Ratapan Rakyat Kecil di Tengah Kemiskinan
Karya Rabithah
Aku, sang rakyat kecil di negeri
ini,
menapaki jalan hidup dengan mimpi
yang tinggi.
Kubawa buku dan harapan setiap hari,
namun kenyataan sering kali melukai
hati.
Ayah bekerja keras di bawah mentari,
ibuku bertahan dalam lelah yang
disembunyi.
Mereka menaruh harapan pada
pendidikan yang kami jalani,
agar nasib keluarga dapat berubah
suatu hari nanti.
Namun harga kebutuhan terus
meninggi,
sedang penghasilan tak mampu
berlari.
Kehidupan terasa semakin menghimpit
diri,
meninggalkan cemas yang datang silih
berganti.
Kulihat ayah menghitung uang
berkali-kali,
berharap jumlahnya bertambah tanpa
henti.
Kulihat ibu mengorbankan
keinginannya sendiri,
agar anak-anaknya tetap dapat
bermimpi.
Di kampus aku belajar tentang
kemajuan negeri,
tentang pembangunan dan prestasi
yang dipuji.
Namun di luar ruang kuliah yang
kutempati,
masih banyak luka yang tak tersentuh
solusi.
Kulihat pedagang menanti pembeli
yang tak menghampiri,
kulihat buruh bekerja hingga tenaga
hampir habis sendiri.
Kulihat anak-anak mengubur cita-cita
dalam hati,
karena kemiskinan membatasi langkah
mereka setiap hari.
Indonesia, aku mencintaimu sepenuh
hati,
tempat aku tumbuh dan mengenal jati
diri.
Namun cinta tak membuatku menutup
mata ini,
saat rakyat kecil terus diminta
bersabar lagi.
Kami tak meminta hidup dalam
kemewahan tinggi,
kami hanya ingin setiap usaha
dihargai negeri.
Aku menulis ratapan ini sebagai
suara nurani,
agar Indonesia menjadi rumah yang
adil bagi seluruh anak negeri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar