Senin, 28 April 2025

SEKAR Edisi April 2025 | Elegi karya Erika Dwi Sabrina Putri

 Elegi

Karya Erika Dwi Sabrina Putri


Setiap sudut kujelajahi perlahan

Tumpukan yang terus kuhindari, kini memanggil tiada henti

Sentuhan lembut, pilu merenggut menaungi


Simfoni itu terdengar lagi

Menggema, beradu, hampa

Tetesan basah jatuh tak beraturan

Ah, apa ini? 

Dekapan kuberikan, pada bingkai kelabu kusam berdebu


Mereka bilang, sembuhlah bersama waktu

Salah. Siapa si waktu? Penyembuh?

Apa yang bisa ia sembuhkan?

Elegi tentangmu, takkan pernah sembuh

Biarkan patah ini merengkuh, aku terbiasa. Ingin terbiasa.


SEKAR Edisi April 2025 | Yang Tak Sempat Menjadi karya Donabella Shefa Aulia

 Yang Tak Sempat Menjadi

Karya Donabella Shefa Aulia


Jatuh terduduk dalam kegelapan, 

Yang entah sejak kapan menelan pikiranku. 

Sembari bersandar pada dinding yang dingin, 

Namanya masih menggema, namun langkahnya entah dimana.

Kupeluk egoku, sambil menatap punggungnya menjauh.

Aku mendorongnya pergi,

Menghancurkan inginnya berkali kali.

Kisah ini sudah selesai, 

Jauh sebelum ki-ta punya kendali.


SEKAR Edisi April 2025 | Sejak dalam Sajak karya Abdullah Al Halimir Rosyid

 Sejak dalam Sajak

Karya Abdullah Al Halimir Rosyid


Pernah saja

Meraba cerita tua

Halaman lama arcapada

Menghimpun pikiran semata

Menggaungkan memori rasa


Teringat lembaran pertama

Telah redup pelita jiwa

Telah kabur hasrat tingkahnya


Ia ringkas yang di ringkus masa

Ia tubuh yang terbunuh

Ia using yang terasing

Ia tinggal yang tertanggal

Ia ada

Dari aba sang pencipta

SEKAR Edisi April 2025 | Dunia yang Tak Lagi Sama karya Windy Aliffia

 Dunia yang Tak Lagi Sama

Karya Windy Aliffia


Pernah,
dunia ini terasa seperti rumah,
tempat hati bersandar tanpa curiga,
di mana tatapan tak selalu berarti bahaya,
dan senyuman terasa tulus tanpa rahasia.

Kini,
setiap wajah adalah teka-teki,
setiap tangan yang terulur
perlu ditimbang: tulus atau ada niat tersembunyi?

Jalanan tak lagi jalur yang aman untuk pulang,
tapi ladang teror yang tak pernah tenang.

Setiap jejak terasa berat, dipenuhi kecemasan,
di mana kedamaian hanya kenangan yang terlupakan.


Kini dunia berjalan dengan dada waspada,
langkah kecil pun harus dibarengi doa.
Pagi tak lagi penuh harap,
malam tak lagi jadi tempat bernaung tenang.


Dunia dibakar nafsu yang menggila,
ketika tangan terpelajar jadi pencabik luka.

Bukan gelandangan, bukan bayangan,
tapi mereka yang duduk di barisan gelar dan kebanggaan.


Langit masih biru,
tapi cahayanya tak menyentuh jiwa.
Bumi tetap berputar,
namun manusia kehilangan arah dan makna.


Dunia ini gelap.
Bukan karena matahari tenggelam,
tapi karena hati manusia mati perlahan.
Keadilan ditukar tawa,
rasa aman tinggal legenda.

SEKAR Edisi April 2025 | Sunyi yang Dipenjara karya Fildza Shabrina Dias Alifiyah

 Sunyi yang Dipenjara

Karya Fildza Shabrina Dias Alifiyah


Di balik dinding yang bisu nan kelam,

Tersimpan jerit tak berani terang,

Lidah dikunci, hati disiram malam,

Kebenaran mati dalam tenang.


Langit bicara lewat angin yang patah,

Daun-daun gugur tanpa suara,

Setiap kata jadi dosa yang basah,

Di bawah penguasa yang tuli pada jerit lara jelata.


Namun bara tak kan padam selamanya,

Meski dibungkam, nurani menyala,

Suatu saat, suara akan meraja,

Membelah sunyi, menuntut cahaya.

SEKAR Edisi April 2025 | Kompas Tanpa Arah karya Lana Rahmatin

 Kompas Tanpa Arah

Karya Lana Rahmatin


Sinopsis


Dalam kisah Kompas Tanpa Arah, Nara memulai perjalanan menuju pelatihan penyintas—bukan hanya untuk belajar bertahan hidup, tapi untuk mencari dirinya sendiri di tengah gemuruh dunia yang tak selalu pasti.


Di tengah kegiatan yang melelahkan dan materi yang menguras pikiran, Nara bertemu seorang lelaki misterius bernama Ara-seseorang yang tak banyak bicara, tapi mampu membuat kehadirannya bermakna. Bukan pahlawan, bukan penolong, Ara hadir seperti kompas diam: tidak menunjuk arah dengan jelas, tapi cukup menjadi cermin bagi Nara untuk bertanya—apa ia sungguh sedang mencari jalan pulang, atau justru sedang mencari alasan untuk tetap pergi?


Melalui pertemuan-pertemuan singkat dan keheningan yang sarat makna, Kompas Tanpa Arah adalah cerita tentang menemukan arah bukan di luar, tapi di dalam diri sendiri. Sebuah transit singkat yang meninggalkan jejak panjang dan mungkin, awal dari perjalanan yang sesungguhnya.


Episode 1: Transit di Titik Temu


Malam itu, Nara berdiri di depan stasiun, menggenggam ransel yang lebih berat dari biasanya. Bukan karena isinya, tapi karena harapan dan rasa takut yang berdesakan di dalam pikirannya. Ia sedang dalam perjalanan menuju pelatihan penyintas, misi singkat di kota asing yang konon katanya akan "mengubah cara pandang terhadap hidup".


Pelatihan ini bukan cuma soal teknik bertahan atau materi tanggap darurat. Bagi Nara, ini seperti isyarat semesta untuk keluar dari ruang nyaman dan menghadapi ketidakpastian.


Dan di tengah barisan orang-orang baru dengan semangat menyala, ia bertemu seseorang. Lelaki itu seperti jeda dalam keramaian: tenang, tapi penuh tanda tanya. Bukan karena kata-katanya, tapi karena caranya memperhatikan sekitar. Namanya? Belum penting. Karena dalam cerita ini, ia bukan tokoh utama—ia hanyalah cermin.


Cermin yang membuat Nara bertanya, "Apa benar aku sedang mencari jalan pulang, atau sebenarnya sedang mencari alasan untuk tetap pergi?”


Episode 2: Lelaki Penjaga Peta


Hari kedua pelatihan dimulai lebih awal dari dugaan. Nara masih menggeliat malas saat adzan subuh membangunkan Nara. Usai sholat, terdengar aba-aba untuk berkumpul. Tanpa sempat berpikir panjang, ia menyeret kakinya ke lapangan, tempat semua peserta sudah berkumpul.


Di sana, untuk pertama kalinya, ia memperhatikan lelaki itu lebih dekat. Ia tidak banyak bicara, tapi matanya tajam membaca situasi. Saat semua sibuk mengeluh soal panas dan lelah, ia diam, sesekali hanya tersenyum tipis saat diminta membantu.


Kegiatan lapangan selesai, dan sekarang mereka berpindah ke ruang kelas di lantai atas—tempat di mana kepala mulai bekerja setelah tubuh dipaksa lelah.


Materi demi materi lewat, sebagian masuk ke kepala, sebagian lagi hanya numpang lewat.


Saat pemateri sedang menyiapkan sesi selanjutnya, peserta diberi waktu istirahat singkat. Tanpa pikir panjang, Nara keluar ke balkon kecil yang menghadap langsung ke atap-atap kota. Angin sore menyapu rambutnya pelan, dan untuk pertama kalinya sejak pagi, ia bisa bernafas tanpa tergesa.

“Anginnya enak, ya,” suara itu datang dari samping, ringan, nyaris menghilang di antara suara motor dan daun trembesi.

Nara menoleh. Lelaki itu berdiri beberapa langkah darinya, tangan masuk ke saku, santai tapi nggak sok kenal.

“Baru sadar kamu dari tadi ada terus,” katanya sambil tersenyum.

“Lho memang ada,  kamu juga dari tadi ada kan?” Nara balas menatap, setengah geli.


Hening sebentar. Lalu cowok itu buka suara lagi.

“Namamu siapa, kalau boleh tahu?”


Nara melirik singkat, lalu menjawab, “Nara.”

Cowok itu mengangguk pelan.

“Aku Ara.”

 

“Mirip.” satu kata yang terlintas dibenak Nara. Tapi ia tidak  mengucapkannya. Hanya tersenyum tipis, lalu kembali menatap langit kota yang senja-senjanya makin sendu.


Ara. Nama yang terdengar ringan, tapi menggema lama di telinganya.

Seperti arah. Seperti sesuatu yang Nara bahkan tak tahu sedang ia cari, tapi tiba-tiba terasa dekat. 


Dan entah bagaimana, sejak percakapan singkat di balkon sore itu, langkah-langkah Nara terasa tidak lagi seacak sebelumnya. 


Bukan karena Ara banyak bicara. Bukan juga karena ia menunjukkan perhatian yang istimewa. Tapi karena kehadirannya terasa seperti penunjuk arah yang tak memaksa -  Tenang. 


Ia tak menunjuk jalan dengan pasti. Tapi caranya berdiri di samping -tanpa terburu, tanpa bising- membuat Nara percaya bahwa 'arah itu ada' kalau kita mau diam sejenak dan melihat.


Rabu, 26 Maret 2025

SEKAR Edisi Maret 2025 | Us karya Nasya Falasarika

 Us

karya Nasya Falasarika


    “Ngapain?” aku menatap tangannya yang dengan sengaja menyentuh tanganku. Ia masih saja cengengesan tanpa rasa sungkan, jadi kuhempas saja lengannya dengan keras. “Jangan begitu, bikin malas saja!” dia masih tampak tenang-tenang saja tanpa mengurangi senyumannya. Aku pergi dari hadapannya dan menuju bangku yang lain, menagih uang iuran dari teman-teman sekelasku. Ya, aku seorang bendahara, sejak SMP jabatanku menetap di sini, dan aku menjadi lumayan muak. Teman-teman biasa memanggilku Rin, dan yang barusan aku marahi itu adalah Adam, seorang siswa paling menjengkelkan dan paling nakal yang aku tahu. Aku membencinya, kalian harus tahu itu. Dan itulah yang seharusnya benar-benar aku yakini, hingga kemudian sesuatu berubah dan aku menyesal pernah mengenalnya.

            Hari itu seperti biasa aku berangkat ke sekolah dengan menaiki sepeda ontelku, dan sampai di sekolah pukul 06.40, 20 menit lagi sebelum bel tanda pelajaran pertama dimulai. Aku bergegas menuju kantin dan membeli roti, ibuku tak sempat memasak dan aku belum sarapan. Di sana aku bertemu dengan teman-temanku yang datang lebih awal, aku menyapa mereka dan kami mengobrol santai. Beberapa saat berlalu dan kami memutuskan untuk segera kembali ke kelas sebelum bel berbunyi. Di kelas, seperti biasa sudah banyak teman-teman yang duduk di bangku masing-masing dan bergosip. Mataku memindai seisi kelas, dan tak kulihat batang hidung Adam, kemana dia? 2 menit lagi bel akan berbunyi dan bahkan tasnya belum berada di bangkunya. Ia memang siswa yang nakal dan tidak disiplin, lagipun kenapa aku sibuk memikirkannya.

            Tanpa kuduga, bel segera berbunyi dan guru Bahasa Indonesia kami sudah beranjak masuk ditandai dengan suara derap langkah kakinya. Saat sang guru muncul, ada seseorang dibelakangnya, itu Adam. Kalian tak perlu heran karena itu hal yang biasa. Biasanya juga guru-guru yang mengajar di kelas kami akan terlebih dahulu menuju kantin di pojok dan menarik paksa Adam dan kawan-kawannya dari sana. Seperti itu pribadi Adam, makanya aku tidak menyukainya, sangat berkebalikan denganku yang sangat menghargai waktu dan pembelajaran. Tampaknya karena orang tuanya kaya ia tak berminat untuk belajar dan sukses. 

            Kelas hari itu berakhir dengan seru, pasalnya pelajaran terakhir diisi oleh salah satu guru muda yang tentunya sangat asyik dan penuh semangat. Saat bel tanda pembelajaran telah berakhir, kudengar seruan rendah dari teman-teman, menyayangkan bahwa waktu belajar dengan guru itu terasa sangat sebentar. Aku dan teman-teman segera menuju parkiran dan mengeluarkan sepeda kami, pada zaman itu hampir semua siswa sekolah ini menaiki sepeda, beberapa lagi diantar orang tua, dan sisanya naik angkutan umum. Tampak sangat menyenangkan.

            Dan seperti itulah hari-hariku dan teman-temanku berjalan, kami sibuk belajar dan menikmati kehidupan hingga tidak terasa ujian kenaikan kelas sebentar lagi akan berlangsung. Setelah pulang sekolah banyak siswa sibuk menanyai teman-temannya yang lebih pintar untuk mengajak mereka belajar bersama. Dan aku salah satu korbannya, namun sejujurnya aku tak mampu jika belajar bersama mereka. Karena nyatanya beberapa dari mereka tak benar-benar mau belajar, hanya menumpang bersantai dan meyakinkan orang tua mereka bahwa mereka benar-benar memprioritaskan ujian kenaikan kelas ini. Sudah beberapa siswa yang aku berikan alasan dan menolak belajar bersama mereka. Dan akhirnya aku bisa pulang dengan damai untuk mempersiapkan ujianku dengan lebih nyaman. Ujian kenaikan kelas tinggal sepekan lagi dan aku sudah merasa mantap akan persiapanku. Tetapi ternyata kehidupanku tak akan berjalan semulus itu, di parkiran sekolah kutemui Adam berdiri tepat di samping sepedaku sambil memegang setirnya seakan-akan ia pembalap. “Ngapain?” tanyaku dengan nada sedikit tinggi, ia terkejut dan menoleh kepadaku sambil nyengir. “Eh kamu sudah keluar Rin, jadi gini...” aku diam saja, menunggu ia menyelesaikan ucapannya tapi ia hanya diam saja. “Cepat, ada apa?” ucapku jengkel. Dia beranjak mendekatiku dan dengan cepat menjatuhkan tubuhnya dan memohon kepadaku dengan kedua tangan di depan dada, “Aku mau kita belajar bareng, mau ya?” aku tak mampu mencerna apa yang baru saja terjadi. Ini jam kepulangan sekolah dan seluruh siswa tengah berada di parkiran ini, lalu adegan apa yang sedang kami pertontonkan ini? Mulai banyak yang memperhatikan kami dan menyerukan sesuatu yang tak kumengerti, aku yakin mereka salah paham terhadap kejadian ini jadi lekas kutarik lengan Adam dan membuatnya berdiri. “Apa-apaan sih, Dam? Kamu ngapain?” tanyaku, ia hanya tampak tersenyum tipis dan kemudian mengatakan hal yang (lagi-lagi) tak kumengerti. Aku capek meladeninya jadi ku-iya-kan saja apa yang ia tawarkan.

            “Oh ini Rina ya? Sini masuk, sebentar, Tante panggilkan Adamnya dulu ya”, wanita paruh baya itu tampak cantik sekali, mungkin kecantikannya yang membuat Adam juga tampan. Ah apa-apaan pikiranku ini. Selagi menunggu Adam keluar, aku duduk di sofa dan melihat-lihat sekeliling ruangan, banyak foto keluarga Adam, tapi aku tak menemukan satupun foto Adam yang menggantung di dinding. Sedikit membuatku bertanya-tanya tapi aku lekas berhenti memikirkannya saat melihat Adam keluar dan menyapaku. Aku sedikit kaget melihat tampilannya yang mengenakan baju rumahan, pasalnya aku hanya bertemu Adam di sekolah. Kami tidak dekat. Setelah cukup basa-basi, kami langsung belajar selama tiga jam, disela-sela itu Tante Windi, ibu Adam datang sesekali untuk menyuguhkan beberapa camilan dan minuman. Tepat pukul empat sore aku berpamitan dan berjanji untuk datang setiap hari selama lima hari ini. Ya, bukannya aku yang memutuskan untuk datang setiap hari, tapi ibu Adam yang memintaku membantu anaknya ini agar nilai ujiannya tidak terlalu buruk. Aku paham apa yang ibunya pikirkan.

            Jadi selama lima hari berikutnya kami belajar bersama di rumah Adam, dari pertemuan-pertemuan itu aku mengenal Adam yang berbeda. Ia tampak sangat kalem saat berada di rumah, apalagi saat Tante Windi menemani kami di akhir belajar. Adam yang ini jauh lebih baik. Sementara di sekolah ia masih menjadi pengganggu yang suka menjahiliku, namanya sering kudengar di pengeras suara karena panggilan dari guru BK. 

            Ujian kenaikan kelas pun tiba, aku dan seluruh siswa lainnya sibuk dengan urusan kami masing-masing, tapi tak lupa setiap habis ujian kami pasti saling menanyakan jawaban untuk ujian tadi. Hal itu tak berhenti sampai ujian kenaikan kelas akhirnya selesai. Masa tenang alias liburan dimulai, dan kami semua bersiap pindah ke kelas 11. 

            Perlu kalian tahu bahwa di sekolah kami tidak ada aturan rolling siswa, artinya siswa yang sekelas dari kelas 10 akan terus bersama sampai kelas 12. Dan itu sejujurnya cukup membosankan. Bayangan aku harus selalu bertemu tatap dengan Adam sudah membuat bulu kuduk merinding.

            Di kelas 11 aku mulai lebih serius lagi dalam memahami pelajaran, karena aku sudah memiliki rencana untuk kuliah di jurusan pendidikan Bahasa Indonesia. Aku suka mengajari teman-teman sekelasku, maka dari itu aku sangat bersemangat untuk menjadi seorang guru. Kejahilan Adam masih terus berlanjut, tampaknya ia benar-benar bodo amat dengan pelajaran sehari-hari tapi sangat mementingkan nilai ujian. Aku tak mampu mendalami pikirannya, aku tak mampu memahami bagaimana ia bisa bersikap dan bertingkah seperti itu. 

            “Dasar pendek haha”, kali ini tingkah jahilnya sudah membuatku sangat lelah batin dan raga, jadi aku memutuskan kembali ke bangkuku. Biarlah buku yang ditangannya itu ia kembalikan sendiri padaku. Harusnya ia malu jika bersemangat sendirian. Tapi aku salah, ia malah menghampiriku  dan berdiri disampingku sambil tetap mengangkat bukuku tinggi-tinggi, menyuruhku menggapainya. Ya, dia memang lumayan tinggi, tapi aku juga tak terlalu pendek, 160 cm itu sudah tinggi bagi perempuan. Ia saja yang tingginya keterlaluan. Hari-hariku selama di kelas 11 selain belajar adalah meladeni kejahilan Adam yang anehnya selalu ia lakukan padaku.

            Hari-hari kulalui dengan bersemangat, Adam juga tampak lebih bersemangat dalam menjalani kenakalan dan kejahilannya. Namanya semakin sering terdengar dari pengeras suara. Kejahilannya kepadaku juga semakin beragam, kali ini ia lebih sering menggodaku karena teman-teman sekelas mulai menjodoh-jodohkan kami. Buktinya hari ini, saat istirahat ia sibuk memandangiku yang tengah menulis -melengkapi catatanku. Posisinya tepat di depanku seraya memangku dagunya. Aku yang merasa risih tentu saja berusaha membuatnya pergi, namun itu tak mempan, tak pernah mempan. Ia akan pergi jika ia memang mau. Dan tentu saja, teman-teman yang masih berada di kelas mulai meneriaki kami, hingga salah satu teman Adam mulai mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal. “Adam itu suka sama kamu, Rin. Pacaran gih,” ucapnya sambil terkekeh. Aku tidak menggubrisnya, sudah sering kudengar teman-teman sekelas mengatakan hal serupa. Aku hanya menatapnya dengan kesal. Adam masih membeku dengan posisinya yang menatapku, aku yang mulai merasa jengah, akhirnya memilih untuk menutup buku catatanku dan beranjak keluar kelas, bel pertanda pembelajaran dimulai akan terdengar sekitar enam menit lagi, masih sempat untuk membeli roti di kantin. Tapi, Adam dengan santainya masih mengikuti hingga ke kantin bahkan sampai aku kembali ke kelas. Aku sudah tak sanggup lagi, kubiarkan ia berlaku sesukanya.

            Hari-hari dengan kejahilan Adam sudah menjadi makanan wajibku, aku juga menjadi lumayan lebih dekat dengannya. Beberapa kali aku diantarnya sepulang sekolah karena sepedaku sedang diperbaiki. Aku juga jadi lebih lunak kepadanya, ia aslinya anak yang baik asal tidak jahil saja. Suatu hari, saat kami hendak keluar dari gerbang sekolah, Adam tiba-tiba bertanya, “Mau nemenin aku dulu ga, Rin?” aku menoleh dan menjawab, “Kemana?”, “Latihan basket di Lapangan Kota. Bentar doang kok,” aku berpikir sebentar dan memutuskan untuk mengiyakan ajakannya. Besok hari libur jadi aku tak perlu mengkhawatirkan pelajaran. Jadi, selama di perjalanan kami mengobrol tentang banyak hal, mulai dari alasan sekolah di SMA itu hingga masalah pribadi. Pembicaraan kami akhirnya sampai pada topik yang membuatku penasaran, “Dam, pas kita belajar bareng, aku ga liat ada fotomu di ruang tamu. Kenapa?” tanyaku dengan agak keras. Adam terdiam sebentar dan kemudian mulai menjawab, “Aku anak angkat, Rin. Mereka bukan keluarga biologisku. Itu menjawab pertanyaanmu kan?” aku terhenyak, tak menyangka jawaban itu yang akan kuterima dari mulutnya. Setelah mengucapkan kata maaf, aku berhenti bertanya dan membiarkan sisa perjalanan kami menjadi sunyi. Sesampainya di tempat latihan, Adam menyuruhku duduk di kursi penonton dan ia menitipkan tasnya padaku. Selama kurang lebih satu jam, aku melihatnya sangat serius bermain basket, ia tampak sangat berbeda dengan Adam yang biasanya kulihat. Mungkin Adam memang tidak jago di bidang akademik, tapi aku perlu mengakui bahwa di bidang olahraga ia tidak dapat dipandang sebelah mata. Aku sangat fokus memperhatikan permainannya dan baru menyadari bahwa latihan basketnya sudah selesai, beberapa teman Adam tampak menunjuk ke arahku dengan isyarat, dan Adam juga ikut menoleh lalu mengucapkan sesuatu sambil tersenyum. Setelah itu, Adam beranjak mendekatiku dan mengulurkan tangannya, aku paham apa yang ia minta dan segera kuserahkan air mineral botol yang kami beli di perjalanan tadi. “Kamu jago banget ya mainnya,” ucapku dengan spontan, sontak aku mengutuk diriku sendiri yang dengan entengnya mengucapkan pujian itu. Adam dengan senyumannya yang lebar memandangku dan kemudian merebahkan tubuhnya di kursi di samping tasnya. “Kenapa? Suka ya?” jawabnya tengil. Aku hanya mendengus pelan dan kami beristirahat sebentar sebelum akhirnya pulang.

            “Tadi temanku ngira kamu pacarku, haha,” ucap Adam setelah kami sudah berada di jalan. “Kenapa gitu?” tanyaku kemudian. “Ya lagian siapa yang nemenin orang lagi main basket kalau bukan pacar?” jawabnya santai. Aku hanya mengangguk-angguk dan memilih untuk menyudahi percakapan ini. Aku merasa sesuatu berubah dari kami, dan aku takut ini hanya perasaanku.

         Setelah sampai di depan rumahku, aku mengucapkan terima kasih kepada Adam dan menunggunya menghilang dari hadapanku, tetapi ia sepertinya masih mau membicarakan sesuatu, “Kalau kita berangkat bareng tiap hari, mau ga?” ucapnya, “Gak ah, kamu sering telat. Ntar aku ikutan telat,” jawabku dengan ketus. Ia tampak memikirkan sesuatu, “Janji ga telat deh, mau ya?”. “Sepedaku besok sudah bisa dipake, gak perlu kamu jemput. Sudah ya, ini sudah sore banget. Gih cepet pulang,” tanpa menunggu jawabannya aku melengos dan memasuki rumah. Kudengar beberapa saat kemudian motor Adam menjauh dari depan rumahku. Aku berlari kecil ke luar rumah, memandangi punggungnya yang menjauh. ‘Jangan ya, Rin. Kita itu ga mungkin’. Gumamku sambil berbalik dan kembali masuk ke dalam rumah.

            Setelah kejadian itu, kami masih dekat, Adam masih menjahiliku tapi aku lebih sering tidak menggubrisnya dan biasanya ia akan lelah sendiri. Saat kelas 12, kami menjadi lumayan canggung, Adam sudah tak pernah lagi menjahiliku. Dan teman-teman sekelas tampak sudah mengetahui jarak yang ada di antara kami dan mereka berhenti menggoda kami.

            Hari itu adalah hari yang paling ditunggu oleh seluruh siswa kelas 12, hari wisuda. Acara wisuda kami berjalan sangat baik dan kami juga merasa cukup puas atas pencapaian yang diperoleh sekolah kami. Hari itu juga menjadi hari terakhir aku bisa bertemu dengan teman-temanku, termasuk Adam. Kami melanjutkan kuliah di kampus yang berbeda. Dan aku sangat berharap di hari itu, aku dan Adam akan mencoba kembali dekat, tapi nyatanya kami tetap tak berbicara satu sama lain. Aku tidak tahu apa yang salah diantara kami, apa karena ucapanku saat itu atau hal lain, aku tak mampu memahaminya. Yang kurasakan hanya sakit hati karena beberapa waktu terakhir aku menyadari bahwa aku benar-benar telah menyukai Adam. Beberapa kali kucoba menjangkaunya melalui chat, tetapi keberanianku hilang timbul, dan akhirnya tak ada yang terjadi, tak ada yang berubah, kami menjadi asing dalam satu hari.

            Aku berhenti memikirkan Adam saat perkuliahan dimulai, menjadi mahasiswa ternyata tidak semudah dan semenyenagkan bayanganku. Minggu pertama kami sudah diminta untuk mempersiapkan bahan untuk melakukan presentasi. Dan tidak ada waktu tersisa untuk memikirkan hal lain. Sampai tak terasa, kini aku sudah menginjak semester 4 dan aku belum pernah pulang ke kota asalku selain di hari lebaran, sudah hampir dua tahun aku menetap di kota ini. Masih ada waktu-waktu di mana aku teringat akan Adam, aku menyesali mengapa perpisahan kami setidak-menyenangkan itu. Rasa itu masih menetap di sana, sudah kucoba untuk memasukkan nama lain, tapi tak pernah mampu menyingkirkan nama Adam. Aku sudah pernah berusaha untuk menghubungi Adam kembali, namun saat ku kunjungi akun salah satu media sosialnya, kulihat ia mengunggah satu foto bersama seorang perempuan, sepertinya seumuran. Dan sepertinya itu pertanda bahwa sudah tak ada lagi yang bisa diharapkan. Maka aku mencoba berhenti memikirkannya dan menjalani hari-hariku sebagai mahasiswa.

            Tanpa terduga, suatu hari, ada yang memulai percakapan di grup angkatan SMA ku, sang ketua kelas. Ia menawarkan untuk mengadakan reuni karena kami sudah lama tak bertemu, dulu sempat diadakan reuni pertama, namun karena aku merasa tak mampu meluangkan waktu, aku tak ikut. Tapi kali ini aku sangat ingin hadir dan melihat wajahnya, wajah Adam. Setidaknya aku harus mengobati kerinduanku padanya, walaupun ia sudah punya seseorang disampingnya. Diskusi terkait waktu dan tempat dengan cepat menemukan keputusan final. Akhirnya kami semua bersedia untuk melaksanakan reuni di hari libur.

            Reuni SMA-ku akhirnya tiba, aku merasa sangat khawatir sekaligus deg-deg an, karena aku belum begitu siap untuk bertemu langsung dengan Adam setelah sekian lama. Tapi aku harus menguatkan diri. Aku berangkat menuju tempat reuni 30 menit sebelum waktu yang ditentukan. Saat sampai di sana, aku disambut oleh beberapa teman kami yang bertugas sebagai panitia reuni. Saat memasuki gedung itu kulihat beberapa kursi sudah terisi, dan saat kupandangi ke seluruh penjuru, tak kutemui Adam disitu. Perasaanku sedikit kecewa, tapi kemudian aku ingat bahwa Adam memang rajanya telat. Jadi, aku mulai beranjak dan menduduki kursi yang masih kosong. 

            Beberapa menit berlalu, Adam masih juga belum datang. Kursi-kursi yang tadinya kosong sudah mulai penuh terisi. Aku mulai menyangsikan kepercayaanku pada Adam, sepertinya kali ini ia bukan terlambat, tapi ia tidak akan datang. Sebentar lagi acara reuni akan dimulai dan aku benar-benar sudah berhenti berharap, namun beberapa saat kemudian salah satu teman Adam yang menjadi panitia mendekatiku dan kami mulai mengobrol dan menanyakan kabar masing-masing. “Adam bakal dateng kok, Rin. Tenang saja,” ucapannya membuatku terheran tetapi aku mencoba menutupinya dengan tertawa kecil, “Eh, aku ga nungguin Adam kok,” tapi ucapannya selanjutnya membuatku terdiam. “Kamu kelihatan banget dari awal masuk tadi, kamu cari seseorang, dan aku ga bisa menemukan nama lain selain Adam. Itu kelihatan jelas. Tapi aku ga paham kenapa kalian jadi asing saat kelas 12 bahkan saat wisuda bisa-bisanya kalian ga foto bareng. Sorry kalau aku terlalu ikut campur, tapi aku greget banget sama hubungan kalian. Adam tuh sering cerita tentang kamu, tapi tiba-tiba suatu hari dia gak mau lagi denger kami bahas tentang kamu. Aku nggak tahu apa yang terjadi, tapi semoga saja kalian mendapatkan takdir yang bahagia, walaupun mungkin gak harus sama-sama”.

