubang yang sama.
Kutata kembali harapan
yang pecah di lantai kenyataan.
Hari ini aku berdiri
Di waktu yang tepat,
bukan waktu yang cepat.
Luka di dadaku tak lagi mencuat,
ia telah menjelma sebagai penunjuk arah.
Dan setiap goresan yang tertinggal di sepanjang perjalanan
ku sebut Milestone, tonggak pencapaian
yang memapahku dalam menggapai Impian.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar