Senin, 29 April 2024

SEKAR Edisi April 2024 | INSTRUMEN DUKA YANG BERDENTING Karya Intan Suci N. S.


INSTRUMEN DUKA YANG BERDENTING

Karya: Intan Suci N. S.


Kupetik renjana berwarna kelabu

Kuminum dukanya yang mengerat kalbu

Malam yang redam,langit yang diam

Kusuguhkan secangkir dama untuk sekedar sapa

Tapi apa?

Kau hunuskan lenggana berteman mala

Aksaku tak lagi menangkap senyumnya

Tiada cela yang hadir dalam logika

Bagiku kau tercipta sempurna

Tiada penyesalan dalam setiap keputusan

Karena mencintaimu, adalah patah hati yang paling kurindukan

Segenap pengharapanku telah usang tertikam waktu

Tergulung ombak yang menerpa

Perahuku kandas ditengah karang yang lenggana melihatku berlayar bebas

SEKAR Edisi April 2024 | Sang Bintang dan Monolognya Karya Diva Asadia

 Sang Bintang dan Monolognya

Karya: Diva Asadia


“Apa cantiknya diriku?” Sang bintang bertanya. Namun hanya sunyi senyap yang jadi jawabnya. “Sinarku ini, cukup terangkah ia?” Sang Bintang mengedarkan pandangan ke luasnya angkasa lepas, mencari jawaban atas pertanyaan yang tak kunjung ia temukan jawabannya.

Matanya lantas terpaku kepada Sang Bulan, permata angkasa yang cahayanya diberikan langsung oleh Matahari. Pikirannya berkelana, pantaskah ia bersanding dengan sang mentari malam? Pantaskah ia berada di sini? “Aku hanya setitik cahaya kecil, yang bahkan alasan keberadaanku sendiri pun aku tidak tahu.” Monolognya menggaung pada luasnya angkasa lepas. Membangunkan Sang Langit yang lantas tersenyum kepadanya.

“Kau tahu,” sapa Sang Langit, “Dirimu pantas.”

Sang Langit lantas melanjutkan.

“Cahaya yang sinarnya benderang—yang kau dapat bukan dari siapapun tapi dirimu sendiri, sudah lebih dari cukup untuk membuat dirimu pantas. Konstelasimu juga cantik. Sangat cantik. Lalu apalagi yang kau khawatirkan, Bintangku?” 

Sang Bintang masih termangu diam. Sang Langit lantas mengucap kalimat yang membuat Sang Bintang akhirnya menemukan jawaban atas semua pertanyaan dalam monolognya. “Kau tahu, Bintangku?” Sang Bintang mengangkat kepalanya ragu. “Seluruh semesta tidak perlu tahu apa yang kuucapkan tadi untukmu mengerti betapa cantik dan indahnya dirimu.”

Setelahnya, untuk sepanjang malam, Sang Bintang memeluk erat pekatnya langit malam dengan kerlapnya yang sebelumnya sempat redup, tapi—terima kasih kepada Sang Langit—itu tidak padam. Dan tidak akan pernah padam.

Rabu, 22 November 2023

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Seratus oleh Mohamad Hanif

 Seratus

Sebuah puisi oleh Mohamad Hanif

 

Di tengah kehidupan yang berliku

Terjalin tali silaturahmi yang kuat

Saat duka dan suka kita lalui

Saling bantu, jaga hati yang tetap terjaga

 

Terkadang, dalam lembaran kehidupan

Ada saatnya kita butuh pertolongan

Agar silaturahmi tidak terputus

Pinjam dulu seratus, sebagai tanda kepercayaan

 

Sejuta doa diiringi senyuman tulus

Dalam seratus ribu yang kita pinjamkan

Berharap, di balik pinjaman sederhana ini

Terukir kebersamaan dan kasih sayang tanpa batas

 

Jadi, di dalam setiap lembar seratus

Terpatri hubungan tulus dan erat

Agar silaturahmi tidak terputus

Pinjam dulu seratus, bersama kita melangkah

 

Mohamad Hanif, 7 November 2023 

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Ketenangan Hati oleh Salsabilah Amalia Putri

 Ketenangan Hati

Sebuah puisi oleh Salsabilah Amalia Putri

 

Langit tahu kapan dia akan mendatangkan matahari

Dan kapan dia akan mendatangkan hujan

Matahari dan hujan sama-sama indah

Matahari pergi dengan senja

Hujan datang dengan kerinduan

 

Sama seperti dirimu

Datang dengan penuh harapan

Harapan untuk terus bersama

Nyatanya, kamu datang hanya sesaat

Pergi tanpa sebab yang pasti

Meninggalkan rindu yang tak kunjung usai

 

Untuk ketenangan hati,

Aku berhenti memikirkan siapa pun itu

Termasuk dirimu

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Ingat, Jangan Sampai Tuhan Tahu! oleh Dzakirah Najyala

Ingat, Jangan Sampai Tuhan Tahu!

Sebuah puisi oleh Dzakirah Najyala

 

Kampret, Tuhan biarkan aku jatuh cinta lagi!

Bangsat bangsat bangsat!

Kenapa tidak gita puja dan gelang kaki saja yang dituliskan untukku?

Sama sekali tidak berkeberatan nadiku untuk berdenyut ‘hanya’ dalam arti keharusan

Aku cukup!

Untuk hidup, hidup dan hidup!

Persetan dengan janji-Mu soal ‘itu’

Tak sudi untuk kutulis, maaf saja

 

Kulitku

Yang kau rancang untukku itu

Cukup elok untuk kunikmati sendiri

Patut di cermin, tak kurang satu pun

Sudah sampai di situ aku berencana untuk membagi ‘Kasih’

Yaitu dengan-Ku sendiri!

 

Persetan!

Sial,

Jangan sampai Tuhan tahu

Daging ini pun tunduk pada gelenyar aneh

Aneh sekali!

Pokoknya, jangan sampai Tuhan tahu!

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Alam Sang Pengukir Senyuman oleh Gita Ayu Cahyani

 Alam Sang Pengukir Senyuman

Sebuah puisi oleh Gita Ayu Cahyani

 

Terlihat hamparan laut yang luas dalam cakrawala

Terdengar deburan ombak yang begitu bahagia

Pertemuan yang indah antara laut dan darat

Menciptakan seukir senyuman yang begitu hangat

 

Ukiran Tuhan yang begitu nyata

Pahatan alam yang begitu memesona

Senyuman hadir di kala deburan angin yang menyapa

Kulepaskan semua pikiran yang menjadi beban dengan menatap awan

 

Menikmati ciptaanmu sungguh mengukir senyuman dan ketenangan 

Kulangitkan semua harapan dengan menadahkan tangan

Dengan berharap semua harapan menjadi kenyataan

Sungguh indah lukisanmu, Ya Tuhan

SEKAR Edisi Bulan November 2023 | Waktu, Uang dan Usia oleh Azlina Alif

 Waktu, Uang dan Usia

Sebuah puisi oleh Azlina Alif

 

Usia dan masa

Keterlibatan yang setara

Wujud ambisi manusia

Tertulis beberapa kata dalam agenda

Ikut serta dalam usaha dan doa

 

Tak ada kegagalan yang diharapkan

Di mana tujuan yang berakhir kekecewaan

Bukan perkara mudah menggapai impian

 

Andai setiap jalan tak ada batasan

Setiap kesempatan tak ada ujung kematian

Semua orang akan memulai tanpa keraguan

Meski berkali-kali jatuh dalam kegagalan

 

Remaja akan tua

Impian banyak tertunda

Bahagia belum dirasa

Masa telah tersita

 

Lantas harus bagaimana

Apakah semua sia-sia

Buat apa mencoba

Jika tak ada hasil nyata

 

Sendi berfungsi sempurna

Mata menjadi jendela dunia

Akal dan hati  bekerja sama

Berjuang meski menahan beban lara

Muda memang sekali

Kesempatan datang berkali-kali

Kemauan ada dari diri sendiri

Motivasi akan banyak dijumpai

 

Hidup suatu pilihan

Coba dan lakukan

Sekali dua kali dalam kegagalan

Atau bertahan dalam ketidakpastian

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...