            Setelah ucapan panjang dari Dio -teman Adam- hatiku mendadak merasa sakit, mataku juga terasa memanas. Jika tak sedang berada di ruang publik, aku sudah akan menangis sekencang mungkin. Selama ini, aku berusaha mengelak bahwa aku sangat menyukai Adam, aku kecewa atas sikapnya yang tiba-tiba berubah, aku kecewa atas hubungan kami yang seperti ini. Aku merindukannya, aku harap yang dikatakan Dio benar, Adam akan datang.

            Tepat beberapa saat sebelum acara dibuka oleh MC, ada seseorang yang datang dan mengambil seluruh perhatian dari dalam ruangan. Itu Adam. Dia tampak cengengesan dan meminta maaf dengan gerakan tubuhnya, lalu mulai mencari kursi kosong. Saat akhirnya ia melihat ada kursi kosong, ia akhirnya beranjak dan menduduki kursi itu, kursinya berjarak beberapa kursi dariku, dan ia tampak tak menyadari keberadaanku. Lalu, acara pun dimulai. Kami semua menikmati rangkaian acara dengan hikmat dan menyenangkan. Beberapa acara memang didesain sebagai hiburan, salah satunya permainan tebak nama. Permainan ini mewajibkan peserta reuni yang ditunjuk untuk menyebutkan nama lengkap pemain kedua, yaitu objeknya. Kalau pemain pertama gagal maka ia harus berusaha mengetahui namanya dengan mengerjakan beberapa tantangan. Kegiatan itu sangat seru dan aku cukup menikmatinya, lalu tiba-tiba Dio, menunjuk Adam sebagai pemain pertama dan aku sebagai pemain kedua. Saat itulah kurasa Adam baru menyadari kehadiranku, terlihat dari raut wajahnya yang tampak kaget. Ia yang sedari tadi tertawa terbahak-bahak sontak menghentikan tawanya, dan ruangan menjadi hening selama sesaat. Dio memerintahkan Adam untuk menyebutkan nama lengkapku, tapi Adam terdiam beberapa lama sambil terus memandangku. Dio yang merasa keadaan semakin canggung, dengan inisiatif mengulangi perintahnya dan Adam lalu mulai menyebutkan satu-persatu namaku. “Rina Alifia Huda, itu nama lengkapnya. Dia teman sekelasku yang sangat berkesa-” Dio memotong ucapan Adam lalu dengan riuh mengumumkan bahwa Adam melewati permainan ini dengan kemenangan mutlak. Adam masih tak berhenti memandangku, aku merasa ada sirat kekecewaan di matanya. Acara reuni kembali berlanjut, semua orang sangat bersemangat dan berbahagia. Namun, tidak lagi bagiku, hatiku terasa sangat tidak nyaman.

            Acara reuni selesai pukul 1 siang dan kami menyempatkan untuk melakukan foto bersama sebagai kenang-kenangan. Tanpa kusadari, Adam berada di sebelahku dan kami tak sengaja bertatapan. Setelah melakukan foto bersama, kami beranjak pulang dan beberapa orang menyempatkan diri untuk berbagi kontak agar tak hilang komunikasi. Saat aku hendak menuju parkiran, seseorang memanggilku. Itu Dio. “Rin, sini dulu dong, kalian gak mau bertukar sapa?” aku membeku, aku paham apa yang Dio maksud, hatiku rasanya bergerak tak karuan. Sebelum sempat menjawab, tiba-tiba Adam muncul dari belakang bahu Dio dan menepuk pundaknya. Ia mengatakan beberapa patah kata lalu Dio hanya mengangguk, Adam beranjak mendekatiku dan kami bertatapan beberapa saat sebelum Adam menarik tanganku dan mengajakku pergi.

            Kami kembali berada di atas motor bersama, Adam tak mengatakan apapun padaku. Ia hanya menyuruhku menaiki motornya dan kami langsung pergi. Di tengah perjalanan, aku mencoba membuka percakapan, namun rasanya mulutku tak mampu mengatakan apapun. Perasaanku tak karuan dan rasanya aku ingin menangis.

            Beberapa saat kemudian kami sampai di lapangan basket kota, tempat dulu Adam latihan dan aku menemaninya. Adam menyuruhku turun dan secara tiba-tiba menggenggam tanganku. Kami masuk ke dalam lapangan dan di sana aku melihat banyak sekali orang yang sedang menonton pertandingan basket. Saat kami duduk di kursi penonton, aku baru menyadari bahwa yang tengah bermain di lapangan adalah teman-teman Adam. “Itu teman-temanmu kan?” Adam hanya mengangguk dan ia tetap tak melepaskan genggamannya. Cukup lama kami berdiam diri dan hanya menonton pertandingan basket itu, tak terasa pertandingan akhirnya berakhir dan dimenangkan oleh tim dari teman-teman Adam. Kulihat Adam tersenyum tipis. Kemudian ia melepaskan genggamannya dan berdiri seraya melambaikan tangannya ke arah lapangan, disitu kulihat teman-temannya membalas lambaiannya dan tersenyum bangga. 

            Lapangan basket itu mulai sepi karena sebagian besar penonton sudah pulang, tim lawan yang kalah pun sudah tak lagi berada di lapangan. Di sana hanya terdapat teman-teman Adam dan beberapa penonton yang tampaknya saling mengenal. Saat itulah Adam mulai membuka pembicaraan, “Kamu apa kabar Rin? Aku harap kamu baik-baik saja,” aku menoleh dan melihatnya tetap memandang ke tengah lapangan, ia memilih untuk tak melihatku. “Kita mungkin gak akan bertemu lagi, jadi izinin aku ngungkapin semuanya. Aku gak lagi baik-baik saja. Karena aku gak tahu kenapa kamu tiba-tiba berubah saat kita kelas 12, aku gak tahu kenapa bahkan di hari perpisahan kamu masih tidak menurunkan egomu dan seenggaknya kita harus berfoto bersama. Kamu egois dan jahat banget. Padahal, aku sangat berharap kita gak se-asing itu. Aku salah apa?” ungkapku sambil mencoba menahan air mataku yang aku yakini sebentar lagi akan jatuh. Aku memilih untuk tidak menatapnya juga, hatiku tidak akan mampu. Adam menghembuskan napas perlahan, “Kata siapa kita ga bakal ketemu lagi?” aku sontak menoleh dan mendapati Adam tengah menatapku. “Sampai kapan kita sama-sama membohongi diri-sendiri?” Adam kembali bersuara dan kini pandangannya mengarah ke tengah lapangan di mana teman-temannya sedang berkumpul. “Aku juga kecewa sama kamu, dulu kamu se-nggak mau itu untuk berangkat bareng sama aku, bahkan seringnya nyuekin aku di kelas. Tapi, ada satu momen di mana aku ngeliat bagaimana bahagianya kamu sama si Raka. Aku mengambil kesimpulan, bahwa kamu menyukai Raka dan bukan aku,” aku tak dapat mengalihkan pandanganku dari sisi wajah Adam, walaupun ia tengah menyampingiku dapat kulihat matanya sedikit berair, secara tidak langsung apakah ia sedang mengakui bahwa ia menyukaiku? “Jadi, selama ini kamu juga suka?”, “Ya, dan itu sepertinya jauh sebelum perasaanmu”.

            Kami menghabiskan sisa sore itu di lapangan kota, banyak cerita dan kenyataan yang coba kami ungkapkan kepada satu sama lain. Akhirnya aku memahami bahwa apa yang Adam lakukan adalah murni karena kecemburuan tak masuk akalnya, dan apa yang aku lakukan adalah penyebab ia melakukan itu. Secara tak sadar, kami saling menyakiti satu sama lain. Adam juga bercerita bahwa ia tidak berniat hadir di acara reuni tahun ini karena di tahun lalu ia tak mendapati kehadiranku. Aku juga menanyakan perihal fotonya bersama seorang perempuan yang diunggah di akun Instagramnya, dan sebelum menjawab pertanyaanku ia sudah tertawa lebar dan mengejekku karena cemburu. “Dia sepupuku kok, jadi kamu gak usah cemburu ya,” ucapnya tanpa menghilangkan senyumannya yang menjengkelkan. Hari itu juga kami bertukar kontak dan mulai berhubungan kembali setelah sekian lama. Aku tak pernah menyangka bahwa perasaanku akan berbalas, bahkan meskipun Adam masih tak berhenti menjahiliku, rasanya aku mampu untuk menerima semua kejahilannya, karena itulah yang membuatku menyukainya. Adam juga mengungkapkan bahwa ia berani langsung mengajakku karena ia tahu aku masih belum punya pacar, salah satu temannya yang satu kampus denganku memberitahunya. “Kamu kepoin aku?” ucapku saat mendengar informasi itu, Adam menggeleng “Nggak, temenku nggak sengaja ngasih tahu”, “Aku baru tahu kalau ternyata cowok juga suka gosip ya, haha”.

            Beberapa minggu kemudian, kami berpacaran dan walaupun kami berbeda kota, setiap akhir pekan atau akhir bulan Adam menyempatkan diri untuk menemuiku dan kami menikmati waktu bersama. Aku banyak menunjukkan sisi diriku yang tak pernah kutahu akan seperti itu, Adam membawa banyak perubahan dan aku sangat berterima kasih untuk itu. Rasanya menyukai seseorang yang menyukaimu juga adalah perasaan paling indah yang pernah Tuhan ciptakan. 

            “Rasanya seperti mimpi ya, Dam. Bagaimana bisa kamu membayangkan bersama denganku yang sangat pintar ini,” Adam terkekeh pelan seraya mengusap lenganku yang ia genggam. “Iya, bagaimana bisa aku bermimpi memegang tangan seseorang yang sangat jutek ini” ungkap Adam sambil mencium tanganku. Sore ini kami menikmati debur ombak dengan semburat jingga dan ungu yang menari-nari menghiasi langit. Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, menyisakan jejak keemasan di permukaan laut yang tenang. Kami saling diam dan menikmati keheningan yang nyaman, tak ada kata yang mampu terucap dan hanya hati kami yang bersuara dengan kencang, memanggil nama satu sama lain. Mimpi yang tak lagi jauh itu, telah singgah di kehidupanku, menjadi kenyataan yang sulit dinalar.

 

PROFIL

  TENTANG Sahabat Perpustakaan adalah badan semi otonom yang secara struktur memiliki garis koordinasi dengan Kepala UPT Perpustakaan Univer...